128√e98u

128ve98u

128√e98u

By @Aeri_Tamie

Cast : Song Aeri, Kim Jongdae (EXO-M Chen), Cho Kyuhyun (SJ Kyuhyun)

Romance, Comedy, School Life PG-15 Oneshot

Disclaimer : 20130729 © Aeri_Tamie

Annyeong all!^^ aigo, aku bisa nulis lagi. Alhamdulillah 😀 kali ini saya bawa cast member EXO. Dan, biarkanlah kali ini saya merelakan suami saya /lirik kyuhyun/ jadi orang ketiga. Bosen saya liat dia unggul mulu di hati saya -_- jadi, saya jadiin member EXO kesayangan saya yang sekarang jadi calon suami /lirik chen/ jadi peran utama. Kiw, kiw :3

Happy reading yaa!! ^^ sebelum saya dibacok karena saya terlalu maruk mengembat Kyuhyun ama Chen 😛 wkwkwk~

***

Seorang gadis sedang berjalan masuk ke sekolahnya dengan tergesa-gesa. Pikiran gadis itu terbayang tentang gurunya yang sedang menunjukkan wajah yang menyeramkan saat beliau tahu ia akan datang terlambat. Gadis itu hanya bisa menelan ludahnya dalam-dalam. Gawat, batinnya.

“Hya, Song Aeri.”

“Huwaaaa!!!”

Brakk!! Dan, berakhir gadis itu terjatuh karena tertabrak oleh seorang lelaki bertubuh tinggi dengan wajah manisnya. Seketika, gadis tu langsung mendongakkan kepalanya dan membulatkan kedua matanya.

“Jongdae Sunbae!” seru gadis itu dengan kesal. “Jangan mengagetkanku. Bisa-bisa aku terkena serangan jantung jika sunbae mengagetkanku seperti itu.”

“Siapa yang ingin mengagetkanmu? Aku hanya ingin bertanya.”

“Apa yang ingin kau tanyakan?” tanya Aeri dengan nada heran.

Tampak, Jongdae berpikir sejenak. “Apa hubunganmu dengan Kyuhyun hyung?”

Aeri hanya bisa mengerutkan keningnya dan memandang Jongdae dengan aneh. Kedua matanya seolah berkata, ‘apa yang dibicarakan orang ini?’

“Apa maksudmu sih, sunbae?” tanya Aeri dengan heran. “Memang apa hubunganku dengan Kyuhyun sunbae? Sejak kapan? Ah, andai saja itu nyata…”

“Song Aeri….”

Aeri langsung memandang Jongdae yang kini mulai kesal melihat tingkahnya. “A-aah, sunbae.. saya tidak tahu apa-apa,” ujar Aeri. Kemudian, ia melirik arlojinya. Kedua matanya langsung terbelalak. “Omo! Aaahh, aku sudah terlambat sunbae! Annyeong!”

Seketika, Aeri langsung berlari meninggalkan Jongdae yang masih mengerutkan keningnya karena heran.

“Apa?” tanya Jongdae dengan nada tak mengerti. “Aah! Sudah jam segini! Ini semua salahmu!”

Jongdae pun berlari mengikuti langkah Aeri dan melotot ke arah gadis itu.

“Aaah, sunbae! Jangan memandangku seperti itu. Seram tahu!” seru Aeri dengan nada ngeri. “Lagipula, ini semua berawal dari Jongdae sunbae yang tiba-tiba mengagetkanku sembarangan. Bukan salahku.”

“HYAA!!!”

Aeri dan Jongdae langsung tersentak kaget dan menoleh ke sumber suara. Bayangan guru yang paling ia segani menatapnya dengan seram benar-benar nyata kini.

“Seonsaengnim,” ucap Jongdae pelan.

Sementara, Aeri hanya bisa menelan ludahnya dalam-dalam. “Se-seonsaengnim.. sa-saya..”

***

Aeri sedaritadi hanya bisa menggerutu sambil mengepel lantai sepanjang lorong. Saat ini, ia mendapat hukuman karena telah datang terlambat. Ia dengan terpaksa harus memendamkan kekesalannya. Kali ini, hatinya benar-benar menyalahkan satu manusia yang menurutnya paling menyebalkan di dunia. Kim Jongdae.

“Salah sunbae ini!” seru Aeri. “Sunbaaee!!”

“Berisik!” teriak Jongdae dengan wajah masam disela-sela ia sedang mengelap kaca jendela. “Kau tahu, aku ini sedang sibuk.”

“Sibuk mengelap kaca jendela,” desis Aeri dengan sebal sambil mengepel lantai dengan asal.

“Jika tadi saja kau menjawab pertanyaanku dengan segera, mungkin hal seperti ini tak akan pernah terjadi.”

“Jadi, sunbae menyalahkanku?” tanya Aeri sambil menoleh ke arah Jongdae dengan kesal.

“Tentu saja. Memang siapa lagi.”

Aeri langsung memandang Jongdae semakin kesal. Jongdae yang tahu Aeri kesal langsung beradu pandang dengan gadis itu.

“Enak saja! Ini kan salah sunbae. Masa sunbae tiba-tiba mengagetkan seorang hoobae sepertiku saat menit-menit terakhir waktu pelajaran pertama masuk.”

“Ralat ucapanmu. Aku tidak mengagetkanmu. Aku hanya ingin bertanya saja.”

“Bertanya dengan cara mengendap-endap seperti tadi? Hah, lucu sekali sunbae ini.”

Jongdae ingin sekali membalas ucapan Aeri, namun diurungkannya mengingat itu hanya sia-sia saja. Segera, ia memalingkan wajahnya dan kembali melanjutkan pekerjaannya.

“Habis ini apa lagi yang harus dikerjakan? Tak boleh masuk kelas sebelum semuanya bersih, kan?” tanya Jongdae kemudian sambil menoleh ke arah Aeri yang kini masih terpaku pada kayu lap pel lantai.

“Menyapu halaman sekolah,” ujar Aeri pelan sambil menggerutu pelan. Keningnya tampak berkerut. Jongdae yang melihatnya semakin malas.

“Berhenti mengerutkan keningmu dan menggumam tak jelas. Bisa-bisa wajahmu bertambah tua.”

“Sudah dari dulu wajahku tua.”

Aeri langsung menaruh lap pel di kamar mandi dan menyambar sapu untuk menyapu halaman sekolah. Hukuman yang harus ia terima memang. Ia hanya bisa menghelakan napas panjang.

***

“Aeri!”

Aeri langsung menoleh ke sumber suara saat ia sedang menyapu halaman sekolah dan mendapati Jongdae yang kini meninggalkan pekerjaan dari sanksi yang harus lelaki itu terima. Lelaki itu kini malah langsung menarik pergelangan tangan Aeri dan mengajaknya keluar dari kawasan sekolah.

“Sunbae!”

“Sssstt,” desis Jongdae sambil menaruh jari telunjuk tepat di bibirnya. “Ayo, kita pergi!”

“Ta-tapi, bagaimana jika seongsaengnim marah pada kita? Hukuman belum selesai, ditambah sebentar lagi jam kelima akan berakhir, sebentar lagi pelajaran olahraga akan di mulai. Lalu…”

“Kau diam saja,” tukas Jongdae. “Atau, kau tak mau kutraktir segelas jus jambu?”

“Jus jambu?” ulang Aeri sambil memandang Jongdae sejenak.

Akhirnya, Aeri menyedot segelas jus jambu yang dibelikan oleh Jongdae. Ia menikmati jus itu sambil duduk di sebuah bangku kayu yang memanjang. Wajahnya benar-benar memancarkan perasaan senangnya. Bahkan, ia sengaja menggoyang-goyangkan kakinya saking senangnya karena lelaki itu membelikan segelas jus kesukaannya.

“Pelan-pelan meminumnya, bisa-bisa kau tersedak,” sahut Jongdae sambil duduk di samping Aeri sambil menyedot ice coffee miliknya.

Uhuk! Benar saja apa yang dikatakan Jongdae. Beberapa detik setelah itu, Aeri langsung tersedak jus jambu miliknya. Ia langsung menepuk dadanya keras-keras. Sementara, Jongdae yang melihatnya hanya memandang maklum sambil menepuk-nepuk punggung gadis itu.

“Aku kan sudah bilang, pelan-pelan bodoh.”

“Habisnya, enak sekali,” ujar Aeri rendah sambil memejamkan kedua matanya dengan tersenyum setelah reda.

Beberapa detik setelahnya, keduanya malah terdiam dan saling tenggelam akan dunia pikiran mereka masing-masing. Jongdae yang sedang mendengarkan musik lewat earphone-nya, melirik ke arah Aeri yang masih menyedot jus kesukaannya. Ia langsung melepas earphone sebelah kanannya dan langsung menyematkannya di telinga Aeri.

Aeri langsung terbelalak ketika mendengarkan lagu yang diputar di iPod Jongdae. “Sunday morning.”

“Kau tahu juga?” tanya Jongdae pada Aeri.

“Jangan salah, aku ini sering sekali mendengarkannya. Lagu ini salah satu lagu favoritku,” ujar Aeri sambil memejamkan kedua matanya.

Jongdae memandang gadis itu sambil tersenyum. Otaknya tiba-tiba mengingatkan sebuah memori lama yang melibat gadis itu.

***

Beberapa bulan lalu, sekolah baru saja menerima siswa baru. Jongdae melihat banyak sekali siswa-siswi yang berjalan lalu lalang di sekitar sekolah. Terdengar banyak sekali suara para siswa yang sedang mengobrol bahkan berteriak. Jujur saja, ia tak suka keramaian seperti ini.

“Hei, Jongdae-ya!”

Jongdae langsung tersentak kaget dan langsung menoleh ke sumber suara ketika ia sedang berdiri di depan perpustakaan.

“Ah, Kyuhyun hyung,” ujar Jongdae ketika tahu siapa. “Darimana saja hyung ini?”

“Oh, baru saja dari kelas. Kelasku baru saja berakhir. Kau menunggu lama, ya?”

“Tentu saja. Kan hyung bisa menghubungiku kalau kau masih ada kelas.”

“Aaah, sudahlah. Ayo, masuk.”

Kyuhyun mengajak Jongdae masuk ke perpustakaan sambil merangkul bahu lelaki itu. Jongdae hanya tersenyum saat melihat sikap kakak kelas yang dekat dengannya itu. Entah apa yang membuat mereka dekat, mungkin kesamaan mereka yang suka mendengarkan genre musik yang sama. Hingga, perasaan nyaman Jongdae saat didekat lelaki dengan beda jarak satu tahun di bawahnya membuatnya merasa Kyuhyun seperti kakaknya sendiri.

Akhirnya, mereka duduk di meja favorit mereka. Tepat di ujung dekat dengan rak buku yang penuh dengan buku tentang ilmu pengetahuan alam.

“Jongdae-ya, hari ini kau mau ikut ke games center tidak? Ayo, battle game denganku.”

“Ah, hyung ini. Besok aku ada ulangan harian. Lain kali saja…”

“Waaaa!!”

Seketika, Jongdae dan Kyuhyun menoleh ke sumber suara yang berada di sebelah rak tempat mereka duduk. Tampak, seorang gadis dengan rambut pendek diikat poninya memandang setumpukan buku yang kini telah berserakan di mana-mana dengan kosong.

“Bukunya.. hilang. Sekarang aku harus bagaimana?” tanyanya pada diri sendiri dengan tegang sambil menggenggam kedua tangannya dengan erat. “Bisa-bisa seonsaengnim marah padaku.”

“Waeyo, Aeri-ya?” tanya seorang gadis dengan rambut yang digerai panjang.

“Bu-buku note-ku hilang, Youngmi-ya. Bagaimana ini? Bisa-bisa seosaengnim marah padaku. Besok aku ulangan fisika dan semua catatannya berada di note itu. Bisa-bisa aku tidak tahu apa-apa saat ulangan itu dan mendapat nilai jelek. Aku tak mau, Youngmi-ya!”

“Ssstt, tenanglah. Coba kau cari, pasti ketemu,” ujar gadis bernama Youngmi itu.

“Ini punyamu.”

Aeri langsung mendongakkan kepalanya dan mendapati Kyuhyun yang kini memberikan buku notenya yang menurutnya hilang. Segera, ia menyambar note itu sambil membungkukan tubuhnya. “Terima kasih.”

“Kembali.” Kyuhyun tersenyum pada Aeri.

Sementara, Jongdae memandang situasi itu dengan datar dan tak mau ambil pusing. Ah, bahkan ia tak menyadari bahwa keberadaan gadis yang menurutnya hanya angin lalu itu akan datang ke kehidupannya.

Sore hari saat Pulang sekolah, Jongdae mengayuh sepedanya menuju ke sebuah kios kecil untuk membeli segelas ice coffee latte. Dan, kedua matanya kembali melihat gadis itu yang sedang asyik menyedot segelas jus jambu. Saat arah pandang mereka bertemu, Jongdae hanya bisa mengerutkan keningnya.

“Apa lihat-lihat?” tanya Jongdae dengan galak.

Gadis itu hanya menggeleng pelan. “Tidak.” Lalu, ia kembali menyedot jus jambunya dengan cepat.

“Kau yang ada di perpustakaan tadi siang kan?”

Gadis itu mengangguk pelan. “Sunbae tadi yang bersama Kyuhyun sunbae ya?”

“Darimana kau tahu?”

“Tadi aku melihatmu.”

Jongdae terdiam dan memandang gadis itu sejenak. “Mau segelas jus jambu lagi?”

Gadis itu langsung mengangguk setuju. Dan akhirnya, Jongdae duduk di samping gadis itu. Matanya memandang gadis itu dari ujung kaki sampai atas kepala.

“Kenapa sunbae melihatku seperti itu?” tanya gadis itu pada Jongdae akhirnya.

“Siapa namamu?” kata Jongdae balik bertanya langsung.

“Song Aeri.”

Jongdae memandang gadis itu dengan ragu. “Apa benar kau ini gadis SMA kelas 1?”

Gadis bernama Song Aeri hanya mengangguk pelan. “Ya.” Kemudian, ia menoleh ke arah lain sambil menggerutu. “Aneh sekali jalan pikiran orang ini.”

“Wajahmu tidak seperti siswi SMA biasanya,” ujar Jongdae. “Berapa umurmu?”

Tampak, Aeri sedang menghitung jumlah umur dalam otaknya. Tangannya sesekali bergerak untuk menghitung. “13 tahun.”

“Mwo?!” Jongdae langsung berteriak tepat di telinga Aeri saking terkejutnya.

Sementara, Aeri langsung menutup telinganya. “Aaah, sakit! Jangan berteriak tepat di telingaku, sunbae!”

“13 tahun?!” tanya Jongdae pada Aeri seolah tak menghiraukan ucapan Aeri. “Seharusnya saat ini kau kelas 1 SMP kan? Bagaimana bisa saat ini kau menjadi siswi kelas 1 SMA?”

“Itu karena aku sudah 3 kali lompat kelas,” jawab Aeri polos. “Saat seharusnya aku menjadi anak kelas 1 SD, malah menjadi anak kelas 3. Saat seharusnya aku menjadi anak kelas 4, malah jadi anak kelas 6. Dan, saat seharusnya aku menjadi anak kelas 1 SMP, malah menjadi anak kelas 3 SMP.”

“I-itu berarti kau.. anak pintar?” tanya Jongdae dengan nada tak percaya.

Aeri hanya menggeleng pelan. “Tidak juga.” Kemudian, ia kembali meminum jus jambunya ketika ia masih ingat bahwa jus jambu miliknya belum habis. “Lalu, sunbae ini siapa?”

“Kim Jongdae, kelas 2 SMA. Kau pasti tahu itu,” ucap Jongdae. “Jadi, jarak kita berbeda 5 tahun. Begitu?”

Aeri kembali mengangguk sambil meminum jus jambunya.

***

“Sunbae, jangan melamun!”

Jongdae langsung mengalihkan pandangannya ke arah Aeri yang sedaritadi memandangnya dengan aneh sembari menyedot jus jambunya. Seketika, Jongdae langsung mengalihkan pandangannya dengan sebal.

“Jadi, ada apa hubunganmu dengan Kyuhyun hyung?” tanya Jongdae kemudian.

Aeri langsung melirik ke arah Jongdae dengan kesal. “Ah, sunbae. Apa-apaan sih pertanyaanmu itu hah? Jelas-jelas tak ada apa-apa.”

“Lalu, kenapa kemarin Kyuhyun hyung mencarimu?” tanya Jongdae lagi.

“Kyuhyun sunbae? Mencariku?” tanya Aeri sambil menoleh ke arah Jongdae dengan mata berbinar. “Kyaaa!!”

“Dia hanya mencarimu tahu! Mencarimu!!” jelas Jongdae. “Jadi, ada hubungan apa?”

Seketika, Aeri langsung berhenti berseru dan langsung menggerutu kesal. “Ah, sunbae bertanya lagi. Sunbae kan tahu hanya aku yang menyukai Kyuhyun sunbae. Lagipula, Kyuhyun sunbae itu sudah memiliki Victoria eonni.”

Jongdae mulai mengangguk-angguk mengerti. “Ah, benar juga ya.”

Sementara, Aeri menyedot tetesan jus jambu terakhirnya yang mendadak terasa pahit itu dengan cepat. “Sunbae, hari ini kita makan ramen ya,” ucap Aeri pada Jongdae.

***

Esok hari saat pulang sekolah, Aeri langsung membawa tas punggungnya ke ruang laboratorium untuk menghadiri ekstrakulikuler science club. Pikirannya bercabang antara sosok kakak kelas yang kini menjadi ketua dari science club yaitu Cho Kyuhyun dan tugas yang menumpuk secara drastis.

“Aeri-ssi.”

Aeri langsung menoleh ketika saat itu langkahnya terlalu cepat. “Ne? Oh, Kyuhyun sunbae.”

Segera, Kyuhyun berjalan menghampiri Aeri dengan wajah sumringah. “Maaf ya, kan hari ini kau piket membersihkan laboratorium bersama Youngmi. Karena Youngmi tak bisa datang, jadi kau harus piket sendiri. Tak apa-apa kan?” kata Kyuhyun.

Aeri mengedipkan kedua matanya berkali-kali. Youngmi ke mana? Pikir Aeri dengan nada curiga. “Akan kuusahakan, sunbae,” jawab Aeri disertai senyum paksaannya.

“Baiklah, ini kuncinya. Maaf ya merepotkanmu.”

“Ah, tak apa-apa.”

Aeri menerima kunci laboratorium itu dengan setengah terpaksa. Youngmi sebenarnya ke mana? Pikir Aeri. Segera, ia meraih ponselnya dan menghubungi Youngmi.

“Yeoboseyo?” Terdengar, jawaban dari seberang sana. Youngmi.

“Kau ke mana?” tanya Aeri langsung.

“Pergi.”

“Dengan siapa?”

“Oh Sehun.”

Tepat. Benar kan dugaanku, batin Aeri sambil tersenyum kesal.  “Kenapa kau malah pergi sih?! Masa aku harus piket sendirian?!”

“Annyeong, Aeri!!!”

Aeri langsung mengerutkan keningnya heran. “Sehun-ah, mana Youngmi?”

“Ia tak mau bicara denganmu.”

“Berikan ponsel itu padanya.”

Tut! Sambungan langsung terputus dan Aeri hanya bisa melongo melihat apa yang telah dilakukan oleh teman-temannya. Ia hanya bisa menghelakan napas kesal. Kalau bukan karena Kyuhyun sunbae, aku pasti sudah kabur dan tak mau membersihkan laboratorium, gerutu Aeri pelan.

***

Sementara, Youngmi dan Sehun sedang menikmati es krim bersama. Sehun sedaritadi memasang wajah khawatir dan Youngmi menyadari itu.

“Kau ini kenapa sih?” tanya Youngmi dengan risih ketika melihat wajah Sehun.

“Apa Aeri tidak apa-apa ditinggalkan sendiri?” tanya Sehun.

“Sudahlah. Dia itu bukan anak kecil lagi,” jawab Youngmi santai.

“Tapi, Youngmi-ya..”

“Apa?” tukas Youngmi sambil menikmati es krim cokelatnya.

“Kau tahu, di sana pasti ada Kyuhyun sunbae.”

“Aku tahu.”

“Kalau di sana ada Kyuhyun sunbae, pasti di sana juga ada Victoria sunbae. Kau juga pasti tahu kan jika mereka berdua berpacaran. Apa tidak apa-apa?”

Youngmi langsung terdiam sesaat. Kemudian, ia menoleh ke arah Sehun. “Iyaya.” Setelah itu, ia kembali menikmati es krimnya. “Sudahlah, lagipula aku kabur karena tak mau mendengar Kyuhyun sunbae mengoceh panjang, tak mau melihat Aeri yang selalu memandang pria itu, dan tak mau membersihkan laboratorium.”

Sementara, selesai pulang dari sicence club, Aeri langsung membersihan laboratorum itu dengan cepat. Ia tak mau berlarut-larut dari penderitaan jadwal piket hari ini yang menyebalkan. Setelah selesai membersihkan laboratorium itu, ia langsung menguncinya dan hendak memberikannya pada Kyuhyun yang kini berada di dekat koridor sekolah.

“Kyuhyun sunbae, aku…”

Ucapan Aeri langsung terhenti ketika kedua matanya kini melihat Kyuhyun sedang bersama seorang gadis cantik dengan wajah oriental chinanya. Ia tahu gadis itu. Victoria Song.

Seketika, Aeri langsung berbalik dan bersembunyi di balik dinding. Pikirannya mendadak kosong seperti hatinya. Tubuhnya terasa lemas dan kali ini ia hanya bisa menghelakan napas panjang. Sepertinya, penantiannya selama ini benar sia-sia. Segera, ia berjalan cepat meninggalkan tempat itu sebelum pertahanannya benar-benar hancur.

“Aeri.”

Gadis itu langsung mendongak dan mendapat Jongdae yang kini sedang tersenyum manis padanya. Aeri hanya bisa tersenyum tipis.

“Sunbae..”

“Kau sudah selesai membereskan laboratoriumnya?”

Aeri hanya mengangguk pelan. “Hari ini kita sebelum pulang makan ramen dan minum jus ya,” ucap gadis itu disertai cengiran aneh.

Jongdae hanya mengangguk mengerti sambil memandang Aeri dengan maklum ketika ia melihat wajah gadis itu yang sudah lesu. Tangannya langsung menggamit telapak tangan Aeri dengan lembut. Jongdae tahu bahwa hari ini ada sesuatu yang telah terjadi menimpa gadis itu hingga seperti ini.

Namun, ini pertama kalinya Jongdae merasakan detak jantungnya yang mendadak cepat ketika ia menggamit tangan mungil gadis itu.

Semangkuk ramen dan segelas jus jambu mampu membuat hati Aeri tenang dan bahkan, dengan cepat moodnya kembali normal. Jongdae memandang gadis itu dengan ingin tahu.

“Apa yang terjadi?” tanya Jongdae.

Aeri langsung melirik ke arah Jongdae dengan pandangan terejut. Namun, Aeri langsung dapat mengedalikannya. “Tidak ada.”

Jongdae hanya bisa menghelakan napasnya dengan kesal. Mulai lagi anak ini, batin Jongdae. “Kalau begitu, untuk apa kau mengajakku untuk ini?”

“Kau tahu, dua makanan berharga ini adalah satu-satunya pembangun moodku secara sempurna.”

“Aku tahu itu. Maka dari itu, aku bertanya. Apa telah terjadi sesuatu?”

Sebelum Aeri ingin menjelaskan, tiba-tiba ia teringat kunci laboratorium yang seharusnya ia berikan pada Kyuhyun sore tadi. Segera, ia merogoh saku jasnya dan memberikannya pada Jongdae.

“Apa ini?” tanya Jongdae dengan nada heran sambil mengamati kunci itu.

“Tolong berikan pada Kyuhyun sunbae,” jawab Aeri rendah. Kemudian, ia hanya bisa menghelakan napas ketika pikirannya mengingat kejadian tadi sore. Cho Kyuhyun dengan Victoria Song. Ah, entah kenapa ia kali ini menyalahkan keluarganya yang memakai nama marga Song.

“Kenapa tidak kau saja? Katanya, kau menyukainya.” Jongdae masih memandang Aeri dengan dahi berkerut.

“Aku…” ucapan Aeri tergantung. “Tidak ingin menemuinya lagi.”

Karena semakin risih dengan sikap Aeri, Jongdae langsung bertanya tanpa basa-basi. “Ada apa sebenarnya?”

Sementara, Aeri memandang ke arah lain. Tanpa sadar, airmatanya mengalir begitu saja. “Entah kenapa, aku menyesal memiliki marga Song. Aku menyesal mengenali pria itu. Aku menyesal memiliki sikap polos seperti ini. Aku menyesal karena terlalu bodoh. Tidak seharusnya. Aku seharusnya tahu Kyuhyun sunbae sudah menjadi milik orang lain. Aku seharusnya sadar akan keberadaanku kini. Aku benar-benar menyesal…” isak Aeri pelan.

“Hya.” Jongdae langsung menepuk bahu Aeri. “Jangan seperti itu. Katanya kau pintar, masa pesimis. Dasar bodoh. Jangan sia-siakan airmata berhargamu itu hanya karena pria itu.”

“Kata siapa aku pesimis? Ini bukan masalah pantang menyerah dalam mencapai apa yang kuinginkan. Aku menyerah, karena saat ini aku telah menyadari keberadaanku sebenarnya. Aku−“

“Ayo, pulang,” tukas Jongdae.

Jongdae langsung menarik tangan Aeri yang kini mulai menghapus airmatanya dan mengikuti langkah Jongdae sambil membawa segelas jus jambunya. Jujur saja, Jongdae tak mau mendengar kata-kata yang ingin diucapkan Aeri. Ia tahu, kata-kata gadis itu sudah menjadi bumerang bagi hati gadis itu. Ia tak mau mendengar bahkan melihat isak tangis gadis itu.

Jongdae langsung mengambil sepedanya dan berjalan ke arah Aeri yang kini sedang berdiri di depan pintu masuk sambil menyedot jus jambu.

“Ayo, pulang,” ajak Jongdae. “Sudah malam.”

Aeri hanya mengangguk dan segera duduk di jok belakang sepeda Jongdae sambil memeluk pinggang Jongdae agar tidak jatuh. Ia sudah tak bersemangat untuk berdebat seperti biasa dengan Jongdae hari ini. Energinya seperti menguap entah ke mana. Kali ini, ia merasa sangat lelah. Perlahan, Aeri memejamkan kedua matanya dan bersandar di punggung Jongdae yang terasa hangat.

Sementara, Jongdae yang merasa dan mendengar suara dengkuran halus Aeri yang tertidur hanya bisa tersenyum penuh arti. Tangan kirinya yang kokoh dan hangat kini menggenggam tangan Aeri yang memeluk pinggangnya agar tidak terjatuh.

Baby every day and night naegyeoteisseojul
Sesanggeumueotbodasojunghanseonmul
Geudaemanuisarangingeolyaksokhaeyo
Say i do, i can’t stop loving you

Jongdae tersenyum tipis ketika selesai menyanyikan sebait lirik lagu yang sering ia dengarkan. Aeri, aku berjanji tak akan membuatmu sedih seperti ini, batinnya.

***

PRANG!!

“Aaahh!!”

Aeri langsung mengerang kesakitan saat melihat tangan kirinya kini berlumuran darah. Tangannya terluka ketika ia sedang membersihkan gelas labu kimia yang pecah. Entah apa yang ia pikiran tadi hingga seperti ini. Segera, ia mencuci luka di tangan kirinya di atas aliran air yang dingin. Sesekali, ia meringis karena perih.

“Aeri-ya, sedang apa kau?”

Aeri langsung menoleh ke sumber suara dan mendapati Youngmi yang sedang mengamati tangannya. Segera, Aeri lansung menyembunyikan tangannya yang terluka.

“Ah, Youngmi-ya. Kau mengagetkanku saja. Aku tidak melakukan apa-apa.”

“Lalu, ada apa dengan tangan kirimu?” tanya Youngmi dengan dahi berkerut sambil menunjuk ke arah belakang Aeri.

Aeri hanya menggeleng pelan. “Tidak ada apa-apa,” jawab Aeri. “A-aku harus keluar sebentar. Sampai nanti!”

Segera, ia berjalan meninggalkan Youngmi dan menuju ke ruang UKS sambil menyembunyikan tangan kirinya. Sesekali, ia menundukkan kepalanya dalam-dalam.

“Aeri-ya?”

Aeri langsung mendongak dan mendapati Jongdae sedang memandangnya dengan aneh saat langkah kakinya sampai di pintu masuk ruang UKS. “Sunbae?”

“Sedang apa kau?” tanya Jongdae. “Tanganmu terluka, ya?”

Napas Aeri langsung tercekat saat memandang Jongdae. Sunbae sedang membaca pikiranku atau ketahuan tanganku berdarah? Batinnya pelan. “Tidak,” elak Aeri cepat.

“Coba lihat kedua tanganmu,” suruh Jongdae.

Aeri langsung menyerahkan tangan kanannya. “Ini.”

“Tanganmu satunya lagi. Lihat.”

Aeri langsung menggeleng. “Tidak boleh.”

“Kenapa? Coba kulihat!”

“Tidaaakk!!!” teriak Aeri sambil berusaha menyembunyikan tangan kirinya itu. Namun, dengan gesit Jongdae langsung menarik tangan kiri Aeri yang masih mengalir darah.

“Kau ini!” teriak Jongdae saat melihat tangan Aeri.

Akhirnya, Jongdae membersihkan luka di tangan Aeri dengan alkohol. Sesekali, Aeri berteriak keras karena perihnya luka yang terkena cairan alkohol.

“Aaarrghhh!!”

“Berisik!”

Aeri langsung menutup mulutnya. Matanya sibuk melihat Jongdae yang dengan serius mengobati lukanya. Ia hanya tersenyum. Tanpa sadar, semburat merah memenuhi wajahnya. Dan, tanpa sengaja Jongdae memergoki Aeri yang masih tersenyum.

“Kenapa?”

Aeri tersadar dan memandang Jongdae yang kini jaraknya hanya beberapa sentimeter. Seketika, ia langsung mengalihkan arah pandangnya.

“Tidak.”

Jongdae hanya tersenyum tipis saat ia selesai mengobati luka Aeri dan memberinya plester. Kemudian, ia memandang Aeri sejenak. “Hari ini sudah selesai jadwal science clubmu?”

Aeri mengangguk. Jongdae kembali menambahkan pertanyaannya. “Tadi kau bertemu dengan Kyuhyun hyung?”

Mendengar namanya saja, Aeri yang biasanya memasang wajah ceria dan berkata iya, kini ia langsung memasang wajah cemberut. “Tidak mau bertemu lagi.”

“Aku tahu, aku tahu,” jawab Jongdae memaklumi. “Masalahnya, tadi Kyuhyun hyung mencarimu.”

“Katakan saja, aku tak ada. Beres kan?” sahut Aeri santai.

Jongdae hanya bisa menghelakan napas kesal. Pikiran anak ini sempit sekali. Katanya anak pintar, batinnya. “Kenapa semakin hari kau semakin menyebalkan?” tanya Jongdae sambil melirik Aeri dengan sebal.

“Aku sudah dari dulu menyebalkan. Jadi, aku minta mulai hari ini hapus topik pembicaraan kita tentang ‘Cho Kyuhyun’,” terang Aeri.

“Memangnya siapa yang mulai membicarakan tentang Kyuhyun hyung?”

“Kau!”

“Kau duluan!”

“Jadi, sunbae mulai menuduhku? Kan aku sudah lama tak membicarakan dia lagi.”

“Kau ini. Kerjaanmu hanya bisa mengelak saja!”

“Hei.”

Jongdae dan Aeri langsung menoleh ke sumber suara. Kedua matanya mereka mendapati sosok pria yang sedang terpaku melihat mereka berdua yang asyik berdebat dengan hebat. Cho Kyuhyun.

“Aeri dan… Jongdae? Ada hubungan apa kalian berdua ini?” tanya Kyuhyun dengan nada aneh.

Panjang umur juga dia, batin Aeri dengan sebal sambil menghelakan napasnya. Aeri berniat tak mau menjawab. Ia langsung melirik ke arah Jongdae dan mengayunkan dagunya. Sementara, Jongdae dengan terpaksa menuruti perintah dan memandang Kyuhyun. Menyuruhku lagi. Awas saja, jangan menyesal ketika mendengar jawabanku, batin Jongdae.

“Kami pacaran.”

Aeri yang sudah tenang atas jawabannya telah diberikan kepada Jongdae, langsung menoleh ke arah pria itu dengan tatapan lasernya karena melontarkan jawaban yang justru sangat melenceng jauh dari yang dipikirkannya.

“Sunbae?!”

“Jinjjayo, Jongdae-ya? Woaahh, chukkae! Sejak kapan itu terjadi? Kenapa kau tak kunjung mengatakan hal ini padaku? Dasar bodoh!” seru Kyuhyun sambil menepuk punggung Jongdae dengan keras.

Sementara, Aeri yang melihat kejadian itu hanya bisa melongo. Dasar sunbae pembohong! Apa-apaan dia ini dengan jawaban yang dilumuri kebohongan itu hah?! Teriak Aeri dalam hati sambil menatap Jongdae dengan kesal. Dan, Kyuhyun sunbae! Apa-apaan dia ini? Tiba-tiba, datang seperti hantu, batin Aeri kemudian sambil menatap Kyuhyun lekat-lekat.

Akhirnya, sebelum percakapan Jongdae dan Kyuhyun selesai, Aeri langsung berjalan meninggalkan UKS dengan kesal. Sementara, Jongdae yang melihatnya langsung bangkit.

“Hyung, aku pergi dulu ya! Annyeong!”

Jongdae langsung menarik tangan Aeri saat langkah kaki gadis itu sampai di gerbang sekolah. Kedua mata Jongdae menatap bola mata bening gadis itu. “Tunggu!”

Aeri langsung mendongak ke arah Jondae. “Apa lagi?” ucapnya dengan kesal. “Sunbae kan tahu kita ini tak boleh berbohong. Seharusnya, kau tidak menjawab seperti itu. Aku kan sudah mengatakannya berkali-kali. Sunbae ini−“

“Diam,” ucap Jongdae rendah sambil menutup mulut Aeri dengan tangannya. Aeri langsung mengunci mulutnya ketika melihat sikap Jongdae begitu. “Sudahlah. Lagipula, Kyuhyun hyung tidak peduli dengan jawabanku begitu. Memangnya dia tahu yang sebenarnya tentang hubungan kita hah?”

Kata ‘Kita’ yang terlontar dari mulut Jongdae, membuat Aeri merasa hubungan mereka ini benar-benar memiliki hubungan khusus yang lebih dari kata seorang sunbae dan hoobae. Bahkan, lebih dari kata teman, seperti yang dikatakan Jongdae tadi saat berbicara dengan Kyuhyun. Pacar?

Aeri kembali memandang Jongdae, “Ta-tapi kan−“

“Kau masih menyukainya disaat dia sudah memiliki Victoria Noona?”

Sontak, Aeri langsung terdiam sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Kali ini, ia benar-benar sudah mati kutu. Benar apa yang dikatakan Jongdae sekarang. Ia langsung menunduk sambil menggenggam tangannya. Sepertinya, Jongdae benar-benar bisa membaca pikirannya. Padahal, ia sudah berusaha untuk melupakan seniornya itu.

Sementara, Jongdae yang melihat reaksi Aeri kini langsung menepuk kening. Bodoh! Lagi-lagi aku bicara tepat sasaran! Batin Jongdae.

“Ayo, pulang,” ajak Jongdae berusaha memecahkan kesunyian setelah beberapa menit yang lalu saling terdiam. Segera, ia mengambil sepedanya dan berhenti tepat di hadapan Aeri.

“Tapi, sebelum pulang−“

“Minum jus jambu dulu?” tukas Jongdae sambil menatapnya.

Aeri hanya bisa memberikan sebuah cengiran khasnya sambil mengangguk pasti. Sudah kuputuskan, Jongdae sunbae bisa membaca pikiranku, pikir Aeri sambil duduk di jok belakang sepeda Jongdae. Aeri melirik arlojinya yang kini menunjukan pukul 18.14. Langit kini mulai semakin gelap.

“Pegangan! Nanti jatuh bagaimana?!” omel Jongdae yang mampu membuyarkan lamunannya saat seniornya itu merasa kurang seimbang ketika sedang mengayuh sepedanya.

“Aku tahu, aku tahu!!” seru Aeri dengan nada bersungut-sungut.

***

“Kenapa kau tak pergi ke sekolah dengan sepeda sih? Kan merepotkan sekali aku harus antar jemput ke rumahmu.”

Aeri langsung melirik ke arah Jongdae yang berada di sampingnya dengan wajah polos disela-sela ia sedang menyedot jus jambunya dengan cepat. “Sunbae kan tahu aku tak bisa naik sepeda. Sudah cukup kenangan buruk saat kau mengajariku hingga hampir tertabrak mobil.”

Jongdae hanya bisa mendecakkan lidahnya. Lagi-lagi sikap polos adik kelasnya ini mampu membuat ia tak bisa berkata apapun. Ia meremas tengkuknya perlahan. Entah kenapa, hari ini terasa melelahkan.

“Sunbae,” panggil Aeri kemudian. “Kenapa sunbae bisa membaca pikiranku? Kenapa kau begitu tahu isi hatiku? Aku heran, semua yang ingin kulontarkan−“

Tuk! Sesuatu yang hangat seperti jatuh ke bahu Aeri hingga membuatnya terlonjak kaget. Aeri langsung menoleh dan mendapati Jongdae kini sedang tertidur sambil bersandar pada bahunya. Aeri hanya tersenyum sambil memandangi wajah Jongdae. Ternyata, Jongdae sunbae tampan juga jika sedang tertidur, pikir Aeri.

Kemudian, ia menggoyang-goyangkan tangannya tepat di wajah Jongdae menandakan apakah ia terjaga atau tidak. Tak ada reaksi, berarti ia tertidur, pikirnya. Aeri hanya bisa menghelakan napas panjang sambil memandang langit yang semakin gelap dan dipenuhi dengan taburan bintang.

“Sunbae ternyata lebih pintar dariku. Bisa membaca pikiranku, bisa membaca isi hati. Apapun yang ingin kulontarkan, kau pasti tahu dan langsung menjawabnya. Entah karena kau semakin mengenalku atau aku yang tak tahu apa-apa tentangmu. Aku senang berada di sampingmu, kehangatanmu yang selalu terbuka membuatku merasa dipedulikan. Aku merasa seperti dibutuhkan.”

“Kau bicara apa sih?”

Aeri langsung menoleh dan mendapati kini Jongdae sedang memandanginya. Seketika, kedua matanya membesar hebat. “Sunbae! Sudah bangun?”

“Suaramu itu menggangguku. Sudah selesai belum minum jus jambunya? Ayo, pulang. Ini sudah malam dan aku mengantuk.”

Kira-kira, sunbae mendengarnya tidak ya? Batin Aeri dengan nada takut. Semoga saja tidak. Aeri langsung mengangguk pasti ketika mendengar ajakan Jongdae. Sementara, Jongdae langsung menaiki sepedanya diikuti dengan Aeri.

“Sunbae, jangan mengantuk ya,” nasihat Aeri sambil memeluk pinggang Jongdae agar tidak jatuh.

“Aku tahu. Kalau aku sudah mengajakmu pulang, aku tak mungkin mengantuk,” ujar Jongdae tanpa menoleh ke arah Aeri sedikitpun. Namun, ia dapat mengulaskan senyumannya disela-sela ia hendak ingin mengayuhkan sepedanya.

Beberasap saat kemudian, refleks tangan kiri Jongdae menggenggam tangan Aeri agar tidak jatuh. Sementara, Aeri yang tiba-tiba merasakan kehangatan dari tangan Jongdae terkejut. Sepertinya aku pernah mengalami ini, batinnya. Tak lama, terdengar suara merdu memasuki telinga Aeri.

Baby every day and night naegyeoteisseojul
Sesanggeumueotbodasojunghanseonmul
Geudaemanuisarangingeolyaksokhaeyo
Say i do, i can’t stop loving you

Aeri langsung memandang Jongdae dengan takjub ketika melihat Jongdae selesai menyanyikan sebait lirik lagu. “Sunbae.. bisa bernyanyi?”

Jongdae hanya tersenyum. “Begitulah.”

“Woaah, merdu sekali suaramu, sunbae!” seru Aeri. “Tapi, aku jarang mendengarmu bernyanyi. Padahal, suaramu sebagus itu.”

Jongdae menggeleng pelan. “Tidak mau,” ujarnya. “Aku hanya ingin kau yang mendengarnya saja. Kau tahu tidak judul lagu itu?”

“Loving you yang dinyanyikan oleh Super Junior KRY. Aku tahu betul karena lagu ini sering kudengarkan.”

Tak lama, akhirnya kayuhan sepeda Jongdae sampai di pintu gerbang rumah Aeri. “Gumawo, sunbae,” kata Aeri sambil tersenyum dan melambaikan tangannya.

“Ne, arrayo. Sana masuk,” suruh Jongdae.

“Ne. Annyeong.”

Kemudian, Aeri berjalan meninggalkan Jongdae. Ingatannya tiba-tiba terlempar pada saat Jongdae bernyanyi dan menggenggam tangannya. Ia memandang tangan kanannya sejenak. Kejadian itu seperti de javu, pernah terjadi pada dirinya. Aeri hanya tersenyum penuh arti saat mengingatnya.

Sementara, Jongdae memandang punggung Aeri yang semakin menjauh. “Aeri babo, kenapa jalan pikiranmu itu sempit sekali sih? Kenapa aku bisa tahu jalan pikiranmu dan isi hatimu? Karena, sejak awal aku sudah memahamimu dengan baik dan aku sudah menyukaimu tanpa alasan. Tanpa kau lontarkan, aku sudah tahu semua tentangmu. Tapi, bisakah kau mengerti isi hatiku kini dan menjadi milikku?”

***

“Aku bingung.”

“Apa yang kau bingungkan?”

Youngmi langsung menoleh ke arah Aeri yang kini langsung menutup buku sejarahnya saat mereka sedang berada di perpustakaan sekolah.

“Entah kenapa, perasaanku memudar pada Kyuhyun sunbae. Namun, saat bersama Jongdae sunbae perasaan aneh menyusup di hatiku. Perasaanku juga tiba-tiba menghangat saat sedang bersama Jongdae sunbae. Kira-kira, apa itu, Youngmi-ya?”

Namun, bukannya Youngmi menjawab, ia malah menempelkan tangannya tepat di kening Aeri. Matanya memandang aneh. “Padahal, kau tak panas.”

“Aku ini tidak sedang sakit, Youngmi-ya. Aku serius,” ucap Aeri dengan nada malas.

“Aku juga serius,” ujar Youngmi. “Kau tahu, kau banyak berubah, Aeri-ya.”

“Mworago?” tanya Aeri dengan nada heran.

“Sejak kau bercerita bahwa Kyuhyun sunbae sudah memiliki pacar, kau sudah berubah. Kau tak lagi memandangnya seolah ingin memilikinya. Kan biasanya jika kau sudah tahu pria yang kau sukai sudah memiliki pacar, kau tetap bersikeras untuk memilikinya. Kali ini tidak ya,” jelas Youngmi.

“Ah, itu kan hanya perasaanmu saja. Tak mungkin,” elak Aeri. “Terakhir kali aku menyukai seseorang sebelum Kyuhyun sunbae juga tidak begitu.”

“Ah, kerjaanmu ini hanya mengelak saja. Dasar munafik,” cela Youngmi.

Seketika, Aeri langsung berdecak kesal mendengar ucapan Youngmi. “Hei, kenapa kau jadi mengataiku?” ucap Aeri sambil kembali berkutat pada buku sejarahnya.

“Ini semua berkat Jongdae sunbae kan?” tanya Youngmi sambil tersenyum penuh arti pada Aeri.

“Mwo?” kata Aeri sambil mendelik. “Tidak.”

“Kau menyukainya kan? Perasaan seperti yang kau ceritakan itu, apalagi namanya kalau bukan cinta.”

Sontak, membuat Aeri terdiam. Benarkah? Apa benar? Ah, sepertinya ia terlalu polos. Tapi, tak mungkin ia sepolos itu. Ia kan sudah sering menyukai orang lain. Tapi, kali ini perasaannya benar-benar berbeda antara Kyuhyun dan Jongdae. Aaahh!! Bisa-bisa, ia frustasi jika terus merasakannya. Aeri langsung mengacak-acak rambutnya dengan frustasi karena pikirannya mulai kacau.

“Sudah kuduga,” gumam Youngmi sambil tersenyum memandang Aeri.

Sementara, Jongdae duduk terdiam diatas mejanya yang berantakan penuh dengan buku pelajarannya. Kim Minseok, teman sebangkunya sekaligus teman dekatnya ini yang melihatnya hanya bisa mengerutkan keningnya.

“Kau ini kenapa sih? Cepat bereskan buku-bukumu itu. Tidak enak dilihat tahu,” suruh Minseok dengan risih sambil duduk di smaping Jongdae.

“Minseok-ah,” panggil Jongdae sambil mendekati Minseok. “Kira-kira, gadis itu menyukaiku juga tidak?”

“Siapa? Song Aeri?” tanya Minseok langsung.

“Bagaimana kau bisa tahu?” tanya Jongdae dengan nada terkejut karena temannya dekatnya ini tahu tentang gadis itu. Padahal, selama ini Jongdae tak pernah menceritakan asal usul tentang gadis yang selalu diceritakannya pada Minseok.

“Gadis yang kau ceritakan sejak dulu itu, Song Aeri kan? Sudah kuduga, Jongdae-ya,” jawab Minseok dengan santai. “Matamu selalu saja tertuju pada gadis itu.”

“Benarkah?” tanya Jongdae dengan polos. Jadi, selama ini Minseok tahu? Batinnya. “Bagaimana menurutmu?”

“Nyatakan saja sebelum terlambat,” nasihat Minseok dengan santainya. “Kau tahu maksudku kan? Jangan seperti dulu lagi.”

***

Akhirnya, Jongdae berjalan menuju kelas Aeri yang tepat berada di ujung dekat dengan ruang laboratorium. Kedua matanya melihat Aeri sedang membereskan semua bukunya sendirian. Segera, ia masuk ke kelas itu.

“Aeri-ya!”

Aeri langsung menoleh ke arah Jongdae. Entah kenapa, tiba-tiba jantungnya berdegup kencang dan darah tiba-tiba mengalir dengan cepat saat melihat seniornya itu, tidak seperti biasanya. Ia hanya bisa menghelakan napas panjang.

“Sunbae kenapa kemari?” tanya Aeri berusaha bersikap biasa.

“Aku belum ingin pulang. Aku ingin di sini dulu,” pinta Jongdae sambil duduk di samping bangku Aeri. Aeri berusaha menenangkan detak jantunganya yang semakin cepat.

“Sunbae/Aeri.”

Aeri dan Jongdae saling menoleh dan kemudian tertawa bersama.

“Apa yang ingin sunbae katakan?” tanya Aeri lebih dulu setelah kesunyian memenuhi suasana mereka berdua. “Kenapa hari ini kaku sekali ya. Tidak seperti biasanya.”

Jongdae tidak berani menjawab. Ia memandang sebuah kapur papan tulis dan mengambilnya kemudian menuliskannya di meja Aeri.

“Sunbae! Jangan mencoret meja sembarangan,” kata Aeri dengan nada terkejut.

“Tidak apa-apa. Lagipula, bisa dihapus.”

Benar juga. Ah, ini pasti pengaruh efek detak jantungku sampai aku mudah panik dan terkejut seperti ini, batin Aeri pelan sambil memegangi wajahnya. Aahh, kenapa suasananya kaku sekali. Tidak biasanya, pikirnya.

Sementara, Jongdae menulis sebuah soal matematika ’12 x 17 =’. Aeri yang melihatnya hanya tertawa.

“Apa yang ditertawakan?” tanya Jongdae dengan aneh.

“Itu kan pelajaran matematika anak kelas 4 SD,” ujar Aeri. “Coba kutebak, pasti jawabannya 204.”

“Aku juga bisa. Bagaimana dengan ini?” tanya Jongdae sambil menulis soal matematika ‘√6084’.

“Ah, itu kan pelajaran anak SD. Sudah pasti jawabannya 78.”

“Oh ya, aku baru ingat kalau kau anak pintar. Coba tebak apa jawabannya jika kau bisa.”

Ini saatnya. Jongdae kini mulai menulis suatu tulisan ‘128√e98u’. Aeri yang melihat itu hanya bisa mengerutkan keningnya. Soal apa ini? Kenapa ada abjad dan angka? Jelas saja soal ini bukan soal tentang al-jabar yang sudah biasa ia lihat saat ia masih kelas 3 SMP. “Apa ini?”

“Katanya kau ini anak pintar, masa tidak tahu jawabannya?” tanya Jongdae sambil melirik gadis itu dengan gemas. Sesekali, ia tersenyum melihat Aeri yang bingung.

“Selama hidupku ini, pertama kalinya aku mendapatkan soal seaneh ini,” ujar Aeri. “Aku menyerah,” lanjutnya akhirnya.

Jongdae langsung tersenyum penuh kemenangan. Kemudian, ia menghapus setengahnya dari soal itu. Jadi, tampak soal itu kini membentuk suatu kalimat. ‘I Love You’. Aeri yang membacanya langsung menoleh ea rah Jongdae.

“Sunbae…”

“Saranghae,” ucap Jongdae akhirnya dengan susah payah. Namun, kali ini terasa lega hatinya karena bisa mengeluarkan perasaan ini.

Aeri yang mendengarnya ingin sekali menangis, berteriak, dan lega. Ia terlalu bingung harus berbuat apa. “A-ah, sunbae..”

“Apa?”

“A-aku terlalu bingung harus berbuat apa. Ta-tapi, ini kali pertamanya aku mendengar seorang pria menyatakan cinta padaku. Aku merasa lega karena.. merasa…”

Grep.. Tepat sebelum Aeri menyelesaikan ucapannya, Jongdae langsung memeluknya dengan erat. Ia tak mau mendengar penolakan dari bibir gadis itu. Sementara, Aeri berusaha kembali melanjutkan ucapannya. Ia benar-benar merasakan kontak fisik yang nyata dan hangat.  “..merasa cintaku terbalaskan. Sunbae, nado saranghae..”

“Aku tahu,” ucap Jongdae pelan. “Aku tahu kau akan berkata begitu. Aku tak ingin terlambat dan kalah.”

“Sunbae..” panggil Aeri sambil memejamkan kedua matanya.

“Ne?”

“Saranghae…”

“Nado saranghae, Aeri babo,” ucap Jongdae pelan sambil mengecup kening Aeri dengan lembut.

***

Jongdae berjalan ke parkiran sekolah sambil menggenggam tangan Aeri dengan erat. Sementara, Aeri mengikuti langkah Jongdae. Sesekali, mereka saling tersenyum penuh arti saat saling berpandangan. Dan, bahkan merah merona kadang mewarnai kedua pipi Aeri.

“Aku tak menyangka kalau sunbae menyukaiku,” kata Aeri sambil menundukkan kepalanya.

Jongdae melirik ke arah Aeri sambil tersenyum. “Aku juga tak menyangka kalau kau juga akan menjawab seperti tadi,” ujarnya.

“Tapi, bagaimana bisa sunbae menyukaiku?” tanya Aeri dengan nada heran.

Jongdae kembali tersenyum. “Kau tahu, setiap manusia pasti memiliki suatu perasaan pada orang lain yang tak memiliki alasan. Cukup dengan memahami orang itu dengan baik, maka entah apa yang terjadi nanti lambat laun tanpa sadar kau sudah menyukainya tanpa alasan yang jelas,” jelasnya. “Lalu, bagaimana denganmu? Bagaimana bisa? Bagaimana perasaanmu pada Kyuhyun hyung saat ini?”

“Hmm..” Aeri mulai berpikir. “Perasaanku pada Kyuhyun sunbae seiring berjalannya waktu seolah memudar begitu saja. Apalagi, sejak melihat kejadian Kyuhyun sunbae bersama dengan Victoria eonni yang bahagia, membuatku sadar akan keberadaanku dan berusaha untuk melupakan perasaanku pada Kyuhyun sunbae,” jelasnya kemudian. “Dan−“

“Dan, kau berpaling ke arahku, begitu?” tukas Jongdae sambil berbalik dan menatap manik mata Aeri.

Sontak, Aeri langsung memalingkan wajahnya karena malu. “E-ah, apa aku perlu menjawabnya?”

Jongdae semakin gemas ketika melihat wajah yang kini menjadi gadisnya itu. “Tak perlu kau jawab, aku sudah tahu,” jawab Jongdae kemudian sambil semakin mengeratkan genggaman tangannya.

Tanpa sadar, langkah Jongdae dan Aeri sampai di parkiran sekolah. Jongdae langsung mengambil sepedanya dan menaiknya. Kemudian, ia menoleh ke arah Aeri.

Sedangkan, Aeri hanya tersenyum penuh arti saat memandang Jongdae. “Sunbae, hari ini−”

“Minum jus jambu dulu?” tukas Jongdae sambil memandang Aeri penuh arti.

Kemudian, mereka langsung tertawa bersama. Jongdae mengangguk mengerti sambil menuntun Aeri untuk duduk di jok belakang sepedanya. Dan, Aeri langsung memeluk pinggang Jongdae, namun kali ini lebih erat agar ia bisa merasakan kehangatkan tubuh Jongdae. Sedangkan Jongdae, ia menggenggam tangan Aeri dengan erat agar kehangatannya bisa tersalurkan.

Kehangatan yang Aeri rasakan ini, sehangat hatinya kini yang diberikan pada Jongdae.

– FIN –

Iklan

3 thoughts on “128√e98u

  1. Kyaaaa!! XD Aku bacanya sampe senyum-senyum sama ketawa sendiri ^^ , feelnya dapet bingit, great!
    Sempet ada kata-kata yang kurang aku mengerti ._. *Mungkin karena gw bacanya tadi setengah2, gara2 sibuk nerima thr xD ckck (?)*
    Yeaaaay!! Ternyata ada Youngmi dan Sehun nyasar di situ XD ckckck…
    God job! Keep Writing! 😀

    1. Haaaaiii, ber!!!! {}
      kkkk~ wahahaha, jangan senyum ama ketawa sendiri, nanti disangka orang gila loh ._. wkwkwk
      hahaha, thanks buat pujiannya 😀 aduh, ketauan banget thr banyak. bagi-bagi dong ke gue -_- wkwk
      eaaa donggg :3 kkkk~
      thanks buat reviewnya. this is very important for me {} 🙂

Mind to Review? ^ ^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s