Tears

375777_451586078213254_1708265404_n

[Juice Couple] Tears

By @Aeri_Tamie

Cast : Song Aeri and Kim Jongdae (EXO Chen)

Fluff, Comedy, School Life ║ PG-13 ║ Oneshot

Disclaimer : 20130811 © Aeri_Tamie

Lagi-lagi kemalesan saya buat nyari atau bikin poster. Jadi, asalpun jadi XD kkk mianhaee~ /bow/

***

“Sunbae.”

“Apa?”

Jongdae menoleh ke arah Aeri yang berada di sampingnya. Tampak, Aeri kini sedang menyedot jus jambunya dengan lahap. Kedua mata Jongdae menatap bola mata Aeri yang berwarna cokelat tua itu sejenak. Kedua mata yang berhasil membuat hati pria itu tenang.

“Sunbae pernah menangis?” tanya Aeri dengan polos.

Jongdae mengerutkan keningnya, heran. “Tentu saja. Aku ini kan manusia. Masa aku ini robot yang tidak pernah menangis.”

“Kapan sunbae terakhir menangis?” tanya Aeri lagi.

“Ada apa sih dengan pertanyaan anehmu itu?” kata Jongdae balik bertanya dengan ingin tahu.

Aeri terdiam sejenak sambil memandang Jongdae. Kemudian, ia langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain sambil menyedot jus jambunya dengan cepat.

“Ada apa?” tanya Jongdae. “Tolong, jangan buat aku penasaran seperti ini.”

“Tidak ada,” ujar Aeri pelan. “Aku tak berani berkata apapun.”

“Hya,” panggil Jongdae sambil memandang Aeri. “Katakan saja. Jujur saja, kali ini aku tak bisa membaca arah pikiranmu.”

Perlahan, Aeri menoleh ke arah Jongdae sambil melepas sedotan jus jambu dari mulutnya. “Senyumanmu. Kenapa kau bisa selalu tersenyum? Senyum kebohongan. Kenapa kau bisa melakukannya? Selama ini, aku bahkan tak pernah melihatmu menangis.”

Jongdae hanya tersenyum. “Jadi, apa maumu?”

Aeri hanya menengadahkan tangan kanannya. “Berikan aku satu airmatamu.”

“Mana bisa?” tanya Jongdae dengan heran. “Kalau kau mau, berikan aku satu airmatamu dulu. Aku akan menangis jika melihatmu menangis.”

“Aku tidak ingin melihat sunbae menangis,” sahut Aeri sambil menggeleng cepat. “Kalau begitu, sunbae bisa membuatku memberikanmu satu airmata?”

Jongdae memandang Aeri sambil tersenyum menantang. “Tentu saja. Aku akan membuktikannya.”

***

Beberapa hari kemudian, Jongdae langsung berjalan masuk ke perpustakaan. Kemudian, kedua matanya mendapati Aeri yang sedang membuka buku biologi di ujung perpustakaan. Tampak, bagian sana terlihat sepi.

“Aeri-ya.”

Aeri menoleh ke sumber suara dan mendapati Jongdae yang langsung berjalan menghampirinya. “Sunbae,” sapanya sambil tersenyum.

“Aku sudah siap.”

“Siap apanya?”

“Aku akan meminta satu airmatamu. Nanti aku akan memberikannya saat pulang sekolah,” ujar Jongdae sambil tersenyum. Kali ini, ia tidak berhenti tersenyum.

“Sunbae jangan tersenyum terus. Bisa-bisa kau disangka gila,” sahut Aeri sambil memamerkan giginya yang rapih.

Kemudian, mereka berdua tersenyum sambil tertawa canggung. Aeri langsung berdeham dan kembali berkutat pada bukunya saat ia tahu kini mulai banyak orang yang mengamati mereka berdua. Sementara, Jongdae dengan asal mengambil buku kimia yang berada di rak sebelah buku biologi.

Akhirnya saat pulang sekolah, Jongdae memberikan sebuah tape recorder pada Aeri saat mereka duduk bersebelahan di sebuah kios tempat biasa Aeri membeli jus jambu kesukaannya. Aeri memandang tape recorder itu dengan tatapan kosong.

“Sunbae, apa ini?” tanya Aeri dengan heran.

“Katanya kau akan memberikan satu airmatamu untukku. Ini.”

Aeri memandangnya dengan takjub. “Apa isinya? Boleh kudengarkan sekarang?”

“Jangan!” seru Jongdae sambil menghalangi tangan Aeri. “Tunggu sampai kau berdiri di kamarmu.”

“Kenapa?” tanya Aeri.

“Bukan kejutan namanya jika kau dengar sekarang. Nanti aku akan ke rumahmu untuk meminta hasilnya,” jawab Jongdae.

“Sunbae ini. Mendengar jawabanmu membuatku semakin penasaran. Ayo, pulang. Agar aku sampai rumah dan tak mati penasaran saking ingin tahu untuk mendengar isinya,” ajak Aeri sambil menarik tangan Jongdae dengan tak sabar.

“Ya, ya, ya. Aku tahu, aku tahu.”

***

Setelah selesai mandi dan makam malam, Aeri duduk di bawah tempat tidur sambil memandang tape recorder pemberian Jongdae dengan ragu. Kira-kira, apa isinya ya? Pikirnya. Segera, ia menyematkan earphone di kedua telinganya dan menekan tombol play.

“Annyeong, Aeri-ya. Kau tahu kan tujuanku memberikan ini untuk membuatmu menyerahkan satu airmatamu padaku. Maka dari itu, dengarkanlah satu lagu yang kunyanyikan. Ah ya, tambahan. Berikan aku komentar tentang suaraku ini. Awas saja jika tidak. Saranghae.”

Aeri hanya tersenyum ketika mendengar ucapan Jongdae yang terekam. Kini, terdengar suara alunan musiknya dan suara merdu dari Jongdae.

I won’t go, I’ll just wait here
Like a fool crying beside you
I don’t know why you had to hurt me
I won’t leave, I’ll keep on waiting

I miss you, I miss you
At times you may hate me
I want to cry, kneel down for me
If it may turn out that there’s nothing we can do about it

The memory of being madly in love
I find you in those memories
We couldn’t have been more in love
I won’t choose this for you
I will never let it happen
But I’ll miss you as you’re dead

I miss you, I miss you
At times you may hate me
I believe this is the right way
I’m leaving to go to you

The memory of being madly in love
I find you in those memories
We couldn’t have been more in love
I won’t choose this for you
I will never let it happen
But I’ll miss you as you’re dead

I want to forget that you’re dead

[Kim Bum Soo – I Miss You (Stairway to Heaven Ost.)]

Setelah selesai lagu yang direkam oleh Jongdae, tanpa sengaja airmata Aeri mengalir. Ia terlalu terhayut dengan suara Jongdae yang merdu selain oleh lirik lagunya yang terdengar sedih. Airmatanya mengalir deras. Ternyata, suara Jongdae yang merdu mampu membuatnya menangis seperti ini. Ia bahkan seperti merasakan kesedihan dari lirik itu.

“Aeri-ya, Jongdae mencarimu!!”

Teriakan ibunya membuat ia langsung menekan tombol pause pada tape recorder tersebut. “Bilang saja Aeri tidak ada!”

“Tapi..”

“Aeri-ya?”

Aeri langsung menoleh ke sumber suara dan mendapat Jongdae yang sedang memandangnya. “Kau kenapa?” tanya Jongdae dengan kaget ketika melihat kedua mata Aeri mengalir deras airmatanya.

Beberapa detik kemudian, seketika tangis Aeri langsung pecah. Ia menangis dengan keras. Bahkan, airmatanya yang mengalir semakin banyak. “Huwaa, sunbae! Jahat sekali kau! Kenapa kau menyanyikannya begitu bagus hingga aku menangis dengan seperti ini?”

Jongdae langsung duduk berhadapan dengan Aeri sambil tersenyum menenangkan. “Aigo, aigo, mianhae,” ucap Jongdae kemudian sambil menarik Aeri ke dalam pelukannya dan mengusap punggung gadis itu. “Jangan menangis.”

“Suaramu bagus sekali. Lagunya juga aku menyukainya walaupun menyedihkan. Lain kali, jangan nyanyikan lagu itu lagi,” isak Aeri sambil membalas pelukan Jongdae dengan erat dan menenggelamkan wajahnya di bahu lelaki itu. “Airmataku bisa-bisa kering karena menangis mendengar liriknya dan mendengar suara merdumu,” ujarnya sambil terisak. Sesekali, ia menangis tersendu-sendu.

“Iya, iya, aku tahu,” sahut Jongdae. “Hei, aku ini kan hanya ingin satu airmatamu. Kenapa banyak sekali?”

“Salahkan suaramu dan lirik lagunya,” jawab Aeri pelan dengan lirih. “Tapi, kau tak seperti yang di lirik lagu yang kau nyanyikan kan? Tidak akan meninggalkanku?”

Jongdae menggeleng pasti. “Ya, tentu saja,” ujar Jongdae sambil tersenyum. “Sudahlah. Jangan menangis lagi.”

“Tubuh sunbae hangat ya,” ucap Aeri disela-sela tangisannya.

“Kalau begitu, aku akan lebih sering membuatmu menangis agar kau bisa merasakannya,” goda Jongdae sambil tersenyum jahil.

“Sunbae!” teriak Aeri kesal saat mulai mereda tangisnya.

– FIN –

Iklan

7 thoughts on “Tears

Mind to Review? ^ ^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s