Special Gift

birthday-blue-cake-candles-Favim.com-519940

Juice Couple – Special Gift

By @Aeri_Tamie

Cast : Song Aeri and Kim Jongdae (EXO Chen)

Fluff, Friendship, School Life ║ PG-13 ║ Oneshot

Disclaimer : 20130824 © Aeri_Tamie

***

Saengil chukkahamnida
Saengil chukkahamnida~

Klik! Aeri langsung terbangun sembari mematikan alarm pengingat dari ponselnya. Entah apa yang terjadi, ia tidak tahu kenapa tepat di tengah malam seperti ini alarm pengingat itu berbunyi dengan lagu selamat ulang tahun, hingga dengan mudah langsung membangunkan tidur lelap gadis itu. Memangnya siapa yang sedang berulang tahun? Gerutu Aeri dengan kesal.

Aeri langsung melempar ponselnya entah ke mana. Lalu, kembali menarik selimut dan hendak memejamkan kedua mata. Namun, baru beberapa menit berselang gadis itu berhasil memejamkan kedua mataku, ponselnya malah berdering dengan nyaring untuk kedua kalinya. Siapa lagi yang ingin menganggu ketenanganku malam ini hah? Pikir Aeri dengen sebal.

Aeri langsung terbangun dengan kesal sambil meraba-raba permukaan lantai di sekitar tempat tidur dengan kedua mata yang masih terpejam, mencari ponsel yang sempat ia lempar entah ke mana.

“Aaaahhh,” desisnya dengan kesal. Seketika, Aeri mengangkatnya. “Halo?”

Tak ada suara. Kedua mata Aeri langsung memandang ponsel sejenak, heran. Namun, kedua matanya masih belum sepenuhnya terbuka lebar. Kemudian, ia kembali menempelkan ponsel ke telinganya.

Heeiii!!!”

Aeri langsung terkejut dan membuka kedua matanya tiba-tiba, ketika sebuah suara menerjang gendang telinganya. Youngmi? pikir Aeri. Ia langsung mengecek ponselnya sesaat. Ah, ternyata pesan suara dari Hyoae. Tapi, kenapa ada suara Youngmi? batin Aeri pelan.

Aku di sini!!!!

Aku juga di siniiii!!

Naui chingu babooo!!!!

Uri chinguuuuu!!!!!

Yaaaaa!!!!

Bahkan, teman-temanku juga ada? Batin Aeri lagi dengan terkejut. Ada apa sebenarnya dengan malam ini? Pikirnya.

Saengil chukkahamnida, eonni!!! Saranghaeyo!!

Eonni, happy birthday!!

Wish you all the best!!

Saengil chukkahamnida, saengil chukkahamnida. Saranghaneun naui chingu. Saengil chukkahamnida!!

Di tunggu traktiranmu!

Awas saja jika kau kabur dalam hal ini!

Semoga hubunganmu dengan Jongdae sunbae semakin lama!!

Kuharap, Jongdae sunbae memberi kami traktiran sebagai pajak karena dia berpacaran dengan sahabat kami!!”

“Pokoknya, aku akan memintanya dengan pajak besar!!”

“Traktir kami es krim yaa!!”

“Aku ingin jus apeell!!”

“Sebatang cokelat!!”

Heeiii, sudah cukup pesan suaranya! Bisa-bisa baterai ponselku habis karena kalian!” seru Hyoae tiba-tiba dengan kesal. Aeri hanya terkikik pelan mendengarnya.

Semoga kau senang mendengarnya. Aku mencintaimu.

Kami semua mencintaimuuu~!!!

Tut! Pesan suara yang direkam akhirnya selesai. Memang sekarang tanggal berapa? Tanya Aeri lagi dalam hati sambil beranjak dari tempat tidur dan duduk menghadap ke meja belajar. Ia raih kalender duduk yang terongok manis di mejanya. Tepat tanda bintang berwarna biru menghiasi suatu tanggal. Tanggal ulang tahunnya.

Tiba-tiba, ponselnya kembali berdering dengan nyaring. Segera, ia mengambil dan mengangkatnya. “Yeoboseyo?”

“Aeri-ya.”

Napas Aeri langsung tertahan. Ia tahu suara siapa ini. “Jongdae sunbae?”

“Saengil chukkahaeyo,” ucap Jongdae setelah beberapa saat kemudian terdiam. “Semoga kau semakin sehat, semakin dewasa, semakin pintar, dan turuti kedua orangtuamu. Dan, semoga semua impianmu tercapai.”

“Gumawo, sunbae,” ujar Aeri pelan diselingi oleh senyum kecilnya. “Aku mau hadiah.”

“Hadiah?”

“Iya. Hadiah darimu.”

“Hmm,” Terdengar, Jongdae berpikir sejenak. Aeri hanya bisa terkikik pelan mendengar Jongdae tak kunjung memberikan jawabannya.

“Lebih baik, kau cepat tidur. Nanti pulang sekolah, aku akan memberikanmu sebuah hadiah kecil. Saranghae. Annyeong.”

Tut! Sambungan langsung terputus. Aeri yang mendengarnya hanya bisa melongo sesaat. “Sunbae! Langsung memutuskan sambungannya!” gerutu Aeri pelan. Namun, pikirannya langsung teringat pada ucapan Jongdae tadi sebelum terputus sambungannya. Hadiah kecil? Sungguh, ucapannya tadi pada Jongdae hanya bercanda. Tapi, kenapa pria itu menganggapnya sungguhan?

***

“Song Aeri!”

Siang hari saat jam istirahat, Aeri yang sedang berjalan menuju kelasnya langsung tersentak kaget. Ia hampir saja melemparkan semua buku yang ia bawa kini. Seketika, kepalanya langsung menoleh ke sumber suara dan menatap orang yang mengagetkannya dengan sebal. “Sunbae!” teriak gadis itu.

Jongdae yang melihatnya hanya tertawa renyah. “Hahaha, wajahmu tegang.”

“Jangan mengagetkanku!” seru Aeri sambil menggerutu pelan. “Ini sudah kesekian kalinya sunbae menganggetkanku seperti ini.”

“Aku hanya ingin memberitahumu,” ujar Jongdae rendah. “Nanti pulang sekolah tunggu aku di tempat biasa. Aku pergi dulu. Sampai nanti.”

Aeri hanya terdiam sejenak mendengar ucapan Jongdae. Kemudian, ia memandang tubuh Jongdae yang semakin menjauh. Memang ada apa? Pikir Aeri heran sambil memasukkan salah satu tangannya kedalam saku jas almamaternya.

“Aeri-ya!”

“Huwaa!”

Aeri langsung menoleh dengan wajah yang masih terkejut. Kedua matanya langsung menatap seseorang yang kini berada dihadapannya sedang tertawa tanpa perasaan berdosa. Park Youngmi.

“Youngmi-yaa!!” teriak Aeri dengan kesal. Ia ingin sekali rasanya melempar Youngmi ke sungai Han karena telah membuatnya terkejut hingga hampir membuatnya terkena serangan jantung.

“Hari ini kau ada waktu? Hyoae mengajak kita untuk bermain di rumahnya. Kau mau ikut? Lagipula, hari ini tak ada jadwal science club.”

“Hmm, Youngmi-ya,” ucap Aeri pelan. “Hari ini aku sedang tak bisa.”

“Kenapa?” tanya Youngmi langsung sambil mendelik. “Jongdae sunbae, ya?”

Aeri hanya bisa menggigit bawah bibirnya sambil memandang Youngmi dengan tatapan memohon. “Youngmi-yaa~”

“Aaaah, arraseo! Tak usah merengek lagi! Aku sudah tahu jawabanmu!” teriak Youngmi langsung.

***

Jongdae berlari cepat meninggalkan kelasnya saat jam pulang sekolah tiba. Ia melirik arlojinya sekilas. Sungguh, kali ini ia benar-benar terlambat. Jam pelajaran matematika ditambah satu jam sehingga membuatnya pulang terlambat.

Setelah langkahnya sampai di tempat parkir, ia sudah tak melihat siapapun. Di sana terlihat sepi hanya ada beberapa sepeda yang masih terparkir karena sang pemilik belum selesai jam belajarnya atau sedang mengikuti ekstrakulikuler.

“Ke mana dia?” pikir Jongdae sambil kedua matanya memandang sekeliling. Ia memandang langit sejenak yang tampak semakin kelabu.

Bruk! Sebuah tas punggung berwarna cokelat muda tergeletak tepat di depan kaki Jongdae. Ia tahu siapa pemilik tas itu. Segera, ia menundukkan kepalanya dan mendapati seorang gadis sedang duduk bersandar ke dinding sembari memeluk kedua kakinya dengan kepala yang tertunduk. Ia tahu gadis itu.

“Song Aeri?”

Jongdae langsung berjongkok di hadapan Aeri sambil memandang gadis itu sejenak. Ia tahu gadis itu sedang tertidur, makanya ia sengaja tak membangunkannya.

“Sunbae?”

Aeri mendongakkan kepalanya dan tampak Jongdae kini berhadapan dengannya. Jarak mereka berdua bahkan hanya beberapa sentimeter saja. Setelah Aeri menyadari itu, baru ia membulatkan kedua matanya karena terkejut.

“Huwa−“

Sebelum Aeri berteriak semakin keras, Jongdae dengan cepat langsung menutup mulut gadis itu dengan tangannya. Ia bahkan sudah menduga hal ini akan terjadi jika seperti ini. “Ssstttt.”

Seketika, Aeri terdiam sambil memandang lelaki itu. “Kapan sunbae datang?”

Jongdae hanya tersenyum pengertian. “Tak lama sebelum kau bangun,” ujarnya. “Mianhae, aku membuatmu menunggu hingga tertidur seperti tadi.”

Aeri langsung menggeleng cepat sambil tersenyum sumringah. Kemudian, ia bangkit dari duduknya. “Ah, gwaenchanna. Tidak masalah, kok.”

Jongdae memandang Aeri yang kini membungkukkan tubuhnya untuk mengambil tas punggungnya dengan perasaan bersalah. Ah, ia meruntuki jam pelajaran yang terpaksa ditambah. Gadis itu pasti sudah menunggunya terlalu lama.

Lelaki itu langsung mengambil sepedanya dan menyuruh Aeri untuk naik. Kemudian, ia mengayuhkan sepedanya menuju kios tempat biasa Aeri untuk membeli jus jambu. Ia sangat tahu kesukaan gadisnya itu.

Segelas jus jambu berhasil membuat wajah Aeri semakin ceria. Jongdae yang memandangnya hanya bisa bernapas lega.

“Sunbae,” panggil Aeri disela-sela ia menyedot jus jambunya dengan cepat. “Kau ingin memberitahu apa? Mana hadiahnya?”

Ucapan yang dilontarkan Aeri ternyata mampu membuat Jongdae terdiam sejenak. Ah iya, ia hampir lupa apa tujuannya menyuruh Aeri untuk menemuinya. Jongdae melirik tas punggung yang berada didekatnya. Haruskah sekarang?

“Sunbae, aku−“

“Ini.”

Aeri begitu terpana memandang sebuah kado yang tak berbentuk dengan kertas kado berwarna biru langit. Sontak, ia mengalihkan arah pandanganya ke arah Jongdae. Gadis itu mengerjapkan kedua matanya berkali-kali. “Sunbae…”

“Kau mau hadiah kan? Aku tak tahu benda kesukaanmu. Tapi, kuharap semoga kau menyukainya,” jawab Jongdae sambil tersenyum lebar.

“Ah, ini sangat merepotkanmu. Padahal, tadi malam itu hanya bercanda. Kukira, sunbae akan menganggapnya seperti itu,” sahut Aeri pelan. “Boleh aku buka sekarang?”

“Hmm−Ah!”

Jongdae merasakan rintik hujan yang tiba-tiba datang. Segera, ia mengambil tasnya dan menarik tangan Aeri untuk berteduh di sebuah halte bus yang dekat dengan mereka duduk. Jongdae sudah menduga ketika melihat langit yang sudah kelabu tadi. Sementara, Aeri memandang rintik hujan itu dengan heran. Dalam hatinya, ia meruntuki dirinya sendiri karena tak sempat membawa payung lipat didalam tas.

Halte bus itu tampak lenggang diikuti oleh suasana sunyi karena tak ada satupun yang ingin memulai pembicaraan lebih dulu.

“Sunbae/Aeri-ya.”

Tampak, keduanya saling menoleh dan saling berpandangan sejenak. Kemudian, tanpa sadar mereka tertawa bersama.

“Ini sudah seringkali terjadi kan?” tanya Jongdae masih tertawa renyah.

Aeri hanya mengangguk pelan. Kemudian, ia kembali memandangi kado dari Jongdae sejenak. “Boleh kubuka, ya.”

Perlahan, Aeri membuka isi kado dari Jongdae dan mengeluarkannya. Ia begitu terkejut ketika mengetahui isinya berupa sebuah boneka bebek berukuran kecil dan lucu. “Waah, lucunya! Mirip denganmu.”

“Mwo?” tanya Jongdae dengan nada tak percaya. “Jangan bercanda.”

“Tapi, sungguh boneka ini mirip denganmu. Coba kubandingkan.”

“Hya, Aeri-ya. Hentikan.” Walaupun berkata seperti itu, Jongdae sama sekali tidak memasang wajah sebal. Malah senyumannya tak pernah absen dari wajah tampan pria itu.

Tiba-tiba, sebuah ide muncul di otak Aeri. Segera, ia menyikut tubuh Jongdae. “Sunbae, maukah kau mengabulkan permintaanku?”

“Memangnya kau mau apa lagi?” tanya Jongdae sambil memandang Aeri.

“Nyanyikan satu lagu untukku. Kau kan mahir dalam bernyanyi. Satu lagu saja. Mau tidak? Anggap saja sebagai hadiah untukku.”

Jongdae memandang Aeri penuh pengertian. Sontak, ia langsung mengangguk setuju sambil tersenyum. “Dengarkan baik-baik. Khusus untukmu.”

On a cold winter day,
God has sent an angel on earth for one person
After a long time passed,
That angel who has given so much love,
Had been hurt and shed tears
But the angel still smiled at me

After we loved and were separated for a bit
This is the angel’s first birthday
I can’t be next to you but
Happy birthday, happy birthday
I thank the one who made you be born
Once again, happy birthday

After we loved and were separated for a bit
This is the angel’s first birthday
I can’t be next to you but
Happy birthday, happy birthday
I thank the one who made you be born
Once again, happy birthday

After we loved and were separated for a bit
This is the angel’s first birthday
I can’t be next to you but
Happy birthday, happy birthday
I thank the one who made you be born
Once again, happy birthday

Happy Birthday
I love you so much

[Nue’st – Happy Birthday]

Aeri begitu terpana mendengar suara merdu dari bibir Jongdae selain liriknya yang bagus. Tanpa sadar, airmata haru Aeri keluar begitu saja tanpa permisi. Ia begitu terbawa suasana karena terpengaruh oleh suara rintik hujan. Ia ingin sekali menangis, namun berusaha ia tahan.

Jongdae yang kini telah selesai bernyanyi menoleh ke arah Aeri yang kini sedang menyerka airmatanya. Seketika, ia menangkupkan wajah Aeri sambil menghapus airmata kekasihnya itu dengan ibu jarinya.

“Kenapa menangis?”

Aeri terdiam sejenak sambil memandang manik mata pria itu. “Sunbae kan tahu suaramu sangat bagus. Aku kan sudah mengatakannya berkali-kali, airmataku bisa-bisa kering jika seperti ini terus-menerus.”

“Kau kan yang meminta tadi. Makanya, kuturuti.”

Aeri tak bisa berkata apa-apa. Sungguh, pria yang berada dihadapannya kini benar-benar mengerti isi hatinya walaupun jawaban yang keluar dari mulut Jongdae tidak mencerminkan seperti apa yang dimaksud Aeri.

“Kenapa diam?” tanya Jongdae lagi. “Mau menangis lagi?”

Kali ini, Aeri menggeleng pelan. “Aku benar-benar bahagia. Cukup seperti ini saja aku sudah bahagia,” ujar Aeri pelan. “Aku tak butuh apapun. Cukup sunbae berada di sisiku, aku sudah bahagia.”

Jongdae kembali tersenyum. Ia masih menangkupkan kedua pipi gadis itu. Kemudian, ia menarik Aeri ke dalam pelukannya. Tubuh Aeri yang awalnya terasa dingin kini terasa hangat karena suhu tubuh dari Jongdae.

“Hadiah terakhirku,” ucap Jongdae pelan. Kemudian, ia mengecup kening Aeri. Sementara, wajah Aeri yang sudah siap memerah langsung menenggelamkannya di bahu pria itu.

Aeri ingin selalu merasakan pelukannya. Dan, ia yakin perasaaannya tak pernah salah pada pria itu.

“Saranghae, Jongdae sunbae.”

“Ne. Nado saranghae, Aeri-ya.”

– FIN –

Iklan

2 thoughts on “Special Gift

    1. hmm, kayanya aku kurang penjelasan di ffku, eonn. karakter aeri disini rada ga suka manggil oppa ke pacarnya soalnya ngerasa aneh kalo dia manggil gitu. jadi kalo pacarnya beda usia dia bakal manggil ‘sunbae’, bukan ‘oppa’. hehehe 😀
      gitu, eonn ^^
      makasih udah baca dan ninggalin review ya eonn 🙂

Mind to Review? ^ ^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s