3600 seconds and Balloons

Balloons Wallpapers 6

3600 seconds and Balloons

© Aeri_Tamie’s Script Writer

Casts : Kim Jongin (EXO-K’s Kai); Kang Heejung (OC)

Genre : Friendship, Drama, Tragic ║ Rated : General ║ Length : Oneshot

Disclaimer : 20131115 © Aeri_Tamie

Note      : Special cast EXO-K’s Kai. ^^ Karena saya tiap browsing di google search kebanyakan si Kai. Kkk~ Don’t forget, give me your review, please. And, don’t do plagiarism. Happy reading, guys! ^^

***

Waktu tak akan pernah kembali. Jika sudah terlambat, kau hanya menyesalkan bahwa potongan kalimat-kalimat yang ingin kau ucapkan tak akan pernah terucap di bibirmu dan hanya tetap tersimpan di hatimu.”

“Kim Jongin!”

Kim Jongin langsung menoleh ke arah seorang gadis yang sedang tersenyum manis sambil melambaikan tangannya. Kang Heejung yang saat itu sedang memakai kaus rajut panjang berwarna kuning dengan celana jeans biru tua dan sepatu sneakers berwarna putih bersih terlihat memasang wajah sumringah.

Jongin yang saat itu hendak mengendarai sepedanya langsung menghampiri Heejung.

“Kau sudah siap?” tanya Jongin pada Heejung.

“Kurasa begitu,” ucap Heejung dengan agak ragu. “Memangnya hari ini kita mau ke mana?”

“Naiklah,” suruh Jongin dan sama sekali tak menghiraukan ucapan Heejung. “Nanti kau akan tahu sendiri.”

Dengan wajah bingung, Heejung mulai menaiki sepeda Jongin tepat di jok belakang Jongin. Otak Heejung masih dipenuhi oleh berbagai macam pertanyaan untuk Jongin. Namun, pandangan Jongin pada Heejung hanyalah ‘tenanglah-kau-pasti-akan-tahu-sendiri’. Entah kenapa, pandangan pria itu mampu membuat perasaan Heejung tenang.

“Apa ini kencan?” tanya Heejung.

“Hmm.. mungkin,” ujar Jongin dengan nada pelan. Bahkan, sepertinya Heejung tak bisa mendengar ucapannya.

Dengan hati-hati, tangan Heejung mulai mencengkram baju Jongin dari belakang saat Jongin mulai mengayuh sepedanya. Jongin yang menyadari itu langsung menarik tangan Heejung untuk memeluk pinggangnya agar tidak jatuh. Namun, hal itu malah membuat kedua pipi Heejung bersemu merah. Jantungnya mulai berdebar-debar.

“Jongie,” panggil Heejung. Memandang Jongin dengan perasaan tak enak.

“Gwenchanna,” ujar Jongin sambil tersenyum manis.

Akhirnya, kayuhan sepeda Jongin sampai di sebuah taman dipenuhi dengan bunga sakura yang mekar. Di sana juga banyak sekali orang berdatangan untuk menikmati indahnya musim semi. Heejung memandang pepohonan sakura yang mekar itu dengan takjub.

“Ayo, turun,” ajak Jongin setelah itu.

Dengan pelan, Heejung mulai turun dari sepeda Jongin. Kemudian, ia memandang sekitar untuk mencari tempat yang enak untuk berteduh dan menghirup udara pagi. Udara pagi yang segar memang bagus agar semangat bisa kembali datang.

“Ah! Balon!” seru Heejung tiba-tiba.

Jongin langsung menoleh ke arah Heejung saat ia sedang memarkirkan sepedanya. Heejung yang kini memasang wajah sumringah dan kedua matanya yang berbinar sambil berlari kecil menuju ke sebuah kios yang menjual berbagai macam mainan anak-anak, termasuk bola dan balon.

“Paman, aku mau satu−“

“Paman, aku mau membeli semua balonnya,” kata Jongin menukas ucapan Heejung pada seorang pria paruh baya yang ternyata adalah penjual kios tersebut.

Sontak saja, Heejung menoleh ke arah Jongin dengan pandangan terkejut. Namun, seulas senyum mulai menghiasi wajahnya. Gadis itu pun langsung menerima semua balon yang diberikan oleh paman itu dengan semangat. Bahkan, setelah itu ia berlari-lari kecil menyusuri pepohonan sakura sambil menggenggamnya dengan erat. Jongin juga sempat bermain gelembung dan mengelilingi taman pohon sakura bersama Heejung dengan sepedanya.

Akhirnya, Jongin dan Heejung kini duduk sambil menikmati es krim masing-masing. Tangan kiri Heejung masih setia menggenggam balon-balon itu dengan erat.

“Kenapa kita ke mari?” tanya Heejung dengan nada heran.

Jongin terdiam sejenak, kemudian berdeham, “Kita akan bersenang-senang selama 3600 detik di sini.”

“Hanya 1 jam?” tanya Heejung. “Ah, tidak asyik. ”

“Waktuku untukmu itu hanya 1 jam tahu,” ujar Jongin sambil mendengus. “Kita kan tak pernah tahu apa rencana Tuhan di kejadian 1 jam setelah itu, bahkan 5 menit setelah ini.”

“Ah, sekarang tingkah Kim Jongin mirip sekali dengan Siwon Oppa,” gerutu Heejung sambil menikmati es krimnya.

“Heh!” seru Jongin dengan kesal. “Ucapanku itu kan benar adanya. Lagipula, memangnya kenapa sih jika hanya 1 jam?”

“Itu terlalu sebentar. Kau tahu, sekarang tinggal tersisa waktu 20 menit lagi.”

Kini, Jongin dan Heejung saling terdiam. Tak ada suara diantara mereka dan hanya terdengar suara berbagai macam teriakan dari orang-orang yang datang ke sana. Mereka hanya menikmati es krim masing-masing hingga habis.

“Jungie,” panggil Jongin kembali memulai pembicaraan lagi setelah beberapa saat terdengar sunyi sambil memandang Heejung. Ia telah selesai menikmati es krimnya. Ia terdiam sejenak. “Apa kau tidak apa-apa?”

Seketika, aktivitas menikmati es krim Heejung berhenti. Ia tampak terdiam sejenak –seperti sedang menyembunyikan sesuatu, kemudian ia membalas pandangan Jongin dengan wajah polos. “Memang ada apa denganku?”

“Jangan begitu, Jungie,” ucap Jongin. “Kemarin, aku sudah tahu semuanya. Ibumu menceritakannya padaku. Kau sakit, kan?”

Kali ini, Heejung diam. Tak bisa menjawab pertanyaan Jongin.

“Tadi juga, aku sempat melihatmu sedang meringis kesakitan sambil mencengkram dada sebelah kirimu dan meminum obatnya saat aku sedang membelikan es krim untukmu,” ungkap Jongin lagi. “Kenapa kau tak pernah mengatakan hal ini padaku?”

Heejung masih diam membisu. Kali ini, Kang Heejung yang selalu membungkus dirinya menjadi orang yang selalu ceria dan tak pernah mengenal kesedihan, kini terbongkar dirinya yang sebenarnya tepat di hadapan Jongin. Perlahan, airmatanya mulai jatuh. Ah, ini bukanlah dirinya yang dulu.

“Kenapa diam, Jungie? Ingin menangis dengan keras?” tanya Jongin. “Menangislah. Cobalah untuk saat ini jujur pada dirimu sendiri, Jungie. Jangan seperti ini. Aku senang melihatmu yang selalu ceria, tapi aku juga tak suka jika melihatmu sedih dalam diam.”

“Jongie,” ucap Heejung pelan. “Aku tak bisa seperti itu. Ketika aku tahu itu, aku melihat ibuku menangis. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku melihat beliau menangis. Aku sedih dan takut jika orang-orang disekitarku akan menangis seperti ibuku. Aku tak mau dan lebih baik seperti ini.”

“Kau senang menderita dalam diam? Kau senang membungkus dirimu menjadi seseorang yang selalu ceria dan tak pernah mengenal airmata? Kau senang tersiksa setiap hari seperti itu?” tanya Jongin bertubi-tubi.

Heejung mulai menerka airmatanya dengan kasar. “Kau tahu, ini pertama kalinya aku kembali menangis setelah sekian lama. Aku sudah tak bisa menangis lagi, Jongie,” tutur Heejung.

Ya, ia memang sudah lama tak pernah menangis. Ia selalu membungkus semua kesedihan akibat penyakitnya itu dengan keceriaan palsu yang mampu menyamarkannya dengan baik. Ibarat hatinya mulai membatu sejak ketahuan tentang penyakit kelainan jantungnya itu. Heejung memang bukanlah sebuah robot yang selalu dikontrol agar tetap ceria. Ya, akhirnya ia akan tetap menangis walaupun hatinya sudah berubah menjadi batu keras yang tak bisa mencair.

Perlahan, Jongin mulai mendekati Heejung yang sedang menangis dan mendekapnya dengan erat. Tangan kirinya juga mulai menggenggam tangan kanan Heejung. Dekapan Jongin yang hangat membuat Heejung merasa nyaman.

“Jungie, aku ingin mengatakan sesuatu.”

Namun, Heejung mulai merasa kembali sakit di dada sebelah kirinya. Dengan susah payah, Heejung melepaskan dekapan Jongin dan merogoh isi tasnya. Mencari sesuatu yang sangat ia butuhkan kini. Obat. Jongin yang merasakan Heejung berusaha melepaskan dekapannya kini mulai merenggangkannya. Kini, ia menyandarkan tubuh Heejung di bahunya.

“Jungie, kau baik-baik saja?” tanya Jongin dengan nada sedikit panik.

“Obat,” ucap Heejung dengan susah payah. Tangannya masih mencengkram dada sebelah kirinya sambil berjengit sakit. Walaupun begitu, tangan kirinya masih setia menggenggam balon-balon itu.

Dengan cepat, Jongin langsung mencarikan obat yang dibutuhkan oleh Heejung. Disela-sela Jongin masih mencari obat itu, Heejung berjengit kesakitan. Berusaha menahan sakit.

“Jongie,” panggil Heejung. Ia melirik arlojinya sesaat. “Waktumu denganku mau habis. 5 menit lagi.”

“Jangan banyak bicara, aku tak peduli berapa menit lagi aku bersamamu,” kata Jongin mulai panik. Kali ini, ia tak ingin terlambat. “Jungie, bertahanlah. Walaupun kau tidak membungkus dirimu menjadi gadis yang ceria, tapi kumohon bertahanlah untukku. Bertahan saja untuk saat ini.”

Jongin mulai menemukan obatnya dan memberikannya pada Heejung. Heejung yang melihat itu mulai tersenyum kecil.

“Ah ya, apa yang ingin kau katakan padaku, Jongie? Aku akan mendengarnya,” sahut Heejung pelan sambil meraih obatnya dari tangan Jongin.

“Jungie, I love−“

“Ah ya, Jongie, I love you. Aku tak ingin terlambat.”

Namun, baru saja Heejung meraih obatnya dan mengatakan hal itu, rohnya telah pergi bersamaan dengan ucapan terakhirnya. Tangan kanannya mulai terkulai lemas menjatuhkan obatnya dan perlahan menutup kedua matanya. Sementara, tangan kirinya juga lemas hingga melepaskan balon-balon itu dan melayang ke langit. Bagaikan roh gadis itu yang kini telah pergi dan hanya bersisa jasadnya.

Jongin yang melihat itu hanya bisa diam tanpa suara.

“Jungie, jangan bercanda,” ucapnya bermonolog. Ia mencoba memeriksa urat nadi gadis itu. Darahnya tak jalan. “Aku tahu kau memang juara dalam hal bercanda, tapi untuk kali ini kumohon jangan lakukan ini, Jungie.”

Klik! Terdengar dari arloji Heejung. Sudah 3600 detik tepat, kini waktu Jongin dan Heejung sudah selesai. Mereka tak akan pernah bertemu lagi. Mereka sudah memiliki dunia yang berbeda.

“Jungie!!” seru Jongin sambil menggoyang-goyangkan tubuh Heejung. Namun, hal itu hanya sia-sia. Heejung telah pergi dengan tenang.

Jongin menyesal, karena perasaannya dulu tak pernah ia ungkapkan sejak dulu. Potongan-potongan kalimat yang ingin ia ucapkan pada Heejung kini hanya bisa ia simpan di hatinya saja. Waktu tak akan pernah kembali. Kali ini, ia sangat terlambat. Dan, penyesalan memang selalu datang terlambat. Mungkin itu yang dimaksud Heejung sebelum pergi.

Aku tak ingin terlambat.”

Kali ini, Jongin sudah terlambat dan kalah. Perlahan, airmata yang selalu ia tahan sejak mendengar tentang penyakit Heejung kini keluar dengan deras. Pelupuk matanya sudah tak sanggup menahannya lagi. Jongin langsung mendekap tubuh Heejung dengan erat sambil menggenggam tangan gadis itu yang hanya bersisa jasad.

“Jungie, I love you too,” ucap Jongin dalam hati dengan airmata yang masih mengalir.

− FIN

Iklan

2 thoughts on “3600 seconds and Balloons

    1. hai bebeeeeeeerr~
      kkkkk, waktu yang ditentuin jongin cuman 3600 detik. dia sendiri juga nyesel cuman ngasih waktu segitu 🙂 wkwk
      makaseeeeehhhh buat reviewnya yaaaa {} /kecupbasah/ :*

Mind to Review? ^ ^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s