In My Dream

1386086147856

In My Dream

Aeri_Tamie’s Script Writer

Cast : Kim Jongdae (EXO-M’s Chen); Song Aeri; Kim Aeri

Genre : Romance, Family, Marriage Life, Hurt/Comfort, Angst ║ Rated : PG-15 ║ Length : Oneshot

Disclaimer : 20131204 © Aeri_Tamie

Note : Jujur, saya ngerasa berdosa dan nista membuat ff sad dengan cast chen. Tapi, gapapalah yak kali-kali. /berujung keterusan iya lu, ly -_-/ Chen, gue cinta elu kok. Sumveh dah 😀 haha

***

Aku terdiam memandang langit malam yang kala itu sangat cerah dengan bertabur bintang tepat di beranda kamar tidur. Aku mencoba memejamkan kedua mataku, mencoba menarik semua oksigen yang ada ketika itu masuk ke dalam paru-paruku. Hei, kau bisa melihatnya tidak, sayang? Malam ini benar-benar cerah.

“Lihat! Langitnya cerah, Dae-ya!”

Aku tersenyum ketika mendengarnya. Sangat terdengar jelas, ucapan itu masih tergiang di telingaku. Suara nyaring yang tak akan pernah terkubur dalam hatiku. Aku kembali memandang langit cerah itu. Tampak, sebuah bintang jatuh.

“Tuhan, aku merindukannya. Bisakah Kau menyuruhnya datang ke mari sebentar saja? Aku ingin mendekapnya dalam tubuhku. Mencium aroma tubuhnya yang khas. Izinkan aku kembali melihatnya.”

Tanpa sadar, aku kembali berdoa pada Tuhan dan mengucapkan permohonanku tepat saat bintang itu jatuh. Memohon pada-Nya untuk mempertemukan kembali antara aku dengan dirinya. Song Aeri, aku sungguh merindukanmu. Apa kau sendiri bisa mendengar permohonanku ini?

“Kim Jongdae! Kau ini bodoh, ya? Jangan katakan hal itu lagi. Aku juga merindukanmu tahu.”

“Kumohon, biarkan kali ini aku melihat senyumnya lagi. Biarkan kali ini aku mendengar tawanya. Biarkan kali ini aku melihat tingkah bodohnya. Kumohon.”

Aku kembali memandang langit itu, membiarkan kedua telingaku mendengar hembusan angin malam yang kini entah kenapa terasa sejuk. Hatiku merasa tenang, walaupun ada salah satu sisiku yang terasa hampa.

***

Kumohon Tuhan, kabulkanlah doaku kali ini.

“Kau belum ya tidur, Dae-ya?”

Suara itu. Aku sangat mengenalnya. Seketika, jantungku mendadak menggila. Dengan refleks, kedua kelopak mataku terbuka secara sempurna dan berbalik. Aku memandang sesosok gadis yang sedang duduk di tepi ranjangku dengan pakaian serba putih sambil melipat kedua tangannya. Gaya berpakaiannya tak pernah berubah.

“Aeri-ya..”

“Jangan memandangku seperti it―”

Ucapannya tiba-tiba terputus karena aku langsung mendekap tubuhnya dengan erat. Airmata yang sudah berhasil kutahan selama ini, akhirnya pecah tepat dihadapan gadis itu. Aku tak peduli dengan pakaiannya yang basah akibat airmata ini.

“Aku merindukanmu,” ucapku dengan lirih.

“Aku juga, Dae-ya.”

Seketika, aku langsung kembali menarik tubuhku. “Kalau begitu, kenapa kau meninggalkanku?”

“Memangnya ini kemauanku? Tanyakan saja pada Tuhan, kata-Nya ini adalah takdirku.” Gadis itu berucap sembari menghapus airmata yang masih membasahi kedua pipiku.

Aku menghelakan napas panjang. Benar apa yang dikatakannya. Ini adalah takdir yang tak bisa dipungkiri.

“Lagi-lagi, kau membuang satu kebahagiaanmu.”

Aku melirik ke arahnya sekilas saat mendnegarnya ia berucap. “Ucapanmu selalu sama saja. Bagaimana kau bisa ke sini?”

Kemudian, ia membimbingku untuk duduk di sampingnya. “Tadi, aku tak sengaja mendengar doamu. Coba kau lihat ke atas. Pasti tadi kau lihat bintang jatuh.”

Aku tertawa mendengarnya.

“Maafkan aku,” ucap gadis itu setelah kami saling terdiam. “Sepertinya, aku masih memiliki rasa bersalah padamu. Maafkan aku, aku telah meninggalkanmu sendirian di sini. Maafkan aku, aku sudah tak bisa menemanimu hingga akhir tua nanti. Maafkan aku, maafkan aku.”

Kulihat, perlahan airmatanya mulai mengalir tanpa permisi. Dan, tanpa aba-aba pula ia memelukku dengan erat. “Maafkan aku,” gadis itu kembali berucap.

“Hei, tak apa-apa.” Aku menarik tubuhnya dan mengusap airmata yang membasahi kedua matanya. Melakukan hal yang sama seperti yang ia lakukan padaku tadi. “Dalam doaku, aku tidak pernah mengatakan bahwa aku ingin melihatmu menangis.”

“Tapi―”

“Sudahlah,” tukasku sambil menggeleng pelan. “Bukan salahmu.”

Lalu, aku membimbingnya untuk jatuh ke dalam pelukanku kembali. “Apakah kali ini kau akan tinggal?”

Gadis itu langsung mengangguk semangat. “Ya, untuk malam ini.”

Aku tersenyum mendengarnya. Yah, walaupun aku sendiri tahu dia tidak benar-benar berada di sini malam ini. Aku tahu, setelah aku akan terlelap dia akan kembali. Tapi, aku tak peduli. Aku cukup bersyukur pada Tuhan bahwa Ia masih mengizinkanku untuk bertemu kembali dengannya.

Kemudian, aku membimbingnya untuk berbaring di ranjang dan aku juga melakukan hal yang sama.

“Jongdae-ya, andai saja―”

“Kumohon, jangan katakan itu lagi. Aku mengerti.”

“Kalau saja penyakit Thalasemia tidak menyerang tubuhku, aku pasti akan baik-baik saja dan tak akan meninggalkanmu.”

Aku memandangnya penuh pengertian seraya mengusap pipinya. “Sudahlah. Itu semua sudah terlambat.”

“Jongdae-ya,” panggil gadis itu lagi. “Bagaimana kabar anakku?”

“Anakmu?” kataku sambil mengernyitkan dahiku. “Anakmu itu anakku juga tahu.”

“Kalau begitu, bagaimana kabar Aeri?”

“Apa? Kau menanyakan kabarmu sendiri?”

“Ya sudah. Bagaimana kabarnya Kim Aeri?”

“Kim Aeri kan juga namamu. Marga Kim dipakai setelah kau menikah denganku.”

“Hei!! Aku serius!”

Aku tertawa. Untuk pertama kalinya setelah ia meninggalkanku, aku dapat kembali mendengar dan melihatnya berteriak secara nyata. Kali ini, aku mengusap rambutnya. “Baiklah, baiklah.”

“Ck, bagaimana kabarnya? Aku ingin tahu perkembangan tentang anak kita!” teriaknya.

Aku tersenyum. “Dia baik-baik saja. Dia juga merindukanmu.”

Kulihat, ia terdiam sejenak. “Syukurlah. Ternyata, sesuai dengan pengawasanku selama ini.”

“Kenapa?”

Tampak, gadis itu menghelakan panjang. “Kau kan tahu, aku masih merasa bersalah. Meninggalkanmu dan anak kita. Membiarkanmu harus hidup merawat Aeri seorang diri. Yang kutakutkan hanyalah kau tak bisa hidup dengan baik. Maafkan aku.”

“Sudahlah,” kataku yang mulai menenangkannya seraya menghelakan napas panjang. “Kau mau melihatnya tidak?”

“Melihatnya?” Gadis itu berkata dengan kedua mata yang membulat.

Akhirnya, gadis itu melihat sesosok malaikat kecilku dari kamarnya. Ia mengintipnya dari pintu kamar sambil sesekali terkikik pelan.

“Dia cantik,” ucapnya sambil tersenyum.

“Sama seperti ibunya.”

Kulihat, ia menoleh ke arahku sekilas sambil memasang wajah cemberut. “Dasar perayu.”

Aku tersenyum. Kemudian, kulihat ia mulai berjalan menghampiri Aeri dan mengusap keningnya. Kedua matanya kembali berkaca-kaca ketika melihat Aeri yang masih tertidur dengan kedua mata yang terpejam. “Malaikat kecilku, Eomma merindukanmu.”

Aku terdiam sambil memandangnya yang masih berderai airmata. Kulihat lagi, ia mengusap airmatanya dengan kasar.

“Ah, aku kan ingin melihatnya, bukan ingin menangis. Ayo, keluar. Bisa-bisa dia terbangun dan terkejut melihat kehadiranku.”

Gadis itu langsung menarik tanganku untuk keluar dari kamar Aeri dan kembali ke kamarku. Dia kembali duduk di tepi ranjang dan diikuti olehku.

“Apa kau tidak pernah sedikitpun berpikir untuk menikah lagi?” tanya dia dengan wajah polos.

“Kau tidak cemburu?”

Kulihat, ia langsung tertawa renyah. “Tentu saja tidak. Ini kan demi kebaikanmu sendiri. Agar ada yang menemanimu hingga tua nanti menggantikanku.”

“Kalau begitu, aku tak mau menikah lagi.”

“Kenapa kau―”

“Habisnya, kau tak cemburu padaku.” Aku langsung menukasnya karena tahu pertanyaan apa yang ingin ia ketahui.

“Hei!” teriak gadis itu akhirnya. “Kenapa aku harus cemburu? Aku kan mengatakan begitu juga demi kau dan Aeri. Memangnya kau mau anak kita tak terawat dengan baik?”

“Aeri-ya, dengarkan aku.” Aku langsung memegangi kedua bahunya dan menatapnya dengan intens. “Aku sudah berjanji pada Aeri dan diriku sendiri. Aku tak ingin menikah lagi. Cukup kau yang menjadi pertama dan terakhirku. Lagipula, anak itu mudah marah bila aku sedang bersama wanita lain, walaupun dalam pekerjaan. Persis sekali seperti ibunya.”

“Hei!” teriak gadis itu lagi. “Sekarang, kau menyindirku?”

Aku menggeleng sambil tersenyum. “Tidak.”

Kulihat lagi, ia mulai menghempaskan tubuhnya ke ranjang sambil memejamkan kedua mata. Dengan jahil, aku mulai mendekatinya. Dan, tiba-tiba saja dia menoleh ke arahku dengan sebal. Dia tak mudah lengah ternyata.

“Ri-ya, jika kau ingin pergi lagi… bisakah aku ikut denganmu?” tanyaku dengan hati-hati.

“Tidak bisa!” serunya menegaskan. “Kau tidak ditakdirkan oleh Tuhan untuk itu kali ini, Dae-ya. Kalaupun aku bisa mengajakmu, aku juga tak mau mengizinkanmu untuk ikut denganku.”

“Kenapa?”

“Kau tak memikirkan nasib Aeri? Memangnya kau mau meninggalkan Aeri sendirian?” tanya gadis itu dengan galak. “Tunggu Aeri tumbuh besar dan menjadi orang sukses. Dan juga, tunggu sampai tugasmu sudah selesai sebagai ayah yang baik untuk malaikat kecil kita. Baru aku akan menunggumu.”

Aku terdiam. Kemudian, mendekap tubuh gadis itu dengan erat, seolah tak ingin kehilangannya. Yah, ini adalah keputusan terakhir. Dia benar, ini bukan takdirku untuk ikut dengannya.

“Kau janji akan menungguku kan?” tanyaku tiba-tiba.

“Ya.” Gadis itu mengangguk sambil tersenyum.

Setelah itu, aku melepaskan pelukannya dan secara refleks aku mengecup bibirnya sekilas. “Tunggu aku.”

Perlahan, airmatanya kembali mengalir sembari mengangguk mantap. “Aku pasti akan menunggumu, Dae-ya.”

***

Matahari mulai tinggi, cahayanya bahkan sudah mulai memasuki kamarku. Aku terbangun dan melihat sekeliling. Gadis itu sudah pergi. Ia sudah kembali. Aku melihat samping ranjangku yang kembali kosong dengan sprei yang masih tertata rapih seperti 4 tahun sebelumnya dengan miris. Jejak-jejak kedatangannya tadi malam tak ada satupun yang membekas seolah menghilang begitu saja. Seperti mimpi.

“Appa!!”

Aku langsung menoleh ke arah pintu kamar seraya mengernyitkan keningku. Aku langsung tersenyum ketika tahu siapa telah membuka pintu kamarku di pagi buta begini.

“Selamat pagi malaikat kecilku, kau sudah bangun?” tanyaku seraya tersenyum.

Tampak, gadis kecil itu berjalan mendekatiku dan memelukku dengan manja. “Appa, tadi malam aku bermimpi bertemu Eomma. Eomma mengatakan kalau beliau merindukanku dan Appa. Lalu, aku bilang saja aku dan Appa juga merindukan Eomma.”

Aku membalas pelukan malaikat kecilku sambil mengecup puncak kepalanya. Yah, seperti mimpi. “Benar kau mengatakan itu?”

Gadis itu mengangguk pelan sambil memelukku semakin erat. “Tentu saja.”

Kemudian, aku melepaskan pelukannya dan memandangi penampilan Aeri kecil. “Wah, hari ini anak Appa bahkan sudah berpenampilan serapih ini seperti tuan putri.”

Hari ini malaikat kecilku berumur 11 tahun itu memakai dress panjang berwarna putih bersih. Sepertinya dia memakai pakaian dress seperti itu dengan sendiri. Ah, tiba-tiba saja aku teringat gaun pengatin yang pernah dipakai oleh Aeri waktu itu.

“Aku cantik tidak?”

Aeri kecil langsung berputar agar rok gaunnya mengembang. Aku tertawa melihatnya. Hei, Ri-ya kau bisa melihat tingkah anak kita kan? Dia benar-benar seperti dirimu.

“Tentu saja. Anak Appa selalu cantik,” jawabku tanpa ragu.

“Cantik mana antara aku dan Eomma?”

Aku terdiam, berpikir sejenak. “Bagaimana ya? Appa tidak bisa memilih.”

“Kenapa?” tanyanya dengan polos.

“Karena,” Aku mulai mengusap puncak kepala Aeri kecil. “Kau dan Eomma sama cantiknya. Kau adalah malaikat kecil Appa dan Eomma adalah bidadari Appa.”

Seketika, anak kecil itu menutupi wajahnya yang memerah dengan kedua telapak tangannya. Aku benar-benar tertawa melihat tingkahnya.

“Hari ini memangnya ada acara apa?” tanyaku ingin tahu.

Tampak, gadis kecil itu langsung menggerutu kesal sembari memperhatikan penampilannya. “Ah, Appa lupa ya. Hari ini ada drama musikal di sekolahku. Appa datang ya!” pinta gadis itu sambil tersenyum manis –dan, tentu saja membuyarkan lamunanku.

Ah, persis dengan ibunya, pikirku. “Baiklah, Appa pasti datang.”

“Tapi,” Aeri kecil kembali berkata, “Appa tidak boleh pergi bersama Nyonya Seo Joohyun.”

Aku tertawa kecil, kemudian kembali mengangguk. “Appa tahu itu. Baiklah, Appa mau siap-siap dulu ya.”

Aku bangkit dari tempat tidurku. Kemudian, kupandangi langit yang kini berwarna biru muda yang begitu cerah. Tadi malam seperti mimpi. Jika aku bermimpi bertemu denganmu lagi, aku tak akan pernah ingin terbangun.

“Ayo, Appa! Sudah jam 7 tahu!” teriak Aeri kecil tiba-tiba kembali membuyarkan lamunanku dan mendorong tubuhku untuk keluar dari kamar.

“Iya, iya.”

Tunggulah aku untuk kali ini, Aeri-ya.

“Aku pasti akan menunggumu, Jongdae-ya.”

― FIN ―

Iklan

2 thoughts on “In My Dream

Mind to Review? ^ ^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s