Just…

girl-sanola-cute-fashion-photography-Favim.com-614559

Just…

Terjebak dalam status teman.

[ f(x) feat. EXO-K D.O – Goodbye Summer ]

*****

Aku memandang sekolah dari kejauhan. Tampak, suasana di sekolah sudah mulai sepi dan tempat parkir di dekat sekolah sudah mulai ramai oleh motor-motor yang tertata dengan rapi. Kulirik arlojiku yang kini sudah menunjukkan pukul 07.18. Secara refleks, kedua mataku langsung membulat secara sempurna.

Sial! Gue udah telat!

Segera, aku langsung berlari cepat hendak memasuki gerbang sekolah yang hampir tertutup secara sempurna. Aku sudah tidak mempedulikan kondisi seragamku yang mulai kusut karena berlari dan sang penjaga sekolah yang wajahnya sedikit tak bersahabat. Bodo amat!

“Ya Allah, please moga gak ada guru piket! Please, gak ada guru piket!” doaku berkali-kali dalam hati seraya menangkupkan kedua tanganku.

Jantungku berdetak dengan kencang karna kegugupanku takut berhadapan dengan guru piket. Benar-benar dari lubuk hatiku yang paling dalam agar doaku terkabul. Andai aja di dunia ini gak ada guru piket. Kalau kayak gini kan gue juga yang repot! Gerutuku dalam hati.

“Eh?”

Aku menoleh dan mendapati seorang cowok dengan jaket abu-abunya memandangku seraya tersenyum simpul. Aku hanya membalasnya dengan senyum simpul pula. Kemudian, kukembali mengarahkan arah pandangku ke depan. Memandang ke arah meja guru piket yang kosong.

Oke, gue selamat.

Aku mulai mempercepat langkah untuk melewati ruang guru dengan pintu yang terbuka lebar dan mulai menaiki tangga. Kan malu kalau gue jalannya lambat-lambat ngelewatin ruang guru. Ketauan banget gue telatnya, batinku pelan.

Aku mendesah kesal ketika aku berusaha menaiki tangga dengan malas. Kenapa juga di sekolah ini mesti ada tangga. Lama-lama benci juga sama tangga! Gerutuku lagi. Entah sudah berapa lagi aku selalu menggerutu kesal dan jantungku berdetak dengan kencang karena gugup sejak perjalananku menuju sekolah.

Tiba-tiba, aku merasa pusing ketika langkahku mulai sampai di anak tangga ke-8. Aah, padahal sebentar lagi mau sampai. Sabar yah kepalaku, pikirku sambil mengelus-elus kepalaku yang sudah berdenyut-denyut.

“Lu gak apa-apa?”

Aku menoleh ke sumber suara dengan perlahan. Kulihat, ia memandangku seraya menaiki tangga agar setara denganku. Aku hanya menggeleng pelan dan mencoba kembali menaiki tangga sampai akhir. Dan, sekarang jantungku mulai berdegup dengan kencang. Kali ini bukan karena kegugupanku ingin bertemu dengan guru piket. Tapi, karena cowok itu.

“Enggak apa-apa.”

“Hati-hati.”

“Iya.”

Kupandangi kini punggung tubuhnya yang mulai menjauh sebelum melangkah masuk ke kelas. Entah kenapa, setiap aku memandang punggung tubuh itu aku merasa seperti seorang gadis pengecut dan pecundang. Aku hanya bisa menghelakan napas, kemudian berjalan masuk ke kelas.

Sejak bertemu dengan cowok itu di sepanjang lorong, jujur saja pikiranku mulai bercabang dan tak tahu aku harus memikirkan apa. Satu hal kelemahanku paling menyebalkan.

***

“Ra, mau pergi gak?”

“Enggak deh. Mau di kelas aja.”

“Oh, ya udah. Kita keluar ya.”

“Iya.”

“Dadah.”

Aku membalas lambaian tangan teman-temanku seraya tersenyum. Sekarang, aku hanya ingin sendirian. Jujur saja, aku tak peduli walaupun lama-lama bosan juga hanya sendirian. Yang kulakukan selama sendiri hanyalah menulis, mendengarkan musik, tidur, dan sebagainya. Pikiranku hanya ingin sendiri.

Benar-benar sendiri.

Pandanganku beralih ke arah luar jendela. Ke arah langit cerah yang memancarkan warna biru yang paling kusuka. Kegiatan yang seringkali kulakukan tanpa sadar jika cuaca sedang cerah. Tanpa kemauanku, secara refleks aku kembali teringat kejadian tadi pagi. Pertemuan singkat dengan cowok itu. Aku mulai menyisipkan earphone di kedua telingaku dan mendengarkan lagu yang terputar di playlist.

Perlahan, memori lamaku mulai terbuka secara sempurna tanpa perintahku. Memori yang memuat tentang percakap singkat yang cukup membekas hingga kini walaupun sudah satu tahun lamanya. Andai saja percakapan singkat itu tak pernah terjadi, mungkin perasaan kecil yang memiliki tekanan besar dari dalam hatiku ini tak pernah ada.

Aku mulai membiarkan lirik lagu yang terdengar di telingaku mengalir begitu saja.

I remember when we were yelled
at for talking in the halls
I don’t know why it was so fun
even when we were being punished
After that day (yeah yeah)
we always (yeah yeah)
Stuck together like the Astro twins,
you were me and I was you

You cried so much on the day before graduation
You held it in firmly since you’re a guy
We couldn’t say what we wanted,
Just like that hot summer, goodbye

Aku langsung terdiam dan terkesiap ketika mendengar lirik lagu berikutnya. Lirik yang berisi tentang diriku. Diriku yang begitu pecundang.

The friend label
is a label that I got to hate
The feelings I’ve hidden still remain
as a painful secret memory
The photos that can’t define
our relationship is a heartbreaking story
I’m sorry, summer, now goodbye, yeah

What do I say,
we didn’t have to play no games
I should’ve took that chance,
I should’ve asked for you to stay
And it gets me down
the unsaid words that still remain
The story ended without even starting

***

“Hai.”

Aku pandangi cowok yang kini sedang berjalan menghampiri mejaku seraya duduk di sampingku. “Hai juga.”

“Ara, lu udah belajar belom?”

Aku hanya mengangguk pelan. “Udah sih. Tapi..”

“Kenapa?”

“Gue masih belom yakin. Keluar gak yah materi yang gue baca kemaren?”

“Udah pede aja kali. Mungkin aja keluar.”

“Lu sendiri udah belajar?”

“Udah. Tapi, kayaknya belom masuk.”

“Oh, gitu.”

Aku kembali mengarahkan pandanganku ke arah buku yang masih kubaca. Hari ini merupakan hari pertama ujian tengah semester kelas sepuluh. Hal yang paling tak pernah kusangka adalah sistem bangku yang digunakan oleh sekolah ini adalah tetap satu kelas sesuai absen yang tercantum.

Nomor absenku nomor satu. Tapi, aku tak pernah menyangka jika ujian tengah semester pertama di sekolah menengah atas cowok ini yang akan duduk denganku.

“Arfi,” panggilku. “Nanti kalau gue gak bisa, gue nyontek ya?”

“Harusnya gue yang ngomong gitu, Ra. Ini aja belom masuk materinya.”

Aku menoleh sekilas ke arah cowok itu. Untuk pertama kalinya, aku mendengar dia memanggil nama panggilanku. Entah perasaan apa namanya yang muncul, tapi aku merasa senang sekali.

***

“Aaaaaa.”

“Sstt!”

Aku menoleh ke arah cowok itu dengan heran. Memandangnya yang kini sedang menulis jawabannya di lembar jawaban. Saat ini, adalah pelajaran fisika.

“Arfi, lu inget cara nomer 18 gak? Kasih tau dong,” kataku pelan.

“Mending lu liat jawaban gue aja deh,” ucapnya tanpa menoleh ke arahku.

“Aiih, lama! Kasih tau aja caranya di kertas soal punya lu,” desakku. Kulihat, jam dinding kini sudah menunjukan pukul 08.16. 14 menit lagi!

Akhirnya, dia menyerah caranya padaku melalui soal miliknya. “Dihapus ya.”

“Tenang aja. Gue hapus kok.”

Setelah aku mendapat jawabannya –tentu saja memakai cara yang diberikan oleh Arfi, kulihat ia melirik ke arahku. Ia mencocokan jawabannya denganku. “Jawaban nomer 18 C, kan?”

Aku menggeleng pelan. “Bukan. Itu nomer 18 jawabannya B.”

“Kenapa B?”

“Lu juga kenapa C?”

Baiklah, sekarang bukan saatnya untuk berdebat masalah jawaban soal ujian. Tapi kan kalau sudah seperti ini, mau tak mau aku juga harus mengecek jawabannya dan meminta penjelasan darinya alasan kenapa ia memilih jawaban seperti itu menurutnya.

“Iyalah. Lu salah di sininya. Gue kayak gini nih.”

Aku mulai menunjukkan jawabanku secara menjelaskannya dengan suara pelan. Tak mungkin keras-keras juga jika aku masih ingin selamat dari teguran guru.

“Ciyeilah, yang depan so sweet banget.”

Bodo amat, gue lagi serius, gerutuku dalam hati. Lagian, mending fokus sama soal daripada ngurusin orang lain! –ehm, tapi kayaknya gua termasuk kategori ngurusin orang lain sih.

“Oh, gitu. Oke, nanti kalau jawaban gue gak cocok sama lu, kita cocokin bareng-bareng.” Arfi berucap yang langsung membuyarkan lamunanku.

“Kalau kayak gitu kan, namanya kerja sama,” jawabku dengan nada aneh. Jujur saja, aku sendiri merasa risih jika sudah seperti ini.

“Ya udah. Sekalian aja kerja sama.”

“Oke.”

Dan, entah ada gerangan apa aku mau menuruti ucapannya. Yah, mungkin juga karena sisa waktu yang semakin sedikit hingga waktu sudah habis. Setelah kertas jawabannya dikumpulkan, aku mulai mengambil penghapus berniat untuk menghapus cara yang diberikan Arfi untukku di kertas soal miliknya.

“Eh, udah gak usah. Tadi gue cuman becanda kok.”

Aku mendongak ke arahnya yang berniat merebut kertas soal yang kupegang. “Hih, udah. Lu kan udah ngasih tau gue, sekarang biarin gue aja yang hapus cara yang lu kasih ke gue.”

“Sebagai balas budi gitu? Eh?” celetuknya.

“Kali.”

“Kalau gitu, harus yang lebih keren dong bales budinya.”

Seketika, aku memandangnya yang kini sudah duduk di hadapanku. Baiklah, ini adalah jarak terdekat aku memandang seorang cowok.

“Jadi, lu mau gue neraktir elu gitu?”

Kulihat, ia langsung tertawa. Tawa yang terdengar renyah di telingaku. “Oke. Gue gak ngomong apa-apa lagi. Itu lu yang ngomong ya.”

“Bagus deh. Nih, kumpulin,” kataku seraya menyerahkan soal itu padanya setelah kuhapus goresan-goresan pensil buatannya demi diriku.

“Gue yang ngumpulin?”

“Lu gak mau? Gak mau juga gak apa-apa.” Aku berniat bangkit dari dudukku, namun langsung dicegah oleh Arfi.

“Hei, gue kan cuman becanda. Siniin soalnya, biar gue aja.”

Aku langsung tersenyum kemenangan. Kemudian, aku kembali membaca buku untuk menyiapkan ujian selanjutnya. Namun, pandanganku kembali ke arah punggung Arfi. Punggung pertama yang… entahlah. Sulit untuk dijelaskan.

***

“Jawaban gue A.”

“Jawaban gue D.”

“Kenapa lu bisa dapet D?”

“Lu juga kenapa bisa dapet A?”

“Emang lu tau darimana?”

“Kan udah gue kasih tau materinya. Gimana sih.”

“Materi yang mana? Gue lupa.”

“Lu mikirin apa sih emang daritadi? Kita kan udah belajar bareng.”

“Woy, berisik banget sih yang paling depan!”

Aku langsung mendekap mulutku dan kembali ke posisi duduk semula. Mencoba bersikap normal agar tidak ketahuan oleh pengawas. Sementara, Arfi mencoba menahan tawanya.

Satu hal kebiasaan sejak ujian, aku selalu berdebat dengan Arfi jika kita tidak memiliki jawaban yang sama dan memiliki perbedaan pendapat ditengah kesunyian kelas yang sedang sibuk mengisi jawaban mereka masing-masing, hingga menganggu ketenangan orang lain. Sangat kekanak-kanakan. Namun, aku menyukainya.

“Ssstt, kita berisik banget dari tadi ya.”

“Kalau lu tau kita berisik, mendingan sekarang lu diem dan ngerjain soalnya. Baru nanti kita cocokin bareng. Oke?”

“Oke.”

The friend label
is a label that I got to hate
The feelings I’ve hidden still remain
as a painful secret memory
The photos that can’t define
our relationship is a heartbreaking story
I’m sorry, summer, now goodbye, yeah

***

“Ra!”

“Eh?”

Aku langsung melepaskan earphone dan memandang temanku. Sera yang kini sedang memandangku dengan aneh dan lekat. Bahkan, gadis itu menatapku terlalu dekat hingga aku memutuskan untuk memundurkan wajahku.

“Lu kenapa sih?” tanyaku dengan heran.

“Harusnya gue yang nanya gitu. Lu kenapa?”

“Engga kenapa-napa.”

“Beneran?”

“Iye.”

“Oke.”

Kulihat, ia langsung berbalik dan kembali berjalan keluar. Ternyata, tak ada hal penting. Aku kembali menyisipkan earphone di kedua telingaku seraya memejamkan kedua mataku. Mencoba membiarkan lirik lagu ini mengalir dan tak ada seorangpun yang menganggunya.

Your song on the last day of the school festival,
the flickering summer sea.
Our feelings that were precious because we were together
Like the deepening night sky, goodbye

***

“Ra!”

“Hah?”

“Jangan ‘Hah?’ napa! Pelit banget ngomong!”

Aku memutarkan kedua bola mataku dengan jengah. Kemudian, aku memandang Arfi yang kini sedang membawa komik. “Apa?” tanyaku dengan galak.

“Nanti kelas dua, lu mau masuk jurusan apa?”

Aku mulai berpikir sejenak. “Gue maunya IPA. Lu sendiri gimana?”

“Gue juga IPA.”

“Oke. Ayo, kita meraih tujuan bersama!”

Tanpa sadar, aku berseru di hadapannya. Seketika, aku langsung terdiam. Eh? Ini adalah sikap yang sangat jarang kulakukan. Apalagi ketika di hadapan cowok semacam Arfi. Sementara, Arfi langsung tertawa keras. Sepertinya dia merasa aneh dengan sikapku yang pertama kali ia lihat sekarang.

“Gak ada yang lucu!” omelku kesal.

“Oke, oke. Maaf.”

Kulihat, ia mulai menghentikan tawanya. Dan kini, ekspresi wajahnya terlihat serius. “Gimana kalau kita gak sekelas?”

“Eh? Kok, lu ngomong gitu sih?”

Cowok itu hanya menggeleng pelan. “Engga. Itu kan mungkin aja terjadi, Ra. Kita gak selamanya sekelas.”

Jleb! Benar juga. Dan, dia mengatakan itu memberikan reaksi pada detak jantungku yang tiba-tiba berdegup dengan kencang. Ada rasa tak ingin kehilangan. Namun juga rasa yang… aneh. Tiba-tiba saja, aku berubah menjadi gugup.

“Eh!”

“Kenapa, Ra?” tanya Arfi dengan nada heran.

“Ehm, g-gue mesti ke kelas. Dah!”

Aku langsung melangkahkan kakiku dengan cepat. Berusaha untuk tak pernah menoleh ke arahnya. Tanganku mendadak menjadi berkeringat dingin. Ada apa denganku sekarang?

Sejak saat itu, hubungannya denganku menjadi renggang. Aku berusaha menjaga jarak dengen Arfi agar tidak pernah gugup dihadapannya. Aku tak pernah lagi menyapanya dengan perasaan sebagai seorang teman. Arfi juga sejak saat itu tak pernah menyapaku, bahkan tak pernah sekalipun menoleh ke arahku. Seolah terputus begitu saja karena kebodohanku.

Dan, aku merasa kini sedang bertransformasi menjadi manusia aneh. Perasaan apa ini?

Baby oh no oh oh I’m sorry that this is a monologue.
Oh, actually, I love you, yeah
If only our long-time hidden secrets were revealed.
I would hold you in my arms

Dan, aku baru menyadari itu semua sejak hari pengumuman pembagian kelas. Aku membaca dan mencari namaku di semua kolom kelas.

“Ra, lu di kelas IPA!”

Aku menoleh ke arah Sera yang kini sedang tersenyum senang. “Kita sekelas!”

“Beneran?”

“Iya!”

Aku langsung memeluknya dengan erat. “Yeey, kita sekelas!”

“Hani sama Junia juga!”

“Oke!”

Jujur saja, hatiku belum sesenang itu. Aku masih harus mencari sebuah nama yang selalu kuingat. Arfi. Tanpa sengaja, saat aku hendak mencari namanya, tepat dihadapanku ada dia.

“Arfi, lu di kelas apa?” tanyaku dengan sedikit agak cangggung.

Kulihat, ia hanya tersenyum tipis. “IPS.”

Aku langsung memandangnya dengan kedua bola mata yang membesar. “Kok?”

“Berarti bukan takdirnya gue dapet IPA,” ujarnya sambil tersenyum. “Selamet ya, lu masuk IPA.”

“Makasih.”

Kemudian, ia berbalik dan kembali berjalan menemui teman-temannya. Kini, kupandangi punggung tubuhnya yang tampak rapuh. Entah hanya perasaanku saja atau apa. Tiba-tiba saja, hatiku menjadi hampa. Seperti ada yang kurang dan aku kini menyesalinya.

Aku hanya temannya. Statusku selama ini hanyalah temannya.

Dan, aku membenci situasi ini sekarang.

Dan, seolah ceritaku sudah berakhir sebelum semuanya dimulai.

The friend label
is a label that I got to hate
The feelings I’ve hid still remain
as a painful secret memory
The photos that can’t define
our relationship is a heartbreaking story
I’m sorry, summer, now goodbye, yeah

***

“Ra, ayo pulang!” ajak Sera tiba-tiba seraya mengambil tasnya.

“Udah boleh?” tanyaku agak kaget karena lamunanku terbuyarkan begitu saja karenanya.

“Iyalah! Hari ini kan cuman classmeeting.”

“Hani sama Junia mana?”

“Mereka mah berduaan mulu kaya pacaran,” gerutu Sera. “Ayo, Ra.”

“Oke.”

Aku mulai mengambil tasku dan berjalan meninggalkan kelas yang sepi. Kebiasaanku jika ada kegiatan seklah semacam classmeeting seperti ini. Duduk diam di kelas dengan kondisi pintu ditutup rapat agar tidak ketahuan oleh guru. Namun, baru sampai di anak tangga awal, Sera teringat sesuatu.

“Oh iya! Botol minum gue!”

“Ck, kebiasaan lu. Ya udah deh. Gue tunggu di bawah ya.”

“Oke!”

Sera langsung kembali ke kelas berniat mengambil botol minumnya. Dan, aku kembali berjalan menuruni tangga yang sepi seraya berpikir keras. Sejak awal, pikiranku tak pernah berhenti. Makanya, kadang aku merasa lelah.

Pikiranku saat ini hanyalah satu.

Sekarang aku sudah seperti manusia aneh.

“Eh, Ara?”

Aku menoleh. Betapa terkejutnya aku ketika tahu yang memanggil namaku adalah dia. Arfi. “Elu?”

“Sombong banget sekarang,” katanya. “Mau turun kan?”

Aku mengangguk pelan. Kemudian, kami menuruni tangga bersama. Tak ada bahan pembicaraan yang menarik diantara kami layaknya teman lama.

“Ah, kenapa lu balik lagi jadi anak pendiem sih? Perasaan dulu sama gue lu cerewet banget,” ucapnya tiba-tiba.

“Gue kan udah bertransformasi menjadi manusia aneh.”

“Sejak kapan?”

“Udah lama.”

“Tapi, menurut gue, lu sama sekali gak berubah kok.”

Aku menoleh ke arahnya dan memandangnya tanpa berkedip. Jadi, selama ini dia memperhatikanku? Cowok ini kadang pikirannya sulit sekali ditebak. “Kok? Kenapa lu ngomong gitu?”

“Lu tetep sama. Ara yang gue kenal.”

Aku langsung memalingkan wajahku, berusaha tak terjadi kontak mata lebih lama. “Jangan ngelucu deh. Kita bahkan udah lama gak pernah ngobrol bareng,” aku berkata seraya tertawa. Tertawa yang terdengar dipaksakan.

“Gue beneran.”

Kali ini, aku langsung menatapnya. “Apa maksud―”

“Gue kan sayang sama lu.”

“Apa?”

Kali ini, aku benar-benar memandangnya tanpa berkedip sama sekali. Dan, apa maksud ucapannya kini? Sementara, kulihat ia hanya tersenyum simpul memandangku.

“Percaya gak?”

Apa sekarang aku masih membenci situasi seperti ini? Sebagai seorang teman? Ehm, bukan. Bukan lagi teman.

The friend label
is a label that I got to hate
A heartbreaking story, I’m
sorry, summer, now goodbye, yeah

― FIN ―

Iklan

Mind to Review? ^ ^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s