Love Note : 2nd (Really) Unexpected

love note cover 2

© Aeri_Tamie’s Script Writer

Casts : Song Aeri; Kim Jongdae (EXO-M’s Chen); Cho Kyuhyun (Super Junior’s Kyuhyun); Shin Yeonjoo

Other Casts : You can find it in here ^^

Genre : Romance, Drama, Friendship, Comedy Rated : PG-17 Length : Chapter

Disclaimer : 20131025 © Aeri_Tamie

Previous Chapter :

1st Unexpected 

Note      : Special cast Super Junior’s Kyuhyun and EXO-M’s Chen has coming! Kkk~ 😉 Hmm, kayanya ini partnya agak panjang dikit yah. Hehe~ 😀 /tapi, kaya sama aja sih -_- wkwk/ Don’t forget, give me a review please. Because, your review like oxygen. Happy reading, guys! ^^

***

» Story 2 : (Really) Unexpected                              

Waktu sudah senja, Aeri dengan susah payah mengambil kunci asramanya di saku jaketnya karena buku-buku yang ia bawa. Pikirannya mendadak kacau sejak tadi siang. Ia tanpa sengaja melihat suatu kejadian yang tak pernah ia duga sebelumnya. Kim Jongdae dan Cho Kyuhyun. Ia bahkan tak pernah tahu kalau mereka saling mengenal.

Ia berusaha untuk tak memikirkannya dan tak ingin tahu tentang masalah mereka.

Saat pintu asramanya terbuka, ia langsung menaruh buku-buku itu dan berlari pelan menuju kulkas. Kemudian, ia menuangkan jus jambu dari botol. Segelas jus jambu yang dibuat oleh kakaknya mampu menghilangkan lelahnya seketika. Bahkan, mampu membangun moodnya yang sempat hilang.

Tiba-tiba, dering ponsel di saku jaketnya menyuruhnya langsung menaruh jus jambunya di meja belajar. Ia tersenyum penuh arti saat kedua matanya memandang layar ponsel tertulis nama ‘Cho Kyuhyun’. Dengan semangat, ia langsung mengangkatnya.

“Yeoboseyo?”

“Ri-yaaaa!!!”

Aeri langsung mendengar suara rengekan dari sebrang. Ia hanya terkikik, namun tetap berusaha tenang. “Ada apa, Kyuhyun Oppa?”

“Hari ini aku tidak bisa bersaing dengan sehat,”ujar Kyuhyun. “Aku baru saja hampir bertengkar dengan saingan sekaligus seseorang yang sudah kuanggap sebagai adikku sendiri.”

“Jinjjayo? Wah, kalau kau dan dia bertengkar pasti seru sekali.”

“Yaa! Kenapa kau malah begitu?!” teriak Kyuhyun yang mampu membuat Aeri tertawa keras.

“Habisnya, kau aneh,” ujar Aeri begitu tawa mereda. “Ya, wajar saja jika kau sudah tak bisa bersaing dengan sehat ketika kompetisi sudah mencapai titik yang serius.”

“….”

Ucapan yang Aeri lontarkan mampu membuat Kyuhyun terdiam. Aeri sedikit mengernyitkan dahinya ketika tak kunjung mendengar jawaban dari Kyuhyun.

“Oppa?”

“Ah? Ri-ya, sepertinya aku ada urusan. Oh ya, lain kali akan kukenalkan Joo padamu,” kata Kyuhyun kemudian.

Aeri terdiam. Ia sebenarnya tak ingin tahu apapun tentang Yeonjoo. Tapi, lagi-lagi ia harus mengetahui tentang gadis itu jika saja Kyuhyun tidak mengatakannya. “Ne.”

“Ya sudah, aku tutup dulu ya. Lain kali, aku akan menelponmu dengan cerita lucu.”

“Tidak perlu menelponku dengan cerita lucumu. Padahal, dari ceritamu yang biasa kau ceritakan selama ini tak ada satupun yang lucu,” ujar Aeri.

“Ahaha, kau ini. Kututup dulu ya. Annyeong.”

“Annyeong.”

Klik! Sambungan langsung terputus. Aeri memandang ponselnya dengan aneh. Perasaan yang awalnya berdebar-debar menjadi khawatir. Ada apa ini? Apa telah terjadi sesuatu dengan pria itu? Pandangannya menjadi teralih ke dua buah bingkai foto yang terletak di meja belajarnya yang sedikit berantakan. Namun, pandangannya hanya terfokus pada bingkai foto berisi dirinya dengan seorang pria yang sedang merangkulnya sambil tersenyum. Foto dirinya bersama dengan Kyuhyun.

Aeri mengambil foto itu dan hanya tersenyum penuh arti saat memandang pria yang merangkulnya itu. Ia kembali meminum jus jambunya dengan semangat.

“Bi!”

Teriakan dari luar langsung membuat Aeri tersedak jus jambunya. Sambil menepuk-nepuk dadanya, Aeri berjalan dan membuka pintu asramanya. Tampak, seorang pria tampan dengan bibir tipisnya memandang Aeri sambil tersenyum.

“Tao Gege,” ucap Aeri. “Jangan berteriak seperti itu. Kau membuatku kaget tahu.”

“Bi, hari ini kita makan ddeobokki yuk!” ajak Tao.

“Mwo?”

Akhirnya, Aeri dan Tao menikmati ddeobokki yang dibelikan oleh Tao di balkon asramanya. Aeri memakannya dengan sangat lahap, bahkan sepertinya ia melupakan masakan yang diberikan oleh kakaknya kemarin. Tao memandang Aeri dengan penuh perhatian.

“Kau ini lapar ya? Pelan-pelan,” kata Tao.

“Aku saat ini sedang lapar. Lagipula, aku ini bukan tipe gadis yang rakus.”

Tao hanya tertawa mendengar jawaban gadis itu.

“Xie xie,” ucap Aeri disela-sela mengunyahnya. “Tao Gege baik sekali.”

“Jangan bicara saat makan. Bisa-bisa kau tersedak tahu,” nasihat Tao sambil memandang Aeri dengan gemas.

“Ne. Arrayo.” Aeri mengangguk-angguk mengerti.

Setelah itu, suasana menjadi sunyi dan sepi. Keduanya saling terdiam karena Aeri masih menikmati ddeobokki-nya dan Tao hanya memandang lurus ke depan, seolah sedang melamun.

“Bi, gumawoyo.”

Sontak saja, kali ini Aeri langsung berhenti mengunyah. Ia menoleh ke arah Tao dengan penuh tanya dan heran. “Untuk apa? Kan Gege yang membelikan ddeobokki ini untukku.”

“Terima kasih untuk semuanya. Kau mau menjadi temanku walaupun aku ini kadang kekanak-kanakan, kau mau mendengarkan ceritaku dengan senang hati, dan kau mau menerimaku apa adanya sebagaimana diriku ini. Aku senang bisa mengenalmu.”

Aeri hanya mengangguk-angguk mendengar penjelasan dari Tao. “Ne, ne, ne. Tapi, satu hal saja pertanyaanku.”

“Apa? Akan kujelaskan,” jawab Tao sambil tersenyum.

Aeri terdiam sejenak untuk menelan makanannya. “Kenapa kau memanggilku ‘Bi’? Namaku kan Song Aeri.”

Bukannya menjelaskan, Tao malah terdiam untuk berpikir sejenak. “Hmm, kalau itu…kau tak perlu tahu secara detail. Kau hanya perlu tahu, kalau aku sangat suka memanggilmu ‘Bi’.”

Aeri langsung memandang Tao tak terima. “Katanya kau mau menjelaskan hal itu padaku. Kau kan sudah janji!”

“Memangnya sejak kapan aku mengatakan bahwa aku berjanji akan menjelaskannya? Aku kan tak pernah mengatakan begitu,” kata Tao sambil menjulurkan lidahnya.

Sontak saja, Aeri langsung merengut sebal karena sia-sia bertanya. “Ah, Gege menyebalkan.”

“Kalau aku menyebalkan, sini kembalikan ddeobokki milikku!” seru Tao dengan nada menuntut. Tangannya kini berusaha merebut ddeobokki yang kini berada di tangan Aeri.

“Aaah!! Aniya! Aniya! Mianhae, aku hanya bercanda tadi,” kata Aeri dengan deretan giginya yang ia pamerkan ke Tao. Kemudian, ia mengulurkan tangannya pada Tao. “Ayo, kita berdamai.”

Tao hanya tersenyum. Pikirannya mendadak teringat akan sesuatu. Tentang ‘Bi’.

***

Beberapa bulan lalu, Tao baru saja sampai di Korea. Ia adalah mahasiswa pertukaran pelajar yang berasal dari China. Ia yang belum terlalu mahir dalam bahasa Korea sedikit kebingungan karena tidak tahu letak alamat asrama yang akan dijadikan tempat tinggalnya. Ia mulai berjalan meninggalkan bandara Incheon dan menarik koper yang ia bawa.

Saat itu, cuaca sedang tidak bersahabat karena langit tertutupi oleh awan kelabu dengan sesekali terdengar suara gemuruh petir. Tiba-tiba saat Tao baru saja sampai di halte, kota Seoul diguyur hujan dengan derasnya.  Dengan sedikit kesal, Tao dengan terpaksa berteduh di halte tersebut.

Namun, pandangannya tiba-tiba beralih ke seorang gadis yang sedang berlari menuju halte tempat ia berteduh. Tampak, sang gadis memasang wajah kesal disela-sela ia mencoba membersihkan pakaian dan buku-bukunya yang hampir basah terkena air hujan.

“Aish, Bi! Aku lupa membawa payung hari ini!” gerutu gadis itu.

Sementara, Tao memandang gadis itu seksama bersamaan ia menggumam, “Bi?”

Gadis itu memandang Tao sejenak. “Hujan.”

Tao mulai mengangguk-angguk mengerti. Namun, pikirannya langsung teringat akan alamat letak asrama kampus yang akan ia tinggali nanti. Ia akan mencoba bertanya pada gadis itu.

“Chogiyo.”

“Ne?” Gadis itu kembali menoleh ke arah Tao. “Ada yang bisa kubantu?”

“Kau tahu di mana letak asrama Kyung Hee University?” tanya Tao dengan hati-hati.

“Oh, tentu saja. Kebetulan aku tinggal disana. Apa kau mau ke sana? Kebetulan aku juga ingin kembali ke asrama.”

“Oh, benarkah?”

Gadis itu mengangguk-angguk sambil tersenyum. “Kita ke asramanya setelah hujan reda saja ya.”

Tao mengangguk setuju. Hatinya yang awalnya merasa dilanda kegelisahan kini menjadi lega berkat si gadis itu. Ia sangat berterima kasih padanya. “Apa aku boleh tahu siapa namamu?”

“Song Aeri. Namaku Song Aeri. Panggil saja aku Aeri.”

***

“Yoora-yaaaa!!! Youngmi-yaaaaaaa!!!!”

Oh, teriakan Aeri yang sangat keras membuat Tao yang baru saja hendak berjalan menuju kamarnya harus menutup kedua telinganya dengan rapat. Walaupun Aeri terlihat pendiam, jika sudah mengenalnya ia suka sekali berteriak keras-keras.

Sementara, dua gadis yang dipanggil Aeri hanya tersenyum sambil melambaikan tangannya masing-masing. Mereka langsung menghampiri Aeri.

“Kalian darimana?” tanya Aeri ingin tahu saat mereka sudah berada dihadapannya.

“Kalau aku, tentu saja dari café,” kata Youngmi.

“Oh, iya ya. Kau kan bekerja di café. Aish, aku sedikit melupakan hal itu,” ujar Aeri. “Kalau kau, Yoora-ya?”

“Aku baru saja pulang dari kampus,” sahut Yoora.

Park Youngmi, gadis cantik yang tinggal di asrama nomor 8 ini memang memiliki kerja part-time di café untuk memenuhi kebutuhannya selain mengisi waktu luang disela-sela padatnya jadwal di kampus. Ia baru saja kembali ke Seoul setelah tiga tahun berada di Jepang.

Sementara Kim Yoora, gadis menarik yang tinggal di asrama nomor 6 itu sangat cerewet. Namun, ia sangat perhatian terhadap semuanya. Makanya, banyak sekali orang yang nyaman dekat dengannya, termasuk Aeri. Bagi Aeri, entah apa yang terjadi jika tanpa Kim Yoora –namun, sepertinya terdengar berlebihan.

Lalu, Aeri? Ah, ia hanya gadis manis yang biasa saja. Ia tinggal di Seoul bersama kedua kakak perempuannya dan sepupu lelakinya. Sementara, kedua orangnya memilih tinggal di Kyoto, Jepang sejak kakak pertamanya membeli rumah untuk mereka di sana dan membangun sebuah lembaga pendidikan di sana. Walaupun begitu, kadangkala ia suka memakai waktu luang disela-sela penuhnya kelas dengan menjadi seorang asisten editor di sebuah perusahaan penerbit.

“Oh, Ri-ya, katanya ada kiriman paket untukmu,” kata Yoora tiba-tiba.

“Paket?” tanya Aeri dengan nada agak aneh.

Dari siapa? Salah satu dari kedua kakaknya? Atau, sepupunya yang usil itu? Tapi, untuk apa? Berbagai macam pertanyaan muncul di kepala Aeri yang mampu membuat Aeri langsung penasaran.

“Ibu penjaga asrama yang menerimanya. Jadi, kau harus ke sana,” sahut Youngmi.

“Oh, baiklah. Gumawo.”

Pikiran Aeri menjadi semakin penasaran akan kiriman paket itu.

***

“Ri-ya!”

Esok harinya saat Aeri sedang menikmati jus jambu yang ia beli tadi, langsung dikejutkan dengan suara keras milik Kim Jongdae. Sontak saja, ia menoleh ke arah pria itu dengan sebal. Untung saja, ia tidak sampai tersedak jus jambu.

“Jongdae-yaa! Aish, apakah ini sudah menjadi kebiasaanmu mengagetkanku?! Kau ingin aku terkena serangan jantung ya?!” seru Aeri dengan nada dongkol.

Sementara, orang yang diomeli Aeri hanya menyeringai. Ia langsung duduk di samping Aeri. “Hahah, kau kemarin kenapa tak datang?”

“Apa maksudmu?! Aku datang tahu, tapi kau−“

Pikiran Aeri langsung teringat pada kejadian antara Jongdae dan Kyuhyun, sehingga ucapannya menjadi terputus begitu saja.

“Kau apa?” tanya Jongdae dengan nada ingin tahu.

“E-mm.. Aah!! Sudahlah! Tak usah dibicarakan lagi!” kata Aeri langsung. “Memangnya apa yang ingin kau bicarakan denganku?”

“Aku punya sedikit masalah, Ri-ya,” keluh Jongdae. “Aku kemarin bertengkar dengan orang yang sudah kuanggap sebagai kakakku sendiri.”

“Mwo? Bertengkar?” kata Aeri. “Kenapa akhir-akhir ini banyak sekali orang yang bertengkar ya?” gumam Aeri.

“Bagaimana ini? Aku tak ingin melukai kakakku,” keluh Jongdae dengan nada merajuk seperti anak kecil.

“Aku tidak tahu, Jongdae-ya,” ucap Aeri. “Aku jadi merasa sedih.”

Jongdae memandang Aeri yang memasang wajah simpatik terhadapnya dengan lekat. Kemudian, ia berdeham pelan. Kali ini, ia ingin menggoda Aeri. “Jangan terlalu bersimpati denganku. Bisa-bisa rasa simpatimu padaku malah jadi cinta,” goda Jongdae yang mampu membuat Aeri menoleh ke arahnya dengan pandangan geli.

“Hih! Memangnya siapa yang mau jatuh cinta padamu, huh?!” kata Aeri dengan pandangan geli. “Kalau aku sih tak mungkin!”

“Jangan bicara begitu, bisa-bisa kau malah menelan ucapanmu sendiri tahu,” ingat Jongdae. “Ingat, ucapanmu bisa menjadi bumerang tahu.”

“Tak mungkin,” gumam Aeri.

“Kalau itu terjadi, bagaimana jadinya ya, Ri-ya? Wah, aku tak bisa membayangkan kau akan memanggilku “Oppaa!!” dan aku akan memanggilmu “Chagiyaa~”. Sepertinya terdengar sangat seru,” kata Jongdae sambil menerawang. Sesekali, kedua matanya melirik ke arah Aeri yang mulai semakin dongkol. Ia suka sekali menggoda Aeri dengan cara seperti ini hingga gadis itu semakin kesal.

“Yaa! Jangan membayangkan yang tidak-tidak!” seru Aeri sambil berhenti meminum jus jambunya. “Lagipula, memangnya kau saat ini tak ada kelas apa hah? Daripada kau membayangkan hal itu, lebih baik pergi ke kelas saja sana!” usir Aeri dengan sebal.

Tiba-tiba, Jongdae teringat jadwal berikutnya. Ia langsung bangkit dari duduknya dan melambaikan tangannya ke arah Aeri. “Oh ya, aku masih ada kelas. Ya sudah, aku pergi dulu ya, chagi~” goda Jongdae lagi sambil tersenyum jahil dari berjalan meninggalkan Aeri.

“Yaaa!! Aku bukan pacarmu!” teriak Aeri kesal.

***

“Jongdae-ya!”

Jongdae langsung menoleh. Ia mendapati Kyuhyun sedang berjalan menghampirinya. Kemudian, mereka berjalan beriringan. Perasaannya manjadi aneh, seolah Kyuhyun akan memberitahukan kabar buruk. Namun, ia berusaha untuk menghilangkan pikiran seperti itu.

“Ada apa, Hyung?” tanya Jongdae dengan nada ingin tahu.

Tampak, Kyuhyun berpikir sejenak. “Sepertinya akan ada yang terlibat dalam permainan ini, Jongdae-ya.”

Jongdae langsung terdiam dengan napas sedikit tertahan. Ia berusaha untuk menemukan suaranya kembali. “Mwo?”

“Aku tak tahu siapa dia. Yang jelas, semalam aku dengar ada kiriman paket untuk mahasiswa di Kyung Hee University. Kardus itu sama persis dengan kardus yang aku punya saat ini.”

“Hyung, mungkin saja itu bukan permainan yang kau maksud,” kata Jongdae berusaha mengelak. “Kalau ada pemain baru dalam ‘Love Note’ ini, aku yakin lebih dari satu orang yang terluka perasaannya.”

“Tapi, menurutmu pemain itu laki-laki atau perempuan?” tanya Kyuhyun. “Kalau laki-laki.. dia pasti juga menyukai Joo. Tapi, kalau perempuan−”

“Dia menyukai salah satu dari kita atau membenci Joo Noona?” tukas Jongdae dengan nada bertanya.

“Entahlah,”  kata Kyuhyun. “Itu masih menjadi pertanyaan dibenakku saat ini, Jongdae-ya.”

“Kyu! Jongie!”

Sontak saja, Kyuhyun dan Jongdae menoleh ke sumber suara. Mereka mendapati Yeonjoo berlari menghampiri mereka. Setelah berhadapan dengan mereka, Yeonjoo berusaha mengatur napasnya. “Kau tak masuk kelas, Jongie? Kelasmu sudah masuk tahu.”

Kedua mata Jongdae langsung membulat begitu saja. “Oh, Jinjjayo? Bisa-bisa aku tak bisa masuk jika terlambat. Ya sudah, Hyung, Noona, aku pergi dulu ya!”

Jongdae langsung berlari meninggalkan mereka berdua.

***

“Ri-yaaaaa!!!”

Aeri langsung menoleh ke sumber suara saat ia masih menikmati jus jambunya. Padahal, tadi baru saja Jongdae menghilang. Kini giliran kedua matanya mendapati Kyuhyun sedang berjalan ke arahnya sambil melambaikan tangannya. Ia tersenyum lebar, tapi saat ia melihat seorang gadis di samping Kyuhyun membuat senyumnya memudar. Ia tahu gadis itu. Shin Yeonjoo.

“Sedang apa kau di sini?” tanya Kyuhyun dengan nada semangat sambil duduk di hadapan gadis itu, diikuti oleh Yeonjoo. “Kau membolos di kelasmu ya?”

“Jangan berpikir yang tidak-tidak! Enak saja!” seru Aeri mulai dongkol.

Ekor matanya sesekali melirik ke arah Yeonjoo. Ia tahu, gadis itu juga sedang memandangnya dengan lekat. Ternyata, ia belum tahu apapun tentangku, pikir Aeri. Jika ditanya apakah Aeri tahu tentang Yeonjoo, tentu saja –walaupun hanya sedikit. Ia hanya mengetahui sosoknya yang ia lihat di kampus yang sama dan karakternya yang selalu ia dengarkan baik-baik ketika Kyuhyun bercerita.

“Oh ya, Ri-ya, kenalkan dia temanku yang sering kuceritakan itu. Shin Yeonjoo,” kata Kyuhyun. “Joo, kenalkan dia temanku yang sudah kuanggap sebagai adikku sendiri. Song Aeri.”

Eugh, kalimat semacam ‘teman’ atau ‘adik’ membuat lidah Aeri saat sedang menelan jus jambunya terasa sangat pahit. Padahal, sebelum Kyuhyun mengucapkan hal itu jus jambunya masih terasa sangat manis. Cih, kata-kata menyakitkan hati itu juga mampu merusak cita rasa makanan.

“Annyeonghaseyo, Yeonjoo-ssi. Song Aeri imnida,” ucap Aeri sambil tersenyum kecut yang sedikit tersamarkan pada Yeonjoo.

“Annyeonghaseyo, Aeri-ssi. Senang bisa bertemu denganmu. Shin Yeonjoo imnida,” ucap Yeonjoo dengan sedikit aksen mandarinnya, karena pada dasarnya Yeonjoo sempat tinggal di Taiwan selama beberapa tahun.

Senang? Itu bagimu, bagiku sama sekali tidak, batin Aeri sambil tersenyum kecut. “Aku sering mendengar cerita tentangmu dari Kyuhyun Oppa.”

“Oh, Jinjjayo?” tanya Yeonjoo dengan wajah tak percaya. “Aku jadi penasaran apa yang Kyuhyun ceritakan padamu.”

Kenapa harus penasaran? pikir Aeri dengan aneh. “Kyuhyun Oppa suka sekali bercerita kalau−”

“Yaa! Tutup mulutmu!” tukas Kyuhyun langsung sambil menjejalkan sebuah roti ke mulut Aeri.

Yah, lagipula siapa juga yang mau membocorkan masalah perasaanmu pada gadis semacam Yeonjoo Eonni, kata Aeri dalam hati dengan kesal. Dengan cepat, Aeri langsung mengunyahnya. “Oppa, rotinya enak. Aku mau satu suap lagi.”

“Dasar! Makan saja sendiri!”

Sementara, Yeonjoo terkikik geli melihat tingkah Aeri dan Kyuhyun yang seperti anak kecil. Setelah itu, suasana canggung benar-benar terasa. Ingin rasanya Aeri pergi dari tempat itu sekarang juga. Gadis itu langsung beralih memandang Kyuhyun sambil melirik arlojinya. “Oppa, aku harus pergi. Kelasku sebentar lagi akan dimulai.”

“Oh, ya sudah. Kau pergi saja. Hati-hati ya.”

Aeri mengangguk-angguk mengerti. Kemudian, ia berbalik dan berjalan meninggalkan mereka berdua. Aeri sengaja tak menoleh sedikitpun ke arah Yeonjoo. Yah, untung saja kini ia telah keluar dari situasi yang menurutnya paling menyebalkan. Ia benci keadaan semacam tadi. Masa bodoh untuk urusan Kyuhyun dan Yeonjoo. Lama-lama, ia lelah juga jika terus seperti ini.

***

Sore harinya, Aeri telah kembali ke asrama dengan wajah lesu. Hari ini, ia pulang agak malam karena baru saja selesai kelasnya. Entah kenapa, hari ini adalah hari yang paling melelahkan menurutnya. Mungkin karena banyak sekali kejadian tak terduga.

“Song Aeri.”

Aeri langsung langsung menoleh ke Nyonya Han, sang penjaga asrama Kyung Hee University saat langkahnya hendak menuju pintu asramanya. “Ne?”

“Ada kiriman paket untukmu kemarin. Kurasa Nona Park dan Nona Kim sudah mengatakan hal itu padamu,” kata Nyonya Han. “Ini.”

“Ah, gamsahamnida,” kata Aeri sambil menerima sebuah kardus kecil. Ia baru ingat, seharusnya ia mengambilnya kemarin. Namun, karena kemarin ia sempat terjebak dengan tugas hingga larut malam membuatnya melupakan kiriman ini.

Saat sampai di kamarnya, ia mulai memeriksa luar kardus itu sebelum membukanya. Tak ada nama yang tercantum di sana. Kardus itu berisi masing-masing satu set kertas catatan yang memiliki tiga warna yang berbeda. Yaitu berwarna merah jambu, putih, dan biru. Serta satu pulpen berwarna biru pula. Aeri agak heran mendapati isi kardus itu. Namun, kedua matanya melihat sesuatu terselip diantara kertas catatan itu. Seketika, ia langsung mengambilnya.

Love Note – The games make a love story

“Hah, omong kosong macam apa ini?” kata Aeri dengan nada aneh. “‘Love Note’? Apa ini?”

Karena merasa itu hanya omong kosong belaka, Aeri hendak membuang kiriman itu. Namun, pikirannya kembali berputar. Perasaannya pada Kyuhyun membuatnya kembali berpikir keras. Apakah permainan ini bisa menyelamatkan perasaanku pada Kyuhyun Oppa? Aeri langsung menggeleng cepat. Ia tak ingin bergantung pada hal yang menurutnya tak logis itu.

“Ri-ya, kau mau pergi ke supermarket tidak? Belikan aku ramyun ya,” kata Youngmi tiba-tiba sambil berjalan masuk ke kamar asramanya.

Aeri langsung menoleh ke arah Youngmi. “Eoh? Baiklah, lagipula aku juga menginginkan ramyun,” kata Aeri sambil beralasan. Namun, sebenarnya ia ingin membuang kiriman paket yang aneh dan tak logis itu walaupun ia juga sedikit menginginkan ramyun.

Ia juga sepertinya membutuhkan udara segar agar semua pikirannya bisa kembali jernih.

“Oh, apa itu?” tanya Youngmi sambil menunjuk ke kiriman paket tersebut. Namun, Aeri langsung mengambilnya.

“Ah, bukan apa-apa. Lebih baik kau cepat kembali ke kamar. Aku akan mengantarkan pesananmu ke kamarmu nanti,” ujar Aeri panjang lebar. Kemudian, ia membawa kardus itu keluar. “Aku pergi dulu.”

“Yaa, Ri-ya!”

Aeri memutuskan untuk tak menghiraukan teriakan Youngmi. Ia langsung berjalan keluar asrama, membawa kardus aneh itu dan hendak membuangnya.

Namun, malam ini terasa memiliki hawa yang berbeda saat Aeri hendak berjalan kaki sendirian. Ia menoleh ke belakang sesaat, kemudian kembali berjalan. Entah kenapa, seperti ada yang mengikutinya. Oh, ada apa dengan hari ini sih? Pikir Aeri dengan sebal. Ia memang tidak takut terhadap hal-hal berbau mistis. Tapi kali ini, entahlah. Ia merasa kali ini bulu kuduknya mulai merinding dan juga tangannya mulai mengeluarkan keringat dingin.

Brakk!!

Aeri langsung menoleh ke belakang. Tapi, tak ada siapapun di sana dan ia kembali berjalan. Mungkin hanya seekor tikus, pikir Aeri sambil tetap berpikir positif. Namun, langkah kakinya semakin cepat. Oh, ayolah ini bukan film horror yang biasa Youngmi tonton dan diberitahu kepadanya. Kali ini, ia meruntuki film-film atau cerita yang berbau horror dan misteri. Ingin sekali ia kembali ke asrama dan berteriak, “Youngmi-yaaaa, kumohon temani aku!!”

Ia memang tidak takut terhadap hantu, tapi yang ia takutkan hanya hantu itu tiba-tiba berada di hadapannya sambil tersenyum manis. Cukup mengerikan kan?

“Ri-ya!”

“Waaa!! Omonaa!”

Brakk!!

Aeri langsung tersentak kaget hingga membuat kardus yang ia bawa terjatuh dari tangannya. Jantungnya mulai berdebar-debar. Ia berusaha menenangkan jantungnya. Dan setelah jantungnya mulai berdetak dengan normal, ia memandangi si pelaku yang berhasil mengejutkannya.

“Jongdae-yaaa!!” teriak Aeri dengan kesal. “Kau ini benar-benar ingin membuatku cepat mati ya?!”

Sementara, Jongdae hanya menyeringai pelan. Kemudian, ia membungkuk untuk mengambilkan kardus itu. “Sedang apa kau malam-malam begini? Mau berkencan dengan orang tak kukenal ya?” tanya Jongdae mengalihkan pembicaraan dengan nada mengintrogasi.

Aeri memandang Jongdae dengan dongkol. “Apa-apaan sih maksudmu itu? Kencan? Maaf saja, aku tidak tertarik dengan hal semacam itu.”

Jongdae mengambilkan kardus itu dan hendak memberikannya pada Aeri. “Ige.”

“Gumawo,” ujar Aeri. “Kau mau ke mana malam-malam begini?”

“Aku butuh udara segar. Makanya, aku pergi keluar,” jawab Jongdae. “Kau belum menjawab pertanyaanku. Kau mau ke mana? Ayo, kuantar.”

Aeri kembali berjalan diikuti oleh Jongdae. “Oh, ke supermarket. Kau tahu kan kehidupanku di asrama seperti apa,” kata Aeri santai.

“Kenapa tidak tinggal dengan Nunah Noona dan Soojin Noona saja? Lagipula, Omonim tidak mewajibkanmu tinggal di sana kan?” tanya Jongdae dengan nada ingin tahu.

“Aku ingin mandiri. Lagipula, aku tak suka di rumah karena kedua kakakku pasti akan selalu menceramahiku,” gerutu Aeri yang langsung disambut gelak tawa Jongdae.

“Jangan begitu. Kedua kakakmu kan bermaksud baik,” sahut Jongdae. “Oh ya, tadi wajahmu terlihat sangat takut. Sejak kapan Song Aeri jadi penakut seperti itu?”

“Apanya yang penakut! Aku tidak takut tahu!” kata Aeri berusaha mengelak –meskipun pada kenyataannya ia ketakutan setengah mati tadi.

“Jeongmalyo? Tapi, aku sempat lihat wajahmu pucat. Aku tahu kalau kau pasti takut. Memangnya tadi kau pikir aku ini apa, hah?”

“Bukan apa-apa dan jangan berpikiran yang tidak-tidak,” sembur Aeri langsung dengan kesal.

Tanpa sadar, langkah mereka sampai di supermarket. Jongdae langsung mengambilkan troli untuk Aeri. Ia menoleh ke arah Aeri yang masih melihat-lihat. “Apa yang ingin kau beli?”

“Ramyun? Atau, es krim? Nasi instan? Eh?” ujar Aeri sambil berpikir. “Ah ya, bibimbap yang dikirim Nunah Eonni mau menipis. Stok makanan di asrama mau habis,” gumam Aeri pelan.

“Kau suka makanan instan ya? Pantas saja tubuhmu itu kurus. Sesekali makanlah yang bergizi!” nasehat Jongdae.

Baiklah, sekarang tingkah seorang Kim Jongdae sudah seperti Eomma-nya. Aeri hanya bisa memutarkan kedua bola matanya dengan sebal. “Sudahlah, kau diam saja, Tuan Kim.”

“Heh, sesekali dengarkan ucapanku! Ini kan demi kebaikanmu juga!” kata Jongdae dengan nada kesal. Langkahnya terus mengikuti Aeri dari belakang. “Memangnya aku rela melihatmu berjalan seperti tengkorak berjalan dengan tulang-tulangnya itu? Kalau kau mau seperti itu, lama-lama sisa daging di tubuhmu semakin menipis dan tinggal bersisa tulang saja tahu!”

Aish, sakit kepala juga mendengar Jongdae terus mengoceh, pikir Aeri. Segera, Aeri berbalik dan memandang Jongdae. “Aaah, ne, ne, ne!! Baiklah, setelah ini aku akan pergi membeli kimchi, gochujang, japchae, bubur abalone, samgyetang, dan sebagainya. Dan, berjanji tidak akan membeli nasi dan mie instan lagi. Kau puas, wahai Tuan Kim?”

Kali ini, Jongdae langsung menyeringai. “Sangat puas, Nona Song.”

Aeri kembali berjalan mendorong trolinya sambil menggerutu, “Dasar Kim Jongdae yang cerewet.”

“Kalau aku tak cerewet, kau pasti tak akan mau mendengarkanku.”

Aeri melirik ke belakang, menatap Jongdae dengan kesal. Ugh, dia dengar ucapanku ternyata, pikir Aeri dongkol. Ia hanya bisa menghelakan napas panjang sambil menenteng kardus itu. Namun, sebuah tangan yang kokoh langsung mengambil kardus itu.

“Jangan memasang wajah seperti itu, jelek tahu,” kata Jongdae sambil tersenyum.

“Sudah daridulu wajahku jelek,” kata Aeri menegaskan.

Aeri mengambil beberapa bungkus ramyun dan makanan kecil untuk dimakan di asrama jika sedang bosan. Ia juga mengambil sebotol susu, roti tawar, sebotol sirup, dan beberapa bungkus kopi serta cokelat. Wajahnya sedikit tertekuk. Sepertinya, pikirannya menjadi buyar sejak ia melihat kardus itu dan kejadian-kejadian menyebalkan sebelumnya.

“Kau kenapa sih? Sepertinya, hari ini kau banyak pikiran,” ucap Jongdae tiba-tiba mengalihkan pembicaraan dengan dahi berkerut sambil menoleh ke arah Aeri. “Apa telah terjadi sesuatu?”

Ho? Seketika, tubuh Aeri berhenti bergerak dan memandang Jongdae sambil melongo. Wah, jadi kelebihan Kim Jongdae sekarang bisa membaca pikiran orang lain? Hebat sekali. Aku jadi ingin minta diajari olehnya, pikir Aeri kira-kira yang terlintas saat ini. Ia hanya menggeleng pelan. “Aniyo.”

“Oh ya, apa isi kardus ini? Boleh kubuka?” tanya Jongdae mengalihkan pembicaraan lagi untuk yang kesekian kalinya.

Sebelum Aeri angkat bicara, Jongdae sudah membukanya. Namun, pandangannya menjadi kaget saat melihat kumpulan kertas catatan yang masing-masing memiliki tiga warna yang berbeda di dalam kardus itu. Sontak saja, Jongdae langsung mengeluarkannya.

“’Love Note’?” gumam Jongdae yang masih dapat didengar oleh Aeri saat ia masih mengambil beberapa bungkus kue kering dari rak.

“Kau tahu itu?”  tanya Aeri dengan penasaran. “Bagaimana bisa−”

“Kau mendapatkan ini darimana?” tukas Jongdae sambil menatap Aeri dengan tajam.

“Ada seseorang yang mengirimkan aku sebuah paket. Saat kubuka, itu isinya,” ujar Aeri dengan aneh. “Awalnya, aku ingin membuangnya. Tapi, ada apa memangnya?”

Jongdae tak menjawab. Ia bingung harus menjelaskan pada Aeri darimana. “Hmm, nanti saja akan kujelaskan semuanya. Setelah ini.”

Aeri menyipitkan kedua matanya memandang Jongdae sesaat. Kemudian, ia cepat-cepat pergi ke kasir dan membayarnya karena rasa penasarannya yang semakin menguap tentang ‘Love Note’.  Ia benar-benar ingin tahu dan tertarik dengan hal itu.

Akhirnya, kini Aeri dan Jongdae duduk berhadapan di sebuah café dekat supermarket tadi sambil meminum secangkir caramel macchiato dan cappucino. Aeri masih memandang Jongdae dengan ingin tahu.

“Sekarang, ceritakan semuanya,” pinta Aeri pada Jongdae. “Tanpa ada yang terlewatkan.”

“Benar-benar tanpa ada yang terlewatkan?” tanya Jongdae.

Aeri mengangguk mantap.

Lalu, Jongdae terdiam sejenak dan berdeham, “’Love Note’. Sebuah permainan tentang kehidupan cinta. Cara permainannya melalui sebuah kertas catatan kecil dengan warna yang berbeda dan tentu saja memiliki arti yang berbeda. Dan juga—“

“Jongdae-ya? Ri-ya?”

Sontak saja, Jongdae dan Aeri langsung menoleh ke sumber suara. Kedua mata mereka mendapati sesosok yang sangat mereka kenal.

“Kyuhyun Oppa!/Kyuhyun Hyung!” Aeri dan Jongdae berkata dengan serempak. Terkejut ketika tahu Cho Kyuhyun berada di sini.

“Oh, Jongie?”

Aeri dan Jongdae menoleh ke belakang Kyuhyun. Shin Yeonjoo yang kala itu datang bersama Kyuhyun menatap heran mereka berdua. Jadi, dia datang bersama Kyuhyun Oppa? Cih, pikir Aeri sambil memandang Kyuhyun dan Yeonjoo dengan malas.

“Kalian berdua sedang apa?” tanya Kyuhyun.

“Kau mengenal Kyuhyun Hyung?” tanya Jongdae pada Aeri. Ia sama sekali tak menghiraukan pertanyaan Kyuhyun. “Sejak kapan?”

“Kau sendiri kapan? Aku sejak SMA sudah mengenalnya,” jawab Aeri. Pikirannya tentang pertanyaan hubungan antara Jongdae dan Kyuhyun kini keluar dari mulutnya.

“Sebelum aku mengenalmu, aku juga sudah mengenal Kyuhyun Hyung,” balas Jongdae.

“Aku pikir kalian belum saling kenal,” sahut Kyuhyun tiba-tiba. “Jawab pertanyaanku dulu, kalian berdua sedang apa?”

“Hyung sendiri, sedang apa di sini bersama Yeonjoo Noona?” kata Jongdae balik bertanya.

Mereka saling terdiam. Akhirnya, mereka berempat –Aeri, Jongdae, Kyuhyun, dan Yeonjoo duduk saling berhadapan. Mereka saling terdiam karena canggung dan tak ada yang mau memulai pembicaraan.

“Hyung,” Akhirnya, Jongdae yang angkat bicara. “Hyung pasti ingin tahu kan siapa pemain ‘Love Note’ selanjutnya?” tanya Jongdae.

“Siapa?” tanya Kyuhyun sambil mendelik ke arah Jongdae. Dengan refleks,Yeonjoo dan Aeri –meskipun Aeri belum tahu apa-apa ikut memandang Jongdae dengan pandangan bertanya.

Jongdae terdiam sejenak. Menurutnya, semua pertanyaan yang sudah melayang-layang dipikirannya sejak tadi siang sudah jelas terjawab. “Song Aeri.”

Seketika, semua mata tertuju pada Aeri yang kini memasang wajah yang sama sekali tak mengerti. Aku? Kenapa aku? Kira-kira seperti itu pikiran yang terlintas di otak Aeri sekarang.

“Ri-ya?” ulang Kyuhyun. “Tak mungkin. Ri-ya tak mungkin bergabung dalam permainan ini.”

“Tapi, Hyung, dia memiliki warna note sendiri. Seperti kau yang memiliki warna hijau, aku warna ungu, dan Yeonjoo Noona warna kuning,” balas Jongdae.

“Tu-tunggu dulu!” seru Aeri. “Aku? Kenapa harus aku? Mungkin saja salah kirim! Aku tak mungkin!” elak Aeri.

“Kalau begitu, bagaimana bisa kau memiliki ‘Love Note’ itu?” tanya Jongdae pada Aeri.

“Hanya ada kiriman paket untukku, Jongdae-ya! Mungkin saja itu salah kirim! Dan, aku tak mungkin terlibat dalam permainan omong kosong seperti itu!” seru Aeri dengan kesal.

“Apa warna kesukaanmu?” tanya Yeonjoo tiba-tiba pada Aeri.

“Biru,” jawab Aeri.

“Kalau begitu, apa warna note yang kau terima di kardus itu selain merah jambu dan putih?” tanya Yeonjoo lagi.

Kali ini, Aeri langsung terdiam. Biru juga. Apa itu tandanya? Tiba-tiba, pikiran Aeri membongkar semua memori lamanya. Ia ingat, Jongdae memang menyukai warna ungu dan Kyuhyun menyukai warna hijau. Ia juga ingat, Kyuhyun pernah mengatakan jika Yeonjoo menyukai warna kuning saat mereka mencari hadiah untuk Yeonjoo di Myeondong kemarin dulu.

Dan, Aeri langsung melongo ketika semua memorinya sudah menjawab semua pertanyaannya di otaknya.

“Jadi?” tanya Kyuhyun.

“Bagaimana?” tanya Yeonjoo.

“Kau sudah mengerti?” tanya Jongdae.

Aeri masih terdiam. Kali ini, terkejut mulai menguasai dirinya. “Jadi…” Aeri mencoba melanjutkan ucapannya. “AKU BENAR-BENAR TERLIBAT?!!”

Dengan kompak, mereka bertiga mengangguk. “Tentu saja.”

Aeri langsung memasang wajah shock. Baiklah, sekarang ini adalah takdirnya. Takdir yang memang harus ia hadapi walaupun ia masih mau berusaha menghindarinya.

― To be Continued ―

Iklan

7 thoughts on “Love Note : 2nd (Really) Unexpected

  1. “daebak” jujur aku baca tiap chapternya dulu baru review XD , ah iya aku juga reader baru disini. karakter tiap castnya ngegemesin :3. penulisannya apik 🙂 izin buat baca fanfict yg lain ya eon hehe, terutama yg ada kyuhyunnya kkk

    1. gak apa-apa. gak masalah kok 😀 oh iya, selamat datang di journal saya. kkk~
      semoga seneng ya di blog ini >_<v
      hihihi, terima kasih buat komentarnya juga. akaka, silahkan aja baca semua ff di blog ini. eheheh 😀

    1. Hai, ber! 😀
      eh ciye, udah tuntas bacanya. uhuy~ :3
      next chapternya tunggu aja ye 😉 akakakaka 😀
      thankseu buat review da udah baca yaakkk 🙂

    1. hai, park naya ^^ /duh, ini enaknya manggil apa ya? wkwk/ readers baru ya? selamat datang 🙂
      ahaha, panggil aku apa aja terserah. boleh thor, boleh eonn, apa aja asalkan jangan ajumma/? kkk 😀
      thank you banget buat pujian, reviewnya dan udah bacanya 🙂 wkwk
      tunggu aja next chapternya ya 😉

Mind to Review? ^ ^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s