First Snowflake

673e778cgw1dtnajhypdrj

First Snowflake

Aeri_Tamie’s Script Writer

Casts : Jung Hyoae-Wu Hanjia (OC-Ana); Xi Luhan (EXO-M’s Luhan)

Genre : Romance, Fluff ║ Rated : PG-15 ║ Length : Ficlet

Disclaimer : 20131206 © Aeri_Tamie

Note : Hai, semua. /ehem/ ini demi… demi…. demi….. GUE BIKINNYA TERLALU CHEESSY PLIS! >< /garuktembok/ tahun lalu gue bikin. Niatnya digabung dengan fict alay yang lain, tapi gagal total karena mentok dijalan. /ga bertanggungjawab banget gue demi/ -_- yah, yah, tapi…. request buat Ana udah kelar! Yeheett~!! Baca yah, dear. Kiw~ aduh, gue jadi malu (/.\) Maap, covernya ga sempet bikin TOT gue emang nyebelin

Happy reading!

***

“Hari ini hari terakhir musim gugur.”

Hyoae langsung menoleh ke sumber suara sambil mengerutkan keningnya. Menatap pria berkebangsaan China yang berada disampingnya Xi Luhan –yang nyatanya adalah pria yang ia sukai dan sama sekali bukan kekasihnya. Gadis itu selalu saja menghelakan napas panjang setiap kali mengingatnya.

Seketika, Hyoae merapatkan mantel berwarna merah jambu dan mengeratkan syalnya yang melekat di lehernya. Ia juga mencoba menghembuskan suhu udara saat ini yang sama sekali belum terlalu berembun. Suasana di halte bus saat itu terlihat lenggang.

“Gege ini mau menjadi seorang peramal ya?”

“Han Jia.”

Gadis itu menoleh kesal sambil berdecak lidah ke arah Luhan –sapaan akrab pria China itu. Ia paling tidak suka jika seseorang memanggil namanya tidak sesuai dengan tempatnya berpijak. “Ck, ini di Seoul, Gege. Bukan di Beijing.”

“Salahmu sendiri, masa di Seoul kau masih memanggilku dengan bahasa Mandarin. Kalau kau memanggilku dengan bahasa Mandarin, maka aku juga harus memanggilmu dengan nama China-mu. Baiklah, Hyoae-ya.”

“Cih,” Hyoae memalingkan wajahnya dan memilih menyerah dengan orang ini. Sudah cukup, pikirnya. Kalau berdebat dengannya terus bisa-bisa aku mengalami kontak mata yang terlalu sering, pikir Hyoae lagi.

Jujur saja, jika ia duduk di sebelah Luhan seperti ini membuat Hyoae sangat gugup. Bagaimana tidak, ini adalah kesempatan langka bagi Hyoae untuk jalan berdua bersama Luhan. Selama ini sebenarnya mereka sudah berhubungan lama dan sering jalan bersama teman-temannya, namun untuk kali ini mereka hanya jalan berdua saja lantaran semua teman-temannya sibuk.

“Jawab pertanyaanku, kau mau menjadi seorang peramal?” tanya Hyoae mencoba mencari topik.

“Siapa bilang,” jawab Luhan dengan cuek. “Tadi aku melihat sekumpulan awan mulai menggumpal.”

“Kalau begitu hujan air namanya, Oppa,” sahut Hyoae dengan nada agak malas.

“Kau mau bertaruh?” tanya Luhan menantang. “Kalau hari ini hujan salju, kabulkan permintaanku ya.”

“Bagaimana kalau hari ini hujan air?” tanya Hyoae dengan nada sok tahu.

“Tentu saja aku akan mengabulkan permintaanmu,” jawab Luhan tanpa ragu.

“Apapun?” tanya Hyoae lagi meyakinkan.

“Apapun.” Luhan menjawab dengan yakin.

“Tak ada penolakan,” tantang Hyoae sambil mengulurkan tangannya.

Luhan memandang uluran tangan Hyoae sejenak. Kemudian, ia membalasnya. “Baiklah. Tak ada penolakan.”

Hyoae tersenyum. Dalam hatinya, semoga saja hari ini benar-benar hujan air agar Luhan bisa mengabulkan permintaannya. Tentu saja, memintanya untuk menjadi pacarnya. Haha. Hyoae tertawa dalam hati.

Luhan mulai melirik arlojinya yang kini sudah menunjukkan pukul 16.54 KST. Kemudian, ia membuka sebuah payung berwarna transparan dan menggamit tangan Hyoae. “Ayo.”

Hyoae begitu terkejut atas skinship yang dilakukan Luhan. Baiklah, Jung Hyoae tenanglah. Bagi Luhan Oppa ini hanyalah biasa, batin Hyoae. “Oppa, hari ini kan belum hujan. Jangan buka payung dulu.”

Luhan menoleh dan menatap Hyoae lekat, hingga Hyoae dengan terpaksa memundurkan wajahnya. “Kau tak pernah dengar ya peribahasa ‘Sedia payung sebelum hujan’?”

Sementara, Hyoae yang mulai salah tingkah dengan tatapan Luhan yang menghunus mata dan hatinya hingga membuat wajahnya sedikit memerah langsung mengalihkan pandangannya ke arah langit yang sudah mulai petang. “A-oh, begitu.”

Di sisi lain, Luhan sedikit tersenyum melihat tingkah Hyoae yang sudah seperti itu. Ia merapatkan mantelnya berwarna hijau tosca itu. “Ayo,” ajaknya pada Hyoae sambil menarik tangan gadis itu.

Luhan mengajak Hyoae untuk menyebrangi jalan raya. Ia melihat sekeliling dan mendapati rambu-rambu lalu lintas yang sedang menyalakan warna hijau.

Sementara, Hyoae harus menahan napasnya saat tahu tubuhnya kini sangat dekat dengan Luhan. Bahkan, kini ia dapat mencium aroma khas tubuh Luhan. Ia terus berdoa agar hujan yang turun kali ini adalah hujan air, walaupun batinnya sangat menantikan musim dingin yang sebentar lagi datang. Dalam hatinya, ia sangat ingin berteriak keras.

Tak ada suara diantara mereka. Mereka saling terdiam memandangi lalu lalang jalan raya, hingga lampu hijau berganti menjadi lampu merah. Hyoae yang hendak berjalan lebih dulu agar tak terlalu dekat dengan Luhan, tiba-tiba saja Luhan menarik tangannya.

“Apa?” tanya Hyoae aneh.

“Jangan cepat-cepat,” sahut Luhan pelan sambil memandang Hyoae.

Namun, Hyoae langsung mengalihkan arah pandangnya dan memilih berjalan mundur mengikuti kata Luhan tanpa memandang wajah pria itu sedikitpun. Luhan sedikit menahan tawanya ketika melihat tingkah gadis itu tersebut.

Akhirnya, mereka berdua melangkah bersama melewati zebra cross tanpa suara dan hanya ada kesunyian yang mendera serta hembusan angin yang tiba-tiba saja terasa dingin menusuk.

Hyoae mencoba bergumam, “Kumohon, doaku terkabul.”

“Memangnya apa doamu?”

Hyoae menoleh ke arah Luhan dengan wajah datar. “Memangnya kau perlu tahu?”

“Ah, kau berdoa agar kali ini hujan air ya?”

Hyoae langsung menoleh ke arah Luhan lagi, namun kali ini ia menoleh dengan mata membulat karena terkejut. “Bagaimana kau―”

Tiba-tiba saja, sebuah gumpalan es kecil jatuh tepat di depan mereka berdua hingga ucapan Hyoae menggantung. Mereka saling memandang sesaat. Luhan mencoba menengadahkan tangannya dan meraih salju yang baru saja ia dapatkan dari atas langit.

Seketika, Hyoae dan Luhan semakin terkejut dan tanpa sadar langkah mereka sampai di tepi jalan raya. Mereka saling pandang sejenak.

“Aku menang!”

Hyoae tersentak kaget dan berpikir keras. Hujan salju dan Luhan menang. Kalau begini jadinya, apa permintaan Luhan untuknya?

“Baiklah, kuucapkan permintaanku ya. Tak ada penolakan.”

“Jangan meminta hal yang aneh ya, Oppa,” pinta Hyoae.

“Masa begitu? Tidak bisa.”

“Hei!”

“Kan kau sendiri yang bilang apapun boleh diminta.”

“Ta-tapi―”

“Kalau kau seperti itu, namanya tak adil,” tukas Luhan dengan nada tak terima.

Seketika, Hyoae mati kutu dan memilih diam seribu bahasa. Baiklah, kali ini ia salah dan kalah. Kenapa ia harus mengiyakan hal seperti itu? Dasar Jung Hyoae bodoh! Pikir Hyoae dengan keras.

“Baiklah, dengarkan permintaanku ya.” Luhan tersenyum karena memenangkan pertarungan ini.

Jantung Hyoae berdetak dengan cepat. Baiklah, ini bukan karena kegugupannya, tapi permintaan apa yang akan Luhan minta padanya. Bisa jadi dia meminta Hyoae untuk menjadi budak atau sebagainya. Ah, sepertinya Hyoae ini korban drama televisi.

“Jadilah pacarku.”

Hyoae terdiam dan memandang Luhan yang kali ini sedang tersenyum lembut dengan lekat. Gadis itu mengerjapkan kedua matanya berkali-kali. Tak percaya dengan ucapan pria itu padanya. Jantungnya malah menjadi berdetak sepuluh kali lebih cepat. Wajahnya mendadak menjadi merah padam. Rasanya, gadis itu ingin melompat-lompat kegirangan sembari berteriak dengan keras. Sementara, Luhan masih mengulas senyum di wajahnya.

“Kau mau tidak?” tanya Luhan membuyarkan lamunan Hyoae. “Ingat ya, kau tak bisa menolaknya.”

“Memangnya tak ada yang lebih romantis lagi apa caranya?” tanya Hyoae dengan nada sedikit tak percaya. Jujur saja, walaupun ia sangat senang tapi masih heran kenapa Luhan menyatakan cinta padanya dengan cara yang jauh dari kata romantis.

Tampak, Luhan menggeleng pelan sambil tersenyum. “Tak ada. Aku hanya tahu bahwa aku mencintaimu.”

“Eh?”

“Ingat, tak ada penolakan,” sahut Luhan. “Kau sendiri yang menentukan.”

“Tapi, kan aku―”

Ucapan Hyoae terputus ketika tiba-tiba saja Luhan meraih tengkuk Hyoae dan mencium tepat di kedua belah bibir gadis itu. Pria itu sudah tak peduli dengan lingkungan sekitar dan bahkan membuang payung miliknya. Dalam hatinya, pria itu tak siap menerima penolakan.

Sementara…. Blush! Wajah Hyoae sudah siap seperti tomat rebus.

―FIN―

Iklan

Mind to Review? ^ ^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s