Love Note : 3rd Complicated

love note cover song aeri

© Aeri_Tamie’s Script Writer

Casts : Song Aeri; Kim Jongdae (EXO-M’s Chen); Cho Kyuhyun (Super Junior’s Kyuhyun); Shin Yeonjoo

Other Casts : You can find it in here ^^

Genre : Romance, Drama, Friendship, Comedy Rated : PG-17 Length : Chapter

Disclaimer : 20131025 © Aeri_Tamie

Previous Chapter :

1st Unexpected ║ 2nd (Really) Unexpected

Note      : Special cast Super Junior’s Kyuhyun and EXO-M’s Chen next chapter has coming! Kkk~ 😉 Ini gatau saya mulai bingung dengan jalan ceritanya yang mulai ga saya ngerti /lah, terus gemana ini?/ /lemparpasir/ Sudahlah. Don’t forget, give me a review please. Because, your review like oxygen. Happy reading, guys! ^^

***

» Story 3 : Complicated

“KIM JONGDAE!! AKU BENAR-BENAR TAK HABIS PIKIR!!”

Jongdae langsung menutup kedua telinganya ketika Aeri berteriak keras tepat di sampingnya. Ia sudah menduga jika reaksi Aeri akan seperti ini. Sementara, Aeri masih memasang wajah shock sambil membawa kembali kardus itu dan juga barang belanjaannya. Niatnya ingin membuang barang omong kosong itu menjadi hilang seketika saat ia tahu ia juga akan terlibat dalam permainan yang melibatkan tiga warna note tersebut.

Aeri benar-benar tak habis pikir. Ia? Terlibat? Dalam permainan aneh dan –menurutnya hanya omong kosong belaka itu? Gadis itu benar-benar berharap jika ini hanyalah mimpi!

“Jawab pertanyaanku, kau menyukai Kyuhyun Hyung atau membenci Yeonjoo Noona?”

Aeri menoleh ke arah Jongdae. “Kenapa pertanyaanmu aneh seperti itu?”

“Kalau kau terlibat dalam permainan ‘Love Note’, pasti ada sesuatu salah satu diantara para pemainnya. Jawab pertanyaanku, kau menyukai Kyuhyun Hyung atau membenci Yeonjoo Noona?”

Keduanya, dalam hati Aeri. “Kau sendiri, jangan-jangan kau menyukai Yeonjoo Eonni ya?”

Kali ini malah Jongdae yang mati kutu. Ia terlihat diam saat mendengar pertanyaan Aeri. “E-ehm.. lebih baik kalau kita saling mengaku. Aku tak mau mengaku lebih dulu.”

“Baiklah, aku mengaku kalau aku menyukai Kyuhyun Oppa dan membenci Yeonjoo Eonni,” ungkap Aeri.

“Aku mengaku bahwa aku menyukai Yeonjoo Noona.”

“Mwo?” kata Aeri sambil menoleh ke arah Jongdae. “Sejak kapan? Kenapa kau tak pernah ceritakan hal ini padaku?”

“Ini privasi,” balas Jongdae. “Kau sendiri, sejak kapan menyukai Kyuhyun Hyung dan kenapa kau membenci Yeonjoo Noona?”

“I-itu..” Ucapan Aeri tergantung. “Aaah!! Perlukah kau tahu tentang hal itu? Lebih baik, kau cukup tahu kalau aku menyukai Kyuhyun Oppa!”

Jongdae langsung mengalihkan pandangannya dari Aeri. “Aish, kenapa banyak sekali gadis yang menyukai Kyuhyun Hyung?” gerutu Jongdae yang masih dapat dijangkau Aeri.

“Kenapa juga banyak sekali pria yang menyukai Yeonjoo Eonni?”

Keduanya saling menoleh dan memandang.

“Kau pikir ini lucu? Aish,” kata Aeri. “Aku ini benar-benar kesal tahu! Memang apa hebatnya sih Yeonjoo Eonni itu? Memangnya kau pikir dia itu−“

“Yaa, geumanhae!” seru Jongdae.

Sontak saja, Aeri terdiam dan Jongdae menatap tajam Aeri.

“Lebih baik, kau diam dan ikuti saja permainan ini apa adanya. Jika kau ingin mendapatkan Kyuhyun Hyung, terserah bagaimana caranya. Permainan ini bisa saja membuatmu mendapatkan Kyuhyun Hyung, walaupun peluangnya sangat kecil. Apa perlu kita bekerja sama untuk mendapatkan para pemain ‘Love Note’ yang kita sukai?”

Aeri melongo mendengar ucapan Jongdae. Kata-katanya tentang ‘peluangnya sangat kecil’ itu membuat Aeri merasa sedikit sakit hati. Tapi, apa boleh buat. Memang itu kenyataan yang ada. Karena, pada dasarnya kenyataan adalah hal yang tak akan pernah bisa ia kendalikan, ibarat jam dinding yang tak bisa ia hentikan kapan saja.

“Dan, lebih baik kita tak perlu berdebat seperti ini walaupun kita sesama pemain,” lanjut Jongdae. “Oh ya, di kardus itu pasti ada note berwarna merah jambu dan putih kan? Warna note merah jambu untuk menyatakan cinta dan putih untuk permintaan maaf, tanda menyerah, dan penolakan cinta,” jelas Jongdae.

Tiba-tiba, pikirannya berhenti saat Jongdae menjelaskan tentang note warna putih. “Oh, warna putih untuk hal semacam itu? Jinjjayo?” kata Aeri dengan nada terkejut.

Sontak saja, Aeri mengeluarkan note warna putih dari dalam kardus yang  ia bawa kemudian ia berikan pada Jongdae. “Aku menyerah.”

Jongdae menatap Aeri datar. “Masukan note putih itu. Tak ada gunanya. Kalau kau ingin menyerah, harusnya kau memberikan note warna putih itu kepada semua para pemain.”

Dengan terpaksa, Aeri harus memasukkan kembali note warna putih itu. Pokoknya, aku harus memikirkan caranya agar aku bisa bebas dari situasi sulit seperti ini! Pikir Aeri dengan keras.

“Ah ya, warna milikmu itu untuk pengungkapan perasaan yang lebih detail, meminta berbagai macam permintaan –tapi dengan syarat seseorang yang diminta menyetujuinya juga dan juga seorang pemain ‘Love Note’, bisa juga untuk menerima pernyataan cinta jika kau mendapatkan note warna merah jambu dari salah satu pemain ‘Love Note’. Pulpen di sana juga berguna untuk menulis di kumpulan note-note itu,” kata Jongdae menambahkan.

Oh, pantas saja tadi aku menemukan sebuah pulpen berwarna biru. Ada pulpen khususnya juga ya, pikir Aeri. Aku harus keluar dari permainan ini. Harus!

***

Esok paginya, Aeri keluar dari kamarnya dengan wajah lelah. Kedua matanya bahkan sudah membentuk sebuah bulatan hitam. Semalam ia tidak bisa tidur karena terus memikirkan bagaimana caranya agar ia bisa keluar dari permainan ‘Love Note’ itu. Padahal, dipikirannya selama memejamkan mata malam itu hanyalah ‘Permainan itu saja tak memikirkanku, kenapa aku harus memikirkannya?’ –namun, sepertinya pikiran itu hanya datang sekelebat bak angin lalu.

Namun, sugesti semacam itu tidak mempan untuk otak Aeri, malah pikirannya semakin menjadi. Ah, ia benci sekali jika sudah seperti itu.

“Yaa! Ri-ya! Kenapa dengan kedua matamu itu? Kau tidak tidur semalaman atau ingin memiliki mata panda seperti Tao?” tanya Baekhyun –teman asramanya dengan heran saat ia berjalan menuju ruang televisi dan melihat Aeri seperti itu. Tampak, tangan Baekhyun saat itu membawa buku tentang ilmu kedokteran.

Aeri hanya bisa menempelkan pipinya di depan pintu kamarnya dengan lesu sambil memejamkan kedua matanya. “Aku kurang tidur,” jawab Aeri singkat. Dan, tentu saja memikirkan permainan konyol yang kini sedang kualami, lanjut Aeri dalam hati. “Sudah jam berapa ini?”

“Jam 9 pagi.”

Seketika, Aeri langsung membulatkan kedua matanya. “MWO?!” teriaknya seraya kembali masuk ke kamarnya. Braakk!! Terdengar sekali, Aeri membanting pintunya dengan keras. “Hari ini ada jadwal!”

Sementara, Tao, Youngmi, Yoora, Sehun, dan Baekhyun memandang pintu kamar nomor 7 dengan aneh dari ruang televisi.

“Dia kenapa?” tanya Tao.

“Wajahnya tadi sempat terlihat lesu kan?” tanya Sehun.

“Apa telah terjadi sesuatu?” kata Baekhyun.

“Aish, selalu saja,” gumam Youngmi.

“Sudahlah, mungkin dia sedang banyak pikiran,” celetuk Yoora.

Sementara, beberapa menit kemudian, Aeri keluar dari kamarnya dan berjalan cepat walaupun kepalanya saat ini sangat pening. Kali ini, ia memakai jeans hitam panjang, kardigan cokelat muda berlengan sesikut tangannya, dan kaus lengan pendek berwarna kuning serta dengan sepatu sandal. Ia juga memakai kacamata berbingkai hitam agar mata pandanya karena kurang tidur tersamarkan.

Ia tak boleh membolos hanya karena urusan sepele semacam ini. Oke, ia tak boleh kalah dalam masalah seperti ini. Lihat saja, ia akan keluar dari permainan itu.

Saat langkahnya sampai di kampusnya, Aeri langsung mempercepat langkah kakinya menuju kelas sesuai jadwal hari ini. Namun, sebuah tangan yang kokoh berhasil menahannya untuk tetap melangkah. Aeri langsung menoleh dengan wajah kesal. “Siap−“

“Ri-ya.”

Kedua mata Aeri langsung membulat begitu tahu siapa. “Kyuhyun Oppa?”

“Apa hari ini kau ada waktu?”

***

“Aku ingin tahu sesuatu.”

Aeri langsung memandang Kyuhyun dengan pandangan tanda tanya saat ia telah sadar dari lamunannya seraya menyedot jus jambunya di meja kantin. Aeri sengaja merelakan absen di kelas pertama demi Cho Kyuhyun. Oh, kali ini ia melupakan perasaannya pada pria itu. Ia lebih memusatkan pada apa yang ingin dibicarakan Kyuhyun.

“Tentang apa?” tanya Aeri kemudian setelah mereka saling memandang tak lama. Mungkin, Kyuhyun sendiri sepertinya ingin mendengar reaksi Aeri.

“Ceritakan padaku,” ujar Kyuhyun setelah terdiam sejenak. “Tentang bagaimana kau bisa mendapatkan permainan itu.”

“’Love Note’ maksudmu?” tanya Aeri dengan malas. Oke, topik pembicaraan antara Kyuhyun dan Aeri tentang sesuatu yang kini sedang ia benci. ‘Love Note’.

“Bagaimana kau bisa mendapatkannya, Ri-ya?” tanya Kyuhyun serius. “Jawab aku, Ri-ya.”

Aeri yang medengarnya langsung mengendus. “Aku harus menjelaskannya bagaimana lagi, Oppa? Kemarin aku sudah menjelaskan semuanya,” ujar Aeri. “Secara detail,” lanjutnya dengan menekan setiap katanya.

“Tapi, tak mungkin hanya dengan sebuah kiriman paket dari kantor pos,” sahut Kyuhyun. “Aku sangat tahu itu.”

“Kyuhyun Oppa,” panggil Aeri dengan gusar. “Ada apa denganmu sebenarnya? Aku hanya menerima permainan itu berupa sebuah kardus dari kiriman paket. Memangnya siapa lagi yang ingin mengirimkan permainan konyol itu? Tak mungkin kedua Eonni-ku. Dan, Joohwa juga tak akan pernah melakukan hal yang seaneh itu. Lagipula, ia juga tak mau repot-repot mengirimkan benda hal semacam itu.”

“Jadi, kau mulai curiga padaku?”

Aeri memandang Kyuhyun tak mengerti. Tak tahu apa maksud Kyuhyun. “Apa maksudmu sekarang, Oppa?”

“Jadi, kau mulai mencurigaiku bahwa aku yang mengirimkan permainan itu padamu?”

Sontak saja, Aeri menatap Kyuhyun tak percaya. Kali ini, tatapannya lebih menusuk ke arah Kyuhyun. Kyuhyun pun tak mau kalah. “Kau ini sakit jiwa ya, Oppa? Aku bahkan sama sekali tak pernah berpikir seperti itu. Kenapa kau malah berpikir sejauh itu, sih?”

“Mendengar ucapanmu seperti itu membuatku−“

“Aish, dwaesseo, Oppa!” Aeri langsung menukas ucapan Kyuhyun sambil menggebrak meja kantin dengan kesal. “Aku bingung dengan jalan pikiranmu!”

Aeri berbalik dan berjalan meninggalkan Kyuhyun. Untung saja, jus jambu miliknya tadi sudah habis. Kalau belum habis, bisa-bisa ia akan kembali berbalik dan kembali pergi dengan membawa gelas itu. Tetapi, pikirannya masih kesal atas ucapan Kyuhyun. Pria itu malah menuduhnya yang tidak-tidak, padahal sejak awal ia menerima permainan itu, ia tak pernah berpikir jika Kyuhyun yang melakukan itu. Baiklah, berkat ucapan Kyuhyun tadi berhasil membuat Aeri sempat curiga pada Kyuhyun. Aah, pikiran itu gara-gara tadi! Gerutu Aeri dalam hati.

Sedangkan Cho Kyuhyun, ia hanya menatap punggung gadis itu yang semakin menjauh. Padahal, ia hanya tidak ingin gadis itu terlibat dalam permainan yang sudah ia mainkan bersama Jongdae dan Yeonjoo sejak lama. Ia hanya ingin berusaha melindungi gadis itu agar tetap tak tahu apapun tentang permainan itu. Ia hanya tidak ingin gadis itu terluka.

Sementara, Jongdae yang sedang mencari-cari Aeri di kampus tak kunjung ia temukan. Padahal, hari ini ia akan membicarakan tentang ‘Love Note’ pada Aeri. Tapi, sepertinya sia-sia karena sempat mendengar dari rekan kuliah Aeri yang mengatakan bahwa Aeri sedang sakit.

“Song Aeri katanya sedang sakit jadi tidak masuk kelas hari ini, sunbae.”

“Ah, begitu. Gamsahamnida.”

Jongdae mendesah kesal. “Kenapa dengan anak itu sih? Apa dia begitu kesulitan atas permainan ini?” tanyanya bermonolog.

Namun, pandangannya langsung berubah saat mendapatkan sosok yang ia cari selama ini. Aeri sedang berjalan dengan wajah kesal. Sontak saja, Jongdae berrteriak keras.

“Ri-ya!”

Aeri langsung mendongak, memandang Jongdae dengan pandangan penuh tanya. Baiklah, kekesalannya tadi sudah mulai pulih berkatnya, pikir Aeri. “Ada apa?”

“Aku hanya ingin membicarakan tentang−“

“’Love Note’? Lagi?”  potong Aeri tanpa basa-basi. Kekesalan yang ia kira sudah pulih, kini menyulut lagi berkat Jongdae dan permainan ‘Love Note’ itu. “Aaah, geumanhae! Jangan bicarakan itu lagi!”

Aeri berjalan melewati Jongdae dengan wajah dongkol. Sementara, Jongdae yang ingin bicara langsung terdiam. Apa sekarang tingkah bocah ingusan itu sudah seperti seorang peramal atau cenayang? Kenapa ia tahu sekali jalan pikiranku? Pikir Jongdae dengan aneh. ‘Lagi’? Apa maksud ucapannya tadi?

***

“Jadi, tadi Hyung menanyakan hal itu pada Aeri?”

“Tentu saja. Kau pikir ini hanya permainan biasa? Kupikir, gadis itu tak akan pernah terlibat dalam hal ini.”

“Hyung itu jangan terlalu menuduhnya juga. Kau tahu, Aeri tadi sangat marah.”

“Karena apa? Karena aku menuduhnya?”

Jongdae dan Kyuhyun sedang duduk di sebuah café dekat kampus mereka. Mereka berbicara serius tentang ‘Love Note’ –dan, tentu saja keberadaan Aeri kini sebagai pemain dalam permainan itu sembari meminum black coffee dan cappucinno.

Tampak, Jongdae menghelakan napas panjang saat mendengar perkataan Kyuhyun. “Kyuhyun Hyung, ada apa denganmu sih?”

“Tidak ada yang terjadi pada diriku, Jongdae-ya,” ujar Kyuhyun sambil menatap lurus Jongdae. “Aku hanya berpikir, gadis itu tak pernah terlibat –ah, bahkan tak pernah tahu tentang ini.”

“Tapi, Hyung,” sahut Jongdae. “Kenyataan tidak begitu.”

“Aku hanya tak ingin gadis itu terluka. Benar-benar tak ingin ia terluka,” kata Kyuhyun. “Cukup salah satu dari kita saja yang terluka. Kalau aku sih sudah siap, namun aku tak tahu bagaimana dengan dirimu.”

“Aku siap,” ucap Jongdae mantap. “Aku bahkan sudah menyiapkannya sejak lama.”

“Tapi, Jongdae-ya,” kata Kyuhyun. “Kita sudah berjalan jauh sampai ke titik ini. Kita harus mulai serius. Kau tak boleh lengah dan terlambat, sebelum aku yang melangkah lebih maju untuk mendapatkan hati Joo.”

Jongdae langsung menyeringai dan memandang Kyuhyun tak senang. “Jadi, sekarang topik pembicaraan kita beralih ke semula?”

“Tentu saja,” ujar Kyuhyun. “Jangan lengah. Lebih baik, kau maju selangkah sebelum aku berlari cepat meninggalkanmu.”

“Jadi, sekarang saatnya Hyung menantangku lagi?”

“Hya, kau sudah lupa ya tujuannya permainan ini? Kita kan sudah melakukan hal ini sejak lama. Bukan hanya sekali dua kali saja.”

“Dan, selalu saja berakhir seri.”

“Kau bahkan masih ingat itu, Jongdae-ya.”

“Baiklah. Kita lihat saja nanti.”

***

“Aaaah!!”

“Kau kenapa sih, Ri-ya?”

Aeri mendongakkan kepalanya saat ia menelungkupkan kepalanya diatas meja, menatap Youngmi yang kini sedang menyajikan caramel macchiato pesanannya. Kini, Aeri sedang berada di café tempat Youngmi bekerja paruh waktu. Ia masih menatap Youngmi lama, hingga Youngmi memutuskan untuk duduk dihadapannya.

“Ada apa? Ah, kau tak pernah cerita sih. Kurasa, akhir-akhir ini kau sepertinya sedang memikirkan sesuatu,” tutur Youngmi.

Aeri ingin mengatakan tentang permainan itu, namun tak jadi ketika kedua matanya melihat sesosok pria tampan bertubuh tinggi dengan kuping besarnya sambil tersenyum dibelakang Youngmi. Tangannya menggenggam sebuah buket bunga mawar merah jambu dan bahu kanannya tergantung sebuah tas berisi gitar. Karena penasaran dengan pandangan Aeri, Youngmi pun mengikuti arah pandang Aeri.

“Annyeong,” sapa pria itu.

“Chanyeol Oppa,” gumam Aeri pelan. Park Chanyeol merupakan teman asrama Aeri juga yang tempatnya bersebelahan dengan Baekhyun.

“Annyeong haseyo,” sapa Youngmi dengan sopan saat ia menghampiri Chanyeol.

“Hya, kau kan pacarku. Kenapa seformal ini?” tanya Chanyeol dengan nada aneh.

“Oppa!” pekik Youngmi pelan sambil mencubit lengan Chanyeol.

Oke, niatan Aeri untuk mencurahkan isi hatinya pada Youngmi tak jadi berkat kedatangan si kuping besar itu. Aah! Dasar Park Chanyeol perusak suasana hati orang! Gerutu Aeri dengan sebal. Aeri berusaha sabar. Dengan cepat, Aeri langsung menghabiskan jus jambunya dengan sekejap dan berjalan meninggalkan kafe itu.

“Oh, Ri-ya kau mau ke mana? Caramel macchiato-nya bagaimana?” tanya Youngmi bingung saat Aeri sudah berjalan menuju kasir.

“Caramel macchiato-nya kubawa. Aku ada urusan. Sampai jumpa,” pamit Aeri sambil tetap berjalan dan tak memandang Youngmi dan Chanyeol.

Sepanjang perjalanan Aeri –yang entah ke mana, wajah Aeri tampak tertekuk. Dahinya bekerut, bibirnya mulai menunjukan ekspresi antara kesal, bingung, dan penuh dengan beban. Bagaimana tidak, menurutnya didalam tas punggungnya ini terdapat sebuah benda yang menurutnya sangat berat, bahkan lebih berat dari beberapa truk.

Akhirnya, Aeri memutuskan untuk duduk disebuah bangku panjang yang terbuat dari kayu. Lalu, menaruh tas punggungnya jauh dari tempatnya duduk. Sesekali, ia terdiam sambil menutup wajahnya –lebih tepatnya hanya menutup kedua matanya dan kedua matanya melirik ke arah tas punggungnya itu.

“Aah~ Eotthokhae?” ucap Aeri dengan nada lirih. Rasanya ia ingin sekali menangis sekencang-kencangnya.

Kedua matanya kembali melirik tas punggung miliknya itu. Kemudian, ia mengeluarkan isi tas punggung itu yang ternyata berisi kumpulan note tiga warna itu diantara sekian buku-buku kuliah milik Aeri.

“Aku harus bagaimana ini~?” ucapnya lagi. “Aah, Eomma~”

Aeri mencoba mengambil kumpulan note itu dan mengambil penanya. Yah, dia memang harus memulai permainan ini.

“Apa yang sedang kau lakukan di sini?”

Sontak saja, Aeri langsung tersentak kaget dan secara tak sengaja semua benda yang ia pegang berjatuhan. Jongdae yang sedang berjalan santai dan tanpa sengaja memandang Aeri langsung membantu Aeri mengambilkannya.

Setelah diambilkan, Aeri langsung kembali menaruh kumpulan note itu di atas bangku. Jongdae yang melihatnya hanya bisa mengernyitkan dahinya.

“Kenapa ditaruh lagi? Bukannya kau ingin menulis sesuatu?” tanya Jongdae.

“A-aku.. tidak berani, Jongdae-ya,” ungkap Aeri. “Aku takut!”

Jongdae langsung memandang Aeri dengan tak percaya. “Kau pikir permainan ini hantu atau semacamnya? Jangan bercanda.”

“Kau pikir ini mudah apa? Memang mudah untuk diucapkan, tapi sulit sekali untuk dilakukan,” ungkap Aeri lagi dengan wajah kesal.

Mereka saling terdiam. Bingung ingin mengatakan apa selanjutnya.

“Kau pernah dengar buku tentang ‘Seven Habits’ tidak? Buku itu memberikan dan menjelaskan bagaimana menjadikan kita sebagai orang sukses. Pada langkah pertama, dijelaskan seperti apa orang yang memiliki bahasa yang proaktif dan reaktif. Dan sepertinya, orang-orang sepertimu itu termasuk reaktif, kau tahu tidak? Memangnya kau ingin menjadi seseorang yang reaktif? Seharusnya, langkah pertama menuju kesuksesan menurut buku itu kita harus menjadi seseorang yang proaktif tahu,” kata Jongdae panjang lebar pada Aeri.

Sementara, Aeri ternganga mendengar ucapan Jongdae sambil mengerjap-ngerjapkan kedua matanya berkali-kali. Sebenarnya, apa yang dibicarakan oleh pria ini? Apa sekarang tingkah Kim Jongdae sudah seperti dosennya yang sedang menjelaskannya mata kuliahnya secara panjang lebar hingga membuatnya mudah tertidur?

“Mwo?” ucap Aeri nyaris tanpa suara.

“Ck, lebih baik kau baca buku itu! Jangan yang ada dipikirannya hanyalah buku novel saja!”

Aeri langsung menatap Jongdae sebal dengan wajah bersungut-sungut. Orang ini selalu saja tahu apa yang ia sukai ataupun apa yang sedang ia pikirkan. Gadis itu hanya bisa menghelakan napas panjang sambil menengadahkan wajahnya ke langit. “Jongdae-ya.”

“Hmm?”

“Bagaimana bisa kau menyukai Yeonjoo Eonni?”

Jongdae terdiam. Kemudian, ia menyunggingkan bibirnya ke atas. Tersenyum yang penuh dengan perasaan pahit. Pandangan matanya terarah lurus ke depan. “Kau sendiri, apa kau punya alasan untuk menyukai Kyuhyun Hyung?”

Aeri melirik ke arah Jongdae sekilas. Bingung harus menjawab apa.

“Bingung ya? Kau pasti bingung. Karena, aku juga bingung,” ucap Jongdae sambil tertawa miris. “Karena, pada dasarnya mencintai seseorang itu tanpa adanya alasan. Tuhan telah menciptakan perasaan seperti ini dengan sebagaimananya. Berbagai perasaan pasti muncul ketika kau mencintai seseorang. Perasaan senang saat melihat wajahnya, perasaan gugup ketika bertemu dengannya, jantung yang selalu berdegup kencang saat ia tersenyum, bahkan perasaan sedih dan sakit bisa muncul secara bersamaan ketika ia mengatakan bahwa ia menyukai orang lain dan diri kita yang mencintainya tak pernah ingin kehilangannya..”

Aeri meresapi ucapan Jongdae perlahan. Setiap kata yang diucapkan Jongdae ia benarkan semuanya dalam hati. Terutama, untuk perasaan yang Jongdae ucapkan terakhir sangat ia benarkan. Bahkan, sudah ia siapkan sejak lama.

“Nah, lebih baik kau mulai saja permainan perdanamu ini. Aku akan sangat menunggunya, Nona Song Aeri. Aku ada jam berikutnya. Sampai jumpa!” kata Jongdae yang kini mulai menyeringai dan berjalan berjalan meninggalkan Aeri.

Aeri masih terdiam. Apakah perasaan cinta yang dimiliki seorang pria yang konyol dan selalu tersenyum bernama Kim Jongdae pada Shin Yeonjoo sama dalamnya dengan dirinya yang amat mencintai seorang pria tampan memiliki evil smirk bernama Cho Kyuhyun?

Aeri kembali menghelakan napas panjang. Cinta itu rumit.

***

Dua minggu sudah terlewatkan begitu saja. Dan, Aeri tetap saja memikirkan tentang permainan itu tanpa sadar.

Pagi hari, Kyuhyun kembali mengajak Aeri lari pagi setelah dua minggu terakhir ini mereka tidak bertemu lantaran bertengkar secara tak sengaja. Maka dari itu, suasana canggung lebih menyeruak ketimbang suara teriakan dan omelan dua orang yang sering berdebat ini. Seharusnya, kalau dipikirkan kembali pertengkaran dua minggu yang lalu sudah dianggap biasa karena sering sekali memperdebatkan apapun –termasuk yang sepele. Namun, karena masalahnya serius jadi bertengkar sungguhan. Bahkan, mereka sempat tak mau saling tegur sapa.

“Ri-ya,” panggil Kyuhyun setelah terdiam sejak lama, bahkan sejak mereka mulai berlari bersama. Ia menoleh ke arah Aeri yang sedang minum dan duduk di sebelahnya. “Mianhae.”

Seketika, tubuh Aeri berhenti bergerak. Kemudian, ia menoleh ke arah Kyuhyun dengan wajah datar hanya sekilas. “Memang apa salahmu?”

“Salahku banyak.”

“Aku juga tahu salahmu banyak ke semua orang. Termasuk padaku.”

“Maka dari itu, aku ingin mengatakan sesuatu.”

“Ya sudah, cepat katakan sebelum aku benar-benar menyumpal kedua telingaku dengan earphone.”

“Yaa!! Tapi, tataplah aku!”

“Hya,” Setelah bicara tanpa menatap sang lawan bicara, akhirnya Aeri memandang Kyuhyun dengan sebal. “Kalau ingin mengatakan sesuatu, cepat katakan. Tujuanmu ingin bicara tidak untuk diperdebatkan kan?”

Akhirnya, untuk pertama kalinya Kyuhyun menghelakan napas panjang. “Mianhae, aku telah menuduhmu yang tidak benar adanya.”

“Lalu?” tanya Aeri.

“Apalagi?” kata Kyuhyun balik bertanya.

“Kau mau mengatakan apalagi?”

“Itu saja.”

“Oh.”

“Jadi, kau tak mau memaafkanku?”

“Hmm, bagaimana ya?”

“Heh!”

“Apa?”

“Kau benar-benar tak mau memaafkanku?”

Aeri kembali menoleh ke arah Kyuhyun yang masih memasang wajah datar. “Ne, kureom.”

“Kau yakin?”

“Tidak juga.”

“Hyaaa!!”

Kyuhyun mulai menjahili Aeri dengan cara menarik rambut yang diikat Aeri. Sementara, Aeri yang tak mau kalah mulai mencengkram rambut Kyuhyun pula.

“Oppaa~!!” jerit Aeri yang mulai meringis kesakitan.

Perlahan, Kyuhyun melepaskan rambut Aeri. Kemudian, ia mengacak-acak rambut Aeri yang sudah berantakan. Aeri semakin kesal dibuatnya. “Kyuhyun Oppaa!!”

“Arraseo! Arraseo!”

Kyuhyun mulai berhenti melakukan aktivitasnya. Kini, ia memandang wajah Aeri yang masih kusut yang sedang mengambil botol minumnya. Pria itu masih berpikir keras tentang apa yang terjadi dengan gadis yang sedang di sebelahnya ini.

“Kau masih marah?” tanya Kyuhyun penuh selidik.

“Aniyo,” ujar Aeri singkat.

Kyuhyun masih saja memandang Aeri dengan lekat. Jujur saja, kini ia sangat tak suka atas sikap Aeri yang berubah drastis ketika berhadapan dengannya. “Ri-yaa!!”

“Kenapa sih?!” tanya Aeri dengan gemas sambil menoleh ke arah Kyuhyun.

Namun, kedua bahu Aeri langsung dipegang erat oleh Kyuhyun, sehingga tidak memungkinkan Aeri untuk tidak menatap intens dengan Kyuhyun. Jantungnya mulai berdegup kecang dan napasnya mulai tak teratur. Oh, ayolah ini hal biasa bagi Cho Kyuhyun, jangan kau anggap ini langka, bodoh, pikir Aeri.

Kedua bola mata cokelat tua milik Aeri bergetar, bermaksud tak ingin memandang kedua bola mata milik Kyuhyun lebih lama dari perkiraannya. Tapi, Kyuhyun masih berusaha agar Aeri menatap manik matanya. “Ri-ya!”

“Ada apa?!” tanya Aeri dengan nada setengah membentak.

“Seharusnya, aku yang bertanya itu padamu! Kau kenapa?! Ada apa denganmu?!” bentak Kyuhyun.

“Tidak ada yang terjadi padaku!” seru Aeri ikut kesal. “Memangnya kenapa jika sesuatu telah terjadi padaku, Oppa?!”

“Aku mengkhawatirkanmu,” ucap Kyuhyun pelan yang mampu membuat Aeri diam dan menatapnya.

Aeri masih diam menatap Kyuhyun. Telinga dan pikirannya mencoba mencerna apa yang baru saja ia dengar dari mulut pria itu. Hatinya mendadak lega setelah semua bebannya sepertinya keluar dari tubuhnya. Benarkah? Orang ini benar-benar mengkhawatirkannya?

“Mwo?” kata Aeri sambil mengerjap-ngerjapkan kedua matanya berkali-kali.

“Aku mengkhawatirkanmu,” ucap Kyuhyun dengan nada diperlambat. Sehingga, tak memungkinkan Aeri untuk tidak mendengarnya.

“Kau?”

“Tentu saja, adik kecil,” ujar Kyuhyun dengan tersenyum sambil kembali mengacak-acak rambut Aeri.

Namun, untuk kedua kalinya Kyuhyun lakukan itu pada Aeri, kini Aeri malah terdiam. Ia mencoba kembali mencerna ucapan Kyuhyun. Beberapa detik setelah itu, Aeri mulai tersenyum. Ucapan Kyuhyun tadi ternyata mulai menghangat hatinya. Sial, ternyata ia mudah luluh dengan ucapan seperti itu.

***

Siang hari, sepanjang kelas yang dilakukan Aeri hanyalah tersenyum malu-malu. Pikirannya terus mencoba mereka ulang suara berat dan khas milik Kyuhyun tadi pagi. Ah, pasti sekarang ia sudah bisa dikatakan gila. Gila karena cinta pada Cho Kyuhyun. Hahaha, tawa Aeri dalam hati.

Bahkan, sepertinya gadis itu tak pernah menyadari jika semua orang meliriknya dengan aneh bahkan saat ia berada di kantin. Ia tak peduli. Yang ia pedulikan hanyalah menikmati jus jambunya seraya ucapan pria itu yang terus terngiang di telinganya.

“Heh, Ri-ya!”

Aeri langsung tersentak kaget. Kedua matanya langsung melirik ke atas, memandang sosok yang sangat ia kenal. Namun, kali ini bukan Jongdae, melainkan Park Youngmi.

“Oh, kau,” kata Aeri pelan.

“Berhenti seperti orang gila, Ri-ya,” ucap Youngmi seolah sudah tahu jalan pikiran Aeri. “Hmm, coba kutebak. Kyuhyun Sunbae pasti baru mengatakan sesuatu padamu.”

Sontak saja, Aeri memincingkan kedua matanya pada Youngmi yang kini sedang menyeringai. Bagaimana bisa teman asramanya ini membaca jalan pikirannya?

“Youngmi-ya, apa profesimu sekarang seorang peramal baru? Bukan pelayan di café lagi?” tanya Aeri tiba-tiba.

Seketika suasana menjadi hening diantara Youngmi dan Aeri. Keduanya sama-sama sedang mulai berpikir. Youngmi memikirkan apa yang barusan diucapkan oleh Aeri. Peramal? Aku? Katanya dia bilang aku berprofesi sebagai peramal?

Sementara, Aeri mulai berpikir ulang tentang ucapannya. Aku tadi bilang apa? Kenapa ucapanku jadi begitu aneh?

“Kau bicara apa sih?” kata Youngmi sambil tertawa aneh. “Hari ini ada apa denganmu? Ah, tak seru! Kau tak pernah bercerita padaku!”

“Hya, hya, hyaa, cerita apa memang? Tak ada yang seru ceritaku,” kata Aeri sambil mengibaskan tangannya.

“Hmm, pembohong.”

Jleb! Bagaikan sebuah pisau yang langsung menacapkan di hati Aeri tanpa basa-basi. Sambil menelan ludah, Aeri berusaha menahan senyum. “Gumawo untuk itu, akan kuanggap sebagai pujian.”

Youngmi tertawa mendengar ucapan Aeri sejenak. “Oh ya, tadi pagi aku sempat menonton prakiraan cuaca di televisi. Hari ini cuaca sedang tak bersahabat dan kuharap kau membawa payungmu.”

“Arrayo,” kata Aeri sambil mengangguk-angguk pada Youngmi. “Ah ya, nanti malam aku pinjam novelmu ya.”

“Kureom,” jawab Youngmi. Kemudian, gadis bertubuh tinggi kurus itu melirik arlojinya. “Aku harus pergi, Ri-ya. Chanyeol Oppa sudah menjemputku. Kau tahu, dia mengajakku ke Lotte World. Kkk~ Sampai jumpa di asrama!”

“Mau apa kau ke sana?” tanya Aeri heran.

“Apalagi selain kencan,” ujar Youngmi sambil tersneyum malu-malu. “Sudah ya!”

“Sampai jumpa!” balas Aeri sambil tersenyum dengan pandangan mata terarah lurus menatap pungung Youngmi yang semakin menjauh.

Setelah beberapa menit sesudah kepergian Youngmi, akhirnya Aeri meninggalkan kantin yang sudah lenggang itu. Kemudian, langkah kakinya berjalan menuju lapangan basket. Niatannya adalah ingin duduk sendirian di kursi penonton.

Namun, saat baru saja berlari kecil masuk ke lapangan, Aeri melihat dua sosok yang sangat ia kenali sedang duduk diantara sekian kursi penonton. Ia mengenali mereka, yang satu sosok yang sangat ia cintai dan sosok yang sangat ia benci. Cho Kyuhyun dan Shin Yeonjoo.

Tubuh Aeri mulai membeku, tubuhnya mulai tak peka oleh sentuhan air hujan yang tiba-tiba datang dengan agak deras. Aeri tak berusaha melindungi diri. Jantungnya mulai berdegup kencang. Bahkan, hatinya lebih sakit saat melihat Yeonjoo dan Kyuhyun pergi meninggalkan lapangan basket sembari berlindung dengan satu payung dan bergandengan tangan. Ia merasakan kedua matanya mulai memanas dan menunduk dalam-dalam.

Sebuah payung berhasil melindungi tubuhnya sebelum benar-benar basah kuyup. Aeri mendongak dan mendapati Jongdae yang kini sedang menyeringainya.

“Jongdae-ya..” ucap Aeri pelan.

“Jadi kau mau sakit ya? Kenapa tidak cepat berlindung sih? Ayo, lari!”

Jongdae langsung merangkul tubuh Aeri dan berlari. Perasaan sedikit sakit Aeri masih membekas dalam dirinya. Ia mencoba mengendalikan dirinya dan kembali berpikir bahwa ia masih memiliki peluang untuk menyukai Kyuhyun. Sementara, Jongdae yang juga melihatnya hanya diam. Dalam dirinya juga ia sudah sangat siap jika kejadian seperti itu kembali terulang.

Jongdae langsung berteduh di depan koridor kampus. Kemudian, mereka duduk di anak tangga koridor tersebut. Mereka saling terdiam mendengar rintik hujan yang masih deras.

“Kau melihatnya?” tanya Jongdae pada Aeri berusaha memulai pembicaraan.

Aeri masih saja diam. Ia tak ingin mengatakan apapun tentang hal yang ia lihat tadi.

“Ah, lupakan,” kata Jongdae lagi, kini dengan nada agak menyesal. “Ah, sudah dua minggu permainan ini berjalan dengan adanya kau. Kapan kau akan memberikan note pertamamu?”

Aeri lama berpikir, hingga membuat Jongdae bosan. “Aish, kenapa lama sekali!”

“Aku sendiri juga bingung harus memulai hal seperti ini dari mana,” ujar Aeri pelan. “Jongdae-ya..”

“Hmm?” tanya Jongdae sambil memandang Aeri.

“Kyuhyun Oppa..” Untuk pertama kalinya, Aeri membicarakan Kyuhyun tepat di depan Jongdae. “Entah karena aku yang terlalu berharap atau Kyuhyun Oppa yang terlalu memberikanku sebuah harapan besar. Tapi.. aku jadi merasa membenci diriku sendiri.”

“Kenapa begitu?”

“Mollayo,” ungkap Aeri. “Tapi, peluangku untuk mendapatkan Kyuhyun Oppa masih ada kan walaupun sedikit? Masih kan?”

“Emm, aku tak bisa menjamin itu.”

“Aaah! Kau kan sudah janji padaku, Jongdae-ya!” seru Aeri.

“Memangnya kapan aku bilang janji? Tak ada jaminannya tahu!” ujar Jongdae. “Aku sendiri sudah menyangka hal ini akan terjadi. Kyuhyun Hyung sudah menjanjikan hal itu padaku.”

“Mwo?” tanya Aeri dengan nada tak percaya.

“Ah iya, masalahnya kau ini seorang gadis yang menyukainya ya,” kata Jongdae sambil menghelakan napas panjang. “Menurutku, lebih baik kau berikan saja note pertamamu padanya.”

Aeri diam, memandang rintik hujan yang kini mulai mereda.

― To be Continued ―

Iklan

5 thoughts on “Love Note : 3rd Complicated

    1. Haiii, selamat datang di blog penuh ff kyuhyun chen /sodorinffmereka/
      Waaaahh, kita sama. Mereka juga ultimate biasku bangeeeett. Tapi sih, sekarang lagi demen banget sama muka bebek jongdae. Wkwk
      Thank you buat review dan udah bacaa ^^

  1. eon aku udah baca tiap chapternya, menarik sekali, jd enjoying banget waktu bacanya. disaat udah baca tiap kalimatnya, pengennya baca terus kkk~ penasaran banget buat kelanjutannya, aku menunggu. penulisannya rapih menurutku. ah aku bukan seorang penulis jd kurang tau apa-apa, tapi aku cukup merasakannya, alurnya bagus, tidak monoton. apalagi ada kyuhyun disini ^^ terus berkarya !

    1. hihihi, terima kasih buat reviewnya ya, sangat membantu sekali dan kembali mendorong saya untuk melanjutkan ff ini >_< kkk~
      tunggu aja ya, saya sedang sibuk dengan tugas. insyaAllah, akan saya lanjutkan ff ini lagi ^^

Mind to Review? ^ ^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s