Sweet Moment on Crimson Tree

1353654647559374727

© Aeri_Tamie’s Script Writer

Casts : Song Aeri; Kim Jongdae (EXO-M’s Chen)

Genre : Romance, Friendship, Comedy ║ Rated : PG-15 ║ Length : Ficlet

***

“Ri-ya!”

Aeri menoleh ke sumber suara dengan malas. Kedua matanya yang masih terpejam karena baru terbangun, berusaha membuka kelopak matanya dengan susah payah. Tampak, Jongdae datang menghampiri Aeri dengan sepedanya sambil tersenyum. Suasana di taman bermain sudah sepi lantaran langit sudah sberganti menjadi malam dan didukung oleh angin sejuk yang berhembus.

“Kau tidur ya?” terka Jongdae.

Aeri hanya membalasnnya dengan memutarkan kedua matanya malas, kemudian kembali menunduk. Udara malam di musim gugur agak dingin tidak seperti waktu pagi hari yang terasa sejuk.

“Ada apa sih kita keluar malam-malam begini?” tanya Aeri dengan nada malas sambil merapatkan mantel cokelat tuanya serta syalnya. “Hari ini aku agak lelah.”

“Aku punya kejutan untukmu.” Jongdae tersenyum ketika melihat gadisnya itu masih memejamkan kedua matanya. “Ayo, kita bermain sepeda.”

Segera, tubuh Aeri menegak dan kedua kelopak matanya terbuka secara sempurna. “Sepeda?” tanya Aeri sambil memandang Jongdae tak percaya. Terdengar, intonasi ucapannya agak terkejut.

Jongdae tekikik geli ketika melihat tingkah kekasihnya itu. Kemudian, ia mendekati dan duduk di hadapan Aeri seraya membenarkan topi rajut yang berada di kepala gadisnya itu. “Jangan terkejut seperti itu.”

Aeri menatap Jongdae sebentar. Kemudian, ia mengeluarkan sesuatu dari saku mantelnya. Sebuah topi rajutan berwarna abu-abu. “Pakailah.”

Jongdae agak kaget saat Aeri melakukan hal itu. “Kau mendapatkan ini dari mana?” tanya Jongdae dengan nada selidik.

“E-hmm,” Aeri agak tergagap ketika menjawabnya. Ia mencoba berpikir sejenak. “Eomma yang membuatnya untukmu. Ya, Eomma,” jawab Aeri dengan nada berusaha meyakinkan Jongdae.

Jongdae menatap Aeri lekat, kemudian mengangguk mengerti. “Titipkan terima kasihku untuk Omonim. Topinya sangat bagus,” jawab Jongdae sambil tersenyum. Walaupun begitu, ia masih agak sangsi bahwa yang memberikan itu benar-benar dari Nyonya Song –ibunya Aeri.

“A-ah, iya.” Aeri mengangguk beberapa kali, kemudian mengalihkan pandangannya ke arah lain seraya menyedot jus jambunya.

Sebenarnya, apa yang dikatakan Aeri hanyalah bohong. Topi rajut yang ia berikan pada Jongdae sebenarnya adalah buatan tangannya. Ia takut hasilnya kurang maksimal dan Jongdae tak menyukainya. Makanya, tadi ia berbohong. Aeri hanya bisa menghelakan napas panjang ketika mengingat itu.

“Ayo, bermain sepeda!” ajak Jongdae tiba-tiba ambil menarik lengan Aeri untuk bangkit dari duduknya.

“Eh?!”

Akhirnya, mereka kini berada di jalan setapak tepi sungai Han. Jalan tersebut sangatlah indah walaupun hanya sedikit pohon crimson, namun pemandangan malam yang dipenuhi oleh lampu-lampu yang berwarna-warni dan suara aliran sungai Han yang tenang. Aeri sedikit memesang wajah ragu. Jujur saja, kali ini ia sangat ragu mengingat tentang kenangan buruknya tentang sepeda.

“Ayo, naik.”

Aeri menoleh ke arah Jongdae yang sudah turun dari sepedanya dengan mata membulat. “Apa?”

“Kalau kau seperti itu terus, kapan kau bisanya? Ayo, naik!” perintah Jongdae.

Aeri langsung mengendus kesal dengan wajah bersungut-sungut. Sungguh, Jongdae paling suka melihat wajah Aeri yang seperti itu.

“Huwaaa!!”

“Hei, berisik!”

Jongdae harus menguras kesabarannya saat mencoba mengajarkan Aeri mengendarai sepedanya. Berkali-kali, gadis itu terjatuh dari sepeda dan nyaris saja gadis itu tercebur ke sungai Han yang sudah dingin karena kurangnya keseimbangan dalam tubuhnya saat mengendarai sepeda. Tampak, tangan Aeri sudah gemetar dan kedua mata Aeri seperti berkaca-kaca. Ia menoleh ke arah Jongdae memohon.

“Sunbae,” rengek Aeri. “Kau tidak melihat wajahku ketakutan seperti ini apa?”

Jongdae memandang Aeri sambil membimbing tangan gadisnya itu agar tetap memegang stank dalam genggaman tangannya yang hangat. “Ayo, jangan menyerah.” Jongdae menyemangatinya dengan mengerlingkan mata kanannya.

Aeri memasang wajah cemberut sesaat, kemudian menghelakan napas panjang. “Lagipula, kenapa harus malam-malam begini sih?” gerutunya.

“Memangnya kau tidak punya malu? Aku mengajakmu malam-malam agar tak ada yang melihatnya.”

Benar juga, pikir Aeri. Masa ia kalah dengan anak-anak yang sudah mahir bermain sepeda. Aah, lama-lama ia benci dirinya sendiri. Ugh! Perlahan, Aeri mencoba mengayuh sepeda dan mengendarainya sendiri tanpa bantuan Jongdae.

Sementara, dering ponsel mengagetkan Jongdae. Segera, ia merogoh sakunya dan membaca nama si penelpon yang tertera. Tak ada namanya. Ia agak mengernyitkan keningnya. Kemudian, ia mengangkatnya.

“Yeoboseyo?”

“Yeoboseyo? Ah, Jongdae-ya. Ini aku, Eomma-nya Aeri.”

“Ah, annyeong haseyo, Omonim.” Jongdae yang kaget mendapat telpon dari Nyonya Song langsung memberi salam. “Apa ada yang bisa saya bantu?”

Di sisi lain, Aeri yang sedang terfokus ke arah jalan dan mengayuh sepedanya menoleh dan memandang Jongdae yang sedang menerima telpon dari jauh dengan heran. Namun, ia berusaha tak peduli dan mencoba untuk tak mau ikut campur dengan urusan Jongdae.

“Ne. gamsahamnida,” salam Jongdae pada Nyonya Song akhirnya.

Klik! Sambungan telponnya langsung terputus. Entah apa yang dibicarakan antara Nyonya Song dan dirinya, tapi kali ini Jongdae tertawa renyah ketika ucapan Nyonya Song di ponselnya yang ia dengar, kini menggema di telinganya.

“Nah, bagus,” gumam Aeri pelan. Ia mencoba menyeimbangi tubuhnya.

“Hei!”

Aeri tersentak kaget karena mendengar seseorang yang sedang berteriak keras. Dan, seketika konsentrasinya buyar dan mulai goyah.

“Sunbae!!” teriak Aeri tiba-tiba. “Huwaaa!!”

Bruk! Jongdae menoleh ke sumber suara dan mendapati Aeri mengalami kecelakaan kecil –jatuh dari sepeda yang dikendarai oleh Aeri.  Jongdae sudah menduga hal ini akan terjadi. Namun, kali ini Aeri tenggelam oleh ribuan daun crimson yang sudah gugur tepat di atas pohon tersebut.

Segera, Jongdae berlari menghampiri Aeri yang masih tertimpa sepedanya. Lalu, ia berjongkok menyingkirkan sepedanya dan menarik tubuh Aeri yang kini sudah dipenuhi oleh daun crimson yang gugur.

“Huaah!” Aeri berseru sambil berusaha membebaskan diri dari dedaunan yang masih menempel pada tubuhnya. Berkali-kali ia mengerjapkan kedua matanya dan menatap Jongdae. “Sunbae? Sedang apa kau di sini?”

Jongdae memejamkan kedua matanya sebal. Anak ini kapan pekanya sih, pikir Jongdae sebal. “Gwenchanna?”

Aeri mengangguk pelan. “Kurasa begitu.”

Jongdae menghelakan napasnya dengan kasar. Kemudian, membantu Aeri untuk bangkit. Kali ini, ia yang mengendarai sepedanya. “Ayo, naik. Kita berkeliling sekitar sungai Han saja.”

Aeri langsung tersenyum lega. Akhirnya, aku tak perlu belajar lagi, pikir Aeri dengan wajah sumringahnya. Seketika, ia langsung mengangguk setuju.

Awalnya, Aeri hendak duduk di jok belakang Jongdae. Namun, lengannya langsung ditarik oleh Jongdae, sehingga secara tak sengaja Aeri duduk menyamping dan tepat di depan wajah Jongdae. Seketika, kedua mata gadis itu terbelalak.

“Di sini saja,” ucap Jongdae sambil mulai mengayuhkan sepedanya.

Aeri menundukkan kepalanya agar tidak mengalami kontak fiisk secara langsung dengan Jongdae. Jujur saja, dalam hati Aeri sangat ini sangat senang. Sesekali, arah pandangannya ke langit yang semakin cerah dengan bertabur bintang dan lampu-lampu yang bertebaran di mana-mana serta aliran sungai Han yang tenang. Persis seperti suasana hatinya.

“Kau bohong.”

Aeri menoleh dan mendapati wajah Jongdae yang kali ini sudah berjarak beberapa senti dari wajahnya. Jantungnya mendadak menggila dan rasanya ingin keluar karena tepat berpandangan langsung dengan wajah Jongdae sedekat ini.

“Aku?” tanya Aeri dengan nada hati-hati.

Jongdae menjauhkan wajahnya dan kembali memandang ke depan seraya mengayuh. “Tadi Omonim menelponku untuk mencarimu. Saat aku mengucap terima kasih atas topinya, Omonim malah bercerita kalau bukan dia yang membuatnya.”

Kedua mata Aeri langsung membulat. Aeri terperanjat. Tiba-tiba saja, tubuhnya mendadak menegang. Apakah kebohongannya sudah terbongkar? Pikir Aeri. Sementara, Jongdae menghelakan napas panjang.

“Omonim bilang, beliau menemukan banyak sekali benang wol di kamar putrinya,” lanjut Jongdae. Selanjutnya, pria itu kali ini memandang Aeri dengan tajam. “Kenapa kau berbohong?”

Aeri yang merasa ditatap tajam oleh Jongdae, langsung mengalihkan arah pandangnya ke langit-langit yang sudah semakin cerah. Ia kehabisan kata-kata.

Sedangkan Jongdae yang sudah tak sabar atas sikap Aeri langsung berhenti mengayuh sepeda dan memegangi kedua bahu gadis itu agar bisa menatapnya. “Tatap aku, Ri-ya. Kenapa kau berbohong?”

“Aku hanya takut hasilnya jelek dan kau tidak menyukainya,” ucap Aeri terus terang akhirnya. Ia membalas tatapan Jongdae yang bisa saja menghunus hati dan jantungnya. “Aku hanya takut kau tidak menyukai itu, Sunbae..”

“Memangnya aku bilang kalau hasil topi rajutanmu jelek?”

Aeri menggeleng pelan. Dan, seketika bibir Jongdae mengulas sebuah senyuman yang membuat seratus kali lebih tampan ketika di hadapan Aeri. Jantung Aeri semakin menggila ketika melihatnya.

“Aku menyukai topi rajutnya. Sangat bagus. Gumawoyo.”

Setelah itu, wajah Aeri mendadak bersemu merah sesaat. Ia berusaha agar tidak terjadi kontak mata dengan Jongdae dengan cara memandangi dedauan crimson yang sedang jatuh berguguran dari pohon crimson dekat mereka berhenti. Tampak, masih banyak daun crimson yang masih menggantung di pohon dengan warna cokelat, kuning, dan hijau yang dominan.

“Ah, kata Omonim aku boleh menghukummu karena telah berbohong.”

“Oh?” Tampak, Aeri kembali menoleh ke arah pria itu dengan kedua matanya kembali membesar.

“Tapi..”

Sedetik kemudian, Jongdae kembali mendekati wajahnya dengan Aeri. Namun kali ini, ia menangkupkan kedua pipi Aeri yang sudah bersemu merah. “Aku ingin menghukummu dengan cara yang manis.”

“Tunggu! Ini tempat umum!” seru Aeri pelan. Ia mencoba manjauhkan wajahnya dari Jongdae –walaupun tubuhnya sendiri sudah tak bisa berkutik karena ia masih duduk di depan jok yang diduduki oleh Jongdae. Sepertinya, ia sudah tahu apa yang akan dilakukan Jongdae selanjutnya.

“Biarkan saja. Memangnya aku peduli?”

Aeri langsung memejamkan kedua matanya sambil berseru pelan, saat wajah Jongdae semakin dekat dengan wajahnya. “Sunbae!”

Tak ada reaksi apapun. Perlahan, ia membuka matanya dan terlihat Jongdae masih memamerkan senyuman mautnya. Ia merasakan hidung mereka sudah bersentuhan.

“Aku mencintaimu.”

“Ap―”

Dan, setelah itu Jongdae mencium pipi Aeri dengan lembut seraya memeluknya dengan erat. Sementara, Aeri memejamkan kedua matanya dengan takut. Yah, untung saja suasana di kawasan tepi sungai Han terlihat lenggang. Tapi, bagi Aeri tetap saja. Wajahnya bahkan semakin memerah.

Gadis itu bahkan menahan napasnya ketika ia mencium aroma tubuh Jongdae yang begitu khas di hidungnya dan ia merasakan salah satu telapak tangannya digenggam oleh tangan hangat nan kokoh milik Jongdae.

Iklan

2 thoughts on “Sweet Moment on Crimson Tree

    1. Hehehehe, sejak awal bikin ff ini bayangannya bener-bener jongdae. Rekomendasi ff jongdae yg feelnya agak pas ini deh kata aku. Wkwkw /rekomensendiri-_-/
      Makasih ya udah baca dan tinggalin review. Jangan pernah bosen ya mampir ke sinii

Mind to Review? ^ ^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s