Fly with You

fly with you

Fly with You

© Aeri_Tamie’s Script Writer

Casts : Kim Jongdae (EXO-M’s Chen); Song Aeri (OC)

Genre : Fluff, Romance ║ Rated : PG-15 ║ Length : Oneshot

Disclaimer : 24012014 © Aeri_Tamie

Note : FF alay dengan proses 3 hari. Proses terlama yang pernah saya lakuin kayanya mengingat otak saya sedang bunek-buneknya dipaksain nulis dan hasilnya begini. Baca aja kalau mau, semoga gak gagal mengingat feelnya gatau itu ceritanya ._. happy reading, guys! ^^

***

“Kau di mana?”

Jeda sejenak.

“Oh, aku masih di jalan. Berdoa saja agar aku cepat sampai.”

Jeda kembali. Namun, aku langsung menaikan sudut bibirku.

“Baiklah. Sampai nanti.”

Klik! Sambungan langsung terputus. Aku duduk di sebuah bangku kayu yang memanjang seraya memasukkan ponselku ke dalam saku kardigan berwarna baby blue melapisi blouse jingga yang kupakai. Rambut sebahuku diikat rendah dan dibiarkan helaian rambut lainnya yang tergerai. Kedua kakiku yang dibalut oleh sepatu sneakers peach itu terus menganyun.

Hari ini, aku memang memiliki janji dengan seseorang. Kim Jongdae. Nama lelaki yang sudah berhasil mencuri hatiku selama beberapa tahun ini. Namun, kali ini aku sudah sampai di tempat tujuan lebih dulu sebelum dirinya. Sudah sekitar 25 menit yang lalu aku sampai. Aku ingin tahu apa reaksi selanjutnya.

Kusedot jus jambu yang baru saja kubeli sebelum sampai ke tempat ini. Sebuah tempat berupa jalan setapak yang dipenuhi dengan pohon-pohon yang rindang. Walaupun begitu, tempat ini selalu cerah karena pohon-pohon tersebut tidak menutupi langit, sehingga sinar matahari bisa masuk dan dapat melihat langit yang sangat cerah ketika musim panas.

“Wah, langitnya cerah,” gumamku pelan saat kepalaku mulai menengadah ke arah langit.

Tampak, awan putih menemani langit biru yang begitu cerah. Tuhan memang menciptakan alam semesta ini begitu sempurna. Tapi, kenapa manusia selalu merusaknya ya?

“Nah kan, kau mulai berbohong.”

Refleks, aku langsung menoleh ke sumber suara yang begitu dekat. Kedua mataku langsung membulat hebat saat tahu siapa.

“E-hm, Jongdae-ya?”

Kulihat, ia langsung melemparkan tatapan tajam ke arahku. “Oppa.”

“Ne. Oppa.” Aku mengangguk cepat. “Kapan kau datang? Katanya, kau masih ada urusan. Bagaimana bisa kau datang secepat ini? Kau memakai jasa telepostasi ya? Atau, memakai pintu rahasia? Atau―”

“Sssttt,” desis Jongdae pelan seraya menaruh jari telunjuknya tepat di bibirku. “Aish, kau terlalu banyak bertanya.”

“Kau tak ingat peribahasa ya? Malu bertanya, sesat dijalan,” ujarku.

“Memangnya kau sedang berjalan ke mana?” tanya Jongdae dengan nada ingin tahu. “Yak, mana sebutan “Oppa”-nya? Coba aku ingin dengar.”

Aku menatap Jongdae dengan malas. Kemudian, tersenyum semanis mungkin seraya memandangnya yang terkesan dipaksakan. “Jongdae Oppa.”

“Ne~ Chagiya?” tanya Jongdae dengan nada menggoda seraya merangkul bahuku. Tentu saja dengan senyum berdaya 1000 watt itu. Seketika, aku langsung menelan ludahku dalam-dalam.

“Hmm, Jongdae O-Oppa..” Aku berusaha mencari alasan yang tepat agar ia berhenti menggodaku. Segera, aku langsung menunjuk ke atas. “Lihat ke atas!”

Sontak saja, Jongdae ikut mendongak ke atas. Bagus! “Ada apa?”

Aku juga ikut mendongak ke atas ternyata. “Langit.”

“Ada awan juga.”

“Aku tahu itu.”

“Tapi, kau tidak menyebutkannya.”

“Memangnya aku perlu menyebutkannya?”

“Kalau kau hanya melihat langitnya, kau berarti tidak menyukai awan.”

“Aku menyukainya kok!”

“Kau serius?”

“Yak! Jongdae Oppa!”

Kulihat, ia mulai tertawa geli melihat tingkahku. Aku hanya bisa menghelakan napas kesal. Dasar Kim Jongdae menyebalkan! Dengan cepat, kupalingkan wajhaku ke arah lain dan tak mau melihatnya.

“Ingin rasanya terbang ke langit,” gumamku pelan.

“Cukup kau mencintaiku saja, maka dengan mudahnya kau dan aku akan terbang ke langit.”

“Mwo?”

Aku menoleh dan pandangannya sudah tertuju ke arahku. “Mworago?” tanyaku dengan wajah bingung. Tentu saja aku tak mengerti maksudnya.

“Karena semua sudah sewarna dengan langit. Di saat itulah, kita bisa bersama.” Jongdae tersenyum memandangku. Ingin sekali aku memeluknya dengan erat, namun kutahan. Sampai-sampai, telapak tanganku mencengkram gagang kursi erat-erat untuk menahannya.

“Cih, kau mulai merayuku,” gerutuku pelan seraya kembali memalingkan wajahku ke arah lain. Walaupun begitu, bibirku membentuk sebuah lengkungan senyum yang manis.

Meskipun ia terlihat konyol, ternyata ia bisa mengatakan hal seromantis itu. Sial, semoga saja wajahku tidak seperti buah cherry yang sudah matang.

“Ayo, kita terbang.”

“Apa?”

Sebelum aku menoleh ke arahnya, pandanganku mulai gelap. Apa ini?

***

“Heh, kau―”

“Oppa.”

“Arraseo. Oppa, kau menjebakku heh?”

“Aniyo.”

“Kalau begitu, lepaskan kain ini dari mataku!”

“Tidak boleh sebelum kita sampai di tempat tujuan.”

“Memangnya kita mau ke mana?”

“Rahasia.”

“Yaak!! Kim Jongdae!”

“Oppa.”

Aku menghelakan napas kesal dan berpaling ke arah lain –walaupun sekarang aku tidak bisa melihat apapun. Aku benar-benar tak tahu jalan pikiran lelaki ini. Sejak kedua mataku ditutup oleh kain –yang entah berwarna apa karena aku tak bisa melihatnya, aku hanya berjalan sebentarkemudian duduk di sbeuah ruangan –hmm, sepertinya mobbil selama sekitar 15 menit. Apa yang ia lakukan sebenarnya?

“Jongdae Oppa―”

“Kau ini benar-benar tak sabar ya.” Terdengar, kini Jongdae mulai menggerutu. “Tunggulah, sebentar lagi akan sampai. Nah.”

Hening sejenak, hingga kurasakan tangannya yang kokoh membimbingku untuk kembali berjalan sebentar. Untung saja kali ini aku memakai sneakers bukan flat shoes. Jadi, aku tak perlu khawatir akan kakiku terluka karena berjalan tanpa berhati-hati.

“Coba dengarkan dengan baik,” ucapnya pelan. “Apa yang kau dengar?”

Kudengar, angin sepoi-sepoi berhembus pelan dan terdengar debaran aneh –seperti debaran ombak. Sesekali, terdengar percikan air yang mengenai sesuatu –seperti bebatuan besar. Namun, yang paling kuat terdengar di telingaku adalah debaran ombak dan hembusan angin.

“Hmm, debaran ombak dan angin?” ucapku dengan nada yang terdengar ambigu.

Kembali hening. Hanya terdengar hembusan angin dan debaran aneh.

“Lebih baik, kau lihat sendiri.”

Kupejamkan kedua mataku agar tidak terlalu kaget sebelum melihat pemandangan yang harus disesuaikan dengan mataku. Saat kurasakan kain itu terlepas, aku buka perlahan.

“Pantai..” gumamku pelan. “Kau temukan pemandangan indah ini di mana?”

“Indah kan?” tanyanya meyakinkan seraya melihat pantai itu. Kedua matanya tampak menunjukkan kedamaian yang tak pernah kulihat sebelumnya.

Aku mengangguk pelan. “Oppa, jawab pertanyaanku dulu. Kau temukan ini di mana?”

“Dekat kok,” ujarnya singkat seraya memandangku. “Kenapa? Kau mau kita menikah di sini?”

“Oppa~” Aku mulai merajuk seperti anak kecil. “Aku masih berumur 17 tahun!”

Kini, yang terdengar di telingaku adalah tawanya yang terdengar renyah. Tawa yang kurindukan selalu. Tawa yang tak akan pernah terhapus dari ingatanku. Kemudian, ia mengajakku untuk duduk di atas pasir putih. Kulepaskan, sepatu dan ditaruh disampingku.

“Coba kau lihat ke sana,” intruksinya tiba-tiba seraya merangkulku dan menunjuk ke selatan dengan sudut derajat sekitar 60 derajat ke atas. “Apa yang kau lihat?”

“Langit dan… awan.”

“Lalu, pejamkan kedua matamu perlahan dan bayangkan kau berada di sana bersamaku sesuai dengan perasaanmu yang sebenarnya.”

Seolah terhipnotis, kuikuti ucapannya. Perlahan, kepejamkan kedua mataku. Bisa kubayangkan aku terbang ke langit bersama dengan awan-awan yang putih menggumpal. Kulihat di sana, Jongdae sedang tersenyum melihatku dan menggamit tanganku dengan erat. Perasaan nyaman, aman, dan bahagia bisa kurasakan saat itu. Ucapan Jongdae begitu mudahnya menghipnotis diriku.

“Bagaimana?”

Jongdae membuyarkan lamunanku saat dirasanya cukup untukku berimajinasi. Kembali hening karena aku tak kunjung memberikan jawaban. Tatapan mataku hanya tertuju padanya. Sesekali, kukerjapkan mataku berkali-kali. Mencoba untuk bangun dari mimpi dan kembali sadar.

“Apa perasaanmu?” tanyanya sekali lagi padaku.

“Nyaman dan… bahagia,” ungkapku pelan. “Ternyata, terbang bersamamu cukup mudah. Hanya mencintaimu dengan tulus, aku bisa membayangkannya dan merasakan perasaanku saat itu.”

“Jinjjayo?” tanyanya dengan nada menggoda.

“Kau tak percaya?” tanyaku dengan wajah masam. “Kalau begitu, aku pergi.”

“Kalau perasaanmu seperti itu, kemarilah. Karena aku juga merasakan hal yang sama. Aku juga mencintaimu.”

Sebelum aku bangkit dari dudukku dan mengambil sneakers peach, Jongdae mengucapkan hal seperti itu. Aku menoleh dan melihatnya sedang merentangkan tangannya lebar-lebar. Tanpa aba-aba pula, aku langsung memeluknya dengan erat. Tindakan yang sulit untuk ditahan sekarang.

Jongdae membalas pelukanku dengan erat. Pelukannya terasa hangat ditengah-tengah hembusan angin yang berasal dari laut. Kudengar bisikannya di telingaku yang terdengar lembut seperti hembusan angin yang kurasakan sekarang.

“Aku mencintaimu. Selalu.”

― FIN ―

Iklan

Mind to Review? ^ ^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s