Love Note : 4th Let’s Play!

love note cover 4

© Aeri_Tamie’s Script Writer

Casts : Song Aeri; Kim Jongdae (EXO-M’s Chen); Cho Kyuhyun (Super Junior’s Kyuhyun); Shin Yeonjoo

Other Casts : You can find it in here ^^

Genre : Romance, Drama, Friendship, Comedy Rated : PG-17 Length : Chapter

Disclaimer : 20131025 © Aeri_Tamie

Previous Chapter :

1st Unexpected2nd (Really) Unexpected3rd Complicated

Note      : Special cast Super Junior’s Kyuhyun and EXO-M’s Chen has coming! Kkk~ 😉 Maaf agak lama, soalnya saya sibuk sekolah dan gak sempet lanjutin fanfiction ini. Ditambah, saya baru sekarang beli pulsa modem. /ini alibi//halah/ Don’t forget, give me a review please. Because, your review like oxygen. Happy reading, guys! ^^

***

» Story 4 : Let’s Play!

Esok paginya, Aeri langsung berlari dengan tergesa-gesa menuju kantin kampusnya. Tangannya menggenggam selembar note biru miliknya. “Oppa! Kyuhyun Oppa!”

Sementara, Kyuhyun yang saat itu sedang memakan jajangmyeon sudah tahu suara khas itu. Ia hanya menyahuti dari kejauhan. “Hmm?”

“Aku minta ini!” seru Aeri saat ia sudah duduk di hadapan Kyuhyun.

Kyuhyun memandang sesuatu yang diberikan Aeri. Note biru milik Aeri. Kemudian, ia langsung menatap wajah Aeri yang memasang ekspresi polos. “Apa ini?”

“Kabulkan permintaanku,” kata Aeri. “Hanya tiga saja.”

“Tiga? Kau pikir itu sedikit? Jangan bercanda, bodoh,” kata Kyuhyun tak terima atas ucapan Aeri.

“Ah, terserah apa katamu. Tapi, kumohon kabulkanlah. Ini juga sebagai awal permainanku,” pinta Aeri dengan nada memohon. Kedua tangannya menangkup memohon. “Oppaa~”

Kyuhyun lama berpikir hingga sebuah ide cemerlang terlintas di pikirannya. “Ada syaratnya,” kata Kyuhyun.

“Mwoyo?” tanya Aeri ingin tahu.

“Katamu kemarin minggu depan kau sudah ujian kan? Nah, pasti hasilnya akan diterima dua minggu setelah ujian. Jadi,” kata Kyuhyun. “Kau harus mendapat nilai tinggi di tiga pelajaranmu.”

“MWOYA?!” teriak Aeri kaget dengan ucapan Kyuhyun.

Kyuhyun langsung menutup kedua telinganya. Sementara, semua orang yang mendengarnya langsung melemparkan tatapannya pada dua sosok ini. Aeri yang menyadari itu dengan cepat mengendalikan kembali emosinya.

“Oppa, kau serius? Tiga pelajaran itu terlalu banyak,” kata Aeri dengan nada merengek. “Satu saja ya?”

“Kau mau permintaanmu terpenuhi olehku tidak?” ucap Kyuhyun sambil memincingkan kedua bola matanya ke arah Aeri. Kemudian, ia meminum ice coffee-nya dengan tenang. “Ingat, tiga pelajaran.”

Aeri langsung menepuk keningnya keras-keras. Salah besar dia kini karena mengambil keputusan untuk bermain dengan note pertamanya sebagai sasarannya Kyuhyun. Sangat salah besar.

Sementara, Kyuhyun memandang Aeri sejenak sambil tersenyum. Jujur saja, ia sangat senang ketika sikap Aeri pada Kyuhyun kembali seperti dulu.

***

Jongdae langsung tertawa keras ketika mendengar keluhan Aeri tentang note pertamanya yang diberikan untuk Kyuhyun.

“Jangan tertawa, Jongdae-ya! Tak ada yang lucu tahu!” teriak Aeri dengan kesal. Tangannya masih setia memegangi kepalanya yang terasa sakit.

“Habisnya, aku benar-benar tak habis pikir,” kata Jongdae berujar yang masih tergelak. “Bagaimana bisa kau memilihnya sebagai sasaranmu. Konyol sekali.”

“Kan kau yang menyuruhku!” ungkap Aeri tak terima.

“Heh, aku kan hanya menyarankan. Tidak menyuruhmu untuk melakukannya,” ralat Jongdae dengan menekan setiap katanya. “Makanya, kalau mau mengambil keputusan jangan gegabah. Lihat sendiri kan akibatnya.”

“Lagipula, memangnya aku berpikir sejauh itu? Kejadian seperti ini saja tak pernah terpikirkan olehku,” kata Aeri pelan. “Sekarang, yang harus kupikirkan sekarang adalah bagaimana caranya agar aku bisa berhasil dan Kyuhyun Oppa akan mengabulkan permintaanku.”

“Ya sudah, cukup belajar dengan giat. Kau tak mungkin meminta ramuan agar cepat pintar pada cenayang kan?” kata Jongdae sambil menyeringai jahil. “Atau, meminta pada cenayang agar bisa memiliki kelebihan untuk membaca pikiran orang yang berotak pintar?”

“Diam kau!” seru Aeri kesal. Kemudian, ia memegangi kepalanya yang masih sakit.

Sementara, Jongdae masih tertawa keras. Ia benar-benar tak habis pikir dengan jalan pikiran gadis itu. Song Aeri memang kadang sulit untuk ditebak.

***

“Noona!” teriak Jongdae saat ia melihat Yeonjoo yang sedang berjalan menyusuri lorong kampus.

“Oh, Jongdae-ya,” sapa Yeonjoo sambil tersenyum.

Akhirnya, mereka berdua duduk saling berhadapan di kantin. Suasana di kantin sendiri tampak lenggang sehingga sangat terasa suasana canggung diantara mereka sendiri. Jongdae sendiri saja tampak gugup.

“Noona, aku−“

“Jongdae-ya, banyak hal yang ingin kukatakan padamu,” kata Yeonjoo menukas ucapan Jongdae.

“Tentang apa?”

Yeonjoo menarik napas panjang. “Hmm, sebenarnya tentang permainan ini. Jujur saja, aku sangat bingung dengan bagaimana cara mainnya dan arti dari setiap notenya. Aku bahkan tak pernah tahu kapan permainan ini dimulai. Permainan ini sepertinya seolah hanya kalian berdua saja yang bermain.”

“Noona termasuk pemain ‘Love Note’. Yah, walaupun aku tahu kau bahkan tak pernah mengeluarkan secarik note. Tapi, kau tetaplah pemain.”

Yeonjoo menganguk mengerti. “Arraseo,” jawab Yeonjoo pelan. Kemudian, ia memandang Jongdae sambil tersenyum. “Gumawo, kau sudah mau mendengarkanku. Ah, andai saja..”

“Ada apa, Noona?” tanya Jongdae dengan nada penasaran.

“Aniyo.” Yeonjoo menggeleng pelan sambil tersenyum. Kemudian, ia merapih rambut Jongdae. “Rapihkan rambutmu.”

“Heh?” Jongdae terdiam saat melihat sikap Yeonjoo yang seperti itu. Tiba-tiba saja, jantungnya berdetak sepuluh kali lebih cepat. Cih, seperti inilah jika pria menyukai seorang gadis. Yah, pria juga kan manusia biasa.

“Kau tidak akan memiliki dendam pada Kyuhyun nantinya kan?” tanya Yeonjoo tiba-tiba.

“Kenapa memangnya?” kata Jongdae balik bertanya.

“Seandainya,” Yeonjoo mencoba menarik napas panjang. “Kyuhyun yang akan maju selangkah. Kau tak akan dendam padanya kan?”

Jongdae terdiam. Ia mencoba memberikan sebuah perisai di dalam hatinya. “Tidak.”

Seketika, Yeonjoo langsung bernapas lega mendengarnya seraya tersenyum lega. “Syukurlah. Ah, lagipula, aku ingin menyerah saja,” ungkap Yeonjoo.

“Mwo? Waeyo? Andwaenika!” seru Jongdae.

“Jongdae-ya,” panggil Yeonjoo. “Kau tahu, ini sangat melelahkan walaupun hanya diam. Makanya, aku akan memilih menyerah. Tunggu saja waktu yang tepat.”

“Noona.”

“Gwenchanna,” kata Yeonjoo sambil tersenyum. Kemudian, ia melirik arlojinya. “Ck, aku pergi dulu ya,” pamit Yeonjoo sambil berjalan pergi.

Sementara, Jongdae hanya memandang punggung Yeonjoo yang semakin menjauh.

***

Tiga minggu. Ya, sudah tiga minggu. Selama itu juga Aeri gunakan untuk belajar dengan giat dan perasaan yang tegang karena menunggu hasil ujiannya. Kini, hasil ujiannya sudah berada di tangannya berupa amplop putih bersih atas nama yang tertera. Song Aeri.

Dengan takut-takut, ia membuka isi amplop itu. Dan, saat dibuka hasilnya…

“KYUHYUN OPPA! KYUHYUN OPPA!”

Aeri langsung berteriak keras sambil berlari ke departemen fakultas Kyuhyun. Tangannya menggenggam amplop hasil ujiannya. Baiklah, sepertinya ia terlalu gembira karena mendapat hasil yang memuaskan. Kyuhyun yang mendengar teriakan Aeri langsung menoleh.

“Apa?” tanya Kyuhyun.

“LIHAT! LIHAT! NILAIKU BAGUS DI TIGA PELAJARAN!” teriak Aeri sambil melompat-lompat kegirangan. Tangannya mulai menggoyang-goyangkan isi amplop itu. “Berarti permintaanku dikabulkan kan?! Ya kan?!”

Kyuhyun yang mulai mengecek hasilnya mulai tersenyum. Kemudian, ia memandang Aeri. “Mana note birumu?”

“Ini!”

Kyuhyun mulai membaca permintaan pertama Aeri di note biru itu. Awalnya, Kyuhyun merasa aneh dengan kata-kata yang ditulis Aeri di note biru itu.

1.    Oppa, mari kita menonton film romantis di bioskop

“Kau mau menonton film di bioskop?” tanya Kyuhyun.

Aeri mengangguk semangat. Kemudian, ia mendorong Kyuhyun untuk berjalan ke tempat tujuan. “Ayo, kita menonton film romatis!!”

“Ah, arraseo, arraseo,” kata Kyuhyun sambil tersenyum melihat tingkah Aeri.

***

“Bagaimana? Sudah puas?”

Aeri menoleh ke arah Kyuhyun sembari mengangguk-angguk dan meminum jus jambunya. “Tentu saja. Kau lihat tidak tadi, Matsumoto Jun sangat keren! Aku sangat menyukai aktingnya!”

Mereka baru saja melakukan permintaan pertama Aeri, yaitu menonton film Jepang dengan genre romantis berjudul ‘Her Sunny Side’. Yang menjadi aktor utamanya adalah Matsumoto Jun yang merupakan idola Aeri. Maka dari itu, setelah menonton film wajah Aeri tampak berseri-seri.

“Aku juga keren. Kau tidak lihat?” tanya Kyuhyun sambil memasang gaya terkeren.

Aeri terdiam sejenak memandang gaya Kyuhyun. Wajahnya saja mendadak merah padam. Namun, dengan cepat ia langsung menggeleng cepat.

“Keren kan?” tanya Kyuhyun lagi yang masih memasang pose keren mampu membuyarkan lamunan Aeri.

“Tidak juga.”

“Hei!”

Pletak! Sontak saja, dengan sebal Kyuhyun langsung menjitak kepala Aeri. Sementara, Aeri langsung meringis kesakitan.

“Auw! Oppa!!” teriak Aeri dengan kesal.

“Habisnya, akui saja kalau aku keren!” kata Kyuhyun kesal. “Bahkan, aku lebih tampan daripada dia!”

“Dia siapa maksudmu, Oppa?! Matsumoto Jun? Justru, dia itu jauh lebih tampan daripada kau!”

“Ah, dasar munafik,” kata Kyuhyun sambil berdecak lidah.

Aeri tersentak kaget sambil menelan ludahnya dalam-dalam. Matanya melotot ke arah Kyuhyun dan setelah itu ia memalingkan wajahnya. Sial, sekarang dia mulai mengataiku! Pikir Aeri dengan kesal seraya menghelakan napasnya dengan kasar.

“Oppa, permintaan kedua dilanjutkan besok saja ya?” pinta Aeri pada Kyuhyun setelah kekesalannya mulai mereda. “Jebaal~”

Kyuhyun berpikir sejenak, kemudian mengangguk setuju. “Kureom.”

“Yeah!”

Aeri yang langsung berseru senang, tiba-tiba saja dering ponsel mengagetkannya. Sontak saja, tangannya memburu benda keramat yang bisa ia gunakan untuk apa saja dari dalam tasnya. Matanya langsung bergerak mencari nama si penelpon. Kim Jongdae.

Dalam hati Aeri, ia langsung berseru kesal karena Jongdae tiba-tiba menganggu kesenangannya. Namun, ia berusaha menahannya seraya mengangkat telponnya.

“Yeoboseyo?”

“Bisa kita bicara?”

***

“Ada apa?”

Aeri langsung duduk dihadapan Jongdae saat langkahnya sampai di café langganan mereka –ah, lebih tepatnya café tempat Youngmi bekerja. Ini dimaksudkan agar mereka bisa leluasa duduk lebih lama di café itu . Pakai cara cantik kalau tak mau repot, pikir Aeri sambil tersenyum licik dalam diam.

“Permintaanmu dipenuhi oleh Kyuhyun Hyung?” tanya Jongdae langsung –dan tentu saja membuyarkan lamunan Aeri.

“Tentu saja. Kau tidak lihat wajahku yang sumringah seperti ini?” jawab Aeri sambil menunjuk wajahnya yang masih memasang wajah ceria. “Berarti, tinggal sedikit lagi kan langkahku untuk mendapatkan Kyuhyun Oppa, ya kan?”

“Itu tidak menjamin, Ri-ya,” ungkap Jongdae. “Kau tidak lihat sekarang sikapnya? Dia saat ini sedang melangkah untuk mendapatkan Joo Noona.”

Aeri langsung terdiam. Pikirannya mulai menerawang. Baiklah, sekarang sepertinya ia terkena istilah harapan palsu. Kyuhyun Oppa saja kini sedang mengincar Yeonjoo Eonni dan aku sekarang sedang mengincar Kyuhyun Oppa. Sementara, Jongdae juga sedang mengincar Yeonjoo Eonni. Dan sekarang, aku sendiri tak tahu bagaimana perasaan Yeonjoo Eonni. Apakah ke Kyuhyun Oppa atau ke Jongdae? Ini seperti permainan antara kucing, anjing, dan tikus.

“Aku jadi heran. Sebenarnya, sejak kapan permainan ini dimulai sih?” tanya Aeri dengan dahi berkerut.

“Sejak sekolah menengah.”

Selanjutnya, reaksi Aeri adalah menganga lebar. Tak percaya dengan jawaban Jongdae. Jadi, selama aku sekolah menengah permainan itu sudah ada, bahkan sudah dimulai? Pikir Aeri. “Ini permainan atau perang zaman Dinasti Joseon, sih?”

“Kau berlebihan,” ucap Jongdae sambil meminum ice coffee-nya yang baru saja ia pesan pada Youngmi –teman asrama Aeri sekaligus pelayan café ini. “Tidak selama itu kok.”

Perlahan, tubuh Aeri mulai mendekati Jongdae untuk ingin lebih tahu. “Lagipula, apakah selama itu juga persaingan kalian berdua belum berakhir hingga kini? Aigoo, jadi apa yang kalian lakukan selama ini?”

Seketika, manik mata Jongdae langsung memincing ke arah Aeri. “Jadi, sekarang kau memancingku untuk bercerita panjang?”

Aeri yang merasa dipojokan dengan tatapan seperti itu, membuatnya mulai menjauhkan tubuhnya sambil menggaruk tengkuk yang tak gatal. Kedua matanya mulai mengarah ke luar jendela café agar tidak mengalami kontak mata langsung dengan Jongdae. “Ya, tidak juga sih.”

Jongdae tertawa sekilas. “Kau tahu, selama ini hal yang kita lakukan selalu sama untuk Joo Noona. Sampai-sampai Joo Noona berkata pada kami berdua, bahwa lebih baik tunggu beberapa waktu untuk mencobanya lagi. Butuh beberapa waktu juga Joo Noona untuk mempersiapkan dirinya bila kita melakukan hal yang selalu sama.”

“Apa kalian melakukan itu secara berjanjian?” tanya Aeri dengan dahi berkerut.

“Tidak. Itu semua adalah unsur ketidaksengajaan.”

Aeri langsung mencibir seraya meminum jus jambunya –minuman favoritnya sepanjang masa yang dipesan Aeri pada Youngmi. Sementara, matanya melirik ke arah lain. “Bagaimana bisa?” ucap Aeri pelan sambil mengernyitkan dahi dengan muram, hingga ia tak sadar jika ada noda sari jambu yang tertinggal di bibirnya.

Jongdae yang melihat itu langsung tertawa terbahak-bahak. Dan, Aeri langsung mendelik ke arah pria itu dengan heran.

“Ada apa?”

Namun, gerakan Jongdae yang langsung membersihkan bibir Aeri membuat waktu terasa berjalan dengan lambat. Tiba-tiba saja, tubuh Aeri menjadi terkesiap dan mendadak menegang. Ini karena Jongdae yang melakukannya dengan slow motion atau akunya saja yang seperti ini? Kata Aeri dalam hati tak habis pikir.

“Selama hidupmu, apa kau tak pernah diajarkan untuk minum jus jambu dengan baik dan benar?” tanya Jongdae heran.

“Berhenti berceramah, Kim Jongdae,” ucap Aeri kesal. “Sekarang, aku harus kembali berpikir ulang bagaimana bisa mendapatkan Kyuhyun Oppa.”

“Apa kau tidak pernah sedikitpun berpikir, tentang apa yang akan terjadi jika Kyuhyun Hyung mendapatkan Joo Noona?” tanya Jongdae ingin tahu.

Aeri kembali diam. Otaknya kembali berpikir keras. Tentu saja sudah, bahkan ia selalu berpikir seperti itu. Walaupun hatinya tidak menginginkan hal itu terjadi secara nyata, tapi ia sudah sangat siap jika itu benar-benar terjadi. Jawabannya adalah ia akan kalah telak seutuhnya tentang perasaannya pada Cho Kyuhyun. Aku sudah berjanji, tidak akan menangis jika hal itu akan terjadi, pikir Aeri panjang.

“Yaa, jangan hanya―”

“Sudah.”

Jongdae diam mendengar jawaban Aeri yang cukup mengejutkan. Kemudian, ia memandang Aeri dengan pandangan tak percaya. Yah, Jongdae sudah sangat mengenal Aeri. Dan, Aeri bukanlah gadis yang bisa terima begitu saja. Jika ada satu keinginan Aeri, maka Aeri akan berusaha mendapatkan hal itu. Jika tidak bisa mendapatkannya, ia cukup menahan kekecewaannya kuat-kuat. Jika sudah tak bisa menahannya, ia cukup dengan cara menangis keras. Dan, Jongdae sangat yakin jika itu adalah hal yang akan terjadi jika Kyuhyun berhasil mendapatkan Yeonjoo.

“Jangan menatapku seperti itu,” kata Aeri. “Aku cukup kuat dalam hal seperti ini.”

“Tapi, kau bukan laki-laki dan kau juga bukan perempuan tangguh. Aku ini sudah sangat mengenal dirimu,” sahut Jongdae. “Apa kau sudah siap menangis?”

“Memangnya siapa yang akan menangis?” tanya Aeri.

Jongdae terdiam sejenak, kemudian ia mengendus kesal. “Aish, keras kepala sekali.”

“Kalau aku tidak keras kepala, kau pasti akan cerewet terus,” balas Aeri sambil menjulurkan lidah pada Jongdae.

Sementara, Jongdae langsung menatapnya semakin tak percaya. Jadi, sekarang anak ini mulai bisa memutar balikkan ucapanku dulu? Ternyata, dia ingin balas dendam denganku atas kejadian dulu. Dasar Song Aeri, pikir Jongdae dengan kesal.

***

“Hei, Cho Kyuhyun.”

“Hmm?”

Yeonjoo memanggil Kyuhyun dengan wajah serius. Sementara, orang yang dipanggil hanyalah tetap tefokus pada PSP kesayangannya. Yeonjoo yang melihatnya ingin sekali rasanya melempar PSP itu, namun ia tetap berusaha menahannya. Pikirannya masih tertuju pada apa yang ingin ia bicarakan.

“Kumohon,” Yeonjoo terdiam seraya menelan ludahnya dalam-dalam. “Hentikan permainan ini.”

Sontak saja, Cho Kyuhyun menoleh ke arah Yeonjoo dengan wajah tak percaya. Kyuhyun kini mengerti tujuan arah pembicraan Yeonjoo sekarang. ‘Love Note’. Mungkin, untuk pertama kalinya Yeonjoo membahas tentang permainan ‘Love Note’ pada Kyuhyun setelah 4 tahun permainan ini berjalan.

“Apa?” tanya Kyuhyun dengan napas sedikit tertahan. “Tidak bisa, Joo. Kenapa kau baru mengatakannya sekarang untuk menghentikan permainan ini setelah berjalan 4 tahun? Apa kau tidak pernah berpikir bahwa kalau seperti itu caranya sama saja selama 4 tahun itu hanyalah sia-sia saja?”

“Tapi, Kyu,” ucap Yeonjoo sambil berusaha menjelaskan. “Aku takut ada yang terluka.”

“Memang itu akibat yang harus ditanggung oleh semua pemain,” ucap Kyuhyun tegas. “Para pemain harus menerima kenyataan itu.”

“Tapi tidak semua para pemain siap menerima kenyataan sepertimu, Kyu,” ujar Yeonjoo tak habis pikir.

“Joo..” Tiba-tiba saja, Kyuhyun kehabisan kata. Ia menatap Yeonjoo lekat, kemudian memalingkan wajahnya dengan perasaan campur aduk sambil menghelakan napasnya dengan kasar. Kali ini, jujur saja ia tak tahu arah jalan pikiran gadis itu.

***

Malam hari, Aeri sedang mengerjakan tugas mata kuliahnya. Tangannya sangat sibuk dengan pena, kumpulan kertas, dan laptopnya dengan diterangi oleh lampu meja belajar. Sesekali, ia menyesap kopi hangatnya agar kedua matanya tetap terbuka lebar dan bisa menyelesaikan tugasnya dengan baik.

Tanpa sengaja, sikut lengan tangannya menyenggol kumpulan note berwarna putih. Ia menoleh dan memandang note putihnya sejenak. Pikirannya tiba-tiba buyar dan mulai bercabang.

“Argh!” serunya pelan sembari mengacak-acak rambutnya. Ia tak habis pikir. Berkat jatuhnya white note itu otaknya menjadi teringat permainan konyol itu.

Tiba-tiba, dering ponsel mengagetnya. Aeri melirik ke arah jam dinding yang kini menunjukkan pukul 23.30. Aeri tak habis pikir, siapa yang berani-beraninya menelpon selarut ini.

Dengan kepalanya yang berdenyut-denyut, ia meraih ponselnya dan melihat nama yang tertera pada layar ponsel. Kim Jongdae.

“Yeoboseyo?”

“Kau belum tidur?”

“Kau sendiri belum tidur?” kata Aeri balik bertanya.

“Hei, aku yang bertanya lebih dulu,” protes Jongdae.

“Biar saja. Jawab dulu pertanyaanku. Kenapa kau belum tidur?”

Hening. Tak ada suara dari sebrang sana.

“Aku sedang berpikir tentang permainan itu dan Joo Noona.”

Kembali hening karena kali ini, Aeri yang sekarang terdiam.

“Kenapa diam?” tanya Jongdae membuyarkan lamunan Aeri.

“A-aku…” Aeri sekarang kehabisan kata-kata. “Pikiranku selalu terbayang jika Kyuhyun Oppa dan Yeonjoo Eonni berhubungan.”

“Kau siap menangis?”

“Pertanyaanmu salah. ‘Kau siap menerima kenyataan?’ Begitu kan?”

“Karena aku tahu dirimu, Ri-ya.”

“Aaaahh, Kim Jongdae menyebalkan!”

Aeri langsung menggerutu kesal. Sekarang bukan saatnya membicarakan tentang dirinya pada Jongdae. Ia hanya menghelakan napasnya dengan kasar.

“Kau belum ingin tidur?” tanya Jongdae tiba-tiba.

“Belum.”

“Sudah kuduga.”

Aeri langsung memandang ponselnya sejenak. Sekarang tingkah Jongdae disebrang sana seperti cenayang. Jangan-jangan, pada kenyataannya Jongdae memang seorang cenayang. “Memangnya apa alasanmu hingga kau berpikir seperti itu?”

“Hei, aku ini sudah sangat mengenalmu, Song Aeri. Jika tidak ada tugas, tak mungkin kau belum tidur selarut ini.”

Aeri langsung mendesah keras. Pria itu sudah tahu semua yang berhubungan dengannya. Kebiasaannya, kenangan buruknya, dan sebagainya. Jika orang lain melihat tingkah Jongdae yang tahu semua hal itu tentangnya, bisa-bisa Jongdae akan dianggap sebagai peramal baru. Aeri mencoba memikirkan hal-hal aneh tentang Jongdae. Namun, tiba-tiba…

Srekk! Srekk!

“Suara apa itu?” tanya Jongdae dengan nada sedikit heran dari sebrang sana.

Aeri menoleh ke arah jendelanya yang terbuka lebar. Sepertinya dari arah luar. Namun, entah kenapa perasaannya menjadi tak enak. Secara tiba-tiba pula, jantungnya mendadak berdebar-debar. Takut sesuatu yang muncul di balik jendela.

“E-entahlah,” ucap Aeri dengan suara agak terbata.

“Ada apa sih denganmu sekarang?” tanya Jongdae heran.

“Aku mau tidur dulu ya! Sampai nanti!”

Klik! Aeri langsung menutup telponnya dan menutup pintu jendela apartemen kecilnya. Kemudian, berlari cepat untuk tidur. Baiklah, sekarang ia ketakutan setengah mati. Entah apa yang terjadi, sekarang ia jadi penakut.

― To be Continued ―

Iklan

2 thoughts on “Love Note : 4th Let’s Play!

  1. akhirnya chapter 4 muncul juga 😀 tambah penasaran nih, ada yg ngikutin aeri ya? Oh iya eon ada typo kalo ga salah, yg “kau tidak lihat wajahmu yang sumringah seperti ini” seharusnya ‘wajahku’ mungkin hehe, aku nunggu lagi buat chapter selanjutnya, terus berkarya! 🙂

    1. kkk~ terima kasih sudah menantikan ff ini dengan sangat sabar. hehe 😀
      eh iya, itu typo O_O mianhae, saya ngetiknya terlalu cepat karena berbagai pikiran masuk pas proses pengetikan. aduh, jadi malu (/.\)
      terima kasih ya buat reviewnya, moga seneng dengan chapter yang selanjutnya. tunggu aja ya! 😀

Mind to Review? ^ ^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s