Love Note : 5th Grey Paper

love note cover shin yeonjoo

© Aeri_Tamie’s Script Writer

Casts : Song Aeri; Kim Jongdae (EXO-M’s Chen); Cho Kyuhyun (Super Junior’s Kyuhyun); Shin Yeonjoo

Other Casts : You can find it in here ^^

Genre : Romance, Drama, Friendship, Comedy Rated : PG-17 Length : Chapter

Disclaimer : 20131025 © Aeri_Tamie

Previous Chapter :

1st Unexpected 2nd (Really) Unexpected 3rd Complicated 4th Let’s Play!

Note      : The next chapter special cast Super Junior’s Kyuhyun and EXO-M’s Chen has coming! Kkk~ 😉 Hmm, tapi jangan kaget ya. Chapter ini khusus side story milik Shin Yeonjoo―walaupun ada sisi lain para cast. Yah, gitulah. 😀 Semoga aja suka dengan fanfiction ini. Don’t forget, give me a review please. Because, your review like oxygen. Happy reading, guys! ^^

***

» Story 5 : Grey Paper

Dini hari, Aeri terbangun dari tidurnya. Langit masih terlihat gelap. Ia menoleh ke arah jam dindingnya yang kini sedang menunjukkan pukul 04.55. Masih terlalu pagi untuk terjaga dari tidur. Namun, toh nyatanya Aeri tetap bangun dari tempat tidurnya.

Ia berjalan menuju dapur kecilnya dan mengambil segelas air dingin dari dalam lemari es. Kemudian, ia melangkah menuju meja belajarnya. Pandangannya terarah lurus ke depan. Memandang blue note –miliknya yang sudah kusut karena terlalu sering disentuh. Lalu, kedua bola matanya membaca tulisan yang tertulis di sana. Tampak, sebuah goresan memanjang memenuhi satu baris note yang tertulis itu.

1.       Oppa, mari kita menonton film romantis di bioskop

2.       Oppa, ayo kita bermain di lotte world

3.       Oppa, kumohon jadilah pacarku

Aeri menghelakan napas panjang. Sungguh, sekarang ia sangat tak yakin apakah permintaannya selanjutnya akan tetap dikabulkan atau langsung ditolak mentah-mentah. Jika Kyuhyun akan menolaknya mentah-mentah, maka tak heran. Karena menurutnya, sekarang tingkah dirinya sudah setengah gila.

Ah, bukan setengah lagi. Sudah sempurna gilanya.

Aeri langsung meneguk segelas air itu sampai habis seraya memandang blue note itu dengan pandangan kosong.

***

“Joo!”

Yeonjoo yang sedang duduk di halte bus menoleh dan mendapati Kyuhyun sedang memandangnya dari jendela mobil sport merah miliknya yang jaraknya sekitar 2 meter dari halte bus itu. Gadis itu hanya bisa tersenyum simpul ketika melihat itu.

“Ada apa?” tanya Yeonjoo datar tanpa basa-basi.

Tampak, mobil itu berjalan mundur hingga Kyuhyun dapat melihat Yeonjoo dengan jelas melalui jendela mobilnya yang sengaja terbuka. “Butuh tumpangan?”

“Maaf, tapi aku lebih suka naik bus.”

“Benar tidak mau?”

Yeonjoo menoleh ke arah Kyuhyun yang masih memasang wajah dengan bibir yang melengkung –membentuk sebuah senyum. Ia hanya bisa menghelakan napas panjang ketika melihat pria itu. “Aku masih punya urusan, Kyu. Mianhae.”

“Benar begitu?”

Yeonjoo mengangguk pelan. Tak lama, kedua matanya menangkap sebuah bus telah datang dan berhenti di halte yang ia pijak. “Sudah ya. Kau duluan saja.”

Kemudian, Yeonjoo memasuki bus tersebut setelah melambaikan tangannya ke arah Kyuhyun. Kyuhyun yang melihat hal itu hanya bisa memandang bus yang mulai berjalan hingga hanya terlihat punggung bus itu semakin menjauh. Tampak, pria itu tersenyum miris ketika memandangnya dan menghelakan napas panjang. Kemudian, kembali menginjak pedal gasnya dan melaju pergi.

Sementara, Yeonjoo mengintip mobil sport merah milik Kyuhyun yang mulai menjauh dari halte tanpa mengikuti arah bus dengan lesu. Ia kembali menghelakan napas panjang. Sebenarnya, ia memang memiliki urusan. Namun, ini berbeda. Ini urusan pribadi yang tak pernah diketahui oleh orang-orang sekitar, termasuk Cho Kyuhyun.

Drrt.. Getar ponsel miliknya sedikit mengejutkan gadis itu. Ia memandang nama si penelepon sekilas, kemudian mengangkatnya.

“Yeoboseyo?”

Jeda sejenak.

“Aku akan ke sana. Tunggulah aku sebentar saja. Tenang saja, aku pasti datang. Eomma.”

***

Yeonjoo membuka pintu pagar sebuah rumah dengan arsitektur rumah Hanok yang masih terawat dengan baik. Gadis itu memandang keadaan rumah itu dengan sedikit miris. Tidak ada yang berubah, pikirnya. Menurutnya, masih banyak kenangan manis yang masih melekat erat di rumah itu. Sudah sangat lama ia tak pernah kembali ke rumah ini.

“Aku pulang, Eomma.”

Yeonjoo melepas high heelsnya dan berjalan masuk ke rumah itu yang dikelilingi oleh tanaman-tanaman kecil. Saat gadis itu mendorong pintu ke samping, tampak seorang wanita paruh baya sedang duduk bersantai sembari menyulam. Sepertinya, beliau baru saja selesai memasak. Wanita paruh baya itu menoleh dan memandang Yeonjoo dengan mata yang berkaca-kaca.

“Kau sudah datang rupanya,” ungkap beliau pelan. “Eomma sangat merindukanmu, nak.”

“Kenapa Eomma masih di Seoul?” tanya Yeonjoo sama sekali tak menghiraukan perasaan senang Nyonya Shin –ibunya. “Kan Eomma bisa kembali ke Hongkong. Untuk sementara ini, lebih baik Eomma kan kembali ke sana. Biarlah Appa di Seoul.”

“Tunggulah sampai surat cerai Eomma keluar.”

Yeonjoo terhenyak. Ia memandang ibunya tak percaya. Tampak, Nyonya Shin tetap terfokus pada aktivitas menyulamnya ketika tahu Yeonjoo sedang membahas topik pembicaraan yang tak beliau sukai.

“Eomma, apakah ini akhir dari semuanya? Selama hidupku, Eomma dan Appa seringkali bertengkar dan tak pernah menghiraukanku. Dan hidup selama 23 tahun, inikah keputusan akhirnya? Eomma~ Kumohon, pikirkan hal ini dengan matang. Jangan seperti ini―”

“Eomma mohon, lebih baik kau tidak usah ikut campur urusan ini. Ini adalah masalah antara Eomma dan Appa-mu. Eomma tidak menyuruhmu untuk datang ke mari hanya untuk membicarakan hal ini.” Nyonya Shin segera menukas ucapan Yeonjoo seraya menarik napas panjang.

Sementara, Yeonjoo hanya bisa memandang sang ibu dengan pandangan kosong.

***

Seorang pria dengan kacamata berbingkai hitamnya berjalan di sepanjang lorong gedung sebuah perusahaan penerbit sembari membawa beberapa kertas penting. Kedua matanya yang teduh itu membaca isi kertas-kertas itu dengan penuh ketelitian.

“Donghae-ssi!”

Pria berkacamata itu menoleh ke belakangnya dan mendapati Aeri sedang berlari dengan sepatu tali berwarna peach. Ketukan hak pendek dari sepatu Aeri itu berhasil membuat suara yang cukup nyaring di sekitar lorong yang sepi, ditambah lagi dengan suara gadis itu yang memang agak keras.

Lelaki bernama Donghae itu mengerutkan keningnya saat Aeri sudah berdiri di hadapannya dan memberikan sebuah binder yang agak besar dengan kedua tangannya.

“Apa ini, Ri-ya?” tanya lelaki itu.

Aeri menggaruk pipinya yang tak gatal sambil memandang binder yang ia bawa dan Donghae secara bergantian. “Tugas yang anda berikan pada saya minggu lalu.”

“Lalu, kapan seharusnya deadline?” tanya Donghae dengan datar.

“Besok,” jawab Aeri langsung dengan polos.

Donghae mengangguk-angguk mengerti sambil tersenyum. Kemudian, tangannya terulur menerima binder besar dari tangan Aeri. “Sudah kau periksa semuanya?” tanya Donghae disaat tangannya menelusuri isi binder itu dan membacanya dengan teliti dan berjalan pelan.

“Sudah,” sahut Aeri seraya mengikuti langkah kaki Donghae. “Anda tahu tidak, sebenarnya ada beberapa naskah yang saya rasa harus secepatnya diterbitkan. Karena, beberapa tema yang diangkat dalam naskah-naskah tersebut berbeda dari yang biasanya ada di pasaran dan itu sangat menarik!”

“Kau yakin?” tanya Donghae tanpa memandang Aeri sedikitpun.

Aeri mengangguk mantap. “Tentu saja! Biasanya pilihan saya itu kadangkala ada yang benar!”

“Hanya ‘kadangkala’ kan?”

Jleb! Seketika, Aeri diam seribu bahasa. Skak mat. Sial, setelah sekian lama tak bertemu dengan atasannya, kini orang yang mampu membuat Aeri seperti ini lebih banyak selain Kyuhyun. Sebenarnya, hal seperti ini sudah dianggap ‘biasa’ oleh Aeri sejak lama. Sebab, sang kepala editor bernama Lee Donghae itu memang kadang berkata tanpa dipikirkan terlebih dahulu. Namun, karena lama tak bertemu ia jadi kurang terbiasa.

Melihat Aeri yang langsung terdiam ketika mendengar ucapannya, Donghae segera berdeham pelan. “Hei.”

Aeri menoleh ke arah Donghae dengan pandangan bertanya. “Ya?”

“Apa kau tersinggung dengan ucapanku?” tanya Donghae.

Aeri memandang atasannya ini dengan pandangan datar, kemudian menggeleng pelan sambil tersenyum. Tak heran jika si kepala editor yang manis ini seringkali dijuluki sebagai ‘pria cassanova yang baik hati’. Pria ini kadangkala setelah mengatakan suatu hal yang terdengar sumbang dan menyakiti hati orang lain, maka ia akan segara menyembuhkannya dengan caranya sendiri. Benar-benar hebat.

Berbeda sekali dengan Kyuhyun yang malah semakin membuat orang lain sebal dengan tingkahnya yang jahil dan selalu seenaknya. Kalau dipikir-pikir, bagaimana bisa orang semacam Kyuhyun bisa mendapat teman banyak walaupun menyebalkan? Batin Aeri tak habis pikir. Yah, tapi pada kenyataannya Aeri malah menyukai orang semacam Kyuhyun ketimbang Donghae. Kadangkala, perasaan itu benar-benar payah. Tidak selalu membidik ke arah orang yang tepat.

“Heh, Song Aeri!”

Aeri langsung tersadar dari lamunannya dan memandang atasannya itu. “Ya?”

Tampak, Donghae langsung mendecakkan lidahnya. “Kau tak dengar ucapanku, ya? Apa sih yang kau lamunkan heh?” tanya Donghae dengan nada aneh.

Dengan segera, gadis itu memberikan cengiran aneh seraya menggaruk kepalanya yang tak gatal. “Jeosonghamnida.”

Donghae menghelakan napas sejenak. “Mau makan es krim, tidak? Aku yang traktir,” tawar Donghae.

“Mau!” seru Aeri dengan spontan. Kemudian, gadis itu langsung terdiam  sejenak. “Tapi Donghae-ssi, apa tidak apa-apa?”

Donghae tersenyum memandang Aeri. “Tidak apa-apa. Ini sebagai hadiah untukmu juga, karena sudah mengumpulkan tugasmu dengan baik. Lagipula, sebentar lagi sudah memasuki jam makan siang. Ayo, pergi.”

Donghae mengajak Aeri dan berjalan berlalu begitu saja. Sementara, Aeri segera mengikuti langkah si pria cassanova yang baik hati itu dengan wajah yang semakin berseri-seri. Pikiran di otaknya hanya terlintas satu pertanyaan yang cukup konyol.

Bisakah ia menyukai si kepala editor yang manis itu saja? Sepertinya, perasaannya akan menjadi lebih baik jika ia menyukainya dan tak perlu lagi terlibat permainan aneh itu.

***

Yeonjoo duduk di sebuah bangku kayu memanjang di bawah pohon tinggi nan rindang dengan wajah lesu seraya memandang tugas laporannya. Berbeda dari biasanya yang seringkali tersenyum. Kali ini, suasana hatinya terlihat suram. Sepanjang siang hari ini, Yeonjoo memang tampak tak bersemangat sejak kembali dari rumahnya.

Kembali dari rumahnya itu membuatnya kembali membongkar semua memori lama yang telah terkubur sekian lama. Namun, hal yang paling menyakitkan baginya saat ini adalah jika teringat dengan topik yang dibicarakan saat di rumah ibunya tadi –tentang perceraian antara beliau dengan ayah Yeonjoo. Mendengar suara pernyataan ibunya saja membuatnya semakin lemas. Ia benar-benar tak habis pikir.

Gadis itu bahkan sekarang sudah tak bisa membayangkan kehidupan selanjutnya setelah terjadi perceraian orangtuanya.

“Kau kenapa?”

Yeonjoo tersentak kaget dan mendapati kini Kyuhyun sedang memandangnya dengan alis bertaut. “Kenapa?” tanya Yeonjoo sambil memandang Kyuhyun datar.

“Malah balik bertanya lagi! Kau yang kenapa!” seru Kyuhyun. “Kulihat, sedaritadi kau terus melamun.”

Yeonjoo terdiam sejenak kemudian tersenyum lebar di hadapan Kyuhyun. “Ah, aku baik-baik saja, Kyu. Ada beberapa hal yang mengganggu pikiranku. Itu saja.”

“Benar begitu?” tanya Kyuhyun dengan nada ragu.

Yeonjoo mengangguk pelan. “Ya,” ujarnya seraya menghelakan napas pendek. “Aku ada urusan. Sampai nanti.”

Gadis itu segera bangkit dari duduknya, lalu melangkah pergi meninggalkan Kyuhyun tanpa menoleh sedikitpun ke arah pria itu. Yeonjoo memang saat ini sedang ingin menghindari Kyuhyun. Ia tak ingin Kyuhyun tahu masalahnya saat ini, karena gadis itu tahu Kyuhyun suka sok tahu dan ingin mencampuri urusan orang lain. Dan, yang paling penting. Ia tak mau membuat pria itu khawatir.

Sementara, Kyuhyun yang melihat itu hanya bisa memandang heran. “Kau menghindariku?”

Pertanyaan Kyuhyun yang terlontar membuat Yeonjoo berhenti melangkah dan lagi-lagi ia meruntuki dirinya sendiri. Ayo, jalan! Seru Yeonjoo dalam hati. Tubuhnya mendadak terkesiap dan menegang. Segera, Yeonjoo menggeleng cepat.

“Aniyo,” ungkapnya singkat. Lalu, ia kembali melangkahkan kakinya dengan cepat agar dapat menghindari Kyuhyun.

Saking tergesa-gesanya, tanpa sengaja ia menabrak seseorang yang ternyata Jongdae hingga semua barang ia bawa terjatuh berhamburan.

“Joo Noona,” ucap Jongdae terkejut. “Gwenchannayo?”

Yeonjoo mengangguk pelan. Dengan linglung, ia berjongkok untuk memungut semua bawannya. Pikirannya benar-benar tak fokus. Jongdae yang melihat itu segara membantu gadis itu.

“Noona, apa ada suatu hal yang cukup menganggu pikiranmu?” tanya Jongdae hati-hati.

“Aniyo.” Lagi-lagi, Yeonjoo menggeleng cepat. “Aku baik-baik saja. Ah ya, aku harus pergi.”

Namun saat Yeonjoo kembali melangkah, sebuah batu berhasil membuat tersandung dan hampir terjatuh. Untung saja masih ada Jongdae yang di belakang Yeonjoo untuk menolongnya. Dengan cepat, pria itu langsung menahan bahu Yeonjoo yang hampir terjungkal ke belakang. Tampak, Jongdae memandang Yeonjoo dengan pandangan sedikit khawatir.

“Tapi, wajahmu sama sekali tidak menunjukkan bahwa kau baik-baik saja,” ungkap Jongdae terus terang. “Ada apa?”

Yeonjoo memandang Jongdae lekat, kemudian tertawa kecil. “Kau pandai menebak perasaanku, Jongie.”

Jongdae hanya tersenyum. Yah, karena aku mengerti dirimu dan mencintaimu, Joo Noona, batin Jongdae. “Berniat untuk berbagi cerita denganku?” tawar Jongdae seraya tersenyum lebar. “Aku siap jadi tempatmu bersandar, Noona.”

Yeonjoo  membalas senyum Jongdae seraya mengangguk pelan. Yah, tak baik juga jika suatu masalah selalu dipendam sendiri. Hal itu hanya akan membuatnya semakin kesepian.

Akhirnya, Jongdae dan Yeonjoo duduk di sebuah bangku panjang tak jauh dari kampus mereka. Terlihat, wajah Yeonjoo menunjukkan kebingungan karena harus memulai semua masalahnya darimana. Dan, Jongdae―tentu saja semakin tak sabar.

“Noona! Berhentilah memasang wajah seperti itu!” seru Jongdae kesal.

Yeonoo hanya membalas ucapan Jongdae dengan tersenyum kecil seraya berkata, “Aku sudah bingung karena masalah terus menumpuk tanpa adanya jalan keluar. Dan sekarang…”

Jongdae menunggu kelanjutan ucapan Yeonjoo. “Apa?”

Yeonjoo menghelakan napas panjang. Entah kenapa, hari ini sudah kesekian kalinya ia menghelakan napas panjang. “Orangtuaku ingin bercerai dan Eomma-ku sedang menunggu surat cerai dengan Appa-ku. Kupikir, Eomma-ku tidak akan melakukan ini dan menetap di Hongkong sementara waktu. Ternyata, ini malah jauh di luar dugaanku.”

“Aku tahu.”

“Tahu apanya?” tanya Yeonjoo dengan alis hampir menyatu.

“Shin Ajumma memberitahuku tentang hal itu tadi pagi melalui telepon,” ungkap Jongdae. “Dan, beliau berharap kau mengerti akan hal itu.”

Yeonjoo terdiam sejenak. Jadi, ibunya memberitahu Jongdae? Yah, Ibunya memang tak pernah salah orang jika ingin menasehatinya melalui perantara orang lain. Lagi-lagi, ia kembali menghelakan napas seraya bersandar di bangku tersebut. “Aku sudah tak bisa membayangkan kehidupanku selanjutnya setelah ini.”

Jongdae yang mendengar ucapan Yeonjoo merasa sedikit ganjil. “Hmm, sepertinya aku pernah Noona mengatakan hal yang sama seperti itu. Tapi, kapan ya?”

Tubuh Yeonjoo kembali menegang. Kedua matanya tampak terbelalak sempurna. Otaknya kini sedang bekerja membuka memori lamanya yang telah hilang. Ia tahu, memori itu adalah memori terlarang yang tak perlu diingat. Ia tahu, jika mengingat memori kelam itu akan membuatnya kembali ke masa lalu. Masa lima tahun yang lalu.

“Minwoo Oppa…” Kali ini, Yeonjoo menyebut sebuah nama dengan bibir yang sedikit bergetar. Kemudian, ia langsung mendekap mulutnya dengan kepalan tangannya. “Choi Minwoo…”

Seketika Jongdae terhenyak ketika mendengar nama yang diucapkan oleh gadis itu. Ia langsung menoleh ke arah Yeonjoo dengan tatapan cemas. “Noona.”

Perlahan, airmata gadis itu mengalir mulus. Ia sudah ingat semuanya. Ia dengan bodohnya mengingat kejadian suram lima tahun lalu itu. Tampak, tangannya bergetar hebat ketika ia menyebut nama itu. “Choi Minwoo…”

“Noona, uljimayo,” kata Jongdae tak enak seraya mengusap punggung Yeonjoo. Ia kini merasa bersalah. “Mianhae.”

Yeonjoo menggeleng pelan. Airmatanya masih mengalir deras. “Gwenchanna,” ucapnya pelan. “Sekarang tanggal berapa?”

***

“Donghae-ssi, gamsahamnida.”

“Ne.”

Donghae memandang Aeri yang kini sedang memandang es krimnya dengan mata yang berbinar. Betapa tidak, gadis itu tak perlu mengeluarkan uang untuk membeli sebuah es krim dengan porsi besar. Berbeda sekali dengan Kyuhyun yang tak pernah mau mentraktirnya. Jangankan es krim, jus jambu kesukaannya saja harus ia bayar sendiri.

“Apa kau begitu menyukai es krim?”

Ucapan Donghae membuat Aeri kembali tersadar dari lamunannya. Kemudian, ia menggeleng. “Aniyo, Donghae-ssi. Saya lebih suka jus jambu.”

“Apa aku perlu membelikanmu jus jambu juga?” tanya Donghae polos.

Dengen segera, gadis itu kembali menggeleng. “Ah, tidak perlu. Saya bisa membelinya sendiri.”

“Ri-ya, bisakah kau berhenti bersikap formal denganku? Ini di luar pekerjaan tahu.”

Aeri mengerutkan keningnya sekilas. “Tapi―”

“Panggil aku ‘Donghae Oppa’,” tukas Donghae.

“Donghae Sunbae,” ucap Aeri cepat. “Panggilan ’Sunbae’ lebih baik daripada Donghae-ssi. Saya agak kurang terbiasa dengan panggilan ‘Oppa’ bila bertemu dengan anda.”

“Ah, geurae,” ujar Donghae sambil mengangguk mengerti pada Aeri. “Hmm, ada satu hal yang ingin kutanyakan padamu.”

“Apa, Sunbae?” tanya Aeri dengan nada ingin tahu.

Donghae terdiam sejenak kemudian memandang Aeri. “Apa kau―”

Drrtt.. Getar ponsel milik Aeri sedikit mengejutkan sang pemilik. “Tunggu dulu, Sunbae,” pintanya pada Donghae. Dengan segera, ia mengangkat telepon setelah melihat nama yang tertera di layar ponselnya. Cho Kyuhyun. Sial, lelaki ini mulai menganggu harinya lagi. Dengan malas, ia menjawab, “Yeoboseyo?”

“Kau di mana? Aku ingin bicara denganmu.”

***

Yeonjoo dan Jongdae berjalan beriringan melewati jalan setapak yang menanjak ke atas bukit. Tampak, tangan Yeonjoo yang semakin kurus sedang membawa setangkai bunga matahari. Wajahnya terlihat muram. Seolah, kebahagiaannya kini telah terampas oleh masalah yang terus berdatangan. Saat dirasa Jongdae sudah sampai, pria itu perlahan berhenti melangkah. Seketika, Yeonjoo menoleh ke arah Jongdae dengan pandangan bingung.

“Ada apa?” tanya Yeonjoo. “Kita belum sampai, Jongie.”

“Aku tunggu di sini saja, Noona,” ujar Jongdae setelah berpikir sejenak. “Aku pikir, seharusnya memang Noona harus datang ke sana sendirian.”

Yeonjoo mengangguk mengerti dan kembali melanjutkan langkahnya. Tak lama setelah itu, sampailah gadis itu di suatu tempat di mana terdapat banyak pohon rindang. Diantara pepohonan rindang, terdapat sebuah bangunan kecil yang tampak terawat dengan baik. Dengan segera, ia masuk ke dalam bangunan itu.

Mata gadis yang hitam murni itu memandang seluruh ruangan yang terdapat banyak sekali rak lemari dengan pintu dari kaca yang tembus pandang. Rak itu berisi foto, kendi berisi abu jasad yang telah dikremasi, barang-barang―sepertinya benda kesukaan si pemilik yang terpajang di foto tersebut, nama keluarga, nama pemilik foto, dan berbagai macam bunga. Hingga, gadis itu berhenti di sebuah rak yang penuh dengan bunga matahari. Tampak, di dalam rak tersebut bertuliskan suatu nama. Choi Minwoo.

Seketika, gadis itu duduk terkulai lemas sambil memandang rak itu―terutama foto berisi seorang pria yang sedang tertawa renyah yang terpampang di rak tersebut. Airmatanya kembali pecah dan kedua tangannya berusaha menahan mulutnya untuk tidak mengeluarkan suara keras karena menangis.

“Minwoo Oppa… Minwoo Oppa…” gumam Yeonjoo. “Choi Minwoo…”

Dan, ingatannya kembali terlempar ke masa 5 tahun lalu bersamaan dengan ia menggumamkan nama itu.  Bagaikan melepaskan kertas putih agar kertas berwarna abu-abu terbuka dan terlihat dengan jelas.

***

“Minwoo Oppa!”

Seorang pria bertubuh tinggip tegap sedang membawa setangkai bunga matahari menoleh dan mendapati seorang gadis sedang berlari sambil melambaikan tangannya. Ia tersenyum ketika matanya berhasil menatap mata sang gadis. “Yeon-ah!”

Gadis itu kemudian memperlambat langkahnya dan menatap pria bernama Minwoo itu. “Oppa sudah lama?” tanya sang gadis.

Minwoo menggeleng pelan seraya menyerah setangkai bunga matahari yang ia bawa. “Aniyo. Sebelum itu, aku membeli bunga dulu. Ini untukmu, Yeon.”

Yeonjoo tersenyum saat melihat bunga itu. “Gumawo, Oppa. Hmm, tapi mengapa kau selalu memberiku bunga matahari? Dan, mengapa kau begitu menyukai nama tengahku, Oppa? Namaku kan Shin Yeonjoo. Kau bisa memanggilku Joo.”

Minwoo tertawa renyah ketika pertanyaan semacam itu terlontar dari bibir kekasihnya tersebut. “Aku menyukai bunga matahari karena bunga tersebut akan tetap terlihat mekar dengan ceria walalupun hujan datang. Sifat semacam itu harus diterapkan dalam hatimu, karena itu positif. Dan, untuk pertanyaan kedua,” Minwoo tertawa kecil. “Habisnya semua orang yang mengenalmu, pasti memanggilmu Joo. Aku kan ingin sedikit berbeda daripada yang lain. Lagipula, aku lebih menyukai nama tengahmu. Yeon. Jika aku memanggil nama tengahmu, kedudukanku terasa special dan berbeda. Apakah kau tahu tentang hal itu, huh?”

Yeonjoo mengerucutkan bibir dan menggerutu. Namun, wajahnya sama sekali tidak menunjukkan wajah marah. “Arrayo, Oppa. Ah! Hari ini kita mau ke mana?”

Minwoo kembali tertawa renyah ketika melihat tingkah Yeonjoo. Dengan gesit, tangan pria itu langsung menggamit tangan Yeonjoo dan menggenggamnya. “Kaja, kita makan siang di kafe biasa.”

Kemudian, mereka berjalan beriringan sembari bergandengan tangan. Selisih umur Minwoo dan Yeonjoo terpaut sekitar 4 tahun. Namun, mereka begitu dekat sejak Yeonjoo bergabung dengan organisasi majalah sekolah yang cukup terkenal dan Minwoo merupakan ketua penanggungjawab organisasi tersebut. Dan―tentu saja, semua orang tahu tentang mereka sejak saat itu.

Akhirnya, mereka sampai di kafe tempat biasa mereka bertemu dan memesan makanan. Sesekali, Minwoo melirik ke arah Yeonjoo. Tampak, wajahnya itu menunjukkan ekspresi keraguan. “Yeon-ah,” panggil Minwoo.

Seketika, Yeonjoo menoleh dan memandang Minwoo setelah sebelumnya selalu terpaku melihat jalan raya yang berlalu lalang. “Ne?”

“Nan bogoshipo,” ungkap Minwoo singkat.

Blush! Kata-kata semacam itu mampu membuat wajah Yeonjoo berubah menjadi merah muda. Yeonjoo hanya mengangguk pelan. Namun, ia merasa agak ganjil saat Minwoo mengatakan hal itu.

“Ada apa, Oppa? Apa ada sesuatu yang ingin kau katakan padaku?” tanya Yeonjoo.

Minwoo terdiam sejenak, kemudian ia menghelakan napas panjang. “Aku harus pergi ke Jepang.”

“Mwoya?” Yeonjoo terkejut hingga mengeluarkan pertanyaan itu dengan suara keras hingga semua pengunjung kafe menoleh ke arah mereka. Dengan segera, Yeonjoo berdeham pelan. “Apakah akan lama?”

Minwoo menggeleng sambil tersenyum. Tangannya mulai meraih tangan Yeonjoo dan menggenggamnya dengan erat. “Aniyo. Hanya 3 hari. Aku harus menemui Eomma-ku di sana.”

Awalanya, Yeonjoo berpikir sejenak. Entah kenapa, perasaannya menjadi tak enak. Namun, ia segera mengangguk. “Arraseo.”

***

Hari ini adalah hari keberangkatan Minwoo ke Jepang. Yah, walaupun perasaan tak enak Yeonjoo masih menyelimuti hatinya sejak kemarin, namun hanya ia anggap sebagai angin lalu. Pagi harinya, Yeonjoo mendapat telepon dari Minwoo yang saat itu masih berada dalam mobil dan menyetir.

“Aku pergi dulu, ya.”

“Hati-hati. Oppa tak akan lama kan?”

“Hmm.”

Yeonjoo terdiam saat mendengar jawaban dari Minwoo. “Benar tak akan lama kan?”

“Ne. Tidak akan lama.”

Seharusnya, Yeonjoo datang ke bandara untuk mengantar Minwoo. Tapi, Minwoo melarangnya karena ia menganggap bahwa kepergiannya ini bukanlah pertemuan terakhirnya. Menurutnya, masih ada banyak waktu untuk bertemu kembali dengan sang kekasih.

“Oppa janji akan kembali secepatnya kan?”

“Ne. Aku akan kembali secepatnya, Yeon. Tenang saja.”

“Baiklah. Hati-hati ya, Oppa. Sekarang tetap fokus, Oppa kan sedang menyetir.”

“Arraseo.”

“Nan neol saranghae.”

“Neol Saranghae. AH!”

BRAKK!! Tiba-tiba, terdengar suara benturan keras dari telepon Minwoo. Hal itu membuat Yeonjoo sedikit panik. “Oppa?”

Tak ada jawaban.

“Oppa!”

Beberapa menit telah berlalu dan Yeonjoo tetap menunggu suara Minwoo terdengar di telinga agar ia tetap kembali tenang. Namun, yang terdengar malah suara sirine ambulans―atau mobil polisi dan berbagai macam teriakan―yang sepertinya berasal dari orang-orang banyak. Yeonjoo semakin cemas.

“Yeoboseyo?”

Terdengar sebuah suara―suara yang sangat terdengar asing. Bukan Minwoo Oppa? batin Yeonjoo. “Yeoboseyo. Siapa ini?”

“Apa anda salah satu teman dekat pemilik ponsel ini?”

“Ya. Ada apa memangnya?”

“Maaf, kami dari kepolisian. Saya ingin memberitahu anda bahwa baru saja terjadi kecelakaan mobil berkecepatan tinggi dan menyebabkan sang pemilik ponsel ini mengalami luka parah. Saat ini belau sedang dibawa ke rumah sakit.”

Belum selesai polisi itu bicara, Yeonjoo langsung jatuh terduduk. Tubuhnya tampak melemas.

 “Minwoo Oppa… Minwoo Oppa…”

***

Suasana di depan ruang UGD tampak menegang dan mencekam. Tubuh Yeonjoo tampak menegang. Sementara, kedua tangannya bergetar hebat dan wajahnya begitu pucat. Walaupun begitu, ia masih berusaha menenangkan dirinya sendiri.

“Oppa sudah berjanji akan kembali, Joo. Tenang saja,” gumam Yeonjoo pada dirinya sendiri. “Minwoo Oppa pasti kembali.”

Brak! Pintu ruang UGD terbuka dan refleks gadis itu langsung bangkit bagaikan terjadi sengatan listrik. Segera, Yeonjoo menghampiri sang dokter yang keluar dengan wajah lesu. “Dokter, bagaimana kondisi Choi Minwoo?”

“Choi Minwoo,” ucap dokter itu. Kemudian, ia menarik napas berat. “Ia mengalami luka parah di bagian internal. Terutama kepalanya karena benturan saat terjadi kecelakaan begitu keras.”

Yeonjoo masih berusaha untuk menenangkan dirinya. Berharap masih ada keajaiban untuk Minwoo. “Apa ia masih bisa diselamatkan?”

Dokter tersebut tertunduk lesu sembari menggeleng pelan. “Maafkan aku. Kondisinya yang semakin kritis membuat kami tak bisa berbuat banyak. Kami sudah melakukannya dengan maksimal. Ia tak bisa terselamatkan. Maafkan aku.”

Dokter itu mulai berjalan menjauh dengan lemas setelah mengusap punggung Yeonjoo. Seketika pula, gadis itu terkulai lemas dan airmatanya mulai mengalir deras. Ia sudah tak peduli keberadaannya. Yang ia pedulikan hanyalah satu orang, Minwoo.

“Minwoo Oppa… Minwoo Oppa….” ucapnya disela-sela tangisannya.

***

Yeonjoo memejamkan matanya sejenak, kemudian menatap foto yang terpampang rapih di rak makam tersebut. Tangannya berusaha menyentuh foto itu seraya tangan satunya lagi menaruh setangkai bunga matahari. “Minwoo Oppa, sudah 5 tahun tak bertemu. Bagaimana kabarmu, Oppa? Apa kau sehat-sehat saja?”

Tak ada jawaban. Yah, memang ia sedang bertanya pada orang yang berada dalam foto tersebut. Yeonjoo berusaha melanjutkan ucapannya sebelum airmatanya kembali mengalir.

“Mianhae, seharusnya aku datang ke pemakamanmu waktu itu, seharusnya aku datang ke bandara dan melarangmu untuk pergi, seharusnya sejak awal kau memberitahu akan pergi ke Jepang aku sudah mengatakan bahwa perasaanku tak enak.”

Tangis Yeonjoo semakin keras. Ia berusaha mengendalikan emosinya, namun sia-sia. “Namun, aku malah melakukan hal yang paling bodoh. Aku tidak datang ke pemakamanmu, aku tidak datang ke bandara karena menuruti ucapanmu, dan aku tidak melakukan apa yang seharusnya kulakukan.”

“Aku membawa bunga matahari kesukaanmu. Awalnya, aku berusaha melupakanmu. Yah, memang berhasil. Tapi, dengan bodohnya aku mengingatmu lagi dengan ucapan yang terdengar konyol. ‘Aku sudah tak bisa membayangkan kehidupanku selanjutnya setelah ini.’ Ucapan yang benar-benar terdengar konyol kan? Tapi, kenapa? Kenapa ucapan itu bisa membuatku kembali mengingatmu?”

Yeonjoo terus bicara sampai perasaannya benar-benar lega. Sesekali, ia tertawa dan menangis sendirian. Untuk kali ini saja ia seperti ini.

***

“Hari ini Joo aneh, Ri-ya.”

Aeri menoleh ke arah Kyuhyun yang kini sedang terfokus pada jalan raya. Saat ini, gadis itu berada di dalam mobil Kyuhyun. Dan, ia tak tahu mau dibawa ke mana oleh lelaki menyebalkan ini. “Aneh kenapa, Oppa?” tanya Aeri dengan nada heran.

“Sedaritadi ia selalu menghindariku. Aku sedikit bertanya saja, ia langsung menjawab seadanya dan berjalan pergi.”

Aeri hanya bisa memutarkan bola matanya dengan jengah. Kenapa orang-orang di sekitarnya begitu menyukai Yeonjoo? Apakah gadis itu sadar bahwa banyak sekali orang yang menyukainya? Pikir Aeri dengan sedikit sebal. “Lalu?”

“Apalagi?”

“Kau mau cerita apalagi?”

“Hanya itu.”

“Tak ada keluhan lagi?”

“Tidak.”

“Sungguh?”

“Hya, Song Aeri! Apa sekarang kau sedang ingin mengajakku berdebat heh?”

“Aku kan hanya bertanya. Apa tak ada keluhan lagi? Kalau ada, ya keluarkan saja. Aku ini kan tong sampahmu.”

“Berhentilah bicara!”

“Baiklah! Kalau begitu turunkan aku sekarang!”

Ciiitt… Mobil sport merah milik Kyuhyun berhenti secara tiba-tiba, membuat Aeri langsung terpental ke depan. Untung saja saat ini ia menggunakan sabuk pengaman. Jika tidak, dipastikan kondisi Aeri sudah posisi wajah menempel di kaca mobil.

“Kyuhyun Oppa!!” teriak Aeri sambil memandang Kyuhyun kesal. “Apa sih maumu?!”

Kyuhyun terdiam sambil memandang Aeri dengan napas tak beraturan. Ia kehabisan kata. “Apa karena aku melakukan suatu kesalahan yang menyebabkan Joo seperti itu?”

“Mollayo!” seru Aeri. “Aku ini bukan cenayang! Tahu!”

“Lalu, aku harus bagaimana?” tanya Kyuhyun dengan wajah bodohnya.

Tampak, Aeri agak kaget saat melihat wajah Kyuhyun yang seperti itu. “Kalau kau mau, tanyakan saja langsung pada Joo Eonni,” ujar Aeri akhirnya setelah meredam kekesalannya.

***

“Sudah lega?”

Jongdae bangkit dari duduknya dan memandang ekspresi wajah Yeonjoo yang kini sulit ditebak. Namun, Jongdae dapat menebak apa yang telah terjadi ketika melihat mata Yeonjoo yang sembab, airmata yang mengering, dan tangan yang gemetar. Lelaki itu langsung mengikuti Yeonjoo dari belakang.

“Jongie,” panggil Yeonjoo. “5 tahun lalu… apa kau datang ke acara pemakaman Minwoo Oppa?”

Tampak, Jongdae mengangguk pelan. “Ne. Waeyo?” tanya lelaki itu. “Ah iya, aku ingat kau tak bisa datang.”

“Bukan tak bisa datang. Tapi, memang berniat tak datang,” koreksi Yeonjoo.

Seketika, Jongdae menatap Yeonjoo dengan pandangan kaget. “Kenapa memangnya?”

“Terlalu menyakitkan bila aku datang. Itu hanya akan membuatku semakin merasa bersalah padanya. Kecelakaan yang menimpa Minwoo Oppa adalah salahku. Hanya itu. Makanya, sejak saat itu aku tak pernah berusaha percaya pada orang-orang sekitarku. Aku takut mereka terluka dan membuatku selalu dihantui oleh rasa bersalah.”

“Termasuk Kyuhyun Hyung dan aku, kan?” ungkap Jongdae langsung.

Secepat kilat, gadis itu melayangkan tatapan heran pada Jongdae. “Maksudmu?”

Jongdae tersenyum seraya menghelakan napas panjang. “Kau tidak pernah menerima salah satu pink note dari kami sejak permainan ‘Love Note’ dimulai, karena kau takut salah satu dari kami terluka dan kau merasa bersalah. Bukan begitu?”

Gadis itu menundukkan kepalanya karena malu. “Mianhae..”

“Gwenchanna,” kata Jongdae menenangkan seraya menepuk bahu Yeonjoo.

“Kini, aku sedang menghindari Kyuhyun. Biarkan hanya kau dan aku yang tahu masalahku. Itu lebih baik,” kata Yeonjoo. “Aku tak mau pria itu tahu dan khawatir.”

“Kenapa?” tanya Jongdae sambil memincing matanya ke arah Yeonjoo. “Tampaknya, kedudukan Kyuhyun Hyung terasa special di matamu, Noona.”

Mendengar jawaban seperti itu, membuat Yeonjoo tergagap. “A-aniyo.”

Jongdae tertawa. “Jujurlah pada dirimu sendiri. Bila kau sedang menyukai seseorang, jangan takut bahwa orang masa lalumu akan terus mengikutimu. Bila kau menganggap bahwa orang yang kausukai benar-benar berarti, dengan perlahan orang masa lalumu akan menghilang.”

“Kau aneh,” sahut Yeonjoo. “Kenapa tiba-tiba kau berkata seperti itu?”

Jongdae tersenyum memandang Yeonjoo. Kini, ia sudah menemukan jawaban yang tepat untuk hatinya. Dan, ia sudah rela. “Sebab, aku sekarang tahu perasaanmu sesungguhnya.”

“Mwo?”

Jongdae menarik napas panjang, kemudian matanya yang teduh itu kembali menatap Yeonjoo. “Noona… mencintai Kyuhyun Hyung kan? Lalu, kau takut akan menorehkan luka dan dihantui perasaan bersalah yang sama seperti Minwoo Hyung kan? Maka dari itu, kau tak pernah menerima pink note milik Kyuhyun Hyung kan?”

― To Be Continued ―

Iklan

2 thoughts on “Love Note : 5th Grey Paper

  1. iseng buka blog ini ternyata chapter 5 udh muncul kk~ eon aku serasa kurang satu kata di kalimat ini,“Hmm, sepertinya aku pernah Noona mengatakan hal yang sama seperti itu. Tapi, kapan ya?” kayak’mendengar” mungkin. mmm ceritanya masih panjangkah eon? kira-kira berapa chapter lagi ya? dari awal baca ff ini aku udh curious bgt, semua tertuju pada yeonjoo, gimana dengan nasib aeri? ahaha 😀 game love note itu misteri ya? gereget :3

    1. hai ^^
      ah iya yang itu -_- maaf ya aku typo soalnya saya burur2 postingnya tanpa editing lagi. maaf ya (-/\-)
      chapternya kayanya masih panjang O_O soalnya itu aja belum puncak konflik. kkk~ sabar ya 😉
      nasib aeri akan terjawab saat chapter selanjutnya 😀
      terima kasih buat pujian dan komentarnya ^^

Mind to Review? ^ ^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s