Love Note : 7th Pain

love note cover 4

© Aeri_Tamie’s Script Writer

Casts : Song Aeri; Kim Jongdae (EXO-M’s Chen); Cho Kyuhyun (Super Junior’s Kyuhyun); Shin Yeonjoo

Other Casts : You can find it in here ^^

Genre : Romance, Drama, Friendship, Comedy Rated : PG-17 Length : Chapter

Disclaimer : 20131025 © Aeri_Tamie

Previous Chapter :

1st Unexpected 2nd (Really) Unexpected 3rd Complicated 4th Let’s Play 5th Grey Paper 6th Love & Dust

Note      : The next chapter special cast Super Junior’s Kyuhyun and EXO-M’s Chen has coming! Kkk~ 😉 Ini sebenernya lebih panjang. Cuman karena saya punya patokan per chapternya, jadi ini dipotong. Wkwk XD Semoga aja suka dengan fanfiction ini. Don’t forget, give me a review please. Because, your review like oxygen. Happy reading, guys! ^^

***

» Story 7 : Pain

Aeri menyaksikan adegan demi adegan antara Kyuhyun dan Yeonjoo di Lotte World yang kini berakhir dengan pelukan bahagia. Perasaannya kini sudah tercampur aduk. Napasnya tercekat dan ia berusaha menelan salivanya kuat-kuat. Ini sudah waktunya, batin gadis itu. Aku harus mundur.

Perlahan, kaki gadis itu melangkah mundur menjauhi area tersebut. Kemudian, berbalik dan berlari sejauh yang ia bisa. Rahangnya mengeras. Ini sudah final, Song Aeri, pekik Aeri dalam hati seraya berlari. Saat napasnya semakin tak teratur, akhirnya Aeri duduk di sebuah bangku panjang dengan napas terengah-engah.

Drrtt.. Getar ponsel sedikit mengejutkan Aeri. Dengan segera, ia mengangat teleponnya tanpa melihat nama yang tertera pada layar ponselnya. “Yeoboseyo?”

“Ri-ya, eoddisseoyo?” Suara berat nan khas menyapa gendang telinga Aeri yang ternyata adalah suara Cho Kyuhyun. “Aku sudah kembali dan kau tak ada di sana. Aku mencarimu tahu.”

“A-aku…” Aeri bicara seraya mencari alas an yang tepat. Matanya memandang ke segala arah. “T-tubuhku sepertinya mulai tidak sehat. Jadi, aku memutuskan untuk pulang saja.”

“Kau sakit?” tanya Kyuhyun dengan nada sedikit cemas. “Kan aku sudah mengingatkanmu. Kalau kau sakit, seharusnya sejak awal kau sudah mengatakannya dan kita tak perlu pergi.”

“Gwenchanna,” elak Aeri. “Aku juga hari ini sudah cukup puas. Gumawo, Oppa. Kau sudah mengajakku ke Lotte World. Hari yang cukup menyenangkan.”

“Kau tidak mau kuantar? Aku bisa mengantarmu pulang kembali ke asrama,” tawar Kyuhyun.

Aeri terdiam mendengar ucapan Kyuhyun. Pikirannya menerawang. Oh, ini bodoh. Bagaimana bisa pria ini menanyakan hal itu setelah aku menyaksikan apa yang terjadi? Cho Kyuhyun sadarlah! Pekik Aeri dalam hati. “Ah, tidak perlu, Oppa. Aku bisa naik bus,” tolak Aeri dengan nada halus.

Terdengar, suara decakan kesal tapi memaklumi keluar dari bibir Kyuhyun. Sepertinya, pria itu kecewa. Tapi, Aeri tak peduli. Karena, hari ini ia justru lebih kecewa jika dibandingkan dengan Kyuhyun. “Aish, padahal aku akan menceritakan suatu hal padamu. Kau tahu, Joo menyerahkan yellow note-nya setelah aku memberikan pink note padanya! Itu tandanya, ia telah menerima cintaku, Ri-ya!”

Deg! Aeri kembali terhenyak. Entah pria ini bodoh atau apa, tapi setidaknya ia tidak perlu menceritakan hal ini secara detail.benar-benar bodoh. Kyuhyun sepertinya tidak tahu kalau saat ini mood Aeri kurang baik berkat dirinya.

Aeri kehabisan kata-katanya. “Ah, kalau begitu… Chukkhahae, Oppa. Mianhae, aku sekarang tak bisa mendnegar ceritamu.”

“Gumawo,” ucap Kyuhyun dengan nada sumringah. Sepertinya, pria itu bahagia. “Hati-hatilah di jalan.”

“Ne. Annyeong.”

Tut! Sambungan langsung terputus begitu saja. Dan, Aeri hanya terdiam lesu ―memikirkan semua yang telah terjadi sekarang. Kini gadis itu resmi menjadi butiran debu. Ia sudah tak bisa mengharapkan perasaannya pada Kyuhyun. Kini, ia resmi kalag telak.

Drrrt… getar ponsel kembali mengejutkannya. Siapa lagi sih yang menelepon?! Apa orang itu tidak tahu kalau ia sedang memiliki perasaan tak menentu hah?! Pekik Aeri dalam hati. Dengan segera, gadis itu mengangkatnya dengan kesal.

“Yeoboseyo?! Siapa lagi ini?!” teriak Aeri kesal. Airmatanya perlahan mengalir. Napasnya kembali tak beraturan.

“Ri-ya, eoddisseoyo?” Kali ini, suara nyaring menyapa gendang telinganya yang ternyata Jongdae.

***

Jongdae memandang ke semua arah di sekitar parade Lotte World. Matanya mencari sosok gadis yang kini sedang terpuruk. Song Aeri. Tampak, mata pria itu mendapati Aeri dengan wajah yang terlihat muram. Dengan segera, pria itu menghampiri sang gadis.

“Bagaimana?” tanya Jongdae saat ia duduk di sebelah gadis itu.

“Apanya?” kata Aeri balik bertanya dengan nada malas. “Sudahlah. Ini semua sudah terjadi dan aku remis menjadi debu.”

“Debu?” ulang Jongdae dengan nada tak percaya. “Ayolah, berpikirlah ke depan.”

Aeri langsung menoleh ke arah Jongdae dengan pandangan tak terima ketika mendengar jawaban Jongdae tadi. “Kau ini apa tidak punya rasa kasihan padaku?” tanya Aeri. “Oke, kalau kau memang tidak akan pernah merasa sakit hati atas apa yang terjadi sekarang. Tapi, aku di sini merasa seperti korban. Tahu tidak?”

“Kenapa kau jadi menuntut sih? Ini kulakukan juga agar mereka bahagia.”

“Baiklah. Mereka bahagia karena cinta dan kita berakhir menjadi debu.”

“Setidaknya aku masih menjadi debu yang berharga.”

“Jongdae-ya, tidak ada debu yang berharga di dunia ini. Semua debu itu tak ada gunanya. Pikirkanlah itu!”

“Baiklah, terserah apa katamu. Jadi, apa sekarang kau masih membenciku?”

“Dasar apatis! Kau menyebalkan!”

Aeri memalingkan wajahnya dari Jongdae sambil menggerutu kesal. Cih, bagaimana bisa dia berubah menjadi seseorang yang begitu menyebalkan? Lama-lama tingkah berdebatnya semakin mirip dengan Cho Kyuhyun. Sial. Aeri benar-benar tak habis pikir.

Hachiii!! Jongdae tersentak kaget dan menoleh ke arah Aeri yang kini baru saja bersin. Aeri menunduk sejenak, kemudian menoleh dan memandang Jongdae sejenak seraya menutup hidungnya. Ketika Kongdae memandang Aeri, pria itu membelalakan kedua matanya lau memandang jijik.

“Cepat pergi ke toilet dan buang ingusmu!” perintah Jongdae dengan nada berteriak yang langsung dijawab dengan anggukan mantap Aeri sebelum berlari cepat ke toilet.

***

“Huweee, Yoora-yaaa~”

“Aish, uljimarayo. Cup, cup, cup~”

Yoora menepuk-nepuk punggung Aeri yang naik-turun dengan maklum. Saat ini, Aeri sudah berada di asramanya setelah ia pulang dari Lotte World dengan bus dan berlari menuju asramanya yang memang harus melalui sedikit jalan setapak. Ketika Yoora melihatnya, kondisi Aeri sudah dalam kondisi mata sembab. Kini, Aeri terus saja menangis. Ia tak ingin bicara lagi, ia hanya ingin menangis untuk sekarang.

“Yoora-yaaa~”

“Kau mau sampai kapan terisak, lalu menangis seperti anak kecil begini, huh? Kami kan sudah memberitahumu sejak awal, lupakan Kyuhyun Sunbae.”

Yoora memandang wajah Aeri yang kini penuh dengan linangan airmata dan ingus yang keluar dari hidungnya. Baiklah, pikir Yoora. Gadis itu tahu, Aeri sepertinya mulai sakit. Dengan cepat, Yoora langsung memegang kening Aeri yang masih menangis tersendu-sendu. Kening gadis itu terasa menghangat.

“Ditambah, sekarang kenyataannya kau sedang sakit. Apa ini juga karena Kyuhyun Sunbae?” tanya Yoora.

“Nan mollayo~!” seru Aeri dengan nada lemas. “Ini akhirnya, Yoora-ya. Ini akhirnya. Aku resmi menjadi debu..”

“Yaa!! Geumanhae!” Yoora langsung menarik tubuh Aeri dan memegang kedua bahu gadis itu dengan erat. Kemudian, ia menatapnya dengan lembut. “Berhentilah menyerah, Ri-ya. Ini bukan dirimu yang kukenal.”

“Geundae, perjuanganku untuk mendapatkan Kyuhyun Oppa selama 4 tahun terakhir ini hanya―”

“Bangkitlah!” Yoora langsung menukas ucapan Aeri. “Kenapa kau jadi mudah menyerah seperti ini sih?”

Aeri menatap Yoora sejenak. Kemudian, pikirannya kembali menerawang. Jika dipikirkan kembali, pemotivasi abadinya ―maksudnya Cho Kyuhyun telah hilang karena pria itu sudah bahagia dengan gadis yang ia cintai. Dan, mau bagaimana lagi. Jika hilang, ya lupakan saja. Tapi pada kenyataanya, ia tidak bisa seperti itu.

Sementara, Yoora berpikir lama. Tumben sekali ia bisa mengatakan hal yang bagus. Biasanya ia hanya diam. Ah, ia jadi teringat Youngmi yang belum pulang dari kafe, Hyoae yang pergi entah ke mana, dan teman-teman lainnya yang belum pulang kuliah.

“Hai.”

Aeri dan Yoora menoleh dan mendapati Hyoae datang dengan keadaan kedua tangannya yang penuh dengan tas belanjaan. Tampak, kedua mata gadis itu membulat ketika melihat kondisi Aeri. “Kau kenapa, Ri-ya?” tanya Hyoae.

“Kau darimana?” tanya Yoora yang sama sekali tak menghiraukan ucapan Hyoae tadi.

“Sehabis belanja banyak di Dongdaemun,” ucap Hyoae dengan nada riang. “Hari ini banyak potongan harga dan kebetulan Eomma-ku memberiku uang saku lebih. Jadi, sebagian uang lebih itu kugunakan untuk berbelanja~”

Yoora mengangguk mengerti. Sementara, Aeri masih saja diam.

“Ri-ya, kau kenapa sebenarnya? Sudah sampai di titik darah penghabisan?” tanya Hyoae beralih ke arah Aeri.

Yoora langsung menyahut, “Sudahlah, Ae-ya. Saat ini ia sedang stress. Jadi, jangan kau buat dia menjadi orang gila.”

“Oh, stress?” Hyoae bertanya seraya mengeluarkan sesuatu dari tas belanjaannya yang ternyata adalah sebuah mantel berbulu sutra tebal. “Ini untukmu.”

Aeri melongo melihat apa yang diberikan oleh Hyoae. Gadis itu memandang Hyoae dan mantel berbulu itu secara bergantian. “Ige mwoya?” Untuk pertama kalinya, Aeri kembali mengeluarkan suaranya setelah beberapa saat ia tak merespon ucapan Hyoae.

“Cantik kan?” tanya Hyoae sambil mengedikkan kedua matanya berkali-kali. “Ini sangat special untukmu. Cocok untuk kau yang sedang patah hati.”

“Nona Jung, jangan bercanda,” ungkap Aeri dengan matanya memandang tak percaya. “Ini konyol.”

“Apanya yang konyol, Nona Song? Ini lucu, tahu tidak? Aish, kau memang tak mengerti fashion. Ck!” sahut Hyoae dengan nada meremehkan.

“Ini pertengahan musim semi menjelang musim panas, Nona Jung. Dan, aku tak mungkin memakai ini sekarang,” jawab Aeri lagi.

“Baiklah. Lagipula, siapa yang menyuruhmu untuk memakai mantel lucu ini sekarang? Dasar bodoh,” ungkap Hyoae yang mulai dongkol dengan jawaban-jawaban yang keluar dari bibir Aeri.

“Ada apa ini?”

Hyoae, Aeri, dan Yoora menoleh dan mendapati Youngmi baru saja pulang bersama Rihwa, Hyena, dan Sekyung.

“Ada apa, Aeri chagi?” tanya Sekyung agak kaget sata melihat Aeri. “Kyuhyun Sunbae, ya?”

“Kami kan sudah beritahu, lupakan orang itu,” Rihwa langsung menyahut dengan nada malas.

“Apa kataku! Kris Wu lebih baik daripada Cho Kyuhyun!” celetuk Hyena yang langsung dijawab dengan jitakan dari para sahabatnya.

Sementara, Youngmi hanya menghelakan napas panjang seraya menggerutu. Sepertinya, hari ini Youngmi agak lelah karena baru pulang dari bekerja paruh waktunya. “Apa maksudmu sih, Hyena-ya? Ucapanmu kacau.” Kemudian, Youngmi memandang Hyoae beserta tas belanjaannya. “Ck, selalu saja. Jangan berbelanja terus! Simpanlah uangmu!” kata Youngmi mulai berceramah pada Hyoae.

Hyoae melongo ketika mendengar ucapan Youngmi. “Kenapa jadi aku yang dimarahi?”

Di sisi lain, Rihwa dan Hyena langsung menghampiri tas belanjaan milik Hyoae dengan mata berbinar. Hyoae tahu, mereka pasti mencari pesanan mereka.

“Hyo, katamu hari ini di Dongdaemun ada potongan harga kan?” tanya Rihwa sambil mengobrak-abrik tas belanjaan itu.

“Kau membeli pesananku tidak?” Kali ini, giliran Hyena yang bertanya.

“Tenang, tenang, Nona-nona. Kuambilkan pesanan kalian dulu ya.” Hyoae langsung mencari salah satu tas belanjaannya diantara sekian banyak yang ia bawa.

“Ini gratis kan?” tanya Youngmi dengan nada tertarik.

Hyoae langsung melayangkan tatapan membunuh pada Youngmi. Tentu saja ia sedikit tak terima dengan ucapan Youngmi mengingat tadi Hyoae diomeli olehnya. “Bayar! Enak saja kau. Satu barang seharga 50 ribu won.”

“Hyaa!! Itu terlalu mahal!” seru Yoora dengan nada merajuk. “Aku hanya punya uang 20 ribu won.”

“Ini bisnis, Nona Kim,” balas Hyoae. “Hmm, tapi kau bisa bayar 20 ribu won asalkan aku pinjam iPad-mu selama 2 hari ini. Kekeke~”

Saat mereka mulai mengobrol seru, Aeri memutuskan untuk melangkah pergi kembali ke kamarnya. Yoora yang melihat itu kembali bersuara.

“Istirahatlah, Ri-ya. Tubuhmu mulai menghangat.”

***

Kyuhyun menyetir mobil sport merah dengan perasaan bahagia. Ia menoleh dan mendapati Yeonjoo sedang menyandarkan tubuhnya ke kursi mobil. Sementara, Yeonjoo memandang Kyuhyun sambil tersenyum. Keduanya memang bahagia karena cinta. Mereka baru saja pulang dari Lotte World setelah mereka bermain bersama. Kini, status mereka adalah pacaran melalui permainan ‘Love Note’.

“Kyu,” panggil Yeonjoo. Pandangannya mulai khawatir. “Sepertinya, bukan hanya Jongdae yang terluka karenaku.”

“Mwoyo?” tanya Kyuhyun dengan nada tak percaya. “Andwaeyo, Joo.”

“Apa kau lupa pemain ‘Love Note’ bertambah? Aku takut, Aeri juga terluka karena kejadian ini.”

Kyuhyun terdiam. Ia ingat, Aeri adalah pemain ‘Love Note’ yang baru. Namun, Kyuhyun tak pernah sekalipun berpikir bahwa Aeri menyukainya. Menurutnya, mungkin saja gadis itu menyukai Jongdae. Yah, gadis itu tak mungkin menyukainya mengingat Aeri selalu kesal padanya. Dengan segera, pria itu menggenggam tangan Yeonjoo dengan erat.

Yah, pria itu memang sama sekali tak pernah berpikir bahwa orang yang Aeri sukai adalah dirinya.

“Gwenchanna. Yang terpenting, sekarang kita bahagia. Aku berjanji akan selalu berada di sisimu.”

“Arraseo.”

“Nan saranghae.”

“Nado saranghae.”

***

Satu minggu. Ya, sudah satu minggu ini Cho Kyuhyun dan Shin Yeonjoo resmi berpacaran. Banyak orang yang menyambut berita ini dengan bahagia ―walaupun ada beberapa yang menyambutnya dengan bahagia karena terpaksa. Termasuk Song Aeri dan terkecuali Kim Jongdae. Kenapa? Karena, penyebab peristiwa ini terjadi semuanya berkat seorang pria baik hati itu. Jadi, secara tak langsung Cho Kyuhyun maupun Shin Yeonjoo sangat berterima kasih pada Jongdae.

Dan, orang yang paling tidak bisa menerima kenyataan atas apa yang terjadi adalah Song Aeri.

“Yeoboseyo, Ri-ya?”

Aeri agak kaget saat suara Kyuhyun menyapa telinganya ketika ia baru saja bangun dari tidurnya. Ia memandang ponselnya sejenak. Gadis itu kehabisan kata-kata. “K-Kyuhyun Oppa?”

“Kau ada waktu hari ini?” tanya Kyuhyun. “Ayo, kita lari pagi.”

“Mwo?” kata Aeri. “Ta-tapi, Yeonjoo Eonni bagai―”

“Kita akan lari pagi bersama Joo. Kutunggu kau di taman 60 detik dari sekarang.”

“Mwo?!”

Tut! Sambungan langsung terputus dan Aeri hanya melongo melihatnya. Tunggu. Yeonjoo? Hari ini? Lari pagi? Cho Kyuhyun, kau ingin membuatku gila! Pekik Aeri dalam hati. Ingin rasanya tidak pergi dan memilih untuk melanjutkan tidurnya karena entah kenapa tubuhnya terasa sakit semua. Namun, ketika ia ingat sesuatu. 60 detik? Tidak!

Aeri langsung beranjak dari ranjangnya dengan segera dan langsung mengganti pakaiannya dengan baju training biru muda hingga menutupi lehernya. Setelah itu, ia keluar dari kamarnya dan berlari menuju taman. Samar-samar, Aeri mendengar suara Yoora yang saat itu sempat ia dapati sedang mengepel lantai.

“Hya, mau ke mana kau?!”

Namun, toh ia tak peduli. Ia lebih mementingkan janjinya sekarang. Ini adalah salah satu kebodohannya. Aeri, apa yang kau lakukan sekarang?! Cepat berbalik dan kembali ke asrama lalu tidur! Pekik Aeri seraya memejamkan kedua matanya dan menggeleng berkali-kali. Dan nyatanya, seluruh tubuhnya tidak mengindahkan perintahnya.

“Kau datang lebih dari 60 detik yang dijanjikan.”

Aeri mendapati Kyuhyun sedang memandang jam tangannya dan berdiri di hadapannya. Kini, ia resmi berada di hadapan seorang Cho Kyuhyun.

“Apa?”

“Kau datang tepat 90 detik. Seharusnya kan kau datang tepat 60 detik. Dasar tidak tepat waktu,” desis Kyuhyun yang mampu membuat Aeri dongkol.

Aeri tak peduli dengan hal itu. Ia langsung duduk di sebuah bangku panjang. “Apakah hal itu masih perlu diperdebatkan? Sudahlah. Yang penting aku datang.”

Kyuhyun terkejut saat mendengar jawaban Aeri yang sinis. Dan dengan refleks, Kyuhyun juga duduk tepat disamping Aeri. “Kenapa kau menjadi sakartis begini sih?” tanya Kyuhyun dengan nada tak percaya. “Kau kenapa?”

Kau kenapa, kau kenapa, kau kenapa? Tanyakan saja dirimu sendiri aku kenapa! Aku begini karenamu. Tahu tidak?! Seru Aeri kesal dalam hati. Ia hanya bisa memutarkan bola matanya dengan jengah. “Lalu, memangnya kenapa kalau aku begini? Sejak beberapa hari terakhir ini aku memang sedang unmood. Maaf.”

Tampak, wajah Kyuhyun mulai menunjukan perasaan kecewa. “Yah, sayang sekali. Padahal, aku ingin menceritakan banyak hal padamu, Ri-ya. Aku dan Joo sudah melakukan banyak hal.”

“Dan, kau bahagia?” tanya Aeri malas seraya  melihat kedua tangannya di dada.

“Tentu saja,” ujar Kyuhyun dengan senyum yang merekah.

Aeri memandang wajah Kyuhyun yang bahagia dengan miris. Pria itu memang sangat bahagia bila dengan Yeonjoo. Dan, aku? Kenapa bukan aku? Pikir Aeri lagi. Cintanya memang bukan untukku, Aeri. Lupakan orang ini.

“Ri-ya? Kau baik-baik saja?”

Aeri melihat Kyuhyun yang sedang memandangnya dengan cemas. Ia langsung agak tergagap saat menjawab pertanyaan Kyuhyun. “N-nan gwenchanna.”

“Jinjjayo? Kedua matamu berkaca-kaca. Kau menangis?”

Aeri menggeleng pelan. “Aniyo. Nan..”

Kyuhyun semakin bingung ketika melihat Aeri yang kini airmatanya mulai mengalir tanpa perintah otak gadis itu. “Ri-ya?”

Aeri berpikir keras untuk mencari alasan yang tepat mengapa ia menangis. Dengan gesit, gadis itu langsung menggenggam tangan Kyuhyun dengan erat.

“Oppa, chukkhahaeyo. Semoga kau bahagia dengan Yeonjoo Eonni. Aku menangis bahagia karenamu, Oppa. Chukkhahae,” ungkap Aeri dengan nada tulus. “Aku akan selalu mendukungmu.”

“Geojitmal,” ujar Kyuhyun dengan nada curiga. “Aku tahu, kau berbohong. Ada apa?”

“Aniyo. Jeongmalyo.” Aeri mengangguk pasti pada Kyuhyun. “Ah ya, aku harus pulang. Lebih baik, kau habiskan waktumu hari ini dengan Yeonjoo Eonni. Aku tak boleh mengganggu waktu kalian. Annyeong.”

Perlahan, Aeri bangkit dari duduknya dan berjalan meninggalkan Kyuhyun dengan bahu yang mulai naik-turun. Pikirannya berputar-putar dan hatinya semakin perih. Ia berusaha mendekap mulutnya agak tidak terdengar tangisannya. Rupanya, airmata kesedihannya yang kemarin ternyata masih tersisa. Hentikan ini, kumohon, pinta Aeri dalam hati.

“Ri-ya, kau pasti bohong. Ada sesuatu yang kau sembunyikan dariku kan?” tanya Kyuhyun sambil berusaha mengejar Aeri. “Jangan bohong padaku.”

“Aku tidak bohong pa―”

“Tapi, aku tahu kau sedang berbohong! Jangan sembunyikan sesuatu dariku!” seru Kyuhyun dengan nada mendesak. “Ceritakan masalahmu dan jangan buat aku khawatir!”

“Jebal, geumanhae!” Aeri langsung berbalik dan berteriak. Ia menatap Kyuhyun dengan marah. Napasnya semakin tak beraturan. “Jangan buat aku merasa terombang-ambing dengan perlakuanmu yang berujung sakit seperti ini!”

“Ri-ya? Mworagoyo?” tanya Kyuhyun yang semakin lama semakin bingung dengan sikap Aeri terlebih ucapannya. “Aku tak mengerti arah pembicaraanmu kini.”

Aeri hanya tersenyum miring ketika Kyuhyun membalas ucapannya. “Kau tak mengerti? Baiklah akan kujelaskan.” Ia terdiam sejenak. “Aku akan berkata jujur. Aku. Song Aeri mengalami kesakitan berkali-kali dan akan mengatakan kejujuran pahit ini padamu. Sakit yang pertama, aku mencintaimu selama 4 tahun terakhir dan kau tak menanggapi hal itu.”

Kyuhyun diam. Ia kehabisan kata-kata.

Aeri menarik napas panjang dan melanjutkan ucapannya. “Apa kau tahu itu? Tidak. Karena yang kau tahu hanyalah kau menyukai Yeonjoo Eonni dan bodohnya aku adalah dengan senang hati aku selalu mendengar ceritamu tentang Yeonjoo Eonni. Sakit yang kedua, aku terlibat permainan konyol yang ternyata melibatkanmu, Jongdae, dan terutama Yeonjoo Eonni. Kuakui, aku memang tidak begitu menyukai Yeonjoo Eonni karena ia tak pernah mengerti perasaanmu dan Jongdae sesungguhnya dengan baik.”

“Ri-ya…” Kyuhyun berusaha menanggapi ucapan itu, namun disela oleh Aeri.

“Lalu, sakit yang ketiga adalah Jongdae merencanakan sesuatu tanpa perundinganku dahulu dan membuat kau dan Yeonjoo Eonni berpacaran karena saling mencintai. Jongdae berharap agar kalian bahagia dan ia sama sekali tak memikirkan perasaanku yang mulai semakin tak karuan. Dan, yang paling sakit adalah..” Airmata Aeri kembali mengalir. “Melihat kenyataan bahwa kau dan Yeonjoo memang saling mencintai. Lalu, aku belum bisa menerima kenyataan itu dengan baik.”

Kedua mata Aeri yang masih berkaca-kaca memandang Kyuhyun yang sedang menatapnya dengan pandangan tak percaya. Napasnya terengah-engah dan wajahnya penuh dengan linangan airmata. “Jadi, hentikan semua ini. Aku tak mau membuat diriku terus tersiksa karena dirimu.”

Perlahan, Aeri meninggalkan tempat itu dan Kyuhyun sendirian. Kyuhyun tak pernah menyangka jika Aeri akan mengatakan hal itu. Terlebih, pria itu baru tahu kalau Aeri mencintainya selama itu. Sayang sekali, ia tak pernah menyadari hal itu kalau gadis yang selalu mendengarkan cerita isis hatinya sudah memendam rasa sakit dan perih selama itu. Tiba-tiba, pikirannya teringat ucapan Yeonjoo minggu lalu saat perjalanan pulang dari Lotte World.

“Apa kau lupa pemain ‘Love Note’ bertambah? Aku takut, Aeri juga terluka karena kejadian ini.”

Sementara dari kejauhan tempat Kyuhyun, seorang gadis berdiri mematung. Ia telah menyaksikan adegan demi adegan yang ia tonton peristiwa yang sudah ia ramalkan sejak lama. Tanpa sadar, botol air yang ia bawa terjatuh dan tergeletak begitu saja. Gadis itu tak peduli. Ada satu hal yang harus ia pedulikan untuk sekarang.

Yeonjoo menelan salivanya dalam-dalam. Ia sudah tahu. Bukan hanya Jongdae yang terluka karena dirinya. Bukan hanya satu orang saja yang terluka karena dirinya. Bukan. Masih ada satu orang lagi yang tersakiti karenanya. Seorang gadis bernama Song Aeri terluka karena dirinya.

***

“Huweee~ Yoora-yaaa~ Youngmi-yaaa~”

“Kenapa lagi kau?”

Youngmi dan Yoora duduk di samping Aeri yang kini telah kembali ke asrama dengan menangis. Kedua gadis itu melihat Aeri dengan kondisi wajah yang sangat suram karena airmatanya terus mengalir deras. Youngmi dan Yoora hanya bisa menghelakan napas panjang seraya mengelus-elus punggung Aeri.

“Ada apa lagi sekarang setelah minggu lalu kau menangis?” tanya Youngmi.

“Apa karena hari ini kau bertemu dengan Kyuhyun Sunbae lagi?” tanya Yoora kemudian.

Aeri memandang Yoora dan Youngmi sejenak. Lalu, kembali terisak. “Aku sudah berkata jujur pada Kyuhyun Oppa. Hiks.”

“Jinjjayo?” ucap Yoora dan Youngmi hampir bersamaan dengan nada terkejut.

Aeri mengangguk pelan. “Sekarang aku sudah tak peduli. Terserah apakah ia mulai menjauhiku atau tidak karena kejujuranku tentang perasaan bodohku selama 4 tahun terakhir ini. Terserah apakah ia akan bahagia dengan Yeonjoo Eonni kini dan nanti. Terserah. Aku bisa keluar dari hidupnya. Hiks.”

Youngmi memandang Aeri dengan iba. Kemudian, perlahan ia memeluk Aeri dengan erat. “Uljimarayo. Cup, cup, cup. Sekarang, pikirkan saja masa depanmu. Tenang saja, masih banyak orang yang menyayangimu lebih dari apapun juga. Kau percaya padaku kan?”

Aeri mengangguk pelan disela-sela ia menangis. “Ne.”

“Tenang saja, Ri-ya. Masih banyak pria yang bisa kau incar jadi pacarmu. Aku jamin itu,” Yoora menimpali sambil menepuk-nepuk punggung Aeri.

“Arraseo.”

Yoora dan Youngmi tersenyum mendengar ucapan Aeri. Namun tiba-tiba, suasana menjadi hening ketika Youngmi menyentuh kening Aeri yang ternyata malah tertidur di pelukan Youngmi. Lalu, Youngmi memandang Yoora sejenak.

“Sepertinya dia sakit, Yoora-ya.”

***

Malam harinya, Jongdae berjalan mondar-mandir di kamarnya. Keningnya berkerut. Tampak, tangannya berkali-kali mengoperasikan ponselnya dan menelepon seseorang. Namun, si penerima telepon sepertinya tak kunjung menjawab. Hal itu membuat Jongdae sedikit frustasi.

“Song Aeri! Angkat teleponnya sekarang!” teriak Jongdae dengan nada tak sabar. “Aish!”

Jongdae berpikir lama. Ke mana Aeri? Kenapa ia tak kunjung menerima telepon dariku sih? Gadis itu tak akan melakukan bunuh diri, kan? Pikir Jongdae. Apa gadis itu begitu shock sehingga bisa melakukan apa saja di luar dugaannya?

Dengan segera, Jongdae menelepon seseorang. Ia tahu harus menghubungi siapa untuk mencari tahu keberadaan Aeri.

“Yeoboseyo?” Suara yang terdengar familier mulai menyapa telinga Jongdae. “Ada apa, Jongdae Sunbae? Tumben sekali kau meneleponku di hari Minggu malam seperti ini.”

“Youngmi-ssi,” sapa Jongdae. “Apa sekarang Aeri berada di asrama?”

Hening sejenak karena si penerima telepon yang ternyata Youngmi tak kunjung memberikan jawaban. “Kenapa Sunbae menanyakan hal itu tentang Aeri?”

Jongdae beprikir sejenak ―berusaha mencari jawaban yang tepat. “Soalnya, sejak kemarin ia tak kunjung memberi kabar setelah pulang dari Lotte World. Jadi, mungkin saja kau tahu saat ini bagaimana keadaannya.”

“Lotte World?” ulang Youngmi. “Lho, kupikir kemarin Aeri pergi ke Lotte World bersama Kyuhyun Sunbae. Ternyata, kau.”

“Bukan!” seru Jongdae. “Aish, sekarang yang aku butuhkan di mana Aeri sekarang.”

“Sabarlah sebentar,” jawab Youngmi dengan dongkol. “Aeri baru saja beberapa waktu lalu meninggalkan asrama dan katanya pergi ke Sungai Han karena ada suatu keperluan. Jadi, mungkin saja ia masih di sana.”

“Geurae? Baiklah, gumawo.”

Klik! Sambungan langsung terputus. Jongdae kembali berpikir sejenak. Baiklah, sekarang ia harus pergi untuk memastikan. Ia harus pergi ke Sungai Han.

***

Aeri duduk di sebuah bangku panjang pinggir Sungai Han dengan pandangan kosong. Pikirannya tak menentu sejak ia berangkat dari asramanya. Pemandangan malam yang indah karena lampu-lampu yang menyala dan kesunyian menemani gadis itu. Ditambah dengan suara aliran air sungai yang tenang. Ingin rasanya gadis itu tenggelam ke dalam sungai itu.

Perlahan, Aeri mengeluarkan sesuatu dari saku mantelnya. Blue note. Ia membacanya sekilas, lalu merobeknya menjadi bagian-bagian yang kecil.

“Sudah waktunya,” gumam Aeri. Kemudian, ia menyebarkan potongan-potongan blue note miliknya ke aliran sungai.

Airmata gadis itu mengalir saat ia melihat potongan-potongan itu mengapung dan mengikuti arah aliran air. Apakah kini kondisinya persis seperti potongan-potongan bekas blue note miliknya itu? Entahlah. Lagipula, ini semua bukan itu tujuannya datang kemari.

Ya, bukan itu. Bukan untuk mengasihani diri sendiri.

Udara malam musim semi sudah menyapa kulit Aeri sejak ia keluar dari asrama. Ia sudah tak peduli dengan orang-orang di sekitarnya yang memandangnya dengan heran sepanjang perjalanannya. Dengan berbekal mantel tebal berbulu sutra pemberian Hyoae tadi, ponsel yang sengaja ia matikan, dan dompet, ia pergi ke Sungai Han untuk melakukan suatu hal yang cukup gila.

Berlari di sepanjang jalan setapak pinggir Sungai Han sejauh yang ia bisa dengan kaus lengan pendek dan celana training panjang.

“Baiklah, ini untuk pengurusan badanku yang mulai berat. Atau, pikiran dan hatiku yang sudah sejak lama berat? Entahlah,” ungkap Aeri yang terdengar ambigu seraya mengikat rambutnya tinggi-tinggi.

Seraya menaruh semua barang-barang yang ia bawa dengan asal, gadis itu langsung berlari cepat tanpa alas kaki. Ia berlari sekencang-kencangnya seraya berteriak. Ia tak peduli apakah berkat angin musim semi mala mini membuatnya besok langsung jatuh sakit atau apa. Toh, lagipula ini sudah waktunya ia liburan setelah ujian.

Sesekali, Aeri menelan salivanya berkali-kali ketika mulai lelah. Namun, ia tak menyerah. Ia terus berlari melewati sepanjang jalan setapak Sungai Han. Tanpa ia sadari, kaki-kakinya mulai terluka dan lecet.

“Aaaaaa!!!!”

Aeri kali ini berteriak sangat keras. Masa bodoh mengingat yang berkunjung ke Sungai Han tergolong sedikit. Jadi, tak mungkin ada seorangpun yang memperhatikannya. Ia bebas. Yah, bisa dimaklumi karena hatinya sedang kalut.

Setelah sekian lama berlari, akhirnya Aeri langsung jatuh terduduk saat ia sudah sampai di bangkunya. Tangannya berusaha mencari sesuatu dan ia tak menemukannya. Aeri memandang barang-barang yang ia taruh tadi sejenak. Sial, ternyata ia tidak membawa sebotol air. Baiklah, kali ini gadis itu bisa mati dehidrasi.

Nyess… Sesuatu yang dingin mulai menyapa kening Aeri. Ia sedikit terkejut dan melirik ke atas keningnya dan melihat sekaleng soft drink menempel di sana dengan bantuan sebuah tangan yang kokoh.

“Di sini kau ternyata.”

Aeri menoleh ke sumber suara dan mendapati Jongdae sedang duduk di sampingnya. Seketika, gadis itu langsung berdecak sebal. “Ck, kau rupanya.”

Jongdae tersenyum simpul ketika melihat reaksi Aeri. “Tidak mau? Kulihat, sudah 30 menit kau berlari kencang seperti melakukan latihan marathon tadi. Tidak lelah?” tanya Jongdae. “Ya sudah.”

Sebelum Jongdae menarik tangannya yang membawa sekaleng soft drink itu, Aeri langsung merampasnya. “Aku kan tidak bilang tidak mau.”

Jongdae memandang Aeri yang kini mulai meneguk soft drink tersebut dengan pandangan lega. “Sudah lega?”

Aeri menatap Jongdae sekilas seraya tersenyum miris. “Apanya? Dahagaku atau hatiku? Kau tahu, ucapanmu terlalu ambigu untukku.”

“Apa kau saking kalutnya jadi melankonis begini?” tanya Jongdae dengan nada tak percaya. “Dan.. apa kau sudah menangis?”

Aeri terdiam sejenak. “Siapa bilang aku ingin menangis? Aku kan sudah mengatakan sejak awal. Aku..”

Jongdae memandang Aeri ―menunggu kelanjutan ucapan Aeri. Dan, pria itu mulai melihat kedua mata gadis itu berkaca-kaca dan mengalir halus bulir-bulir airmata yang masih tersisa. Dengan perlahan, Jongdae mengusap punggung Aeri yang mulai naik-turun.

Sementara, Aeri langsung menangis dengan keras dan tersendu-sendu. Ia menutup mulutnya kuat-kuat agar tidak berteriak keras ketika menangis. Disela airmatanya masih mengalir, Aeri berusaha melanjutkan ucapannya. “A-aku pikir aku sudah siap atas semuanya. Kenapa jadi sakit seperti ini? Aku pikir, aku sudah siap. Padahal, aku sudah menyiapkannya sejak awal. Tapi, kenapa tetap berakhir seperti ini? Kenapa jadi terasa lebih menyakitkan?”

Jongdae memandang Aeri dengan iba. Ia kehabisan kata-kata. Ia tahu, bagian dari rencananya membuat salah seorang lebih terluka karena belum siap menerima kenyataan. Ini termasuk dari kesalahannya. Perlahan, tangannya merangkul bahu Aeri sambil berucap, “Mianhae, aku.. sudah membuatmu menjadi debu.”

“Ini bukan salahmu. Ini hanya akunya saja yang terlalu berlebihan. Ini hanya akunya saja yang terlalu berharap lebih kebahagiaan menjadi milikku, namun pada akhirnya bukan milikku. Bukan.”

Tanpa aba-aba pula, Jongdae langsung merengkuh Aeri dan berusaha menenangkan gadis itu. “Aish, uljimarayo. Mianhae. Aku tak pernah berpikir kalau ini akhirnya untukmu. Mianhae. Aku hanya terlalu memikirkan nasib Joo Noona dan Kyuhyun Hyung.”

Sesekali, terdengar sesenggukan milik Aeri. Yah, kali ini sudah mencurahkan semuanya pada Jongdae. Dan, ia berharap Jongdae tak keberatan mendengar curahannya tadi.

***

“Di mana sepedamu?”

“Aku memarkirkannya jauh sekali karena harus mencarimu ke mana-mana tahu.”

“Kau ini bodoh atau apa. Seharusnya kalau kau mencariku, kau kan bisa memakai sepedamu dan mencariku dengan mengelilingi Sungai Han.”

“Maaf saja, tapi hal itu tak pernah sekalipun datang ke pikiranku. Jadi, aku memarkirkan sepedaku lalu berjalan mencarimu.”

“Ah, dasar payah!”

“Heh, bagaimana bisa kau sekarang mengataiku setelah menangis keras seperti anak kecil? Dasar bodoh.”

Aeri langsung menggerutu. Baiklah, terima kasih atas celaanmu, Tuan Kim. Mentang-mentang tadi kau melihatku menangis keras, batin Aeri dengan kesal. Kemudian, ia memandang kedua kakinya yang kini berbalut sepatu sneakers biru muda miliknya. Ia sengaja memakai sepatunya agar luka di kakinya tidak terlalu mencolok. Tapi dengan kondisi kaki terluka begitu, bagaimana bisa ia berjalan menuju tempat parkir sepeda Jongdae yang tak tahu ada di mana. Kalau begini, ia tidak tahu kondisi kakinya keesokan harinya.

“Oh, kau tadi berlari tanpa memakai sepatu ya? Kenapa tidak pakai sih?” tanya Jongdae tiba-tiba. Kemudian, ia berjalan mundur dan memandang cara berjalan Aeri yang memang agak pelan. “Apa kakimu terluka?”

Aeri menggeleng cepat. “Tidak. Hanya lecet biasa kok. Lupakan.”

Sebelum Aeri melanjutkan langkahnya, tiba-tiba Jongdae langsung berjongkok di depan gadis itu. Aeri langsung memandang tak percaya. “Apa yang kau lakukan?”

“Naik ke punggungku. Sekarang.”

“Tapi, memangnya aku ke―”

“Kakimu terluka dan aku juga tak bisa membiarkanmu terus seperti itu. Cepat naik!” suruh Jongdae dengan nada galak membuat Aeri langsung naik ke punggung Jongdae.

Sementara, Jongdae langdung bangkit dan menggendong Aeri seraya menenteng sepatu sneakers biru milik Aeri. Sesekali, pria itu menggerutu. “Tubuhmu mulai ringan ya. Apa ini karena pengaruh lari tadi atau stress pribadi?”

“Kau menyindirku?” tanya Aeri dongkol. “Kalau kau menggerutu seperti itu, lebih baik sejak awal kau tak usah sok menggendongku seperti ini.” Namun, dengan refleks gadis itu malah mulai melingkarkan kedua tangannya di leher Jongdae. Ia tak pernah sekalipun berpikir kalau Jongdae akan melakukan hal ini untuknya. “Jongdae-ya.”

“Hmm?”

Aeri terdiam sejenak. Ia harap, pertanyaan yang keluar dari bibirnya tidak menyinggung perasaan Jongdae. “Kau.. apa kau sungguh dengan ucapanmu kemarin malam itu?”

Jongdae mengangguk mantap sambil tersenyum. “Aku sudah rela sejak awal.”

Aeri terdiam, lalu matanya memandang ke arah lain. “Enak ya, kau bisa seperti itu. Soalnya, kau itu pria yang berpikir bahwa cinta kadangkala selalu melibatkan logika. Karena aku seorang gadis, aku tidak bisa seperti itu karena seorang gadis lebih mementingkan perasaan.”

“Jadi?”

“Kau kan bisa lihat kondisiku sekarang, Jongdae-ya,” sahut Aeri. “Aku seperti orang bodoh kan?”

“Tidak.”

“Kenapa?” Aeri memandang wajah Jongdae dengan ingin tahu. Untuk pertama kalinya, gadis itu memandangnya dari dekat. Aeri bisa melihat reaksi wajah Jongdae yang kini sedang berpikir.

“Kau kan saat ini sedang mengalami proses untuk melupakan. Jadi, menurutku itu wajar. Lagipula, penyebab luka di hatimu juga menjadi kesalahanku karena tidak berpikir dari sisi pandang dirimu. Maaf ya.”

“Kalau kau jadi aku, apa kau juga akan melakukan hal ini?”

“Tidak juga.”

“Jadi?”

“Aish, sudahlah! Jangan bertanya lagi. Kau tahu, kepalaku pusing mendengarmu bertanya terus. Dan juga, karena kau banyak bertanya membuatmu lebih banyak bergerak dan itu membuatku seperti sedang mengangkat muatan berat. Tahu tidak?”

Aeri langsung menutup kedua telinga dengan sebal karena Jongdae mulai berceramah panjang. Orang ini bisa-bisa seperti calon penjabat yang sedang berkampanye. Kenapa dia bisa secerewet ini sih? Kata Aeri dalam hati karena tak habis pikir.

“Pegangan! Kau bisa jatuh!” teriak Jongdae membuyarkan lamunan Aeri.

“Aku tahu!”

Aeri kembali melingkar kedua tangannya di leher Jongdae sambil menggerutu kesal.

“Kau masih membenciku?”

Aeri melirik ke arah Jongdae yang kini sedang melirik ke arahnya. Tampak, gadis itu berpikir sejenak. “Bagaimana bisa aku membencimu, sementara saat ini kau sudah membantu banyak untukku. Sungguh kau itu bagaikan pria berhati baik walaupun kadang menyebalkan.”

“Terima kasih atas pujianmu, Nona Song. Cukup mengesankan,” balas Jongdae sambil tersenyum simpul. “Dan sekarang, kau tidak boleh tertidur di punggungku. Tunggu sampai sepedaku ketemu. Arraseo?”

“Aku kan sudah memujimu. Kali ini, biarkanlah aku tertidur sebentar, Jongdae-yaa~ Aku lelah~” ucap Aeri dengan nada merajuk.

“Mau cepat pulang tidak? Kalau kau mau tidur di punggungku, aku bisa meninggalkanmu sendirian di sini agar beban di punggungku cepat hilang. Kau tahu, dengan keadaan kau tertidur di punggungku membuatku benar-benar seperti membawa batu bata.”

“Jadi, kau mulai mencelaku lagi?!” teriak Aeri dengan nada tak terima.

“Mau sampai asrama tidak?!”

“Ne! Arraseo! Arraseo!”

― To Be Continued

Iklan

4 thoughts on “Love Note : 7th Pain

  1. Hahaha aku emang cukup setia untuk menunggu kelanjutannya eon kkk~
    Aku habis nonton film yang sedih ditambah baca Song Aeri yang nangis terus malah keluar lagi air matanya T_T Bayangin aja 4 tahun itu lama banget -_-
    Aigoo gimana hubungan Kyuhyun sama Aeri nantinya kalo semuanya udah kebongkar gini? Dan Jongdae mulai deket sama Aeri apa yang akan terjadi? Eon kenapa rasanya pendek yah? Apa terlalu menghayati? 😀 I’m curious, seriously bla bla *singing. Ada typonya dikit, overall bagus. Pokoknya aku setia buat nunggu kelanjutannya, keep write ya eon, fight! 🙂

  2. annyeong…..aku reader baru, aku komennya langsung dipart ini gak papa kan? hehheheh, aku bru baca part 6 sm part ini. Aeri ngnes bgt ya…haduh tp memang cinta tdk bsa dipaksakan….ahhh sudah iitu aeri sm jongdae aja..hehehe
    next chap ditunggu secepatnya ya thor: )

Mind to Review? ^ ^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s