Love Note : 8th Confession

love note cover cho kyuhyun© Aeri_Tamie’s Script Writer

Casts : Song Aeri; Kim Jongdae (EXO-M’s Chen); Cho Kyuhyun (Super Junior’s Kyuhyun); Shin Yeonjoo

Other Casts : You can find it in here ^^

Genre : Romance, Drama, Friendship, Comedy Rated : PG-17 Length : Chapter

Disclaimer : 20131025 © Aeri_Tamie

Previous Chapter :

1st Unexpected 2nd (Really) Unexpected 3rd Complicated 4th Let’s Play 5th Grey Paper 6th Love & Dust 7th Pain

Note      : Finally, the next chapter special cast Super Junior’s Kyuhyun and EXO-M’s Chen has coming! Kkk~ 😉 Ini rada ancur karena saya ngetiknya di komputer orang dan saya ga sempet nyari riset. Ditambah lagi, notebook saya sedang rusak dan saya juga udah niat posting dari akhir bulan kemaren, tapi saya terlalu males buat ke warnet. 😥 Akaka~ Jadinya, harap maklum plis >.< /Ini apa?-_-/. Typo everywhere –maybe.Semoga aja suka dengan fanfiction ini. Don’t forget, give me a review please. Because, your review like oxygen. Happy reading, guys! ^^

***

»Story 8 : Confession

Sepanjang perjalanan pulang dari Sungai Han, Jongdae terus saja menggerutu seraya mengayuh sepedanya.Di belakang joknya, terpadat Aeri yang kini sedang bersandar di punggungnya dengan kedua mata yang terpejam.Sepertinya, gadis itu lelah sekali setelah berlari di sepanjang jalan setapak Sungai Han.Sesekali, gadis itu mengigau.

“Sudah sampai belum?” bisik gadis itu dengan pelan.

“Belum dan berhenti menanyakan hal itu, Nona Song. Kau tahu, kau sudah menanyakan hal itu ke-77 kalinya sejak aku mulai menemukan sepeda ini. Jadi, kau diam saja dan juga jangan menyebarkan air liur di punggungku yang berasal dari mulutmu.Arraseo?” ucap Jongdae dengan panjang lebar.

“Cerewet sekali kau, Tuan Kim.Sudahlah, jalan saja.Aku tahu itu kok,” ujar Aeri dengan tenang.

Jongdae tersenyum simpul ketika ia merasakan kepala Aeri kembali bersandar di punggungnya. Kedua tangan gadis itu secara refleks melingkarkannya di pinggang Jongdae agar tidak jatuh.Namun, tetap saja Jongdae berusaha memegang kedua tangan Aeri agar tidak jatuh karena kedua tangan Aeri terlalu lemas untuk berpegangan.

Ia tahu. Sangat tahu bahwa Aeri sedang berusaha menyembuhkan hatinya dengan cara yang ―menurut gadis itu baik. Namun, menurut orang banyak cara yang Aeri pakai adalah eksrim ―termasuk dirinya. Jongdae yakin, ia tak mungkin bisa melakukan hal itu. Dan Jongdae juga yakin, bahwa Aeri jauh lebih kuat darinya.

Ia jamin itu.

Tanpa sadar setelah berkutat terus pada pikiran dan batinnya, akhirnya kayuhan Jongdae telah sampai di gedung asrama Aeri.Jongdae langsung memelankan kayuhan seraya memandang langit malam yang cerah dengan taburan bintang yang bersinar. Ia tersenyum sekilas. Langit yang cerah kini, ternyata tidak seindah hati Aeri, pikir Jongdae. Kemudian, ia menoleh ke arah Aeri yang masih tertidur pulas.

“Ri-ya, sudah sampai. Mau sampai kapan kau tertidur terus heh?” kata Jongdae.

“Jongdae-ya, apakah ada sebuah tiket pesawat?” Aeri mengigau. “Jika ada, tolong belikan aku sebuah tiket untuk pergi terbang tinggi. Lalu, menggapai bintang-bintang yang cerah di langit.”

“Aish, ucapanmu kacau,” gerutu Jongdae.

Karena Aeri tak kunjung terbangun, dengan terpaksa Jongdae kembali menggendong gadis itu di atas punggungnya. Ia berusaha membuka pintu asrama dengan susah payah hingga bertemu dengan Youngmi dan Hyoae.

“Jongdae Sunbae?!” pekik Hyoae kaget.

Sementara, Youngmi menunjuk Aeri yang digendong oleh Jongdae. “Ada apa dengan Aeri?!”

“Nanti akan kujelaskan. Lebih baik, sekarang kau buka pintu kamarnya. Cepat!” perintah Jongdae dengan napas terengah-engah.

Hyoae dan Youngmi mengangguk cepat seraya berlari ke kamar Aeri dan membuka pintunya.Untung saja pintunya tak terkunci. Dengan segera, Jongdae masuk ke kamar Aeri dan menidurkan gadis itu di ranjangnya.

Setelah selesai, Jongdae duduk di bawah ranjang gadis itu seraya memandang Aeri dengan napas yang masih tak beraturan. Ia tersenyum konyol. “Hah, bagaimana bisa tubuhmu seberat itu, Nona Song? Bukankah kau habis berlari?” ucapnya bermonolog.

Kemudian, Jongdae keluar dari kamar Aeri dan disambut dengan teriakan Hyoae yang berada di depan kamar. “Jongdae Sunbae, jelaskan semuanya padaku!”

Akhirnya, Jongdae dan Hyoae duduk di sebuah sofa di ruang tempat berkumpulnya para mahasiswa di asrama.

“Jongdae Sunbae, ada apa ini sebenarnya?!” seru Hyoae yang masih panik ketika melihat kejadian tadi. “Dia pingsan?”

Jongdae menggeleng pelan. “Aniyo.Dia hanya tertidur selama perjalan dari Sungai Han.Sepertinya, dia kelelahan.”

Youngmi yang baru datang dan duduk di samping Hyoae setelah menyuguhkan Jongdae air dingin mengerutkan keningnya saat mendengar jawaban Jongdae. “Lelah? Memangnya di Sungai Han melakukan apa?” tanya Youngmi ingin tahu.

“Jadi, dia tidak mengatakan apapun padamu?” tanya Jongdae dengan nada tak percaya. “Dia berlari di sepanjang jalan setapak Sungai Han selama kurang lebih 30 menit tanpa berhenti.Temanmu itu gila ya.”

“Mwo?!” ucap Hyoae dan Youngmi hampir bersamaan.

Jongdae mengangguk sembari meminum gelas berisi air dingin pemberian Youngmi. Ah, lega, batin Jongdae. Ini kenapa jadi aku yang merasa seperti berlari selama 30 menit? Pikir Jongdae aneh. Ah, sudahlah.

“Padahal, sepertinya tadi Aeri sedang sakit,” kata Youngmi.

“Dan, hari ini dia hanya menceritakan kejadian tadi pagi,” ungkap Hyoae.

“Tadi pagi?” tanya Jongdae heran dengan kening berkerut. Ada apa dengan tadi pagi? Pikir Jongdae.

“Yah, tadi katanya Aeri diajak Kyuhyun Sunbae lari pagi. Tapi,” Youngmi menggantungkan ucapannya sejenak. “Yeonjoo Sunbae juga ikut. Kau tahu kan kalau sekarang Kyuhyun Sunbae dan Yeonjoo Sunbae berpacaran?”

Jongdae mengangguk pasti. “Dan, hanya itu?”

Youngmi dan Hyoae terdiam. Kemudian, mengangguk pelan. Mereka berdua tak tahu kalau Jongdae juga tahu tentang perasaan Aeri pada Kyuhyun. Jadi, mereka berusaha merahasiakan kejadian tadi pagi dengan hanya menceritakannya secara sebagian saja.

Sementara Jongdae, tentu saja ia tahu tentang hubungan Kyuhyun dan Yeonjoo kini. Kan ia berperan besar dalam hal itu. Namun, ada satu hal yang membuatnya janggal. Ia tahu kalau Aeri sedang menyembuhkan hatinya dan jika Aeri bertemu Kyuhyun dan Yeonjoo, itu hanya membuat gadis itu semakin sakit. Tapi, sepertinya ada satu hal yang tersembunyi menurutnya.

Dan, sepertinya ia harus mencari tahunya sendiri.

***

“Keningnya panas,” ungkap Jongdae saat ia menyentuh kening Aeri.

Jongdae memutuskan untuk menginap malam ini di kamar Aeri setelah ia tahu bahwa Aeri sakit. Dengan begini, Jongdae resmi menyalahkan kebodohan Aeri yang baru saja melakukan hal ekstrim. Berlari di sepanjang jalan setapak Sungai Han. Padahal, kata Hyoae dan Youngmi tubuh Aeri memang sudah menghangat sejak minggu lalu.

“Dasar bodoh,” umpat Jongdae saat ia menaruh kompres dingin pada kening Aeri. “Ternyata, kau benar-benar ingin bunuh diri ya?”

Setelah selesai mengompres, ia menaruh bak berisi air es itu di dapur kecil. Kemudian, Jongdae membereskan seluruh ruangan yang ada di kamar Aeri yang agak berantakan. Sepertinya, sejak tadi siang gadis itu hanya tertidur karena suhu tubuhnya sudah menghangat tapi belum sepanas sekarang. Jongdae bisa memaklumi itu.

Dan yang terakhir, Jongdae membereskan kertas-kertas yang berserakan di atas meja. Pria itu tertegun ketika melihat beberapa serpihan kecil kertas berwarna biru dibawah ponsel milik Aeri. Ia tahu, itu adalah note berwarna biru yang merupakan warna note identitas Aeri. Muncullah sebuah pertanyaan di benaknya. Apa ia merobek salah satu blue note-nya? Pikir Jongdae. Dan ia lebih tertegun lagi ketika melihat sebuah bingkai foto yang mematung di atas meja. Foto Aeri dan Kyuhyun yang sedang tersenyum.

“Kyuhyun Oppa, mianhae.” Jongdae mendengar sayup-sayup suara. Dengan segera, ia menoleh dan mendapati Aeri yang mengigau.

“Kyuhyun Oppa, mianhae,” Aeri kembali mengigau. “Kau boleh membenciku setelah ini. Kau boleh menjauhiku setelah ini. Aku tak peduli. Tapi, aku minta maaf karena mengakui suatu hal yang tak perlu kau ketahui. Maafkan aku, maafkan aku, Oppa..”

Jongdae terdiam mendengar igauan Aeri. Pikirannya menerawang, mendadak saja ia teringat ucapan Youngmi.

“Tadi katanya Aeri diajak Kyuhyun Sunbae lari pagi.”

Apa tadi pagi Aeri mengatakan sesuatu pada Kyuhyun Hyung? Tentang perasaannya? Pikir Jongdae menyimpulkan. Tidak mungkin, Aeri tidak memiliki keberanian hingga sana, elak Jongdae dalam hati. Jadi?

Perlahan, ia menghampiri ranjang Aeri seraya menutupi tubuh gadis itu dengan selimut. Tiba-tiba saja, Jongdae merasa bersalah. Ia memandang wajah polos Aeri yang masih terpejam. “Maaf, kau sudah banyak terluka.”

***

Sinar matahari pagi mulai memasuki celah jendela kamar Aeri yang sedikit terbuka. Dan, sang pemilik kamar belum juga terbangun dari tidurnya. Hingga akhirnya, perlahan kedua mata gadis itu terbuka karena sinar matahari yang masuk mulai menyadarkannya. Aeri memandang langit-langit kamar dengan aneh. Sejak kapan aku sampai asrama? Pikir Aeri bingung.

“Kau sudah bangun?”

Aeri menoleh dan agak kaget mendapati Jongdae sedang duduk memandangnya di depan meja belajar seraya membaca sebuah novel. Lebih kaget lagi saat Aeri tahu Jongdae membaca novel miliknya yang ia taruh di atas rak dekat meja belajarnya.

“Sedang apa kau di sini?”

Jongdae hanya tersenyum seraya bangkit dari duduknya. Kemudian, tangan kokoh milik pria itu perlahan turun dan mendarat tepat di kening Aeri. Aeri semakin bingung dibuatnya dengan mengekspresikan wajahnya melalui kening yang semakin berkerut banyak. “Sekarang apa yang kau lakukan? Jawab dulu pertanyaan―”

“Sudah lumayan,” tukas Jongdae dengan kalimat singkat.

“Apanya?”

“Jangan bermain hujan untuk beberapa hari ini sebelum membaik. Kalau kau tak mengindahkan ucapanku, nanti kondisimu semakin kacau. Oke? Aku harus pulang.”

Jongdae memberitahu Aeri seraya meraih jaket dan topi yang tergeletak di sofa. Dan, Aeri masih memandang Jongdae dengan pandangan kebingungan.Ia semakin tak mengerti dengan ucapan pria manis itu. “Heh, apa kau sekarang tak bisa melihat wajahku yang bingung begini? Jelaskan dulu padaku, kau sedang membicarakan apa.”

Jongdae menghelakan napas panjang. Ia berusaha bersabar dengan sikap Aeri yang memang sepertinya otak gadis itu belum sadar sepenuhnya. Pria itu menoleh dan memandang Aeri dengan pandangan teduh khas miliknya seraya tersenyum. “Kau sakit, Nona Song. Jadi, kuharap kau istirahat saja. Kalau kau menuruti ucapanku, aku yakin besok kau sembuh total. Arraseo?”

“Geurae?”

Blam! Pintu kamar Aeri langsung tertutup begitu saja. Rupanya, Jongdae langsung pergi tanpa menjawab sahutan Aeri. Ya sudah, batin Aeri pasrah.

***

“Suhu tubuhmu sudah turun ya?”

“Yah, sepertinya begitu. Aku tak tahu apa jadinya bila saja Jongdae Sunbae tidak ada kemarin.”

“Jongdae Sunbae bagaikan pahlawan untuk Aeri.”

“Aku perlu berterima kasih pada Jongdae Sunbae atas kebaikannya itu.”

Aeri mengerutkan keningnya saat Youngmi, Hyoae, Yoora, dan Hyena sibuk membicarakan Jongdae ketika mereka berkunjung ke kamarnya dan melihat kondisinya di sore menjelang petang begini. Tangan Yoora yang awalnya menyentuh kening Aeri dengan wajah khawatir, kini langsung memamerkan wajah sumringah sekaligus lega yang berlebih.

“Ada apa dengan Jongdae sih?” tanya Aeri heran. “Kalian tahu, sejak tadi pagi aku seperti sudah menemukan teka-teki yang tidak memiliki jawaban. Memangnya apa yang terjadi sebenarnya? Tolong jelaskan padaku.”

Keempat gadis itu terdiam sejenak.Kemudian, mereka memandang Aeri sambil tersenyum.

“Kudengar, dia menjemputku ke Sungai Han dan mengantarmu pulang dengan sepedanya,” ungkap Yoora.

“Dia dengan relanya menggendongmu hingga ke kamarmu karena tak tega melihatmu tertidur,” lanjut Hyoae.

“Dan, semalaman ini dia terpaksa menginap di kamarmu dan merawatmu ketika tahu kau sedang sakit,” jelas Youngmi.

“Bukankah Jongdae Sunbae sangat baik padamu?” sahut Hyena.

Aeri yang mendengar cerita dari teman-temannya hanya terdiam karena kaget. Lebih kaget lagi ketika mendengar Jongdae menginap di kamarnya dan merawatnya karena sakit. Apa itu sebabnya tiba-tiba tadi pagi ia berada di kamarku? Pikir Aeri.

“Kalau kalian jadi aku, kalian pilih Kyuhyun Oppa atau Jongdae?” Tiba-tiba saja Aeri mengeluarkan pertanyaan konyol, namun cukup mengejutkan.

“Tentu saja Jongdae Sunbae!” ucap serempak keempatnya dengan nada semangat.

“Kenapa dia?” ucap Aeri dengan wajah cemberut. “Dia itu kan seniorku.”

“Sudah jelas bahwa Jongdae Sunbae itu lelaki idaman,” sahut Hyena. “Dia setipe dengan Kris Wu.”

Aeri terbelalak ketika mendengar ucapan Hyena. Jongdae? Lelaki idaman? Oh, Lee Hyena. Andaikan kau tahu sikap Jongdae padaku yang sebenarnya, aku yakin kau langsung menarik ucapanmu dan tidak sudi membandingkannya dengan Kris Wu, pikir Aeri.

Sementara, Youngmi, Hyoae, dan Yoora hanya memutarkan bolanya dengan jengah ketika mendengar sahutan Hyena.

“Kumohon, jangan samakan Jongdae Sunbae dengan pacarmu, Hyena-ya,” ungkap Hyoae sebal.

“Oke, Park Chanyeol lebih baik menurutku,” celetuk Youngmi.

Sementara, Yoora memandang Aeri dengan pandangan memastikan. “Kudengar, kau mengigau ingin terbang tinggi. Apa kau benar-benar ingin ke sana?”

“Apa?” tanya Aeri mulai bingung dengan perkataan Yoora.

“Kau mau tidak?”

Aeri berpikir sejenak. Ia bukan hanya ingin terbang tinggi. Ia juga ingin pergi jauh untuk menenangkan pikirannya. Rupanya, menenangkan diri di dekat Sungai Han kemarin tak cukup baginya.“Aku mau pergi jauh sekali. Tapi tidak perlu pergi ke Itaewon, apalagi Kyoto. Yang ada, aku akan dihujani oleh berbagai macam pertanyaan dari keluargaku yang membuatku tak bisa menjawabnya,”ungkap Aeri jujur.

“Mau ke suatu tempat tidak?” tawar Yoora.“Aku akan menunjukkan sesuatu yang bagus untukmu.”

Aeri menatap Yoora dengan pandangan tertarik. “Kira-kira, di mana tempatnya?”

“Yoora-ya, jangan mengajak Aeri ke mana-mana!” seru Rihwa tiba-tiba datang dengan berlari menuju ranjang Aeri. “Kalau kau mengajaknya, dipastikan ia menjadi tak waras setelah sembuh dari sakitnya.”

Aeri langsung melirik Rihwa yang baru datang sambil menggerutu kesal. Ia kan tidak gila. “Riri, apa kau punya dendam pribadi padaku?”

Rihwa menggeleng pelan. “Tidak. Hanya saja kalau kau sedang berada dalam zona gila dan sakit jiwa, aku tak kan mau mengakuimu sebagai teman,” ujar Rihwa langsung dengan nada polos. “Kau tahu, tingkah konyolmu kadang membuatku tak habis pikir.”

Aeri terhenyak sejenak. Oke, rentetan kalimat yang Rihwa keluarkan membuatnya merasa seperti seseorang yang mengalami gangguan psikologis dan sedang mengalami masa penyembuhan.

“Aih, dia terlalu jahat untuk berkata seperti itu. Padahal, ada satu sisi yang sikapnya serupa dengan Aeri,” celetuk Hyoae deng nada menggoda.

“Bukan hanya aku dan Riri, kalian juga gila. Tahu tidak?” balas Aeri tak mau kalah.

“Hei, sadarkah kalian kalau kalian adalah kumpulan orang gila yang bodoh?” ucap Yoora sambil memiringkan kepalanya.

“Sudah gila, bodoh pula. Hahahaha,” timpal Hyena yang tertawa terbahak-bahak.“Kau juga tak ada bedanya, Yoora-ya.”

“Hahahaha.” Terdengar, tawa membahana yang memenuhi ruang kamar asrama Aeri yang berasal dari reaksi para teman-temannya yang ‘katanya’ gila.

***

Esok paginya, Aeri langsung bangkit dari ranjangnya dan berlari menuju lemari esnya. Ia tahu, segelas jus jambu sudah menunggunya. Dengan sekali teguk, gadis itu meminumnya hingga tak bersisa. Hari ini ia jauh terlihat lebih semangat daripada kemarin. Tentu saja, hari ini ia sudah sembuh dari sakitnya.

Ini semua berkat Jongdae.

Dengan secepat kilat, ia telah selesai mandi dan berganti pakaian training. Kemudian, ia memandang ruang kamarnya sejenak. Tampak bersih. Ini pertama kalinya Aeri memeriksa seluruh ruangannya setelah ia sembuh dari sakitnya. Baiklah, sepertinya kemarin Jongdae membersihkan kamarku selama ia menginap di sini, pikir Aeri. Dan, akhirnya Aeri memutuskan untuk menyapu dan mengepel lantai kamarnya.

Semoga semangatmu tak surut, Song Aeri. Fighting! Gumam Aeri menyemangati diri sendiri.

Sebelum melakukan semua itu, mata Aeri berhenti berkeliaran menatap seluruh isi ruangan ketika ia melihat kumpulan note-note yang sedikit bertebaran. Terutama note berwarna biru terlihat lebih mendominasi diantara warna note yang lain.

Aeri memutuskan untuk duduk di depan meja belajar dahulu seraya memandang note berwarna biru miliknya. Kemudian, matanya beralih ke sebuah bingkai berisi sebuah foto yang tak jauh dari note-notenya. Foto dirinya bersama Cho Kyuhyun. Dan, sialnya Aeri langsung teringat akan Shin Yeonjoo yang telah resmi menjadi pacar Cho Kyuhyun.

Untuk urusan permainan konyol bernama ‘Love Note’, ia harus melakukan sesuatu pada sepasang kekasih tersebut.

Setelah sekian lama berkutat pada note-note biru yang bertebaran, akhirnya Aeri bangkit dari duduknya dan memutuskan untuk mengikat kedua rambutnya rendah seperti penampilan para gadis yang berada di kumpulan manga Jepang serta menyampirkan handuk di lehernya sebelum ia menyapu. Dengan gesit, gadis itu mengambil sapu dan menyapunya hingga detail. Setelah itu, ia mengepelnya hingga bersih. Sesekali, ia bersenandung kecil agar bisa memecahkan kesunyian.

Brakk!! Aeri terlonjak kaget saat tiba-tiba sesosok pria yang sangat, sangat, sangat, dan sangat ia kenali membuka pintu kamarnya tanpa permisi.

“Heh, kau tidak mengetuk pintu, Jongdae-ya! Mengagetkanku saja!” seru Aeri dengan nada kesal.

Jongdae tersenyum kecut saat mendengar jawaban Aeri. Setelah sembuh dari sakit, kini tingkahnya kembali ke semula, pikir Jongdae sebal. Jongdae terdiam saat memandang penampilan Aeri yang terkesan aneh.

“Apa lihat-lihat?” tanya Aeri dongkol karena sadar diperhatikan.

Jongdae tersadar, kemudian tertawa mengejek seraya melipatkan kedua tangannya di depan dada. “Ada apa dengan penampilanmu, Nona Song? Apa kau setelah sakit berubah menjadi gila? Lalu, sekarang ingin bertransformasi menjadi gadis desa yang sehabis berladang ya?” ejek Jongdae.

Sialan, dia mengejekku dengan tawa menyebalkannya itu, pikir Aeri sebal. “Aish, apa kau sudah cukup puas mengejekku, Tuan Kim? Ada apa kau kemari? Apa kau tidak dihadang oleh Nyonya Han karena bertamu ke asrama?” Aeri mengumbar kekesalannya dengan menghujani Jongdae dengan pertanyaan yang bertubi-tubi.

Jongdae hanya menggeleng pelan sambil tersenyum simpul. “Tidak.Kebetulan Nyonya Han katanya sedang pergi ke Busan.Jadi, jelas saja aku bisa bertamu ke kamarmu dengan mudah.Haha.” Jongdae tertawa sekilas. “Mau ikut tidak?Aku ingin pergi ke suatu tempat.”

Aeri kaget seraya mengernyitkan keningnya. Tumben sekali Jongdae mengajaknya pergi. Biasanya yang jadi bahan tawaran ajakan adalah Yeonjoo Eonni, pikir Aeri. Yah, sejak permainan ‘Love Note’ Aeri tahu kebiasaan terselubung Jongdae yang selalu mengajak Yeonjoo pergi bila ada suatu acara. Itu terjadi sebelum Yeonjoo resmi berpacaran dengan Cho Kyuhyun.

Oke, kalimat terakhir tadi tak perlu digaris bawahi.

“Ke mana? Tumben sekali,” sahut Aeri kemudian seraya melanjutkan aktivitas mengepelnya.

“Kau akan tahu nanti. Tapi, sebelum itu,” Jongdae memandang penampilan Aeri sekali lagi sebelum melanjutkannya. “Ubah penampilanmu. Aku tidak mau jika kau pergi dengan penampilan begitu. Nanti aku disangka membawa gadis desa untuk disuruh berladang di halaman rumahku.”

“Sialan kau,” umpat Aeri pada Jongdae dengan sebal. “Baiklah. Tunggu sebentar.”

Setelah menyelesaikan pekerjaannya, dengan langkah besar-besar Aeri masuk ke kamar mandi ―bermaksud mengganti pakaiannya. Selang beberapa menit kemudian, Aeri keluar dengan kaus berlengan panjang krem yang digulung dengan celana jeans berwarna ungu tua. Serta rambut pendek sebahunya yang dibiarkan tergerai. Kemudian, Aeri memasang arloji di pergelangan tangannya.

“Ayo,” ajak Aeri dengan wajah cemberut. “Bagaimana? Masih terlihat seperti gadis desa sehabis berladang?”

Jongdae mengangguk setuju saat melihat penampilan Aeri yang ―menurutnya lebih baik. “Tidak, lumayan. Ayo, pergi.”

Giliran Aeri yang mengangguk ―bermaksud menimpali ucapan Jongdae ketika ia sedang memakai sepatu sneakers berwarna putih bersih. Tangannya berusaha menyelipkan dua buah blue note miliknya ke dalam saku celananya.

***

“Coffee Shop?”

Jongdae menoleh ke arah Aeri yang kini sedang memandangi arsitektur bangunan sebuah Coffee Shop yang terlihat elegan di daerah Kangnam dengan takjub. Tumben sekali Jongdae mengajaknya ke tempat elit begini. Ah, kalau begini kan, aku jadi merasa seperti gadis desa yang baru datang ke Seoul, pikir Aeri.

“Yah, Luhan Hyung mendirikan ini bersama Kyungsoo, Yixing Hyung, Minseok Hyung, dan Joonmyeon Hyung,” jawab Jongdae membuyarkan lamunan Aeri.

“Ng.. Orang-orang yang kausebutkan selain Luhan Gege itu para penanam modal yang ikut andil dalam bisnis Coffee Shop ini?” tanya Aeri ingin tahu.

“Hmm. Termasuk, aku juga,” ujar Jongdae. “Ayo, masuk.”

Jongdae meraih gagang pintu masuk Coffee Shop itu dan masuk bersama Aeri. Di sana banyak sekali orang-orang datang dan berkunjung di Coffee Shop tersebut. Ingin rasanya Aeri bertepuk tangan takjub ketika melihatnya. “Sudah berapa lama kafe begini berdiri?”

“Baru saja.Hari ini adalah hari pembukaan Coffee Shop ini,” jelas Jongdae. “Kenapa kau berpikir sejauh itu?”

Aeri menggeleng cepat. “Ani.Kupikir, kalian sudah mendirikan ini sejak lama.”

“Hari ini adalah acara pembukaannya. Maka dari itu, aku sengaja mengajakmu pergi.”

“Kenapa tiba-tiba kau mengajakku ke mari?” tanya Aeri ingin tahu.

Jongdae berpikir sejenak. “Entahlah.Saat aku ingat ada acara pembukaan ini, aku langsung teringat kau yang sedang merana.”

Merana. Aeri merasa Jongdae sengaja menekankan kata ‘merana’ untuknya. Sial, Jongdae mulai meledeknya lagi, pikir Aeri sebal. Tanpa sadar, kini Jongdae sudah menghilang dari hadapannya. Seketika, Aeri mencari pria itu dengan panik. “Lho, Jongdae-ya! Eoddika?!”

“Kau duduk saja dulu, aku ada urusan sebentar,” ujar Jongdae dengan nada sedikit berteriak. Ia melambaikan tangannya pada Aeri ―memberi isyarat untuk berpamitan sebentar.

Aeri terdiam sejenak, kemudian menggerutu pelan. “Apa-apaan dia? Setelah dia berhasil membujukku untuk ikut pergi dengannya, sekarang dia malah meninggalkanku. Hebat sekali.”

Lalu, Aeri memutuskan untuk duduk di sebuah kursi dengan meja yang menghadap ke arah panggung yang dipenuhi dengan berbagai macam alat musik. Ternyata, di sana juga menyediakan panggung untuk menampilkan pertunjukan musik dan menghibur para pengunjung. Gadis itu memandang takjub ketika melihatnya. “Waah, berarti dia juga berperan besar dalam membangun ini. Baiklah, kuakui kalau dia benar-benar hebat,” gumam Aeri. “Tapi, siapa yang akan bernyanyi ya?”

“Ri-ya!”

Aeri tersentak kaget dan langsung menoleh. Matanya mendapati Hyoae sedang berlari menghampirinya dan setelah itu duduk berhadapan dengannya. “Hyoae-ya?”

“Kau datang?” tanya Hyoae dengan wajah terkejut. “Kupikir, kau tak akan datang.”

“Kalau tidak ada Kim Jongdae, mana mungkin sekarang aku berada di sini,” ujar Aeri. “Jahat sekali kau. Tidak memberitahuku kalau ternyata ada acara ini. Padahal kan, pacarmu berperan andil dalam Coffee Shop ini. Hyoae menyebalkan,” gerutunya.

“Aniyo.Bukan begitu maksudku,” bela Hyoae.“Soalnya, ada suatu masalah.”

“Memang apa masalahnya?” tanya Aeri tak sabar.

Hyoae terdiam sejenak.Kemudian, wajahnya langsung maju ke arah Aeri dan berbisik, “Luhan Gege mengundang Kyuhyun Sunbae ke acara ini. Dan sekarang, dia datang dengan Yeonjoo Sunbae.”

“….”

Tiba-tiba saja, Aeri mendadak kehabisan kata. Pikirannya mendadak buyar. Entah kenapa, kini Aeri merasa menyesal telah datang ke mari. Bisakah ia pulang sebelum bertemu dengan Kyuhyun? Dalam hatinya, ia berdoa agar ia tidak bertatap wajah dengan Kyuhyun.

“Halo, semuanya.”

Aeri mengenyitkan keningnya sejenak saat mendengar suara seseorang menggunakan microphone. Sepertinya, ia tahu suara nyaring nan khas itu. Dengan cepat, ia langsung menoleh ke atas panggung. Betapa terkejutnya Aeri ketika tahu Jongdae sedang berada di atas panggung ditemani dengan sebuah grand piano.

“Kau?!” pekik Aeri pelan, namun tangannya refleks menunjuk ke atas panggung.

Sementara, Jongdae hanya tersenyum saat ia memandang Aeri seraya merapihkan topi dan rambutnya yang kini telah berubah menjadi merah marun yang sebelumnya berwarna pirang kecokelatan. Kemudian, matanya kembali fokus ke semua orang. “Sebelumnya, aku perwakilan dari pengelola Coffee Shop ini mengucapkan terima kasih kepada para pengunjung yang telah menyempatkan waktunya untuk hadir di sini. Kami harap, anda sekalian dapat menikmati acara hari ini dan dapat mengisi waktu senggang anda untuk menikmati menu di sini ke depannya.”

Terdengar tawa para pengunjung ketika Jongdae mengatakan hal itu. Sementara, Aeri hanya menggeleng pelan. Tubuhnya mendadak menegang. “Kau konyol, Kim Jongdae,” gumamnya.

Sementara, Jongdae menghelakan napas panjang sebelum kembali melanjutkan ucapannya, “Baiklah. Sebagai hiburan sekaligus hadiah untuk anda semua karena telah datang ke tempat ini, aku akan menyanyikan sebuah lagu. Selamat menikmati.”

Kini mulai terdengar dentingan tuts-tuts piano yang dimainkan oleh Jongdae. Tampak, suasana menjadi hening karena para pengunjung memandang ke arah panggung.

[♫♫ EXO M’s Chen – Nothing Better]

Nothing better
Nothing better than you

Nyanyian Jongdae diakhiri dengan tepuk tangan para pengunjung.Sementara, Aeri ternganga.Ia tidak pernah menyangka bahwa pria itu bisa menyanyi dengan suara semerdu itu. Berkali-kali kedua mata gadis itu mengerjap. Dalam hatinya, ia benar-benar memuji-muji Jongdae. You’re amazing, Jongdae-ya, batin Aeri.

Kemudian, Aeri memandang ke seluruh pengunjung.Namun, pandangannya terhenti ketika melihat sepasang sejoli sedang mengobrol. Sesekali, mereka tertawa sambil tersenyum. Cho Kyuhyun dan Shin Yeonjoo, pikir Aeri. Rupanya, doanya tak terkabul.

“Aish,” desis Aeri sambil berkacak pinggang. Namun, sikapnya segera ia hentikan ketika tangannya merasa ada sesuatu dari saku celananya. Ah! Blue note yang ia masukkan tadi sebelum berangkat! Pikir Aeri.

Tetapi, ia mendadak ragu saat mengeluarkan dua buah blue note miliknya dari saku celananya. Sesekali, ia menoleh ke arah sepasang kekasih tersebut. Oke, kau harus berani Song Aeri, kata Aeri dalam hati sambil menelan ludahnya dalam-dalam.

“Aku pergi dulu, Hyo.Annyeong.”

Akhirnya, perlahan Aeri bangkit dari duduknya dan berjalan menuju meja yang diisi oleh Kyuhyun dan Yeonjoo. Kini, ia sudah tak bisa peduli dengan penilaian mereka yang memandang Aeri tak tahu malu karena kembali menampakkan wajahnya setelah mengatakan pengakuan hal yang berasal dari hatinya kemarin.

“Annyeong, Oppa, Eonni.”

Kyuhyun dan Yeonjoo agak terkejut ketika melihat sosok Aeri yang kini sedang membungkuk. Mereka hanya membalasnya dengan anggukan saja. Aeri langsung duduk berhadapan dengan mereka. Tangannya sudah siap menggenggam blue note miliknya. Sementara, mereka berdua menatap Aeri dengan heran.

“Hmm,” Aeri berpikir sejenak berusaha mencari kata yang tepat. “Sebelumnya, aku sangat minta maaf atas apa yang terjadi, Kyuhyun Oppa. Dan Yeonjoo Eonni, aku harap kau jangan salah paham bila kau secara tak sengaja mendengar ucapanku kemarin. Aku sekarang tak peduli apakah kalian menganggapku berwajah seperti dinding yang datar dan tidak memiliki malu atau apa. Aku akan menerima semua itu dengan lapang dada sebagai bentuk penebusan kesalahanku. Tapi―”

“Katakan langsung intinya, Ri-ya,” ucap Kyuhyun dengan dingin.

“Oke.”

Kini, Aeri malah merasa tersudutkan dengan ucapan Kyuhyun. Baiklah, ia jadi merasa menyesal untuk mengatakan suatu hal secara langsung pada Kyuhyun maupun Yeonjoo. Dengan cepat, Aeri langsung menyerahkan dua buah blue note itu pada Kyuhyun dan Yeonjoo. “Ini… blue note untuk kalian. Kuharap, kalian membacanya. Terserah kapan saja. Aku tak peduli yang penting aku sudah menyerahkannya.”

Hening sejenak diantara mereka.

“Hanya itu, Aeri-ssi?” tanya Yeonjoo dengan nada hati-hati. Berharap Aeri tidak akan membalas ucapannya dengan sinis.

Aeri mengangguk cepat.“Ya.Hanya itu.Terima kasih dan… sampai jumpa!”

Aeri bangkit dari duduknya dengan segera dan berbalik, namun pergelangan tangannya langsung ditahan oleh Kyuhyun. “Tunggu.”

“Apa lagi?” tanya Aeri sambil menoleh ke arah Kyuhyun. Ia menatap Kyuhyun dengan takut-takut.

Kyuhyun tersenyum sinis sambil menatap Aeri tajam. Tangannya semakin menggenggam erat pergelangan tangan Aeri. “Hanya itu? Lalu, kau tidak mau menjelaskan kejadian kemarin? Maaf, tapi masalah kemarin bagiku belum selesai, Ri-ya,” ungkapnya sakartis.

“Ta-tapi, apa lagi yang harus kujelaskan? Aku pikir, aku sudah mengakui semuanya. Dan, kau sepertinya mendengar ucapanku dengan baik,” sahut Aeri. “Ba-bagian mana yang harus―”

“Kenapa kau harus menyukaiku?” tukas Kyuhyun yang membuat Aeri terdiam. Tangannya semakin mencengkram erat pergelangan tangan gadis itu. “Kenapa kau tidak mengatakannya sejak awal? Sejak 4 tahun lalu. Kenapa juga kau membiarkanku untuk selalu menceritakan suatu hal yang hanya akan membuatmu sakit? Kenapa kau membiarkan dirimu tersakiti karena diriku? Berikan aku sebuah alasan agar aku mengerti perasaanmu! Kenapa?!”

Aeri semakin bingung harus menjawab apa ketika Kyuhyun menghujaninya dengan berbagai macam pertanyaan yang sulit untuk dijawab olehnya, bahkan hatinya sendiri yang merasakan. Ingin rasanya menangis karena Kyuhyun terus mendesaknya.

“Kyu-Kyuhyun Oppa, aku…”

“Hentikan ini, Hyung.”

Aeri dan Kyuhyun menoleh dan mendapati Jongdae kini sudah berada diantara mereka. Dengan cepat, Jongdae melepaskan genggaman tangan Kyuhyun dari pergelangan tangan Aeri.

“Kau,” ucap Kyuhyun sinis menekankan ucapannya pada Jongdae. “Jangan ikut campur, Jongdae-ya.Ini urusanku dengan Aeri.”

“Tapi, kau menanyakan suatu hal yang cukup mustahil.” Jongdae tertawa sinis. “Seorang gadis dan seorang lelaki itu berbeda, Hyung. Gadis itu melibatkan perasaan dalam urusan cinta. Dan, lelaki tidak semuanya urusan cinta melibatkan perasaan.”

Dan, perlahan Jongdae menggenggam tangan Aeri sembari menepuk bahu Kyuhyun. “Pikirkanlah itu, Hyung.”

Jongdae langsung berjalan meninggalkan Coffee Shop setelah berpamitan dengan Luhan dan teman-temannya.Ia sudah tak peduli dengan mata para pengunjung yang kini sedang tertuju ke arahnya dan Aeri. Tangannya masih setia menggamit tangan gadis itu. Dan, Aeri tidak tahu akan dibawa ke mana oleh Jongdae setelah ini.

***

“Kau bisa bermain bola basket kan?”

“Kau menyindirku? Aku tahu, dulu saat SMA kau kadangkala melihatku di lapangan. Dan kau pasti tahu, kalau aku selalu mendapat remedial penilaian bermain bola basket karena kepayahanku.”

Jongdae tertawa mendengar ucapan Aeri sembari mendribel bola basketnya. Sedangkan, Aeri kini sedang duduk di kursi penonton seraya memandang Jongdae. Saat ini, mereka sedang berada di lapangan bola basket dekat Sungai Han. Jongdae terus saja mendribel bola basketnya dan memasukkannya ke dalam ring. Dan, berkali-kali pula selalu masuk.

“Sebenarnya, apa yang kau katakan pada Kyuhyun Hyung tadi?” tanya Jongdae kemudian setelah sekian lama tak ada suara.

“….”

“Jawab aku, Ri-ya. Aku tahu kau sedang mendengarkanku sekarang.Jangan pura-pura tuli.”

“….”

“Song Aeri!”

“Maksud ucapanmu dulu tentang warna note identitas kita “untuk pengungkapan perasaan yang lebih detail”, apa berarti note identitas kita bisa digunakan untuk dipakai berupa ‘surat pengakuan’?”

Jongdae menoleh ke arah Aeri yang kini sedang memandangnya dengan dagu yang bertumpu pada kedua sikut tangannya. Alis Jongdae agak terangkat dan matanya menatap aneh Aeri. “Hah?”

“Bukankah artinya blue note milikku bisa digunakan untuk surat pengakuan atas sejenisnya?” tanya Aeri.

“Kau menyerahkan blue note milikmu pada siapa?”Jongdae balik bertanya tanpa menjawab pertanyaan Aeri. “Kyuhyun Hyung atau Joo Noona?”

Aeri menggaruk kepalanya yang tak gatal. “Keduanya.”

“Apa isinya?”

Aeri memandang Jongdae sejenak.

“Pengakuan perasaan secara detail.”

***

“Kyu, gumawoyo.”

Kyuhyun tersenyum sambil mengangguk pada Yeonjoo saat mobil sport merah milik pria itu telah sampai di apartemen Yeonjoo. “Hati-hati dan istirahatlah setelah ini, ya.”

“Arraseo.”

Yeonjoo melepas sabuk pengamannya dan keluar dari mobil.Sebelum masuk ke apartemen, Yeonjoo menoleh sebentar ke arah Kyuhyun.Hal itu membuat Kyuhyun agak heran.

“Ada apa, Joo?”

Yeonjoo terdiam sejenak. “Aniyo.” Ia menggeleng pelan sambil tersenyum, kemudian gadis itu melambaikan tangannya ke arah Kyuhyun. “Kau hati-hati, Kyu.”

Kyuhyun mengangguk mantap, kemudian segera melajukan mobil ketika Yeonjoo sudah masuk ke apartemen. Namun, tiba-tiba saja mobil Kyuhyun kembali berhenti di depan sebuah halte. Pikirannya berubah tak fokus. Berbagai reka ulang kejadian lalu antara ia dan Aeri mulai memenuhi otaknya.

“Aish!” desis Kyuhyun dengan nada kesal. Dengan segera, ia merogoh sakunya dan mengambil blue note pemberian Aeri. Ia memandang kertas kusut itu sejenak, lalu membukanya.

To : Cho Kyuhyun (Oppa menyebalkan)

Oppa, apa kau marah padaku atas pengakuan perasaan bodohku kemarin? Maafkan aku atas itu.Tapi, ucapanku kemarin itu berasal dari hatiku yang paling dalam.Itu kejujuran-kejujuran yang sengaja kututupi demi dirimu, Oppa. Maaf ya.

Oke, kau pasti sedang tak ingin bercanda. Tapi, kau harus tahu satu hal : Walaupun kemarin aku tak bisa menerima kenyataan bahwa kau mencintai Yeonjoo Eonni, tapi kali ini nyatanya aku sangat bahagia bahwa perasaan kecil terpendammu terbalaskan oleh Yeonjoo Eonni. Aku benar-benar lega ketika tahu perasaan Yeonjoo Eonni sama besarnya sepertimu.

Cho Kyuhyun, ayo bahagiakan Yeonjoo Eonni. Aku berjanji, aku akan bahagia jika melihatmu bahagia. Aku akan selalu mendukungmu. Bukankah sejak awal aku selalu mengatakan hal itu? Kau tahu, ternyata walaupun pada awalnya aku menangis keras-keras karenamu, tapi pada akhirnya aku tak pernah menyesal mencintaimu, Oppa.

Terima kasih atas kejadian-kejadian lalu yang membuat perasaan kecil dari hatiku berkembang besar berkat dirimu.

― Song Aeri

Kyuhyun menahan napasnya ketika membaca rentetan kalimat yang membentuk sebuah untaian prosa dalam bentuk surat. Segera, ia menghelakan napas panjang seraya memejamkan kedua matanya. TeIapak tangannya refleks mengusap keningnya dan tubuhnya mulai bersandar pada jok mobil. Ia tak habis pikir atas ini.

“Song Aeri~” ucap Kyuhyun dengan nada panjang. “Kenapa kau berubah menjadi seseorang yang sulit ditebak seperti ini?”

***

To : Shin Yeonjoo

Sebelumnya, maafkan aku sebesar-besarnya. Aku tahu, Eonni melihat kejadian kemarin. Aku mohon, janganlah kau merasa terbebani atas perasaan bodohku ini. Aku juga tahu, Eonni merasa terkejut saat mendengar perasaanku pada Kyuhyun Oppa sama dengan perasaanmu padanya. Kumohon, maafkan aku atas ini. Tapi, bolehkah aku memohon padamu untuk memenuhi sebuah permintaanku saat ini sampai selamanya?

Berbahagialah Eonni dengan Kyuhyun Oppa. Buatlah Kyuhyun Oppa bahagia bila bersamamu. Jangan membuatku merasa menyesal telah melepaskan Kyuhyun Oppa padamu karena mungkin saja di waktu yang akan datang ―dan aku harap hal itu tak kan pernah terjadi, kau malah menyakitinya. Hanya itu. Aku meminta ini karena aku juga sudah menyerah dengan baik.

Sikap egoisku memang terkadang bodoh, tidak bisa menerima kenyataan bahwa Eonni dan Kyuhyun Oppa saling mencintai. Tapi, aku kini telah sadar sepenuhnya bahwa kau juga berhak bahagia bersama seseorang yang kaucintai setelah sekian lama kau larut dalam penderitaan.―Jangan tanya aku tahu darimana, jika saja Jongdae tidak menceritakan semuanya.

Inti kata, bahagialah Eonni dengan Kyuhyun Oppa. Awas saja kalau kau tak bahagia. Kau tahu, semua hal tentangmu membuatku iri. Semua hal yang aku inginkan berada padamu. Secara tak langsung, kaupun bisa menikmati semua itu. Dan kau harus mensyukuri hal itu.

― Song Aeri

Airmata Yeonjoo mengalir tanpa permisi saat membaca potongan-potongan kalimat yang terkumpul menjadi beberapa paragraf dalam secarik kertas berwarna biru. Saat itu, ia baru saja sampai di apartemennya. Perasaan bersalah pada Aeri semakin besar ketika ia membaca blue note pemberian Aeri.

Segera, gadis itu mencari ponselnya dan mencari nama kontak yang tertera. Kemudian, ia menelepon seseorang.

“Yeoboseyo? Aeri-ssi.”

***

Di sisi lain, Aeri sedang menyedot jus jambu yang baru saja ia beli setelah 1 jam lebih menonton Jongdae bermain bola basket di pinggiran Sungai Han. Ia sekarang seperti penonton setia Jongdae. Andai saja itu kenyataan, sudah dipastikan Aeri akan berteriak keras-keras layaknya supporter sembari membawa sebuah banner besar-besar bertuliskan ‘KIM JONGDAE, FIGHTING! I LOVE YOU!’. Dan sayangnya, Aeri tidak sekonyol itu.

“Yaakk!! Kapan pulang?!”

Setelah 30 menit diam tanpa suara, akhirnya Aeri berteriak keras pada Jongdae. Rupanya, kesabarannya sudah habis. Jongdae menoleh ke arah Aeri yang kini sedang mengerutkan keningnya. Segera, Jongdae berlari menuju kursi penonton bagian tengah dan duduk di hadapan Aeri.

“Aku haus. Kau tidak membelikanku jus jeruk?” tanya Jongdae dengan wajah memelas karena kelelahan.

“Tidak dan aku kebosanan di sini. Saat membeli jus jambu ini, aku sama sekali tak teringat olehmu. Oke? Maaf,” ujar Aeri panjang lebar. “Aish, siapa yang meneleponku?! Mengagetkanku saja!” gerutu Aeri tiba-tiba karena tersentak kaget ketika ponselnya bergetar.

Langsung saja, ia menaruh jus jambunya dan merogoh tasnya. Kemudian, ia mengangkat ponselnya tanpa melihat nama si penelepon. “Yeoboseyo?”

“Yeoboseyo? Aeri-ssi.”

Alis Aeri sedikit terangkat mendengarnya. Lalu, ia menatap layar ponselnya sejenak. Tak ada yang tertera nama dan hanya ada nomor ponselnya.“Nuguseyo?”

“Ini… Shin Yeonjoo.”

“….”

“Hari ini kau ada waktu?”

“Ehm, aku―”

“Aku harap kau bisa datang di kafe dekat kampus sekarang.”

“Ada apa memang―”

“Satu hal lagi, jangan beritahu Jongdae bila kita akan bertemu.”

“Apa? Tapi―”

“Aku tunggu kau di sana. Annyeong.”

Tut! Sambungan langsung terputus secara sepihak membuat Aeri melongo. Satu hal yang Aeri ketahui tentang Yeonjoo, gadis itu bisa seenaknya begini. Entah kenapa, persis seperti seseorang yang sedang ia lupakan.

“Dari siapa?” tanya Jongdae membuyarkan lamunan Aeri.

“Bukan siapa-siapa.” Ketika Aeri memandang Jongdae yang sedang menyedot sisa jus jambu miliknya hingga habis, membuat gadis itu langsung memekik kesal. “Kim Jongdae!!”

“Ini juga kesalahanmu karena tak membelikanku jus jeruk. Kau kan tahu, aku kelelahan,” balas Jongdae dengan nada menggerutu.

“Memangnya aku berpikir tentangmu sampai sana?!”

“Nah kan, kau mulai egois.Tidak ingat kemarin saat kau sakit, siapa yang merawatmu.”

“Astaga. Demi Tuhan, Kim Jongdae! Andai saja aku ini pemilik kios yang menjual jus buah, aku akan membuatkanmu jus jeruk secara cuma-cuma!”

“Aish, kenapa kau jadi sensitif begini sih?”

Jongdae menggelengkan kepalanya prihatin. Rupanya, gadis itu lupa akan jasanya yang telah menolongnya kemarin dari sakitnya. Manusia memang begitu, pikir Jongdae.

“Ah ya, aku harus pergi dulu. Kau main basket sendiri saja ya? Aku harus menemui seseorang,” ucap Aeri tiba-tiba sambil memasukkan ponsel ke saku celananya.

Sementara, Jongdae memandang ingin tahu pada Aeri. “Kau ingin menemui siapa?”

“Aku harus menemui Yeo―” Aeri tersentak kaget, kemudian memandang Jongdae sejenak. Sial, ia kelepasan. Kan sudah diingatkan sebelumnya, jangan beritahu Jongdae atas ini. Bodoh! Umpat Aeri dalam hati.

Tampak, alis Jongdae sedikit terangkat. “Yeo?”

“Youngmi maksudku! Ya, Youngmi. Katanya, aku harus menemuinya sekarang. Aku harus pergi. Dah!”Aeri langsung berpamitan pada Jongdae dan berlari meninggalkan lapangan bola basket dan Jongdae sendiri.

Sementara, Jongdae bepikir tentang seseorang yang ingin Aeri temui. Ia yakin, bukan Youngmi orangnya yang Aeri temui. Bukan. Pasti seseorang yang ia tahu.

***

“Sudah lama menunggu?”

“Baru saja. Maaf ya, sepertinya kau takut tidak tepat waktu sehingga kau datang dengan napas terengah-engah. Duduklah, Aeri-ssi.”

Aeri tersenyum menatap Yeonjoo seraya duduk di kursi yang telah disediakan. Aeri cukup bersyukur karena Yeonjoo tetap bersikap baik padanya mengingat dulu Aeri pernah bersikap sinis padanya. Dia memang baik sekali, pikir Aeri.

Sementara, Yeonjoo memandang Aeri sejenak seraya menelan ludahnya sejenak. Ia harus bisa mengatakan hal itu, pikirnya meyakinkan hatinya.

“Eonni, apa kau sudah memesan minuman? Biar aku―”

“Ah, tidak perlu. Lebih baik langsung ke inti pembicaraannya saja. Ada suatu hal penting yang ingin kukatakan padamu, Aeri-ssi.”

Aeri memandang Yeonjoo penasaran. “Apa itu, Eonni?”

Yeonjoo terdiam sejenak. Kemudian, mengeluarkan sesuatu dari tasnya yang ternyata adalah sebuah kertas berwarna putih. White note. Lalu, white note itu diberikan pada Aeri yang membuat Aeri heran.

“Apa ini? Eonni meminta maaf atas apa? Memangnya Eonni salah―”

“Bukan itu maksudku,” tukas Yeonjoo. Ia memejamkan kedua matanya sejenak. “Aku menyerah. Atas semuanya.”

Seketika, kedua mata Aeri membulat. “Mwo?!”

― To Be Continued ―

Iklan

4 thoughts on “Love Note : 8th Confession

  1. eonni..ditunggu next chapternya ya… aku penasaran dgn jongdae oppa selanjutnya… aku harap jongdae oppa bisa menemukan kebahagiaannya…awh..jondae oppa.<3

    1. Tunggu aja ya. Aku masih proses pengetikan dan mengalami wbs. 😥 doain aja moga lancar yaa. Makasih udah komen dan baca ff ii. Moga ga bosen yaaaa

  2. Eonniiiii akhirnya chapter 8 udh di post juga \m/ Yeon Joo baik banget ya ampun, kok jadi sweet gini Jongdae sama Aerinya. Sumpah kaget banget waktu Kyuhyunnya jadi sinis gitu, emang sih wajar, tapi tetep aja kaget. Aku jadi bingung nih kira-kira nanti Aeri sama siapa ya? Kurang spasi di sesudah titik di beberapa kalimat eon, overall oke, nyesek banget pokoknya kalo aku jadi Aeri 😥 keep write ya eonni, di tunggu buat chapter selanjutnya. Fighting.

    1. hehehe, maaf ya udah nunggu lama. Soalnya, aku lama di proses pengetikannya.kkkkk
      Makasih atas koreksinya ya, itu gara-gara aku keseringan buka ms. word di lapi orang. Wkwk
      Thanks udah review. Moga ga bosen ya sama ff ini 😀

Mind to Review? ^ ^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s