Rainy Sunday

rainy sunday coverRainy Sunday

© airlyaeri297’s Script Writer

Casts : Byun Baekhyun (EXO’s Baekhyun); Lee Rihwa (OC-Riri)

Genre : Fluff, Hurt/Comfort, Romance║ Rated : PG-13 ║ Length : Oneshot (2108 words)

Disclaimer : 20140602 © airlyaeri297

Note : Ini…. Apa ini? Kok gue jadi bingung? -___- Sumpeeehh, demi deh. Gue tuh udah niat keles mau bikin Yifan. But…. Kok gara-gara liat si byunbaek di drama musical fotonya bagus-bagus jadi meleset jauh begini? :V Yeuh, lagian si riri minta maning. Mumpung gue dapet feelnya byunbaek, gue kasih aja deh. Happy reading! 😀 wkwk

P/S : Untuk FF Love Note, tunggu aja kelanjutannya ya. Saya sedang terkena virus write block syndrome xp kkk~ doain aja biar cepet kelaaaarrr! >_<

****

“Di Minggu pagi ini, aku akan menemukanmu, Tinkerbell.”

Rihwa duduk di sebuah bangku panjang halte. Hari minggu pagi yang seharusnya cerah, kini diguyur hujan deras. Sial, ini adalah kesalahan terbesar gadis itu karena tidak memikirkan kejadian selanjutnya jika ingin berjalan-jalan sebentar di pagi hari. Hasilnya bisa terlihat sekarang, hujan deras menyebabkan aku terjebak di halte.

Hujan di musim gugur juga membuat Rihwa sempat meruntuki diri sendiri mengingat pakaian yang ia pakai sekarang. Kemeja berwarna jingga berlengan sesikut dan jeans sebawah mata kaki serta hoodie berwarna hitam. Bisa dibayangkan betapa dinginnya udara saat hujan musim gugur, masih untung bukan musim dingin.

Alunan musik dari earphone ponsel menemani gadis itu selain rintik-rintik hujan yang tak kunjung reda. Siluet-siluet aneh dan bayangan seseorang mulai memenuhi otaknya. Dan, itu seringkali pula membuatnya sedikit frustasi. Entah sejak kapan, ―katanya kecelakaan telah menimpanya dan membuatnya seperti ini. Terkena suatu penyakit aneh. Demensia atau Amnesia? Atau alzaimer? Entahlah. Apa itu? Rihwa hanya tersenyum pahit ketika mengingat hal itu.

Segera, Rihwa meraih sebuah diary kecil yang sudah kusam dari dalam saku hoodienya. Saat ia membuka buku diary kecil itu, banyak torehan tinta yang menyambutnya. Namun, tinta-tinta tulisan yang memenuhi diary itu telah memudar seiring dengan berjalannya masa. Setiap lembar buku tersebut memiliki karakter tulisan yang sedikit berbeda. Rihwa sejak lama sangat penasaran ketika melihat sebuah halaman yang memiliki tulisan berbeda tersebut. Hanya ada satu kalimat yang tertera jelas di sana.

‘Tinkerbell dan Peter Pan. Kita yakin, kita akan selalu bersama.’

“Kau sendirian saja, Riri?”

Kenyataan langsung menarik pikiran gadis itu dari dunia ilusi dan imajinasi ketika seseorang duduk di sampingnya. Orang itu. Lagi. Byun Baekhyun. Dengan cepat, Rihwa memasukkan kembali diary kusam tersebut ke dalam saku hoodie. Rihwa hanya bisa menyapa pria itu dengan wajah sinis.

“Menurutmu apa yang kau lihat?” balasku dengan nada sakartis.

“Hahaha~”

Rihwa memandang Baekhyun dengan pandangan heran. Alis gadis itu tampak terangkat. Apakah ada beberapa kata yang kuucapkan terdengar lucu di telinganya? Aneh. “Ini bukan lelucon konyol, Tuan Byun.”

“Okay, aku akan diam.”

Rihwa menghelakan napas dengan kasar dan memalingkan wajahnya dari Baekhyun. Kesialan mulai berdatangan sepertinya. Pertama, hujan di minggu pagi. Lalu, yang kedua adalah kedatangan lelaki ini. Entah ada apa, lelaki ini terus saja muncul di hadapannya dan hal itu kadangkala membuat Rihwa sedikit terganggu akan kedatangannya.

Suasana kembali sunyi, hanya terdengar percikan dari rintik hujan yang kini sudah tidak terlalu deras.

“Pernahkah kau merasakan kehilangan?”

Rihwa melirik ke arah Baekhyun sekilas. Tumben sekali ia berbicara dengan nada serius dan bahan pembicaraan yang serius pula. Rihwa memandang Baekhyun dengan tatapan tak tertarik. “Tidak. Tapi…. Sejujurnya, ya. Memang apa yang membuatmu merasa kehilangan?”

Hening. Tampak, Baekhyun menundukkan wajahnya. “Seseorang… yang telah lama hilang. Dan, kini aku kesulitan untuk menemukannya.”

“Sangat berarti?” tanyaku mulai tertarik dengan kisahnya. “Coba ceritakan padaku.”

Baekhyun langsung mendongakkan wajahnya dan memandang Rihwa sejenak. “Panggil dulu aku dengan sebutan ‘Oppa’. Kan usiaku lebih tua darimu.”

Rihwa kehabisan kata ketika mendengar ucapan Baekhyun. Cih, ternyata dia masih sempatnya memanfaatkan orang dengan cara seperti ini. Hebat sekali. Gadis itu menghelakan napas pendek dan berkata, “Baiklah. Baekhyun Oppa.”

Kini, senyum manis merekah di bibir merah mudanya. Senyum yang berbeda dengan biasanya. Senyum yang –dirasanya belum pernah Rihwa lihat sebelumnya. “Begitu terdengar lebih baik.”

Gadis itu hanya tersenyum tipis. Orang ini tak selamanya buruk. “Ayo, lanjutkan ceritanya.”

Baekhyun menatap Rihwa sejenak. “Seseorang. Yang sudah sejak lama kukenal dengan baik. Ketika masih di sekolah dasar, kami selalu pergi bersama, bermain bersama, bahkan menulis diary bersama. Ke manapun kami pergi seolah dunia hanya ada aku dan dia. Setiap ada seseorang yang mengganggunya, aku selalu berusaha melindunginya dan menjaganya. Aku benar-benar bahagia rasanya.”

“Lalu?”

“Tiba-tiba, dia pergi. Keluarganya pindah rumah ke luar negeri. Negeri yang sangat jauh. Aku bahkan sampai saat ini tak pernah tahu dia ada di mana. Kenangan-kenangan kecil milik kami perlahan menghilang begitu saja, namun ada satu yang masih tersisa.”

Rihwa mengerutkan keningnya. “Apa itu?”

“Janji.”

Janji. Tiba-tiba, sekelebat bayangan mulai memenuhi pikiran Rihwa. Kata ‘janji’ terus menggema di telinga gadis itu dan sebuah kejadian mulai menjelaskannya di dalam pikiran.

“Riri, kau katanya mau berjanji sebelum pergi.”

“Oppa mulai menuntut.”

“Cepat! Nanti kau ditinggal oleh keluargamu!”

“Baiklah. Apa janjinya?”

“A-apa janjinya?” tanya Rihwa dengan napas yang mulai tercekat. Satu kejadian. Ya, satu kejadian yang menurutnya aneh , tapi mampu baginya untuk menguakkan semuanya. Semua teka-teki yang tak pernah bisa ia jawab dengan otaknya.

“Tinkerbell dan Peter Pan. Kita yakin, kita akan selalu bersama,” ucap Baekhyun.

Bagaikan mesin waktu, Rihwa dapat kembali mengingat sesuatu yang –dirasanya belum ia ketahui. Rasanya gadis itu pernah dengar untaian kalimat itu. Tapi, di mana?

“Tinkerbell dan Peter Pan. Kita yakin, kita akan selalu bersama.”

“Hah?”

“Aku Peter Pan-nya dan kau Tinkerbell-nya.”

“Kenapa Tinkerbell? Dia kan bukan peran utama dalam cerita Peter Pan. Yang menjadi peran utamanya adalah Wendy. Lagipula, Wendy adalah gadis yang cantik.”

“Aku tidak mau kau menjadi Wendy, Riri. Karena, pada akhirnya Wendy akan pergi meninggalkan Peter Pan. Makanya, aku ingin kau menjadi Tinkerbell karena Tinkerbell akan selalu berada di sisi Peter Pan selamanya. Lagipula, Tinkerbell juga cantik bahkan lebih cantik dari Cinderella.”

Tiba-tiba lagi, Rihwa teringat berbagai macam perkataan dari orang-orang sekelilingnya. Tentang ingatan dan Byun Baekhyun. Orang yang sering mengganggunya selama ini.

“Apa kau tak ingat semuanya?”

“Riri, apa tak ada satu memoripun yang tertinggal dari otakmu itu?”

“Baekhyun sangat cemas padamu. Apa kau sama sekali tak ingat kenangan tentang dia?”

“Sudahlah, jangan paksa Riri untuk mengingat semuanya. Apa kalian tidak tahu kecelakaan yang menimpanya dua tahun lalu?”

“Tunggu saja perkembangannya. Jangan paksa gadis itu. Kasihan tahu.”

“Aih, kenapa menjadi melankonis seperti ini? Lupakan.”

Rihwa langsung tersadar dari lamunannya. Kemudian, gadis itu memalingkan wajahnya dan menatap hujan yang masih belum reda. Siluet dan bayangan potongan kejadian yang berasal dari memori otak Rihwa mulai berkelebat. Sayup-sayup suara memori masa lalu membuatnya kembali sedih. Rihwa ingin bertemu orang itu. Ia ingin ingatannya yang –jika katanya sempat hilang kembali. Ia… Merindukannya.

“Kau menangis? Kenapa, Riri?”

Rihwa menoleh dan mendapati Baekhyun sedang memandangnya dengan cemas. Gadis itu hanya menggeleng pelan untuk menjawab pertanyaan Baekhyun. “Tidak ada yang perlu dicemaskan. Aku baik-baik saja.”

“Kau…. Sakit?” tanya Baekhyun khawatir saat ia melihat Rihwa mulai linglung karena rasa sakit yang mulai menjalar ke kepalanya dan tangannya berusaha meremas besi gagang halte kuat-kuat.

“Riri!”

Rihwa berusaha memejamkan kedua matanya kuat-kuat. Berusaha untuk mengabaikan sayup-sayup suara yang sering muncul itu. Entah kenapa, ini seperti lelucon untuk Rihwa. Hentikan ini. Kumohon! Perlahan juga, rasa sakit yang semakin menjalar ke kepalanya tak kunjung hilang dan rasanya ingin pecah. Tubuhnya seakan tidak memiliki otot untuk menahan Rihwa. Ada apa lagi sekarang?

“Jangan pernah lupakan janji itu, Riri. Kan kan sudah berjanji padaku untuk terus mengingat janji itu.”

“Aku pasti juga akan merindukanmu, Riri.”

“Kita juga harus berjanji suatu saat kita harus bertemu lagi. Arraseo?”

“Riri!!”

Terdengar, seruan keras mulai terdengar di telinga Rihwa sebelum tubuhnya terasa lemas dan pandangannya mulai benpendar menjadi penuh dengan warna putih.

***

“Heh, anak baru!”

Gadis bertubuh kecil dan berpipi tembam itu menoleh ketika ia sedang duduk bersandar di sebuah pohon dekat kelasnya. Ia melihat segerombolan anak-anak yang notabene adalah teman sekelasnya. Mereka terdiri atas perempuan dan laki-laki. Ia ingat, mereka adalah kumpulan orang pengganggu. Begitulah julukan yang didapat dari teman sebangkunya.

“Ada apa? Aku ini punya nama panggilan walaupun statusku anak baru. Namaku Lee Rihwa,” ucap gadis itu dengan polos.

“Memang apa peduli kami tentang dirimu? Berikan itu pada kami!” seru salah seorang dari mereka dengan nada galak. Tangannya menunjuk sebuah kotak bekal yang Rihwa bawa.

“Ini milikku. Ibuku sendiri yang membuatkannya khusus untukku.”

“Pokoknya, berikan itu pada kami!” teriak seorang lelaki yang berdiri paling depan. Rihwa juga tahu kalau itu adalah pimpinan geng mereka.

“Aku tidak mau! Kenapa masih memaksa?!” teriak Rihwa kesal akhirnya.

“Heh, kalian! Menjauh darinya!”

Rihwa kecil menoleh dan mendapati seorang lelaki bertubuh tinggi dan bermata sipit berjalan menghampirinya dan berdiri tepat di belakang Rihwa. Tampak, lelaki itu menatap segerombolan itu dengan berani.

“Kan sudah kubilang. Kata bu guru kalian tidak boleh berbuat seperti itu pada anak-anak lain!” serunya dengan keras. “Kalian memulainya lagi! Pergi kalian!”

Sementara, segerombolan itu perlahan berlari sekencang-kencangnya. Sesekali, mereka menoleh ke arah lelaki itu dan Rihwa kecil. Terdengar suara gerutuan yang terdengar keras. “Dasar Byun Baekhyun! Awas kau ya!”

Rihwa memandang lelaki itu sejenak dengan takut-takut. Sementara, lelaki bernama Byun Baekhyun itu membalas pandangan Rihwa seraya tersenyum lega.

“Maaf ya, seharusnya hari pertamamu sekolah diawali dengan kenyamanan. Tapi, tadi mereka menganggumu. Mereka memang begitu,” ucap Baekhyun dengan nada menyesal. “Ah iya, namaku Baekhyun. Byun Baekhyun. Kelas 3-B.”

“Lee Rihwa. Kelas 2-A,” ujar Rihwa dengan ragu.

Hening.

“Tidak usah takut padaku. Panggil saja aku Baekhyun Oppa.” Baekhyun berusaha memecahkan kesunyian karena ia tak suka dengan suasana canggung. “Aku harus memanggilmu apa?”

“Riri saja sudah cukup, Baekhyun Oppa.”

Senyum Baekhyun kembali merekah ketika mendengar kata ‘Oppa’ dalam ucapan Rihwa.

***

“Riri… kumohon kau sadar. Mau sampai kapan kau terus memejamkan kedua matamu? Aku tak apa kalau kau memang sudah tak bisa mengingatku lagi. Aku akan baik-baik saja. Yang penting kau sekarang sadar. Riri, bangunlah.”

Baekhyun terus menggenggam tangan Rihwa yang kaku karena tak kunjung bangun. Hatinya terus berdoa agar gadis yang kini sedang berbaring di ranjangnya dan memejamkan kedua matanya segera bangun dan sadar.

“Aku akan tetap di sini,” ucap Baekhyun. “Aku akan tetap menunggu di sini sampai kau sadar, Riri.”

Rupanya, lelaki itu sudah tak mempedulikan keadaannya. Ia hanya terfokus pada Rihwa yang tak kunjung sadar. Setiap detik, Baekhyun selalu berharap agar Rihwa cepat sadar dan ingatannya segera kembali. Tiba-tiba saja, Baekhyun teringat diary yang selalu ia bawa. Ia membuka lembar demi lembar kertas diary yang sudah semakin kusam dan tua tersebut.

“Oppa simpan diary milikku dan aku simpan diary milikmu. Oke?”

“Lalu, kapan diary itu akan kembali padaku, Riri?”

“Saat aku kembali, pasti diary milikmu akan kembali padamu, Oppa.”

Baekhyun tersenyum pahit ketika mengingat itu. Apakah Rihwa masih ingat kenangan dulu saat gadis itu bersama dengannya?

Pertanyaan itu tergantung begitu saja ketika ia merasakan jemari Rihwa bergerak dalam belenggu genggaman tangannya. Segera, Baekhyun menoleh dan mendapati Rihwa yang perlahan membuka kedua matanya.

“Riri!”

Rihwa berusaha menyesuaikan pandangannya dengan sinar cahaya lampu sebelum melihat seluruhnya. Kemudian, pandangannya berhenti pada manik mata Baekhyun. Tubuh Baekhyun sedikit menegang ketika melihat manik mata Rihwa. Rupanya, ia belum siap sepenuhnya jika ingatan Rihwa tak pernah kembali tentangnya.

“Baekhyun… Oppa…?”

Baekhyun masih menatap Rihwa. Kali ini sedikit sangsi dan tak yakin.

Sementara, Rihwa mencoba menyesuaikan otak dan memorinya. Kemudian, ia mencoba meraih hoodienya dan mengambil sesuatu dari saku. Matanya sedikit berkaca-kaca ketika ia melihat sebuah diary tua yang berada di tangannya.

“Ini… milik Oppa, kan?” ungkap Rihwa dengan airmata yang semakin menggenang di pelupuk matanya dan siap untuk mengalir tanpa perintah.

Baekhyun terdiam, lalu menaruh diary tua yang sedaritadi ia pegang tepat di telapak tangan gadis itu. “Dan, ini milikmu, Riri.”

Airmata Rihwa pecah ketika ia melihat diary tua yang ternyata adalah miliknya masih disimpan baik oleh Baekhyun. Berkali-kali, ia membuka lembar demi lembar isi diary tersebut seraya menangis. Tinta-tinta pudar menyambutnya, namun diantara semuanya hanya ada satu kalimat yang masih bisa terbaca dengan jelas oleh gadis itu.

“Tinkerbell dan Peter Pan. Kita yakin, kita akan selalu bersama.”

“Aku sudah memenuhi janjiku. Aku selalu menunggumu, Riri.”

Rihwa menoleh dan mendapati Baekhyun yang sedang menatapnya. “Baekhyun Oppa….”

Tanpa aba-aba, Baekhyun langsung memeluk Rihwa dengan erat. Ia sudah tak ingin kehilangan Rihwa untuk kesekian kalinya. “Aku selalu menunggumu, Riri. Kau tahu, menunggumu ibarat sedang berusaha menghentikan hujan di minggu pagi yang berkelabu. Kenapa kau baru datang sekarang?”

Sementara, Rihwa menangis dengan keras di pelukan Baekhyun. “Maafkan aku. Aku juga berusaha bersabar untuk bisa bertemu denganmu. Namun, nyatanya ini tidak semulus yang kukira. Maaf karena aku baru bisa mengingatmu sekarang. Maaf….”

***

“Kenapa kau masih mau menungguku?”

Baekhyun menoleh ke arah Rihwa saat mereka sedang mengunjungi taman di rabu sore yang berawan. Di sana, banyak sekali anak-anak yang sedang bermain gelembung. Saat ini, Rihwa memang belum diperbolehkan untuk pulang karena kondisinya belum sepenuhnya pulih setelah sadar dari koma selama tiga hari.

“Entahlah. Mungkin karena sejak awal aku sudah berjanji.”

“Janji apa lagi?”

Baekhyun melirik ke arah Rihwa yang kini sedang menatapnya dengan tatapan heran. Kemudian, lelaki itu tersenyum. “Aku pasti akan menemukanmu, Tinkerbell.”

Sementara, Rihwa tersenyum mendengar jawaban Baekhyun. “Tinkerbell.”

“Dan, kau yakin kan kalau Peter Pan dan Tinkerbell akan selalu bersama?” tanya Baekhyun gantian pada Rihwa.

“Yah,” Rihwa mengangguk pelan. Lalu, manik matanya menatap Baekhyun. “Aku tahu itu.”

Baekhyun tersenyum, kemudian menggenggam tangan Rihwa dengan erat. “Berjanjilah untuk saat ini kita akan selalu bersama. Karena sejak awal kau pergi, itu bukanlah akhir kisah kita. Arraseo?”

“Ya.”

“Byun Baekhyun adalah Peter Pan dan Lee Rihwa adalah Tinkerbell.”

“Peter Pan dan Tinkerbell.”

Baekhyun dan Rihwa saling berjalan beriringan seraya bertukar senyum yang kini sulit untuk diartikan. Rintik hujan kembali datang dan Baekhyun dengan siaga telah membuka payung untuk mereka berdua. Mereka telah percaya bahwa kemarin bukanlah akhir kisahnya.

―FIN―

Iklan

3 thoughts on “Rainy Sunday

Mind to Review? ^ ^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s