Love Note : 9th Unpredictable

love note cover 6 (2)© Aeri_Tamie’s Script Writer

Casts : Song Aeri; Kim Jongdae (EXO-M’s Chen); Cho Kyuhyun (Super Junior’s Kyuhyun); Shin Yeonjoo

Other Casts : You can find it in here ^^

Genre : Romance, Drama, Friendship, Comedy Rated : PG-17 Length : Chapter

Disclaimer : 20131025 © Aeri_Tamie

Previous Chapter :

1st Unexpected 2nd (Really) Unexpected 3rd Complicated 4th Let’s Play 5th Grey Paper 6th Love & Dust 7th Pain 8th Confession

Note      : Special cast Super Junior’s Kyuhyun and EXO-M’s Chen. Kkk~ 😉 Maaf ya, ff ini sempet terkena WBS virus dan kadang telat postingnya. 😀 Sebelumnya, terima kasih sekali untuk kalian semua yang rela menunggu dan membaca ff ini. Makasih juga buat para komentarnya yang membangun dan membuat saya selalu berusaha dan bersemangat untuk melanjutkan ff ini sampai sekarang. Maafin saya juga kalau ini kayanya kecepetan atau typo bertebaran. Saya sudah males ngehadapin ff chapter ini ternyata TT.TT Don’t forget, give me a review please. Because, your review like oxygen. Happy reading, guys! ^^

***

» Story 9 : Unpredictable

“Aku mohon padamu, Aeri-ssi.”

“Tidak! Aku tidak bisa menerima itu!”

Aeri menggeleng cepat padaYeonjoo. White note milik Yeonjoo masih tergeletak di atas meja. Dan, suasana di kafe mendadak sunyi senyap, hanya ada suara kedua gadis itu yang menggema. Sementara, Yeonjoo menatap Aeri dengan tatapan memohon.

“Tapi, kalau kau tak menerima white note-ku, aku semakin merasa bersalah padamu atas Kyu,” ujar Yeonjoo.

“Kenapa kau merasa bersalah, Eonni? Ini kebahagian milikmu, bukan milikku. Kyuhyun Oppa sangat mencintaimu dan tidak mencintaiku.”

“Tapi kau juga―”

“Aku sudah menyerah dengan baik. Perasaanku pada Kyuhyun Oppa sudah selesai.”

“Aeri-ssi, kumohon―”

“Cukup!” seru Aeri. Dengan segera, Aeri langsung mengembalikan white note milik Yeonjoo ketangan gadis itu. “Jangan berikan white note ini padaku! Kau tidak boleh menyerah. Secara garis besar, kau sudah milik Cho Kyuhyun. Berarti kebahagiaanmu sudah ada di tanganmu. Jangan kausia-siakan.”

Yeonjoo memandang Aeri sejenak. Kemudian, senyum kecil terukir di wajah sendu gadis itu. “Sungguh beruntung Kyuhyun dicintai oleh gadis manis sepertimu, Aeri-ssi.”

Dan, Aeri membalas ucapan Yeonjoo sembari menghelakan napas lega. “Dan, sungguh beruntung Cho Kyuhyun mencintai seorang gadis cantik nan baik hati sepertimu, Yeonjoo Eonni.”

Senyum Yeonjoo semakin lebar ketika Aeri mengucapkan hal seperti itu. “Terima kasih atas pujiannya,” jawabnya dengan nada tulus.

“Sama-sama. Dan, Eonni harus pulang dan melupakan pertemuan ini. Anggap saja pertemuan ini tak pernah terjadi. Arraseo?” pinta Aeri sambil bersiap untuk pergi. Sebelum itu, ia melirik arlojinya sebentar yang kini telah menunjukkan jam 14.45 KST. “Aku harus pulang karena sudah tak ada kepentingan lagi, Eonni. Dah.”

Kemudian, Aeri bangkit dari duduknya sambil melambaikan tangannya pada Yeonjoo.

“Hati-hati, Aeri-ssi.”

“Arraseo.”

***

Sementara, sesampai di apartemen Cho Kyuhyun terlihat kebingungan karena ponsel yang ia hubungi tak aktif. Berkali-kali, ia menghubungi nomor yang dituju namun hasilnya nihil.

“Song Aeri! Aish!” pekik Kyuhyun dengan nada frustasi.

Kemudian, Kyuhyun mulai menghubungi nomor telepon yang berbeda. Dengan nama kontak diponselnya bernama Kim Jongdae.

“Yeoboseyo?” sapa Jongdae dari sebrang sana.

“Yeoboseyo? Jongdae-ya!” seru Kyuhyun ketika mendengar Jongdae mengangkat teleponnya.

“Wae, Hyung?” tanya Jongdae terdengar nada malas. Di sebrang sana, terdengar suara bising sepertinya Jongdae sedang berada di luar.

“Eoddisseoyo?” kata Kyuhyun.

“Di lapangan bola basket dekat Sungai Han,” ujar Jongdae singkat.

“Apa kau bersama Aeri saat ini?”

Hening sejenak. “Ya, itu tadi. Ada apa mencarinya?” jawab Jongdae.

“Kenapa nomor ponsel Aeri tidak aktif sekarang?” tanya Kyuhyun dengan nada sedikit terburu-buru.

“Mwoya? Jangan bercanda, Hyung. Tadi saja aku melihat Aeri sedang dihubungi oleh seseorang. Pasti nomor ponselnya sekarang sedang aktif kan?” jawab Jongdae dengan nada heran.

“Siapa yang menghubungi Aeri tadi?”

“Kenapa kau jadi ingin tahu tentang itu? Mana kutahu.”

Kyuhyun terdiam sejenak. Iya juga. Untuk apa ia ingin tahu tentang hal itu? Dasar bodoh, pikir Kyuhyun. “Ya sudah. Annyeong.”

Klik! Sambungan langsung diputuskan secara sepihak oleh Kyuhyun. Lama Kyuhyun untuk berpikir hingga akhirnya, Kyuhyun memutuskan untuk mengambil kunci mobilnya yang berada di atas meja.

***

Di sisi lain, selama perjalanan melalui jalan setapak Aeri berlari dengan sangat kencang. Sesekali, ia menoleh ke belakang. Memang sejak lama perasaan Aeri terus tak enak seperti ada seseorang yang mengikuti. Namun, tak ada siapapun. Hal itu kadangkala berhasil membuat Aeri merinding. Siapa sih? Pikirnya.

“Jja!”

“Huaah!”

Aeri tersentak kaget saat mendapati sesosok pria bertubuh tinggi berkacamata dengan rambut hitamnya berada dihadapannya.Sudah lama sekali Aeri tak bertemu dengan orang ini. Siapa lagi kalau bukan atasannya atau si kepala editor cassanova yang baik hati itu. Lee Donghae.

“Ri-ya, akhirnya aku menemukan tempat tinggalmu. Kau tahu, aku harus menanyakan orang-orang kantor tentang di mana kautinggal,” ujar Donghae dengan napas terengah-engah.

“Donghae Sunbae, anda mengejutkan saya saja,” ungkap Aeri seraya bernapas lega. “Ngomong-ngomong, ada perlu apa anda mencari tempat tinggal saya?”

“Ada satu hal yang perlu aku bicarakan denganmu.”

“Heh?”

Akhirnya, Aeri duduk di sebuah ayunan di kawasan taman bermain anak-anak yang tak jauh dari asrama. Matanya memandang Donghae dengan ingin tahu. Sementara, mata Donghae yang berbingkai kacamata itu memandang ke arah lain.

“Sunbae mau bicara apa pada saya sekarang?” tanya Aeri pada akhirnya.

Tampak, Donghae menoleh ke arah Aeri seraya terdiam sejenak. “Kau…. Apa kau mengenal Cho Kyuhyun?”

Aeri membulatkan matanya pada Donghae sejenak sembari mengangguk mantap. “Tentu saja! Kyuhyun Oppa itu kan senior saya saat SMA. Selain itu, ibu saya juga berteman baik dengan keluarga Cho dan kami sudah kenal sejak saya berumur 10 tahun. Jadi, tak heran jika saya mengenalnya.”

Aeri mulai bercerita panjang lebar tentang hubungannya dengan Kyuhyun pada Donghae. Gadis itu memang paling bersemangat jika membicarakan hal seperti itu.

“…Kita ini sudah seperti adik-kakak. Kemana-mana, Kyuhyun Oppa seringkali mengajak saya pergi ke tempat yang seru. Namun, kadangkala Kyuhyun Oppa sangat menyebalkan. Sering seenaknya, pergi tanpa pamit, meninggalkan saya sendiri, dan―”

“Kau jatuh cinta padanya?” tukas Donghae dengan alis sedikit terangkat. Nadanya terdengar seperti pertanyaan. Ucapan pria itu menjadi terdengar ambigu di telinga Aeri.

Skak mat. Aeri terdiam sejenak seraya memandang Donghae dengan sedikit ragu. Dia bagaimana bisa tahu? Dia bukan peramal dadakan kan? Pikir Aeri. “Tidak.”

“Kau yakin?”

“Tentu saja!”

“Benar-benar yakin?”

“Kenapa pertanyaan anda seolah ingin tahu? Memangnya anda benar-benar ingin tahu?”

Pertanyaan yang meluncur dari bibir Aeri mampu membuat Donghae diam. Segera, ia mengubah ekspresi wajahnya sebelum wajah panik terpampang di depan Aeri. “Tidak juga.”

“Lalu, anda bagaimana bisa mengenali Kyuhyun Oppa?”

Lagi-lagi, pertanyaan Aeri yang mengejutkan kembali membuat Donghae diam. Tidak bisa begini, pikir Donghae. “Memangnya kau perlu tahu hal itu? Yang penting, aku juga mengenali Cho Kyuhyun dengan baik. Itu saja. Sampai jumpa.”

Mulut Aeri langsung ternganga lebar begitu mengetahui Donghae hanya membicarakan hal aneh padanya. Tentang Cho Kyuhyun. Matanya memandangi Donghae yang telah berjalan pergi sambil melambaikan tangan pada Aeri.

Sekarang, julukan Lee Donghae bagi Aeri sudah banyak. Pria aneh cassanova yang baik hati.

***

“Bi!”

Aeri terdiam sejenak ketika ia sedang melangkah dengan gontai menuju pintu kamarnya. Kemudian, ia menoleh dan kaget ketika melihat Tao datang dari pintu masuk asrama sambil melambaikan tangannya. Sudah lama sekali rasanya tak bertemu pria China itu. “Tao Gege!!”

Tao langsung mengukirkan sebuah senyum menawannya pada Aeri. Kemudian, ia merenggangkan kedua tangannya. “Nan bogoshipo.”

Tanpa aba-aba, Aeri langsung berlari ke arah Tao dan memeluknya dengan erat. “Nado jeongmal bogoshipo,” gumam Aeri pelan. “Gege pergi ke mana selama ini?”

Sementara, pria berwajah manis dan bertubuh tinggi itu hanya bisa memamerkan senyumnya dari bibir yang tipis itu. “Hehehe, mianhae. Kemarin aku harus kembali ke Qingdao. Ibuku ingin aku mengunjunginya karena sudah lama tak bertemu.”

“Oh, begitu rupanya. Kau tidak tahu sepertinya kalau aku kesepian di sini,” gumam Aeri. “Sesekali, ajaklah aku ke Qingdao. Kan saat ini aku sedang liburan.”

“Tapi, sekarang adalah waktu yang sibuk bagiku. Mianhae. Kkkk~” ujar Tao sambil terkikik pelan. “Kalau begitu, kenapa kau tidak pulang ke Itaewon saja?”

Terdengar, suara decakan keras dari Aeri seraya melipatkan kedua tangannya. “Ah. tidak mau. Nanti sampai di sana, bukannya bertemu Nunah Eonni dan Soojin Eonni, malah bertemu anak-anak jahil seperti Joohwa dan Yoonhwa,” gerutu Aeri. Sebal rasanya jika ia mengingat memori tentang orang-orang yang tinggal di Itaewon. Itu sebabnya ia tak mau tinggal di sana dan memilih tinggal di asrama selain tidak ingin merepotkan kedua kakak perempuannya.

“Begitu rupanya,” jawab Tao sambil mengangguk-angguk mengerti. “Oh iya, kudengar selama aku pergi kau sakit. Sakit apa?”

Aeri melirik ke arah Tao dengan alis terangkat. Orang ini bagaimana bisa tahu? Padahal jarak Seoul ke Qingdao sangat jauh. Dia dapat kelebihan untuk bertelepati dengan orang-orang di sini ya? Pikir Aeri aneh.

“Tidak…. Sakit kok,” jawab Aeri dengan nada sedikit ragu.

“Kau yakin? Dari nada bicaramu yang terdengar aneh membuatku curiga. Ingin menutupi sesuatu dariku?” tanya Tao sangsi.

“Tidak juga….” Aeri kembali berucap dengan nada yang sedikit mencurigakan. Segera, ia mencari topik yang cocok untuk mengalih pembicaraan. “Gege hari ini membawa ddubokki tidak? Aku lapar,” ungkap Aeri akhirnya setelah berpikir keras mencari topik yang tepat sembari menyeringai pada Tao.

Tao hanya tersenyum sekilas. Tangannya menunjukkan sebuah plastik hitam pada Aeri. “Kita makan di beranda asrama ya.”

“Okay!”

***

Udara pagi di hari esok kembali menyapa. Kyuhyun sedaritadi hanya terdiam di depan meja. Kini ia sedang berada di suatu tempat. Lebih tepatnya di sebuah ruang tamu. Sejak kemarin sore, sebenarnya Kyuhyun sedang menunggu seseorang. Namun, orang itu tak kunjung menunjukkan batang hidungnya di depan pria itu hingga keesokan harinya.

“Aku sudah tahu semuanya tentang Song Aeri.”

Kyuhyun langsung menoleh ke sumber suara sambil melemparkan pandangan heran. Kali ini, kedua mata Kyuhyun memandang seorang pria berambut hitam dengan kacamata berbingkai hitam yang ia genggam. Tampak, pria itu sedang menaruh dua cangkir kopi hitam di atas meja tamu.

Dan kini, orang yang sedang ia tunggu telah datang.

“Kau tahu darimana, Donghae-ya?”

Donghae melirik ke arah Kyuhyun seraya tersenyum penuh kemenangan. “Kan aku sudah bilang, aku akan menyelesaikan tantanganmu kali ini. Hasilnya, benar kan?” ucap Donghae dengan nada bangga. “Gadis lugu dan polos. Yang bercerita bahwa ia sudah mengenalmu sejak 10 tahun dan menjadi seorang junior sewaktu kau SMA. Ibunya sudah berteman baik dengan keluargamu. Bahkan, ia juga menceritakan keburukanmu padaku. Katanya, kau menyebalkan, sering seenaknya, dan sebagainya. Ckck, tak kusangka. Apa kau benar seperti itu pada seorang gadis, sepupuku?”

“Sekarang kutanya, bagaimana bisa kau tahu itu?” tanya Kyuhyun dengan nada setenagh kesal dan penasaran akhirnya karena Donghae tak kunjung menjawab pertanyaannya. “Kau tak mungkin menyogok gadis itu dengan wajah tampan dan rayuan maut nan menjijikanmu, mentang-mentang dengan semua itu kau berhasil menaklukkan semua wanita dan kau bisa melakukan apa saja. Asal kautahu ya, Aeri tidak mudah luluh dengan hal seperti itu.”

Donghae tersenyum tanpa menjawab pertanyaan Kyuhyun. Hatinya sangat membenarkan ucapan Kyuhyun yang memang benar adanya. Buktinya, selama ia bekerja sama dengan Aeri, gadis itu sama sekali tak mempan dengan tingkah cassanova-nya. Donghae memakai kacamatanya dan menatap ke arah Kyuhyun. “Tapi, keren kan? Jarang-jarang aku menyanggupi tantanganmu.”

“Lagipula, kenapa kau begitu tertarik dengan tantanganku yang sudah kautaklukan itu? Kau menyukai gadis itu?”

Donghae terdiam sejenak. “Kau tidak ingin tahu, bagaimana cara mendapatkan semua informasinya?” tanya Donghae mengalihkan pembicaraan.

“Ya.”

Donghae mengangkat salah satu cangkir kopinya dan menyeruputnya dengan pelan. “Percaya tidak kalau Aeri itu merupakan seorang bawahan di perusahaanku?”

Kyuhyun terdiam sejenak, kemudian menoleh ke arah Donghae dengan kedua mata yang membulat. “Mwoya?!”

***

“Kau baik-baik saja?”

“Hah?”

“Sekarang tidak bermaksud ingin bunuh diri kan?”

“Apa?”

“Lebih baik, jernihkan pikiranmu dan lupakan soal bunuh diri. Okay?”

“Apa-apaan sih kau ini?”

“Aku ini sedang menasehatimu, tahu. Jadi, jangan lakukan apapun.”

“Ada apa denganmu sebenarnya, Kim Jongdae?”

Pagi ini Jongdae aneh, pikir Aeri dengan pasti. Aeri mengerutkan keningnya ketika ia mendapat telepon dari Jongdae di pagi hari begini. Padahal, ia baru saja bangun dari tidur pulasnya. Tapi, tiba-tiba saja dikejutkan dengan telepon dari Jongdae. Konyol. Kenapa dia jadi protektif begini? Pikir Aeri.

“Jongdae-ya?” ucap Aeri dengan alis yang bertautan karena tak kunjung mendengar sahutan dari Jongdae.

“Apa Nyonya Han masih berada di Busan?” tanya Jongdae tiba-tiba.

Lagi-lagi, pertanyaan Jongdae yang aneh dan mengejutkan membuat gadis itu semakin gemas dan heran. Orang ini kenapa sih? Pikir Aeri lagi. “Ya, masih. Memangnya kenapa―”

“Tunggu aku di sana. Aku akan segera ke asramamu.”

Tut! Sambungan langsung terputus secara sepihak. Aeri menatap ponselnya dengan aneh. Benar-benar pria itu. Ada apa sebenarnya?

Tak lama, terdengar derap langkah kaki yang semakin lama semakin mendekati pintu kamar Aeri. Dengan segera, Aeri menoleh ke arah pintu ketika sedang menuangkan jus jambu ke gelasnya di bars tool dapur –seolah menunggu seseorang yang akan membuka pintu kamarnya. Dan, sudah ia duga. Jongdae datang dengan napas terengah-engah ketika berhasil membuka pintu kamar Aeri. Rupanya, pria itu sudah terbiasa untuk tidak mengetuk pintu dulu sebelum masuk.

“Kupikir, kau sudah bersiap dengan pisau yang siap menyayat urat nadimu,” ucap Jongdae dengan bahu yang masih naik-turun ketika melihat Aeri meneguk jus jambunya.

Aeri mengerutkan keningnya ketika mendengar jawaban Jongdae. Segera, ia menyudahi aktivitasnya sejenak. “Hah?”

“Aku haus. Tolong ambilkan aku minum. Kalau bisa yang dingin ya,” pinta Jongdae sambil mulai duduk di depan bars tool dapur Aeri.

Sial. Sudah mengetuk pintu tanpa permisi, sekarang minta minum padaku. Yang dingin pula. Kalau minta yang panas, aku bisa menyiapkan makian panas, gerutu Aeri dalam hati. “Kau ke sini hanya untuk berpikir negatif tentang diriku atau ingin menumpang minta minum?” sindir Aeri sebal akhirnya sambil menggertakkan giginya. Namun, tetap saja tangan gadis itu terulur segelas jus jambu yang sengaja ia tuangkan untuk Jongdae.

Dan, Jongdae sama sekali tak mempedulikan pertanyaan Aeri yang terdengar menyindir dirinya. Ia hanya meneguk jus jambu pemberian Aeri.

Kedua mata Aeri sempat membulat ketika melihat penampilan Jongdae yang sedikit aneh –lebih tepatnya berbeda dari biasanya. “Tunggu. Sepertinya, penampilanmu sedikit berubah ya.”

Jongdae memandang Aeri dengan polos setelah berhasil meneguk jus jambu hingga habis setengahnya. “Apanya yang berubah?”

Tanpa sadar, pandangan Aeri dan Jongdae begitu dekat. Sehingga, mereka sama-sama terdiam membeku. Aeri yang menyadari situasinya tak bagus membuatnya langsung mundur. Bersamaan dengan itu, jantung Aeri mendadak berdebar hebat.

“Telingamu… tindikan ya? Lalu… rambutmu diubah lagi modelnya?” tanya Aeri dengan nada kaget seraya menunjuk ke arah daun telinganya dan rambutnya sendiri. Entah nada kaget itu berasal dari hati yang terkejut melihat penampilan Jongdae atau terkejut karena sehabis beradu pandang jarak yang sangat pendek dengan Jongdae.

“Ah, telingaku ya?” tanya Jongdae memastikan seraya memegang daun telinga kanannya yang ditindik. “Keren tidak? Aku baru menindiknya kemarin. Kalau rambut ini sih, aku hanya mengubahnya sedikit.” Jongdae menyeringai pelan.

“Sekalian saja memakai semua aksesoris wanita dan pakaian wanita. Pasti cantik.” Aeri berkomentar dengan nada tak peduli seraya meminum jus jambu miliknya.

“Aku serius, Nona Song,” kata Jongdae sebal. “Aku butuh penilaianmu. Bagaimana?”

Aeri memandang Jongdae sejenak. “Jujur saja, aku tak begitu suka kau memakai tindikan seperti itu,” ungkapnya. “Jadi, tindikan itu bisa dilepas tidak?”

“Begitu ya,” ujar Jongdae seraya melepas tindikannya. “Sekarang bagaimana?”

Aeri terdiam membeku. Entah kenapa, kini penampilan Jongdae di matanya terlihat lebih… tampan. Ini konyol. Tidak biasanya ia seperti ini. Seharusnya sudah biasa kan melihat penampilan Jongdae setiap kali bertemu? Tiba-tiba saja, ia mendadak terasa sesak napas. Ini kamarku kan? Ada apa sih? Kenapa ruangan ini menjadi seperti sedikit udara? Aku butuh oksigen, pikir Aeri.

“Kau kenapa? Mau berpikir ingin bunuh diri lagi?” tanya Jongdae dengan nada heran karena melihat tingkah Aeri yang mulai aneh.

Aeri langsung tersadar dan terdiam ketika mendengar pertanyaan Jongdae yang konyol. “Apa-apaan sih kau ini?! Berpikir negatif tentang diriku terus!” teriak Aeri tiba-tiba seraya menaruh gelasnya dengan kasar. Hal itu mampu membuat Jongdae terkejut.

“Kau yang apa-apaan! Tiba-tiba malah mengagetkanku dengan cara seperti itu! Aku kan hanya bertanya!” seru Jongdae dengan nada tak terima karena diteriaki. Apalagi diteriaki oleh gadis semacam Aeri.

“Aish, jinjja,” gerutu Aeri. “Apa ini tujuanmu datang ke sini? Mau berdebat denganku? Huh?”

Jongdae tertawa renyah karena mendengar ucapan Aeri. Hal itu membuat Aeri semakin heran dan jengkel.

“Yaaa!!” Akhirnya, Aeri berteriak kesal karena Jongdae sama sekali tak menghiraukannya.

“Kau sedang PMS ya?” tanya Jongdae akhirnya. “Sensitif sekali. Sudahlah, ketika melihatmu baik-baik saja membuatku merasa lega. Aku mau pulang. Dah. Aku jadi sebal melihat wajahmu yang ditekuk ketika melihatku datang.”

Aeri langsung berteriak kesal setelah mendengar ucapan terakhir Jongdae dan sengaja membanting keras pintu asramanya. Pintar sekali membuat orang kesal. “Pulang sana. Sial kau!”

Dan setelah mengatakan hal itu, jantung Aeri tiba-tiba saja kembali berdebar hebat. Ada apa ini?

Sementara, Jongdae yang sudah keluar dari asrama terus saja menggerutu. “Dia itu kenapa sih? Aneh.”

***

“Bi, kau ini kenapa sih? Sejak kemarin yang kudengar dari kamarmu hanya seruan dan teriakan kesal.”

Aeri melirik ke arah Tao ketika sedang melahap ddubokki yang diberikan oleh Tao. Sepertinya sudah menjadi kebiasaan Tao yang selalu membeli ddubokki dan diberikan pada Aeri atau dimakan bersama sejak pria itu tinggal di asrama.

Aeri memutuskan untuk tidak menjawab pertanyaan Tao dan melanjutkan makannya.

“Sedang PMS ya? Atau, sedang ada masalah? Mungkin aku bisa bantu,” ucap Tao.

Pertanyaan yang sama dengan ia dengar dari mulut Jongdae, pikir Aeri. “Tidak butuh.” Aeri hanya menyahut dengan singkat.

“Tidak baik kalau dipendam sendiri,” sahut Tao sembari meminum segelas air yang mampu membuat Aeri terdiam.

“Aku… tidak bisa menceritakan hal ini pada siapapun. Hmm, maksudku ini sangat pribadi,” ungkap Aeri akhirnya. Yah, mana mungkin juga kan ia menceritakan hal-hal yang menyangkut keanehan dirinya pada seseorang yang –menurutnya paling dekat. Kim Jongdae. Dan, itu konyol.

“Sangat pribadi? Jadi, kau mulai tidak percaya padaku?” tanya Tao dengan nada menyelidik seraya melirik Aeri tajam.

“Bu-bukan begitu. Maksudku―”

“Ri-ya, kata anak penjaga asrama Jongdae Sunbae mencarimu. Dan, Jongdae Sunbae bilang ponselmu tak aktif. Makanya, dia ke mari.” Hyoae tiba-tiba datang membuat ucapan Aeri terputus.

Aeri terdiam sejenak, kemudian terperanjat. Kim Jongdae. Orang yang harus ia hindari saat ini karena bisa-bisa pria itu membuatnya gila. “Omo! Jongdae!” seru Aeri. Segera, ia menghabiskan ddubokki yang ia makan lalu berpamitan dengan Tao dan Hyoae. “Aku harus kembali ke kamarku, Gege. Hyoae-ya, katakan saja pada Jongdae bahwa aku tidak ada sekarang dan sedang pergi ke suatu tempat. Arraseo? Dah!”

“Mwoya?” tanya Hyoae dengan nada polos. Gadis itu hanya menatap lurus Aeri yang berjalan semakin menjauh. “Mworago?”

“Pokoknya kau harus buat alasan agar Jongdae tidak datang ke kamarku!” teriak Aeri sambil masuk dan menutup pintu kamarnya cepat-cepat.

Ketika pintu kamarnya sudah tertutup rapat, Aeri terdiam seraya bersandar pada pintu. Pikirannya menerawang. Perasaan aneh ketika berhadapan dengan Jongdae membuat Aeri kembali menoleh ke masa lalunya. Ia ingat, perasaan aneh itu perlahan persis dengan perasaan di waktu 4 tahun silam. Perasaannya pada Cho Kyuhyun.

Ini. Pasti. Tidak. Mungkin.

***

Sementara, baru saja Jongdae melangkah masuk ke ruang tempat berkumpulnya para mahasiswa di asrama tiba-tiba ponselnya berdering. Pikirannya yang sedaritadi tak tenang berkat sikap Aeri yang –menurutnya semakin lama semakin aneh itu, kini buyar berkat dering ponsel sialan itu.

“Yeoboseyo?” Jongdae menjawab telepon setelah membaca nama kontaknya. Cho Kyuhyun.

“Kau bisa datang ke Coffee Shop milikmu di daerah Kangnam sekarang?” tanya Kyuhyun. “Aku ingin bicara denganmu.”

Akhirnya, Jongdae segera melaju pergi menuju Coffee Shop miliknya dan teman-temannya yang berada di Kangnam tersebut. Ketika sampai di sana, Jongdae disambut dengan wajah salah seorang temannya, Kim Minseok dengan dahi berkerut.

“Sedang apa kau di sini? Jadwalmu kan datang hari Kamis dan Sabtu,” sembur Minseok tiba-tiba pada Jongdae sebagai pengganti sapaan.

“Aku ke sini karena ada janji, Hyung. Lagipula, aku tahu kalau jadwalku setiap Kamis dan Sabtu kok,” jawab Jongdae. “Aku pergi dulu, Hyung. Ah ya, aku pesan cappucinno ya, Hyung.”

Kemudian, Jongdae berpamitan pada Minseok sebelum menghampiri Kyuhyun. Kyuhyun tampak duduk di depan meja dekat Jendela. Wajahnya tampak sulit ditebak.

“Kyuhyun Hyung, sudah lama menunggu? Maaf, aku terlambat,” ucap Jongdae yang berhasil membuyarkan lamunan Kyuhyun.

“Ah, tidak apa-apa. Yang penting kau datang.” Kyuhyun menjawab dengan tersenyum. “Ada hal yang ingin kubicarakan denganmu.”

“Apa?” tanya Jongdae dengan dahi berkerut.

Kyuhyun menyesap black coffee-nya sejenak. “Ayo, kita bersaing lagi. Kali ini, Aeri gadisnya.”

“Apa?!”

***

“Jongdae sudah pergi? Apa yang kaukatakan pada Jongdae?”

Aeri membuka sedikit pintu kamar asramanya. Matanya gerilya melirik ke segala arah. Tak ada siapapun, hanya ada Hyoae dan Tao.

“Aku tidak mengatakan apapun kok,” jawab Hyoae dengan nada santai. “Tadi, tiba-tiba saja Jongdae Sunbae mendapat telepon dari seseorang. Kemudian, berbalik dan meninggalkan asrama ini dengan sedikit terburu-buru.”

“Jadi, pria itu belum sempat menyentuh pintu kamarmu, Nona Song,” sahut Tao. “Lagipula, kenapa sih kau menghindarinya? Sepertinya benar-benar serius.”

Aeri terdiam seraya berpikir sejenak saat ia memunculkan sedikit kepalanya dibalik pintu. “Tidak tahu…”

Hyoae dan Tao sedikit mengerutkan keningnya ketika mendengar jawaban Aeri.

“Konyol. Bagaimana bisa kau tidak tahu, Song Aeri?” tanya Hyoae aneh.

Aeri mengerucutkan sedikit bibirnya. “Mollayo…” ucapnya dengan suara pelan. “Aku ingin ke taman bermain anak-anak saja. Dah.”

Ya. Taman bermain anak-anak, pikir Aeri. Tempat itu adalah tempat yang paling cocok untuknya saat ini. Ia tidak ingin gila sekarang. Dengan segera, Aeri keluar dari kamarnya dan mengunci pintunya. Setelah itu, gadis itu berjalan meninggalkan asrama sedikit linglung. Tao dan Hyoae hanya memandang Aeri dengan pandangan khawatir.

“Dia sudah sembuh dari sakitnya kan?” tanya Tao memastikan.

“Ya.” Hyoae mengangguk. “Sudah sejak dua hari yang lalu, kok.”

“Tao Oppa.”

Tao dan Hyoae menoleh dan mendapati seorang gadis –bisa ditafsir berumur 15 tahun menghampiri mereka berdua. Kenyataannya adalah gadis itu adalah anaknya Nyonya Han, sang penjaga asrama yang kini sedang pergi ke Busan. Namanya adalah Han Yejin.

“Ya?” tanya Tao bingung. Ini kali pertamanya pria itu bertemu dengan anak gadis pemilik asrama.

“Ada kiriman paket untuk Tao Oppa,” jawab Yejin dengan suara kecil.

“Oh, oke.” Segera, Tao berjalan keluar untuk menemui jasa kantor pos yang mengantar kiriman untuknya.

Sementara, Hyoae memandang Yejin dengan heran. “Kenapa tidak kau saja yang menerimanya, Yejin-ah?”

“Karena, kupikir Tao Oppa ada di sini. Jadi, lebih baik diterima oleh Tao Oppa langsung. Bukankah begitu, Hyoae Eonni?” jawab Yejin dengan nada polos.

Dan, Hyoae hanya membalas ucapan Yejin dengan mengangguk.

***

Sementara, Aeri memandang para anak tangga yang menurun. Perjalanan menuju taman bermain anak-anak tidaklah panjang. Tapi, satu hal yang membuatnya malas. Tangga. Gadis itu harus menuruni tangga terlebih dahulu sebelum sampai di tempat tujuan. Sungguh konyol kau, Aeri, pikirnya. Mau senang tapi tidak mau repot.

Dengan terpaksa, Aeri mulai menuruni tangga perlahan. Pikirannya melayang ke mana-mana. Kenapa perasaanku menjadi aneh saat tadi pagi bertemu Jongdae? Dan juga, kenapa pula perasaan itu sama persis dengan perasaan yang tumbuh ketika 4 tahun silam? Ini sungguh lucu, pikir Aeri.

Udara sejuk musim panas menyapa Aeri di sore hari. Dari kejauhan Aeri bisa melihat bahwa taman bermain tersbeut tidak terlalu ramai dan tidak terlalu sepi. Cocok untukku saat ini, batin Aeri.

“Ri-ya!”

Suara nyaring seseorang membuat pikiran buyar Aeri tertarik menuju dunia nyata. Kedua matanya membulat hebat ketika tahu dibawah anak tangga terakhir ada siapa. Kim Jongdae, yang kini sedang tersenyum seraya melambaikan tangannya. Tanpa sadar, gadis itu melangkahkan kaki yang salah.

“AERI!!”

“HUWAA, KIM JONGDAE!!”

Segera, Aeri menutup mata sejadi-jadinya sebelum gravitasi menarik dirinya untuk turun ke bawah dengan segera. Pikirannya akan terkena cedera, patah tulang, dan bahkan kematian mulai menyelimuti pikiran gadis itu. Namun, pikiran tersebut segera ditepiskan ketika Aeri merasakan kehangatan di seluruh tubuhnya.

“J-Jongdae? Apa aku masih hidup?” Tanpa sadar, Aeri berucap dengan kedua mata tertutup.

“Aku di sini. Buka kedua matamu,” bisik Jongdae tepat di telinga Aeri.

Aeri perlahan membuka kedua matanya. Betapa terkejutnya ia ketika tahu wajah Jongdae begitu dekat dengannya dan tubuhnya berhasil menindih tubuh Jongdae. Ternyata, Jongdae menyelamatkannya setelah nyaris jatuh dari tangga ke tanah. Dan, Aeri berani bersumpah bahwa wajahnya pasti terasa memanas. Segera, ia bangun agar Jongdae tidak merasa berat dengan tubuhnya.

Aeri mencoba merangkai kata. Rupanya, ia telah kehabisan kata-kata. “Mianhae, Jongdae-ya. A-aku tidak―”

“Tidak apa-apa, Ri-ya. Hah, kau terlalu ceroboh. Tahu tidak?” ucap Jongdae menasehati Aeri seraya bangun. Namun, dapat Aeri lihat Jongdae tersenyum lega. “Lain kali, lihat tangga baik-baik. Arraseo?”

Aeri hanya menjawab nasehat Jongdae dengan anggukan pelan. Gadis itu sama sekali tak menatap mata Jongdae.

“Ngomong-ngomong, apa ada yang terluka? Kau tidak apa-apa kan?” tanya Jongdae ingin tahu.

Aeri langsung menjawab dengan gelengan kepala dan segera bangkit dari duduknya. Namun, kesialan terjadi. Jawaban gadis itu dengan kondisi kakinya tidaklah sama. “Akh!”

“Kakimu kenapa? Ada yang terkilir?” tanya Jongdae dengan nada khawatir seraya berjongkok di depan Aeri untuk melihat kondisi kaki gadis itu. “Kau bilang tidak ada yang terluka.”

“Ta-tapi, aku sungguh baik-baik saja kok. Aku bisa kembali ke asrama dengan segera bila ada yang ter―”

“Tidak bisa begini. Ayo, kau harus segera kembali ke asrama. Aku akan mengobatimu,” tukas Jongdae.

“Ta-tapi, aku ingin ke taman bermain untuk―”

“Lupakan tujuanmu sekarang! Kakimu itu tidak bisa dibiarkan terus!” seru Jongdae akhirnya karena sebal dengan sikap keras kepala Aeri.

Aeri melihat Jongdae mendekatinya dan menariknya. Dan dalam beberapa detik saja hal yang Jongdae lakukan membuat Aeri kembali bersumpah bahwa jantungnya akan lepas dari tempatnya berdetak kini. Tepat, Aeri kini telah berada di dalam pelukan Jongdae layaknya pengantin yang baru saja resmi menjadi suami istri. Gadis itu juga bisa merasakan punggung dan tungkai kakinya melingkar sempurna di tangan pria itu.

“Kita harus pergi kembali ke asramamu. Dengan cara seperti ini yang terbaik untuk melewati tangga ini.”

“Hah?!” seru Aeri dengan nada tak percaya.

Dengan pasrah, Aeri harus menerima perlakuan Jongdae ini dengan lapang dada. Ia harus bisa bersabar dengan jantungnya yang terus berdebar-debar, bahkan rasanya ingin lepas dari tempatnya. Kalau begini, ia siap mati saja.

Setelah beberapa menit, akhirnya Jongdae sudah sampai di asrama dan kini sedang menuju kamar Aeri. Saat menarik kenop pintu dan mendorong pintunya, tidak bisa dibuka.

“Kau mengunci pintunya ya?” tanya Jongdae.

“Ya,” ujar Aeri singkat.

“Mana kuncinya?”

Aeri menyerahkan kunci kamar yang sedaritadi ia pegang pada Jongdae. “Ini.”

Jongdae mengambil kuncinya segera dan membukanya. Pria itu langsung meletakkan Aeri di atas sofa setelah berhasil membuka pintunya.

“Tunggu sebentar, akan kuambilkan obatnya. Di mana kauletakan kotak P3K-nya?”

“Ri-ya, kau kenapa?”

Seketika, Jongdae dan Aeri menoleh. Mereka mendapati Yoora yang baru saja pulang dari kuliahnya memandang Aeri dengan kedua mata yang sedikit membulat.

“Jongdae Sunbae, kau apakan sahabatku ini, huh?” tanya Yoora dengan nada berapi-api. “Ri-ya, mana yang sakit? Kakimu ya?”

“Hmm, Yoora-ya.. a-aku..”

“Kakinya terkilir karena jatuh dari tangga. Ah ya, apa kau punya kotak P3K?” tanya Jongdae pada Yoora.

“Ehm, itu…” Yoora melirik ke belakang Jongdae yang ternyata Aeri memberi suatu isyarat untuk menyuruh Yoora memberikan suatu alasan agar Jongdae tidak khawatir padanya dan pergi dari sini. “Lebih baik, kau pulang saja. Aku yang akan mengobati Aeri. Dia akan baik-baik saja.”

“Begitu?” tanya Jongdae dengan nada sangsi. “Baiklah. Aku akan pulang. Dah.”

“Hati-hati.”

Setelah Jongdae pergi, Aeri langsung bernapas lega. “Akhirnya~”

Segera, Yoora menutup pintu kamar Aeri dan duduk di samping Aeri. “Ada apa sih sebenarnya? Tumben sekali kau menyuruhnya pergi.”

Aeri hanya menyahut sembari menggerutu. “Orang itu kalau ada di sini malah membuatku seperti orang gila.”

“Gila? Kenapa?”

Aeri hanya menghelakan napasnya dengan kasar. “Tidak tahu,” jawaab Aeri. “Yoora-ya, tolong ambilkan kotak P3K untukku, ya. Kakiku sungguh sakit~” keluh Aeri kemudian.

“Benar-benar sakit? Kupikir itu hanya bohong,” kata Yoora.

“Aish, ini karena aku jatuh dari tangga dekat asrama,” alasan Aeri. “Dan, ini semua karena Jongdae,” bisik Aeri dengan nada kecil yan hampir tak dapat dijangkau oleh Yoora.

“Ya sudah. Tunggu sebentar. Mungkin di kamarku ada.”

***

Keesokan harinya, pikiran Jongdae tak tenang. Padahal, baru saja kemarin ia mendengar kabar buruk dari Kyuhyun. Pria itu mengajaknya kembali bersaing. Dan, seorang gadis yang mereka kompetisikan kali ini adalah Aeri. Namun, hari ini ia kembali mendapat kabar. Dan, ia tak tahu apa itu.

Segera, Jongdae melajukan mobilnya menuju Coffee Shop miliknya dan teman-temannya yang berada di daerah Kangnam tersebut. Jongdae segera keluar dari mobilnya ketika smapai di tujuan. Tampak, Coffee Shop itu tertulis sebuah nama. ‘Ruby and Peach’.

“Sedang apa kau?”

Jongdae menoleh ke arah temannya. Kali ini bukan Minseok, melainkan Luhan. Karena hari ini bukan Minseok yang bertugas dan sedang ada keperluan katanya. “Aku ada janji dengan Kyuhyun Hyung, Hyung. Ah iya, aku pesan cappucinno ya, Hyung.”

“Oke.”

Jongdae segera berpaling dari Luhan dan berjalan cepat menuju sebuah meja yang ternyata ada Kyuhyun di sana.

“Kyuhyun Hyung,” panggil Jongdae seraya duduk di depan Kyuhyun. “Kau ingin mengatakan apa lagi setelah kemarin kau mengajakku untuk kembali bersaing dan kini Aeri sasarannya?”

Kyuhyun terdiam sejenak. Kemudian, menghelakan napas panjang. “Aku dengar sepertinya akan ada pemain ‘Love Note’ yang baru,” ucap Kyuhyun. “Aku sempat ragu dan tidak yakin.”

Mendadak Jongdae tidak nafsu ketika melihat secangkir cappucinno pemberian Luhan yang baru saja mengantarnya. Pikirannya buyar dan tanpa arah. Pemain ‘Love Note’ baru? Otomatis permainan itu akan tetap berlanjut dengan sangat rumit, pikir Jongdae. Pertanyaan dibenaknya sekarang adalah, apakah pemainnya laki-laki atau perempuan?

“Hyung tahu hal itu darimana?” tanya Jongdae dengan nada penasaran.

“Aku mendengar kabar dari teman kantor posku. Katanya adalah sebuah kiriman yang isinya sama dengan milikku dulu. Aku sempat ragu awalnya,” jawab Kyuhyun.

“Kira-kira, menurut Hyung siapa orangnya?” tanya Jongdae lagi.

“Ehm, menurutku orangnya adalah―”

“Aku!!”

Kyuhyun dan Jongdae tersentak kaget. Segera, mereka menoleh ke sumber suara.

“Apa?”

“Kau?!”

― To Be Continued

Iklan

2 thoughts on “Love Note : 9th Unpredictable

  1. Akhirnya chapter 9 udah ada kkk~ Aeri baik banget eonni, gemes deh sama seluruh ocehannya :3 Kyuhyun, Jongdae, dan entah siapa mulai bermain love note lagi dan sasarannya Aeri? Orang barunya kalo bukan Donghae apa Tao ya? Meskipun udah nunggu lama, pas udah baca tetep asik dan menarik sekali ceritanya, next ya eon. Semangat.

    1. akhirnya juga kamu komen ^^ kkk~ hihihi, Aeri kalo ga kenal pendiem banget, tapi kalo udah kenal tukang ngoceh. wkwk 😀
      aah, penasaran ya? tunggu chapter selanjutnya yaaa ^^
      makasih banget udah baca bahkan rela nungguin ff ini,terus diselain buat komen pula. thanks banget {}
      oke deeh, semangaat! ^^9

Mind to Review? ^ ^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s