Life Friend

life friend cover

© Aeri_Tamie’s Script Writer

Casts : Park Chanyeol (EXO’s Chanyeol); Park Youngmi (OC-Berlian)

Genre : Friendship, Comedy, Romance, Drama ║ Rated : PG-17 ║ Length : Oneshot (4500+ words)

Disclaimer : 20140709 © Aeri_Tamie

Note      : Hai~ ^^ dateng dengan fanfict alay u,u dan lagi-lagi, beber yang gue bikinin =_= Hmm, sebenernya saya itu pengen banget lanjutin fanfict love note-nya. Tapi.. karena beberapa hari ini chanyeol lagi menuhin pikiran saya, jadi… yaudah >.< wkwk XD Happy reading!

****

“Chanyeolie~”

“…”

“Maafkan aku…”

“Aku tidak mau memaafkanmu!”

“Tapi kan, aku sudah memberikanmu es krim cokelat milikku. Sekarang, kumohon maafkan aku.”

Sudah sekitar 15 menit kami seperti ini, berjalan di taman dengan suasana yang canggung. Dan itu cukup membuatku risih dan seorang lelaki berumur 11 tahun berjalan membelakangiku. Yah, itulah yang ia lakukan jika dia marah padaku.

Kurasakan kedua kakiku mulai melemas, kuputuskan untuk memperlambat langkahku.

“Chanyeolie~”

“Aku tidak mau bicara padamu, sebelum kau mengakui kesalahanmu.”

Aku mengerutkan kening. Mencoba memutar otakku dan mencoba mengingat apa kesalahanku sepanjang hari ini. Memang apa salahku sih? Aku tidak melakukan apapun padanya. Setahuku.

“Tidak ingat? Atau, kau pura-pura terkena alzaimer sesaat?” sindirnya yang sukses membuatku kembali mengerutkan kening.

Aku kembali berpikir keras, berusaha mengingat kesalahan kecil apa yang membuatnya semarah ini. Ah iya! Aku tahu. Aku ingat, aku sedang asyik berbicara dengan Aeri, Hyoae, Yoora, Hyena, serta Rihwa―sahabat karibku dan aku sudah sempurna mengabaikan Chanyeol yang awalnya ingin mengajakku pulang. Dan, kini berakhir seperti ini.

“Hanya itu ya? Aku kan hanya ingin mengobrol banyak dengan teman-temanku!” kataku mulai membela diri.

“’Hanya’ katamu? Hei, kau bahkan mulai mengabaikanku sepanjang hari sejak saat itu!” serunya tak terima.

“Heh, memangnya kau juga tidak mengabaikanku bila kau mengobrol dengan Byun Baekhyun dan Kim Jongdae? Kau bahkan meninggalkanku dan memilih pergi makan siang dengan Hyomin kemarin!” sahutku telak. “Kalau untuk urusan perempuan saja lancar. Dasar si kuping besar,” gumamku pelan.

“Aku dengar kau mengataiku si kuping besar.” Skak mat. Eh? Dia mendengar ucapanku? Maaf.

Aku menghelakan napas dengan kasar. “Kalau itu kesalahanku, aku tidak mau meminta maaf!”

“Kalau begitu, aku juga tidak mau berteman denganmu lagi!”

“Terserah!”

Aku langsung berjalan cepat agar bisa menyamai langkahnya dan berjalan meninggalkannya. Aku sudah tidak peduli dengan es krim yang sudah kuberikan padanya. Masa bodoh dan aku tidak peduli! Seruku dalam hati. Namun, saat aku sudah melangkah semakin menjauh ia memanggilku.

“Young-chan.”

Aku tidak peduli dan terus melangkah. Biarkan saja dia memanggilku terus, nanti juga lelah sendiri.

“Young-chan, kau benar-benar marah padaku?”

“Kau kan yang marah lebih dulu!” ucapku dengan nada kesal tanpa menoleh sedikitpun ke arahnya.

“Kalau begitu…. Maafkan aku…”

Seketika, kedua kakiku berhenti melangkah dan menoleh ke arah Chanyeol. Kulihat, anak lelaki itu memandangku dengan perasaan sedikit bersalah padaku. Es krim pemberianku yang sebelumnya kulihat dipegangnya kini menghilang dari tangannya.

“Aku tidak butuh es krimmu, Young-chan. Jadi, aku buang saja. Aku hanya ingin kau tetap menjadi temanku. Tadi aku hanya bercanda kok.”

Aku terdiam sejenak. Kemudian, seulas senyum merekah di bibirku. “Kau serius?”

“Iya. Aku serius, Young-chan. Karena, kau lebih berharga dari anak perempuan cantik lainnya seperti Hyomin. Kau itu seperti teman hidupku.”

Saat itu, perasaanku merasa lega ketika Chanyeol berkata begitu. Selalu saja, setiap pertengkaran terjadi kata ‘maaf’ memang paling ampuh untuk mengatasi semuanya.

“…Aku juga minta maaf, Chanyeolie.”

***

“Aku tak terima, Chanyeolie!”

“Tak terima kenapa, Young-chan?”

Kulihat, sekarang kedua mata Chanyeol yang besar beralih ke arahku setelah beberapa saat yang lalu ia tetap terfokus pada gitar kesayangannya yang selalu ia bawa ke manapun ia pergi. Sementara, aku hanya terus menggerutu dan ingin mengeluarkan semua kekesalanku kali ini.

“Masa Rihwa mengataimu tiang dan kuping besar! Aku kesal sekali. Oke, kalau urusan tinggi badanmu aku masih terima karena memang benar walaupun tidak setinggi menjulang bak Kris Wu. Tapi, aku paling tidak terima saat Rihwa mengataimu si kuping besar!” seruku kesal.

Suasana di kantin sekolah yang awalnya kondusif, berubah mendadak menjadi ramai karena suara kekesalanku. Semua orang yang awalnya terfokus pada aktivitasnya mendadak menoleh ke arahku dengan pandangan berbagai macam. Ada yang aneh, heran, bahkan penasaran. Namun, nyatanya aku sama sekali tak peduli dengan semua itu. Mataku hanya terus menatap Chanyeol.

Sekarang, kami bukanlah anak-anak berusia 11 tahun lagi. Saat ini, kami sudah memasuki tahun kedua sekolah menengah atas dan sudah jelas usia kami sudah mencapai umur 18 tahun. Namun, persahabatan yang terjadi tetaplah sama. Tidak ada yang berubah.

Tapi, setidaknya banyak peningkatan dalam hal kejahilan. Seperti menyontek –yang merupakan hal yang sangat biasa bagi kami, bahkan seperti makanan sehari-hari, datang terlambat ke sekolah, dan yang paling eksrem menurutku adalah kabur dari sekolah dengan cara melompati pagar belakang sekolah. Walaupun begitu, kami tidak termasuk dalam daftar kumpulan anak paling nakal. Hebat kan?

“Tapi, Young-chan. Kupingku kan memang besar.”

Aku langsung melempar pandangan tak terima pada Chanyeol dan menepuk keningku sendiri. Ah, bagaimana bisa dia malah bersikap begini padaku? Bukankah biasanya jika ia diejek oleh Baekhyun dan Jongdae tentang hal ini, ia langsung maju dan tak terima atas perkataan mereka? Kenapa jadi begini?

“Walaupun begitu, kau itu tetap tidak pantas dikatai si kuping besar oleh Rihwa! Aku tak terima! Kau seharusnya juga bersikap tidak terima sepertiku!” omelku kesal.

“Sudahlah, tidak usah dipermasalahkan, Young-chan,” ujarnya menenangkan.

“Kenapa kau malah mengatakan begitu, Chanyeolie?! Aku sungguh tak terima! Kau itu tampan walaupun memiliki kuping besar! Selain itu, kau juga pintar dalam bermain musik! Lagipula, bukankah seseorang yang memiliki kuping besar berarti pintar? Berarti kau termasuk golongan orang pintar, walaupun setingkat dibawah Kim Jongdae!”

Selama aku terus mengoceh, pria itu hanya menganggukkan kepalanya dengan malas seraya memetikan senar gitar yang ada di pangkuannya. “Sudahlah, Young-chan. Lagipula, aku juga tidak keberatan kok.”

“Pokoknya, aku tidak mau kau dikatai si kuping besar!” seruku untuk kesekian kalinya meluapkan semua kekesalanku pada lelaki itu.

“Lagipula, kalau dipikir lagi bukankah kau juga dulu pernah mengataiku ‘si kuping besar’? Masih ingat tidak?”

Jleb! Ah iya juga, kalau tidak salah semasa masih berumur 11 tahun aku sempat mengatainya si kuping besar. Jadi, sekarang dia mau menyudutkanku setelah aku berusah membelanya mati-matian? “Iya sih. Tapi, aku tetap tidak terima! Kalaupun suatu saat nanti aku kesal padamu, hanya aku yang boleh menggunakan julukan jelek itu!”

“Berarti kau sama saja dengan Rihwa,” gerutu Chanyeol akhirnya yang sukses membuat otakku semakin mendidih dan merasa peradaran darahku tersumbat di otakku lalu tinggal menghitung waktu yang ada untuk meledak.

“Chanyeolie, kau itu temanku bukan sih?!” seruku semakin kesal karena setelah berusaha membelanya mati-matian, Chanyeol malah berkata begitu. “Aku begini kan karena membelamu!”

“Bukan.”

Seketika, aku langsung tertohok. Dia bahkan sekarang tidak mau mengakuiku sebagai teman. Bagaimana sih dia ini? Aku kan begini demi dirinya. Dan, aku sangat tidak sudi teman dekatku dikatai begitu!

“Kau memang bukan temanku, Young-chan. Tapi, kau kan sahabatku. Lagipula, aku tidak peduli dengan semua itu. Asalkan nama panggilan untuk kita masing-masing tetaplah sama. Chanyeolie dan Young-chan.”

Sesaat kemudian, aku menoleh ke arahnya dan kulihat ia sedang tersenyum padaku. Senyuman yang sama. Senyuman yang hanya bisa dilihat olehku saja. Sahabat? Tidak buruk. Rasanya saat ia mengatakan begitu seperti terbang ke langit. Saat ini, rasanya seperti hidupku bahagia bila hanya ada dia di sampingku.

***

“Young-chan~”

“….”

“Maafkan aku….”

“Aku tidak mau memaafkanmu!”

“Tapi kan, aku sudah memberitahu semuanya. Sekarang, kumohon maafkan aku.”

Aku berjalan cepat sebelum Chanyeol menyalip dan mendahuluiku. Troli yang mengangkut koper dan barang-barang milik pria itu sengaja kutinggalkan. Sudah tak peduli dengan kondisinya yang kerepotan membawa banyak barang karena baru sampai di Seoul. Kondisi bandara Incheon yang ramai lalu lalang karena orang-orang yang datang dan pergi membuatku sedikit kesulitan untuk berjalan lebih cepat dari yang biasanya.

Aku kesal dan marah padanya karena suatu hal. Ya, suatu hal yang membuatku terkejut di tengah musim semi yang indah ini. Apakah hal yang dimaksud itu? Oke, akan kujelaskan masalah yang terjadi hingga membuat musim semi yang indah berubah menjadi suram –bagiku. Karena tiba-tiba, Chanyeol datang setelah pergi ke Dublin, Irlandia selama 3 tahun terakhir dengan membawa berita yang sangat tidak enak didengar sama sekali.

Awalnya aku ingin mencurahkan seluruh isi hatiku bahwa aku sangat merindukannya. Tentu saja karena lama tak bertemu sejak 3 tahun terakhir. Namun, itu semua menjadi sirna karena berita itu. Sehingga, yang awalnya kusambut musim semi dengan bahagia, tapi berubah drastis berkat berita yang ia bawakan sangat khusus untukku. Rasanya seperti planet mars yang jatuh menimpa kepalaku dan berbagai komet berjatuhan ke otakku serta para meteor yang berhasil mendidihkan seluruh isi kepalaku.

“Young-chan~”

Perlahan, kakiku berhenti melangkah. Kutarik napas panjang-panjang untuk menyiapkan diriku. Kemudian, aku berbalik dan kulihat pria bertubuh tinggi itu kini sudah berada di hadapanku.

“Kau tidak menghubungiku lewat akun SNS-mu atau LINE selama 1 tahun sebelumnya, oke aku terima. Kau tidak mengirimiku e-mail selama 1,5 tahun selanjutnya, aku masih berusaha menoleransi. Tapi, kau sama sekali tidak memberitahuku kalau kau akan menikah karena dijodohkan oleh Ayahmu! Aku kesal padamu karena kau berhasil membuatku seperti orang bodoh karena aku sahabatmu sendiri tidak tahu kabar mengenai itu, bahkan aku harus mendengar kabar yang kuanggap sebagai berita burung itu dari orang lain! Aku kesal padamu karena seharusnya sejak awal kau memberitahuku dan tidak mendadak seperti ini!”

Aku mulai meluapkan semua kekesalanku selama 3 tahun terakhir dan hari ini pada orang yang tengah berdiri di hadapanku sampai kehabisan napas. Itu karena aku berbicara terlalu banyak dalam satu tarikan napas. Sungguh gila. Kulihat, orang-orang memandang kami dengan pandangan ingin tahu. Mungkin mereka menganggap bahwa kami sedang bertengkar selayaknya sepasang kekasih karena suatu hal. Tapi, aku sama sekali tak peduli. Sementara, Chanyeol hanya tersenyum mendengar semua luapan kemarahanku berkat dirinya. Ya Tuhan, apa dia pikir semua yang kuucapkan panjang lebar ini hanya lelucon?

“Jangan tersenyum seperti orang yang tidak memiliki rasa bersalah, Chanyeolie! Aku benar-benar marah padamu!” teriakku semakin kesal karena tak kunjung melihat reaksinya seraya bernapas dengan terengah-engah.

“Maafkan aku, Young-chan.”

Aku menatap Chanyeol tak percaya. Setelah dia membiarkanku berkata panjang lebar untuk meluapkan semua kekesalanku padanya, dia hanya menjawab dengan tiga kata saja? Komohon, katakan sesuatu agar aku tak bisa marah padamu lagi!

“Hanya itu?” tanyaku dengan nada tak percaya.

“Tidak juga,” ujarnya masih dengan senyum yang belum hilang. “Aku merindukanmu, Young-chan. Dan, ternyata kau sama sekali belum berubah. Maafkan aku, karena aku belum memberitahukan hal itu padamu. Aku hanya belum siap pada diriku sendiri dan aku tak ada bayangan apa reaksimu selanjutnya setelah mendengarkan ini. Ternyata, kau benar-benar marah ya?”

“Aku marah karena sikapmu selama 3 tahun terakhir berubah menjadi seseorang yang idiot! Kau kan sejak dulu selalu menceritakan padaku! Apapun hingga –sepertinya rahasia-rahasia milikmu juga kaucurahkan padaku! Mulai dari salah memanggil orang, salah masuk ke toilet perempuan, ditolak cintamu oleh Gaeun, Jihyun, Yoonhee, Chaerin, Hyosung, lalu―”

Sebelum aku melanjutkan ucapanku, Chanyeol langsung mendekap mulutku setelah melihat orang-orang memandang kami dengan heran untuk kedua kalinya.

“Hentikan ini, Young-chan. Kau membuatku malu,” ucap Chanyeol.

“Masa bodoh! Itu semua karena kau konyol!” ungkapku kesal setelah berhasil melepaskan dekapan tangannya sambil berjalan dengan cepat agar tidak sejajar dengan Chanyeol.

“Tapi, pada akhirnya aku memberitahumu kan?” tanya Chanyeol dengan nada memastikan padaku. Tangannya mulai meraih trolinya dan berjalan beriringan denganku. Kakinya memang sudah ditakdirkan panjang sepertinya, jadinya ia dengan mudah mengejarku. Sial.

Aku hanya bisa menghelakan napas panjang. Yah, kau pada akhirnya memberitahuku. Namun, sangat disayangkan aku sebagai orang terakhir yang kauberitahu.

Dan, banyak hal yang baru kusadari sekarang. Umur kami kini sudah menginjak 24 tahun. Umur yang seharusnya sudah meninggalkan semua tingkah kekanak-kanakan dan semua tingkah seperti anak remaja ingusan. Umur yang seharus dipakai untuk mengukir prestasi dan mengejar karir. Dan, yang paling penting adalah cinta.

Tapi, orang sepertiku sangat sulit memahami cinta. Jangankan cinta, jalan pikiran lelaki ini saja sudah membuatku seperti orang gila. Dan, karena hal itu kadang aku bingung menamai perasaan kecil yang diam-diam telah tumbuh sejak sekolah menengah pada lelaki ini. Lalu, ketika mendengar kabar bahwa ia akan menikah karena dijodohkan… Oke, aku sudah tidak bisa meramalkan bagaimana nasib hidupku selanjutnya.

“Siapa nama gadis itu, Chanyeolie?” tanyaku ingin tahu ketika keheningan mulai menyeruak diantara kami berdua.

“Melissa,” ujar Chanyeol. “Dia cantik, Young-chan. Ayah mengenalkannya padaku ketika aku masih di Dublin dan kami sudah saling mengenal selama kira-kira 2 tahun terakhir.”

“Oh, begitu,” jawabku seadanya ketika langkah kaki kami telah sampai di sebuah halte. “Dan, apa kau tertarik pada gadis pilihan Ayahmu?”

“Ya,” ungkap Chanyeol singkat. “Ayahku lucu, dia sengaja mencarikan jodoh untukku karena selama hidupnya beliau belum pernah mendengar aku punya pacar. Padahal, manusia kan memiliki pilihan sendiri dalam hal cinta. Bukankah begitu?”

“Kau benar, Chanyeolie.” Aku menyetujui ucapannya. Namun, aku sendiri juga tak bisa melakukan sesuai dengan apa yang kusetujukan. Karena, pilihan cinta yang kucari telah pergi dijodohkan dengan orang lain. Jadi, apa yang harus kulakukan sekarang?

***

Melissa. Satu nama yang entah kenapa secara tak sadar adalah nama yang –menurutku nama yang paling terkutuk untuk selama hidupku mulai saat ini. Bagaimana tidak, sejak Chanyeol menceritakan asal-usul gadis itu dari perjalanan Incheon menuju pusat kota Seoul kemarin membuatku seperti orang gila. Chanyeol akan menikah dengan gadis bernama Melissa itu. Lalu, bagaimana dengan nasibku selanjutnya? Menenggelamkan diri di Sungai Han lebih baik menurutku.

“Youngmi-ssi, ada seorang tamu yang mencarimu. Saat ini ia sedang menunggu di lobby.”

“Siapa?”

“Tidak tahu. Seorang laki-laki.”

“Ah, baiklah. Terima kasih.”

Lamunanku seketika buyar saat mendengar ada tamu yang mencariku. Siapa? Pikirku. Kalau dipikir lagi, aku ini bukan pegawai kantor yang memiliki tamu penting walaupun jabatanku cukup menjanjikan. Kulirik arlojiku sekilas, waktu sudah menunjukkan jam makan siang. Oke, mungkin sepertinya tamu itu memiliki waktu yang cukup tepat untuk bertemu denganku.

Segera, kubereskan semua pekerjaanku yang berserakan di atas meja dan mengambil tasku. Lalu, segera berjalan masuk ke elevator menuju lobby kantor untuk menemui si ‘tamu’ itu.

“Young-chan!”

Kedua mataku membesar hebat ketika tahu sesuatu. Chanyeol duduk di sofa yang disediakan sembari melambaikan tangannya ke arahku disertai senyumnya. Rambutnya yang berwarna cokelat itu kini tidak lagi cepak seperti anak sekolah menengah ketika dulu. Disampingnya terdapat tas besar berisi gitar kesayangannya. Kebiasaan yang tak pernah berubah.

“Sedang apa kau di sini, Chanyeolie?” tanyaku dengan nada terkejut seraya berjalan cepat menghampirinya.

“Menunggumu. Jangan tanya darimana aku mendapatkan alamat kantormu karena aku mendapatkannya dari Ayahmu. Ayo, kita pergi. Aku sudah izin pada atasanmu agar kau bisa pergi denganku hari ini, Young-chan,” jawab Chanyeol cepat. Sepertinya, dia sudah tahu pertanyaan apa yang akan kuajukan padanya.

“Kita mau ke mana, Chanyeolie?” tanyaku lagi dengan nada penasaran.

“Ke mana saja. Selama kemarin sejak aku pulang dari Dublin kau hanya terus mengomeliku dan tidak mengajakku untuk pergi ke mana-mana. Makanya, aku sekarang mengajakmu,” jawabnya. Kemudian, tangannya yang besar nan kokoh menggapai telapak tanganku yang jelas-jelas dua kali lipat lebih kecil dari tangannya. “Ayo.”

Seolah terhipnotis dengan ucapannya, aku hanya mengangguk dan mengikuti langkah kaki Chanyeol. Entah aku dibawa ke mana oleh orang ini. Namun, sepertinya lelaki ini membawaku ke sebuah restoran dekat kantorku. Aku hanya mengerutkan keningku. Untuk apa ia membawaku ke sini? Katanya mau pergi?

Dan, beberapa saat kemudian aku tak pernah menyangka satu hal. Hampir tak percaya bahwa Chanyeol benar-benar melakukannya.

“Young-chan, duduklah.”

Kini, dihadapanku terdapat seorang gadis dengan rambut bergelombang berwarna cokelat kemerahan dan kedua bola mata berwarna cokelat sedikit terang yang sedang tersenyum padaku. Sementara, Chanyeol duduk di samping gadis itu sambil tersenyum lebar. Bisa kutebak siapa dia.

“Young-chan, kenalkan. Ini Melissa. Gadis yang baru kuceritakan kemarin. Melissa, ini Youngmi. Dia adalah sahabat terbaikku sepanjang masa,” kata Chanyeol.

Melissa memandangku seraya tersenyum. “Oh, gadis yang sering kauceritakan padaku selama di Dublin itu ya?” ungkap Melissa sambil menoleh ke arah Chanyeol. “Senang bertemu denganmu. Ternyata, kau lebih cantik dari yang kubayangkan.”

“Terima kasih.” Aku tak bisa berkata-kata lagi. Ternyata, gadis ini sangat cantik. Pantas saja dia mengatakan hal seperti itu kemarin. Kenyataannya memang benar adanya. Kalau begini, aku siap untuk tenggelam ke dalam Sungai Han saat ini juga.

Karena pikiran untuk tenggelam ke dalam Sungai Han semakin nyata, kuputuskan untuk memesan banyak makanan. Aku sudah tak peduli dengan kondisi perutku nantinya. Bahkan, aku lebih tak peduli dengan kondisi dompetku yang sekarang sudah semakin menipis uangku. Upahku bulan depanpun masih lama. Oke, kau boleh gila lebih dari ini untuk hari ini, Youngmi.

“Kapan kau sampai ke Seoul, Melissa?”

“Baru saja sebelum pergi ke mari, sayang.”

Gadis itu memanggil Chanyeolie-ku dengan sebutan ‘sayang’ pula. Ah, kenapa rasanya ingin muntah ya mendengarnya? Aku hanya bisa menggerutu dalam hati dan menahan semuanya.

Kulihat, Mellisa dan Chanyeol mengobrol dengan seru. Sesekali, mereka hanya tertawa kecil. Tampak, wajah Chanyeol terlihat lebih sumringah. Oke, kalau begini aku juga tidak bisa mengacaukannya. Mereka telah bersenang-senang seolah dunia hanya milik mereka berdua dan aku yang berada di depan mereka seperti menumpang tinggal. Sebenarnya yang harus mengobrol panjang lebar seperti itu siapa sih? Aku atau si gadis bernama Melissa itu? Padahal, yang lama tak bertemu dengan Chanyeol kan aku. Aish, aku bisa gila sungguhan.

“Young-chan, daritadi kau diam saja. Ada apa?” Akhirnya, aku dapat mendengar suara pria itu lagi setelah sekian lama mengabaikanku seperti patung tak berguna.

“Tidak ada apa-apa,” ucapku singkat sembari meneguk jus apelku yang sengaja kupesan banyak.

Masa bodoh dengan pandangan orang lain –terutama gadis bernama Melissa itu tentang diriku. Entah kenapa, tiba-tiba sikapku berubah seperti seorang preman yang sedang meminum segelas besar soju. Hebat sekali hanya karena terbakar api cemburu luar biasa melihat Chanyeol mengobrol dengan Melissa aku jadi begini. Sekalian saja aku jadi petarung di Korea hanya karena pria ini sebentar lagi akan menikah dengan gadis berambut cokelat kemerahan itu. Kurasa itu lebih baik ketimbang aku tenggelam ke dalam Sungai Han.

“Sepertinya dia marah padamu karena sedaritadi kita mengabaikannya, sayang.”

Uhuk! Bagaikan disambar petir, aku langsung tersedak jus apel yang baru saja kuteguk untuk kesekian kalinya. Rasanya sulit untuk bernapas dengan lega. Aish, aku butuh oksigen. Tapi, yang tak habis kupikir adalah bagaimana bisa gadis itu tahu jalan pikiranku? Kalau dia bisa membaca pikiran orang lain, lebih baik dia membuka jasa peramalan saja.

“Young-chan, kau baik-baik saja?”

Aku hanya mengangguk pelan mengisyaratkan agar aku baik-baik saja. Berkali-kali kucoba untuk melegakan dadaku yang sesak. Namun, rasanya sia-sia.

“Sini, kutepuk punggungmu sebentar.”

Kurasakan, tangan kokoh Chanyeol menepuk-nepuk punggungku berkali-kali hingga kurasakan ribuan oksigen masuk ke dalam paru-paruku. Saat menoleh ke samping, Chanyeol ternyata sudah berada di sampingku.

“Kebiasaan jelekmu sejak dulu belum berubah, aku jadi sedih melihatnya. Lain kali, berhati-hatilah, Young-chan.”

Aku memandang kedua mata bulat yang meneduhkan itu seraya mengangguk. “Aku mengerti,” ucapku pelan. Kulirik arlojiku sekilas berpura-pura sebagai bahan alibi kebohonganku. “Ah, Chanyeolie aku harus kembali ke kantor. Ternyata, ada rapat secara mendadak. Aku harus pergi. Dah.”

“Tapi Young-chan, aku kan sudah bilang hari ini kita pergi bersama,” ucap Chanyeol dengan nada merengut.

“Aku sekarang sedang tak bisa bersenang-senang, Chanyeolie. Sudahlah, aku pergi dulu. Dah~”

Segera, aku berjalan meninggalkan mereka berdua setelah berpamitan. Lagi-lagi berbohong adalah cara terbaik untuk menghindar. Tidak. Tidak bisa begini. Kalau begini terus, aku juga yang akan merugi.

Lalu sebelum kembali ke meja kantorku, aku langsung berlari ke toilet dan memuntahkan segala isinya karena memakan makanan terlalu banyak –terutama jus apel yang sengaja kupesan paling banyak. Dan, aku akan bersumpah kalau aku tidak akan pernah meminum jus sebanyak itu lagi.

***

Kupandangi jam dinding apartemenku dari balik selimutku yang kini telah menunjukkan pukul 3 dini hari. Di luar tampak hujan deras sehingga udara dingin tidak bisa dihindarkan. Aku hanya bisa menghelakan napas seraya membuka selimutku yang menutupi sampai kepala. Baiklah, aku tidak bisa tidur sejak 5 jam yang lalu. Bisa dibayangkan apa yang sedang kupikirkan hingga tak bisa tidur? Memikirkan rencana mengacaukan hubungan Chanyeol dengan Melissa. Dan, kalau dipikirkan lagi hal itu adalah sangat tidak mungkin aku lakukan.

Karena terlalu malas untuk beranjak menuju meja rias, kuputuskan untuk mengambil cermin kecil yang berada di meja kecil dekat tempat tidur. Dan di dalam hatiku, aku berdoa agar pemandangan wajahku tidak ada bulatan hitam yang melingkari kedua kantung mataku.

Tok! Tok! Tok!

Aku tersentak kaget dan beberapa detik setelah itu langsung berdecak kesal. Siapa sih yang ingin bertamu di waktu dini hari seperti ini? Dasar gila. Kuputuskan untuk tak menghiraukannya saja.

“Young-chan, tolong bukakan pintunya~! Dingin sekali~!”

Aku langsung bangkit dari ranjangku dan berlari menuju pintu apartemen. Chanyeolie? Pikirku dengan agak ragu.

Klik! Saat kubuka pintunya, kulihat Chanyeol sudah berada di hadapanku dengan pakaian yang basah oleh air. Wajahnya tampak memucat dan tubuhnya menggigil kedinginan.

“Chanyeolie, kau kenapa?!” tanyaku dengan nada sedikit panik. “Pokoknya, kau tak boleh pingsan dulu! Tubuhmu itu berat!”

Tampak, Chanyeol mengangguk pelan. “Aku tahu, Young-chan,” ucapnya pelan.

Akhirnya, aku membawanya ke sebuah sofa. Setelah itu, kubuatkan secangkir teh gingseng untuknya. Tak butuh waktu lama sehingga dengan cepat aku mengantarkannya pada Chanyeol sembari membawakan sebuah handuk untuknya.

“Ini, Chanyeolie. Hangatkan tubuhmu dengan ini dan keringkan rambutmu dulu.”

“Terima kasih.”

Kutaruh cangkir berisi teh gingseng itu di meja dan kembali berdiri. “Kau harus mengganti pakaianmu. Kalau tidak, kau bisa sakit.”

Lalu, segera aku berjalan menuju lemari pakaianku. Kupandangi semua isi lemariku yang nyatanya adalah pakaian perempuan. Namun, pandanganku terhenti ketika melihat sebuah setelan pakaian kemeja berwarna biru tua lengkap dengan sweater putih bersihnya dan celana bahan berwarna krem. Aku tersenyum ketika mengingat sesuatu. Segara, aku mengambilnya dan menyerahkannya pada Chanyeol.

“Pakai ini.”

Tampak, kedua mata Chanyeol membulat dengan sempurna. “Kau punya ini?”

Aku memandangnya sejenak seraya duduk di sofa bersamanya. “Tidak ingat kalau semasa SMA kau datang ke rumahku sore hari dengan keadaan yang sama seperti sekarang?”

Kulihat, Chanyeol tertawa renyah. Tawa yang belum pernah kulihat lagi setelah dia kembali. Tawa yang –sepertinya belum pernah ditunjukkan untuk gadis bernama Melissa itu. Kalau apa yang kupikirkan benar adanya, katakan kalau aku salah. “Ah iya, aku ingat itu. Kukira pakaian ini sudah kaubuang.”

Tidak. Tidak akan pernah kubuang, batinku. “Ngomong-ngomong, kau dapat darimana alamat apartemenku kali ini, Chanyeolie?”

Tampak, Chanyeol berhenti menyeruput teh gingsengnya dan memandangku sekilas. “Ayahmu.”

“Lalu, ada perlu apa datang ke mari? Demi Tuhan, ini dini hari, Chanyeolie,” tanyaku lagi.

“Berkunjung. Memangnya kenapa kalau dini hari? Apa kau tidak ingat dulu juga kau datang ke rumahku jam 4 pagi dan berhasil mengganggu tidurku?” ujar Chanyeol dengan nada polos.

Aku hanya bisa mengendus kesal dan memalingkan wajahku darinya. Konyol, ternyata dia mencoba mengingat kejadian lampau.

“Ngomong-ngomong, pakaian ini masih muat dipakai olehku,” ungkap Chanyeol tiba-tiba.

Aku tersenyum sekilas mendengarnya. “Kaupikir pakaianmu itu bekas kau masih sekolah dasar?”

“Sekolah dasar? Ah, aku jadi ingat sesuatu,” cetus Chanyeol.

“Apa?”

“Kau masih ingat tidak, dulu aku marah padamu.”

“Dan, aku malah berbalik marah padamu?” Aku tertawa. “Tentu saja, aku masih ingat dengan jelas. Kau marah padaku hanya karena aku mengobrol seru dengan teman-temanku. Kau tahu, kau kesal dengan sesuatu yang klise menurutku. Bakan, aku rela memberikanmu es krim cokelat kesukaanku agar kau mau bicara denganku lagi.”

“Menurutku tidak, karena sejak saat itu kau resmi mengabaikanku sepanjang hari.”

“Iya, karena itu kau marah padaku dan tak mau bicara denganku selama beberapa menit,” belaku sambil mengendus. “Padahal, kau juga dulu sering mengabaikanku dan bahkan meninggalkanku dan memilih makan siang dengan gadis bernama Hyomin.”

“Kalau makan siang dengan Hyomin waktu itu, karena aku terpaksa diajak oleh Baekhyun dan Jongdae.”

“Aku tidak percaya padamu. Itu kan hanya alibimu agar kau bisa dekat dengan Hyomin itu!” ungkapku mulai kesal. Aish, sepertinya topiknya mulai tak cocok denganku. Bagaimana tidak, sekarang ada ‘Hyomin’ yang lain! Yah, tapi kalau saat ini si ‘Hyomin’ yang sekarang lebih cantik dan berasal dari Dublin.

“Kau cemburu?”

“Tentu saja! Aku kesal karena setiap ada gadis yang kausukai, pasti kau akan berusaha mendekatinya dan meninggalkanku! Selalu saja seperti itu! Lalu sekarang, kau melakukannya lagi! Tapi bedanya, kau sekarang kau berhasil menaklukan gadis itu dan berniat meninggalkanku selamanya!”

“Young-chan?”

“Ya?”

“Apa berarti… kau mencintaiku?”

Aku langsung menoleh ke arahnya dengan pandangan aneh. Berusaha meyakinkan diriku apakah yang ditanyakannya padaku adalah salah. “Apa?”

“Kau jangan pura-pura tidak dengar dengan jarak kita yang tak jauh dan juga kondisi apartemen yang sepi begini,” ujar Chanyeol dengan nada tegas. “Apa berarti kau mencintaiku?”

Aku tertawa konyol seraya memandangnya. Bagaimana bisa dia menanyakan hal itu? Ini bukan lelucon kan? “Jangan menanyakan suatu hal yang tidak penting, Chanyeolie.”

Kulihat, kini ia sedang menatapku dengan tajam. “Aku serius, Young-chan. Aku sungguh tidak main-main.”

“Memangnya kenapa kalau aku menjawab hal itu?”

“Aku… akan mengatakannya pada Ayahku sebelum semuanya terlambat.”

“Lalu, bagaimana dengan gadis―”

Sebelum kulanjutkan ucapanku, Chanyeol mendekati wajahku dan dalam sekejap ia melumat bibirku. Rasanya ketika kedua mataku terpejam jutaan kembang api sedang meletup-letup dengan indahnya. Katakan kalau ini bukan mimpi.

Beberapa detik setelah itu, Chanyeol melepaskan ciumannya dan memandangku dengan pandangan sayu yang mampu membuatku terdiam membeku.

“Perlu kauketahui, beginilah perasaanku sesungguhnya sejak kita masih duduk di sekolah menengah bersama. Aku tidak ingin semuanya terlambat. Makanya, kali ini kutunjukkan semuanya padamu, Young-chan. Oke, aku tidak peduli dengan Melissa setelah ini atau bahkan tentang kau mencintaiku atau tidak. Tapi, aku hanya ingin kau tahu perasaanku ini. Aku juga sama denganmu. Kalau kau sedang bersama pria lain, aku juga sama sepertimu.”

Aku diam memandangnya. Dan segera, kupalingkan wajahnya. “Terserah. Aku tak peduli.”

“Baiklah, kuberi kau waktu hari ini. Aku akan segera memberitahu Ayahku dan membatalkan semuanya. Aku tak ingin merugikan semuanya sebelum terlambat. Aku begini karena kesalahanmu mengatakan semua kejujuranmu selama ini padaku.”

Terdengar, langkah kaki yang mulai semakin menjauh dan engsel pintu apartemen yang bergerak. Kutolehkan kepalaku ke arah sofa yang kini sudah kosong.

Tidak seharusnya aku seperti ini.

***

Selama bekerja, pikiranku buyar entah ke mana. Aku tak fokus sepanjang hari karena ucapan Chanyeol dini hari tadi dan aku hanya tidur selama 3 jam setelah Chanyeol pergi. Tapi, kemungkinan yang paling dekat adalah ucapan lelaki itu.

“…aku hanya ingin kau tahu perasaanku ini. Aku juga sama denganmu. Kalau kau sedang bersama pria lain, aku juga sama sepertimu.”

“…kuberi kau waktu hari ini. Aku akan segera memberitahu Ayahku dan membatalkan semuanya. Aku tak ingin merugikan semuanya sebelum terlambat. Aku begini karena kesalahanmu mengatakan semua kejujuranmu selama ini padaku.”

“Youngmi-ssi, kau dipanggil sajangnim.”

Lamunanku langsung buyar. Pikiran dunia nyata kembali menarikku dari dunia fiksi dan imajinasi hasil masalah dini hari tadi ketika seseorang memanggilku. Aku segera memenuhi perintah itu dan berjalan menuju ruangan presiden direktur perusahaan sebelum pulang kembali ke apartemen. Hasilnya, bisa dibayangkan. Aku dikritik habis-habisan karena hasil kerjaku hari ini sama sekali tak maksimal. Hasil kerjaku semuanya kacau dan tak memuaskan.

Kupandangi langit senja yang sudah berwarna jingga ketika langkah kakiku sudah sampai di luar gedung kantor. Seharusnya hari ini aku harus memikirkan bagaimana nasib karirku di perusahaan, tapi entah mengapa semuanya sama sekali tak terbesit dipikiranku. Seluruh sel otakku hanya memikirkan satu hal.

Chanyeol dan Melissa.

Aaahh, aku tidak tahu!

Kuputuskan untuk segera berjalan menyebrangi jalan raya. Masa bodoh dengan perkataan Chanyeol nanti. Aku sudah tak peduli!

“Young-chan!! Awas!!”

Aku menoleh ke belakang. Kulihat, Chanyeol langsung menarikku ke sebrang tempat aku menyebrang sebelumnya. Terdengar bunyi klakson yang keras dan bertubi-tubi secara berkala hingga reda setelah beberapa saat kemudian. Kupandangi jalan raya yang kini banyak orang-orang yang memandangku dengan aneh, bahkan ada beberapa pengguna jalan yang mengumpat dan memaki seolah tertuju ke arahku.

Jeosonghamnida, jeosonghamnida,” ucapku meminta maaf sambil membungkuk sedalam-dalamnya.

“Apa yang kaupikirkan sebenarnya, Young-chan?!”

“Apa sih?!” Aku menoleh ke arah Chanyeol dengan pandangan kesal. “Untuk apa kau marah padaku sekarang?! Aku bahkan tidak melakukan kesalahan apapun padamu, Chanyeolie!”

“Aku mengkhawatirkanmu! Kau berhasil membuatku cemas karena dirimu! Tadi kau hampir tertabrak dan aku berusaha menolongmu! Itu semua karena aku tak ingin kau terluka!”

“Apa?” ucapku dengan nada tak percaya. “Setelah kau berhasil menaklukan Melissa, sekarang berani-beraninya kau mengatakan hal itu padaku?! Kau konyol, Chanyeolie!”

“Aku sudah tak ada hubungannya lagi dengan Melissa, Young-chan!”

“Aku tak percaya padamu! Titik!” ucapku dengan nada tinggi. Kemudian, aku berjalan meninggalkannya dengan perasaan terluka. Dia mungkin hanya ingin mengindahkan hatiku saja. Masa bodoh!

Kurasakan tangannya mencengkram lenganku. “Dengarkan aku dulu!”

“Apa lagi?!” teriakku.

Kurasakan, Chanyeol memelukku dengan erat dan berbisik tepat di telingaku. “Aku mencintaimu.”

Apa?

“Bohong..” ucapku dengan nada lirih. Airmataku ingin mengalir, namun berusaha kutahan.

“Aku sudah mengatakan pada Ayahku dan mengatakan pada Melissa. Aku tidak berbohong padamu, Young-chan. Aku sungguh mencintaimu, Young-chan.”

“Kau.. serius?”

“Iya. Aku serius, Young-chan. Karena, kau lebih berharga dari gadis cantik lainnya seperti Hyomin maupun Melissa. Aku hanya ingin menjadi teman hidupmu.”

Aku terhenyak. Mendadak otakku membuka satu memori lama yang sudah kulupakan sejenak.

.

.

11 tahun.

Chanyeol marah.

Es krim cokelat.

Gadis bernama Hyomin.

Lelaki ini pernah mengatakan hal yang sama sewaktu kami masih berumur 11 tahun.

.

.

Perlahan, kedua tanganku membalas pelukan dari tubuh lelaki bertubuh tinggi ini dan menenggelamkan wajahku di bahunya. Aku sudah tak bisa menahan semuanya. Dan, aku juga sudah tak peduli dengan jawaban yang kuambil sekarang. “Aku juga mencintaimu, Chanyeolie…”

― FIN ―

Iklan

4 thoughts on “Life Friend

  1. Ga pedulilah yaaaa, author yg nulis ini cerita, mikirin Chanyeol [suamigue] mulu di otaknya-.- rrrr #abaikan…
    Yang penting mood saya ini udah naik lagi hahaha, ya lumayanlah refresh otak gegara capek bikin kue-..-v wkwkwkk #Edisilebaran.
    Yah saya bahagia, Youngmi pada akhirnya bisa meluk si tiang itu :’) hahaha, teman hidup{{}} /ciumChanyeol/
    Kebayang si Mellisa pasti lebih cantik dari pada Youngmi u.u bulee hahaha. Kebayang juga si Chanyeol di sini rada kalem dan Youngmi yang pecicilan, bawel, cerewet, jutek, bener kaya aslinya ini ._. haha
    Keep writing yah sobat gw yang ngeseliiin. Pake banget. Jangan lupa. Makasih udah cape2 bikinin ni ff buat gw huahaha. Seru ceritanya aeer!;3 Terus semangat yeeee #mwah #mwah

    1. Ciye, udah kelar ngambeknya? Yaudah, nanti gua nikahin chanyeolnya, beres kok. Hahaha 😀 cipratin dong kue lebarannya, ga bagi-bagi masaa -..-
      Iyalah, kan mellisanya gue. /tebar pesona/ wkwk 😀
      Thanks ya udah komen. Ga sia-sia gue maksa lo dateng ke blog gue. Wuahahahahahahahaha

      1. Nikahin ama gw wkwk.
        Gw harap ni ff ada dramkornya hahaha seru kali yah, kerasa banget akrab sama Chanyeolnya gw 😀
        Eh? Mellisa mau kue? Tenang, toplesnya banyak kok, ambil aja toplesnya haha /gubrak/

      2. Nikahin ama gw wkwk.
        Gw harap ni ff ada dramkornya hahaha seru kali yah, kerasa banget akrab sama Chanyeolnya gw 😀
        Eh? Mellisa mau kue? Tenang, toplesnya banyak kok, ambil aja toplesnya haha /gubrak/

Mind to Review? ^ ^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s