Reminiscence

alone-cold-cry-girl-love-favim-com-142309

© Aeri_Tamie’s Script Writer

Genre : Hurt/Comfort, Alternative Universe ║ Rated : General ║ Length : Drabble (500+ words)

Disclaimer : 20140723 © Aeri_Tamie

Note      : Special fanfict (atau cerpen? =_=) yang ga ada castnya. Karena apa? Karena saya pusing mikirin siapa castnya yang cocok ditengah banyak orang-orang yang mengelilingi saya minta dibikinin fanfict. Jadinya, saya asal bikin aja tanpa cast. Siapa aja deh bayangan castnya, asalkan jangan saya sama jongdae please (astagfirullah, pede banget gua XD). So, happy reading guys! ^^

P/S         : Karena cerita ini terinspirasi dari lagunya letto ruang rindu, jadi kalo baca ini dianjurkan sambil diputer lagu ini ya. Sumpah, itu lagunya keren, easy listening banget dan liriknya puitis! Hihihi~ ^^b

Backsound : ♫ Letto – Ruang Rindu

***

Semuanya berawal pada saat pertengah musim dingin yang terasa membeku. Bagiku.

Kulihat, kau datang menuju halte tempat aku menunggu bus datang dengan napas terengah-engah. Syal merah tebal melilit lehermu dengan sangat berantakan. Selain itu, kancing-kancing dari mantel berwarna hitam yang membungkus tubuhmu terbuka begitu saja. Saat itu, hujan salju sedang datang tidak sederas biasanya sehingga kau sepertinya sengaja tak membawa sebuah payung.

Suasana halte terasa sangat sepi. Hanya ada kau dan aku.

Kupandangi arlojiku sekilas. Sepertinya, bus tak akan datang karena tadi pagi sempat kudengar berita prakiraan cuaca yang mengatakan bahwa hari ini sepertinya akan ada hujan salju yang tak terlalu parah. Kuhelakan napas panjang dan bisa kulihat embun mengepul dari hidungku.

“Kau mau ke mana, Nona? Busnya tidak akan datang.”

Aku menoleh dan mendapatimu kini duduk di bangku panjang halte seraya menatapku. Kedua tangannya yang berbalut sarung tangan itu dimasukkan ke dalam saku mantelnya.

“Aku harus pulang. Ibuku menunggu di rumah sendirian.”

Kulihat, kedua matamu sempat membulat. Namun, kau berusaha menutupinya. “Maaf ya, aku tak bisa membantumu. Tapi, kau juga tidak bisa berdiri di sana terus. Duduklah, udara dingin akan datang.”

Kuputuskan untuk duduk di sana sembari memandang rintik-rintik salju yang turun dengan deras. Payung lipat yang sedaritadi kupegang, kuputuskan juga untuk dimasukkan ke dalam tas saja mengingat aku tidak akan ke mana-mana selain tetap di halte ini.

“Kau tak punya sarung tangan?”

Aku memandangnya dengan pandangan kaget. Sepertinya, ia melihat kedua telapak tanganku yang mulai pucat. “Sarung tanganku tertinggal di bandara.”

“Mau pakai punyaku?” tawarnya seraya melepaskan kedua sarung tangannya yang kulihat berwarna merah hati.

“Tidak usah. Nanti tanganmu kedinginan,” tolakku dengan halus.

“Tidak apa-apa. Aku bisa melindunginya di sini,” ujarnya sambil menepuk kedua saku mantelnya. Kemudian, ia menyerahkan sarung tangan itu padaku dengan senyum tulus miliknya. “Terimalah.”

“Terima kasih.”

Hening sejenak.

“Ah, ini mau sampai kapan ya hujan saljunya? Sepertinya ini akan sangat lama walaupun tidak terlalu parah,” katamu yang sepertinya mencoba mencari topik pembicaraan seraya memandang langit yang kini sedang berawan.

“Tadi, saat aku masih di bandara aku mendengar katanya akan sampai siang,” jawabku dengan nada pelan.

“Benarkah?” tanyamu dengan nada memastikan. “Kalau begitu, kau harus bersabar untuk menunggu busnya datang setelah hujan saljunya reda.”

“Ya,” ujarku seraya mengangguk pelan dana tersenyum kecil. Entah mengapa, nada bicaramu membuat hatiku mendadak terasa menghangat.

Setelah itu, tak ada lagi bahan pembicaraan diantara kita.

Tapi, entah mengapa ada satu hal yang masuk secara diam-diam ke dalam hatiku sejak saat itu.

Aku menyukaimu.

Sudah setahun rasanya. Walaupun hanya sekali bertemu denganmu, rasanya seperti berjuta-juta kenangan yang terukir di memoriku. Dadaku terasa sesak ketika pandanganku setiap kali berhenti di salah satu sisi bangku halte tempat aku pertama kali datang. Tempat di mana kau duduk di sana dan mengajakku bicara tempo dulu hingga membuat hatiku sedikit menghangat.

Kau di mana? Aku merindukanmu.

Kupejamkan kedua mataku dan mencoba menarik oksigen yang sejuk di musim dingin tahun keduaku di sini untuk mengobati rasa sesak di paru-paruku. Namun, hasilnya justru yang ada hanyalah airmata yang terus mengalir sebagai wujud hatiku yang terasa perih dan hampa, karena selama setahun terakhir sejak awal bertemu aku sama sekali tak bisa menemukanmu lagi.

Kupandangi kedua sarung tangan yang membungkus kedua tanganku dengan sendu, kemudian menutupi separuh wajahku untuk menghapus airmata yang terus mengalir dengan kedua tangan yang berbalut sarung tangan yang selalu kurawat selama ini. Tidak seharusnya kau memberikanku ini. Tidak seharusnya kau bersikap seperti itu ketika kita pertama kali bertemu. Tidak seharusnya aku melihatmu di sini tempo dulu. Tidak seharusnya.

“Lama tak bertemu denganmu.”

Suara hangat yang sepertinya sudah tak asing di telingaku, walaupun aku sendiri juga merasa tak pernah berbicara banyak dengan suara khas ini. Aku langsung menoleh dengan segara ketika dirasa mengenali suara itu. Dan kulihat, kau berdiri di sampingku seraya tersenyum. Aku tahu, itu pasti kau.

“Aku ternyata merindukanmu dan senang ketika kembali melihatmu di sini.”

Aku tersenyum kecil mendengarnya. “Aku juga.”

Tepat. Aku kembali bertemu denganmu di sini. Di halte tempat kita pertama kali bertemu. Ketika pertengahan musim dingin tahun kedua yang kurasa mulai menghangat. Terutama hatiku yang kini telah berhasil menemukanmu lagi.

― FIN ―

Iklan

2 thoughts on “Reminiscence

Mind to Review? ^ ^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s