Painful

painful cover

20140828 © Airly

Hurt;Angst//General//Drabble(377 words)

Backsound : Super Junior-M (Zhoumi) – Distant Embrace

Ternyata seperti ini rasa sakitnya karena cinta.

Aku terduduk lemas sembari menyandarkan tubuhku ke dinding dingin yang seharusnya tidak menyambutku. Airmata yang telah mengalir sebelumnya, kubiarkan mengering begitu saja tanpa kuhapus dengan punggung-punggung tanganku. Karena aku tahu, punggung-punggung tangan milikku belum bisa bekerja dengan semestinya sesuai dengan otakku. Karena aku tahu, pikiran berkecambuk yang seharusnya tidak hadir di otakku dan rasa perih yang tak tertahan membuat seluruh sel di tubuhku seolah berhenti bergerak.

Seharusnya aku tahu sejak awal.

Seharusnya aku mengerti sejak aku melihatnya.

Seharusnya aku segera sadar sejak pikiran tentangnya masuk ke dalam pikiranku.

Dia bukan untukku.

Airmataku kembali mengalir tak terbendung tanpa permintaanku. Rasa perih di hatiku kembali menjalar ketika ingatanku terlempar pada suatu kejadian kecil.

Entah sejak kapan, lelaki itu tak pernah lagi memunculkan wajahnya di depanku. Tak pernah lagi menyapaku dengan senyum manisnya. Tak pernah lagi bersitatap seperti saat dulu. Tak pernah lagi menatap mataku lagi setiap bertemu secara tak sengaja. Tak pernah lagi….

Dan ketika aku tahu kebenaran yang terjadi, hatiku seperti tersayat sebuah pisau tajam. Ketika aku tahu lelaki itu menyukai orang lain, rasa sakit tak tertahan seketika menyebar ke seluruh tubuhku.

Kenapa bisa seperih ini rasanya?

Lalu, seperti layaknya seseorang yang memiliki ketegaran yang kuat, aku hanya berpura-pura dan berkata bahwa aku baik-baik saja atau aku tidak apa-apa. Setelah itu, kembali mengukir senyum seperti biasa. Dan, perlu beberapa saat untuk menyembunyikan sebuah kepiluan hati yang sudah tak tertahankan di depan orang lain, hingga ketika benar-benar sendiri baru dikeluarkan semuanya. Sungguh, itu bagaikan sebuah kamuflase yang amat menyedihkan.

Airmataku semakin tumpah karena baru menyadari satu hal yang kusesali.

Aku sungguh bodoh.

Aku sungguh pengecut.

Aku sungguh pecundang.

Sekeras apapun secara lisan kukatakan bahwa aku ingin melupakannya, kenyataan yang ada hanya membuatku semakin sakit. Aku tidak bisa melakukannya. Aku tidak bisa melakukannya. Bagaimana ini?

Kupandangi sebuah foto yang terpampang pada desktop laptop di dekat meja tempat aku duduk dengan sendu. Sebuah foto berisi dua orang yang sedang tersenyum menatap ke arah kamera. Kemudian, dengan secepat kilat kutekan keyboard delete sebelum kenangan terakhir yang kuingat terbesit di pikiranku dan kembali membuatku seperti orang bodoh.

Tak ada lagi kenangan yang harus kuingat tentangnya.

Namun meskipun menjadi orang pengecut dan menghapus segalanya demi diriku, sungguh aku tak pernah menyesal menyukainya selama 2 tahun terakhir ini.

Terima kasih.

-fin.

Iklan

Mind to Review? ^ ^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s