Love Note : 10th New

love note cover 7

© Aeri_Tamie’s Script Writer

Casts : Song Aeri; Kim Jongdae (EXO-M’s Chen); Cho Kyuhyun (Super Junior’s Kyuhyun); Shin Yeonjoo

Other Casts : You can find it in here ^^

Genre : Romance, Drama, Friendship, Comedy Rated : PG-17 Length : Chapter

Disclaimer : 20131025 © Aeri_Tamie

Previous Chapter :

1st Unexpected 2nd (Really) Unexpected 3rd Complicated 4th Let’s Play 5th Grey Paper 6th Love & Dust 7th Pain 8th Confession 9th Unpredictable

Note      : Wohooo, akhirnya rilis juga chapter yang ini! Pasti awalnya pada bertanya-tanya kan? Kkk~ sengaja, biar pada penasaran kaya drama korea gityuu #alay. Awalnya, mau saya tambahin juga tuh pemainnya. Tapi, berhubung cover udah jadi… yah, mau gimana lagi /pasrah pada hidup/ #ditimpuk. Okay, don’t forget give me a review. Because your review like oxygen. Gyahaha XD Happy reading, guys! ^^

***

» Story 10 : New

“Siapa kau?”

“Kau kan teman satu asrama Aeri!”

“Apa?!”

Kyuhyun menatap Jongdae tak percaya. Lalu, memandang sekilas seorang lelaki bertubuh tinggi yang kini sedang duduk diantara Kyuhyun dan Jongdae sambil tersenyum dengan bibir tipisnya. Sementara, Jongdae sedang berpikir keras seraya mengetuk-ngetuk meja dengan jarinya. Huang Zitao. Dia adalah seorang lelaki China dan yang pasti adalah orang ini adalah lelaki yang dekat dengan Aeri di asrama. Jongdae sangat tahu itu mengingat memang Aeri dulu pernah bercerita tentang pria ini.

Jongdae mencoba menoleh ke belakang untuk mengingat memori tentang orang ini. Huang Zitao, nama panggilannya Tao yang terkenal di kampus bersahabat karib dengan pria China yang tubuhnya jauh lebih tinggi darinya bernama Wu Yifan atau lebih dikenal dengan nama Kris Wu. Kalau tidak salah juga salah seorang teman Aeri berpacaran dengan pria itu. Ya, ya, ya, ia ingat sedikit tentang Tao.

“Sedang apa kau di sini, Huang Zitao?” tanya Jongdae akhirnya buka suara pada Tao. “Di sini tidak ada Kris Wu.”

“Memang siapa yang sedang mencari Kris Hyung?” tanya Tao dengan nada heran. “Aku ke sini karena ada urusan dengan Luhan Hyung dan Yixing Hyung. Lalu, tidak sengaja aku melihat Kyuhyun Hyung dan kau, Kim Jongdae.”

“Kau tahu namaku dan Kyuhyun Hyung juga?”

Jongdae menatap Tao tak percaya. Bahkan, berdasarkan pendengaran Jongdae pria itu seperti sama sekali tidak berusaha mengingat nama seseorang sepertinya. Tampak, Tao mendecakkan lidahnya.

“Bagaimana bisa aku tidak mengenalmu, sementara Bi sangat dekat denganmu,” jawab Tao sambil memandang Jongdae seolah berkata ‘payah-sekali-kau’.

“Bi?” tanya Kyuhyun dengan alis sedikit terangkat.

“Nama panggilan Song Aeri bagiku,” jawab Tao singkat.

“Kau menamainya ‘hujan’?” tanya Jongdae ingin tahu.

“Ya,” ujar Tao. Lalu, tak lama Tao baru menyadari bahwa ia merasa seperti sedang diintrogasi oleh dua pria ini. “Tunggu. Kenapa kalian seolah ingin mewawancaraiku?”

“Aish, bukan begitu maksud kami!” seru Kyuhyun karena merasa tingkat kepercayaan diri Tao lebih tinggi darinya. “Aku hanya ingin tahu satu hal. Bagaimana bisa kau mendapatkan permainan ‘Love Note’ kali ini?”

“Hanya kiriman paket,” ujar Tao singkat.

“Lalu, bagaimana bisa kau tahu keterlibatan kami dan Aeri saat ini tentang permainan itu?” tanya Jongdae.

Tao memandang Kyuhyun dan Jongdae secara bergantian. Kemudian, berdeham pelan. “Jadi, begini..”

***

“Gege tidak tidur?”

Tao menoleh dan mendapati Aeri sedang berjalan menuju balkon asrama untuk menghampirinya dan berdiri di samping Tao. Tampak, rambutnya agak berantakan. Saat itu ia memakai piyama berwarna baby blue dengan motif polkadot dan sandal rumah. Sangat ketahuan bila gadis itu baru bangun tidur.

Tao tersenyum. “Tidak. Saat ini aku sedang mengobati rinduku. Selama di Qingdao aku merindukan pemandangan di Seoul. Makanya, aku putuskan untuk mengobati rinduku dahulu sebelum tidur,” tutur Tao. “Kau sendiri, tidak tidur?”

Aeri hanya memamerkan wajah sebalnya seraya menggaruk kepalanya yang tak gatal. “Aku sebenarnya sudah pergi ke alam mimpi tadi. Tapi, mendadak terganggu karena jatuh dari tempat tidur. Saat hendak memejamkan kedua mataku lagi, malah berakhir tidak bisa tidur. Makanya, ke sini,” gerutu gadis itu. “Sudah jam berapa ini?”

Tao melirik arlojinya sekilas. “Jam 2 dini hari.”

Seketika, kedua mata Aeri membulat hebat ketika mendengar ucapan Tao. “Astaga, berarti sudah berapa lama kau berdiri di sini?” tanya Aeri dengan nada kaget. “Lebih baik, lekas tidur. Gege tidak ingin sakit kan?”

“Tenang saja, sistem kekebalanku bagus kok,” ujar Tao menenangkan.

Hening sejenak.

“Bi, ada satu hal yang ingin kutanyakan padamu,” kata Tao.

“Apa itu?” tanya Aeri sambil menoleh ke arah Tao dengan pandangan penasaran.

Tao terdiam sejenak. “Apa kau tahu… tentang ‘Love Note’?”

“’Love Note’?” ulang Aeri dengan nada sedikit terkejut. “Itu permainan cinta. Kita bisa mendapatkan seseorang yang kita cintai melalui permainan itu, walaupun kemungkinannya lumayan kecil,” jelas Aeri.

“Kau tahu itu? Apa berarti kau pernah memainkannya?” tanya Tao lagi.

Kali ini, Aeri terdiam. Bingung bagaimana merangkai katanya ketika pikirannya teringat sesosok Cho Kyuhyun dan Shin Yeonjoo yang berhasil mendapatkan cintanya. Sementara, dirinya dan Jongdae yang harus melewati masa-masa sulit karena patah hati.

“Ya.”

***

“…Lalu, aku tidak sengaja mendengar pembicaraan kalian tentang ‘Love Note’. Makanya, aku tahu semuanya,” jelas Tao panjang lebar akhirnya pada Kyuhyun dan Jongdae. “Ngomong-ngomong, aku haus. Tolong pesankan aku ice coffee ya.”

Sementara, reaksi wajah kedua pria yang sedang memandang Tao mendadak berubah dari mengangguk mengerti menjadi memandangnya datar.

“Tolong pula, panggilkan saja Luhan Hyung untuk memesan,” jawab Jongdae dengan sebal.

“Apa tidak ada perkejaan lain selain ‘menguping’?” tanya Kyuhyun dengan nada setengah sakartis.

“Itu karena faktor ketidaksengajaan. Hyung jangan asal menuduh. Enak saja,” ungkap Tao dengan nada tak terima.

“Lalu, apa warna note identitasmu?” tanya Jongdae ingin tahu.

“Merah.”

“Dan, kau tahu siapa yang akan menjadi sasarannya?” tanya Kyuhyun.

Tao terdiam sejenak. Kemudian, memandang Kyuhyun dan Jongdae dengan yakin. “Song Aeri.”

***

“Hachiii!!!”

“Iih! Menjijikan! Cepat bersihkan ingusmu, Song Aeri!”

“Kau mulai sakit lagi ya, Ri-ya?”

Aeri memandang Hyoae dan Yoora sembari membersihkan hidungnya dari cairan menjijikan itu dengan tisu pemberian Yoora. Kakinya diluruskan di atas sofa, sementara Hyoae dan Yoora duduk di bawahnya. “Tidak. Ini karena debu kok.”

“Kau yakin?” tanya Yoora dengan nada ragu. “Ah iya, kakimu masih sakit tidak?”

“Sedikit,” jawab Aeri seadanya saat mengingat kejadian yang membuat kakinya terkilir.

“Jatuh darimana kau?” tanya Hyoae dengan nada penasaran ketika mendengar pertanyaan Yoora pada Aeri.

“Tangga dekat asrama saat menuju ke taman bermain,” ujar Aeri lagi.

“Bagaimana bisa jatuh?” tanya Hyoae lagi.

“Tidak tahu,” ujar Aeri lagi untuk kesekian kalinya. Untuk pertanyaan hal ini, gadis ini memilih untuk merahasiakannya saja.

Sementara, Hyoae langsung mengerucutkan bibirnya karena sebal dengan sikap Aeri. “Kau ini kenapa sih? Selalu saja aku pasti dengar jawaban tidak tahu. Kutanya kenapa menghindari Jongdae Sunbae, tidak tahu. Sekarang, kutanya bagaimana bisa jatuh juga tidak tahu. Sedang mengalami PMS ya?”

Setelah mendengar pertanyaan Hyoae, Aeri langsung berpikir. Bisa-bisa aku memberikan Hyoae sebuah piring cantik karena berhasil mengucapkan pertanyaan yang sama padaku setelah Jongdae dan Tao Gege. Ah, bisa gila, batin Aeri.

“Ri-ya!”

Tanpa Aeri menoleh ke sumber suara, gadis itu sudah tau siapa yang memanggilnya. “Apa, Mi-ya?” tanya Aeri dengan nada malas.

“Kau mau pergi ke taman bermain dekat asrama tidak? Ayo, temani aku,” pinta Youngmi sambil duduk di samping Aeri.

“Tidak bisa~” ucap Aeri dengan nada setengah lemas.

“Kenapa lagi memangnya kau?” tanya Youngmi dengan nada ingin tahu setelah mendengar nada lemas dari ucapan Aeri.

“Habis jatuh dari tangga dekat asrama menuju taman bermain anak-anak kemarin,” jawab Yoora mewakilkan Aeri. “Ri-ya, menurut perkiraanku sih besok kakimu sudah mulai pulih.”

“Yah, semoga saja.” Aeri berujar seraya meneguk jus jambu yang berada di dekatnya dan menghelakan napas panjang.

Tiba-tiba, dering ponsel mengejutkan Aeri. Dengan segera, gadis itu langsung merogoh sakunya dan melihat siapa nama yang tertera di ponselnya. Shin Yeonjoo. “Yeoboseyo?”

“Aeri-ssi….”

“Yeonjoo Eonni, ada apa?” tanya Aeri dengan nada sedikit khawatir karena mendengar nada bicara Yeonjoo terdengar cemas.

“Aku pikir… permainan ‘Love Note’ sudah selesai begitu saja. Tapi, Aeri-ssi…. Kudengar Kyuhyun dan Jongdae kembali memainkannya dengan pemain tambahan…” ungkap Yeonjoo dengan nada terbata-bata.

Seketika, kedua mata Aeri langsung membulat secara sempurna saat mendengar ucapan Yeonjoo. “Apa?! Kau serius, Eonni?!” tanya Aeri dengan nada kaget.

“Aku juga tidak yakin, Aeri-ssi. Aku ingin bicara dengan Kyu, tapi ponselnya tak aktif.”

“Baiklah, aku akan menghubungi Jongdae. Tapi, besok saja karena kakiku sedang sakit, Eonni,” kata Aeri menenangkan Yeonjoo.

“Kakimu sedang sakit?” tanya Yeonjoo. “Semoga cepat sembuh ya, maaf aku tak bisa membantumu untuk urusan itu.”

“Tidak apa-apa, Eonni. Aku janji akan menghubungi Jongdae besok.”

Kemudian, Aeri mematikan ponselnya dengan lemas. Permainan konyol itu kembali dimulai? Siapa lagi pemain barunya?

***

“Sebenarnya, apa yang kaubicarakan dengan Kyuhyun Hyung dan Tao tadi?”

Jongdae memandang Luhan yang kini sedang berdiri di depan bars tool tempat ia duduk setelah ditinggalkan oleh Kyuhyun dan Tao yang telah pergi meninggalkan coffee shop. Tampak, pandangan cemas milik Jongdae terpancar.

“Masalah besar, Hyung,” ungkap Jongdae singkat. “Dan, ini juga menyangkut Aeri.”

“Aeri?” tanya Luhan dengan nada penasaran. “Bagaimana bisa gadis itu terlibat dalam masalahmu itu?”

“Rumit, Hyung,” ujar Jongdae seraya menghelakan napas panjang.

“Sabarlah,” kata Luhan seraya menepuk pundak Jongdae. “Semuanya akan baik-baik saja.”

Jongdae menatap Luhan yakin. “Kuharap begitu.”

***

Esok harinya, Aeri bisa berjalan dengan pulih. Benar dengan apa yang dikatakan Yoora kemarin. Dan, dengan lincah Aeri menelusuri seluruh ruangannya dengan berlari. Namun, langkah kakinya terhenti ketika ia melihat sebuah cermin menghadap ke arahnya. Lalu, ia memandang wajahnya sebentar dan beralih ke rambutnya yang kini tak lagi sependek dulu. Rambutnya kini sudah seatas punggung.

Dengan segera, ia mengambil sebuah gunting di dekat cermin. Dan secepat kilat, gadis itu memangkas rambutnya hingga sebawah bahu. Tiba-tiba, pintu apartemennya terbuka bersamaan dengan suara nyaring milik Jung Hyoae.

“Ri-ya, siang ini temani aku ke ‘Ruby and Peach’ ya?” pinta Hyoae. Sedetik kemudian, kedua mata gadis itu membesar. “Kau potong rambut, Ri-ya?”

“Iya,” ucap Aeri cepat. Kemudian, berpose tepat di hadapan Hyoae. “Manis tidak?”

Sementara, Hyoae menjawab dengan anggukan setuju. “Ya. Tapi… dari Namsan Tower manisnyaa~”

“Sialan kau!” umpat Aeri sambil menggerutu kesal. “Ehm, tapi untuk apa kau pergi ke Coffee Shop di Kangnam itu?”

“Menemui Luhan Gege. Hari ini kan hari Sabtu. Pasti semua pemiliknya datang ke Coffee Shop,” ujar Hyoae.

“Oh? Berarti Jongdae juga di sana?” tanya Aeri kemudian dengan nada memastikan.

“Tentu saja.”

Lalu, Aeri terdiam. Oke, aku harus menemui Jongdae demi ‘Love Note’ setelah beberapa hari terakhir aku berusaha menghindarinya. Baiklah, aku tak boleh seperti orang bodoh di depan lelaki itu demi permainan konyol itu.

“Ri-ya, kau mau kan?” tanya Hyoae dengan nada memastikan dan itu langsung membuyarkan lamunan Aeri.

“Baiklah.” Aeri mengangguk setuju.

Akhirnya pada siang hari, Aeri dan Hyoae pergi ke ‘Ruby and Peach’ menggunakan bus. Tak butuh waktu terlalu lama untuk sampai ke coffee shop daerah Kangnam tersebut. Saat kedua gadis itu telah sampai di depan coffee shop tersebut, Aeri dapat melihat sebuah mobil yang tak asing lagi di matanya. Ia yakin sekali kalau itu adalah mobil milik Jongdae. Dan itu berarti Jongdae ada di dalam sana.

Saat Hyoae dan Aeri membuka pintu masuk coffee shop terdengar bunyi lonceng sebagai penanda ada pengunjung datang. Kedua gadis itu melihat seorang lelaki langsung menoleh dari aktivitasnya di depan bars tool –sepertinya hendak memberi ucapan selamat datang, namun tak jadi karena salah satu dari kedua gadis itu ada yang dirasa dikenalnya.

“Annyeonghaseyo~” sapa Hyoae dengan wajah sumringah sambil duduk di depan bars tool sambil memandang lelaki itu.

“Ada apa kau datang ke mari, Hyoae-ya?” tanya lelaki itu tanpa basa-basi.

“Luhan Gege ada? Aku ingin menemuinya.”

Sementara, Aeri hanya menunduk pelan lalu duduk di samping Hyoae. Ia memandang lelaki itu sekilas, kemudian memandang ke arah lain karena dirasa tak dikenalnya.

“Kau Song Aeri ya?” terka lelaki itu yang mampu membuat Aeri langsung terfokus pada lelaki itu dengan pandangan heran.

“Kau tahu aku?” tanya Aeri dengan nada memastikan.

Sementara, lelaki itu hanya tersenyum mendengar pertanyaan Aeri. “Jongdae kan temanku juga.”

“Ri-ya, dia Minseok Oppa. Temannya Luhan Gege dan Jongdae Sunbae,” jelas Hyoae pada Aeri.

“Jongdae seringkali menceritakan tentangmu,” kata Minseok. “Wajahmu manis ya.”

Seketika, kedua pipi Aeri mendadak memerah. Orang ini baik sekali sampai-sampai memujinya begitu. Siapa tadi namanya? Minseok. Sepertinya, ia pernah mendengar nama itu ketika mendengar Jongdae sedang bercerita atau berbicara dengan Luhan. Kalau tidak salah Jongdae pernah bilang namanya Kim Minseok. Ya, pasti itu.

“Ngomong-ngomong, ada perlu apa datang ke mari Nona Song?” tanya Minseok dengan nada sopan.

“Ada Jongdae tidak, Minseok Oppa?” Tanpa sadar, Aeri sudah memanggil Minseok dengan sebutan ‘Oppa’ mengingat ia sangat sulit untuk memanggil seorang lelaki yang baru dikenalnya.

“Jongdae?” ulang Minseok. “Ah, tadi sedang ada urusan dengan Yixing di panggung.”

“Panggung?” tanya Aeri dengan bingung. Sedetik kemudian, ia baru ingat kalau Jongdae memang –sepertinya suka menghibur pengunjung dengan suaranya jika ia mengingat pertamakali ia melihat pria itu bernyanyi di atas panggung.

“Kemarin kan kau tahu Jongdae menyanyi di acara pembukaan coffee shop ini. Bagaimana sih?” sahut Hyoae seraya mendecakkan lidahnya mengomentari sikap Aeri yang tergolong payah.

“Daripada lama menunggu seseorang yang kalian perlukan, lebih baik pesan sesuatu dulu. Untuk kalian berdua gratis,” kata Minseok sambil tersenyum.

“Yeahh! Asyiik!” seru Hyoae dengan nada senang. “Kalau begitu, aku pesan flat white, Oppa!”

“Oh, benarkah?” tanya Aeri dengan nada meyakinkan sekaligus ikut senang. “Aku ingin caramel macchiato saja, Oppa!”

Minseok tertawa melihat tingkah dua gadis yang berada di hadapannya. “Tunggu sebentar, akan segera datang pesanan kalian, Nona-nona.”

“Ri-ya, jarang-jarang Minseok Oppa memberikan ini padaku! Tak salah memang aku mengajakmu!” bisik Hyoae sambil tertawa senang setelah Minseok pergi.

“Aish, itu sih maumu! Haha~” ujar Aeri sambil ikut tertawa.

Sesekali, kedua matanya melirik ke segala penjuru ruangan. Coffee shop ini tak pernah sepi pengunjung selalu saja ramai dipadati pengunjung. Namun, suasana tenang tetap terjaga. Banyak sekali hiasan-hiasan yang tertempel di dinding-dinding bangunan tersebut.

Tak lama kemudian, Minseok kembali datang dengan membawa pesanan kedua gadis itu. Senyum lucu milik lelaki itu tak pernah lepas dari wajahnya.

“Nah, ini dia,” kata Minseok seraya menyajikannya di depan kedua gadis itu. “Selagi kalian menikmati pesanannya, akan kupanggilkan orang-orang yang kalian perlukan.”

Hyoae mengangguk sambil menyesap flat white pesanannya. Sementara, Aeri memandang secangkir caramel macchiato pesanannya sejenak, lalu meminumnya. Aroma caramelnya semakin terasa di lidah ketika ia merasakan sensasi rasa yang unik.

“Kau potong rambut?”

Uhuk! Aeri langsung tersedak minumannya karena kaget. Seketika, pandangan gadis itu langsung ke sumber suara. Di hadapannya sudah berdiri Jongdae dengan rambut berwarna merah marun memandang Aeri dengan pandangan ‘sedang-apa-kau-di-sini’. Aeri merasa pertanyaan yang lelaki ini lontarkan dengan tatapannya amat berbeda.

“Iya. Dan, aku ingin bicara denganmu.” Aeri berucap langsung ke intinya. “Tentang itu.”

Jongdae mengerti dengan ‘itu’ yang Aeri maksud. “Baiklah, tunggu sebentar. Aku harus membereskan urusanku dulu, nanti kalau sudah selesai aku akan ke sini.”

Aeri mengangguk pelan menanggapi kata Jongdae, setelah itu Jongdae berbalik pergi.

“Apa maksudnya?” tanya Hyoae tak mengerti setelah beberapa detik menyaksikan adegan percakapan antara Jongdae dan Aeri.

“Kau tak perlu tahu, Nona Jung,” ujar Aeri. “Nah, Luhan Sunbae sudah datang dengan Jongdae. Itu berarti aku harus pergi, Hyoae-ya. Dah~”

“Ah, Ri-yaa. Mau ke mana kau? Nanti aku pulang bagaimana?” tanya Hyoae dengan nada merajuk.

“Nanti kau minta saja pada Luhan Sunbae untuk mengantarmu pulang. Pokoknya, aku harus pergi dengan Jongdae,” kata Aeri.

“Mau kencan ya?” terka Hyoae dengan mata setengah menyelidik.

“Enak saja kau! Sembarangan!” seru Aeri dengan nada tinggi karena ucapan Hyoae mulai kacau.

Tak lama, Jongdae sudah berada di ambang pintu masuk coffee shop berseru pada Minseok. “Ri-ya, ayo dan jangan lupakan untuk membawa minumanmu. Minseok Hyung, aku keluar sebentar ya!”

***

“Kakimu sudah sembuh?”

Aeri menoleh ke arah Jongdae yang berjarak beberapa meter darinya. Gadis itu sengaja berjalan agak berjauhan dengan Jongdae karena perasaan gugup menyelimuti dirinya sejak Jongdae mengajaknya keluar dari coffee shop. Dan ucapan Jongdae yang terlontar adalah kalimat yang pertama Aeri dengar setelah sekian lama saling terdiam.

“Sudah.” Aeri menjawab dengan singkat. Kemudian, dengan gerakan canggung gadis itu menyeruput caramel macchiato yang sengaja ia bawa setelah dipindahkan ke gelas karton oleh Minseok.

Saat ini mereka sedang berjalan menuju sebuah jalanan sepi tak jauh dari coffee shop yang kini sedang dipenuhi oleh pepohonan rindang dengan dedaunan berwarna hijau. Dan dari kejauhan Aeri dapat melihat beberapa ayunan besar teronggok tanpa pemain.

“Oh! Ayunan! Jongdae-ya, ayo kita ke sana!” ajak Aeri sambil berlari cepat.

“Yaa!! Jangan berlari! Mentang-mentang kakimu sudah sembuh!” ingat Jongdae yang pada akhirnya sama sekali tak dihiraukan oleh Aeri karena sudah berlalu.

Saat Jongdae berjalan menuju ke tempat yang Aeri maksud, gadis itu sudah duduk di kursi ayunan itu. Kayu peyangga ayunan itu berdiri kokoh nan tinggi menjulang dan Jongdae dapat menaksir tinggi kayu tersebut mencapai sekitar 10 meter bahkan lebih. Dan tali yang menjadi pegangannya amat panjang dan pastinya sangat kuat.

“Apa yang ingin kau bicarakan denganku?” tanya Jongdae langsung pada intinya sambil memandang Aeri.

Sementara, gadis itu terdiam sejenak memandang mata Jongdae sekilas kemudian berdeham pelan. “Duduklah dulu. Aku akan memberitahumu.”

Akhirnya, Jongdae duduk di ayunan tepat di sebelah Aeri. Kemudian, matanya kembali memandang Aeri. “Sekarang beritahu aku.”

Aeri masih diam sebelum kembali membuka mulutnya. “Aku kan sudah bilang tadi di coffee shop. Ini tentang ‘Love Note’.”

Sudah kuduga, pikir Jongdae. Lelaki itu mencoba menenangkan hatinya ketika pikirannya langsung terbesit dengan si pemain baru. Huang Zitao. “Ada apa dengan itu?”

“Aku dengar dari Yeonjoo Eonni, katanya ada pemain baru. Siapa itu?” tanya Aeri akhirnya. “Dan, siapa yang akan menjadi sasarannya? Kemarin kau dan Kyuhyun Oppa ‘kan bersaing untuk mendapatkan Yeonjoo Eonni, dan aku harus berjuang untuk mendapatkan hati Kyuhyun Oppa. Sekarang siapa lagi?”

Jongdae memandang Aeri. “Apa yang kautakutkan?” kata Jongdae balik bertanya.

“Aku..” Aeri mengantungkan ucapannya seraya berpikir. “Takut terluka lagi. Setelah kemarin kalah telak mendapatkan Kyuhyun Oppa dan menjadi debu. Kalau sekarang ada pemain baru, aku tak ingin terlibat lagi.”

Perlahan, Jongdae bangkit dari duduknya dan berjalan untuk berjongkok di depan Aeri. Gadis itu agak kaget melihat sikap yang Jongdae ambil sekarang.

“A-apa yang kau―”

“―Maafkan aku..”

Aeri memandang Jongdae dengan pandangan tak mengerti. Namun, gadis itu dapat merasakan kehangatan ke sekujur tubuhnya ketika ia tahu kedua tangannya digenggam oleh kedua tangan hangat nan kokoh milik Jongdae.

“Kenapa kau―”

“―Aku tidak tahu apakah kau akan terluka lagi nanti. Kalaupun kau terluka lagi karena permainan itu, aku akan berusaha melindungimu apapun yang terjadi.” Jongdae berkata sambil memandang Aeri dengan dalam.

“Apa?”

***

Apakah pemain barunya seorang gadis? Dan dengan begitu Jongdae siap berusaha melindungiku kalau aku akan terluka lagi karena Kyuhyun Oppa? Tapi, kalau Kyuhyun Oppa masih bermain… bagaimana nasibnya Yeonjoo Eonni? Jadi, sebenarnya pemainnya itu gadis yang ingin mendapatkan Kyuhyun Oppa atau Jongdae?

Selama perjalanan pulang menuju asrama, Aeri tak pernah berhenti berpikir. Otaknya terus bekerja memikirkan satu hal yang –menurutnya tak pernah usai. Tapi, perasaan Aeri pada Kyuhyun kini entah mengapa perlahan menghilang…. Ada apa dengannya sekarang? Kalau begitu, siapa yang harus ia perjuangkan di ‘Love Note’ kali ini?

Ah iya, kata Jongdae tadi….

“Lalu, apa warna notenya? Setidaknya berikan aku satu petunjuk agar aku bisa memecahkannya sendiri.”

Aeri memandang Jongdae yang kini sedang berpikir sejenak. “Merah.”

Warna note pemain itu berwarna merah. Berarti siapa? Aku tak mungkin mengelilingi seluruh kampus hanya untuk mencari seorang pemain ‘Love Note’ dengan warna note merah. Oh Tuhan, hal itu cukup terdengar konyol.

“Aiissh!! Aku bisa gila!” ungkap Aeri sambil memegang kepalanya dengan rasa frustasi. “Aku harus bercerita pada Tao Gege. Dia adalah satu-satunya yang bisa mendengarkan keluh kesah macam ini dan memberikan solusi yang bagus.”

Segera, Aeri berlari menuju asrama. Dan, ketika sampai ke kamar Tao Aeri segera mengetuk pintu kamar lelaki itu.

“Gege!! Ini aku!!” teriak Aeri dari luar.

“Masuk saja!”

Segera, Aeri memutar kenop pintu kamar Tao dan membukanya. Ketika pintunya terbuka, tampak Tao sedang berjalan ke arah pintu untuk menyambut Aeri sambil membawa sebotol susu.

“Gege, aku mau bicara….”

Ucapan Aeri menggantung begitu saja ketika kedua matanya menangkap sesuatu yang aneh di sebuah meja kamar Tao. Sebuah tumpukan kertas aneh dengan warna-warna yang khas—dan sepertinya tak asing lagi di matanya. Dan, warna yang paling mendominasi diantara semuanya adalah merah.

“Lalu, apa warna notenya? Setidaknya berikan aku satu petunjuk agar aku bisa memecahkannya sendiri.”

“Merah.”

“Kenapa?” tanya Tao dengan nada ingin tahu. Hal itu membuat Aeri segera tersadar.

Namun bukannya menjawab pertanyaan Tao, Aeri malah kembali berpikir. Merah. Tao Gege juga punya warna kertas yang sama denganku dan warna yang paling mendominasi adalah merah. Jangan-jangan….

“Gege…. Pemain ‘Love Note’ juga?” tanya Aeri langsung sambil menatap Tao.

― To Be Continiued ―

Iklan

Mind to Review? ^ ^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s