Love Note : 11th First Confusion

love note cover 8

© Aeri_Tamie’s Script Writer

Casts : Song Aeri; Kim Jongdae (EXO-M’s Chen); Cho Kyuhyun (Super Junior’s Kyuhyun); Shin Yeonjoo

Other Casts : You can find it in here ^^

Genre : Romance, Drama, Friendship, Comedy Rated : PG-17 Length : Chapter

Disclaimer : 20131025 © Aeri_Tamie

Previous Chapter :

1st Unexpected 2nd (Really) Unexpected 3rd Complicated 4th Let’s Play 5th Grey Paper 6th Love & Dust 7th Pain 8th Confession 9th Unpredictable 10th New

Note      : Finally! Akhirnya, rilis yang kesebelas! Pusing saya mikirin ini kapan kelarnya fict ini Ya Rabb! >.< Tapi, bersabarlah. Saya yang nulis juga udah gregetan setengah idup, kapan sih ini ending? Terus, ini ujungnya si Aeri jadinya sama Jongdae atau Kyuhyun atau Tao? Apa kalian memikirkan hal yang sama kayak saya? Kalo sama, KITA SEHATI DONGGS~ #gilakparah. Tapi, saya sudah sangat frustasi. Soalnya, saya sempat ingin memutuskan buat nyelesain fict ini tahun ini juga. Jadi, harap bersabar ya. Biar UN nanti saya tenang. Wkwk! Happy reading ya~ ^^

***

» Story 11 : First Confusion

“Bi, aku mungkin bisa jelaskan ini. Tapi―”

“Dwasseo, Gege.”

Tao menatap tubuh Aeri yang berjalan tanpa tenaga membelakanginya. Sementara, Aeri merasa seperti seluruh otak, otot, bahkan tulang gadis itu melemas. Hingga jika ada sebuah benda padat mengenai tubuhnya, maka dengan mudah akan roboh begitu saja.

“Bi..”

“Aku baru tahu kalau Gege juga menyukai Yeonjoo Eonni,” ungkap Aeri dengan nada sedikit terbata.

“Apa?”

Aeri perlahan menoleh ke arah Tao dengan pandangan menyakinkan. “Iya kan?”

“Apa kau tidak tahu? Pemain ‘Love Note’ tidak lagi melibatkan gadis lain selain kau,” jawab Tao.

“Apa?” Aeri menatap Tao dengan pandangan terkejut bukan main.

Jadi, hanya aku pemain perempuannya? Pikir Aeri dengan kaget.

“Kau pikir, alasanku bisa terlibat dalam permainan ini karena Yeonjoo Sunbae pacarnya Cho Kyuhyun itu? Tentu saja bukan,” ucap Tao.

“Lalu apa?”

“Kau.”

“Hah?!”

***

“Kyu….”

“Ne?”

Kyuhyun memandang Yeonjoo setelah sedaritadi lelaki itu mengabaikan gadisnya dengan menyelesaikan tugas laporan kuliahnya di sebuah kafe dekat kampus tempat biasa mereka bertemu. “Ada apa?” tanya Kyuhyun dengan nada lembut.

“Aku… sudah dengar semuanya,” kata Yeonjoo seraya mengaduk-aduk hot chocolate miliknya. “Katanya kau mau memulai lagi ‘Love Note’. Apa itu benar?”

Kyuhyun terdiam untuk berpikir sejenak. Kemudian, mengangguk. “Ya.”

“Siapa pemain baru itu? Aku dengar juga ada pemain tambahan..” tambah Yeonjoo.

“Seorang anak lelaki bernama Huang Zitao akan bermain ‘Love Note’ kali ini bersamaku dan Jongdae. Dan yang akan menjadi sasaran gadisnya adalah Aeri,” jelas Kyuhyun.

“Apa?” tanya Yeonjoo dengan nada setengah terkejut. “Tapi… apa Aeri sudah tahu hal ini? Dan, apa aku akan terlibat lagi, Kyu?”

Kyuhyun menjawab pertanyaan Yeonjoo dengan gelengan kepala. “Tidak, sayang. Tenang saja, kau tidak akan terlibat lagi karena kau sudah menjadi gadisku.”

Yeonjoo masih bingung dengan jawaban Kyuhyun yang–menurutnya aneh. “Lalu, kau? Apa tujuanmu sebenarnya hingga kau memutuskan untuk kembali terlibat dalam permainan itu?”

Kyuhyun hanya tersenyum simpul. “Memang kau pikir aku akan mengambil hati Aeri yang sudah ia buang demi kita? Tidak. Bukan itu tujuanku.”

“Lalu?”

“Ada hal yang lebih penting dari itu, Joo,” ungkap Kyuhyun sambil tersenyum simpul.

***

Tak terasa dua minggu sudah berlalu begitu saja. Dan, di hari Senin pagi yang cerah merupakan awal pertama Aeri kembali ke aktivitas semula. Menjadi mahasiswa yang selalu tenggelam dengan tugas-tugasnya. Dan sebenarnya yang paling kentara tidak terasa adalah saat ini telah memasuki musim gugur.

Aeri mulai merapatkan mantel cokelat mudanya sambil berjalan menuju kampusnya. Pikiran di otaknya berusaha menepiskan urusan tentang ‘Love Note’, hingga tanpa sadar dahinya berkerut.

“Hei.”

Aeri segera menoleh ketika mendengar seseorang menyapanya. Tampak, Jongdae sedang mengayuhkan sepedanya dan berhenti tepat di sebelah Aeri.

“Kau sudah kembali ke aktivitas semulamu? Mau menumpang tidak?” tawar Jongdae.

“Tidak, terima kasih,” tolak Aeri dengan nada halus. Saat ini moodnya memang tidak bagus dan ia hanya ingin sendiri.

“Benar? Ya sudah kalau tidak mau.” Jongdae menjawab seraya mulai meninggalkan Aeri dengan mengayuh sepedanya.

Sesaat kemudian, tiba-tiba Aeri teringat sesuatu yang ingin dibicarakan pada Jongdae. Dengan suara keras, Aeri memanggil Jongdae. “Jongdae-yaaa!!”

Seketika, Jongdae menghentikan kayuhan sepedanya dan menoleh. “Apa lagi?”

Akhirnya, Aeri menaiki sepeda yang dikendarai oleh Jongdae. Gadis itu memandang punggung Jongdae yang sontak saja membuat tubuhnya menegang. Ia bingung harus memegang apa agar bisa selamat sampai tujuan.

“Hei, daritadi kau diam saja. Kenapa?”

Aeri tersentak kaget dengan ucapan Jongdae yang tiba-tiba. Dengan refleks, ia meremas mantel Jongdae dan menyahut pelan. “Aku baik-baik saja kok.”

Tampak, Jongdae mengangguk-angguk mengerti. “Apa kau masih memikirkan si pemain baru?”

Aeri terdiam. Sepertinya lelaki ini bisa membaca pikirannya. Bagaimana bisa topik yang ia bicarakan sekarang adalah hal yang ingin kuberitahu, pikir Aeri. Kemudian, ia menggeleng pelan. “Aku sudah tahu siapa pemainnya. Ternyata, Tao Gege.”

“Kau tahu darimana?” tanya Jongdae dengan nada sedikit kaget. Ia begitu terkejut karena Aeri bisa tahu hal itu lebih cepat.

“Kemarin aku ke kamarnya dan tak sengaja melihat kertas note berwarna merah diantara merah jambu dan putih,” jawab Aeri singkat.

Tanpa sadar, kayuhan Jongdae telah sampai di kampus. Dengan segera, Aeri turun dan membenarkan mantelnya. “Terima kasih atas tumpangannya, Jongdae-ya. Aku harus masuk kelas.”

“Ya, hati-hati,” jawab Jongdae sambil tersenyum.

Tanpa sadar, Aeri merasakan jantungnya mulai berdebar-debar dan tubuhnya mulai menegang ketika melihat senyum yang terukir di bibir lelaki itu. Dengan segera, ia berbalik dan berlari cepat menuju kelasnya tanpa menoleh sedikitpun ke arah Jongdae.

***

Siang harinya, Aeri berjalan mondar-mandir di depan rak buku. Sesekali, ia misuh-misuh pada Dosen Hwang yang sukses membuatnya pusing dengan tugas yang beliau berikan padanya. Padahal, ini hari pertama masuk kuliah lagi setelah libur panjang yang memusingkan, pikir Aeri.

“Mencari apa?”

Aeri menoleh dan agak terkejut ketika tiba-tiba melihat kehadiran Tao di perpustakaan. “Gege? Sedang apa kau di sini?”

“Ini kan tempat umum. Masa aku dilarang datang ke sini?” balas Tao. “Aku mencari buku untuk referensi tugasku.”

“Oh, begitu,” jawab Aeri dengan nada agak kaku.

Dan sekarang, Aeri agak risih dengan kehadiran Tao. Tidak biasanya karena bila ia bertemu dengan lelaki itu, maka gadis itu akan menghampirinya, menyapanya dan mengajaknya bicara. Namun, kali ini tidak sama sekali. Ini pasti karena percakapan kemarin. Tidak bisa begini. Aku harus pergi dari sini, pikir Aeri. “Gege, aku pergi dulu ya. Aku ada kelas. Sampai jumpa di asrama.”

“Ah, iya.”

Tao memandang punggung tubuh Aeri yang perlahan berjalan semakin menjauh. Ia mulai heran dengan sikap Aeri yang untuk pertama kalinya menghindar dari lelaki itu. Mungkin gadis itu banyak pikiran, pikir Tao optimis seraya kembali terfokus pada buku yang hendak ia cari.

Sementara, Aeri langsung membereskan semua barang-barangnya dan keluar dari perpustakaan dengan tergesa-gesa untuk menghindari lelaki itu. Dan karena Tao pula, untuk pertama kalinya ia hanya menghabiskan waktu di perpustakaan sekitar 2 jam. Biasanya, jika ia belum puas dengen sumber-sumber buku untuk tugasnya, maka ia akan terus mencarinya sampai sore. Pernah ia meminjam buku untuk sumbernya sekitar 12 buku, hingga Nyonya Jang—sang pustakawati hanya menggelengkan kepalanya.

Aeri mengendus sebal saat duduk di bangku kantin sembari melirik ke arah 2 buku yang berhasil ia temukan diantara sekian banyak buku. Kalau begini, bagaimana bisa aku mengerjakan tugas dari Dosen Joo? Pikir Aeri.

“Aish, menyebalkan,” gerutu gadis itu. Ini semua karena permainan ‘Love Note’ sialan itu, tambah gadis itu dalam hati.

“Ri-ya!”

“Huwaa!!”

Aeri tersentak kaget dan menatap tajam seseorang yang kini sudah berada di hadapannya. Cho Kyuhyun kini sedang duduk di hadapannya sambil tersenyum. “Kyuhyun Oppa! Pintar sekali mengagetkanku!” sungut Aeri kesal.

“Bagaimana kabarmu?” tanya Kyuhyun dengan wajah sumringah.

Sementara, gadis yang ditanyai Kyuhyun malah mengerutkan keningnya. Heran dengan sikap Kyuhyun kali ini. “Hah?”

“Lama tak bertemu, ternyata kau semakin lama semakin manis saja ya, Ri-ya,” ungkap Kyuhyun yang membuat Aeri semakin heran dan bingung atas sikap lelaki di hadapannya.

Apa-apaan ini? Apa dia sudah salah minum obat? Kenapa tiba-tiba dia aneh begini? Sejak kapan lelaki ini pintar memuji orang lain? Apa dia sekarang sudah pandai memuji setelah dulu yang sering ia lakukan hanya pintar mencela orang lain? Atau, apa dia terkena penyakit lupa ingatan semacam amnesia atau alzaimer? Berbagai macam pertanyaan langsung memenuhi otak Aeri ketika melihat Kyuhyun tiba-tiba bersikap manis begini.

Dengan refleks, punggung tangan Aeri menyentuh kening Kyuhyun seraya merasakan sesuatu. Sedangkan, Kyuhyun bingung dengan sikap Aeri yang tiba-tiba begitu—menurutnya.

“Ada apa?” tanya Kyuhyun.

Aeri masih diam. Kemudian, ia menurunkan punggung tangannya dan berkata, “Padahal, keningmu tak panas.”

“Kau pikir aku ini gila?” tanya Kyuhyun mulai kesal.

“Bukan begitu,” jawab Aeri. “Tidak biasanya kau bersikap manis dan memujiku, Oppa. Kau pikir aku bodoh dan tak tahu sifatmu? Kita ini kan sudah saling kenal sejak aku masih berumur 10 tahun. Memangnya kau pikir kita ini seperti baru mengenal sejak kemarin sore?” ungkap Aeri dengan nada setengah dongkol.

Namun, Kyuhyun malah tertawa renyah mendengar ucapan Aeri. Hal itu hanya membuat Aeri semakin bingung.

“Oppa, kau ini kenapa sih?” tanya Aeri dengan nada tak mengerti.

Kyuhyun tersenyum simpul untuk menyahuti pertanyaan Aeri. “Aku baik-baik saja kok. Aku harus pergi sekarang. Sampai nanti, adik kecil,” kata Kyuhyun sambil bangkit dari duduknya dan berjalan pergi meninggalkan Aeri begitu saja.

Sementara, Aeri hanya menggerutu melihat Kyuhyun yang telah pergi. “Apa-apaan sih maksudnya itu?” dengusnya sebal.

***

Hari ini benar-benar aneh.

Aeri berpikir di dalam kelas yang telah kosong sejak beberapa menit lalu. Dagunya bertumpu pada sikut tangannya yang menapak pada meja kursinya. Wajahnya tampak ditekuk.

Aeri merasa hari ini agak ganjil. Yah, bagaimana tidak. Sepanjang hari ini ia bertemu dengan orang-orang—yang sebenarnya tak ingin ia temui. Pertama, ia bertemu dengan Jongdae saat berangkat ke kampus. Lalu, ia bertemu dengan Tao di perpustakaan. Terakhir, ia bertemu Kyuhyun di kantin kampus.

“Ini aneh. Ini aneh. Ini aneh,” gumam Aeri berulang-ulang seraya memegangi kepalanya.

“Apanya yang aneh, Ri-ya?”

Sontak, Aeri menoleh dan mendapati Hyoae dan Youngmi sedang berjalan menghampirinya. “Ah, kalian sudah datang. Aku menunggu kalian,” ucap Aeri tiba-tiba.

“Apaan sih maksudmu?” tanya Hyoae dengan nada heran. “Bahkan kita saja tidak ada perjanjian untuk pulang bersama. Ini mendadak tahu karena aku dan Youngmi tadi tak sengaja bertemu di sepanjang lorong dan tadi berencana untuk menemuimu di kelas untuk pulang bersama.”

“Oh, begitu. Kalau begitu, ayo kita pulang,” ajak Aeri cepat sambil menggamit tangan kedua teman asramanya itu dan meninggalkan kelas tersebut.

Selama perjalanan menelusuri kampus, sedaritadi Aeri hanya diam karena terlalu sibuk berpikir. Sedangkan, Hyoae dan Youngmi yang asyik bercakap-cakap membicarakan topik yang seru membuat mereka harus menghentikan pembicaraan seru mereka karena sikap Aeri yang aneh.

“Kau kenapa sih?” tanya Youngmi yang mampu membuat Aeri tersadar dari lamunannya.

“Aku? Aku baik-baik saja kok,” jawab Aeri singkat sambil menatap ke sekeliling.

“Oh, Ri-ya! Itu Jongdae Sunbae kan? Sedang dengan…. Kyuhyun Sunbae dan Tao Gege?” ucap Hyoae dengan nada heran.

Seketika, pandangan Aeri langsung terfokus pada arah yang Hyoae bicarakan. Tampak, Jongdae sedang mengobrol dengan Kyuhyun dan Tao. Tumben sekali mereka mengobrol. Ada gerangan apa sih mereka? Pikir Aeri. Kebersamaan mereka entah kenapa membuatku curiga saja, tambahnya dalam hati.

Di sisi lain, Jongdae, Kyuhyun dan Tao sedang berjalan bersama menuju tempat parkir. Ini kali pertamanya mereka berjalan bersama. Jadinya agak aneh bila dilihat orang lain.

“Jongdae Hyung, sebenarnya kau menyukai Bi tidak sih?”

Seketika, Jongdae melirik ke arah Tao yang sedang tersenyum miring dengan alis agak terangkat. “Memangnya kenapa? Pertanyaanmu lucu, Tao-ssi.”

“Kenapa lucu? Bukankah itu yang menjadi tujuanmu dari permainan ‘Love Note’ ini?” tanya Kyuhyun.

Jongdae hanya berdecak mendengar ucapan Kyuhyun. “Kyuhyun Hyung, jangan memancing-mancing.”

“Lho, bukankah itu semua benar?” tanya Kyuhyun dengan nada memastikan.

“Kalau Hyung tidak suka pada Bi, biarkan aku yang kali ini merebut hatinya ya,” ucap Tao langsung yang mampu membuat Jongdae menoleh ke arah Tao dengan kaget.

“Nah, Jongdae-ya. Sekarang sainganmu bukan hanya aku, masih ada Huang Zitao,” celetuk Kyuhyun sambil tersenyum simpul.

Hal itu hanya membuat Jongdae berpikir sejenak. Kemudian, berjalan lebih cepat dan meninggalkan Kyuhyun dan Tao. “Terserah kalian saja.”

***

Malam hari, Aeri hendak berjalan keluar menuju supermarket karena mengingat stok di lemari esnya telah menipis. Ia keluar dari asrama seraya merapatkan mantelnya. Udara musim gugur di malam hari memang mulai dingin. Sebelumnya, ia ingin mengajak Yoora untuk menemaninya. Tapi…

“Maafkan aku, Ri-ya. Malam ini aku harus mengerjakan tugasku dulu. Besok aku harus mengumpulkan tugasku itu,” sesal Yoora.

Kalau mengingat itu, Aeri hanya bisa mengendus sebal. Mungkin ini bukan keberuntungannya, pikir Aeri. Selama perjalanan, kedua mata gadis itu tak lepas dari langit malam yang bertabur dengan bintang. Gadis itu melihat diantara sekian banyak bintang, ada tiga diantaranya yang paling bersinar terang.

“Tiga bintang itu mirip dengan mereka tadi,” ucap Aeri bermonolog.

Entah kenapa, pikiran Aeri langsung tertuju pada Jongdae, Kyuhyun dan Tao ketika melihat tiga bintang tersebut.

Tanpa sadar, langkah gadis itu sampai di depan supermarket. Dan secepat kilat, Aeri membeli semua kebutuhan hidupnya di asrama seperti susu, telur, roti tawar, sayur-mayur, buah-buahan, beberapa ramyun, jus jambu—tentu saja yang terpenting baginya, bumbu penyedap, dan beberapa snack yang bisa ia makan di waktu senggang.

Rasanya gadis itu ingin segera cepat sampai di asrama ketika ia mulai merasakan perasaan tak enak yang akan segera menimpa. Tidak, tidak boleh terjadi, pikir Aeri sembari mulai berjalan cepat. Ia berdoa agar ia selamat sampai tujuan.

Namun, doanya tak terkabul ketika ia mendapati empat pria yang berjalan linglung. Dengan segera, Aeri berbalik hendak menghindar. Tetapi, sangat disayangkan ketika salah seorang dari mereka berhasil menggenggam pergelangan tangan gadis itu.

“Kenapa kau sendirian saja, Nona?”

“Nona, kau manis sekali~”

Dari kejauhan, Aeri dapat menghirup aroma alkohol yang berasal dari para pria itu. Ternyata mereka mabuk karena soju, pikir Aeri. “Lepaskan aku,” ucap Aeri dengan nada dingin dan berusaha tenang sembari berusaha melepaskan genggaman tangan salah satu lelaki itu dan berjalan mundur.

“Ayo bermain bersama kami, Nona.”

“Kau pikir kau akan bebas begitu saja? Ayo!”

Tangan Aeri langsung ditarik oleh mereka dan membuat semua belanjaan milik Aeri terjatuh berserakan. Hal ini membuat Aeri semakin panik dan ketakutan mulai menyelimuti dirinya. “Lepaskan aku!”

“Diam kau!” hardik salah seorang dari mereka.

“Lepaskan aku, brengsek!” seru Aeri tak mau kalah.

Tiba-tiba, lelaki yang menggenggam pergelangan tangan Aeri itu langsung menatap tajam gadis itu. “Kau pikir akan ada orang yang menolongmu di malam hari begini? Mimpi saja, Nona!”

“Kumohon, lepaskan aku sekarang!” teriak Aeri. “Tolooong!!!”

“Tutup mulutmu!” bentak mereka yang berhasil membuat Aeri semakin ketakutan.

“BRENGSEK KAU!”

Dengan cepat Aeri menoleh ke sumber suara. Ia terkejut ketika melihat Jongdae berlari dan dengan lincah dan cekatan langsung menghajar keempat pria asing tersebut. Tangan yang menggenggam pergelangan tangan Aeri juga berusaha dilepaskan oleh Jongdae.

“Pergi kalian dan jangan pernah muncul lagi di sini atau aku akan laporkan kalian ke polisi!” usir Jongdae akhirnya setelah berhasil menghajar mereka semua.

Tampak, gerombolan pria itu menatap Jongdae sekilas, lalu berlari sekencang mungkin.

Setelah itu, lelaki itu menatap Aeri dengan pandangan cemas. “Ri-ya, kau tidak apa-apa?”

Aeri menatap Jongdae dengan napas terengah-engah dan pandangannya tak fokus. Ini mimpi buruk, pikir Aeri. Tanpa merespon pertanyaan Jongdae, Aeri berbalik dan berjalan pelan. Tubuhnya seketika melemas dan kedua tangan serta kakinya gemetaran. Ia sudah tak mampu berpikir dengan jernih. Bahkan, ia sudah tak peduli lagi dengan belanjaannya.

“Ri-ya….”

Jongdae segera berjalan mengejar Aeri dan membalikkan tubuh lemas gadis tersebut. “Kau baik-baik saja kan?” tanyanya dengan nada khawatir sambil memegang bahu Aeri dan menatap matanya.

Jongdae dapat melihat napas Aeri yang tak teratur itu berubah menjadi airmata yang perlahan mengalir dari pelupuk mata gadis itu. Gadis itu masih diam. “Ri-ya?”

“Perasaanku tidak karuan. Aku merasa dipermalukan. Posisiku seperti berada di dalam roller coaster dengan kondisi terbalik. Darahku seolah menyumbat otakku dan membuatku sulit untuk berpikir. Jantungku berdetak dengan hebat. Rasa ketakutan mulai menyelimutiku dan membuatku gelisah. Tapi, para lelaki itu seolah menertawaiku dan tawa mereka seolah sangat keras dan bergema di kedua telingaku….” ucap Aeri akhirnya sambil terisak dan menangis dengan keras. Airmatanya mulai mengalir dengan keras.

Jongdae yang melihat itu, dengan refleks ia memeluk Aeri begitu erat. “Semuanya akan baik-baik saja. Tidak ada yang terjadi padamu, Ri-ya. Aku akan berusaha melindungimu apapun yang terjadi. Jangan khawatir, semuanya akan baik-baik saja,” ucapnya menenangkan seraya mengelus rambut Aeri. “Jangan menangis lagi, kumohon.”

Aeri yang merasa dipeluk oleh Jongdae, perlahan kedua tangan gadis itu membalas pelukan hangat Jongdae dan ikut memeluk lelaki itu dengan erat seolah Jongdae adalah sandaran yang terbaik untuknya kali ini.

***

“Sudah merasa lebih baik?”

Jongdae berjalan menghampiri dan memandang Aeri yang kini sedang terduduk di sebuah bangku kayu dekat taman bermain. Gadis itu rupanya sedang menenangkan hatinya seraya menghapus airmatanya tadi yang sempat mengalir deras dengan tisu. Jongdae bahkan dapat melihat hidung gadis itu agak memerah. “Sudah,” ucap Aeri dengan suara parau.

“Minumlah. Tubuhmu yang dingin karena udara malam ini akan menghangat dengan hot chocolate ini.” Jongdae menganjurkan seraya memberikan segelas karton hot chocolate yang baru saja ia beli.

“Terima kasih,” sahut Aeri sambil menerima hot chocolate tersebut dan meminumnya. “Terima kasih juga untuk semuanya, Jongdae-ya. Kalau tidak ada kau tadi, mungkin hidupku sudah tak ada artinya lagi..” lanjutnya dengan suara yang masih serak sambil menundukkan kepalanya.

Jongdae hanya menghelakan napas panjang sambil duduk di samping Aeri. “Jangan begitu. Lain kali, berhati-hatilah. Kalau kau ingin keluar di malam hari, setidaknya ajaklah Yoora atau Hyoae atau temanmu yang lain,” nasehatnya pada Aeri.

“Tadi semua orang sibuk dan aku tak enak bila mereka harus meninggalkan tugasnya demi diriku. Makanya, aku pergi sendiri. Tapi, niatnya tidak ingin merepotkan orang lain malah nyaris berujung petaka,” balas Aeri.

“Kalau begitu, kenapa kau tidak meneleponku tadi? Untung saja tadi aku ke supermarket dan membeli buku gambar untuk keponakanku,” jawab Jongdae.

Ucapan Jongdae yang terlontar membuat Aeri hanya bisa mengerutkan kening dan memandang Jongdae datar. Aneh. Kenapa harus dia yang aku telepon? Yah tapi, masuk akal juga sih, pikir Aeri. “Maafkan aku, tapi kau tadi sama sekali tak terlintas di pikiranku.”

“Oh, begitu,” jawab Jongdae.

Hening. Tak ada yang saling bicara lagi selain hembusan angin dan kesunyian malam.

“Ri-ya, siapa yang akan kaupilih nanti?”

“Apa?”

Aeri menoleh dan memandang Jongdae dengan bingung. “Maksudmu?”

“Apa kau… akan kembali berjuang untuk mendapatkan Kyuhyun Hyung dalam permainan ‘Love Note’ kali ini?” tanya Jongdae sambil memandang Aeri.

“Itu jelas tidak mungkin. Yeonjoo Eonni sudah memilikinya dan aku tak mungkin merebutnya lagi,” jawab Aeri sambil memandang ke arah langit malam.

“Kalau begitu, apa kau akan memilih Tao dan mengabaikanku?”

“Ne?”

Seketika, Aeri kembali menoleh ke arah Jongdae dan menatapnya. Tampak, Jongdae menatapnya dengan lekat hingga membuat tubuh gadis itu terasa membeku.

“Apa kau akan benar-benar begitu padaku?” tanya Jongdae lagi.

Lama mereka bersitatap, hingga akhirnya mereka saling membuang muka. Aeri menghelakan napas dengan wajah bersemu merah. Jantungnya mendadak berdegup kencang membuatnya bingung bagaimana cara menenangkannya. Apalagi, jantungnya akan semakin memburu ketika ia mengingat Jongdae yang menatapnya begitu lekat tadi.

Hal itu—menurut Aeri udara sekitarnya berubah menjadi panas. “Kenapa udara kali ini begitu panas?” ucapnya—seolah bermonolog.

“Ayo, pulang. Ini sudah malam,” ajak Jongdae sambil bangkit dari duduknya dengan cepat dan berdiri membelakangi Aeri. Sesekali, lelaki itu juga ikut menghelakan napas panjang.

***

Pip! Pip!

Aeri agak terkejut ketika ia sedang mengerjakan tugas di perpustakaan tiba-tiba mendengar suara nada dering yang berasal dari laptopnya yang teronggok manis. Sepertinya ada e-mail masuk, pikir Aeri. Akhirnya, ia membuka laptopnya dan mengecek kontak masuk di e-mailnya.

Alis mata Aeri agak terangkat ketika tahu ternyata e-mail tersebut berasal dari sang atasan di perusahaan penerbit, Lee Donghae.

From : Lee Donghae

Jangan lupa dengan dokumen-dokumen yang kuserahkan padamu untuk disunting. Kau sebagai seorang editor harus tahu kapan deadline-nya. Besok serahkan dokumen itu padaku untuk diperiksa.

Dokumen? Pikir Aeri. Ting! Ia baru ingat kalau beberapa minggu lalu sebelum liburan kuliahnya berakhir, Donghae memberikan tugas untuknya. Dan, gadis itu hampir saja melupakan bahwa tugas itu harus dikumpulkan segera. Besok deadline-nya kan? Sekarang hari apa?

Seketika, Aeri memeriksa kalender di laptopnya. Hari Kamis. Gadis itu baru menyadari bahwa hari telah berjalan begitu cepat. Padahal, rasanya baru kemarin hari Senin, pikirnya.

Aeri langsung membereskan semua barang yang ada di atas meja dan keluar dari perpustakaan. Sepanjang ingatannya, jadwal kuliahnya sudah selesai. Jadi, lebih baik ia langsung pulang ke asramanya untuk mengambil dokumennya dan menyerahkan tugasnya pada sang atasan hari ini.

Setelah sampai asrama, Aeri langsung menaruh tas jinjing berisi laptop miliknya dan mengambil dokuemn yang ia cari. Kemudian, ia kembali keluar asrama dan segera berjalan menuju halte untuk menunggu bus.

Tanpa membutuhkan waktu lama, Aeri sudah sampai di lorong kantor perusahaan penerbit tersebut. Kini ia sedang mencari ruangan Donghae setelah memberitahu resepsionis di lantai dasar. Ekspresi wajah gadis itu berubah menjadi sumringah ketika melihat seorang sekretaris di dekat sebuah pintu besar dan diantara seluruh karyawan editor yang sedang bekerja. Sangat kentara bahwa pintu tersebut merupakan pintu masuk ruangan sang kepala editor.

“Hei, Aeri-ya. Lama tak bertemu denganmu!” seru seseorang diantara para karyawan editor lain yang membuat Aeri harus menoleh ke sumber suara.

Aeri dapat melihat para karyawan editor tersebut menyapanya sambil tersenyum. “Hai semuanya,” sapa Aeri sambil tersenyum. Ia senang karena bisa melihat teman-teman karyawan editornya yang dulu telah membimbingnya selama bekerja paruh waktu.

“Aeri-ya, kapan kau bekerja intensif lagi? Kami merindukanmu~”

“Aeri-ya, hari ini kau ada waktu untuk makan siang bersama kami tidak? Biar Joonhee yang bayar.”

“Aeri-ya, sampai sekarang kau masih single tidak? Seokjin ingin menjadi kekasihmu.”

“Ah iya,” jawab Aeri sekenanya sambil berbalik karena menyerah dengan sahutan mereka. Sesaat kemudian, ia kembali menoleh untuk memandang mereka. “Aku harus menemui Donghae Sajangnim dulu untuk menyerahkan dokumen yang ia berikan padaku. Sampai nanti.”

“Hati-hati yaaa~”

Hati-hati? Memangnya aku mau ke mana lagi? Pikir Aeri dengan aneh.

“Permisi, apa ada yang bisa saya bantu?” tanya sekretaris tersebut ketika tahu Aeri sedang berjalan menghampirinya.

“Saya ingin bertemu dengan kepala editor Lee,” jawab Aeri.

“Tunggu sebentar.”

Aeri mengangguk ketika sekretaris tersebut bangkit dari duduknya dan masuk ke ruangan tersebut. Tak butuh waktu lama, sekretaris tersebut telah kembali.

“Silahkan masuk. Beliau sudah menunggu anda katanya.”

“Terima kasih.”

Segera, Aeri masuk ke ruangan tersebut. Namun, ketika masuk ia tak mendapati siapapun. Aeri hanya memandang seluruh ruangan dengan dahi berkerut. Ke mana si kepala editor itu? Pikirnya. Dan, Aeri memutuskan untuk memandang sekeliling ruangan. Banyak sekali lukisan-lukisan—yang menurutnya aneh dan artistik. Ia cukup tak menyangka bahwa Donghae begitu menyukai seni.

Tapi, pandangan gadis itu tiba-tiba behenrti ke arah meja kerja atasannya yang begitu berantakan. Bukan kertas-kertas pekerjaannya yang berantakan. Namun, diantara sekian banyak kertas tersebut ada beberapa kertas yang amat ia kenali.

Perlahan, kaki gadis itu melangkah untuk mendekati meja kerja Donghae dan mengambil sebuah kertas note berwarna merah jambu yang tergeletak di dekat kaki meja. Napas Aeri semakin tercekat ketika melihat tidak hanya beberapa pink note yang bertebaran di sana, ada white note, green note, yellow note, red note, purple note, dan bahkan blue note miliknya. Ini kan… permainan ‘Love Note’. Apa ini? Kenapa semua note milik para pemain ada di sini semua, termasuk punyaku?

“Ri-ya, kau sudah datang?”

Aeri menoleh dan mendapati Donghae sedang membenarkan dasi seraya menatapnya. “Ada ap…”

Donghae menggantungkan ucapannya ketika melihat apa yang dipegang oleh Aeri. “Ri-ya…” katanya bingung harus berkata apa. Ia kehabisan kata-kata.

Aeri menelan ludahnya dalam-dalam dan menatap Donghae dengan lekat sebelum berkata sesuatu. “Sunbae… sebenarnya kau siapa?”

― To Be Continued ―

Iklan

One thought on “Love Note : 11th First Confusion

Mind to Review? ^ ^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s