Love Note : 12th Realize

love note cover 9

© Aeri_Tamie’s Script Writer

Casts : Song Aeri; Kim Jongdae (EXO-M’s Chen); Cho Kyuhyun (Super Junior’s Kyuhyun); Shin Yeonjoo

Other Casts : You can find it in here ^^

Genre : Romance, Drama, Friendship, Comedy Rated : PG-17 Length : Chapter

Disclaimer : 20131025 © Aeri_Tamie

Previous Chapter :

1st Unexpected 2nd (Really) Unexpected 3rd Complicated 4th Let’s Play 5th Grey Paper 6th Love & Dust 7th Pain 8th Confession 9th Unpredictable 10th New 11th First Confusion

Note      : Finally! Udah nyampe 12 aja. Uhh, ngebut parah demi tahun ini gak mau ngerasain tanggungan fict mengingat saya udah kelas 12 (sesuai dengan chapter yang sekarang :D). Semoga kalian senang ya dengan fic ini sampe chapter terakhir. Janji deh, endingnya bentar lagi >/\< Happy reading and don’t forget to review this fic after you read it. Wuahaha XD

***

» Story 12 : Realize

“Jadi, selama ini Sunbae yang membuatku seperti orang gila karena terlibat permainan konyol ini? Lalu, Sunbae juga yang membuatku menangis seperti anak kecil karena kehilangan kesempatan untuk mendapatkan Kyuhyun Oppa? Dan, karena Sunbae juga Tao Gege terlibat dalam permainan omong kosong ini? Donghae Sunbae, jawab aku!”

Donghae tampak kehabisan kata ketika ia dihujani oleh pertanyaan Aeri yang bertubi-tubi. “Tenang dulu, Ri-ya. Aku akan menjelaskannya sebentar―”

“Jadi, karena Sunbae juga yang membuatku menyatakan perasaanku sesungguhnya pada Kyuhyun Oppa?! Lalu, karena Sunbae juga yang membuatku harus menyakiti perasaan Yeonjoo Eonni?! Karena Sunbae juga yang membuat perasaanku tidak karuan ketika melihat Jongdae?! Iya kan?! Sunbae!!” tukas Aeri dengan nada menyeru.

Pertanyaan terkahir yang terlontar dari bibir Aeri membuat Donghae berpikir sejenak. “Jadi, kau sudah berpaling ke arah si pemilik purple note itu?”

“Apa?”

Sontak, Aeri terdiam dan memandang Donghae dengan pandangan tak mengerti. Sementara, Donghae dapat bernapas lega ketika melihat Aeri yang langsung diam. Akhirnya, kau bisa diam, Nona Song, pikir lelaki itu.

“Apa sih maksudmu, Sunbae?! Purple note? Itu kan milik Jongdae!” tanya Aeri dengan bingung sekaligus penasaran dan tak sabaran.

Sementara, Donghae sama sekali tak menghiraukan gadis dan malah berpikir sendiri. “Ternyata sudah kuduga,” gumam Donghae pelan.

“Sunbae! Jawab pertanyaanku!” desak Aeri.

“Baiklah! Baiklah! Kau diam dulu!” jawab Donghae akhirnya yang membuat Aeri diam dan menatap Donghae dengan tatapan menuntut. Akhirnya, Donghae menarik napas panjang dan memandang Aeri. “Ya. Aku yang membuat permainan ‘Love Note’ ini. Aku yang membuat Cho Kyuhyun, Shin Yeonjoo dan Kim Jongdae terlibat dalam permainan ini saat 4 tahun yang lalu. Aku yang membuatmu ikut terjun ke sana. Dan aku juga yang membuat Huang Zitao juga ikut terlibat untuk permainan ini.”

“Lalu, apa tujuanmu sebenarnya, Lee Sajangnim?” tanya Aeri lagi.

“Yaa!! Berhenti bicara formal denganku!” seru Donghae yang mulai kesal dengan sikap Aeri. “Tujuanku adalah selain untuk tugas tesisku, aku juga ingin tahu apakah permainan yang kubuat ini berhasil atau tidak. Dan, aku memutuskan yang menjadi percobaannya adalah Cho Kyuhyun.”

“Kenapa harus dia?” tanya Aeri lagi dengan nada menyelidik.

“Dia adalah sepupuku, Nona Song,” jawab Donghae singkat yang membuat Aeri membulatkan kedua matanya karena terkejut.

“Apa?!” kata Aeri dengan nada tak percaya. “Ba-bagaimana bisa?”

Sementara, Donghae hanya bisa menutup kedua telinganya. “Tenanglah sedikit, Ri-ya. Maafkan aku, karena sejak awal aku tak memberitahumu sebenarnya. Aku ini adalah sepupu Kyuhyun. Ibunya itu adalah adiknya Ibuku. Dan, perlu kauketahui bahwa Cho Kyuhyunlah yang merekomendasikanmu untuk bekerja di perusahaan milikku ini.”

Penjelasan Donghae yang panjang lebar membuat Aeri kembali berpikir. Mendadak saja ia teringat dulu ketika perjalanan pulang dari kampus tiba-tiba ia dicegat oleh Lee Donghae dan menawarkan padanya agar mau bekerja paruh waktu di perusahaannya. Jadi, selama ini Kyuhyun Oppa yang merekomendasikanku untuk masuk ke perusahaan ini? pikir Aeri.

“Jujur saja, sewaktu kau menerima tawaran itu, Kyuhyun sama sekali tidak tahu dan aku memang sengaja tak memberitahunya. Makanya, dia sangat terkejut ketika aku mengetahui semuanya tentangmu,” cerita Donghae.

“Apa alasanmu melakukan hal itu?” tanya Aeri masih dengan nada menyelidik.

Donghae melirik ke arah Aeri sekilas. “Karena aku tahu, saat itu kau yang akan menjadi pemain ‘Love Note’ selanjutnya bersama dengan Cho Kyuhyun, Shin Yeonjoo, dan Kim Jongdae. Dan kini, aku telah memasukkan nama Huang Zitao di sana.”

Omong kosong macam apa ini?! batin Aeri dengan perasaan masih tak percaya. ia menatap Donghae dengan pandangan tak percaya. Kedua tangannya mulai mengepal dan tanpa mengatakan apapun ia bangkit dari duduknya dan hendak berjalan meninggalkan Donghae.

Sebelum Aeri meraih engsel pintu, Donghae kembali bicara dan membuat Aeri berhenti melangkah.

“Tapi, Ri-ya. Perlu kauketahui, jalannya permainan ini bukan atas permintaanku. Kalian sendiri yang sudah memulainya tanpa pola dan berjalan sesuai arus yang ada. Jadi, kalian sendiri juga yang harus mengakhirinya. Aku di sini hanyalah yang membuat dan mengamati jalan cerita yang kalian buat sendiri. Dan, tujuanku juga selain yang sebelumnya kukatakan agar kalian bisa menemukan cinta kalian masing-masing tanpa harus mengganggu satu sama lain.”

Aeri terdiam sejenak, kemudian tanpa pamit pada Donghae ia pergi begitu saja. Sementara, Donghae memandang kosong pintu yang telah tertutup dengan otomatis.

“Maafkan aku karena telah membuatmu terluka, Ri-ya. Tapi, aku sengaja melakukannya agar kau bisa melupakan Kyuhyun yang sudah milik Shin Yeonjoo dan ingin kau tahu bahwa keberadaanmu begitu berharga untuk orang-orang yang selalu mencintaimu dengan tulus.”

***

Selama perjalanan pulang dari kantor perusahaan Donghae, Aeri berjalan menelusuri trotoar dekat jalan raya dengan kepala tertunduk. Salah satu tangannya membawa segelas hot chocolate yang baru saja ia beli. Entah belakangan ini ia jadi lebih suka dengan hot chocolate ketimbang caramel macchiato. Sepertinya, ini karena Jongdae yang 4 hari lalu memberikannya segelas hote chocolate untuk menenangkannya.

Sekarang setelah ia tahu siapa yang membuat permainan konyol tersebut, malah membuat hatinya menjadi bimbang setengah mati. Sesekali, ucapan Donghae kembali bergaung di telinganya.

“….Dan, tujuanku juga selain yang sebelumnya kukatakan agar kalian bisa menemukan cinta kalian masing-masing tanpa harus mengganggu satu sama lain.”

Jadi, maksudnya aku harus mencari cinta lain selain Kyuhyun Oppa? pikir Aeri. Masalahnya, ia harus jatuh cinta pada siapa diantara para pemain ‘Love Note’? Jongdae atau Tao… Aeri mencoba mengingat ke belakang.

Setiap kali Tao datang dan selalu membawakan sebungkus ddubeokki, Aeri selalu senang. Terlebih, gadis itu paling senang jika lelaki itu selalu saja bersedia mendengarkan apapun ceritanya. Ketika ia amat bahagia, senang, sedih, dan semuanya ia ceritakan pada Tao. Namun, ia tak pernah berpikir bagaimana cara membalasnya.

Sementara Jongdae, ia selalu saja membuat Aeri tersenyum. Setiap kali Aeri terpuruk, Jongdae yang selalu berada di sampingnya, menolongnya, dan menghiburnya dengan caranya sendiri. Bercandanya yang menyebalkan kadang membuat gadis itu merindukannya.

Namun, memikirkan hal-hal aneh tersebut malah membuatnya semakin pusing.

“Aish! Sial!” umpat Aeri dengan nada sebal.

“Ri-ya!/Bi!”

Aeri langsung tersentak kaget. Ia mengenali suara ini. Tidak salah lagi, pasti dua lelaki itu, pikir Aeri. Lebih tepatnya, dua lelaki yang sedang ia pikirkan. Perlahan, Aeri membalikkan badannya dan melihat sebuah pemandangan aneh.

Tampak, Jongdae dan Tao sedang berjalan beriringan sambil membawa segelas kopi. Senyum yang terhias di bibir mereka membuat Aeri hanya bisa mengerutkan keningnya.

“Ada apa?” tanya Aeri datar. “Lalu, kenapa kalian tumben sekali berjalan berdua? Setahuku, kalian tidak begitu akrab.”

Jongdae dan Tao saling menoleh dan saling tatap. Butuh waktu berapa detik, tiba-tiba mereka tertawa keras yang hanya membuat Aeri semakin heran.

“Kalian ini kenapa sih?” tanya Aeri lagi.

“Lalu, kenapa kau berpikiran seperti itu? Kami ini kan teman,” ucap Tao sambil merangkul bahu Jongdae dan diikuti oleh Jongdae. “Benar kan, Hyung?”

“Haha~ Tentu saja benar,” jawab Jongdae sambil mengangguk-angguk.

Aeri yang semakin bingung, hanya bisa menggelengkan kepalanya. “Aish, aku bingung dengan tingkah kalian,” ucapnya asal sambil berjalan meninggalkan Jongdae dan Tao sendiri.

***

Esoknya, Aeri kembali menyusuri perpustakaan untuk mencari tugasnya yang sempat kurang karena kemarin ia terpaksa keluar dari tempat itu lebih cepat karena sempat datang kehadiran Tao yang membuatnya risih.

“Ri-ya!!”

“Uwaa―”

Sebelum gadis itu terlonjak kaget karena mendadak kehadiran Jongdae, lelaki itu langsung mendekap mulut Aeri dan menariknya ke sudut perpustakaan yang sepi.

“Ssstt! Jangan berteriak! Kau tak ingin kan Nyonya Jang mengusirmu dari sini karena membuat keributan?” bisik Jongdae.

Aeri mengangguk pelan. Dan akhirnya, Jongdae melepaskan dekapannya sambil bernapas lega. Butuh waktu beberapa menit untuk Aeri menyadari bahwa Jongdae telah berhasil membawanya ke tempat yang paling sepi. Hal itu membuat Aeri hanya bisa menelan ludahnya dalam-dalam.

“A-ada apa?” tanya Aeri dengan nada sedikit terbata-bata sambil menatap Jongdae dengan awas. Jaraknya dengan Jongdae yang agak dekat membuatnya harus lebih waspada.

“Kau diundang oleh ibuku untuk makan malam bersama di hari Minggu malam,” kata Jongdae. “Kata beliau, hari Minggu adalah hari ulang tahunku.”

Ulang tahun? Pikir Aeri. Ia mencoba mengingat ke belakang. Sepertinya setiap tahun Jongdae selalu memberikan hadiah ulang tahun untuknya. Gadis itu menjadi merasa bersalah karena ia tak pernah memberikan hadiah apapun untuk Jongdae—seingatnya.

“Kau mau datang kan?” pinta Jongdae. Terdengar, nadanya seolah memohon. “Ibuku juga mengundang teman-temanmu dan teman-temanku.”

Sesekali, Jongdae menghelakan napas dan helaan napasnya langsung menerpa wajah Aeri. Hal itu hanya membuat Aeri diam dan tak bisa menjawab ajakan Jongdae karena jantungnya muali berdebar-debar.

“Ri-ya?”

“Ne?”

Saat Aeri mendongak, tampak Jongdae sedang menatapnya dan jarak wajah mereka menjadi semakin dekat terhitung beberapa sentimeter lagi. Jantung gadis itu kembali memburu dan pandangan gadis itu mendadak tak fokus diawali dari manik mata pria itu, lalu hidungnya yang mancung, rahangnya yang tegas… dan bibir lelaki itu yang selalu ia gunakan untuk tersenyum. Oh, tidak! Pikiran kotor apa ini, Song Aeri?!

“Kau mau kan?” ulang Jongdae lagi yang berhasil membuat Aeri tersadar.

“Ne, ne, ne, ne, ne!! Aku akan datang!” jawab Aeri sambil mulai memejamkan kedua matanya sebelum pikiran aneh-aneh mulai masuk ke otaknya dan berjalan ke depan tanpa mempedulikan keberadaan Jongdae di sana.

“Kau―”

“Jangan mengajakku bicara lagi! Aku pasti datang!” seru Aeri pelan menukas ucapan Jongdae sambil berjalan cepat meninggalkan lelaki itu.

Dan, Aeri kembali ke meja yang dipenuhi oleh barang-barangnya dengan perasaan campur aduk. Jantungnya masih saja berdebar-debar dan wajahnya terasa memanas. Jongdae menyebalkan! Gerutu Aeri sebal. Sepertinya, kali ini ia akan gagal lagi mengumpulkan sumber-sumber untuk tugasnya minggu ini. Sial! Umpatnya dalam hati.

Di saat pikirannya berkecambuk tentang Jongdae, tiba-tiba ia teringat ulang tahun Jongdae di hari Minggu nanti. Hadiah apa yang cocok untuk Jongdae, ya? Pikir gadis itu. Segera, Aeri mencari nomor kontak di ponselnya dan menelepon seseorang. “Yeoboseyo? Hyoae-ya? Apa kau akan pergi ke Dongdaemun hari ini?”

***

“Kau mencari apa sih di Dongdaemun sampai-sampai kau tumben sekali ingin ikut denganku berbelanja?”

Hyoae sedaritadi terus saja bertanya pada Aeri sejak mereka berangkat ke Dongdaemun. Dan Aeri yang sebagai penjawabnya hanya diam. Matanya tetap terfokus mencari sebuah barang diantara sekian banyak barang yang terjual di Dongdaemun.

“Untuk keperluan di asrama atau apa? Mungkin aku bisa bantu,” sahut Hyoae.

Setelah Hyoae berkata begitu, Aeri langsung menoleh. “Kalau begitu hadiah apa yang cocok untuk seorang laki-laki?” tanya Aeri pada Hyoae.

“Laki-laki?” ulang Hyoae dengan alis sedikit terangkat. “Sejak kapan kau memberikan hadiah pada seorang laki-laki? Apa untuk Kyuhyun Sunbae? Memangnya Kyuhyun Sunbae kapan ulang tahunnya? Bukankah sudah lewat?”

“Bukan!” elak Aeri. “Tak mungkin aku membeli hadiah untuknya. Lagipula, mana mungkin aku memberikan hadiah untuk Kyuhyun Oppa. Aku juga sudah sadar diri aku ini siapa.”

“Lalu, untuk siapa? Kalau kau bisa beritahu siapa orangnya, mungkin aku juga tahu seleranya,” kata Hyoae.

Saat Aeri hendak membuka mulutnya untuk menjawab pertanyaan Hyoae, ia tak jadi melakukannya. Nanti aku malah ditertawakan oleh bocah ini lagi, pikir Aeri yang membuatnya mengurungkan ucapannya. “Aah, entahlah. Oh ya, kalau Luhan Gege ulang tahun, kau memberinya apa?”

Tampak, Hyoae berpikir sejenak. “Kue ulang tahun, tentu saja. Karena dia tahu, aku ahli dalam membuat kue.”

“Oke, aku percaya padamu dalam urusan itu,” balas Aeri akhirnya sambil menghelakan napas panjang. Sesuai keahlian? Ayolah, Aeri. Kau ini bisa apa. Membuat kue? Hei, kau mau Jongdae keracunan kue buatanmu. Tidak. Membuat barang unik? Tidak. Itu bukan keahlianku sepenuhnya. Apa ya kira-kira? Pikirnya keras.

Tiba-tiba, pandangan Aeri berhenti di salah satu etalase toko yang menjual peralatan menjahit dan alat merajut beserta bahannya. Ia berpikir sejenak, kemudian menoleh ke arah Hyoae. “Hyo, kira-kira membuat syal butuh waktu berapa lama?”

Hyoae kembali berpikir sejenak. “Hmm, kalau kerjamu cepat 2 hari saja kau sudah bisa menyelesaikan syal itu. Kau harus membutuhkan kesabaran tingkat tinggi kalau ingin membuatnya. Kenapa memangnya?”

Aeri tersenyum. “Aku hanya ingin tahu saja dan tertarik untuk mencobanya.”

***

Hari terus berlalu begitu cepat dan kini sudah di hari Minggu sore menjelang malam. Aeri menimang-nimang pakaian apa yang cocok untuk memenuhi undangannya Nyonya Kim—ibunya Jongdae, ah tapi lebih tepatnya undangan Jongdae sendiri karena hari ini adalah hari ulang tahunnya. Dan, demi Tuhan Aeri benar-benar terlihat seperti orang gila.

Bagaimana tidak, sudah sejam yang lalu Aeri bolak-balik membongkar semua isi lemarinya. Dan, akal sehat Aeri amat sadar kalau yang akan ia hadiri adalah acara makan malam bersama, bukan kencan. Apalagi kencan dengan Jongdae. Sama sekali bukan!

“Aaah!!” teriak Aeri pelan karena semakin bingung sambil menghempaskan tubuhnya ke ranjang.

Sesekali, tangan kanannya mengusap tangan kirinya yang diberi plester. Ah, ini semua karena ia terlalu bersemangat untuk merajut syal sebagai hadiah untuk Jongdae, yang tanpa sengaja menyebabkan tangan kirinya tertusuk oleh jarum rajut yang agak tajam. Tapi, ia juga cukup berbangga hati karena berhasil menyelesaikan syalnya dalam kurun waktu 3 hari.

Mendadak Aeri bangkit dari tidurnya dan teringat sesuatu. Ia hampir saja melupakan blouse yang diberikan oleh kakaknya, Soojin. Segera, ia bangkit dan mengambil pakaian tersebut. Gadis itu langsung bersorak senang ketika memakai blouse berwarna peach tersebut dipadukan dengan rok sebawah lutut berwarna jingga.

Akhirnya, Aeri keluar dari asrama sambil membawa hadiah dan tas selempang dengan mengendap-endap agar tak ada yang melihatnya—walaupun ia juga tahu bahwa Jongdae juga mengundang teman-temannya dan pasti mereka akan melihat dirinya. Gadis itu mulai merapatkan mantel cokelat tuanya ketika udara musim gugur yang dingin mulai menyapanya.

Sementara, Jongdae sedang menunggu di depan pintu pagar rumahnya. Sungguh, ia paling tak tahan jika mendengar ibunya yang berteriak dan bertanya ke mana Aeri. Memang, diantara semua orang yang Jongdae undang, hanya Aeri yang belum memunculkan batang hidungnya. Padahal, Aeri adalah tamu special bagi ibunya karena lama tak bertemu.

Ke mana anak itu? Apa anak itu paling suka melihatku menderita karena pertanyaan ibu yang terus menghujaniku bertubi-tubi tentangnya? Pikir Jongdae sambil melirik arlojinya yang kini telah menunjukkan pukul 18.10.

“Jongdae-yaaa!!”

Senyum lelaki langsung mengembang ketika mendengar suara yang amat familier di telinganya. Segera, ia menoleh dan melambaikan tangannya ke sumber suara. “Hei, Ri-ya!”

Ketika melihat sosok Aeri di hadapannya, Jongdae agak mengangkat alisnya karena heran.

“Kenapa?” tanya Aeri dengan napas sedikit terengah-engah.

“Pakaianmu… berbeda dengan biasanya,” ujar Jongdae jujur.

“Ini kan memang gaya berpakaianku. Bagaimana sih kau ini?” balas Aeri sambil merengut.

“Benarkah?” tanya Jongdae dengan nada tak percaya. “Ah, lupakan. Ibuku sudah menunggumu dan aku tak mau dihujani pertanyaan bertubi-tubi lagi. Ayo, masuk.”

“Eh, tapi…”

Jongdae kembali menoleh ke arah Aeri dengan bingung. “Ada apa?”

“Tunggu sebentar,” pinta Aeri sambil merogoh tas kertasnya. Kemudian, ia memberikan Jongdae sekotak bingkisan. “Selamat ulang tahun ya. Maaf, aku baru mengucapkannya sekarang.”

Jongdae tersenyum senang sambil menerima hadiah pemberian Aeri. “Gumawoyo. Ayo, masuk.”

Aeri mengangguk dan mengikuti langkah Jongdae untuk masuk ke rumahnya. Sudah lama sekali rasanya gadis itu tak lagi berkunjung ke rumahnya.

“Aeri-ya!”

Seketika, Aeri terkejut dan tersenyum ketika melihat kehadiran Nyonya Kim yang menyerukan namanya dan menghampirinya di ruang tamu. “Annyeonghaseyo, Ajumeoni,” sapanya sambil membungkukkan badannya.

“Aigo, lama tak bertemu denganmu. Aku sudah menunggumu daritadi,” ceriwis Nyonya Kim.

“Maafkan saya, saya baru bisa datang sekarang,” sesal Aeri.

“Ah, tidak apa-apa. Yang penting melihatmu datang ke mari sudah membuatku senang. Duduklah. Astaga, aku benar-benar merindukanmu ternyata mengingat semua anakku adalah laki-laki. Oh ya, bagaimana kabar Ibumu?” kata Nyonya Kim sambil mempersilahkan Aeri duduk.

“Eomma saat ini tinggal di Kyoto dengan Appa. Entahlah, kapan mereka kembali ke Seoul,” jawab Aeri sambil bergurau yang mampu membuat Nyonya Kim tertawa renyah.

“Kudengar dari Jongdae, katanya kau sekarang tinggal di asrama. Apa itu benar?” tanya Nyonya Kim lagi.

Aeri mengangguk pelan. “Ne. Karena, aku ingin tinggal dekat dengan kampus. Aku juga tidak mungkin tinggal di Itaewon karena tak ingin merepotkan Nunah Eonni dan Soojin Eonni.”

“Begitu ya,” ujar Nyonya Kim seraya mengangguk. “Oh iya, makanlah dulu. Teman-temanmu sudah menunggumu di meja makan.”

“Ah, iya.”

Akhirnya, Aeri bisa terbebas dari Nyonya Kim yang cerewet—yang walaupun begitu tetap bersahabat. Memang sifat seperti itu sepertinya menurun ke anaknya bernama Kim Jongdae, pikir Aeri.

“Ri-ya! Kami daritadi menunggumu tahu!”

“Kau ke mana tadi?! Kami sudah mencarimu ke seluruh kampus, tapi tidak ketemu!”

“Kami kira kau sudah di telan bumi bulat-bulat!”

“Kau pikir menunggu orang itu gampang?! Katakan alasanmu sebenarnya!”

“Tanggung jawab kau, hei!”

Dan, sungguh Aeri paling malas bila mendengar teman-temannya berteriak ke arahnya. Sambil mengambil segelas air sirup, ia berkata, “Aku tadi di perpustakaan sampai sore tahu!” dusta Aeri dengan asal. Tak mungkin pula ia mengatakan bahwa ia tadi hampir sama mati kebingungan karena memilih pakaian. Bisa-bisa ia dibully, dan kali ini ia tak mau.

Karena sudah malas dengan suara penuh kebisingan buatan teman-temannya dan teman-teman Jongdae yang menyatu, membuat Aeri memutuskan untuk keluar menuju halaman rumah Jongdae yang sepi. Di sana ada satu meja dan dua kursi yang cocok untuknya membebaskan kedua telinga dari suara menyebalkan tersebut.

“Kau baru datang malah langsung menyendiri.”

Aeri tersentak kaget dan menoleh. Tampak, Jongdae sedang berjalan menghampirinya dan duduk di sampingnya. Gadis itu hanya mengendus.

“Aku pusing dengan suara bising buatan mereka,” ungkap Aeri. “Dan perlu kauketahui bahwa Ibumu benar-benar cerewet,” dengusnya.

“Kan aku sudah bilang, aku tak mau dihujani oleh pertanyaan bertubi-tubi dari ibuku. Makanya, kuserahkan ibuku padamu agar kau bisa merasakannya.”

“Cih.”

Hening karena mereka sama-sama saling terdiam dan memandang langit malam.

“Ri-ya, ada bintang!” seru Jongdae tiba-tiba.

“Mana?” Aeri langsung mendongak dan melihat taburan bintang yang terlihat. Namun, ada satu yang terlihat paling bersinar. Dengan semangat, gadis itu menunjuknya. “Yang itu, ya?”

“Hei, jarimu kenapa?”

“Heh?”

Aeri menoleh dan memandang Jongdae yang kini sedang memperhatikan jari telunjuknya yang diberi plester. “Kau terluka? Karena apa?” tanya lelaki itu seraya meraih jarinya dan memperhatikannya.

Deg! Jantung Aeri kembali berdebar-debar ketika tangan Jongdae yang hangat menyentuh jarinya. Dengan cepat, gadis itu menarik jarinya. “Bukan apa-apa kok.”

“Kau mau berbohong? Ayolah, Nona Song. Kau paling tidak bisa berbohong di depanku,” kata Jongdae sambil menatap Aeri dengan tajam.

“Oh ya?” balas Aeri sambil membalas tatapan tajam milik Jongdae.

Lama mereka saling bertatap tajam, tiba-tiba bibir Jongdae melengkung membentuk sebuah senyuman manis yang membuat dada Aeri terasa sesak. Paru-paruku kenapa? Pikir Aeri dengan kedua matanya yang masih memandang Jongdae.

“Kenapa kau tersenyum?” tanya Aeri dengan nada aneh dan pelan karena napasnya yang mendadak tertahan.

“Manis.”

“Ya?”

Refleks, tangan Jongdae langasung turun untuk menyibakkan poni rambut Aeri. Hal itu kembali membuat tubuh Aeri menegang. “Kau.. kenapa sebenarnya?”

“Pantas saja Tao menyukaimu..” ucap Jongdae dengan nada setengah lirih.

“Kau tidak mabuk kan?” tanya Aeri lagi.

Jongdae menggeleng dan kembali tersenyum. Perlahan, wajah Jongdae maju beberapa sentimeter mendekati wajah Aeri ketika tangan berhenti tepat di pipi gadis itu. Aeri bahkan bisa merasakan deru napas Jongdae, sehingga mau tak mau ia harus memejamkan kedua matanya. Pikirannya yang aneh-aneh mulai bertebaran di otak gadis itu. Ini.. pasti… bukan…

Ketika Aeri memejamkan kedua matanya, ia dapat merasakan sentuhan hangat di bibirnya. Oke, ini sudah bukan perkiraan. Jongdae benar-benar melakukannya. Aeri bahkan dapat merasakan ketika Jongdae mengusap pipinya dan benar-benar mencium bibirnya dengan lembut.

Butuh beberpaa detik Jongdae melakukannya dan melepaskan ciumannya. Aeri yang merasakannya hanya bisa mengerjapkan kedua matanya berkali-kali. Napasnya benar-benar tercekat. Ini ciuman pertamanya, dan ini konyol. Seketika, Aeri membalikkan tubuhnya dengan wajahnya yang memerah. Paru-parunya berusaha memburu seluruh oksigen yang ada.

Dan, entah kenapa udara di sekitarnya benar-benar terasa panas. Sial!

Jongdae… benar-benar melakukannya?

― To Be Continued ―

Iklan

2 thoughts on “Love Note : 12th Realize

Mind to Review? ^ ^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s