Anything

tumblr_me9oqvUz8D1qaikpfo1_400

20141013 © AirlyAeri

“I don’t have anything and you still like me?”

***

Aku menggigit bawah bibirku sambil mendongak dan memandang ke arah seorang lelaki yang kini sedang berdiri di sampingku sambil menggenggam tanganku dengan erat. Ketika manik matanya bertemu dengan mataku, senyum manis mengembang di wajahnya. Hal itu membuat jantungku berdebar dengan kencang, namun rasa pesimis terus menyelimutiku entah mengapa.

Dan akhirnya, aku dapat bernapas lega ketika ia menyuruhku untuk duduk ketika langkah kaki kami sampai di sebuah coffee shop. Aku memilih tempat duduk yang paling dekat dengan jendela agar aku bisa mengalihkan mataku untuk memandang jalan raya yang lalu lalang ketimbang memandang mata lelaki itu.

Tak lama, lelaki itu datang menghampiri mejaku sambil membawa sebuah nampan berisi dua gelas minuman. Namun, bukannya duduk berhadapan denganku, ia malah memilih berakhir duduk di sampingku. Hal itu membuat kedua mataku kembali membesar ketika menatapnya.

“Kenapa? Ada yang salah aku duduk di sampingmu?” tanyanya dengan nada tanpa merasa bersalah sambil meminum salah satu gelas minuman yang dekat dengannya. Dapat kuhirup aroma cappuccino yang berasal dari gelasnya.

Aku terdiam sejenak, kemudian menyambar segelas minuman yang tersisa di nampan dan meminumnya tanpa mempedulikan bahwa suhu minuman itu masih panas.

“Hei, minumlah pelan-pelan. Masih panas tahu,” tegurnya dengan nada khawatir ketika ia melihatku yang kini mengibaskan lidahku yang kepanasan.

Aku memandangnya yang kini menatapku cemas. “Kau tak apa-apa kan?”

Aku hanya menjawab pertanyaannya dengan menggeleng pelan.

Hening sejenak.

Rasa hot chocolate mulai terasa ketika kurasa lidahku mulai membaik. Ini minuman favoritku, bagaimana bisa ia mengetahuinya?

Aku berusaha membuka mulutku untuk berkata sesuatu. “Hm..”

“Ada apa?” tanyanya sambil menoleh ke arahku dengan pandangan ingin tahu.

Bahkan disaat aku belum memanggil namanya, ia sudah menoleh ke arahku. Aku mulai kehilangan kata-kata yang sempat berterbangan di otakku. “A-aku ingin mengatakan suatu hal.”

“Apa?”

Aku menelan salivaku kuat-kuat sambil berusaha memandangnya walaupun sudah beberapa kali aku selalu berusaha menghindari manik matanya. “Ke-kenapa kau menyukaiku?” tanyaku dengan susah payah yang akhirnya hanya keluar sedikit suara.

Tampak, lelaki itu terdiam sejenak. “Kenapa kau bertanya begitu?”

Kurasakan kedua tanganku mengeluarkan keringat dingin karena kegugupanku. Satu kelemahanku yang paling tak bisa kuhilangkan. Dengan cepat, kuraih gelas berisi hot chocolate yang berada di depanku dan kembali mengeluarkan suaraku dengan susah payah. “Habisnya.. kau kan tampan, terkenal di sekolah, pintar di bidang akademik dan suka bermain bola basket, dan yang pasti semua gadis di sekolah akan bertekuk lutut padamu. Lalu, banyak sekali gadis cantik yang mengelilingimu dan kau tinggal menunjuk mana gadis yang kaumau. Ya kan?”

Mungkin untuk pertama kalinya ia mendengar aku berbicara panjang seperti ini. Makanya, ia terus memandangku penuh pengertian sambil tersenyum. Senyumnya yang menawan membuatku hanya bisa menelan ludahku dalam-dalam dan kembali meneguk hot chocolate milikku yang tak lagi sepanas tadi.

“Jadi?”

“Jadi… tolong pikirkan lagi tentang perasaanmu padaku. Mungkin saja saat ini kau salah mengambil keputusan untuk mengajakku pergi dan menjadikanku sebagai pacarmu. Ya, pasti begitu,” ujarku sambil mengangguk untuk memastikan.

“Kenapa kau berpikir seperti itu?” tanyanya lagi.

“Karena… sementara, aku hanya gadis biasa saja. Yang tak memiliki kelebihan yang begitu menonjol. Aku tak terkenal dan tak ahli berprestasi dalam bidang akademik maupun non akademik. Temanku hanya sedikit dan sebagian lainnya aku hanya mengenalnya secara umum. Aku sama sekali tidak cantik dan aku sama sekali tak punya teman lelaki karena aku tak begitu suka dekat dengan laki-laki yang berisik. Aku juga bukan orang terpandang maupun orang kaya. Hidupku sederhana saja dan aku memiliki amat banyak kekurangan. Aku paling tidak bisa berdiri di depan umum karena kegugupanku, aku paling tidak bisa melakukan suatu hal yang terlalu menantang, aku―”

“―Sssttt.” Aku terkejut, ketika ia tiba-tiba saja menukas ucapanku. “Apa karena itu semua kau berpikir begitu?”

Aku mengangguk cepat. “Ya. Karena itu pula, kita terlihat… berbeda. Kau memiliki segalanya, sedangkan aku kebalikannya. Bahkan, kau dan aku juga tidak saling mengenal dekat. Ya kan? Bukankah hal seperti itu terlalu aneh? Jadi, tolong pikirkan kembali perasaanmu padaku. Menurutku, kau pasti salah sangka. Ya, pasti,” jawabku sembari kembali meneguk hot chocolate yang kini telah bersisa setengahnya.

“Jadi, kau tak menyukaiku?”

Mendadak aku terhenyak dan menoleh ke arahnya yang kini sedang menatapku. “Bu-bukan begitu maksudku. Kau jangan salah sangka. Maksudku―”

“Kalau begitu, kau juga jangan salah sangka.”

“Apa?”

Aku memandangnya dengan tatapan tak mengerti. Sementara, lelaki di hadapanku malah tersenyum lebar.

“Aku memang menyukaimu kok. Aku tidak memandang apapun darimu. Semua kekurangan yang kaumiliki, aku menyukainya. Tapi, bukan berarti aku tak tahu apapun tentangmu. Aku tahu kau suka menulis di blogmu, aku tahu kau ramah pada semua orang, aku tahu hidupmu memang sederhana karena keluargamu telah mengajarkan hal itu. Aku tahu semuanya tentangmu, bahkan aku juga tahu kau menyukai hot chocolate. Kau sendiri bahkan tidak tahu kan kalau aku suka sekali memperhatikanmu?”

Aku terdiam mendengar ucapannya. Dia… suka memperhatikanku?

Kurasakan tanganku yang masih dingin karena keringat mulai terasa hangat ketika sebuah tangan yang kokoh berhasil meraihnya.

“Bahkan, aku paling tak tega ketika melihatmu maju ke depan dengan kaki yang gemetar dan tangan yang dialiri oleh keringat dingin hingga membuatmu sulit untuk bersuara,” ucapnya dengan lembut. “Walaupun kauanggap hal itu sebagai kekuranganmu, tapi itu tak masalah bagiku. Tenang saja, saat kau kembali maju ke depan untuk tampil, tak hanya teman-temanmu yang selalu mendukungmu. Aku juga akan ada di sana untuk mendukungmu. Kau percaya padaku kan?”

Aku pandangi kedua manik matanya yang bening itu dengan takut-takut. Namun, akhirnya berani juga karena genggaman tangannya yang hangat berhasil meyakinkanku.

“Jadi, kumohon jangan ragukan perasaanku ini. Aku memang menyukaimu dengan tulus.”

-fin.

Kya, kyaa~ Apaan nih? Romansa kacangan alay. >///<

Belakangan ini lagi seneng banget bikin cerpen ketimbang fanfict, karena lagi pengen castnya bayangin sendiri. Dan, ini dibuat pas saya uts. OMG x_x Kan harusnya saya ngapalin Pkn, Biologi, B.Jepang. Tapi.. see, saya malah nangkring depan laptop dan bikin cerpen cheesy beginian. Aduh, malu rasanya. Ugghh~ ><

Tapi, tapi, tapi, belakangan ini saya rada stress mikirin ‘Love Note’ untuk 2 chapter terakhir dan uts yang sedang berjalan TT.TT Maaf ya, entah kenapa rasa pengen nulis selalu berada di waktu yang amat sempit dan salah. Aiisshhhh 😐

Jadi, anggep aja ini selingan cerpen sebelum disuguhin ‘Love Note’ yaa. Hihihi 😀 Terima kasih sudah mau baca cerpen kacangan ini. Dan, untuk ‘Love Note’ tunggu aja yaaa. InsyaAllah akan terbit secepatnyaaa~ ^^

Love

-AirlyAeri.

Iklan

Mind to Review? ^ ^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s