Love Note : 13th Decision

love note cover 11 new ver

© Aeri_Tamie’s Script Writer

Casts : Song Aeri; Kim Jongdae (EXO-M’s Chen); Cho Kyuhyun (Super Junior’s Kyuhyun); Shin Yeonjoo

Other Casts : You can find it in here ^^

Genre : Romance, Drama, Friendship, Comedy Rated : PG-17 Length : Chapter

Disclaimer : 20131025 © Aeri_Tamie

Previous Chapter :

1st Unexpected 2nd (Really) Unexpected 3rd Complicated 4th Let’s Play 5th Grey Paper 6th Love & Dust 7th Pain 8th Confession 9th Unpredictable 10th New 11th First Confusion 12th Realize

Note      : Hai! I’m back with the new chapter of ‘Love Note’. Kyaa, kyaa~ >. < Ughh~ kepala saya rasanya kaya botak mikirin fanfic ini yang gak kelar-kelar. Huft~ Tapi, sabarkan diri kalian yang membacanya ya. Beneran deh, ini mau ending >_< Hihihi, pokoknya terima kasih sekali untuk kalian yang masih setia menunggu lanjutan fanfic ini. Thank you sooo much! :*

***

» Story 13 : Decision

Aeri jatuh terduduk di sebuah halte dengan napas yang tak beraturan. Nyatanya, Aeri baru saja pulang dari rumah Jongdae setelah berpamitan dengan semua tamu yang Jongdae undang dan ibunya—terutama. Setelah itu, ia berlari sekencang mungkin menjauhi rumah lelaki itu.

Disela-sela gadis itu menarik napas, ia mencoba mengingat deretan kejadian kecil yang membuatnya seperti orang bodoh.

Aish, bahkan aku sendiri saja tak mau mengingatnya karena malu! Pikir Aeri sambil menggeleng cepat dan menutup wajahnya yeng memerah seperti cherry dengan tas yang ia bawa. Udara di sekitarnya mendadak terasa panas. Entah ini karena efek berlari atau kejadian itu. Padahal ini kan sudah malam.

Aeri segera meniupkan poninya dan beranjak dari duduknya ketika bus datang.

Sementara, Jongdae menatap kursi di sampingnya kini yang telah kosong. Kemudian, dengan refleks ia menepuk keningnya dan menutup matanya sekilas. Apa yang telah aku lakukan tadi pada Aeri hingga membuat anak itu kabur karenaku? Pikir Jongdae. Lalu, Jongdae mengacak-acak rambutnya frustasi. Apa kini perasaannya telah berubah? Apakah kali ini ia benar-benar bisa melupakan Yeonjoo dan berpaling ke arah Aeri?

Jongdae hanya bisa memejamkan kedua matanya dan mendecakkan lidahnya.

***

Hari ini Aeri bersikap aneh. Bahkan lebih aneh dari kemarin.

Itulah hipotesa yang disimpulkan oleh teman-teman Aeri sepanjang hari ini. Bagaimana tidak, pertama di pagi hari yang biasanya Aeri paling rajin untuk bangun pagi dan melakukan aktivitas pagi—olahraga, mengambil udara segara di beranda asrama, membereskan kamar, mandi, sarapan pagi, dan berangkat ke kampus, kali ini tidak. Ia langsung membereskan kamarnya, mandi, sarapan pagi, dan berangkat ke kampus dengan tergesa-gesa.

Lalu, yang kedua. Setiap kali salah seorang temannya bertanya sedikit saja, Aeri langsung menjawabnya dengan singkat dan datar. Dan jika bertanya untuk yang kedua kalinya, maka gadis itu akan menjawab dengan nada tinggi.

“Aku tidak tahu, tanyakan saja pada yang lain. “

“Kau tidak perlu tahu pokoknya. “

“Terserah kau saja, aku sedang pusing. “

“Aku baik-baik saja. Jadi, jangan pedulikan aku. “

“Apa susahnya sih bertanya pada yang lain? Jangan tanya padaku! Aku tidak tahu!”

“Aku sedang sebal tahu!”

“Ah, sudahlah!Aku muak mendengarnya!”

Dan yang terakhir, masih diprediksikan oleh Yoora dan Hyena—kedua teman di asrama yang saat ini sedang bersama Aeri di kantin. Mereka dapat melihat raut wajah Aeri yang ditekuk dengan dahi berkerut saat gadis itu sedang meminum jus jambunya sambil membaca journal yang ia dapatkan di toko buku.

“Kau kenapa sih?”Akhirnya, Hyena yang memutuskan untuk membuka pembicaraan dengan Aeri setelah sempat berunding beberapa saat dengan Yoora yang menolak untuk bicara dengan gadis itu karena sedikit takut.

Aeri melirik kedua temannya dengan datar. Kemudian, gadis itu kembali memfokuskan matanya pada journal.

Hyena melirik ke arah Yoora dengan pandangan menyerah sambil menghelakan napas panjang.

“Ada apa memangnya?”

Hyena menoleh ke arah Aeri yang sedang memandangnya. Ia bisa bernapas lega ternyata, karena berhasil mendengar sahutan gadis itu.

“Habisnya… sepanjang hari ini tampaknya kau sedang kesal,” ungkap Hyena dengan nada sedikit terbata karena takut ia salah-salah bicara.

Aeri terdiam untuk berpikir sejenak. “Benarkah?” gumamnya. “Aku baik-baik saja kok,” jawab Aeri sambil mencoba mengulas senyum.

“Begitu?” Dan, Yoora kembali membuka suaranya ketika melihat senyum di wajah Aeri. “Kalau begitu, aku ingin tahu. Kenapa kau pulang dengan terburu-buru kemarin di rumah Jongdae? Apa telah terjadi sesuatu?”

Seketika, tubuh Aeri mendadak menegang mendengar pertanyaan Yoora dan senyum yang awalnya masih terukir, kini pudar begitu saja. Kemarin malam, di acara ulang tahun Jongdae, Jongdae dengannya sedang bercengkrama malam itu, dan kemudian terjadi….

“Ti-tidak terjadi apa-apa kok,” ungkap Aeri dengan nada tersendat sambil menggeleng cepat.

“Ri-ya!”

Tubuh Aeri kembali menegang ketika tiba-tiba mendengar suara seseorang memanggil namanya. Sungguh, ia tidak ingin menoleh ke sumber suara karena ia tahu suara siapa itu. Dan jika ia menoleh dan melihat wajahnya, ia langsung teringat kejadian kemarin malam. Dan, ia sangat tidak mau.

“Oh, Jongdae Sunbae. Sedang apa kau di sini?” sapa Yoora sambil melambaikan tangannya ke belakang Aeri.

“Apa kau sedang tidak ada kelas?” tanya Hyena dengan nada heran.

“Jadwal kelasku selanjutnya dimulai setelah makan siang dan aku tadi tak sengaja melihat kalian dengan Aeri di sini,” jawab Jongdae.

Baru saja Jongdae duduk di samping Aeri dan memandangnya, dengan cepat gadis itu menyedot jus jambunya sampai habis. Kemudian, ia beranjak dari duduknya sambil membereskan bukunya. Hal itu membuat Jongdae, Hyena dan Yoora kaget dan bingung. “Yoora-ya, Hyena-ya, aku harus pergi. Sudah waktunya aku harus masuk ke kelas selanjutnya. Sampai jumpa!” pamit Aeri cepat tanpa melirik sedikitpun ke arah Jongdae.

Lalu, Aeri berlari secepat mungkin meninggalkan Hyena, Yoora, dan Jongdae.

“Sunbae, apa kau tahu dia kenapa?” tanya Yoora pada Jongdae.

Sementara, orang yang ditanya hanya bisa mengerutkan keningnya. “Hah?” balas Jongdae. Bukankah seharusnya aku yang bertanya begitu?Pikir lelaki itu.

“Sepanjang hari ini Aeri terlihat aneh,” sahut Hyena. “Kau tahu, semua orang yang bertanya padanya benar-benar kasihan. Mereka hanya dijawab dengan nada datar, bila bertanya untuk kedua kalinya ia malah marah-marah. “

“Dan, sekarang keanehan ketiga adalah anak itu menghindarimu, Sunbae,” sahut Yoora yang sepertinya sudah berani mengambil hipotesa selanjutnya tentang Aeri sambil mengangguk-angguk setuju dengan pendapatnya sendiri.

“Apa?”

Jongdae baru ingat sesuatu. Oh, kejadian kemarin malam!batin Jongdae. Apa karena itu sekarang sikap Aeri benar-benar aneh?pikirnya. Tanpa sadar, lelaki itu bangkit dari duduknya. Hal itu membuat Yoora dan Hyena heran. Kali ini, heran pada Jongdae.

“Sunbae, kenapa kau?” tanya Hyena.

“Apa sekarang giliranmu yang aneh?” tanya Yoora juga.

Jongdae sama sekali tak menanggapi ucapan Hyena dan Yoora. “Aku harus menemui Aeri sekarang. “

Kemudian, giliranJongdae yang langsung berjalan meninggalkan Hyena dan Yoora sendirian. Dan, kedua gadis itu hanya bisa menatap heran sambil menghelakan napas panjang.

“Na-ya, bukan hanya satu orang aneh saja yang harus kita hadapi,” kata Yoora.

“Kupikir, dua orang itu lebih baik menjadi sepasang kekasih karena sangat cocok dengan keanehan mereka,” gerutu Hyena sambil mulai menyesap strawberry milkshake miliknya.

***

Di tempat lain, tepatnya di sebuah taman luas dekat kampus, Aeri sedang memejamkan kedua matanya. Kemudian, ia menghempaskan tubuhnya ke rerumputan yang telah menguning dan memandang hamparan langit biru yang luas. Sesekali, ia menghelakan napas panjang ketika ia mulai merasa musim panas telah berlalu berganti dengan musim gugur.

“Kenapa membuang napas begitu, Bi?”

Seketika, Aeri bangun dari berbaringnya dan memandang di sebelahnya yang ternyata adalah Tao. Entah sejak kapan lelaki itu muncul dan bahkan sudah duduk di sampingnya.

“Gege, kau membuatku kaget,” ungkap Aeri.

“Kenapa sendirian saja di tempat begini? Apa kau dikeluarkan oleh Dosen karena terlambat masuk kelas?” tanya Tao mengalihkan pembicaraan.

“Jadwalku sudah selesai kok. Tapi, aku sama sekali belum berniat untuk pulang ke asrama,” jawab Aeri.

“Kalau begitu, kau mau ikut denganku makan es krim tidak?Biar aku yang traktir,” ajak Tao.

Seketika, kedua mata Aeri berbinar dan menoleh ke arah Tao dengan cepat ketika mendengar ajakanlelaki itu. “Jinjjayo, Gege?”

Akhirnya, Tao dan Aeri sudah berada di sebuah gerai es krim dekat kampus. Walaupun udara musim gugur sama sekali tidak panas, namun Aeri sama sekali tidak merasa kedinginan. Gadis itu malah bersorak senang ketika Tao memesankan sebuah es krim porsi besar untuknya.

“Kau yakin benar-benar kuat menghabiskannya?” tanya Tao dengan nada sedikit ragu ketika melihat pesanan yang ia berikan pada Aeri ternyata tingginya sampai kepalanya sendiri, bahkan lelaki itu sampai tak bisa melihat si pemilik gerai es krim yang sedang menerima pesanan.

Aeri hanya menjawab pertanyaan Tao dengan anggukan kepalanya disela-sela ia makan es krim. “Kebetulan aku ini sedang sangat ingin es krim, walaupun sekarang bukan waktu yang tepat untuk memakannya. Tapi, segini sudah cukup. “

Cukup? Oh Tuhan, bahkan Tao sendiri sepertinya tak sanggup memakannya jika udaranya sesejuk musim gugur seperti ini. Gadis itu benar-benar kuat lebih dari dugaannya saja. Tao tersenyum kecil dan menggelengkan kepalanya sambil menyesap black coffee yang ia beli di kafe sebelah.

“Bi. . “

“Ne?”

Tao menoleh dan memandang Aeri yang kini sedang memandangnya dengan bibirnya yang dipenuhi oleh krim. Mau tak mau membuat Tao harus tertawa kecil.

“Gege, ada apa denganmu sekarang?” tanya Aeri dengan dahi berkerut.

Refleks, tangan lelaki itu mengeluarkan sebuah tisu dan membersihkan mulutAeri yang penuh dengan krim. “Kau ini selalu saja. Tidak memakan ddubeokki, tidak makan es krim selalu saja kau memakannya sampai membuat lukisan di seluruh mulutmu. Memangnya itu lucu?”

Sementara, Aeri mengerjapkan kedua matanya berkali-kali sambil memandang Tao dengan lekat.

“Apa?” tanya Tao sambil membalas tatapan Aeri. “Aku benar kan?”

Sontak, Aeri merebut tisu yang pegang oleh Tao untuk membersihkan mulutnya sambil menggerutu kecil.

“Oh iya, sejak tadi pagi sikapmu agak aneh. Kudengar dari Youngmi, sepanjang hari ini kau tampak sensitif. Apa telah terjadi sesuatu?” tanya Tao tiba-tiba.

Pertanyaan yang terlontar dari mulut Tao membuat Aeri kembali memandang lelaki itu. “Tidak terjadi apapun kok. Tadi pagi posisi moodku sedang turun. “

“Kalau terjadi sesuatu, ceritakan saja padaku. Aku siap mendengarnya, Bi,” sahut Tao sambil tersenyum memandang gadis itu.

Sementara, Aeri mendelik ke arah Tao dengan pandangan ragu disela-sela ia kembali memakan es krimnya. “Kau berkata begitu bukan karena semata-mata kau mau menggodaku mengingat kau sudah terlibat dalam permainan ‘Love Note’ kan, Gege?”

Lagi-lagi, Tao hanya tertawa renyah. “Aniyo. Aku begini karena tulus tahu. “

Tulus. Entah mengapa, satu kata yang terlontar dari bibir Tao membuat Aeri hanya mengulas senyum kecil. Mendadak ia kembali teringat permainan ‘Love Note’ yang melibatkannya, Jongdae, dan Tao sekarang—ia sudah tak peduli lagi dengan keberadaan Cho Kyuhyun di sana. Gadis itu hanya menghelakan napas panjang sambil mencabik es krimnya dengan sedikit lemas.

“Gege…”

“Hmm?”

“Kalau… dalam permainan ‘Love Note’, apakah kau akan memberikanku sebuah pink note?”

Seketika, Tao melirik ke arah Aeri dengan pandangan heran. “Kenapa kau bertanya begitu?”

“Memangnya aku tak boleh bertanya begitu?” ungkap Aeri membalikkan pertanyaan Tao sambil mengerucutkan bibirnya.

“Bukan begitu maksudku,” balas Tao membela diri. “Kalau aku melakukan hal itu, apa kau akan menerimaku dan memberikan blue note milikmu padaku?”

Hal itu membuat Aeri berpikir sejenak, kemudian mengangkat bahu. “Tidak tahu. Sama sekali tak terbayang di otakku, Gege. “

Tanpa sadar, es krim porsi besar yang awalnya seperti gunung yang curam, kini tinggal bersisa seperempatnya dan buah cherrynya karena Aeri sudah makan banyak sekali. Tao yang melihat itu hanya tertawa dan memandang takjub gadis itu.

“Hebat juga kau bisa menghabiskan es krim itu,” ungkap Tao dengan takjub saat melihat Aeri kini telah memakan buah cherrynya dan hendak menyuapkan es krim terakhirnya.

“Kan aku sudah bilang, porsi segini sudah cukup untukku,” balas Aeri sambil menyuapkan es krim terakhirnya. “Nah, sekarang kita mau ke mana lagi?”

Tampak, Tao berpikir sejenak. “Ayo, kita pergi ke rumahmu. “ ajak Tao.

“Apa?” tanya Aeri dengan nada sedikit tertahan karena kaget mendengar ucapan Tao. “Rumahku?Di Itaewon itu?”

“Memangnya di mana lagi rumahmu selain di asrama dekat kampus?” balas Tao dengan nada ‘payah-sekali-anak-ini’.

“Ta-tapi… Di rumahku ada Joohwa dan Yoonhwa…” jawab Aeri. “Nanti kau digangu oleh anak-anak itu. Yeah, kau tahu sendiri bagaimana mereka karena dulu aku pernah menceritakan tentang mereka padamu,” lanjutnya dengan nada pelan.

“Tapi, aku juga belum pernah bertemu dengan mereka apalagi kedua kakakmu. Kalau ada salah satu kakakmu yang cantik, izinkan aku menyukainya, ya?” sahut Tao menyeringai. Tampak, mata dikedipkan berkali-kali di depan Aeri agar mau menerima permintaannya.

Sementara, Aeri langsung memandang Tao dengan pandangan enggan. “Ih, tidak mau! Kalau saja ada salah seorang kakakku yang menyukaimu, tak akan kuizinkan. Aku tak maukakakku berpacaran dengan lelaki semacam anak berandal yang memiliki banyak anting di telinganya sepertimu. Week!!” tolak Aeri mentah-mentah sambil menggeleng cepat dan menjulurkan lidahnya pada Tao.

“Kalau aku anak berandalan seperti menurutmu, kenapa kau masih mau dekat-dekat denganku?” tanya Tao dengan nada menyelidik. “Atau, kau memang benar-benar menyukaiku?” lanjutnya dengan pandangan menggoda dan nakal.

Dan, Aeri hanya bisa menggelengkan kepalanya sambil menatap Tao semakin enggan. “Ckckck, aku kan begitu padamu karena aku ini orang baik yang tak suka membeda-bedakan orang lain. Dan juga, hilangkan presepsi anehmu. “

“Kalau begitu, kenapa kau tidak mengizinkanku berpacaran dengan salah seorang kakakmu?”

“Kalau urusan pacaran dengan salah satu kakakku, tentu saja aku tak mengizinkannya!Pokoknya tidak boleh untuk urusan itu!”

Akhirnya, Tao menghelakan napas panjang sambil tertawa renyah. “Sudahlah. Ternyata, berdebat denganmu melelahkan dan juga menyenangkan, Bi. Pantas saja Kyuhyun Hyung dan Jongdae Hyung suka sekali berdebat denganmu. Tapi, aku tak peduli. Yang penting, aku harus pergi ke rumahmu yang ada di Itaewon. Ayo!” ajak Tao sambil menarik lengan Aeri.

Sementara, orang yang ditarik Tao hanya menoleh ke arah lelaki tersebut dengan mata membesar hebat. “Gege, kau benar-benar ingin pergi ke rumahku yang ada di Itaewon itu?”

***

“Mana rumahmu?”

“Sebentar lagi sampai. “

“Daritadi kau terus berkata begitu, tapi tidak sampai-sampai. “

“Kan rumahku itu agak jauh dari jalan raya. “

“Seharusnya kau tak perlu menambahkan kata ‘sampai’ pada ucapanmu sejak awal. Cukup saja katakan ‘Sebentar lagi’ itu sudah jelas. “

“Gege, sejak kapan sih kau mulai cerewet seperti Kim Jongdae?”

Tao melirik ke arah Aeri yang kini sedang menggerutu sambil berjalan cepat mendahului lelaki itu. “Mianhae, aku kan hanya bertanya karena aku tidak tahu. Hmm, tapi Itaewon ini tempatnya lumayan juga ya. Banyak sekali orang asing. “

“Gege belum pernah ke sini?” tanya Aeri. “Itaewon kan pusatnya orang Amerika yang tinggal di Seoul. Cukup internasional kalau untuk urusan itu. “

Sesekali, Aeri mengangguk-angguk kecil untuk membenarkan ucapannya.

“Kenapa keluargamu memilih tinggal di tempat ini?” tanya Tao ingin tahu.

Aeri hanya menjawab dengan angkatan bahunya. “Entahlah. Appa dan Eomma-ku yang memilih. Katanya di sini tenang, padahal sama saja dengan pusat kota Seoul lainnya. Malah, saat ini mereka tinggal di Kyoto dan meninggalkan anak-anaknya di sini. “

“Apa kau sedih?”

“Tidak juga. Kupikir, itu adalah cara kedua orangtuaku untuk mendidik anak-anaknya agar mandiri dalam segala hal dan tidak perlu merepotkan orang lain. “

Tanpa sadar, langkah kaki mereka telah sampai di sebuah perumahan yang tak terlalu ramai. Tampak, ada beberapa arsitektur bangunan rumahnya seperti rumah adat Korea. Entah mengapa hal itu mengingatkan Tao pada suatu desa di pusat kota Seoul yang menjadi tempat pariwisata.

“Ini bukan Hanok Village kan?” tanya Tao pada Aeri.

“Bukan. “Aeri menjawabnya dengan polos sembari menggeleng pelan. “Nah, itu rumahku. Ayo masuk,” ajak Aeri pada Tao saat langkah kakinya telah sampai di sebuah gerbang rumah yang terbuat dari kayu jati.

Ketika masuk, Tao mengamati rumah Aeri yang kental dengan adat Korea. Walaupun hanya arsitektur bangunannya saja yang seperti Hanok, tapi entah mengapa lelaki itu merasa seperti berada di desa yang ia maksud tadi.

Sementara, Aeri berjalan dengan mengendap-endap seraya mengintip ke dalam rumah. “Aku pulang,” ucap Aeri pelan.

“Eonni!!!”

Sontak, Aeri terlonjak kaget dan menoleh. Tampak, seorang gadis dengan seragam SMP-nya berlari ke arah Aeri sambil membawa sebuah sapu dan memeluknya dengan erat.

“Yoonhwa-ya, oraemanieyo. Geundae―”

“Eonni-ya, bogoshipo,” tukas Yoonhwa dan tak mempedulikan apa yang akan Aeri ucapkan. Lama anak itu memeluk hingga melepaskan pelukannya. “Eonni, kenapa kau baru pulang sekarang?Katanya setiap dua minggu sekali kau akanberusaha pulang ke sini. Lalu, siapa dia?” tanyanya sambil menunjuk Tao. Kemudian, gadis SMP tersebut mendekati telinga Aeri dan berbisik. “Apa dia pacarmu?”

“Aniya!” jawab Aeri langsung dengan lantang. “Apaan sih kau ini,” ucap Aeri dengan nada setengah mengelak. “Mana Joohwa?”

“Joohwa Oppa belum pulang sekolah. Katanya sibuk. Padahal, aku tahu sekali kalau Joohwa Oppa suka pergi ke game center,” kata Yoonhwa dengan nada merajuk dan mengadu. “Aku kalau memarahi Joohwa Oppa suka tidak mempan, nanti kalau Eonni bertemu Oppa omeli saja ya. “

“Kaupikir aku ini polisi lalu lintas yang suka memarahi orang bila tidak menaati peraturan? Kan ada Nunah Eonni dan Soojin Eonni, minta saja pada mereka,” jawab Aeri malas bila menyangkut masalah Joohwa.

“Ah, Nunah Eonni sibuk dan Soojin Eonni kalau aku minta untuk marahi Oppa malah aku yang dimarahi,” balas Yoonhwa. “Jebal, Aeri Eonni. “

“Ya sudah, nanti akan kubereskan. Sekarang sana masuk. Dan tolong buatkan minuman untuk temanku ini. “

“Ne, arraseo,” jawab Yoonhwa sambil berbalik masuk ke dalam rumah. “Oh iya Eonni, kenapa kau tidak datang ke mari dengan Jongdae Oppa atau Kyuhyun Oppa?Tumben sekali dengan teman Eonni yang ini. Biasanya Kyuhyun Oppa atau Jongdae Oppa yang datang bersamamu.“

“Mereka sibuk, Yoonhwa-ya. Tak mungkin aku mengajak mereka kalau mereka sibuk,” jawab Aeri singkat. Kemudian, Aeri menoleh dan kembali terfokus pada Tao. “Gege, ayo masuk. Sekarang kau sudah lihat sepupu perempuanku kan.“

Tao tersenyum. “Yeah. Dan, sepertinya agak mirip denganmu.“

“Benarkah?” tanyaAeri sambil melenggang masuk begitu saja diikuti oleh Tao. “Duduklah,” ucap Aeri ketika ia telah sampai di ruang tamu dan duduk di atas sofa.

Tao menuruti ucapan Aeri dan kembali memandang sekeliling. Tampak, ruangannya terlihat nyaman dengan ornamen-ornamen unik. Namun, diantara semua yang paling mencolok adalah sebuah foto keluarga yang berukuran cukup besar. Lelaki itu dapat melihat foto tersebut berisi Ayah, Ibu, dan ketiga anak perempuannya—salah satunya yang paling ia kenali wajahnya adalah Aeri.

“Itu kakak-kakakmu?” tanya Tao pada Aeri sambil menunjuk foto kedua perempuan yang berpose di sebelah Aeri.

“Iya,” jawab gadis itu. “Tapi, sepertinya untuk bertemu langsung dengan kakak-kakakku cukup sulit, karena mereka sibuk sekali dengan pekerjaannya. Jadi, yang lebih sering di rumah adalah Joohwa dan Yoonhwa.“

Sementara, Tao mengangguk-angguk kecil mendengar ucapan Aeri.

***

Are you okay? How are you today?
Don’t you cry because I’m without you?
You often come in my dream every night
But why I still can’t see you today?

[Jo Sung Mo – To Heaven]

“Astaga, siapa sih yang buat suasana coffee shop ini menjadi suram?”

“Ini pasti Jongdae. Ada apa sih dengannya hari ini?”

Berbeda dengan teman-temannya yang menggerutu, Yixing yang saat ini berada di samping Jongdae memandang lelaki itu dengan heran. Yeah, sangat heran. Apalagi dengan pose lelaki itu yang terkulai lesu di depan grand piano sambil memainkan tuts-tuts piano dan menyanyikan sebuah lagu sedih.

“Ada apa denganmu, Jongdae-ya?”

“Hyung…”

“Jangan berkata begitu terus. Aku malah semakin tak mengerti.”

Sementara, Jongdae menghelakan napas panjang. Kemudian, memandang Yixing. “Ke mana anak itu? Aku sudah mencarinya ke mana-mana, tapi tidak ketemu. Anak itu sebenarnya bersembunyi di mana, Hyung?”

“’Anak itu’? Siapa maksudmu? Katakan yang jelas. “

Jongdae sama sekali tak menghiraukan ucapan Yixing dan malah memandang langit malam yang gelap dari jendela coffee shop. “Apalagi hari sudah semakin malam… Dan aku sama sekali belum mendapat kabar keberadaanmu. Kau di mana, anak bodoh? Yang bisanya hanya menangis seperti anak kecil ketika patah hati dan diganggu oleh orang asing. Dia itu pintar sekali membuatku khawatir setengah mati. Padahal, aku ingin mengatakan suatu hal…”

Kemudian, lelaki itu kembali memainkan tuts-tuts piano yang ada di hadapannya dengan lemas.

Just call my name
I’ll be there

[Westlife – I’ll Be There]

“Dia bercerita tentang siapa sih?” Seorang lelaki berkulit kecokelatan yang baru saja mengantarkan pesanan memandang Yixing dengan pandangan penasaran.

“Entahlah. Aku juga tidak tahu, Jongin-ah. “

***

“Yoonhwa-ya, aku harus kembali ke asrama karena sudah malam. Jaga rumah baik-baik ya. Kalau belum ada yang pulang, kunci pintu gerbang dan rumah rapat-rapat. “

“Arraseo, Eonni.”

Aeri mengangguk pada Tao setelah ia berhasil memasang sepatunya. “Kaja, Gege. “

Tao tersenyum, kemudian ia menoleh ke arah Yoonhwa yang saat ini sedang berdiri di ambang pintu rumah. “Oppa pulang dulu, ya. Lain kali aku akan mengajarimu teknik wushu lainnya. Oke?”

Yoohwa mengangguk sambil mengacungkan jempolnya. “Oke, Oppa! Secepatnya ya!”

“Jangan lupa, titipkan salamku pada Nunah Eonni, Soojin Eonni, dan Joohwa. Sampai jumpa,” tambah Aeri.

“Baiklah. Hati-hati di jalan ya, Eonni, Oppa. “

“Ne~”

Akhirnya, Aeri dan Tao meninggalkan kediaman rumah keluarga Song. Hingga, akhirnya mereka sampai di halte bus dan duduk sebentar untuk menunggu bus datang. Udara malam ini terasa amat dingin karena angin musim gugur yang tiba-tiba meniup kawasan Itaewon.

“Yoonhwa lucu ya ternyata. Dia banyak bertanya dan suka mengeluhkan apa yang ada di pikirannya,” ungkap Tao tiba-tiba.

Aeri hanya tersenyum kecil mendengarnya. “Yeah, mungkin itu kesan pertama yang kau dapat ketika bertemu dengan bocah SMP itu. Tapi, kalau kau bertemu dengan adik-kakak Ahn—maksudku Ahn Joohwa dan Ahn Yoonhwa, mereka akan menjadi lebih menyebalkan dan ucapan yang kaulontarkan tadi akan kautarik kembali. “

“Itu kan jika ada kakaknya,” balas Tao.

“Iya. Sebenarnya jika dia sendirian tanpa pengaruh si Joohwa payah itu, dia jauh lebih baik sikapnya. Aku kadang kasihan padanya karena harus tinggal di rumahku yang sepi sendirian karena semuanya sibuk. Bahkan, ia juga terpisah dengan orangtuanya yang tinggal di Sokcho.”

“Memang apa alasannya dia tinggal di rumahmu?” tanya Tao dengan nada penasaran.

“Itu karena permintaan orangtuaku agar nanti Joohwa dan Yoonhwa yang akan menjaga rumah itu saat aku dan kakak-kakakku tak ada di rumah. Yeah, kau tahu sendiri kan rumah itu tadi sama sekali belum ramai karena kedatangan Nunah Eonni dan Soojin Eonni yang pulang dari kantor. Ditambah, aku sendiri juga memutuskan untuk tinggal di asrama, jadi aku tidak akan ada di rumah itu. Kalau si Joohwa sih, dia karena selalu bermain game di game center setelah pulang sekolah.”

Obrolan mereka sempat terhenti beberapa saat ketika sebuah bus telah berhenti dan mereka masuk ke dalamnya. Mereka juga memiliki bangku bus yang agak belakang agar tak ada orang yang dapat mendengar obrolan mereka.

“Kenapa kau tidak kembali ke rumahmu saja?” tanya Tao saat duduk di samping Aeri.

Aeri menggeleng. “Tidak. Itu hanya akan menjadi beban bagi kedua kakakku. Makanya aku lebih suka di luar rumah, karena jika aku masih di sana kedua kakakku sangat cerewet karena terlalu protektif padaku. “

Tao tertawa mendengar ucapan Aeri. “Oh iya, apa Kyuhyun Hyung dan Jongdae Hyung sering ke rumahmu juga?”

“Ya. Kadangkala kalau mereka sedang ada urusan di rumahku atau kalau mereka sedang mengantarku ke rumah,” jawab Aeri. Sesaat kemudian, Aeri menoleh ke arah Tao dengan pandangan ingin tahu. “Bagaimana kau bisa tahu?”

“Tadi aku tak sengaja mendengar pembicaraanmu dengan Yoonhwa. Kupikir, mereka tak pernah ke rumahmu,” jawab Tao dengan beralibi.

Aeri mengangguk-angguk mengerti. “Mereka sering ke rumahku karena aku sudah kenal dekat dengan mereka sejak lama. “

“Kalau kau boleh memilih, kau mau pilih Cho Kyuhyun atau Kim Jongdae?”

Sontak, Aeri menoleh ke arah Tao dengan kaget. Kedua matanya membesar dan mulutnya terbuka. “Kenapa kau bertanya begitu?”

“Ayolah, jawab saja. Tadi saat aku bertanya banyak hal, kau menjawabnya dengan santai. Kenapa sekarang begini reaksimu? Kau bingung?” terka Tao sambil menatap tajam gadis itu yang kini bingung harus menjawab apa.

“Bu-bukan itu maksudku. Tapi..” Aeri mencoba mencari kata yang tepat. “Ini pasti berhubungan dengan ‘Love Note’ kan?”

“Kenapa? Benar-benar masih bingung?” tanya Tao dengan nada menyudutkan. “Dari matamu saja sudah terpancar siapa yang sudah bisa membuatmu kembali jatuh cinta.”

“Aah, sudahlah, Gege. Tak lucu. Kau tahu itu?” ungkap Aeri sambil menghelakan napas dengan kasar. “Berhentilah menjadi peramal amatir. Kau tak cocok dengan itu.”

Aeri memalingkan wajahnya dari Tao dan memilih untuk memandang pemandangan melalui jendela dengan ekspresi sebal. Di saat seperti ini, sangat tidak cocok jika hal yang diperdebatkan adalah topik yang malas ia bicarakan.

“Tapi, apapun yang terjadi aku akan selalu mencintaimu kok, Aeri.”

“Apa?”

Aeri menoleh ke arah Tao secepat kilat ketika mendengar ucapan lelaki itu. Kedua telinga berusaha mendengar kebenaran dari ucapan Tao tersebut. Dia tadi bilang apa? Men. . cintaiku?

“Gege, kau aneh. Benar-benar aneh,” gumam Aeri tanpa suara. Namun, Tao tahu apa yang diucapkan oleh gadis itu.

“Aneh? Kenapa aneh?” tanya Tao. “Aku serius. “

“Gege, jebal!! Jangan membuatku seperti orang gilaa!!” teriak Aeri sambil memegangi kepalanya dan memandang Tao dengan frustasi. Kemudian, gadis itu kembali memalingkan wajahnya dengan setengah gusar dan kesal atas sikap Tao.

“Ini.”

“Heh?”

Aeri menoleh dan memandang apa yang telah diberikan Tao padanya. Kemudian, gadis itu memandang Tao dengan tatapan tajam ketika tahu apa yang diberikannya. Pink note. Dan, Tao tahu apa maksud tatapan tajam gadis itu.

“Aku menyatakan cintaku padamu melalui pink note ini,” jawab Tao memperjelas tujuannya memberikan sebuah pink note pada Aeri. “Tapi, aku sungguh tahu sikapmu selanjutnya yang akan kauberikan padaku. Jadi, kausimpan saja pink note miilikku dan berikan white note milikmu padaku. Oke?”

Aeri memandang Tao lama, kemudian mengambil pink note dari tangan Tao dan mengendus sambil bangkit dari duduknya. Kemudian, berkata, “Gege, ayo turun. Busnya sudah sampai di halte asrama. “

“Baiklah,” jawab Tao. Namun, sudut bibirnya tampak terangkat membentuk sebuah senyuman. Ia kini telah menang. Yeah, menang menurut definisinya sendiri.

***

Sesampai di asrama, Aeri langsung menghempaskan tubuhnya ke ranjang. Kedua matanya memandang sebuah pink note yang sedaritadi ia pegang. Di note tersebut tertulis sesuatu. Dari gaya tulisannya saja Aeri sudah tahu kalau yang menulisnya adalah Tao.

My Dearest Bi

Bi, apa kau rela membaca paragraf kacangan yang kubuat ini? Kau kan tahu kalau hangeul-ku masih agak buruk. Tapi, semoga terbaca ya. Haha~

Bi, aku mencintaimu ternyata. Kupikir kebersamaan kita selama di asrama tidak akan terjadi apapun. Nyatanya, aku benar-benar menyukai semua yang ada pada dirimu. Kau yang hanya cerewet di depanku, yang hanya mengerutu dengan suara keras di depanku, yang hanya mengutarakan semua yang ada dipikiranmu padaku, dan semuanya.

Bahkan aku masih ingat hanya kau yang bisa menolongku ketika aku pertama kali datang ke Seoul. Dengan hujan yang mengguyur deras waktu itu, membuatku terbesit untuk memanggilmu Bi. Kau memang tampak seperti seorang penolong yang datang tepat saat hujan. Bi. Cantik kan namanya? Jadi, kau tak perlu penasaran lagi mengapa aku begitu suka memanggilmu hujan.

Tapi Bi, walaupun aku mengutarakan perasaanku ini rasanya tetap tak ada gunanya. Kau tahu kenapa? Karena aku sudah tahu siapa yang akan kaupilih nanti. Dan, itu bukan aku. Makanya, semoga kau bahagia dengan lelaki pilihanmu. Dan meskipun begitu, aku akan tetap selalu mencintaimu dan berusaha melindungimu serta selalu berada di sisimu. Kau percaya padaku kan?

Aeri menghelakan napas panjang ketika selesai membacanya. “Aku bisa gila sungguhan,” gumamnya pelan.

***

Esok harinya, Aeri datang ke kampus lebih cepat. Sengaja ia lakukan agar ia bisa sampai perpustakaan dan segera mencari buku untuk tugas mingguannya. Awas saja kalau gagal lagi, bisa-bisa aku membeli perputakaan besar milik kampus ini, batin Aeri dengan ekspresi sebal.

“Ri-ya.”

Segera, Aeri menoleh ke sumber suara. Matanya menatap tidak percaya bila yang memanggilnya tadi adalah Cho Kyuhyun.

“Kyuhyun Oppa?”gumam Aeri dengan nada agak kaget. Kemudian, ia melirik arlojinya yang kini masih menunjukkan pukul 07. 15. Bagaimana bisa lelaki ini ikut berangkat ke kampus sepagi buta ini? “Oppa, tumben sekali kau berangkat pagi. Memangnya kau ada jadwal kelas jam segini?”

“Tidak, bukan begitu. Aku ingin menemuimu tadi di asrama. Saat kulihat, kau sudah tak ada di sana. Jadi, kupikir kau sudah berangkat,” jawab Kyuhyun. “Bisa kita bicara?”

Aku memandang Kyuhyun lama, lalu ia mengangguk pelan. “Baiklah.”

Akhirnya, Aeri dan Kyuhyun duduk di sebuah bangku taman yang terbuat dari kayu jati. Kedua mata mereka menengadah ke arah langit seolah menunggu matahari untuk segera terbit.

“Oppa, sebenarnya apa yang ingin kaubicarakan denganku?”

Kyuhyun memandang Aeri sekilas. Kemudian, ia berdeham pelan. “Menurutmu apa?”

Hal itu membuat Aeri berpikir lama. Dia mau membicarakan apa? Yeonjoo Eonni? Masalah percintaannya yang sedang mengalami permasalahan? Entah kenapa, semua hal yang ingin dibicarakan Kyuhyun padanya pasti menyangkut curahan hatinya dan gadis itu sudah siap menjadi tong sampah.

“Yeonjoo Eonni ya?”

“Kau pikir bahan pembicaraan diantara kita hanya segitu saja?” ungkap Kyuhyun dengan nada datar. “Aku hanya ingin membicarakan tentang ‘Love Note’ padamu.”

‘Love Note’. Satu topik yang amat dilarang bagi Aeri untuk didengar. Maka dari itu, wajah gadis itu seketika berubah. Ia memandang Kyuhyun lama, kemudian mengendus sebal. “Kalau itu yang kau ingin bicarakan denganku, lebih baik jangan katakan.”

“Ini.”

Aeri melongo ketika Kyuhyun secara tiba-tiba menyerahkan secarik kertas berwarnamerah jambu. Sesaat kemudian, ia menatap Kyuhyun dengan pandangan kaget.

“Oppa…. Apa kau putus dengan Yeonjoo Eonni?”

Di sisi lain, seorang lelaki termenung melihat apa yang terjadi di hadapannya. Kim Jongdae kini terdiam memandang ekspresi wajah Aeri dan Kyuhyun secara bergantian. Ia tak mendengar apa yang mereka bicarakan, tapi matanya dapat melihat jelas apa yang Kyuhyun berikan pada gadis itu.

Ia kalah. Ia sepenuhnya kalah telak.

― To Be Continued ―

Iklan

2 thoughts on “Love Note : 13th Decision

  1. –“Ri-ya!” Tubuh Aeri kembali menegang ketika tiba-tiba mendengar suara seseorang memanggil namanya. Sungguh, ia tidak ingin menoleh ke sumber suara karena ia tahu suara siapa itu. Baru saja Jongdae duduk di samping Aeri dan memandangnya, dengan cepat gadis itu menyedot jus jambunya sampai habis.
    Kok gw gemes ya pas bagian Aeri yang ini, yaampun kocak banget sumpah wkwkwkw XD

    Ly, si Tao kok sweet banget si di sini??? kenapa haaa?? bikin aww aww hati gw aja ihh, lu mah kejam sama gw wkw /ati-ati Tao jadi sering gw lirik-lirikin/ asdfghjkl…….

    udah ahh kelar komenan gw yang di chapter ini ::((( kan bikin baper gara2 Aeri dikasih dua pink note. Terus Jongdae teh kumaha? /PYONG/

    1. Hei berlyyyyyy~
      Gemes kenapa pula sama part itu wkwkwk heran dirikuh
      Eih? Sejak kapan lu jadi naksir sama Tao ber? Hati lu aww aww entar chanyeolnya mabur lu. Wakakakakak XD
      Makasih ya ber udah baca wkwkwk

Mind to Review? ^ ^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s