Love Note : 14th 200%

love note cover 11 new

© Aeri_Tamie’s Script Writer

Casts : Song Aeri; Kim Jongdae (EXO-M’s Chen); Cho Kyuhyun (Super Junior’s Kyuhyun); Shin Yeonjoo

Other Casts : You can find it in here ^^

Genre : Romance, Drama, Friendship, Comedy Rated : PG-17 Length : Chapter

Disclaimer : 20131025 © Aeri_Tamie

Previous Chapter :

1st Unexpected 2nd (Really) Unexpected 3rd Complicated 4th Let’s Play 5th Grey Paper 6th Love & Dust 7th Pain 8th Confession 9th Unpredictable 10th New 11th First Confusion 12th Realize 13th Decision

Note      : Aaahh, I’m sorry. Saya ingkar janji x_x saya udah berkoar-koar bilang bentar lagi ending dan ini adalah chapter menjelang ending. Ini juga emang seharusnya chapter terakhir sebelum ending. Tapi, tapi, tapi, ini panjang banget dan saya ga mungkin semuain karena saya punya batasan halaman biar ga panjang banget pas posting. Maaf yaaa TT.TT

***

» Story 14 : 200%

Ke mana sih Jongdae? Sudah seminggu terakhir aku tak melihatnya. Biasanya ia selalu muncul kapanpun, bahkan disaat aku tak ingin melihatnya.

Aeri menghelakan napas panjang sambil menutup buku-buku yang berhasil ia dapatkan untuk melengkapi tugas mingguannya. Sesekali, ia membaringkan kepalanya di atas meja dan melirik ke arah ponselnya. Sungguh, biasanya Jongdae akan mengirimkan pesan untuknya lewat LINE atau akun SNS lainnya. Dan, selama seminggu ini ia sama sekali belum mendengar dering notifikasi dari ponselnya.

“Youngmi-ya, kau lihat Jongdae?”

Youngmi melirik ke arah Aeri yang kini sedang duduk di sebelahnya. Kemudian, matanya kembali terfokus pada ponselnya. “Entahlah. Aku tidak melihatnya dari tadi pagi.”

“Lalu, kau tahu di mana Hyoae sekarang?” tanya Aeri lagi.

“Aku juga tidak tahu,” balas Youngmi singkat. “Kau ini bagaimana sih. Seharusnya pergunakan teknologi canggih untuk mendeteksi di mana keberadaan orang yang kaucari saat ini. Kau kan bukan hidup di zaman batu yang teknologi masih sangat minim. Kalau kau ingin tahu di mana Jongdae Sunbae, hubungi dia lewat LINE. Kaupikir hidup orang itu juga masih berada di bawah naungan tahun 80-an yang teknologinya hanya mencapai sebuah pager.”

Aeri hanya diam dan menutup kedua telingaya ketika Youngmi berceramah layaknya pidato di depan masyarakat. Sungguh, ia paling sebal jika Youngmi mulai bicara panjang. Pantas saja Hyoae dan Hyena langsung kabur kala gadis itu mengomel di depan mereka.

Akhirnya, Aeri meraih ponsel dan membuka aplikasi LINE dengan bimbang. Haruskah ia menanyakan keberadaan lelaki itu? Tapi, kalau tidak bertanya ia juga sedikit cemas—entah mengapa. Tepat saat aplikasi tersebut berhasil dibuka, sebuah notifikasi dari LINE masuk. Senyum gadis itu sempat mengembang, namun kembali ke seperti semula ketika ia tahu notifikasi tersebut berasal dari Hyoae.

Sambil mengendus, Aeri membuka notifikasi tersebut dan membacanya.

[Jung Hyoae] Ri-ya, kau ada waktu hari ini untuk pergi ke Ruby and Peach? Hari ini special event karena akan ada penampilan dari para pemilik saham Ruby and Peach. Termasuk Luhan Gege dan Jongdae Sunbae.

Ah, Ruby and Peach! Aeri teringat jika Jongdae merupakan salah satu pemilik saham coffee shop tersebut dan yang pasti lelaki itu selalu berada di sana.

Seketika gadis itu bangkit dari duduknya dan membereskan semua buku yang akan ia pinjam. Youngmi yang melihat sikap aneh sahabatnya hanya memandang heran.

“Mau ke mana kau?” tanya Youngmi.

“Menemui Hyoae.”

“Sore-sore begini di mana?” tanya Youngmi lagi dengan nada meyakinkan. Lalu, ia melirik arlojinya sekilas. “Sekarang kan sudah jam 3 sore.”

“Di Ruby and Peach. Coffee shop yang ada di daerah Kangnam. Aku pergi dulu ya, Youngmi-yaaa. Annyeong!” pamit Aeri cepat sambil melambaikan tangannya pada gadis itu dengan wajahnya tampak sumringah.

Sebelum berjalan meninggalkan perpustakaan dan menyapa langit sore, Aeri sempatkan diri untuk membalas LINE dari Hyoae.

[Song Aeri] Aku akan datang ke sana. Segera. Jadi, tunggu aku, Hyoae-ya.

***

Aeri agak berjalan pelan ketika langkah kakinya semakin lama semakin mendekati pintu masuk coffee shop. Perasaannya mendadak agak ragu. Perasaannya semakin ragu ketika tangannya berusaha meraih gagang pintu masuk coffee shop.

Apa Jongdae benar-benar datang? Kalau dia tidak ada di sana, bagaimana?

Perasaan ragu langsung hilang seketika dan berubah menjadi terkejut ketika seseorang tiba-tiba membuka pintu masuk. Tampak, orang itu juga kaget melihat kedatangan Aeri.

“Ri-ya, kau sudah datang rupanya. Aku sudah menunggumu daritadi sembari menonton Luhan Gege yang sebentar lagi akan tampil. Dan, sepertinya kau datang di saat yang tepat karena Jongdae Sunbae sebentar lagi juga akan tampil setelah penampilan dari Yixing Gege,” celoteh Hyoae sambil memasang wajah senang ketika melihat Aeri datang. “Ayo masuk. Di dalam sana sudah sangat ramai.”

Tanpa aba-aba, Hyoae langsung menggamit lengan Aeri dan menarik gadis itu masuk. Sesampai di sana, Aeri dapat melihat para pengunjung coffee shop sangat ramai dan rata-rata didominasi oleh para gadis dan wanita paruh baya.

“Nona Song! Hyoae-ya!”

Aeri menoleh dan mendapati Minseok yang kini sedang melambaikan tangannya pada kedua gadis itu. Seketika, senyum mereka mengembang dan segera berjalan menghampiri lelaki lucu tersebut. Sesekali, gadis itu dapat merasakan bila ada beberapa orang yang menatapnya dan Hyoae—entah penasaran atau membunuh. Membayangkannya saja membuat Aeri ngeri dan merinding. Makanya, ia lebih baik tidak pernah menoleh ke belakang.

“Minseok Oppa~” sapa Aeri sambil tersenyum dan duduk di depan bars tool memandang Minseok yang kini sedang menerima pesanan.

“Kau datang di saat yang tepat, Nona Song. Jongdae sebentar lagi akan tampil. Kau mau pesan apa?” kata Minseok.

“Hot chocolate saja, Oppa,” jawab Aeri spontan.

“Wah, tidak biasanya kau pesan hot chocolate. Biasanya caramel macchiato,” sahut Hyoae tiba-tiba yang kini sudah duduk di samping Aeri.

“Hmm, aku ingin berbeda saja kali ini,” alibi Aeri sambil menoleh ke arah lain.

“Sedang apa kau di sini?”

Kedua mata Aeri membesar hebat ketika melihat seorang lelaki yang kini sedang berdiri di hadapannya dengan tatapan tajam ke arahnya. Rambutnya yang kemarin sempat ia warnai dengan merah marun, kini berubah menjadi warna cokelat yang lebih gelap. Siapa lagi kalau bukan Kim Jongdae.

“Aku diundang oleh Hyoae,” jawab Aeri santai sambil tersenyum. “Lagipula, kita sudah lama tak bertemu. Terakhir―”

Mendadak ucapan Aeri menggantung begitu saja, ketika ia mengingat kejadian minggu lalu. Di rumah Jongdae telah terjadi sesuatu…. Bukankah saat ini ia harus menghindari lelaki ini? Ya kan? Pikir Aeri dengan setengah bingung. Namun, entah mengapa hatinya tidak setuju dengan pikiran milik otaknya itu.

“Apa?” tanya Jongdae dengan nada ingin tahu. Hal itu membuat Aeri langsung tersadar dari lamunannya.

“Sunbae!”

Seketika, Jongdae melirik dan mendapati Hyoae yang kini sedang memandangnya sambil tersenyum. “Sunbae, maaf ya kalau kau tak berkenan. Tapi, tadi aku mengajak Ri-ya ke sini untuk melihat pertunjukan ini. Lagipula, sebentar lagi kau akan tampil kan? Ah, tak apalah. Kan yang menonton hanya temanmu. Ya kan, Ri-ya?”

Teman. Belakangan rasanya Jongdae sebal jika mendengar kata ‘teman’ untuk menghubungkan dirinya dengan Aeri. Sungguh konyol. Makanya, dengan cepat Jongdae melirik ke arah Aeri yang mendadak kikuk hendak menyahuti ucapan Hyoae.

“I-iya,” ucap Aeri dengan susah payah dan menyeruput hot chocolate dengan cepat setelah ia tahu Minseok telah menaruhnya.

“Jongdae-ya!”

Jongdae segera menoleh saat suara Yixing memanggil namanya. Tampak, Yixing tanpa suara langsung memberikan isyarat untuk naik ke atas panggung. Dengan cepat, Jongdae mengangguk padanya dan kembali menoleh ke arah Aeri.

“Aku harus pergi sekarang,” pamit Jongdae.

Aeri menyahutinya sambil tersenyum. “Semoga sukses.”

Jongdae mengangguk sebelum pergi ke atas panggung. Ketika ia telah berdiri di sana, semua mata tertuju ke arahnya. Jongdae terdiam sejenak ketika tubuhnya berhasil berhadapan dengan sebuah grand piano. Lalu, dentingan tuts-tuts piano mulai mengalun diiringi dengan suara merdu dan khas milik Jongdae.

Always right under the same sky
Always the same few days
In addition to not having you there’s nothing different at all

I’ve been thinking about letting you go
Without leaving vague memory like nothing happened
Smiles turn my days

Miss you, miss you so much
Because I miss you so much
Every day I’m lonely
And I call yours

Want to see, want to see you
Because I want to see you
Now just like a habit
I just call your name

Even at this time

I’ve been thinking about letting go
No, no, I still can not let go

Miss you, miss you so much
Because I miss you so much
Every day I’m lonely
And I call yours

Want to see, want to see you
Because I want to see you
Now just like a habit
I just call your name

Even at this time

Every day seems to be the last day for me
What should I do
Love, I love you
Really love you
Confession is too late, if you’ve heard

Sorry, forgive me
Do you hear me
Confusion that late can you hear this
I love you

[♫ Jung Yonghwa – Because I Miss You]

Akhirnya, penampilan Jongdae diakhiri dengan riuh tepuk tangan para pengunjung yang meriah. Semuanya bertepuk tangan, terkecuali satu orang. Aeri terdiam memandang wajah Jongdae. Dari sisi pandang matanya, dapat terlihat Jongdae sedikit terluka karena sesuatu.

“Bagaimana penampilanku tadi?”

Aeri tersentak kaget dan memandang Jongdae yang kini sudah duduk di sampingnya. “Ah-Hmm, bagus,” jawab Aeri sedikit kikuk.

“Oh, begitu. Baguslah. Padahal tadi aku sempat berpikir suaraku jelek saat ini untuk didengar.”

“Suaramu kan memang tetap begitu, Jongdae-ya,” sahut Aeri dengan nada datar. “Oh iya, lagu yang kaunyanyikan tadi untuk siapa? Kedengarannya sedih sekali.”

“Untukmu.”

Aeri mengerutkan keningnya saat mendengar ucapan Jongdae yang kini kedua mata lelaki itu sedang menyudutkannya. Orang ini berbohong atau jujur sih? Entah mengapa, tingkah lelaki ini menjadi sulit sekali untuk ditebak. “Kau mau bercanda ya? Lucu juga, tapi saat ini aku sedang tidak ingin tertawa. Maaf ya.”

Hening sejenak percakapan diantara mereka.

Sedetik kemudian, Jongdae langsung tertawa keras. Maka dari itu, wajah Aeri agak bingung melihat reaksi lelaki yang ada di hadapannya. Untung saja, tawa Jongdae tak berhasil membuat seluruh pengunjung menjadikannya sebagai tontonan konyol gratis. Masih untung juga Aeri tak dibuat malu oleh lelaki ini.

“Ada apa denganmu sekarang?” tanya Aeri aneh.

Tampak, Jongdae berusaha mengendalikan tawanya. “Memangnya kau percaya dengan jawabanku tadi? Melihat wajahmu yang seperti itu saja, membuatku kehabisan napas karena tertawa.”

“Jadi, kau sekarang pintar mengejek orang lain?” ungkap Aeri dongkol. “Terima kasih atas ejekanmu, Tuan Kim. Aku mau pulang,” pamit Aeri dengan nada kesal sambil melirik arlojinya yang kini sudah menunjukkan pukul 18.48 KST.

Aeri bisa memprediksikan bahwa suasana langit malam yang cerah dengan taburan bintang akan menyapanya begitu keluar dari coffee shop ini. Sambil menghelakan napas panjang, Aeri berpamitan kepada semua staff yang ada di coffee shop dan keluar dari sana.

“Ayo, pulang.”

Aeri mendongak dan mendapati Jongdae telah berdiri di sampingnya dan menatapnya. Sejak kapan orang ini keluar?

“Aku baru saja keluar dan hendak pulang. Aku juga tak ingin terjadi sesuatu yang menimpamu lagi, Ri-ya,” ucap Jongdae menjelaskan seolah ia bisa membaca pikiran gadis yang sudah berada di sampingnya selama beberapa menit.

Sementara, Aeri hanya menatap lelaki itu datar lalu hendak berjalan menuju halte bus. Namun, langkah kakinya kembali ditahan oleh Jongdae.

“Tunggu dulu.”

“Apa lagi?” sembur Aeri langsung.

“Ayo pulang dengan mobilku,” ajak Jongdae.

“Mobil?” Aeri memasang wajah bingung ketika mendengar Jongdae mengatakan bahwa ia membawa mobil. Setahunya, lelaki itu tak pernah keluar dengan mobil. “Sejak kapan kau mengendarai mobil bila keluar rumah? Lalu, mana mobilmu?”

“Aku tidak memarkirkannya di sini. Aku memarkirkannya di basement hotel dekat coffee shop biar aman. Ayo,” ajak Jongdae sambil menggamit tangan Aeri.

Sedangkan Aeri hanya memikirkan ucapan Jongdae tadi. Di basement hotel? Orang ini tidak akan macam-macam kan? Batinnya seraya melirik ke arah Jongdae dengan penuh waspada.

“Kenapa sekarang diam setelah tadi kau banyak tanya? Mulai berpikir macam-macam?” tembak Jongdae langsung yang mampu membuat Aeri seketika terhenyak.

“Aniya!” jawab Aeri tanpa ragu sembari mengendus.

Kemudian, tak ada suara lagi yang memenuhi lingkup mereka berdua. Yang ada hanyalah keheningan dan suara-suara kecil. Ditambah dengan suasana yang mendadak canggung karena keduanya sama-sama tak ada yang ingin kembali memulai pembicaraan kecil.

Aeri melirik ke arah tangannya yang kini digenggam oleh Jongdae dengan erat. Jantungnya sebenarnya sudah berdebar dengan kencang sedaritadi dan ia berharap Jongdae sama sekali tak mendengarnya. Pikirannya berputar-putar. Ia mencoba mengingat apa yang diucapkan Jongdae selama ini padanya.

“..kau bukan laki-laki dan kau juga bukan perempuan tangguh. Aku ini sudah sangat mengenal dirimu..”

“…apa untuk saat ini perasaanmu masih dipedulikan jika Joo Noona maupun Kyuhyun Hyung sudah saling mencintai? Maaf, aku bukannya menyepelekanmu. Tapi, aku sendiri sudah tak bisa berbuat apa-apa lagi selain ini..”

“…Kau boleh membenciku, tapi setidaknya kau tidak boleh merusak rencanaku besok. Aku tak ingin rencana yang sudah kupikirkan sejak kemarin gagal karena dirimu.”

“Mianhae, aku.. sudah membuatmu menjadi debu.”

“…bagaimana bisa kau sekarang mengataiku setelah menangis keras seperti anak kecil? Dasar bodoh.”

“Kau masih membenciku?”

“Seorang gadis dan seorang lelaki itu berbeda. Gadis itu melibatkan perasaan dalam urusan cinta. Dan, lelaki tidak semuanya urusan cinta melibatkan perasaan.”

“…Maafkan aku..”

“….Aku tidak tahu apakah kau akan terluka lagi nanti. Kalaupun kau terluka lagi karena permainan itu, aku akan berusaha melindungimu apapun yang terjadi.”

“Kau baik-baik saja kan?”

“Semuanya akan baik-baik saja. Tidak ada yang terjadi padamu, Ri-ya. Aku akan berusaha melindungimu apapun yang terjadi. Jangan khawatir, semuanya akan baik-baik saja.”

“Jangan menangis lagi, kumohon.”

“Apa kau akan benar-benar begitu padaku?”

“Manis.”

“Pantas saja Tao menyukaimu..”

Mendadak pula, ia teringat apa yang diucapkan oleh Tao kemarin dulu saat mereka mengunjungi rumah Aeri yang berada di Itaewon.

“…Kau mau pilih Cho Kyuhyun atau Kim Jongdae?”

“Kenapa? Benar-benar masih bingung?”

“Dari matamu saja sudah terpancar siapa yang sudah bisa membuatmu kembali jatuh cinta.”

Jadi, sebenarnya aku jatuh cinta pada siapa maksudnya? Pikir Aeri. Lalu, ia kembali mendongak ke arah Jongdae yang sekarang terfokus pada jalan. Perlahan, senyum mulai terukir di bibir Aeri. Ia sudah mengerti siapa yang sudah membuatnya begini.

“Apa lagi yang kaupikirkan sekarang, Ri-ya?”

Aeri mendongak dan mendapati Jongdae sedang memandangnya. Dengan kikuk, gadis itu menjawab, “Tidak ada kok.”

Mendengar jawaban Aeri membuat Jongdae berpikir. Mendadak saja ia teringat sesuatu. Lelaki itu harus meluruskan sesuatu dengan Aeri. Ya, harus. “Emm, Ri-ya.”

“Ne?”

Jongdae bingung harus bagaimana merangkai katanya untuk gadis di sampingnya. “Hmm, maafkan aku atas yang terjadi di rumahku waktu itu.”

“Yang mana, ya?” tanya Aeri dengan tak mengerti.

Hal itu membuat Jongdae langsung menepuk keningnya kuat-kuat. Haruskah ia menjelaskannnya sampai detail? Sungguh, perbuatannya yang konyol itu seharusnya tak perlu diungkit sampai melebar begini! Batin Jongdae sambil menarik napas panjang—berusaha bersabar pada Aeri. “Maksudku.. saat insiden ciuman itu―”

“Oh, kalau yang itu tidak masalah kok. Anggap saja itu tak pernah terjadi. Iya, seperti itu saja,” tukas Aeri cepat-cepat kala ia baru ingat bahwa pembicaraan yang Jongdae angkat adalah yang menyangkut insiden minggu lalu yang membuatnya tak bisa tidur dengan nyenyak dan selama tak bertemu Jongdae membuat wajah gadis itu bersemu merah.

Suasana canggung kini kembali memenuhi suasana diantara Aeri dan Jongdae. Dan itu semua berkat topik yang Jongdae bicarakan sangat tidak perlu diungkit.

Namun, pandangan Jongdae tiba-tiba saja terfokus pada kumpulan pria-pria yang kini sedang berkumpul di dekat halte bus. Tampak, tingkah mereka seperti orang linglung. Seketika, langkah Jongdae terhenti begitu saja karena teringat sesuatu.

“Ada apa, Jongdae-ya?” tanya Aeri heran ketika melihat Jongdae berhenti secara tiba-tiba.

“Ini tidak bagus, Ri-ya,” jawab Jongdae. “Mereka yang kuhajar waktu itu sepertinya hendak mengincarku sekarang.”

Awalnya Aeri sama sekali tak mengerti. Namun, kedua matanya tiba-tiba membesar hebat ketika ia melihat kumpulan pria yang berdiri di dekat halte bus dengan tingkah seperti orang linglung. Apalagi napasnya semakin tercekat ketika melihat salah seorang dari mereka menunjuk ke arahnya dan hendak berjalan ke tempat di mana Jongdae dan Aeri berada.

“Jongdae-ya…” panggil Aeri dengan nada gemetar sembari mencengkram kemeja Jongdae dengan erat. “Mereka kan… orang-orang yang menggangguku waktu itu. Mereka berjalan ke mari, Jongdae-ya….”

“Tak ada waktu lagi,” sahut Jongdae. “Ayo, berbalik!”

Seketika Jongdae berbalik diikuti oleh Aeri, kemudian mereka berlari sekencang mungkin. Sesekali Jongdae menoleh ke belakang dan mendapati kumpulan pria tersebut sudah mendekati mereka dengan cara yang sama dengan Jongdae dan Aeri lakukan.

“Jongdae-ya, mereka semakin mendekat!!” seru Aeri dengan nada sedikit panik.

“Jangan khawatir. Ke mari, genggam tanganku erat-erat!” ucap Jongdae sambil berusaha mengeratkan genggaman tangan Aeri sebelum ia menambah kecepatan berlarinya.

Setelah berlari kencang, Jongdae kembali menoleh ke belakang dan medapati jaraknya dengan orang-orang yang mengejar mulai berjauhan. Hal itu langsung dijadikan Jongdae kesempatan untuk bersembunyi. Kemudian, kedua matanya yang bening tersebut mengedarkan pandangannya ke segala penjuru tempat.

“Ke sini, Ri-ya!” ajak Jongade sambil menarik tangan Aeri ke sebuah gang sempit.

“Ke mana mereka?! Sial!”

Jongdae segera mendekap mulutnya dan mulut Aeri agar kumpulan pria yang mengejar tadi tak dapat mendengar suara deru napas mereka berdua.

“Mungkin ke sana!”

“Ayo!”

Setelah orang-orang tersebut pergi, Jongdae melepaskan dekapannya dari mulut Aeri dengan lemas karena kehabisan napas. Sementara, Aeri hanya memandang Jongdae dengan tatapan perasaan bersalah.

“Maafkan aku, karena aku kau juga terlibat…” ucap Aeri pelan.

“Tak apa-apa. Ayo, keluar dari sini. Aku malah merasa lega saat melihatmu selamat,” balas Jongdae.

Akhirnya mereka keluar dari gang sempit tersebut dan berjalan menelusuri rumah-rumah penduduk dan gedung-gedung apartemen di kawasan Apgujeong, Kangnam.

Aeri berusaha memulai pembicaraan. “Hm, Jongdae-ya, sebenarnya hotel tempat kau memarkirkan mobilmu di mana sih?”

“Karena para pemabuk brengsek itu, kita harus melewati rute yang lebih panjang. Maaf ya,” jawab Jongdae sambil berdecak kesal.

“Tidak apa-apa. Ini juga karena salahku,” sahut Aeri.

Lama mereka berjalan, hingga sampailah mereka di sebuah jalanan setapak yang dipenuhi oleh pepohonan yang telah gugur dan lampu-lampu taman.

“Ri-ya! Lihat ini!” ajak Jongdae tiba-tiba.

Hal itu membuat Aeri sangat penasaran dan menoleh ke arah yang ditunjuk oleh Jongdae. Sesaat kemudian, kedua matanya memandang takjub ketika tahu bahwa yang Jongdae perlihatkan adalah sebuah pemandangan malam kota Seoul yang dilihat dari ketinggian. Gadis itu baru menyadari bahwa langkah kakinya telah sampai di dataran tinggi.

“Aku baru tahu ada pemandangan kota seindah ini di Seoul,” ucap Aeri takjub.

Jongdae menghelakan napas panjang sambil tersenyum. “Aku juga baru ingat kalau rute yang kita lewati saat ini meskipun panjang, namun sedikit terhibur dengan pemandangan malam begini,” balas Jongdae.

“Kalau begitu, tolong foto aku di sini,” pinta Aeri. “Kalau tidak, ya pemandangannya saja. Pokoknya, tolong ambilkan foto untukku.” Aeri meminta pada Jongdae sembari memberikan ponselnya pada Jongdae.

Sementara, orang yang disuruh mengambil gambar hanya menggerutu. “Cih, giliran melihat pemandangan seperti ini saja sudah minta foto.”

Butuh beberapa detik untuk mengambil gambar pemandangan melalui ponsel Aeri. Kemudian, Jongdae memeriksa hasil pengambilan gambarnya melalui ponsel Aeri.

“Bagus tidak gambar yang kauambil tadi?” tanya Aeri penasaran.

“Tunggu sebentar. Aku sedang memeriksanya tahu,” jawab Jongdae sekenanya.

Beberapa gambar yang Jongdae ambil membuat lelaki itu tersenyum bangga. Tetapi, tangannya tiba-tiba saja berhenti bergerak ketika melihat sesuatu. Ia melihat sebuah foto berisi satu orang lelaki dan gadis yang sedang berpose dengan pakaian seragam SMA-nya.

“Sudah belum?” tanya Aeri memastikan. “Kenapa lama sekali?” dengusnya.

Jongdae terdiam sejenak. “Aku baru tahu kalau kau masih menyimpan foto kita di ponselmu.”

“Apa?”

Dengan penasaran, Aeri menghampiri Jongdae dan memandang apa yang dilihatnya. Kedua mata gadis itu mendadak membulat dan bersemu merah karena kaget. Sepecat kilat, ponsel yang sejatinya berada di tangan Jongdae langsung dirampas oleh Aeri.

“Hmm.. ini foto masa SMA yang jelek kan? Wajah kita masih anak remaja ingusan, jadi aku hapus saja ya biar kau dan aku tak malu,” kata Aeri cepat-cepat.

“Kenapa dihapus? Disitu kan kau manis sekali.”

Deg! Sialan, sialan, sialan, umpat Aeri dalam hati. Sejak kapan sih orang ini sikapnya jadi lebih berterus terang? Apa dia tidak tahu, sekali dia bicara jujur jantungku seolah berhenti berdetak beberapa detik? Batin Aeri sembari mengelus dadanya perlahan.

“Terima kasih atas pujianmu. Dan sekarang, ayo kita lanjutkan perjalanan dan pulang. Aku ingin tidur,” ucap Aeri pelan sambil memasukkan ponselnya ke dalam tas dan berjalan meninggalkan Jongdae. Kedua manik mata gadis itu bahkan sama sekali tak melirik ke arah Jongdae.

***

Di Minggu pagi yang cerah, suasana di kamar Aeri masih sunyi. Tapi, bukan berarti gadis itu sama sekali belum bangun. Gadis itu hanya belum beranjak dari ranjangnya. Kedua mata gadis itu sebenarnya sudah terbuka lebar. Jika ditanya apakah Aeri tadi malam tertidur pulas, tentu saja. Tapi, pikiran dan hatinya sama sekali tidak tidur.

Aeri menghelakan napas panjang sembari memandang sinar matahari yang menembus celah-celah jendela yang belum sepenuhnya terbuka lebar.

“Apakah aku yakin dengan perasaanku?” ucap Aeri bermonolog. “Tapi, aku takut kembali terluka.”

Lalu, kedua mata Aeri beredar dan terpaku pada dua buah pink note yang terlipat rapih dan tergeletak di atas meja nakasnya. Dengan lemas, gadis itu meraihnya dan membuka kedua pink note tersebut. Tampak, salah satu pink note tersebut tertulis sebuah untaian prosa yang panjang dengan tinta merah menyala yang melekat. Sementara, satunya lagi hanya tertulis beberapa kalimat dengan tinta warna hijau pekat yang terukir.

Aeri tahu jika pink note dengan tinta berwarna merah menyala itu milik Tao dan pink note dengan tinta berwarna hijau pekat milik Kyuhyun. Namun, ia belum sempat membaca isi pink note yang ditulis oleh Kyuhyun. Maka, dengan refleks manik mata cokelat pekat milik Aeri langsung membaca isi pink note milik Kyuhyun.

Untuk adikku tersayang, Song Aeri.

Aku bingung ingin menulis apa di pink note ini. Jadi, aku hanya ingin langsung ke intinya saja. Kau itu bagaikan adik kesayanganku mengingat aku tak memiliki seorang adik dan hanya memiliki seorang kakak perempuan bernama Cho Ahra. Jadi, aku hanya ingin mengatakan satu hal padamu ketika aku mendengar pengakuanmu yang terdengar cukup mengejutkan. Aku juga mencintaimu, Ri-ya.

Cho Kyuhyun.

Aeri langsung menaruh kedua pink note yang berada di genggamannya ke meja nakasnya sebelum ia menjadi gila. Gadis itu langsung mengendus kesal. Ia bingung. Amat bingung dengan perasaannya sekarang. Seolah di hadapannya terdapat tiga orang lelaki yang harus ia pilih sesuai dengan perasaan hatinya. Sebenarnya yang dipilih hanya dua orang saja, tetapi ada satu orang yang benar-benar menghinggapi pikirannya sekarang.

Pertama, Huang Zitao.

Kedua, Cho Kyuhyun.

Ketiga, Kim Jongdae.

“Aaahhh, tolong seseorang panggilkan psikiater untukku!!!” seru Aeri dengan nada frustasi.

Ting!

Aeri langsung menoleh ke sumber suara ketika mendengar sebuah dering notifikasi LINE dari ponsel mengejutkannya ditengah ia sedang berteriak layaknya orang gila. Dengan lesu, ia mengambil ponsel dari meja nakasnya dan membacanya.

Sedetik kemudian, mulut Aeri ternganga lebar ketika tahu ia mendapatkan notifikasi pesan dari Jongdae.

[Kim Jongdae] Ri-ya, kau ada waktu malam ini?

***

[Kim Jongdae] Ri-ya, kau ada waktu malam ini?

Jongdae terdiam ketika ia tahu bahwa pesannya sudah terbaca oleh Aeri melalui tulisan read yang tertera disamping pesannya yang baru saja ia kirim. Jarinya mengetuk-ngetuk meja makan menunggu balasan dari Aeri.

“Sedang apa kau?”

Jongdae mendongak dan mendapati Kim Jongdeok—kakak lelakinya sedang meneguk segelas susu yang telah disiapkan oleh Nyonya Kim. Tampak, kedua bola mata milik kakaknya tersebut sesekali melirik ke arah ponsel Jongdae. “Menunggu balasan LINE dari pacarmu, ya?”

“Mau tahu saja kau, Hyung. Urus saja pacarmu yang bernama Kang Mikyung itu,” sembur Jongdae dengan nada dongkol.

Ting! Jongdae langsung menyambar ponselnya begitu mendengar dering notifikasi LINE dari ponselnya setelah ia berhasil membalas ucapan sang kakak. Ia yakin sekali bahwa notifikasi tersebut berasal dari Aeri. Dan, benar saja. nama Aeri tertera di sana. Dengan cepat, kedua matanya membaca isi pesan gadis itu.

[Song Aeri] Ada. Kebetulan tugasku sudah kukerjakan semua kemarin. Ada apa?

“Oh, jadi kau berpacaran dengan teman SMA-mu yang bernama Aeri itu?”

Jongdae mendelik dan mendapati Jongdeok sedang mengintip ponselnya. “Hyung!! Urus saja dirimu sendiri!” teriak Jongdae akhirnya dengan kesal.

“Aish, pasti kau mengajaknya berkencan,” sahut Jongdeok dengan pandangan menggoda pada Jongdae. “Tenanglah sedikit. Lagipula, aku kan tidak bermaksud untuk mengambil pacarmu itu. Song Aeri kan namanya? Sepertinya Eomma tahu tentangnya.”

“Hyung!!” teriak Jongdae lagi karena semakin kesal.

Akhirnya, Jongdae memutuskan untuk tak mempedulikan sang kakak dan kembali berkutat dengan ponselnya.

[Kim Jongdae] Aku ingin mengajakmu pergi. Kau mau tidak?

Sesaat kemudian setelah ia menekan tombol send, Jongdae mulai berpikir. Apakah ini termasuk ajakan kencan? Bagaimana kalau Aeri menolaknya? Pikirnya.

Ting! Pertanyaan Jongdae kini menggantung di pikirannya begitu saja ketika ia kembali mendengar dering notifikasi LINE dari Aeri setelah beberapa menit tanpa jawaban. Dengan perasaan berdebar-debar, lelaki itu membacanya untuk menjawab pertanyaan yang menggantung di otaknya.

[Song Aeri] Baiklah. Kapan waktunya?

Jongdae langsung tersenyum penuh kemenangan begitu tahu isi pesan Aeri. Dengan cepat, ia membalas LINE Aeri.

[Kim Jongdae] Nanti aku akan ke asrama untuk menjemputmu.

***

[Kim Jongdae] Nanti aku akan ke asrama untuk menjemputmu.

Aeri terdiam melongo membaca isi pesan LINE yang dikirimkan Jongdae untuknya. Ini… seperti kencan. Senyum Aeri kali ini tak dapat ditahan karena—entah mengapa ia begitu bahagia. Tapi, apa tidak apa-apa? Mendadak gadis itu kembali ragu ketika ia kembali berpikir.

Sambil kembali menghelakan napas untuk kesekian kalinya, Aeri menghempaskan kembali tubuhnya ke ranjang sambil menggerutu, “Lebih baik aku disuruh membersihkan seluruh isi asrama daripada disuruh berpikir keras begini.”

“Ri-ya!!”

Seketika, Aeri terlonjak kaget mendengar teriakan dari luar. Secepat kilat, Aeri melesat ke arah pintu kamarnya dan membukanya. Tampak, Yoora, Hyoae, dan Hyena sedang berdiri di depan kamarnya. Hal itu membuat Aeri kaget dan bingung. “Ada apa?”

“Hari ini kita bertugas membersihkan asrama. Kau mau apa? Menyapu dan mengepel lantai asrama, mengelap kaca jendela asrama, menyirami tanaman di kebun, memasak untuk para penghuni asrama yang hari ini semuanya berada di rumah, atau―”

“―Aku pilih menyapu dan mengepel lantai asrama seluruhnya saja! Iya, yang itu saja!” ucap Aeri cepat menukas ucapan Hyena yang kini melongo di hadapannya.

“Baiklah, kalau begitu. Aku yang menyirami tanaman di kebun. Hyena, kau mengelap kaca jendela asrama. Dan Hyoae, kau yang memasak ya,” ucap Yoora.

Hyena dan Hyoae setuju. “Baiklah,” ucap mereka serempak.

“Ri-ya, semangat untuk menyapu dan mengepel lantai asrama yang amat luas ini ya,” ucap Hyoae menyemangati semabri menepuk bahu sahabatnya.

“Tentu saja!” balas Aeri dengan nada bersemangat sebelum ia meninggalkan teman-temannya dengan cepat.

Sementara, Yoora, Hyena, dan Hyoae terdiam melihat tingkah Aeri yang sangat bersemangat.

“Tidak biasanya dia memilih menyapu dan mengepel lantai asrama. Biasanya ia berlangganan memilih menyirami tanaman di kebun,” ucap Hyoae.

“Belakangan ini sikap Aeri agak aneh, Hyo,” ucap Yoora.

Dan, Hyena hanya membalas ucapan Hyoae dan Yoora dengan angkatan bahu.

Di sisi lain, Aeri bersiap membersihkan seluruh lantai asrama dengan semangat. Padahal, baru saja ia mengatakan keinginannya dan langsung dikabulkan begitu saja. Memang lebih baik membersihkan asrama ketimbang memikirkan yang lain.

***

[Kim Jongdae] Ri-ya, aku akan segera ke asrama untuk menjemputmu.

Aeri langsung terlonjak kaget ketika membaca pesan LINE dari Jongdae yang begitu tiba-tiba. Memang ini sudah jam berapa? Pikirnya sembari melirik jam dinding yang menggantung di dinding kamarnya. Tampak, jam tersebut menunjukkan pukul 17.30 KST.

Astaga, ia belum mandi! Pekik Aeri dalam hati sambil menepuk keningnya kuat-kuat. Bagaimana bisa ia melupakan janjinya dengan Jongdae. Aish, ini seperti karena ia memutuskan untuk tak terlalu stress. Tapi, niatnya begitu malah membuatnya kelupaan seperti ini. Dengan secepat kilat, gadis itu langsung menyambar handuk dan masuk ke dalam kamar mandi.

Setelah 15 menit Aeri pakai untuk mandi, akhirnya ia selesai mandi dan memakai kaus dan sweater berwarna biru dongker serta skinny jeans berwarna hitam dan tak lupa juga mantel berwarna biru muda. Sungguh, saat ini sudah tak peduli apakah ia kencan atau bukan. Yang penting sekarang ia harus sudah siap! Pikir Aeri seraya melepas ikatan rambutnya dan menggerainya sehingga dapat terlihat rambut sebahu gadis itu.

Ting! Aeri langsung menyambar ponselnya begitu mendengar dering notifikasi dari LINE yang sudah dipastikan berasal dari Jongdae. Dengan perasaan sedikit gugup, ia membaca isi pesan dari Jongdae.

[Kim Jongdae] Hei, aku sudah berada di depan asramamu.

Sudah di depan asrama?! Pekik Aeri dalam hati dengan perasaan panik. Segera, ia meraih syal berwarna biru dongker dan topi bunny rajut berwarna senada. Setelah itu, ia mengambil tas kecil, dompet, dan mengambil beberapa pink note dan blue note yang mungkin saja nanti tiba-tiba diperlukan. Kemudian, ia melesat keluar dari kamarnya dan mengunci pintunya.

“Sepertinya kau terlalu takut membuatku menunggu lama ya?”

Baru saja Aeri selesai berlari dan berhadapan dengan Jongdae, gadis itu sudah disuguhi pertanyaan dari lelaki tersebut.

“Ti-tidak. Tadi, aku sempat lupa. Untung saja tepat waktu. Ayo, pergi,” jawab Aeri dengan napas yang sedikit terengah-engah karena berlari.

Saat Aeri mendongak, dapat ia lihat penampilan Jongdae berbeda dengan biasanya. Kali ini, lelaki itu terlihat tampan dengan balutan kemeja putih dan sweater hitam dibalut dengan mantel abu-abu dan syal berwarna hitam. Ditambah lagi, rambut cokelat pekat lelaki itu yang ditata rapih membuat penampilan Jongdae semakin sempurna. Hal itu membuat Aeri sedikit melongo.

“Ada apa, Ri-ya?” tanya Jongdae dengan nada sedikit heran karena melihat ekspresi gadis di hadapannya.

Segera, Aeri tersadar dari lamunannya dan memandang Jongdae sekilas. “Ti-tidak ada apa-apa kok,” jawab Aeri kikuk karena malu tertangkap basah sedang menatap lelaki tersebut sambil memalingkan wajahnya yang mulai terasa memerah.

Jongdae tersenyum melihat tingkah Aeri. Diliriknya bunny yang masih digenggam Aeri, maka dari itu Jongdae langsung merampasnya. Hal itu membuat Aeri kaget.

“Yak! Mau kauapakan bunny―”

“―Pakai ini.”

Seketika, tubuh Aeri membeku ketika Jongdae memasang bunny miliknya ke atas kepalanya. Ia memandang Jongdae tak percaya bahwa lelaki itu kembali melakukan suatu hal diluar dugaannya. Sementara, dengan entengnya Jongdae menggamit tangan Aeri setelah memasangkan bunny di atas kepala gadis itu tanpa merasa bersalah.

“Ayo, masuk ke mobilku,” ajaknya.

***

“Jongdae-ya.”

“Hmm?”

“Sebenarnya… kenapa kita ke Myeongdong? Kau mau berbelanja?”

Kelap-kelip lampu berwarna-warni bertebaran di seluruh kawasan Myeongdong mengingat hari sudah malam. Banyak orang yang berlalu lalang sehingga suasananya sangat ramai mengingat pula hari ini adalah akhir pekan.

Jongdae melirik ke arah Aeri yang kini sedang berjalan di sampingnya dengan dahi berkerut. Senyum lelaki itu kembali mengembang ketika melihatnya. “Ada festival besar malam ini. Makanya, aku sengaja mengajakmu.”

“Festival di Myeongdong? Aku baru tahu kalau di Myeongdong ada festival juga,” sahut Aeri sambil memandang ke depan. Sesekali, kakinya berjingkat untuk melihatnya lebih jelas. Namun, hasilnya sia-sia mengingat tinggi gadis itu hanya sampai 163 cm. “Ah, tidak terlihat!”

“Tenanglah. Nanti juga kita bisa melihat keseruan festival tersebut nanti,” ungkap Jongdae dengan nada sedikit bersabar.

“Kalau begitu, ayo kita segera ke sana~” rengek Aeri sambil menarik-narik mantel Jongdae.

Hal itu membuat Jongade sedikit dongkol. “Hei, hei, nanti mantelku sobek kalau kau terus menariknya,” ucap Jongdae.

“Ayolah, Jongdae-yaa~” rengek Aeri lagi.

“Yaaa, diamlah,” ucap Jongdae akhirnya dengan nada gusar. Sesekali, ia mengusap telinganya karena mulai sebal dengan suara rengekan Aeri.

“Kalau kau tak mau, biar aku saja yang ke sana sendirian!” kata Aeri dengan nada tak sabar dan marah atas sikap Jongdae.

Sebenarnya, ia tak perlu marah pada Jongdae sampai seperti ini. Tapi, entah mengapa semarah apapun Aeri pada lelaki itu, gadis itu tetap tak bisa marah di depannya. Apalagi, sekarang setiap kali bersama Jongdae, jantung gadis itu berdebar tak karuan dan kegugupan mulai menyelimuti dirinya. Oh, perasaannya kini sama seperti saat ia masih memiliki perasaan pada Kyuhyun. Oh, jangan lagi.

Perlahan, tanpa sadar langkah kaki Aeri mulai menjauhi Jongdae ditengah-tengah kerumunan orang yang berlalu-lalang. Sebelum ia hendak berjalan menjauh dan sulit untuk digapai, Jongdae langsung menarik tangan Aeri. Hal itu membuat Aeri nyaris terjungkal ke belakang.

“Huwaa!!”

Aeri mendongak ke arah Jongdae dengan pandangannya heran. Jantungnya mulai kembali berdebar-debar. Ia berusaha melepaskan genggaman tangan pria itu sebelum jantungnya semakin berdetak cepat dan seperti terjadi sengatan listrik dalam tubuhnya lebih lama lagi.

“Yaa!! Apa yang ingin kaulakukan―”

“Diamlah. Apa kau mau tersesat diantara kerumunan orang-orang ini? Tunggulah sebentar, kita pasti akan ke sana. Lebih baik kau sekarang diam dan berdiri di sisiku,” tukas Jongdae.

Di sisiku. Di sisiku. Di sisiku. Baiklah, ucapan Jongdae tadi langsung terngiang di telinga Aeri. Aah, apa orang ini sama sekali tak tahu kalau berdiri di sampingnya lebih lama membuatnya semakin gugup? Aeri gemas ketika pikirannya teringat akan semua sikap Jongdae selama ini padanya setelah ia mengalami patah hati karena Kyuhyun.

Kemudian, suasana hening kembali menyelimuti mereka berdua. Tak ada lagi kicauan-kicauan aneh yang berisi perdebatan-pedebatan milik Kim Jongdae dan Song Aeri. Yang ada adalah suara keramaian orang lalu-lalang.

“Kau marah?”

Aeri melirik ke arah Jongdae. “Siapa yang marah? Aku tak marah.”

“Sekarang kau mau bohong padaku?”

“Aish, sudahlah! Aku muak mendengarnya!”

Dengen gusar, Aeri langsung berjalan cepat meninggalkan Jongdae. Ia menghelakan napasnya dengan kasar. Entah mengapa, gadis itu menjadi kesal dengan dirinya sendiri yang terlalu sensitif atas semua sikap yang Jongdae lakukan untuknya. Ia melirik blue note yang ia bawa dari tasnya sambil kembali menghelakan napas panjang.

Ingin rasanya gadis itu mengatakan pada Jongdae kalau ia adalah orang teraneh dan meminta Jongdae melalui blue notenya agar pria itu menjauhinya saja karena ia menyukai pria manis itu. Itu lebih baik daripada harus dipendam seperti ini. Dan sangat lebih baik, daripada tahu kalau dia malah menyukai orang lain. Ia menyukai Jongdae, perlu digaris bawahi memang itulah perasaan yang Aeri rasakan sekarang.

“Ri-ya,” panggil Jongdae yang terdengar samar karena selisih jarak mereka kira-kira sejauh 1,5 meter. Aeri hanya berhenti melangkah dan tak berani menoleh ke arah Jongdae.

Sebelum Aeri mencoba kembali melangkah, Jongdae kembali bersuara.

“Bisakah kau tidak meninggalkanku untuk saat ini hingga nanti?”

Deg! Aeri tertegun. Ia mencoba mencerna ucapan Jongdae. Ia mencoba untuk tidak menoleh karena takut. Takut karena keraguannya. Tidak mungkin, pikirnya. Perlahan, Aeri berbalik dan tampak kini Jongdae sudah berada di hadapannya. Ia menatap Jongdae tak percaya.

“Apa?”

― To Be Continued ―

Iklan

Mind to Review? ^ ^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s