Ara’s Daily : Rain Drop

20-Beautiful-Examples-of-Rain-Photography-19

20141108 © AirlyAeri

Backsound : Akdong Musician – Officially Missing You

“Titik hujan menerpa bumi. Saat itulah, entah mengapa semuanya terasa menghangat kembali.”

***

Rintik hujan yang tak terlalu deras menerpa kota. Tetes-tetes air yang berada di atas awan dibiarkan jatuh menerpa bumi. Kupandangi kaca transparan yang telah berembun karena kehadiran hujan yang ditakdirkan oleh Tuhan. Sementara, di mejaku telah tersaji secangkir cokelat panas dengan uap yang masih mengepul memancarkan kehangatan di sana.

Sudut bibirku sedikit terangkat kala memandang kepulan asap dari cangkir tersebut. Memandang miris diri sendiri bahwa sudut ruang hati yang kosong telah membeku entah sejak kapan. Udara dingin hujan dan hembusan angin yang menyatu sesekali masuk ke kafe membuatku harus menarik sisi mantel yang tidak kukancing.

Kusesap cokelat panas tadi sambil melihat pemandangan samar yang terlihat melalui kaca transparan dengan tatapan kosong. Tak terdefinisikan.

“Gue sayang sama lu. Lu mau gak jadi pacar gue?”

Genggamanku pada gagang payung mulai mengencang. Rahangku terasa keras untuk bergerak sedikit saja. Mulutku terkatup dan sepasang mata ini menatap jauh sebuah pemandangan yang jika dilihat orang lain terasa manis. Sepasang sejoli sedang berdiri dengan sebuah payung menaungi mereka. Lelaki bertubuh tinggi yang memegang payung tersebut memandang si gadis dengan tatapan tulus. Dan, si gadis sekilas agak terkejut kemudian mengangguk sambil tersenyum malu-malu—sebagai jawaban atas pernyataan sang lelaki.

Kuhelakan napas panjang kala lidahku merasakan saliva yang terasa pahit bersamaan dengan sekelebat memori yang terlihat dengan jelas seperti reka ulang dalam sebuah film. Sudut bibirku kembali terangkat—tersenyum miris bila mengingat siapa diriku sebenarnya. Hanya seorang teman baginya.

Semuanya terasa sia-sia jika pada akhirnya sama sekali tak ada yang berbekas.

“Ara?”

Aku tersentak kaget dan segera mendongak saat suara yang—sepertinya kukenali telah menarikku dari dalam dunia pemikiran fiktif menuju dunia logis. Sekilas perasaan terkejut sempat menyelimuti ketika melihat sesosok lelaki yang dapat kukenali mengingat ingatanku bagus untuk mengingat seseorang. “Dennis?”

Namun, segera kuhilangkan kala melihat lelaki itu kembali bersuara. “Gue boleh duduk di sini gak?”

Aku mengangguk sembari mengulas senyum. “Silahkan.”

Akhirnya, tampak Dennis duduk berhadapan denganku sambil tersenyum.

Hening.

Suasana canggung mulai menyelimuti diantara kami. Dengan cepat, otakku berusaha mencari topik yang cocok untuk dibicarakan. Aku tak begitu mengenal Dennis dengan baik. Aku hanya mengenal namanya karena ia cukup dikenal oleh seluruh sekolah. Dan, aku tak pernah akrab dengannya karena aku selalu berbeda kelas dengannya.

“Sendiri aja?”

Seketika, aku mendongak dan mendapatinya sedang memandangku dengan ingin tahu. Suaranya yang khas membuatku cepat tersadar dalam dunia pemikiranku sendiri. Kujawab pertanyaannya dengan anggukan cepat. “Iya. Harusnya sih ajak teman-teman. Tapi, mereka semua sibuk. Jadi, sendirian aja. Lagian, hujan bikin gue mesti duduk di sini daripada besok gue gak bisa masuk sekolah gara-gara sakit.”

Kulihat, ia tertawa renyah mendengar jawabanku—yang mungkin terdengar konyol. “Tumben banget. Biasanya lu sama teman-teman lu.”

Kuhelakan napas panjang kala mendengar sahutannya. “Yah, harusnya sih. Tapi, kenyataannya gak gitu,” ujarku. “Elu sendiri ngapain di sini?” tanyaku dengan nada ingin tahu.

“Gue… harusnya hari ini jalan sama teman-teman gue. Tapi, ini karena salah presepsi tentang lokasinya. Jadinya, gini deh. Gue juga sih yang salah soalnya gak dengerin di mana lokasinya baik-baik,” jawabnya sambil menghelakan napas.

Aku tertawa kecil mendengarnya. “Ngomongnya pasti lewat sms jadinya agak bingung ngartiinnya.”

“Bener. Lewat sms kadang bikin salah ngartiinnya. Kan ujungnya jadi repot sendiri. Contohnya kayak sekarang,” balasnya cepat membenarkan ucapanku.

Sesekali, gelak tawa mewarnai pembicaraan kami. Entah mengapa, pembicaraan kecil perlahan mengalir walaupun awalnya kami hanya saling tahu nama. Kupandangi sekilas rintik hujan yang masih mengguyur kota dari awan dengan deras dan langit berawan dengan warna jingga menghiasinya. Embun-embun yang menempel pada kaca mengalir dengan pasti—seperti layaknya percakapan diantara kami.

“Hujan masih deras. Langit juga udah makin sore. Mau sampai kapan di sini?” ungkapnya sambil memandang pemandangan luar sekilas, kemudian memandangku dengan ingin tahu.

“Kalau hujannya masih deras kayak gini, gak bisa dipastiin kapan pulangnya. Kayaknya masih lama deh,” jawabku sambil menyesap cokelat panas yang suhunya sudah mulai menurun.

“Kalau gitu, mau gak nanti pulangnya bareng gue? Gue bawa motor dan gue gak mungkin ngebiarin elu pulang sendirian. Apalagi hujannya kalau masih deres begini, bisa dipastiin nanti malam baru berhenti. Bahaya banget kalau cewek pulang sendirian malam-malam.”

Aku menatapnya dengan pandangan tak percaya. Sempat tak menyangka bahwa ia berpikir jauh juga. Sudut bibirku terangkat—membentuk sebuah senyum sambil mengangguk menyetujui. “Boleh. Makasih ya sebelumnya.”

“Sama-sama.”

Kupandangi kembali langit senja yang semakin memamerkan warna jingga ditengah tetes air yang masih mengalir. Sesekali, desiran udara dingin dari hujan kembali menyapa kulitku. Tapi, entah apa penyebab pastinya, hatiku justru malah mencair dan mulai menghangat secara perlahan. Mungkin tidak selamanya hujan menerpa bumi sembari memancarkan udara dingin membeku hingga nyaris membekukan hatiku karena orang itu. Atau, memang mungkin kita tak seharusnya berburuk sangka terlebih dahulu sebelum melihatnya sendiri.

Atau mungkin, memang sejak awal kita diharuskan untuk tak perlu berlebihan berharap banyak pada seseorang yang pada akhirnya hanya melukai diri kita sendiri. Seperti mengharapkan hujan untuk segera menghentikan titik-titik airnya yang pada akhirnya malah semakin mengalir deras.

Entah mengapa, semuanya terasa baik-baik saja dan kembali seperti semula.

Apakah kalian tahu apa penyebabnya?

-fin.

Hai, semuanyaaaa~

Long time no see, guys! Ini ada cerpen pertama saya setelah nyelesain last chapter ‘Love Note’ lho! Hehe 😀 Tapi, maaf banget saya gak posting lanjutan ‘Love Note’ dengan cepat karena saya baru ngisi kuota saya di tengah bulan ini T-T But, it’s okay. Saya janji, abis ini saya mau nerbitin lanjutan fanfict-nya segera. Terhitung pokoknya sehari 1 chapter.

Terus, cerpen ini lama-lama rasanya mau dibikin series karena tangan saya gatel rasanya mau nulis yang tokohnya lokal. Kayaknya feelnya gitu deh, yah taulah kalian kalau pernah baca novel teen-lit. Eerrr~ Hahaha~ Jadi, mungkin nama seriesnya Ara’s Daily. Why? Simple, ini ceritain kisah Ara. Bagi yang pernah baca cerpen ‘Just…’ pasti tau kisah Ara sejak awal. Yah, mungkin nanti saya tambahin caption-nya yang apa aja jadi Ara’s Daily ini. And, this is beginning for caption of my short story. Semoga kalian suka dengan cerpen ini >_<

Thank you

-AirlyAeri.

Iklan

3 thoughts on “Ara’s Daily : Rain Drop

Mind to Review? ^ ^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s