Love Note : 15th This is Love

love note cover 10

© Aeri_Tamie’s Script Writer

Casts : Song Aeri; Kim Jongdae (EXO-M’s Chen); Cho Kyuhyun (Super Junior’s Kyuhyun); Shin Yeonjoo

Other Casts : You can find it in here ^^

Genre : Romance, Drama, Friendship, Comedy Rated : PG-17 Length : Chapter

Disclaimer : 20131025 © Aeri_Tamie

Previous Chapter :

1st Unexpected 2nd (Really) Unexpected 3rd Complicated 4th Let’s Play 5th Grey Paper 6th Love & Dust 7th Pain 8th Confession 9th Unpredictable 10th New 11th First Confusion 12th Realize 13th Decision 14th 200%

Note      : Hai, I’m sorry. Saya ingkar janji x_x Saya udah berkoar-koar ngomong endingnya di chapter 15, tapi nyatanya…. Ini masih nangkring kondisinya belom ending. Paraaaah~ Maaf yaaaaa >.< Tapi, special chapter ini saya growling banget sumpaaahh. Kenapa? Baca aja. Feeling saya amberegul banget abis nulis ini. Happy reading!

***

» Story 15 : This is Love

Aeri memandang Jongdae dengan pandangan terkejut. Ia berusaha mencerna apa yang diucapkan oleh Jongdae barusan.

“Apa maksud―”

“Aku serius.” Jongdae menukas ucapan Aeri seraya berpikir sejenak sebelum melanjutkan ucapannya. “Yah, aku tahu kau pasti akan menganggapku konyol dan kembali mengajak bercanda seperti biasa. Tapi, kali ini aku serius.”

Aeri diam, menatap lekat Jongdae. Membiarkan Jongdae mengatakan semua hal yang ingin ia ungkapkan.

Sementara, Jongdae berusaha merangkai kata. “Aku mungkin memang bukanlah pria yang terbaik untukmu. Tapi, aku sendiri juga tak mau kau pergi. Makanya, aku tak ingin terlambat. Tapi, aku terlambat. Padahal, aku hanya ingin mengatakan kalau aku mencintaimu dan tak ingin melepaskanmu. Saranghae. Nan neol saranghae.”

Napas Aeri tercekat. Ia mencoba mencerna apa yang diucapkan Jongdae untuknya. Dia? Mencintaiku?

“Ne?” tanya Aeri berusaha meyakinkan.

“Nan neol saranghae,” ulang Jongdae dengan yakin seraya tersenyum. Kemudian, ia merogoh saku celananya dan memberikan sebuah pink note pada Aeri. “Aku tak masalah dan tak keberatan jika kau akan memberikan white note padaku. Aku siap dengan konsekuensinya.”

Dengan pelan, Aeri menerima pink note itu dan membukanya. Kedua matanya langsung berkaca-kaca ketika membaca hangeul yang tertera pada pink note itu. Tertulis dengan jelang aksara hangeul milik Jongdae dengan tinta berwarna ungunya.

Untuk Song Aeri, gadis yang paling bodoh di dunia.

Kau tak boleh marah padaku, karena telah menulis kalimat yang menurutmu paling konyol. Tapi, memang itu kenyataannya. Selama 5 tahun kita berteman, rasanya ini kali pertamanya aku merasa sangat nyaman denganmu hingga rasanya aku sungguh tak ingin melepaskanmu. Awalnya, aku baik-baik saja saat aku tahu kau sejak awal menyukai Kyuhyun Hyung karena aku menyukai Joo Noona. Tapi, sekarang…. Entahlah.

Kau tahu, kepalaku rasanya mau pecah setiap kali dibenakku terlintas namamu. Aku benar-benar bingung harus berbuat apa di saat kau benar-benar terluka dan tak ada satupun orang yang paling berarti di sisimu untuk mendengarkanmu dan melindungimu. Makanya, ketika melihatmu benar-benar terluka karena Kyuhyun Hyung, secara refleks aku telah berjanji pada diriku sendiri bahwa aku akan selalu berada di sisimu dan melindungimu apapun yang terjadi.

Perasaan seperti apa itu yang membuatku seperti ini, Ri-ya? Dan, ternyata kupikir aku telah menemukan jawabannya.

Aku mencintaimu.

Kim Jongdae.

Seketika juga, gadis itu langsung menyerahkan sebuah blue note tanpa setitik noda tinta biru miliknya pada Jongdae setelah membaca isi pink note pemberian Jongdae. Note biru kosong miliknya.

“Nado saranghae.”

Jongdae ternganga memandang blue note –milik Aeri. Kemudian, ia memandang Aeri sedikit sangsi. “Kau.. bukannya Kyuhyun Hyung memberikanmu pink note juga?”

Kali ini, giliran Aeri sedikit terkejut ketika mendengar ucapan Jongdae. “Tempo hari saat itu… kau melihatnya?”

“Ya. Aku pikir.. kau―”

“Aku memberikan white note-ku pada Kyuhyun Oppa setelah ia memberikanku pink note miliknya.”

“Kau menolaknya?” tanya Jongdae dengan napas sedikit tertahan. “Kenapa?”

Aeri terdiam sejenak sambil menatap Jongdae. “Aku…”

***

“Maafkan aku, Oppa.”

Aeri menyerahkan sebuah white note pada Kyuhyun setelah beberapa hari Kyuhyun sama sekali belum mendengar jawaban gadis itu. Sementara, Kyuhyun yang melihat kenyataan itu hanya menarik salah satu sudut bibirnya. Tersenyum.

“Sudah kuduga ternyata.”

“Apa?”

Aeri mendongak—menatap Kyuhyun dengan pandangan tak mengerti. Terlihat sekali, dahinya berkerut banyak. Sedangkan, Kyuhyun hanya menatap Aeri dengan pandangan ‘benar-kataku-kan-?’.

“Maksud Oppa apa?” tanya Aeri akhirnya karena tak kunjung mendengar sahutan Kyuhyun.

“Ternyata, akhir kisahmu seperti ini, Ri-ya. Aku senang ketika tahu kau sudah tak lagi memiliki setitikpun perasaan cinta padaku. Maafkan aku, karena aku terlalu egois membiarkanmu tenggelam dalam rasa sakit yang amat pedih. Tapi, setidaknya kau sudah menemukan orang yang lebih baik dariku,” jelas Kyuhyun.

Aeri yang mendengar jawaban Kyuhyun bukannya mengerti, malah semakin bingung. Sementara, Kyuhyun semakin tersenyum lebar.

“Kim Jongdae kan orangnya?”

“Hah?”

Aeri bingung dan juga kaget. Bagaimana bisa lelaki di hadapannya ini membuatnya bingung dan kaget dalam satu situasi sekaligus? Dan juga, kenapa nama Jongdae yang disebut? “Oppa, kau mau melucu ya? Maaf, tapi tidak lucu.”

“Sebenarnya siapa yang mau melucu? Benar kan kataku?” balas Kyuhyun sambil menatap Aeri seolah berkata ‘kenapa-anak-ini-payah-sekali’. “Kudengar, lelaki bernama Huang Zitao juga sudah menyerahkan pink note padamu. Dan, aku baru dengar bahwa kau sudah memberikan white note-mu padanya juga. Kalau sekarang saja kau sudah memberikan white note padaku, bukankah pilihan terakhir yang ada di hatimu adalah Jongdae? Memangnya kau juga mau menolak Jongdae jika saja dia mau memberikan pink note padamu?”

Aeri ternganga mendengar penjelasan Kyuhyun yang panjang lebar. Ia baru mengerti sekarang maksud Kyuhyun tadi. Mendadak kembali perasaan ragu kembali menyelimutinya.

“Dia sih mana mungkin memberikan pink note padaku,” ujar Aeri sambil mengelak.

“Jangan begitu, Ri-ya,” sahut Kyuhyun. “Kulihat, belakangan Jongdae jadi sering mengkhawatirkanmu. Kudengar, kau kemarin diganggu oleh para lelaki pemabuk kan? Jongdae sampai bertanya pada teman-temanmu apakah kau pulang dengan selamat atau tidak. Jika salah seorang temanmu mengatakan bahwa kau belum pulang, dia sampai rela pulang lebih cepat hanya untuk mencarimu.”

Hati Aeri rasanya mencelos mendengar penjelasan Kyuhyun. Rasanya seperti ada beban di hatinya yang hilang begitu saja. Benarkah Jongdae sampai begitu padanya? Kenapa?

Sementara, Kyuhyun kembali tersenyum memandang Aeri. “Bukankah sudah jelas jawabannya? Dia menyukaimu, Ri-ya.”

***

“Apa ada alasan lain kau menolaknya, Ri-ya?” tanya Jongdae dengan nada sangsi setelah mendengar penjelasan Aeri.

Aeri terdiam. Ia menggigit bawah bibirnya. “Karena aku yakin, ada seseorang yang akan membalas perasaanku kali ini. Dan, dia kini sedang membalasnya. Kupikir, selama ini kisah cintaku akan tetap berakhir tragis. Tapi, kali ini nyatanya tidak. Nado saranghae.”

Jongdae langsung menarik Aeri ke dalam pelukannya dengan erat. Ia kali ini tak mau kehilangan satu langkahpun. Ia tak mau kejadian dulu kembali terulang. Sementara, Aeri dapat merasakan pelukan hangat dari pria bertubuh tinggi tersebut seraya tersenyum. Wajahnya mendadak memerah karena malu dan jantungnya semakin berdebar-debar. Sungguh, gadis itu sudah tak peduli dengan tatapan-tatapan orang yang sedang ramai berlalu-lalang dan menjadi tontonan gratis. Sungguh tak peduli.

“Aku mencintaimu, Ri-ya. Aku mencintaimu,” bisik Jongdae di telinga Aeri.

Blush! Wajah Aeri mendadak semakin bersemu merah. Ia hanya bisa menenggelamkan wajah di bahu Jongdae yang lebar dan membalas pelukan lelaki tersebut. Sungguh, ternyata pria yang selama ini selalu ia anggap sebagai sahabatnya bisa juga membuatnya jatuh cinta. Ia tak perlu memendam lama seperti perasaannya dulu pada Cho Kyuhyun.

Tak lama, puluhan kembang api berwarna-warni mulai menyala dan menghiasi langit malam sebagai puncak keramaian festival di Myeongdong yang dipenuhi dengan lampu-lampu menyala yang berwarna-warni pula. Hal itu membuat suasana diantara Jongdae dan Aeri semakin manis dan romantis.

***

“Jongdae-ya. Aku pulang dulu.”

Aeri berpamitan pada Jongdae dengan nada kaku dan kikuk sebelum ia masuk ke asrama. Sementara, Jongdae hanya tersenyum lebar sembari mengangguk. “Setelah ini, kau harus langsung beristirahat. Jangan melakukan apapun yang membuatmu sakit.”

Aeri yang mendengar nasihat Jongdae hanya mengangguk pelan. “Baiklah. Jaljayo,” pamit Aeri.

“Tunggu.”

“Apalagi?” Aeri menoleh dan memandang Jongdae dengan heran.

Cup! Tanpa aba-aba, Jongdae langsung mengecup kening Aeri. Lalu, ia kembali tersenyum. “Jaljayo.”

Butuh beberapa detik untuk Aeri sadar, sesaat setelah itu Aeri tersenyum kaku. “Kau juga,” jawab Aeri sekenanya dan segera masuk ke dalam asrama dengan wajahnya memerah.

Aeri terdiam kaku dan terduduk di pinggir ranjang. Ia menepuk-nepuk pipinya sendiri karena ia merasa seperti mimpi. Ia mencoba mengingat apa yang terjadi sebelum ia masuk ke kamarnya. Kemudian, dengan refleks ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya.

“Ya Tuhan, ini layaknya mimpi~” ucap Aeri sambil menghempaskan tubuhnya ke ranjang. “Ini pasti mimpi. Coba aku periksa ponselku.”

Segera, Aeri mencari ponsel dari dalam tasnya. Lalu, setelah ia menemukan ponselnya, Aeri segera langsung menuju aplikasi galerinya. Kedua mata gadis itu benar-benar membulat ketika tahu di galeri ponselnya ada sebuah foto dirinya dengan Jongdae yang sedang berpose di tengah pemandangan kembang api.

Ting! Aeri terlonjak kaget hingga nyaris melempar ponselnya ketika dering notifikasi dari LINE mengejutkannya. Dengan tangan gemetar, ia membuka notifikasi tersebut dan ternyata adalah isi pesan yang berasal dari Jongdae.

[Kim Jongdae] Cepat tidur. Nanti udara pagi tidak akan menyambutmu karena kau bangun siang.

Dengan setengah gugup, Aeri membalas isi pesan LINE dari Jongdae.

[Song Aeri] Iya, aku tahu. Jadi, kau juga cepat tidur dan jangan ganggu aku.

Setelah membalasnya, Aeri segera berjalan menghadap cermin dan memandangi wajahnya sendiri. Diusap keningnya yang mampu membuatnya terdiam membeku tadi. Ia nyaris tak percaya kalau Jongdae tadi mengecup keningnya.

Lalu, Aeri segera berlari menuju ranjang dan menutupi wajahnya dengan bantal. “Aaaaa, ternyata aku gila sungguhan!!”

***

“Omona! Ri-ya, kau sudah berpacaran dengan Jongdae Sunbae?!”

Uhuk! Seketika Aeri tersedak jus jambu begitu mendengar ucapan Hyoae yang tiba-tiba mengejutkannya. Bukan hanya suara gadis itu, tapi juga kalimat yang terlontar dari bibirnya. Bocah ini tahu dari mana? Pikir Aeri.

Sementara, semua orang yang ada di meja makan—Youngmi, Yoora, Hyena, dan Rihwa juga terkejut dengan pernyataan Hyoae yang tiba-tiba.

“Ne?” tanya Aeri dengan nada berpura-pura tak mengerti.

Hyoae langsung melirik ke arah Aeri dengan pandangan menyelidik. “Jangan bohong kau. Aku tahu kok, kemarin malam kau dan Jongdae Sunbae berkencan kan? Aku bahkan melihat sendiri kalau Jongdae Sunbae mengecup keningmu kemarin malam.”

Hal itu membuat napas Aeri tertahan. Hyoae melihatnya!! Pekiknya dalam hati. Secepat kilat, ia memandang teman-temannya yang kini sedang menatap ke arahnya dengan pandangan menggoda.

“Aigo, chukkhahae, Ri-ya!”

“Aku masih tak percaya kau dan Jongdae Sunbae pacaran sungguhan.”

“Akhirnya, kisah cinta Aeri kita terbalaskan oleh Jongdae Sunbae!”

“Sudah kubilang kan sejak awal, Jongdae Sunbae itu lelaki idaman. Tapi, masih lebih baik Kris Wu.”

“Ya, ya, ya, tentu saja pacar tetap nomor satu. Luhan Gege, saranghae~”

Perlahan, kepala Aeri mulai pusing karena mendengar semua ocehan teman-temannya dan memutuskan untuk tetap terfokus pada jus jambu miliknya.

“Bi.”

Seketika Aeri mendongak begitu mendengar seseorang memanggilnya dengan sebutan ‘Bi’. Ia sangat tahu siapa yang suka sekali memanggilnya begitu. Siapa lagi kalau bukan Tao. Kala itu, Tao berdiri di depan gadis itu kemudian menarik kursi untuk duduk.

“Oh, Tao Gege,” sapa Aeri.

“Ri-ya, kami mau ke noraebang dulu ya. Nanti kau menyusul, oke?” teriak Rihwa yang kini telah berjalan menuju pintu kelar asrama dan meninggalkan Aeri dan Tao sendirian.

Aeri menoleh ke arah Rihwa dan teman-teman lainnya sekilas. “Iyaaa!!!” jawabnya. Kemudian, matanya kembali terfokus pada Tao kala melihat lelaki itu kini duduk berada di hadapannya.

“Chukkhahaeyo,” ucap Tao tiba-tiba sambil tersenyum lebar pada Aeri.

“Untuk apa?” tanya Aeri dengan nada kaget.

“Kudengar, Jongdae Hyung telah memberikan pink note padamu dan kau membalasnya dengan memberi blue note milikmu,” jelas Tao. “Sudah kuduga sejak awal.”

“Sekarang Gege mau bertindak layaknya peramal baru?” sindir Aeri. “Memang apa yang kauduga?”

“Sejak Kyuhyun Hyung berpacaran dengan Yeonjoo Sunbae, Jongdae Hyung kan yang selalu berada di sampingmu?” tebak Tao yang sukses membuat Aeri tersentak. “Lalu, sikap anehmu yang menghindari Jongdae Hyung waktu dulu tanpa alasan yang jelas. Hal itu membuatku berpikir bahwa kau memang menyukainya.”

Hal itu membuat Aeri terdiam sejenak, kemudian mulai mengangguk-angguk mengerti. Jadi begitu? Sikap anehku pada Jongdae waktu dulu saja sudah menjelaskan perasaanku padanya? Batin Aeri tak habis pikir.

“Aigo, mulai sekarang sudah tak ada lagi orang yang akan menemaniku makan ddubeokki, es krim, dan minum kopi bersama,” gurau Tao tiba-tiba yang berhasil membuyarkan lamunan Aeri.

“Waeyo?” tanya Aeri lagi dengan nada polos.

“Kau kan sudah milik Jongdae Hyung. Kalau aku mengajakmu ke mana-mana tanpa seijinnya, bisa-bisa besok aku tinggal nama saja,” jawab Tao dengan menatap Aeri yang payah.

“Jongdae bukan orang yang seperti itu,” bela Aeri sambil memajukan bibirnya dan mengaduk-aduk jus jambunya.

Sementara, Tao semakin menatap Aeri tak percaya dan menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. “Hebat sekali sekarang kau sudah berani membelanya. Ternyata efek cinta Jongdae Hyung benar-benar mempengaruhimu. Jongdae Hyung hebat sekali.”

“Aish, Tao Gege!!” rengek Aeri sambil merajuk pada Tao. “Berhenti menggodaku!”

Tao hanya tertawa geli melihat sikap Aeri mulai kesal. “Hahaha, ternyata membuatmu kesal itu menyenangkan. Pantas saja, kau sering bercerita padaku bahwa Kyuhyun Hyung dan Jongdae Hyung suka sekali membuatmu kesal. Ternyata, begini rasanya.”

“Gege, kalau kau tak ada kerjaan lebih baik cari pacar saja sana!” suruh Aeri dengan nada mulai kesal.

Hal itu membuat Tao bertingkah sok berpikir. “Hmm, bagaimana ya? Sayangnya orang yang kucintai saat ini kan sudah jadi milik orang lain,” jawabnya dengan enteng.

“Kalau begitu, kenapa kau menyuruhku untuk memberikan white note padamu?” tanya Aeri dengan ketus.

Hal itu membuat Tao terdiam sejenak. “Ada beberapa hal yang perlu kupertimbangkan untuk memintamu memberikan white note padaku.”

Mendengar jawaban Tao, membuat Aeri mendelik dengan rasa penasaran. “Apa itu?”

“Pertama, aku tahu kalau kau menyukai Jongdae Hyung. Kentara sekali dari tingkahmu itu,” jawab Tao.

“Lalu?”

“Kedua, aku belum sepenuhnya yakin apakah aku pantas untuk mendapatkan hatimu,” sahut Tao lagi.

“Yang ketiga?”

Tao terdiam sejenak. Kemudian, bibirnya kembali melengkung membentuk sebuah senyuman. “Ada seseorang yang sedang kupikirkan sekarang.”

Mendengar jawaban Tao, membuat Aeri manatap lelaki itu dengan lekat. “Woah, siapa dia? Seperti apa orangnya? Apakah aku mengenalnya?” ucap Aeri dengan pertanyaan yang bertubi-tubi dan suara terdengar menggebu-gebu.

Sementara, Tao mengangguk-angguk. “Ya. Kau amat mengenalinya. Dia lucu,” ujar Tao. “Tapi, sayangnya aku harus menunggunya berumur 20 tahun dulu.”

“Memang gadis itu saat ini berumur berapa?” tanya Aeri.

“16 tahun.”

“Apa?!” tanya Aeri dengan nada tak percaya. “Gege! Jangan bilang kau―”

“―Aku ini bukan pedhopillia, Bi. Jangan menuduhku sembarangan,” tukas Tao sambil mengendus. “Makanya untuk saat ini, aku hanya ingin berteman dengannya.”

Aeri hanya bisa menggelengkan kepalanya tak percaya setelah mendengar berbagai macam jawaban Tao. “Ckckck, tak kusangka kau menyukai bocah SMP.”

Sedetik kemudian, Aeri terdiam. Ia berusaha mencerna jawaban Tao dan berbagai macam kejadian yang terjadi beberapa waktu belakangan ini. Setelah itu, kedua mata Aeri membesar hebat ketika ia baru mengerti sesuatu. “Gege, jangan bilang kalau kau menyukai Ahn Yoonhwa?!”

***

Esok harinya, Aeri keluar dari pintu asrama dan hendak berjalan kaki menuju kampusnya. Namun, baru saja kakinya memberikan beberapa jejak menjauhi asrama, sebuah sepeda langsung menghalanginya. Seketika, Aeri mendongak dan tersenyum lebar begitu tahu bahwa yang mengendarai sepeda adalah Jongdae.

“Jongdae-ya,” sapa Aeri.

“Ayo, naik,” ajak Jongdae sambil menunjuk jok sepeda belakangnya dengan dagunya.

“Ne?”

“Palli!” pinta Jongdae. “Atau, apa kau mau nanti kau tidak bisa masuk kelas karena terlambat?”

Dengan wajah sumringah, Aeri segera menaiki jok sepeda belakang Jongdae. Tapi, meskipun Aeri sudah naik, Jongdae tak kunjung mengayuhkan sepedanya segera. Hal itu membuat Aeri heran. “Jongdae-ya, kenapa tidak jalan?”

“Ayo, pegangan,” suruh Jongdae.

“Pegang… apa?” tanya Aeri dengan nada tak mengerti.

Karena Jongdae malas menjelaskan, akhirnya dengan sigap lelaki itu menarik tangan Aeri dan melingkarkannya di pinggang Jongdae. Hal itu membuat Aeri kaget. “Hya, Kim Jongdae―”

“―Pegang yang erat. Arraseo?” tukas Jongdae tanpa menghiraukan ucapan Aeri.

“N-ne,” ucap Aeri pelan. Wajahnya mendadak memerah. Sementara, tampak bibir Jongdae terangkat—membentuk sebuah senyuman manis yang tak tertahankan.

Selama perjalanan menuju kampus, tak ada suara yang saling menyahut. Hal itu membuat Jongdae sedikit heran karena tidak biasanya Aeri diam. Maka, ketika kayuhan sepedanya telah sampai di gedung kampus fakultas Aeri, Jongdae sengaja memanggil gadis itu.

“Ri-ya,” panggil Jongdae ketika Aeri baru saja turun dari sepeda.

“Huh?” tanya Aeri dengan nada yang masih kikuk.

“Kenapa daritadi kau diam saja? Kau sakit?” tanya Jongdae dengan nada sedikit cemas. Punggung tangannya kini memeriksa kening Aeri yang teraliri keringat dingin.

“Ti-tidak kok,” ujar Aeri dengan nada terbata-bata karena tubuhnya menegang dan jantungnya berdebar-debar ketika kulit tangan lelaki itu menyentuh keningnya.

“Lalu, kenapa?” tanya Jongdae lagi.

Aeri terdiam sejenak sambil menatap Jongdae dengan polos. Ia bingung bagaimana menjelaskannya. “Hmm.. kau kan tahu kalau selama ini aku belum pernah punya kekasih. Dan, ini kali pertamanya aku punya kekasih dan kekasihku adalah kau. Dan, ketika kau memperlakukanku bukan sebagai seorang sahabat melainkan layaknya seorang gadis yang kaucintai rasanya….” Aeri langsung menggeleng cepat. “Aish, dwasseo! Annyeong!” pamit Aeri tiba-tiba sambil segera berbalik dan belari cepat meninggalkan Jongdae yang kini tertawa renyah dengan tingkah gadis itu.

***

“Ri-ya, hari ini kau harus datang ke Ruby and Peach!”

“Apa?”

Aeri memandang Hyoae tak mengerti ketika ia baru saja duduk berhadapan dengan Hyoae di kantin kampus dan memesan jus jambu. Gadis itu juga baru saja keluar dari kelas jadwal terakhirnya. Sementara, Hyoae memandang Aeri dengan pandangan memastikan sambil menyedot blueberry cream-nya dengan cepat.

“Pokoknya, kau harus datang! Ini kata Jongdae Sunbae,” ucap Hyoae.

Ting! Tepat setelah Hyoae selesai bicara, nada dering notifikasi LINE dari ponsel Aeri berbunyi. Dengan sigap, Aeri merogoh saku mantelnya dan membacanya begitu tahu bahwa notifikasi tersebut berisi pesan dari Jongdae.

[Kim Jongdae] Kuharap kau datang ke Ruby and Peach setelah jadwalmu selesai, Ri-ya. Ada yang ingin kutunjukkan padamu.

“Memang ada apa sih di sana?” tanya Aeri pada Hyoae akhirnya dengan nada penasaran setelah membaca isi pesan LINE dari Jongdae.

“Kau ingin tahu?” kata Hyoae balik bertanya. “Kalau begitu, ayo kita ke sana. Aku juga ingin tahu.”

“Sekarang?” ungkap Aeri dengan kaget karena tiba-tiba.

Akhirnya, Aeri dan Hyoae langsung pergi ke Ruby and Peach di kawasan Kangnam. Dan, selama perjalanan Aeri tak pernah bisa berhenti berpikir. Ada apa sih? Pikir Aeri. Sepertinya, penting sekali ya. Tanpa ia sadari, langkah kaki Hyoae dan Aeri sudah sampai di pintu masuk coffe shop tersebut.

“Hyo, apa ini penting sekali?” tanya Aeri masih heran.

“Aih, nanti juga kau lihat sendiri. Masalahnya, aku juga tidak tahu,” jawab Hyoae asal.

Suasana di dalam coffee shop sangatlah ramai. Ada beberapa yang dirasa Aeri pernah melihatnya—sepertinya para pelanggan yang kerap datang ke coffee shop.

“Ri-ya!”

Seketika, Aeri menoleh ke sumber suara. Senyum gadis itu langsung mengembang ketika mendapati Jongdae yang kini sedang duduk di sudut ruangan dekat jendela sambil melambaikan tangannya. Dengan cepat—dan tanpa mempedulikan Hyoae yang kebingungan karena tiba-tiba ia menghilang di samping gadis itu, Aeri segera menghampiri Jongdae. Sesekali, ia mendengar bisik-bisik dari para pengunjung setiap kali ia melewatinya.

“Dia siapa?”

“Sejak pembukaan coffee shop ini, dia datang dengan salah satu pemiliknya.”

“Kalau tidak salah lelaki itu kan orangnya?”

“Sepertinya, mereka berpacaran.”

“Lelaki itu kan yang suka menyanyi di atas panggung?”

“Sungguh beruntung ya gadis itu.”

“Aku iri.”

Apaan sih? Batin Aeri dengan dahi berkerut ketika ia dapat mendengar bisikan-bisikan yang masih dapat ia jangkau. Apakah kedatanganku ini terlalu mencolok?

“Kupikir hari ini jadwalmu penuh,” ungkap Jongdae membuyarkan lamunan Aeri. Hal itu membuat Aeri cepat sadar kalau kini ia telah duduk di hadapan Jongdae.

“Untung saja jadwalku sedikit, makanya aku bisa ke mari,” jawab Aeri. “Aku sangat penasaran mengapa kau menyuruhku ke mari.”

Tiba-tiba, datanglah Kim Jongin yang kini sedang mengantarkan dua gelas minuman. Lelaki itu memandang Jongdae dan Aeri dengan pandangan menggoda.

“Aigo, ada sepasang kekasih yang sedang bercengkrama rupanya. Apa aku mengganggu?”

Aeri tak menjawab pertanyaan Jongin dan malah melirik ke arah Jongdae yang bingung harus menjawab apa karena malu.

“Hya, mengganggu saja kau. Pergi sana!” usir Jongdae.

“Ck, aku disuruh Minseok Hyung untuk mengantarkan pesananmu. Dan, Nona Song. Jangan sampai kau terlalu dalam terbuai dengan rayuan Jongdae Hyung,” sahut Jongin yang membuat Aeri hanya menundukkan kepalanya.

“Hei, hei, hei! Pergi sana!” ucap Jongdae akhirnya dengan nada kesal. Kemudian, ia menghelakan napas kasar setelah kepergian Jongin. “Mianhae, Jongin memang begitu.”

“Oh, gwaenchanna,” jawab Aeri dengan kikuk. Ketika melihat dua buah gelas tersaji di meja, Aeri langsung mengambil salah satunya dan meminumnya. Rasa caramel dan aroma cokelat yang menyatu membuat Aeri sadar bahwa yang ia minum adalah caramel macchiato. “Jongdae-ya, aku―”

“―Jangan sampai hilang ya.”

Aeri terdiam dan memandang apa yang dipasang Jongdae pada pergelangan tangannya. Sebuah gelang yang tersusun oleh manik-manik berwarna cokelat tua melingkar di pergelangan tangan kanannya. “Ini…”

“Couple tee,” jawab Jongdae sambil tersenyum.

“Dan, hanya aku yang memakainya?” tanya Aeri bingung.

“Aku juga pakai,” ujar Jongdae sambil menunjukkan pergelangan tangan kanannya yang dilingkari oleh gelang manik-manik berwarna hitam.

“Kenapa warnanya tidak sama? Punyaku cokelat dan kau hitam. Kalua begitu, ini bukan couple tee, Jongdae-ya,” sahut Aeri sambil mengerucutkan bibirnya. Tapi, hatinya sama sekali berbanding terbalik dengan apa yang diucapkannya. Ia begitu senang ketika Jongdae memberikannya sepasang gelang untuk mereka.

Namun, mendadak Jongdae tertawa renyah yang membuat Aeri menatapnya heran.

“Ada apa lagi?” ungkap Aeri sambil mengerutkan keningnya. “Ada yang lucu dariku?”

“Ini.” Perlahan Jongdae mengeluarkan sebuah tisu dan membersihkan bibir Aeri yang kini terdapat noda kopi. “Kumohon, jangan buat aku malu, Nona Song.”

“Jadi, kau malu melihat bibirku ada nodanya?” ucap Aeri ketus sambil menatap Jongdae dengan sebal. “Kan yang punya noda itu aku.”

“Sebenarnya, aku sama sekali tidak malu. Untuk apa malu, aku kan bisa membersihkannya. Kau kan kekasihku.”

Blush! Mendadak wajah Aeri memanas karena Jongdae mengatakan hal yang manis. Benar kata Jongin tadi, bisa-bisa dosis cintaku akan semakin bertambah, pikir Aeri. “Aaaah, hentikan. Jangan mengatakan hal-hal seperti itu lagi. Lagipula, apa sih alasanmu bersikap begitu?”

“Aku mencintaimu.”

Wajah Aeri semakin memerah seperti tomat rebus ketika mendengar Jongdae berkata begitu. Sial, Kim Jongdae!! Pekik Aeri sambil mengibas-ngibaskan tangannya karena entah mengapa aura di sekitarnya mendadak terasa panas. Padahal, udara di luar tadi masih dingin karena angin musim gugur yang menerpa.

“Aku harus pergi sekarang,” ucap Jongdae tiba-tiba sembari bangkit dari duduknya.

“Mau ke mana kau?” tanya Aeri dengan ingin tahu.

“Aigo, sampai seperti itukah kau takut kehilanganku? Aku hanya pergi ke atas panggung, chagiya~” goda Jongdae sambil mengedipkan salah satu matanya pada Aeri sebelum berjalan meninggalkan gadis itu sendiri.

“Kim Jongdae,” desis Aeri sambil menatap lelaki itu tajam karena malu banyak orang yang memperhatikan mereka.

Jongdae tertawa geli melihat Aeri, kemudian ia segera maju ke atas panggung dan mengambil sebuah mic. Kala itu, matanya memandang ke seluruh penjuru pengunjung dan berhenti ketika ia menatap Aeri yang sedang menatapnya dengan penasaran. Hal itu membuat Jongdae mengulas senyumnya.

“Selamat sore, semuanya. Apakah hari ini menyenangkan? Untuk hari ini, aku akan menyanyikan sebuah lagu special untuk kekasihku, Song Aeri,” ucap Jongdae tanpa ragu. “Semoga kau senang mendengarnya, Ri-ya.”

Hal itu membuat Aeri langsung membulatkan kedua matanya dan mulutnya ternganga. Gadis itu sungguh tak percaya bila Jongdae melakukan hal seperti itu. Jantungnya berdebar hebat dan ia berusaha menelan salivanya dengan susah payah karena gugup berkat sikap Jongdae kali ini.

Sementara, Jongdae mulai bernyanyi ketika mendengar musik intro yang diatur sedemikian rupa oleh Yixing.

Anyway, I really like you
You hugged me when I was quietly smiling babe
I waited for today, for your sweetness
Look at me, I’ll protect you babe
I dream every day
Of holding your hand and flying forever, until always

My love, I miss you
It’s destiny, you can’t avoid it
Every day I’m so lucky
I want to confess my hidden heart
I love you

My trembling lips, you fluttering heart
You’re my love babe
I know that this is love
I’m happy because of you
This is love babe
I dream every day
Of holding your hand and flying forever, until always

My love, I miss you
It’s destiny, you can’t avoid it
Every day I’m so lucky
I want to confess my hidden heart
I love you

I love you so much that I could risk my everything
I’ll promise you that I’ll care for you
Even if time passes and everything changes
Even if the world ends, my love

You’re my luck, I can’t avoid it
Every day I’m so lucky
I want to confess my hidden heart
I love you

I love you

[♫ EXO’s Chen – The Best Luck]

Akhirnya, penampilan Jongdae akhiri oleh riuh tepuk tangan pengunjung yang meriah. Tepuk tangan pengunjung semakin keras ketika Jongdae turun dari panggung dan hendak menghampiri Aeri yang kini wajahnya memerah karena malu. Aeri yang melihat Jongdae telah berdiri di hadapannya segera bangkit dari duduknya dan memandang Jongdae dengan lekat.

Senyum Jongdae mengembang ketika melihat wajah gadis yang ia cintai tersebut kini memandangnya. “Aku sungguh mencintaimu, Ri-ya.”

Aeri yang bingung harus menjawab apa karena situasinya kali ini benar-benar membuatnya malu. Ditambah, Jongdae melakukan hal yang manis untuknya. Dengan wajah memerah, Aeri menjawab, “Aku juga.”

Tanpa persetujuan gadis itu, Jongdae dengan serta-merta memeluk gadisnya tersebut dengan lembut dan erat. Tak lupa juga, lagi-lagi Jongdae mengecup kening Aeri. Hal itu membuat tubuh Aeri menegang selama beberapa detik dan sorakan para pengunjung semakin keras.

***

“Bagaimana tadi lagunya? Bagus tidak?”

Aeri melirik ke arah Jongdae yang kini sedang menatap lurus. Saat ini mereka sedang berada di pinggir sungai Han untuk menikmati pemandangan air mancur warna-warni yang ada di jembatan Banpo. “Bagus sekali,” jawab Aeri sambil tersenyum kecil.

“Apa kau menyukainya?”

Aeri melirik ke arah Jongdae dengan sebal. “Kau banyak tanya,” gerutunya.

“Kau juga suka begitu,” balas Jongdae tak mau kalah. “Ayolah, jawab saja pertanyaanku.”

“Aku menyukainya,” ujar Aeri akhirnya. “Kalau boleh jujur, saat itu rasanya aku mau menangis.”

“Kenapa menangis?” tanya Jongdae.

“Habisnya…” Aeri memandang langit malam yang bertabur bintang. “Selama hidupku, ini kali pertamanya aku jatuh cinta lalu ada yang membalas cintaku. Ini juga kali pertamanya aku memiliki kekasih. Jadi, ini rasanya seperti layaknya mimpi dan kisah cintaku yang seperti ini layaknya di cerita novel.”

“Lalu, sekarang?”

Aeri mendelik ke arah Jongdae yang tengah memandangnya. “Kau bisa lihat sendiri.”

Hening sejenak.

“Jongdae-ya.”

“Hmm?”

Jongdae menoleh ke arah Aeri dan mendapati gadis itu sedang menatapnya dengan dalam. “Kumohon, katakan sejujurnya padaku. Oke?”

Jongdae mengangguk menjawab permintaan Aeri.

Sementara, Aeri diam selama beberapa detik untuk memikirkan sesuatu. Kemudian, ia menarik napas panjang. “Apa kau sungguh, sungguh, sungguh, sungguh, sungguh, sungguh, sungguh mencintaiku?” tanyanya dengan polos.

Dan dengan mantap, Jongdae mengangguk pasti sambil menggenggam tangan Aeri dengan erat. “Aku. Kim Jongdae. Sungguh mencintaimu. Song Aeri.”

Blush! Wajah Aeri kembali memerah, tapi kali ini ia tidak harus juga menanggung malu dilihat banyak orang seperti kejadian tadi di coffee shop. Kemudian, ia menelan salivanya dan hendak membuka mulutnya. “Lalu, boleh tidak aku memintamu untuk memelukku lagi seperti waktu kita pergi ke Myeongdong dan di coffee shop tadi?”

Seketika Jongdae memandang Aeri yang masih memasang wajah polosnya. Dan, tak butuh waktu lama untuk Aeri jatuh ke pelukan hangat milik Jongdae. Jantung Aeri kembali berdebar dengan hebat, namun ia tak peduli. Ia malah justru membalas pelukan Jongdan dan mengeratkan pelukan kekasihnya itu.

― To Be Continued ―

Iklan

Mind to Review? ^ ^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s