Unexpected Summer

unexpected summer cover

20141111 © AirlyAeri

Casts : Kim Jongin (EXO’s Kai); Han Saehee (OC)

Genre : Fluff, Alternative Universe, Romance ║ Rated : PG-15 ║ Length : Oneshot (3000+ words)

Backsound : MV Remake EXO’s Kai – In Summer

“Semuanya terasa seperti kejutan yang terjadi di musim panas ini.”

***

Kutatap seluruh ruangan di apartemen kecil yang baru saja kutempati sambil mengangguk-angguk. Apartemen yang cukup lumayan untuk seorang pegawai muda di sebuah perusahaan desain interior sepertiku. Apartemen kecil dengan interior yang lumayan karena berada di dekat pusat kota Seoul—menurutku. Perlu diketahui bahwa untuk menemukan apartemen di Seoul dengan biaya sewa yang murah tidaklah mudah mengingat biaya hidup di kota ini cukup tinggi.

Langkah kakiku segera mendekati balkon kala kedua bola mataku ini menangkap sebuah pintu terbuka yang menampilkan pemandangan langit cerah di musim panas. Langit berwarna biru cerah menyapa kedua mataku dan desiran angin musim panas segera menyambut wajahku saat tanganku berhasil menyentuh pegangan balkon tersebut. Pemandangan yang tidak terlalu buruk untuk suasana di kota.

“Cantik.”

Keningku berkerut. Dengan segera, kutolehkan kepalaku dan mendapati seseorang.

Lelaki dengan kemeja bermotif garis-garis sedang memandangku dengan lekat. Lengan kemejanya yang digulung hingga sesiku lengannya dan rambut kecokelatan yang panjang hingga menutupi keningnya membuatnya terlihat keren. Wajahnya yang ramah dan murah senyum membuatnya terlihat tampan. Yeah, bisa didefinisikan sebagai lelaki tampan yang baik hati.

“Hai,” sapanya. “Sepertinya kau penghuni apartemen baru ya.”

Aku hanya membalas ucapannya dengan tersenyum.

“Senang bertemu denganmu. Dan, semoga kita akan lebih sering bertemu di manapun. Sampai jumpa. Ngomong-ngomong, kau cantik. Cantik sekali.”

Tubuhku kubiarkan membeku kala mendengar kalimat yang terakhir diucapkannya. Mataku menatap si lelaki yang kini telah berjalan meninggalkanku dan masuk ke dalam apartemennya. Ini kali pertamanya aku dipuji oleh seorang lelaki secara terang-terangan.

Satu kejutan yang terjadi di musim panas tahun ini.

***

Kupandangi meja kerjaku dan komputer kerjaku yang penuh dengan tempelan-tempelan memo dengan berbagai macam warna dan motif. Sesekali sudut bibirku terangkat ketika melihat beberapa kalimat pemotivasiku yang tertera pada memo-memo tersebut. Ini adalah salah satu cara yang kulakukan untuk mengurangi kepenatan dan mengembalikan semangat kerjaku setelah sekian lama menatap komputer dan menyelesaikan pekerjaanku.

Tuk! Tuk!

Keningku sedikit bekerut kala mendengar suara aneh—seperti mengetuk sesuatu yang lebih tepatnya adalah dinding pembatas meja kerja. Tapi, aku berusaha untuk mengacuhkannya. Lagipula, mengurusi sesuatu hal yang kecil hanya membuang waktu saja.

“Ternyata, doaku terkabul.”

Refleks, aku menoleh ke sumber suara. Kedua mataku agak membesar hebat kala melihat sosok yang masih melekat dalam ingatanku kini duduk di sampingku. Si lelaki tetangga kemarin. Dan, yang paling membuatku semakin kaget hanya pembatas meja kerja berwarna cokelat tua saja yang membatasi kami sedaritadi.

Lelaki itu memandangku sambil tersenyum. “Ternyata, Tuhan sungguh mengabulkan doaku bahkan lebih dari yang kubayangkan. Senang bertemu denganmu lagi. Dan juga, mohon kerja samanya, Han Saehee-ssi.”

Dia kembali tersenyum sebelum kembali terfokus pada pekerjaannya dan sedangkan aku kembali terdiam membeku—persis seperti yang kulakukan kemarin karena terlalu terkejut akibat sikapnya.

Dia bahkan mengetahui namaku sebelum aku tahu namanya.

Kejutan kedua yang terjadi di musim panas tahun ini.

***

“Lihat! Lihat! Dia keren kan?”

“Oh, Kim Jongin ya? Ah, auranya memang begitu.”

“Ugh, beruntung sekali Saehee yang bekerja di sampingnya.”

“Iya. Tidak seperti aku yang hidupnya sial terus!”

Aku menatap si lelaki tetangga yang kini sedang menyantap makan siangnya bersama rekannya dengan pandangan penasaran. Kemudian, kedua mataku melirik ke arah para rekan kerjaku yang sedang sibuk bergosip kala waktu makan siang. “Siapa tadi namanya?” tanyaku.

“Kim Jongin. Orang yang bekerja di sebelahmu. Banyak orang yang menaruh perhatian padanya.”

Aku mengangguk-angguk mengerti. Lalu, kembali kualihkan mataku untuk menatap lelaki itu sekilas sebelum memandang jendela kaca yang transparan dengan pandangan tak terdefinisikan.

Jadi, si lelaki tetangga itu bernama Kim Jongin.

Kejutan ketiga yang kudapat di musim panas kali ini.

***

“Apa harimu menyenangkan hari ini?”

Kutatap lelaki—yang baru kuketahui namanya Kim Jongin dengan pandangan agak kaget ketika sedang sibuk memejamkan mataku untuk menikmati hembusan angin. Namun, segera kutepiskan dan beralih menatap langit malam. “Lumayan,” ujarku sambil menghelakan napas panjang.

“Tapi, kau tak bersyukur.”

Aku langsung menoleh ke arahnya dengan pandangan tak mengerti. “Maksudmu?”

Kulihat, ia menengadahkan kepalanya dan memejamkan kedua matanya sambil tersenyum. Wajahnya yang bahagia entah mengapa membuat hatiku begitu tenang. “Kau menjawab pertanyaanku sambil membuang napas. Kau tahu, kata ibuku hal itu sama saja membuang satu kebahagiaanmu.”

“Kau tahu, ibuku juga mengatakan hal yang sama seperti itu padaku,” balasku.

Tampak, ia menatapku dengan kaget. “Benarkah?”

Kemudian, kami larut dalam gelak tawa yang kami ciptakan sendiri. Malam ini langit begitu cerah dengan taburan bintang yang bersinar.

Kejutan keempat yang kulakukan di luar dugaan di musim panas ini.

***

Walaupun sudah tinggal bersebelahan dan duduk hanya berbatas dengan dinding pembatas meja kerja yang sama, rasanya aku masih terasa jauh darinya.

Kami tak pernah sekalipun pulang bersama, makan siang bersama, dan melakukan semua hal secara bersama-sama. Namun, pikiranku sendiri juga menyetujui dengan apa yang ada karena dirasa kami juga memiliki urusan masing-masing.

Dan hari ini, hujan mengguyur kota Seoul. Tetes-tetes air kali ini dibiarkan jatuh menerpa kota sebagai anugerah yang diberikan Tuhan. Embun-embun dibiarkan menempel pada permukaan kaca transparan kantorku. Kupandangi pemandangan rintik hujan yang masih mengalir deras sebelum mematikan komputerku. Semoga aku tak melupakan sebuah payung yang ada di dalam tasku. Itulah yang terlintas di benakku saat ini.

Namun, harapan tinggallah harapan. Payungku tertinggal di apartemen dan itu artinya adalah aku harus berdiri di teras kantor sendirian sembari menunggu hujan reda yang tak tahu kepastiannya.

“Saehee-ssi, kau tidak pulang?”

Kutoleh kepalaku kala heels pendek milikku sedang mengetuk lantai seirama dengan nada rintik hujan. Kedua bola mataku mendapati sosoknya sedang berjalan ke arahku dengan pandangan agak kaget. Tangannya baru saja hendak menyampirkan jaket untuk melindungi tubuhnya.

“Payungku tertinggal di apartemen dan hujan masih mengalir deras. Aku benar-benar lupa kalau hari ini seharusnya aku menonton prakiraan cuaca terlebih dahulu,” ujarku.

“Apa kau mau pulang bersamaku?” tawarnya sembari kembali melepas jaketnya. “Hm, tapi aku juga tidak membawa payung sih.”

“Kau duluan saja, Jongin-ssi,” tolakku dengan halus. Mungkin, ini pertama kalinya aku menyebut namanya. Sehingga, lidahku terasa aneh kala menyebut namanya.

“Tidak bisa begitu, Saehee-ssi. Aku tak bisa membiarkanmu berdiri di sini sendiri. Perlu kau ketahui bahwa kantor ini sudah sangat sepi. Dan juga, kita tak pernah tahu kapan hujan ini akan berhenti. Jika kuprediksikan, hujan akan berhenti pada malam hari bila sederas ini,” sahut Jongin dengan nada tak terima. Kemudian, matanya masih memandang hujan yang masih turun dengan deras. “Ayo, kita lari menuju halte bus dengan jaketku.”

“Apa?”

Sebelum aku menolak, Jongin sudah menarik lenganku dan segera berlari menerobos derasnya hujan dilindungi oleh jaket milik lelaki tersebut. Sesekali, aku melirik ke arahnya dengan pandangan amat bersalah kala aku menangkap berbagai sisi kemejanya telah basah oleh rintik hujan deras. Seharusnya ia tidak melakukan ini.

“Kau seharusnya tak usah melakukan hal seperti itu, Jongin-ssi,” ucapku dengan nada tak enak. “Lihat dirimu sekarang, kau lebih basah kuyup ketimbang aku. Bagaimana kalau nanti kau sakit?”

“Tidak apa-apa. Fisikku kuat, jadi tenang saja. Lagipula, ini juga untuk melindungimu. Aku tak bisa melihatmu sakit.”

Dalam sekejap, aku terdiam dan menatapnya dengan kaget. Di saat seperti ini, ia masih berusaha memikirkan orang lain.

***

Sabtu pagi yang cerah, udara sejuk dan langit cerah seharusnya menyapa diriku. Namun, meskipun mereka menyapaku aku tak akan bisa membalasnya. Tubuhku jatuh sakit dan hidungku terserang flu akibat insiden di tempo hari kemarin. Dan, dalam hatiku berdoa agar lelaki itu tak bernasib mengenaskan sama sepertiku.

Dering ponsel membuatku dengan susah payah bangkit dari ranjangku dan segera mengangkatnya tanpa melihat ID si penelepon.

Yeoboseyo?”

Saengil chukkahamnida, Saehee-ya!”

Aku segera tersadar saat mendengar ucapan selamat ulang tahun yang kudengar dari suara para rekan kerjaku. Tanggal berapa sekarang?

“Kenapa diam? Jangan bilang kau tak tahu kalau sekarang tanggal 1 Juli?”

Aku berdeham pelan. Memberikan isyarat ‘iya’ untuk menjawab pertanyaan yang menjadi jawaban pertanyaan di otakku. “Begitulah. Aku baru tahu sekarang sudah tanggal 1 Juli. Tapi,” Aku berusaha melanjutkan ucapannya kala suara parau dan serak semakin menguasai pita suaraku. “Gumawoyo.”

“Kau sakit, ya? Ah, bagaimana bisa di hari ulang tahun seperti ini kau malah sakit?”

I don’t know,” ujarku singkat.

“Istirahatlah yang cukup. Kalau besok Senin kau masih sakit, kau bisa minta izin pada Sajangnim.”

Arraseo.”

Dwasseo. Annyeong.

Aku langsung memutuskan sambungannya ketika sudah selesai. Namun, baru saja aku hendak kembali merebahkan tubuhku, kedua mataku menangkap sesuatu yang kuanggap asing di dekat balkon. Sebuah pot bunga dengan tanaman bunga matahari yang sedang mekar dengan indahnya. Tanpa aba-aba, aku segera berjalan menuju balkon dan mengambil pot bunga yang dihiasi pita berwarna jingga tersebut.

Di batang bunga matahari terdapat sebuah gulungan kecil yang dibiarkan menggantung. Sebuah surat kecil.

Kuharap, kau mau merawat bunga matahari ini dengan baik. Perlu kau ketahui bahwa wajahmu dan senyummu secantik bunga matahari ini. Happy birthday, Saehee-ssi. Semoga hadiah ini berarti untukmu. Semoga panjang umur, sehat selalu, dan selalu sukses. Wish you all the best!

Kudengar kau sakit, ya? Maafkan aku, seharusnya kemarin aku tak perlu melakukan hal itu dan ini semua sepertinya salahku. Aku juga memberikan obat pereda flu untukmu. Semoga kau cepat sembuh, Saehee-ssi.

Kim Jongin

Aku tertawa kecil kala membacanya. Sesekali jantungku berdebar-debar saat tahu bahwa yang memberikan hadiah bunga matahari ini adalah lelaki itu. Tahu darimana ia mengenai hari ulang tahunku? Kulirik balkon yang berdiri tegak di sampingku sekilas sembari mengukir senyum.

***

Yang kutahu saat ini tentang lelaki itu, ia sepertinya memiliki kekasih.

Hal itu tanpa sengaja hari ini kulihat Jongin sedang asyik bercengkrama dengan seorang gadis. Sesekali, gadis itu berucap dengan kata-kata manis sembari bergelayut manja di lengan lelaki tersebut. Sementara, Jongin hanya tertawa melihat tingkah gadis tersebut.

Kupandangi langit musim panas yang sedang berawan disela kesibukanku mengurusi pekerjaanku. Entah apa yang terjadi, mood-ku mendadak kelabu persis seperti langit berawan hari ini. Sungguh, entah mengapa kali ini aku sangat mengharapkan hujan kembali mengguyur kota meskipun kondisi tubuhku masih belum sepulih yang kuinginkan. Dan, aku akan merasa amat bersyukur jika hujan benar-benar akan datang karena hari ini aku telah membawa payung.

Kedua mataku segera membesar hebat ketika menyadari sesuatu. Monitor komputerku mendadak mati tanpa tahu sebabnya. Yang lebih kukhawatirkan bukanlah apakah komputernya rusak atau tidak. Melainkan bagaimana caranya aku harus menyelesaikan semua pekerjaanku sementara semua lembar kerjaku berada di dalam komputer. What should I do?

Akhirnya, atasanku memintaku untuk tidak memakai komputer selama beberapa waktu sebelum komputerku kembali berjalan seperti biasa. Dan, itu artinya aku tak akan bekerja selama komputerku masih dalam kondisi error. Kata cleaning service yang baru saja memanggilkan kuli untuk membenarkan komputerku, butuh waktu beberapa jam untuk mengembalikan media kerjaku tersebut. Ugh, entah mengapa semuanya berubah menjadi terasa begitu menyebalkan.

Maka, dengan malas kusuapkan sendok berisi nasi besar-besar ke dalam mulutku kala jam makan siang tiba. Kupandangi lagi langit musim panas yang masih terlihat kelabu dari kaca transparan kantor. Entah mengapa, semuanya tampak sedang mengekspresikan seluruh perasaanku hari ini.

“Kau makan sendirian saja, Saehee-ssi?”

Seketika aku mendongak dan berhenti mengunyah saat tahu bahwa Jongin sedang berdiri di depanku dan memandangku sambil tersenyum. Senyumnya yang menawan harus kehilangan beberapa persen di mataku kala mengingat apa yang kulihat tadi pagi. Tangannya yang kokoh membawa sebuah nampan berisi menu makan siangnya.

Aku mengangguk kecil sebelum kembali memasukkan suapan nasi ke dalam mulutku.

“Kalau begitu, aku duduk di sini ya.”

Sontak aku kembali berhenti mengunyah dan memandangnya yang kini telah duduk di hadapanku tanpa perasaan bersalah sama sekali. Ketika kedua pasang mataku bertemu dengan manik matanya, ia kembali mengulas senyum.

“Kenapa? Kau tidak suka aku duduk di sini? Kalau begitu, aku bisa pergi―”

“―Jangan!”

Tampak, wajahnya terkejut kala melihatku berbicara disela-sela mengunyah nasi yang telah masuk. Dan, detik selanjutnya adalah aku tersedak oleh nasi yang kumakan sendiri. Rasanya seperti tak ada lagi ribuan oksigen yang bisa kuhirup.

“Pelan-pelan sedikit. Minumlah dulu.”

Aku menurut saat Jongin menyodorkanku segelas air putih. Ribuan oksigen kini berhasil kuhirup dalam-dalam ketika dirasa sudah lega. “Gumawoyo,” ucapku setelah kembali bisa mengeluarkan suara.

“Ah, tidak usah sungkan begitu. Sesama rekan kerja dan tetangga kan harus saling tolong menolong.”

Ah, status yang bagus sekali untuk menghubungkan antara diriku dan Jongin saat ini. Mendengarnya saja rasanya begitu miris pada diriku sendiri. Ugh, menyebalkan.

Oppa!”

“Oh, Jihyun-ah.

Kulihat seorang gadis hendak berjalan menghampiri Jongin. Gadis itu—gadis yang kulihat tadi pagi membicarakan sesuatu dengan Jongin. Jihyun, sepenggal nama yang kuketahui dari gadis itu. Sikap mereka yang kelewat akrab membuatku terlihat hanya sebuah patung tak berguna. Dan, yang paling membuatku geram bercampur rasa sesak adalah.

Aku semakin merasa jauh dengan lelaki itu.

***

Eomma sudah memberitahumu sejak awal. Kau akan dijodohkan dengan seorang anak rekan kerja bisnis Appa. Ingatlah usiamu sekarang, Saehee-ya. Kau sudah menginjak umur 22 tahun dan kakak lelakimu, Joonhee sudah menikah.”

“Akh, tapi Eomma, aku masih belum berpikir untuk menikah. Dan juga―”

“―Pokoknya Eomma tak mau tahu. Lusa kau harus pulang ke rumah dan ikut Eomma!”

Tut!

Kuhembuskan napas berat kala mendengar sambungan telepon dari ibuku terputus begitu saja. Dengan berat, kembali kulangkahkan kakiku setelah memasukan ponselku ke dalam tas hendak perjalanan pulang. Kupandangi langit senja berwarna jingga yang menghiasi. Pikiranku berputar-putar atas apa terjadi beberapa waktu belakangan ini.

Inikah waktunya untuk kembali menyerah atas perasaanku? Inikah artinya bahwa mulai saat ini aku harus selalu menuruti kata orangtuaku?

“Kupikir kau sudah sampai di apartemen sedaritadi.”

Kuhentikan langkahku begitu mendengar seseorang yang amat kukenali. Tanpa menolehpun aku sudah tahu siapa. Dengan gerakan manik mataku yang cepat, kulihat ia sedang berdiri di sampingku dan memandangku.

“Langit sore ini begitu cerah. Tapi, semangatku tidak secerah itu. Makanya, aku tak bisa berjalan cepat untuk segera sampai apartemen,” ujarku dengan nada pelan.

“Aku bisa membuat semangatmu kembali.”

Kulihat ia berjalan menghampiri sebuah rumah yang ada di dekatku, lalu ia menekan belnya. Setelah itu, segera berlari menjauhi rumah tersebut. Sementara, aku teronggok berdiri memandang bel tersebut dengan pandangan tak mengerti.

“Siapa di sana?” Terdengar suara sang pemilik rumah menyahuti suara bel yang membuatku semakin kaget.

“Saehee-ssi, ayo lari atau kau yang akan menjadi tamu rumah tersebut!”

Sebuah tangan yang kokoh berhasil menarik tubuhku dan menggerakkan kakiku untuk berlari. Kutatap Jongin yang kini sedang menyeringai ke arahku. Deru napasnya tampak tak beraturan karena masih berlari.

“Bagaimana? Semangatmu kembali kan?” tanyanya.

Butuh waktu beberapa detik untuk mencerna apa yang telah terjadi sebenarnya. Kemudian, tiba-tiba saja aku tertawa lepas ketika telah mengerti maksudnya. Kulirik Jongin yang terheran-heran melihatku lalu ikut tertawa bersama. Berbagai macam masalah yang kuhadapi seolah menguap dan menghilang begitu saja. Semuanya seolah tenggelam dalam gelak tawa.

Namun, meskipun semuanya seperti tenggelam, jantungku yang kembali berdebar-debar membuatku harus bersabar untuk menyembuhkannya kala kurasakan jemariku digenggam erat oleh seorang lelaki bernama Kim Jongin tersebut.

“Senyummu cantik sekali, persis dengan bunga matahari yang kuberikan padamu sebagai hadiah ulang tahunmu. Aku harap kau mau terus merawat bunga itu.”

Kata-kata yang dirangkai oleh Jongin untukku kubiarkan terbang tak membekas di telingaku kala pikiranku terlintas kejadian tadi pagi. Sudah cukup aku terbuai dan jatuh tenggelam ke dalam pesona Kim Jongin. Padahal sadar punya seorang kekasih, tapi sikapnya yang kelewat ramah kadangkala membuatku salah mengartikannya. Kumohon, jangan membuatku untuk terus berharap padamu, Tuan Kim.

Memang sejak awal aku mengerti bahwa seharusnya aku tak boleh berharap lebih pada apapun dan siapapun. Kecuali Tuhan.

***

Kurapihkan blazer krem dan rok yang berwarna senada saat aku berada di sebuah restoran berbintang lima. Kulirik ibuku yang sedang memandang pintu keluar masuk restoran dengan pandangan gelisah. Hari ini adalah agenda buatan ibuku untuk membuat janji temu dengan teman beliau yang akan menjodohkan anaknya denganku.

Mulai saat ini, kuputuskan untuk menuruti apa kata orangtuaku dan mengacuhkan semua perasaan dan kata hatiku. Mungkin diawali dengan melupakan perasaan berdebar-debar pada si lelaki tetangga itu? Entahlah.

“Selamat datang, Nyonya Kim.” Ibuku segera berdiri dan menyambut tamu yang sedaritadi ditunggu beliau. Tanpa aba-aba pula, aku ikut bediri da menyambut beliau.

Kulihat, Nyonya Kim memandangku dengan agak terkejut. “Apa kau Han Saehee?”

Seketika kubungkukkan tubuhku di hadapannya. “Ne. Annyeong haseyo. Han Saehee imnida.

“Nyonya Han, ternyata anak anda lebih cantik dari yang diceritakan oleh anakku.” Tampak, Nyonya Kim berbicara dengan ibuku sambil tersenyum yang sesekali melirik ke arahku.

“Oh, benarkah?” tanya ibuku dengan antusias. “Apa berarti anak anda telah mengenal anakku?”

“Katanya ia bekerja di perusahaan yang sama dengan Saehee,” balas Nyonya Kim yang membuatku harus mengangkat alis—keheranan. “Anak itu bahkan sampai memintaku untuk berusaha membujuk anda agar mau menjodohkan Saehee dengannya.”

“Ah, aku jadi penasaran bagaimana tampannya anak anda, Nyonya Kim.”

“Anak itu katanya sebentar lagi akan datang. Katanya, ia mengurusi beberapa hal dahulu.”

Disaat ibuku dan Nyonya Kim asyik berbincang-bincang, otakku malah sibuk dengan dunia pikiranku. Anak Nyonya Kim bekerja di perusahaan yang sama denganku? Siapa? Pikiranku mulai berputar-putar mencoba mengingat siapa saja karyawan laki-laki yang kukenal di kantorku.

“Ah, itu dia. Kau sudah datang, anakku.”

Aku segera tersadar dalam dunia pikiranku menuju dunia nyata. Mataku segera bergerak kala tahu ada seseorang yang datang menghampiri meja kami. Dan butuh waktu sepersekian detik untuk kusadari bahwa yang datang merupakan sosok yang amat kukenali.

“Kenalkan, ini anakku yang benama Kim Jongin,” ucap Nyonya Kim padaku dan ibuku.

Seketika aku melongo melihat kedatangan lelaki tersebut yang kini sedang memandangku dan tersenyum ke arahku. Terlebih ia datang dengan setangkai bunga matahari yang sedang mekar dan secara khusus menyerahkannya padaku. Jantungku kembali berdebar-debar. Ini pasti tidak mungkin, pikirku.

Segera aku bangkit dari dudukku dan menatap sosok lelaki yang kini sudah tepat berada di hadapanku sambil tersenyum. “Kau…” Mendadak lidahku kelu dan semua kalimat yang ingin kuutarakan mendadak hilang dan menguap entah ke mana.

“Luar biasa. Tuhan benar-benar mengabulkan semua doaku. Senang bertemu denganmu lagi, Saehee-ssi. Tapi mungkin, kali ini kita akan benar-benar sering bertemu. Di manapun,” ucap Jongin sambil menatapku dengan lembut yang membuatku tak bisa menyembunyikan rona merah di wajahku. Dalam hatiku, beribu-ribu ucapan terima kasih dan rasa syukur kupanjatkan kepada Tuhan yang telah membuatku tak perlu lagi menguburkan perasaan kecil ini dalam-dalam.

Sesaat aku ragu kala mengingat gadis yang bersamanya. “Ta-tapi, gadis bernama Jihyun itu―”

“―Dia adalah adikku yang sedang magang di perusahaan kita,” ujar Jongin menukas. “Kenapa kau tiba-tiba berkata begitu? Oh, jangan-jangan kau menganggapku…”

“Ya, mana aku tahu kalau dia adalah adikmu. Maaf saja, aku tidak suka mencampuri urusan orang lain,” elakku cepat.

“Tidak suka mencampuri urusan orang lain atau hanya alibi bahwa selama ini kau berburuk sangka padaku?” ungkapnya yang membuatku kalah telak dan kehabisan kata.

“A-aku… maksudku―”

“―Aku menyukaimu, Saehee-ssi. Dan, orangtuamu setuju aku menikah denganmu nanti. Jadi, mulai saat ini intensitas kita bertemu akan semakin melonjak tajam. Di apartemen, di kantor, di manapun. Apa kau juga menyukaiku?”

Aku terdiam mendengar ucapannya yang panjang lebar. Dan saat ini, otakku berusaha menjawab pertanyaan yang terlontar dari bibir Jongin. “A-aku…”

Rasanya aku tak perlu menjawab pertanyaannya lagi kala ia langsung merengkuh tubuhku ke dalam pelukan hangatnya. “Katakan kalau kau juga menyukaiku.”

Aku hanya diam dan menenggelamkan wajah dengan rona merahku sembari membalas pelukan pria tersebut. Rasanya tak perlu dikatakan juga sudah tahu perasaanku seperti apa. Kulirik langit musim panas yang amat cerah dari jendela restoran, seolah menyambut dan merayakan kebahagiaanku.

Rasanya kejutan kali ini lebih mengejutkan diantara sekian banyak kejutan yang terjadi musim panas tahun ini.

“Aku juga menyukaimu, Jongin-ssi.”

-fin.

Hei! This is my first fanfict after ‘Love Note’! >_<

Huehehe, special Kai soalnya seneng liat MV remake punya dia yang mencerminkan sosok cowok fluffy gitu deh :3 Ugh, pokoknya ujungnya jadi ngebayangin sosok Jongin yang cute and fluffy parah! Haha 😀

Makasih ya udah baca fanfict ini, and don’t forget give review please >/\< because, your review like oxygen. Very important *__* Okay! Hahaha 😀

Thank you

-AirlyAeri.

Iklan

Mind to Review? ^ ^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s