Love Note : 16th The Last Game

da in 160

© Aeri_Tamie’s Script Writer

Casts : Song Aeri; Kim Jongdae (EXO-M’s Chen); Cho Kyuhyun (Super Junior’s Kyuhyun); Shin Yeonjoo

Other Casts : You can find it in here ^^

Genre : Romance, Drama, Friendship, Comedy Rated : PG-17 Length : Chapter

Disclaimer : 20131025 © Aeri_Tamie

Previous Chapter :

1st Unexpected 2nd (Really) Unexpected 3rd Complicated 4th Let’s Play 5th Grey Paper 6th Love & Dust 7th Pain 8th Confession 9th Unpredictable 10th New 11th First Confusion 12th Realize 13th Decision 14th 200% 15th This is Love

Note      : Hai!! Ini chapter menjelang ending. Kali ini saya beneran soalnya udah saya pikirin mateng-mateng. Aduh, aduh, saya mikirin fanfiction ini dengan feeling makin amberegul karena tingkah Chen di sini seolah kaya beneran romantis di dunia nyata. Entahlah kalo itu. /mungkin cuman perasaan saya aja/ Hahaha>< Happy reading!

***

» Story 16 : The Last Game

Aeri baru saja hendak keluar kelas begitu kelas telah berakhir. Maka dengan santai, ia memasukkan sebagian bukunya ke dalam tas dan sisanya dibiarkan ia bawa. Kemudian, ia hendak berjalan menuju ambang pintu kelas.

“Nona Song Aeri.”

Aeri menoleh dan mendapati Dosen Choi memanggil namanya dan hendak berjalan menghampirinya. Tampak, wajah wanita paruh baya tersebut tersenyum ke arah Aeri.

“Ne?” tanya Aeri.

“Ada suatu hal yang ingin kubicarakan denganmu,” ungkap Dosen Choi. “Duduklah dahulu.”

Aeri menuruti ucapan sang Dosen dan duduk di sebuah bangku kelas berhadapan dengan Dosen Choi. Tampak, wanita itu kembali tersenyum.

“Silahkan,” kata Aeri.

“Maafkan aku bila ini mendadak. Tapi.” Jeda sejenak karena Dosen Choi kembali menatap Aeri. “Kudengar, kau mengikuti tes beasiswa ke Melbourne.”

“Ne?” ucap Aeri dengan nada tak mengerti. “Jwesonghamnida. Mungkin anda salah orang. Seingat saya, saya tidak pernah mengikuti tes tersebut.”

“Tidak. Kupikir, aku tidak salah orang. Tes tersebut diadakan ketika musim panas tiba. Kalau kau tidak mengikuti tes tersebut, tak mungkin kau dinyatakan lulus,” jelas Dosen Choi.

“Apa?” ungkap Aeri dengan nada tak percaya.

***

“Jadi, kau dinyatakan lulus tes beasiswa ke Melbourne?”

Aeri mengangguk pelan menyahuti pertanyaan Hyoae. Ia masih tak percaya mendengar suatu kebenaran yang—menurutnya aneh. Sementara, Hyoae yang penasaran hanya menengadahkan tangannya sambil menyedot jus jeruknya dengan cepat.

“Apa?” tanya Aeri dengan nada tak mengerti sekaligus lemas karena melihat Hyoae begitu.

“Boleh aku lihat suratnya?” tanya Hyoae akhirnya setelah ia menelan jus jeruknya.

Aeri langsung menyerahkan sebuah amplop putih yang tadi ia taruh diantara tumpukan buku yang ia bawa pada Hyoae. Dan, sedangkan Hyoae langsung membuka amplop putih tersebut dan membacanya. “Woah, ini memang namamu tertera di sini, Ri-ya. Tertulis jelas sekali. Song Aeri. Mahasiswa Jurusan Desain Komunikasi Visual dinyatakan lulus tes beasiswa. Apalagi yang kauragukan, Ri-ya?”

Aeri yang mendengar pertanyaan Hyoae hanya bisa menghelakan napas panjang. “Masalahnya, aku tak pernah mengikuti tes beasiswa tersebut.”

“Kata siapa? Mungkin kau lupa disaat orang lain menikmati liburan musim panas kemarin, kau malah berpusing-pusing ria dengan mengerjakan kumpulan soal dan membuat essay. Coba ingat-ingat. Aku bahkan masih ingat kau sampai tidak bisa tidur gara-gara kau gila dengan kumpulan essaymu itu,” jelas Hyoae. “Lagipula, bukankah kau dulu begitu menginginkannya?”

“Iya, tapi itu dulu. Kalau sekarang,” Aeri kembali menghelakan napas panjang. “Entahlah. Pikiranku bercabang, Hyo.”

“Ya, ya, ya, mungkin kau bisa jelaskan apa saja yang membuat pikiranmu bercabang,” pinta Hyoae.

Aeri mulai berpikir. “Pertama, aku semakin jauh dengan keluargaku. Kedua, aku pasti akan merindukanmu dan yang lainnya. Lalu―”

“Kim Jongdae?” tukas Hyoae dengan pandangan menyelidik.

Aeri mengangguk pelan. Bagaimana ini? Aku pasti merindukannya, pikir Aeri. Tak lama, beberapa detik setelah itu… “Auw!”

“Wae?” tanya Hyoae dengan nada kaget. “Ada apa?”

“Entahlah. Tapi, aku merasa gelang ini terasa sesak hingga mencengkram pergelangan tanganku,” ungkap Aeri sambil mengusap pergelangan tangan yang dilingkari oleh gelang cokelat pemberian Jongdae. Ia mencoba melepaskan gelang tersebut, namun hasilnya nihil.

“Coba aku lihat,” pinta Hyoae dan Aeri menurutinya dengan cara menyerahkan pergelangan tangannya yang terbalut gelang manik-manik cokelat. Beberapa menit Hyoae memperhatikan, hingga akhirnya ia mengangguk-angguk mengerti. “Pantas saja. Ini kan gelang telepati.”

“Hah?” ungkap Aeri dengan nada tak percaya dan bingung. “Maksudmu apa sih?”

“Ini gelang yang tidak biasa. Gelang ini yang bisa mendengar suara hati. Jika kau merindukan pasanganmu, maka gelang ini akan segera menyusut seolah mencengkram pergelangan tanganmu. Hebat sekali Jongdae Sunbae mencari couple bracelet seperti ini. Aku saja bingung mencarinya,” tutur Hyoae. “Jadi, kau sedang berpikir ya, jika kau pergi maka kau pasti akan merindukan Jongdae Sunbae?”

“Kira-kira begitulah,” jawab Aeri sekenanya karena masih terasa sakit dengan pergelangan tangannya karena gelang tersebut.

“Lalu, apakah kau akan menerima beasiswa tersebut?” tanya Hyoae.

“Tidak tahu,” ujar Aeri.

Ting! Aeri segera melirik ponselnya begitu mendengar dering notifikasi dari LINE. Degan malas, ia mengambil ponselnya dan membacanya begitu tahu itu adalah notifikasi pesan dari Jongdae.

[Kim Jongdae] Apa kau sudah selesai dengan jadwalmu, Ri-ya?

Kemudian, Aeri membalas LINE drai Jongdae.

[Song Aeri] Sudah. Ada apa memangnya?

Tak butuh waktu lama Jongdae membalasnya. Sehingga Aeri dapat mendengar dering notifikasi kembali.

[Kim Jongdae] Aku akan segera menyusulmu.

Lho, memangnya dia di mana? Apa dia tahu aku di mana? Batin Aeri. Kemudian, kedua matanya beredar ke seluruh kantin kampus dan tidak mendapati siapapun yang terlihat mencolok di matanya.

“Kau cari siapa sekarang?” Hyoae bertanya lagi setelah melihat tingkah Aeri.

“Bukan siapa-siapa,” jawab Aeri tanpa menoleh sedikitpun ke arah sahabatnya. Ketika matanya kembali terfokus ke depan, matanya mendadak membulat karena kaget melihat di depannya kini bukan hanya ada Hyoae, tapi ada juga seorang lelaki dengan wajah setengah lucu setengah manly. “Luhan Gege, sejak kapan kau di situ?” tanya Aeri kaget.

“Hei, kau bahkan melupakan seseorang yang ada di sampingmu,” balas Luhan.

Saat Aeri menoleh ke sampingnya, tampak wajah polos Jongdae sambil menyedot jus jambu milik Aeri yang sama sekali belum ia minum. Hal itu membuat Aeri semakin kaget. “Lalu, kau! Sejak kapan?”

“Beberapa menit yang lalu,” jawab Jongdae enteng sambil menyangga dagunya dengan sikut. “Apa kau masih sibuk? Ayo, pergi.”

“Ke mana?” tanya Aeri.

“GyeongGi-Do,” jawab Jongdae.

“Lalu, mereka berdua?” tanya Aeri lagi sambil memandang Hyoae dan Luhan yang asyik bercengkrama dan tersenyum.

“Aku ada urusan di coffee shop, Ri-ya,” jawab Luhan ketika mendengar pertanyaan Aeri seolah tertuju padanya. “Dan, Hyoae akan ikut denganku.”

“Lagipula, kalau aku ikut nanti aku jadi kayu bakar,” celetuk Hyoae. “Aku juga tak ingin melewati kelas terakhir nanti sore. Jadi, kalian saja yang pergi.”

“Nah, mereka sudah mengijinkan. Ayo, kita pergi,” ajak Jongdae setelah mendengar jawaban dari sepasang sejoli yang kini tertawa mendengar ucapannya. Tangannya kini menggamit tangan Aeri hendak mengajaknya pergi.

“I-iya. Tapi, tunggu sebentar!” seru Aeri sambil mengambil tumpukan buku yang ia bawa. “Hyoae-ya, Luhan Gege, aku pergi dulu ya!” pamitnya sebelum meninggalkan Hyoae dan Luhan berdua.

“Hati-hati ya,” balas Hyoae sambil melambaikan tangannya pada Aeri.

***

“Kau brutal sekali.”

“Kenapa memangnya?”

Setelah perjalanan panjang tanpa perkacapan dan hanya ada kesunyian, akhirnya suasana khas milik Aeri dan Jongdae kembali berkembang. Aeri melirik ke arah Jongdae yang kini memasang wajah tanpa merasa bersalah disela-sela ia terfokus pada jalan raya karena ia sedang menyetir. Tampak, dahi gadis itu berkerut. “Kau menarikku tadi.”

“Lalu?” tanya Jongdae. “Tanganmu sakit?”

“Tidak tahu,” balas Aeri ketus karena sedaritadi jawaban yang ia dnegar dari bibir Jongdae hanyalah ungkap rasa tidak bersalah. Tiba-tiba, ia teringat sesuatu. “Jongdae-ya, couple tee pemberianmu menyeramkan.”

“Kenapa menyeramkan?” tanya Jongdae dengan nada penasaran. “Apa gelangmu sempat terasa menyusut?”

“Iya,” balas Aeri. “Sakit sekali rasanya.”

Jongdae terdiam, kemudian senyum terukir di wajahnya. “Mungkin seperti itu rasanya bila aku merasa jauh denganmu dan merindukanmu. Sakit sekali.”

Kali ini, giliran Aeri terdiam. Ia mulai memikirkan lelaki ini dan beasiswa yang ia terima.

“Apa lagi yang kaupikirkan, Ri-ya?” tanya Jongdae karena tak kunjung mendengar reaksi Aeri.

Segera, Aeri tersadar dan menoleh ke arah Jongdae. “Bukan apa-apa kok, Jongdae-ya.”

“Nah, sudah sampai. Ayo, turun,” ajak Jongdae sambil mematikan mesin mobilnya dan keluar dari mobil dan Aeri menuruti ucapan lelaki itu.

Hari ini, mereka mengunjungi Daejanggeum Theme Park berlokasi di kawasan GyongGi-Do yang merupakan tempat wisata yang didirikan untuk serial drama ‘Jewel in the Palace’. Di sana, Aeri dan Jongdae dapat melakukan banyak hal. Seperti mengambil gambar di beberapa tempat syuting drama, melihat hiasan-hiasan syuting, bahkan mencoba masakan khas kerajaan. Sesekali, mereka tertawa dengan tingkah konyol yang mereka buat di sana.

Sampai mereka menjelajahi tempat wisata tersebut, hingga di sebuah pavilium yang dijadikan tempat untuk memakai atribut kerajaan. Mereka mencoba berbagai macam pakaian kerajaan, dimulai dari pelayan kerajaan sampai kepala bagian istana.

“Apa aku sudah seperti seorang Ratu?”

Jongdae menoleh dan memandang takjub ketika mendapati Aeri yang berusaha membenarkan rambutnya yang disanggul dan berpenampilan seperti seorang permaisuri di drama saeguk yang pernah ia tonton waktu dulu. “Astaga, berat sekali sanggul ini. Rasanya hampir ingin terjungkal ke belakang. Dan―Huwaa, Jongdae-ya!!”

Jongdae segera menarik tangan Aeri begitu ia melihat Aeri benar-benar hampir terjungkal ke belakang. Napas Aeri terengah-engah begitu tahu ucapannya menjadi kenyataan.

Jongdae mendecakkan lidahnya atas sikap Aeri yang payah. “Lain kali, hati-hati dalam berbicara. Lihat kau sekarang,” nasihat Jongdae yang ditanggapi Aeri dengan cengiran konyolnya.

Kemudian, Aeri bersusah berdiri dengan susah payah. Butuh waktu beberapa detik untuk Aeri sadar jika Jongdae sudah berpenampilan gagah layaknya raja Dinasti Joseon.

“Bagaimana?” tanya Jongdae meminta pendapat Aeri. Sementara, Aeri menanggapinya dengan anggukan mantap sambil tersenyum.

“Ya Tuhan, kalian serasi sekali. Boleh aku minta kalian untuk berfoto bersama?”

Aeri dan Jongdae menoleh dan mendapati seorang nenek yang takjub melihat penampilan mereka berdua. Disamping beliau ada pula suaminya yang tampak umur tak jauh beda dengan nenek tadi. Wajahnya sangat bahagia melihat penampilan Aeri dan Jongdae.

“Ah, Halmeoni, jwesonghamnida―”

“―Tunggu sebentar, ya. Akan kupanggilkan seorang fotografer untuk kalian. Yeobo, tolong ya,” pinta nenek tadi pada suaminya dan sama sekali tak mempedulikan ucapan Aeri

Jongdae memandang Aeri sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal. “Sepertinya akan lama, Ri-ya.”

“Tak apalah. Demi menyenangkan Halmeoni itu,” desis Aeri sambil mendongak dan memandang Jongdae.

Tak lama, nenek tersebut datang dengan seorang fotografer yang membawa sebuah kamera SLR. Tampak, wajah fotografer itu juga agak terkejut melihat penampilan Aeri dan Jongdae. “Wah, kalian serasi sekali. Benar kata anda, Halmeoni. Ayo, berpose.”

Sebelum melakukannya, Aeri melirik ke arah Jongdae dengan ragu. “Jongdae-ya, aku malu. Wajahku tidak fotogenik,” ungkapnya jujur.

“Aish, begini saja masa tidak bisa. Coba kau ingat, kemarin saat kita di Kangnam dan hendak pulang mengambil mobilku. Sebelum itu kan kau berfoto disamping pemandangan lampu warna-warni. Masa sekarang tidak bisa? Kau mau kita terus terjebak dengan penampilan begini? Belum waktu lama saja kau sudah mengeluhkan sanggul besarmu itu kan?” cerewet Jongdae.

“Ne, ne, ne, arraseo,” balas Aeri singkat dengan wajah bersungut-sungut.

Kemudian, Aeri dan Jongdae tersenyum di depan kamera dan beberapa kali sempat tak menatap kamera karena terlalu serius untuk saling memperdebatkan apapun—bahkan mereka sampai lupa bahwa ada nenek tadi yang ingin berfoto bersama mereka. Sehingga, menghasilkan beberapa foto yang berhasil dibidik dengan tangan fotografer profesional. Akhirnya, mereka dapat bernapas lega setelah berfoto.

“Nak, nanti aku minta hasil fotoku dengan mereka ya,” pinta nenek tadi pada fotografer yang sudah mengangguk—menyanggupi ucapan sang nenek. Lalu, kedua mata nenek itu menghampiri Aeri dan Jongdae disusul oleh suaminya. “Aigo, penampilan kalian mengingatkanku pada masa muda. Benar kan, Yeobo?”

Sang suami mengangguk menyetujui ucapan istrinya. “Benar. Kalian mengingatkan kami pada saat foto waktu dulu dengan penampilan yang sama seperti kalian.”

“Benarkah?” tanya Aeri dengan nada tak percaya.

“Terima kasih. Semoga foto kami membuat Halmeoni dan Harabeoji terkenang akan masa mudanya.” Jongdae angkat bicara setelah lama ia diam.

“Kami juga berterima kasih karena berkat kalian, kami dapat mengingat setiap kenangan kami.”

Setelah bercakap-cakap panjang, akhirnya Aeri dan Jongdae kembali berpenampilan biasa. Kala itu, Aeri tersenyum memandangi hasil gambar yang dibidik oleh fotografer tadi yang menampilkan fotonya dengan Jongdae saat mereka duduk di sebuah bangku panjang untuk beristirahat.

“Apa sih yang kau lihat?” tanya Jongdae dengan nada penasaran karena baru saja datang dengan dua gelas minuman.

“Lihat ini,” ucap Aeri sambil menunjukkan pada Jongdae. “Wajahmu terlalu serius.”

“Wajahku lebih baik ketimbang wajahmu. Lihat, tertawamu terlalu lebar,” ledek Jongdae.

“Jongdae-yaaa~” rengut Aeri yang mulai kesal karena tak terima.

Sementara, Jongdae hanya tertawa keras. Kemudian, tangannya mengulurkan salah satu gelas minumannya pada Aeri yang masih mengembungkan pipinya kesal.

Hening. Tak ada lagi suara yang terdengar diantara merea karena pikiran mereka tenggelam dalam dunia otaknya sendiri. Jongdae melirik ke arah Aeri sekilas. Seolah ada yang ingin dibicarakan dengannya.

“Ri-ya,” panggil Jongdae.

“Huh?” Aeri menoleh ke arah Jongdae dengan pandangan ingin tahu. “Ada apa?”

Jongdae terdiam sejenak. “Ada suatu hal yang ingin kubicarakan denganmu.”

“Apa?” tanya Aeri. Matanya menatap Jongdae dengan pandangan penasaran sekaligus awas. Mendadak jantungnya mulai berdetak cepat, ia takut jika Jongdae mangatakan suatu hal yang tidak menyenangkan di telinganya.

Jongdae menelan ludahnya sebelum ia kembali membuka suara. “Aku… mendapatkan beasiswa ke San Fransisco, Ri-ya.”

Kembali hening. Dan, Jongdae berusaha melanjutkan ucapannya. “Maafkan aku karena aku tak memberitahumu, tapi tes beasiswa tersebut juga sudah sangat lama dan pengumumannya baru diberitahu akhir-akhir ini.”

“Apa kau akan menerimanya?” tanya Aeri tanpa basa-basi.

Jongdae terdiam, kemudian memandang gadis di sampingnya dengan dahi berkerut. Sungguh, suara Aeri yang terdengar biasa seolah baik-baik saja membuatnya heran. Dia tak marah?

“Kau tak marah?” kata Jongdae balik bertanya dengan nada agak kaget.

“Untuk apa marah?” balas Aeri. “Kalau kau menginginkannya, ambil saja. Lagipula, saat kau tes kan kau berjuang keras untuk mendapatkannya dan aku tidak tahu hal itu. Terima saja.”

“Kau yakin dengan ucapanmu?” tanya Jongdae. “Lalu, bagaimana dengan―”

“―Sebenarnya… aku juga mendapat beasiswa ke Melbourne,” tukas Aeri berterus terang. “Tak masalah kau pergi, karena aku juga akan pergi.”

“Kenapa kau tidak mengatakannya sejak awal?” tanya Jongdae dengan nada kaget.

“Sebenarnya, aku juga mau mengatakan hal itu padamu. Tapi, aku masih ragu apakah aku akan menerimanya atau tidak. Kemudian, saat aku mendengar bahwa kau mendapatkan beasiswa ke San Fransisco tadi, aku jadi berpikir untuk menerimanya juga,” tutur Aeri. “Kalau dipikir-pikir, kita telah berjuang demi kesuksesan kita bukan? Apakah kau akan menyia-nyiakannya begitu saja karena salah satu diantara kita?”

Jongdae terdiam, kemudian meneguk minuman yang ia bawa. “Benar katamu.”

“Jadi, kapan kau akan berangkat?” tanya Aeri.

***

Esok harinya, Aeri baru saja pulang dari kampus untuk mengurusi beberapa surat untuk beasiswanya. Dan kini, ia hendak pulang kembali ke Itaewon. Ia berdoa agar kedua kakaknya saat ini sedang ada di rumah. Dengan begitu, ia tak perlu repot-repot mencari mereka ke kantor untuk mengabarkan kabar baik tentangnya.

“Eonni, aku pulang~!!”

Aeri segera melesat masuk ke rumahnya ketika ia berhasil membuka pintu gerbang rumahnya. Tampak, rumah itu begitu sepi. Namun, ada seseorang yang sedang menyiram bunga dan satu lagi sedang membaca majalah. Dapat ia yakini kalau itu adalah kakak-kakaknya, Song Nunah dan Song Soojin.

Dengan secepat kilat, Aeri berlari menghampirinya. “Nunah Eonni!! Soojin Eonni!!”

Segera, Nunah dan Soojin menoleh dan kaget melihat Aeri. “Aeri-yaa!!”

Akhirnya, ketiga marga Song bersaudara duduk di balai-balai rumah sambil memandangi kebun bunga yanga di perkarangan rumah ditemani dengan secangkir teh gingseng yang tampak mengepulkan asap.

“Lama kau tak pulang,” Nunah berbicara setelah sekian lama hanya ada keheningan.

Aeri langsung melemparkan pandangan tak terima pada kakak tertuanya tersebut. “Beberapa waktu lalu, aku pulang ke rumah ini dan tak ada siapa-siapa. Yang ada hanyalah Yoonhwa yang sedang membersihkan rumah,” belanya. “Nunah Eonni dan Soojin Eonni sibuk sekali sampai pulang larut malam. Kalian tahu, waktu aku ke mari aku di sini sampai malam untuk menunggumu datang. Tapi, karena sudah malam akhirnya aku kembali ke asrama tahu.”

“Iya. Aku sudah dengar dari Yoonhwa. Katanya, kau datang dengan seseorang bernama Tao. Siapa dia?” tanya Soojin dengan pandangan menyelidik seolah mengatakan ‘dia-pacarmu-ya-?’. “Kudengar, katanya lelaki itu berandalan dengan anting-antingnya.”

“Dia temanku di asrama, Eonni! Dan, bukan pacarku seperti yang kaupikirkan! Enak saja!” ungkap Aeri mengelak karena ia sangat peka dengan tatapan khas kakak keduanya. “Eonni pasti ingin menyudutkanku.”

“Apaan sih kau ini?” tanya Nunah giliran bicara tak habis pikir. “Kau berburuk sangka sekali.”

“Aahh, lagipula aku ke sini bukan membicarakan hal ini, Eonni. Aku ingin memberitahu sesuatu,” kata Aeri sambil emngendus sebal karena malas berdebat dengan kakak-kakaknya.

“Apa?” tanya Soojin ingin tahu sambil menyesap tehnya.

“Aku…” Aeri terdiam sejenak. “Aku mendapat beasiswa ke Melbourne.”

“Apa katamu?!” seru Nunah dan Soojin bersamaan dengan nada terkejut.

Hal itu membuat Aeri menatap kaget pada kedua kakaknya karena mendengar seruan yang bersamaan secara spontan.

“Kenapa kau baru memberitahuku sekarang?! Bagaimana cara aku menjelaskan pada Eomma dan Appa kalau kau mendapatkan beasiswa ke Melbourne?!” seru Nunah sambil mengguncangkan tubuh Aeri.

“Eonni-yaaa!!” teriak Aeri mulai kesal. “Harusnya kau senang bila adikmu ini mendapat beasiswa ke Melboune. Kenapa malah begini sih?!”

Akhirnya, Nunah berusaha mengedalikan emosinya yang sudah di ambang batas dengan menarik napas panjang sambil menepuk-nepuk dadanya. Sementara, Soojin hanya bisa menepuk-nepuk bahu kakaknya itu. “Baiklah. Jujur saja, aku cukup terharu mendengarmu mendapatkan beasiswa. Tapi, aku sungguh tidak sanggup mendengar rengekan Yoonhwa yang merindukanmu saat kau tinggal di asrama. Lalu kini, apa kabarnya bocah itu bila kau benar-benar pergi meninggalkan negeri ini?”

“Ah, Eonni kan pintar membuat alasan,” alibi Aeri. “Lagipula, kalau aku menolaknya, itu sama saja aku menyia-nyiakan perjuanganku. Dan, aku tak mau.”

“Iya, iya, iya, kami mengerti,” ungkap Soojin. Kemudian, matanya memandang Nunah. “Nunah Eonni, terima saja kenyataan yang ada. Kau mau adik kita sukses kan?”

Nunah terdiam sejenak. Kemudian, akhirnya ia mengangguk pelan setuju.

“Oh ya, apa kabarnya Jongwoon Oppa, Soojin Eonni?” tanya Aeri ingin tahu untuk mengalihkan pembicaraan.

“Dia baik-baik saja,” jawab Soojin. “Tapi, dari tadi kau sama sekali tidak menanyakan kabarku.”

“Aku sudah lihat kau baik-baik saja, jadi aku tidak tanya,” ujar Aeri jujur. “Lalu, Nunah Eonni bagaimana kabarnya?”

“Dia sudah punya pacar baru,” celetuk Soojin.

“Siapa dia?” tanya Aeri penasaran.

Sementara, Nunah menatap Soojin dengan tajam. Menyadari itu, dengan cepat Soojin menjawab. “Lee Donghae.”

“Hah?!”

Aeri terdiam karena kaget. Sedangkan, Nunah menatapnya heran.

“Ada apa?” tanya Nunah.

“Dia adalah atasanku di perusahaan penerbit tempat aku bekerja paruh waktu, Eonni!!”

***

“Selamat ya atas beasiswa yang kauterima dan juga telah menjadi pacarnya Kim Jongdae.”

Aeri menatap nyalang pada Donghae setelah ia memberikan tugas terakhirnya, kemudian berdeham. Orang yang ada di hadapannya lama-lama seperti cenayang yang tahu segalanya, pikir Aeri. “Terima kasih. Selamat juga untukmu, Donghae Sunbae karena telah mengambil hati Nunah Eonni.”

“Darimana kau tahu?”

Tampak, kedua mata lelaki itu membesar hebat. Sementara, Aeri hanya memasang cengiran giginya yang rapih. Akhirnya aku yang menang, batin Aeri. “Sunbae pikir aku tidak tahu? Dia kan kakakku walaupun tinggalnya di Itaewon. Week!!” ucap Aeri sambil menulurkan lidahnya.

“Begitu rupanya. Tapi, aku ternyata senang sekali memiliki bawahan yang sebentar lagi akan menjadi adik iparku sepertimu,” ujar Donghae.

“Sunbae memang berniat untuk menikahi kakakku?” tanya Aeri dengan nada sedikit tak percaya.

“Tentu saja,” jawab Donghae. “Umurku sudah waktunya untuk menikah. Jadi, tolong restui hubunganku dengan Song Nunah.”

“Tenang saja. Sudah kurestui kok,” jawab Aeri enteng. “Sunbae, berarti tugas yang telah kukerjakan tadi adalah tugas terakhirku sebelum aku pergi ke Melbourne.”

“Iya. Dan, aku pasti akan sangat merindukanmu,” balas Donghae. “Maksudku, tak ada lagi orang yang harus kukerjai ataupun kupinta untuk datang ke kantor ini lagi mengambil tugas. Tapi, tak apa-apa. Tunggu saja selang beberapa waktu kemudian, aku akan bisa melakukan hal apa saja denganmu.”

“Sunbae, berhenti bicara atau kutelepon Nunah Eonni sekarang,” desis Aeri mulai sebal. Hal itu membuat Donghae tertawa.

“Ya sudah, pergilah. Aku ingin selamat di depan kakakmu,” ungkap Donghae.

Akhirnya, Aeri keluar dari ruangan kantor Lee Donghae. Sesekali, ia memandang seluruh sudut ruangan kantor perusahaan penerbit tersebut. Pasti aku akan merindukan semuanya, pikir Aeri menghelakan napas panjang.

“Aeri-ssi/Ri-ya.”

Aeri mendongak dan terkejut ketika melihat sosok Yeonjoo yang sedang tersenyum ke arahnya. Di sampingnya, tampak Kyuhyun yang sedang menggenggam tangan Yeonjoo. “Yeonjoo Eonni! Kyuhyun Oppa!” serunya.

Akhirnya, Aeri duduk berhadapan dengan Yeonjoo dan Kyuhyun di sebuah kafe dekat kantor perusahaan penerbit.

“Kau habis menemui Donghae, ya?”

Aeri memandang Kyuhyun, kemudian mengangguk. “Ne. Aku baru saja menyerahkan tugas terakhirku.”

“Tugas terakhir?” ulang Yeonjoo dengan nada bingung. “Memangnya kau mau ke mana?”

“Aku mendapat beasiswa ke Melbourne, Eonni. Setelah kupikirkan matang-matang, aku menerimanya,” jelas Aeri.

“Oh, bukankah Jongdae juga menerima beasiswa ke San Fransisco?” tanya Kyuhyun dengan nada agak kaget. “Kalau begitu, bagaimana dengan hubungan kalian?”

“Memangnya kenapa dengan hubungan kami?” ungkap Aeri bingung. “Semuanya akan baik-baik saja.”

Hening sejenak diantara mereka bertiga.

“Oh ya, tadi kalian hendak ke mana?” tanya Aeri kembali memulai topik pembicaraan.

Lama mereka menjawab karena saling tatap. Hal itu membuat Aeri heran. “Ada apa sih sebenarnya?”

“Sebenarnya kami―”

“Kami akan menikah,” ucap Kyuhyun menukas ucapan Yoenjoo. “Tapi, masih lama. Tenang saja.”

Butuh waktu beberapa menit untuk Aeri mencerna ucapan Kyuhyun. Lalu, ia langsung tersenyum senang. “Wah, bagus sekali. Nanti apapun yang terjadi, kalian harus undang aku ke upacara pernikahan kalian meskipun aku berada di Melbourne.”

“Kalau begitu, jangan salahkan kami bila kami mengundangmu ke upacara pernikahan kami disaat kau pusing dengan tugasmu yang menumpuk,” celetuk Yeonjoo yang mampu membuat semuanya tertawa.

***

Tak terasa waktu berjalan begitu cepat, kini telah tiba hari keberangkatan Aeri dan Jongdae untuk meninggalkan Seoul. Sudah jelak lama, mereka mempersiapkan semuanya hingga sampai ke hari-H. dan hari ini, mereka telah berdiri di bandara Incheon untuk menunggu pengumuman keberangkatan.

“Kedua kakakmu tak datang, Ri-ya?”

Aeri melirik ke arah Youngmi yang sedang memandangnya dengan penasaran. “Tidak. Katanya, rapat hari ini tidak bisa ditinggalkan. Jadi, ya sudah. Tak masalah sebenarnya bagiku.”

Sementara, Hyoae, Yoora, Hyena, dan Rihwa menatap sahabatnya dengan sedih. “Kami pasti merindukanmu, Ri-ya.”

“Aku juga,” ucap Aeri dengan sedih.

“Jangan lupakan kami,” pinta Yoora.

“Tidak akan,” balas Aeri. “Aku pasti akan selalu mengingat kalian semua.”

Sementara, di sisi lain Jongdae memandang teman-temannya sembari bercengkrama.

“Sayang sekali, tidak ada lagi suara merdu milik Jongdae yang akan memenuhi suasana di Ruby and Peach,” ungkap Joonmyun.

“Benar, Hyung. Aku jadi berpikir bagaimana jadinya bila tak ada suara Jongdae Hyung lagi,” tambah Jongin.

“Aish, sudahlah. Tak ada waktu untuk bersedih. Teman kita yang satu ini sedang dalam perjalanan untuk menggapai mimpinya. Jadi, jangan diganggu,” pinta Luhan dengan bijaksana.

Tak lama, terdengar pengumuman keberangatan pesawat dari Seoul menuju Melbourne melalui speaker di setiap sudut bandara Incheon. Hal itu membuat Jongdae menoleh ke arah Aeri yang sedang membenarkan kopernya sebelum pergi ke tempat penyerahan tiket.

“Selamat tinggal semuanya,” pamit Aeri pada teman-temannya dan teman-teman Jongdae pula.

“Hati-hatilah,” balas Minseok.

“Kami pasti merindukanmu,” tambah Jongin.

“Jangan lupakan kami, Ri-yaaa~” kata Hyena.

Aeri mengangguk sambil tersenyum dan berbalik. Sebelum gadis itu berjalan pergi, Jongdae langsung menahannya.

“Apa?” tanya Aeri dengan nada polos. “Pesawatku mau berangkat, Jongdae-ya. Nanti aku bisa terlambat.”

“Apa kau sama sekali tidak merasa sedih?” tanya Jongdae dengan serius.

Aeri terdiam, kemudian menghelakan napas panjang. “Aku sedih. Tapi, aku juga tidak bisa terus berada dalam kesedihan karena harus berpisah denganmu. Tenang saja, kita bisa saling berhubungan lewat LINE. Oke?” ucap Aeri menenangkan.

Tanpa aba-aba, Jongdae memeluk gadis itu dengan erat. “Aku pasti akan sangat merindukanmu.”

“A-aku juga,” ucap Aeri ketika mendengar suara lirih milik Jongdae.

Akhirnya, Jongdae melepaskan pelukannya sambil memandang Aeri. “Hati-hati.”

Aeri diam menatap Jongdae. Cup! Aeri mengecup pipi Jongdae yang sontak membuat seluruh teman-teman mereka—dan terutama Jongdae terkejut. Ia menatap gadisnya tak percaya.

“Aku mencintaimu,” ucap Aeri sebelum berlari meninggalkan Jongdae menuju tempat penyerahan tiket dengan wajah merah cherrynya.

Sementara itu, Jongdae masih diam membeku menyaksikan kejadian tadi. Sedetik kemudian, senyum kembali terukir di bibir Jongdae. “Aku juga mencintaimu, Ri-ya.”

― To Be Continued ―

Iklan

Mind to Review? ^ ^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s