Love Note : 17th Happiness [Last]

love note cover 4

© Aeri_Tamie’s Script Writer

Casts : Song Aeri; Kim Jongdae (EXO-M’s Chen); Cho Kyuhyun (Super Junior’s Kyuhyun); Shin Yeonjoo

Other Casts : You can find it in here ^^

Genre : Romance, Drama, Friendship, Comedy Rated : PG-17 Length : Chapter

Disclaimer : 20131025 © Aeri_Tamie

Previous Chapter :

1st Unexpected 2nd (Really) Unexpected 3rd Complicated 4th Let’s Play 5th Grey Paper 6th Love & Dust 7th Pain 8th Confession 9th Unpredictable 10th New 11th First Confusion 12th Realize 13th Decision 14th 200% 15th This is Love 16th The Last Game

Note      : Hai!! Alhamdulillah, akhirnya ending juga. Saya bahagia sekali ternyata. >/\< terima kasih ya kepada orang-orang yang telah membaca fanfict ini. Dengan begitu membuat saya termotivasi untuk terus melanjutkan fanfiction ini sampai akhir. Dan, sekarang… finally! Terima kasih yang tak terhingga memang tak pernah cukup untuk kalian yang membacanya. Semoga ending ini terpuaskan. Aamiin! Happy reading!

***

» Story 17 : Happiness

“Ri-ya, kami sudah lulus sarjana hari ini!!”

“Lihat, Ri-ya! Kami sudah pakai togo dan sudah punya surat kelulusan!!”

“Ri-ya, lihatlah! Namaku di belakangnya kini sudah ada gelar sarjananya!!”

“Yaa, berhenti memamerkan kelulusan sarjana kalian! Mentang-mentang aku belum lulus!”

Aeri menggerutu kesal ketika ia melihat Youngmi, Hyoae, dan Hyena memamerkan togo kelulusan mereka melalui video call pada akun skype miliknya. Di tempat tinggalnya kini—sebuah flat yang amat strategis karena amat dekat dengan pusat kota Melbourne sangatlah sepi. Yang ada hanyalah teriakan teman-teman Aeri yang menggema.

Sudah 4 tahun rasanya gadis itu berada di Melbourne dan sebentar lagi ia akan lulus mengingat ia sudah menggarap skripsi dan menunggu sidang.

“Tenanglah, Ri-ya. Bukan hanya kau yang belum lulus, lihat saja aku dan Sekyung yang masih menunggu proses. Sementara, Rihwa kondisinya sama denganmu. Kau tidak sendirian kok,” ucap Yoora menenangkan.

“Habisnya, aku kesal pada mereka, Yoora-yaaaa~” rengek Aeri sebal sambil menunjuk Hyoae dan Hyena melalui layar laptopnya. “Awas saja kalau aku sudah kembali ke Seoul!”

“Kau selalu berkata begitu, tapi sampai saat ini kau belum juga kembali,” celetuk Hyena yang mampu membuat Aeri semakin geram.

“Hyena-yaaaa~” teriak Aeri. “Lihat saja pembalasanku nanti!”

Pip!

Aeri melongo setelah baru saja berteriak di depan laptop kesayangannya. Kini, barang elektronik berharganya teronggok malang dengan layarnya yang mati. Dengan gesit, matanya segera menyapu ke seluruh ruangan flatnya yang masih dihiasi cahaya lampu. Kalau bukan mati lampu, sepertinya gadis itu sempat mengabaikan peringatan untuk pengisian daya laptopnya. Sial, sial, sial, umpat Aeri kesal. Padahal, tadi kemarahannya sepertinya sudah mencapai ubun-ubun dan siap untuk meledak.

Akhirnya, Aeri memutuskan untuk meninggalkan laptopnya setelah menutupnya dan melesat ke lemari es untuk mengambil jus jambunya. Ia sama sekali tak berniat untuk men-charge laptopnya, karena nanti malah mengingatkan pada para sahabatnya yang amat rindukan sekaligus membuatnya kesal setengah mati. Gadis itu mendengus kesal kala mengingatnya.

Tiba-tiba, dering telepon masuk ponsel mengejutkannya saat ia sedang meneguk jus jambunya. Sebelumnya, disempatkannya untuk berpikir sejenak. Ini hari Senin kan? Pikirnya. Dengan segera, Aeri mengambil ponselnya yang berada di bars tool tak jauh darinya dan mengangkatnya tanpa melihat ID si penelepon.

“Halo?”

“Aeri, journalmu sudah kukirimkan lewat e-mail. Nanti coba kauperiksa isinya apakah itu punyamu atau punyaku paling lambat hari Kamis.” Suara feminim dengan aksen Inggris yang amat kentara membuat Aeri dengan cepat mengenalinya. Pasti teman sekelasnya, Natasha Rose.

“Oh, thank you, Natasha,” jawab Aeri. “Nanti akan kuperiksa. Sekarang aku sedang malas buka internet dan men-charge laptopku.”

“Baiklah. Terserah kau saja,” sahut Natasha dengan nada tak peduli. “Oh ya, bagaimana skripsimu?”

“Sudah mencapai tahap akhir dan tinggal menunggu surat jadwal pelaksanaan sidang,” jawab Aeri. “Aaah, aku butuh hiburan sebelum sidang dimulai!”

“Jangan dibuat stress untuk urusan seperti itu, Aeri. Nanti kau bisa gila,” gurau Natasha yang mampu membuat senyum terukir di bibir Aeri. “Semoga semuanya sukses. Sampai nanti.”

“Sampai nanti.”

Klik! Sambungan langsung terputus begitu saja. Namun, Aeri tak langsung menaruh ponselnya begitu saja. Matanya menatap beberapa foto yang terpampang pada layar ponselnya dan salah satunya adalah foto Jongdae dengan dirinya. Sesekali, gadis itu tak dapat menahan senyum ketika melihat foto konyolnya dengan lelaki yang ia cintainya tersebut. Dan, akhirnya jemarinya berhenti mengusap layar touch screen ponselnya ketika menampilkan wajah Jongdae yang sedang tersenyum—seolah tersenyum ke arahnya.

Seketika, Aeri menghelakan napasnya dan menaruh ponselnya dengan lemas. “Aku jadi merindukannya…” ucapnya pelan.

Krrett.. Aeri dapat merasakan ketika gelangnya yang ia pakai terasa menyusut dan itu membuat rasa sakit di pergelangan tangan gadis itu yang amat tak tertahan. Gelang sialan! Umpat Aeri lagi kesal. Kenapa gelang ini bisa baca isi hatiku sih? Gerutunya dalam hati. Kim Jongdae, apakah kau tak merindukanku?

***

“Ri-ya, kapan kau kembali ke Seoul?”

“Tidak tahu, Oppa.”

Aeri sedang menelepon Kyuhyun ketika ia baru saja keluar dari sebuah coffee shop sambil membawa segelas hot chocolate dan hendak berjalan menuju kampusnya, University of Melbourne. Gadis itu berpikir mungkin saja di kampus itu ia akan bertemu teman-temannya.

Udara musim dingin masih menyapanya, walaupun berdasarkan tanggal awal bulan September ini adalah hari pertama datangnya musim semi. Perlu diketahui bahwa iklim sedang yang berada di Melbourne dan Seoul berbeda karena letaknya. Melbourne berada di kutub selatan sementara Seoul berada di daerah kutub utara. Makanya, musim semi di Melbourne jatuh pada bulan September sementara di Seoul terjadi musim gugur.

“Apakah jadwal sidangmu masih lama?” tanya Kyuhyun di seberang sana.

“Tidak tahu karena aku belum mendapat surat jadwalnya,” jawab Aeri sambil menyesap hot chocolate disela-sela ia berjalan. “Ada apa memangnya?”

“Sebenarnya, minggu ini aku akan fitting jas pernikahanku dan minggu depan aku akan menikah. Bisakah kau kembali?” pinta Kyuhyun. “Karena kalau kau tidak datang ke upacara pernikahanku yang diadakan minggu depan, minimal kau kan bisa lihat proses fitting jasku. Nanti akan kutunjukkan jas terkerenku yang hanya bisa dipakai saat upacara sakral tersebut.”

“Oppa, kau ini sebenarnya mau mengundangku atau mau pamer jasmu itu?” ucap Aeri dongkol. “Bahkan, aku saja belum melihat surat undangannya.”

“Surat undangan untukmu belum sampai juga?” tanya Kyuhyun dengan nada yang terdengar sedikit tak percaya. “Astaga, kau itu sebenarnya benar tidak sih memberikanku alamat di mana kautinggal?!”

“Oppa, kau mulai membentakku,” ingat Aeri dengan nada sebal sambil mengerucutkan bibirnya. “Sudahlah. Akhiri saja topik tentang undangan darimu itu.”

“Habisnya, kami sulit sekali mengirimkan surat undangan untukmu. Awalnya, aku meminta pada Joo agar mengirimkan suratnya padamu lewat e-mail saja. Tapi, Joo memberitahuku bahwa kau sangat ingin melihat surat undangannya secara fisik. Makanya, kami kirimkan lewat pos menuju Melbourne. Tapi nyatanya tak sampai juga ke tanganmu, padahal kami sudah mengirimkannya sejak 2 hari lalu dan memakai jasa express pula. Apa kota Melbourne tempat kautinggal tak terjamah oleh peta dunia?!” ucap Kyuhyun panjang lebar dengan nada tak habis pikir.

“Ya Tuhan, lama tak mendengar suaramu lagi, kini kau lebih cerewet dari yang kuduga, Oppa,” gerutu Aeri kesal. “Lihat saja nanti, mungkin sepertinya undanganmu sudah sampai ke kotak surat di flat tempat aku tinggal. Tenang saja,” lanjutnya dengan nada menenangkan.

Aeri mulai mengeratkan syal biru tuanya ketika langkah kakinya telah sampai di sebuah pertigaan dan hendak menyebrang di jembatan penyebrangan. “Oppa, apa di Seoul sudah terjadi musim gugur?”

“Yeah,” jawab Kyuhyun. “Apa di Melbourne sudah memasuki musim semi?”

“Belum. Bahkan, saat ini saja aku masih belum bisa melepas sepatu boots dan mantel tebal karena musim dingin belum berakhir. Belakangan, kudengar kota ini akan memasuki musim semi pada minggu pertama bulan September,” ujar Aeri sambil berjalan menyebrangi jalan raya. Sesekali, udara hangat mengepul dari mulut dan hidungnya.

“Oh ya, kudengar Jongdae sudah menyelesaikan kuliah magisternya,” kata Kyuhyun tiba-tiba.

“Jinjja?” ucap Aeri dengan nada terkejut. Kedua matanya membesar hebat.

Sudah seminggu belakangan ini memang baik Jongdae maupun Aeri tidak saling menghubungi. Jangan menelepon, berkirim pesan melalui LINE saja tidak. Dan, mendengar ucapan yang Kyuhyun lontarkan padanya adalah kabar pertama dari Jongdae setelah seminggu ini.

“Kau belum tahu?” Kyuhyun balik bertanya dengan kaget. “Kupikir sudah. Ternyata memang benar. Sepertinya kotamu memang tak terjamah oleh peta dunia.”

“Oppa, kumohon berhenti bicara kacau dan aneh. Kaupikir aku tinggal di alam gaib?” balas Aeri mulai dongkol. “Sudah seminggu terakhir aku dan Jongdae tidak saling memberi kabar karena jadwal kami sama-sama sibuk.”

“Ah, begitu rupanya. Kupikir kalian bertengkar,” balas Kyuhyun. “Yeah, pokoknya minggu ini kau harus kembali ke Seoul secepatnya!!”

“Arraseo!” jawab Aeri. “Sampai jumpa!”

Klik! Aeri segera mematikan sambungan telepon dari Kyuhyun. Ia mendadak sangat penasaran tentang kabar Jongdae. Dengan cepat, ia segera membuka aplikasi LINE hendak mengirimkan pesan pada Jongdae dengan perasaan campur aduk. Dia sama sekali tak memberitahuku kalau dia sudah lulus magister di San Fransisco. Kenapa sih? Pikir gadis itu.

Baru saja Aeri mengetik beberapa kata pada papan chat, sebuah dering notifikasi LINE mengejutnya tiba-tiba. Dapat ia lihat bahwa notifikasi tersebut berisi pesan berasal dari Jongdae. Secepat kilat, Aeri segera membukanya. Dan, dapat dilihat beberapa pesan dikirim oleh Jongdae sejak beberapa menit yang lalu.

[Kim Jongdae] Kau sedang apa? Maafkan aku karena belum bisa menghubungimu akhir-akhir ini. Ada banyak hal yang terjadi belakangan ini dan aku akan menceritakannya padamu.

[Kim Jongdae] Tapi, sebelum itu aku memberikan sesuatu untukmu. Semoga kau terhibur, chagiya~

Aeri mengerutkan keningnya ketika setelah berisi pesan terdapat sebuah video yang dikirim oleh Jongdae. Perlahan, tangannya menyentuh video kiriman tersebut dan membukanya. Saat video tersebut dibuka, terdapat tampilan kartun berupa seorang bayi yang berbentuk kepalanya seperti cookies dan tersenyum. Suaranya yang seperti bayi yang baru bisa bicara dan bernyanyi membuat Aeri tak bisa menahan senyumnya.

You’re my honey bunch
Sugar plum
Pumpie umpy umpkin…
You’re my sweetie pie

You’re my cuppy cake
Gum drop
Snookum snookums
You’re…
The apple of my eye!

And I love you sooo
And I want to know
That I always be right here

And I love to sing
Sweet songs for you
Because
You are
Sooooo
Dear~

I love you

[The CuppyCake Song]

Aeri menghelakan napasnya sambil tertawa kecil. Rupanya Jongdae kembali berhasil membuatnya diam tanpa kata. Ia sangat heran, bagaimana bisa lelaki itu mendapatkan video selucu ini. Aeri tersenyum manis sambil menenggelamkan wajah memerahnya dengan syal.

Beberapa menit setelah itu, dering telepon masuk mampu mengejutkan Aeri. Ketika melihat ID si penelepon, dengan segera ia mengangkatnya dengan senyum lebar.

“Sudah lihat videonya?” ucap seorang lelaki di sebrang telepon sana tanpa basa-basi.

Aeri terdiam sambil tersenyum. “Sudah seminggu tak memberi kabar, bukannya sapaan malah langsung memberikan pertanyaan konyol. Kim Jongdae.”

Terdengar tawa renyah milik Jongdae yang kadang Aeri rindukan. “Maafkan aku, Ri-ya. Belakangan ini aku amat sibuk.”

“Hingga tak sempat meneleponku?” tanya Aeri dengan dongkol.

“Kenapa? Kau merindukanku?” Jongdae balik bertanya dengan nada jahil.

Deg! Seketika, langkah Aeri terhenti. Jantungnya mendadak berdebar dan ia dapat merasakan gelang yang ia pakai munyusut. Gadis itu berusaha mengatur napasnya sebelum kembali bicara. “Terima kasih, Tuan Kim. Berkat kau, gelang yang kupakai sekarang setuju dengan pernyataanmu.”

“Benarkah? Kau amat merindukanku?” tanya Jongdae lagi kali ini dengan nada serius.

“Yeah,” jawab Aeri pasrah. “Aku merindukanmu, Kim Jongdae.”

“Kalau begitu lihat ke arah jam 9.”

“Apa?”

Awalnya, Aeri tak mengerti maksud Jongdae. Namun, saat ia menuruti ucapan lelaki itu melalui teleponnya, kedua matanya membesar hebat dan mulutnya ternganga karena terkejut. Jantungnya seakan berhenti berdetak untuk kesekian kalinya hingga nyaris menjatuhkan ponselnya. Gadis itu benar-benar tak percaya dengan apa yang ia lihat kini.

Jongdae dengan kemeja putih dan jas hitam ditambah dengan mantel hitam sedang melambaikan tangannya pada Aeri disebrang jalan sambil tersenyum. Rambut cokelat pekat lelaki itu turun menutupi keningnya membuat lelaki itu semakin tampan di mata Aeri.

Dan, Aeri semakin melongo ketika Jongdae menyebrangi jalan raya dan sudah berdiri tepat di hadapannya sambil menyampirkan syal putih miliknya. Dapat ia kenali syal tersebut yang merupakan pemberiannya sebagai hadiah ulang tahun.

“Kim.. Jongdae?” gumam Aeri.

Detik setelahnya, tanpa aba-aba Jongdae langsung merengkuh tubuh gadis itu ke dalam pelukannya dengan erat seolah tak ingin kehilangannya. “Aku merindukanmu, Ri-ya. Perlu kauketahui bahwa aku perlu menahan perasaan ini selama seminggu. Makanya, setelah semuanya selesai aku jauh-jauh dari San Fransisco langsung melesat menuju Melbourne hanya untuk menemuimu. Maafkan aku..”

Sementara, Aeri terdiam. Dibiarkan hidungnya menghirup aroma manisnya jeruk dari tubuh Jongdae. Aroma tubuh yang selalu ia rindukan. Perlahan, tangannya terulur untuk membalas pelukan Jongdae.

“Benarkah?” ucap Aeri kemudian dengan serak karena airmatanya sudah bisa mengalir sekaligus susah payah karena tubuhnya lebih pendek dari Jongdae, sehingga wajahnya tenggelam dalam bahu lebar lelaki itu. Tubuhnya tiba-tiba menghangat karena dekapan tubuh Jongdae.

“Iya,” jawab Jongdae pasti. “Astaga, lama tak mendengar suaramu secara langsung ternyata semakin lama kenapa mirip dengan anak kecil tadi ya?” gurau Jongdae yang membuat Aeri mengerutkan keningnya bingung.

“Anak kecil yang mana?” tanya Aeri dengan nada polos.

“Yang ada di video yang kautonton tadi,” jawab Jongdae.

“Aah, menyebalkan. Tingkahmu mirip dengan Kyuhyun Oppa semakin lama! Lepaskan!” sahut Aeri sebal sambil berusaha melepaskan pelukan Jongdae darinya. Namun, perlu diketahui bahwa tenaga Jongdae lebih besar ketimbang miliknya.

“Tidak mau,” ujar Jongdae yang malah semakin mengeratkan pelukannya. “Aku sudah jauh-jauh dari San Fransisco ke Melbourne hanya untuk melepas rindu dengan pacarku, masa aku menyia-nyiakan saat seperti ini? Kan tidak lucu.”

“Ya sudah, tapi kumohon renggangkan sedikit pelukanmu ini. Kau ingin aku mati ya?” ucap Aeri sambil berusaha mendorong tubuh Jongdae, namun hasilnya nihil.

Sementara, Jongdae sama sekali tak mengindahkan ucapan gadisnya dan hanya tersenyum sembari memejamkan kedua matanya—menikmati aroma jambu yang tercium dari tubuh Aeri.

***

“Sejak kapan kau di Melbourne, Jongdae-ya?”

“Seminggu yang lalu.”

Seketika Aeri menatap Jongdae dengan tatapan tak percaya. Bagaimana bisa gadis itu tak melihat batang hidung kekasihnya di kota yang sudah ia tempati selama 4 tahun terakhir? Padahal, gadis itu ingat sekali di mana saja letak-letak seluk beluk kota ini dan sudah pasti selama seminggu terakhir biasanya yang Aeri lakukan adalah mengelilingi kota ini untuk menemui teman-temannya atau memiliki keperluan lain.

“Dan, kau tak menghubungiku?” tanya Aeri. “Kenapa?”

“Surprise!” ungkap Jongdae sambil menyesap cappucinnonya. “Minggu lalu aku lulus magister dan setelah itu aku langsung bergegas ke mari. Sungguh hebat, tingkahku seperti seorang stalker yang selalu mengikutimu ke manapun kau pergi selama seminggu terakhir ini.”

“Apa?” tanya Aeri dengan napas tercekat sambil menatap Jongdae dengan mata membulat. “Kau mengikutiku? Bagaimana bisa? Kau bahkan tak tahu di mana alamat flat tempat aku tinggal.”

“Siapa bilang? Aku tahu alamat flatmu. Aku tahu di mana kau kuliah. Aku tahu kafe mana yang seringkali kau kunjungi selama seminggu ini,” ujar Jongdae sambil tersenyum. Kemudian, ia mengeluarkan ponselnya. “Tentu saja, berkat GPS yang kaupasang di akun SNS-mu. Jadi, aku tak perlu bersusah payah mencari informasi di mana kau berada. Mudah kan?”

Sedetik kemudian, mulut Aeri membentuk huruf O sambil mengangguk-angguk mengerti. Lalu, ia meneguk hot chocolate-nya. Tak ada lagi yang bersuara. Yang ada hanyalah suasana canggung yang menyeruak begitu saja ketika Aeri dan Jongdae sama-sama terdiam.

“Oh ya, Jongdae-ya,” panggil Aeri yang membuat Jongdae menoleh ke arahnya. “Syal yang kau pakai itu… hadiah dariku ya?”

“Ya,” jawab Jongdae. “Ini syal pemberianmu. Aku baru tahu tanganmu akan terampil. Hangat sekali rasanya.”

“Aku belajar dulu sebelum membuatnya tahu,” balas Aeri.

“HIngga membuat tanganmu terluka ya?”

“Darimana kau tahu?”

Jongdae tertawa mendengarnya. “Aku tahu tentu saja. Saat malam ulang tahunku kan kau datang ke rumahku dan menyerahkan hadiah untukku. Lalu, terjadilah sebuah insiden ciuman yang―”

“Jangan bahas bagian ‘itu’nya,” tukas Aeri hendak mengakhiri topik yang membuatnya memerah kala mengingatnya. “Oh ya, Kapan kita akan kembali ke Seoul untuk menghadiri upacara pernikahan Kyuhyun Oppa dan Yeonjoo Eonni?”

Tampak, Jongdae berpikir sejenak. “Lusa sepertinya karena Kyuhyun Hyung meminta kita kembali secepatnya. Kau harus siap-siap ya.”

Aeri mengangguk menjawab pernyataan Jongdae.

Tak lama, Aeri dapat merasakan sensasi dingin di keningnya. Dengan gesit, gadis itu mengusap keningnya dan memandang benda apa yang membuatnya merasa dingin. Serbuk es.

“Ri-ya, ayo cepat pergi dari sini. Akan terjadi hujan salju hari ini.”

Aeri menoleh dan mendapati Jongdae sedang melindungi tubuhnya dari hujan salju dengan payung transparannya dan sama sekali tak mempedulikan kondisi lelaki itu sendiri yang sudah diguyur hujan salju yang tak terlalu deras. Ia melihat rambut Jongdae dihinggapi oleh banyak sekali butir-butir salju.

Akhirnya, Aeri segera bangkit dari duduknya dan merampas payung bening yang Jongdae bawa. Hal itu membuat Jongdae tersentak kaget. “Apa yang ingin kau lakukan?”

Kaki Aeri berjingkat untuk menyamakan payungnya dengan tubuh Jongdae yang lumayan tinggi agar tubuh Jongdae dapat terlindungi dari hujan salju. Cukup menderita untuk tingginya yang hanya mencapai 163 sentimeter, pikir Aeri. Lalu, Aeri menghelakan napasnya dan mendongak untuk menatap Jongdae. “Kau sudah melakukan banyak hal demi diriku. Sekarang, biarkan aku yang melakukannya untukmu.”

“Mana ada seorang gadis melakukan hal seperti itu, Ri-ya? Berikan payung itu padaku!” perintah Jongdae sambil berusaha meraih gagang payung dari tangan Aeri. Namun, gagal karena gerakan Aeri yang lumayan cepat membuat lelaki itu tak bisa meraihnya. “Kau benar-benar ingin melukai harga diriku sebagai lelaki ya?”

“Bicara apa sih kau ini?” balas Aeri. “Aku ingin melindungimu, Jongdae-ya. Kau kan sudah sering sekali melindungiku. Kali ini, biarkan aku yang melakukannya. Dan juga,” Aeri mengantungkan ucapannya karena matanya terfokus pada butir-butir salju yang hinggap pada rambut Jongdae. Selanjutnya, tangan gadis itu membersihkan rambut Jongdae dengan teliti. “Rambutmu penuh dengan salju karena kau tak sempat memikirkan dirimu sendiri tadi.”

Senyum Jongdae mengembang ketika ia melihat wajah Aeri begitu dekat dengannya karena untuk membersihkan butiran salju di rambutnya. Dengan gesit, ketika tangan Aeri mulai turun karena dirasanya telah selesai, jemari Jongdae segera mengaitkan dengan jemari Aeri.

“Apa?” tanya Aeri sambil memandang Jongdae dengan penasaran karena agak heran dengan sikap Jongdae.

“Sudah lama tanganku ini tidak saling bertaut dengan jemari lucumu,” ungkap Jongdae sambil menatap Aeri penuh arti. Hal itu membuat Aeri terdiam membeku.

“Aish, geumanhae,” desis Aeri sambil memalingkan wajahnya dari sang kekasih karena wajahnya mulai memerah dan mencoba melangkah kakinya diikuti oleh Jongdae yang masih menggenggam tangan Aeri. “Kau semakin pintar merayuku, ya.”

“Memangnya kenapa?” tanya Jongdae sambil memasang wajah polosnya di depan Aeri. “Apakah ada yang melarang? Kau kan sudah diberi label atas nama Kim Jongdae.”

“Apaan sih kau ini? Bahkan hubungan kita saja belum sampai ke pernikahan,” sahut Aeri dengan dahi berkerut.

“Oh, jadi kau ingin hubungan kita sampai sana?”

Glek! Sesaat Aeri terdiam sambil menelan ludahnya. Kemudian, mendelik ke arah Jongdae yang kini menatapnya dengan tatapan menggoda. Hal itu membuat Aeri sedikit salah tingkah dan hanya memamerkan gigi-gigi putihnya. “Pikiranmu terlalu jauh ternyata ya.”

Jongdae tak dapat menahan senyumnya ketika melihat tingkah lucu kekasihnya tersebut. Maka dari itu, ia segera mengecup pipi Aeri dengan lembut. “Aigo, kekasihku manis sekali sih. Ingin rasanya menciummu terus,” ucap Jongdae dengan gemas seraya mencubit pipi Aeri.

“Hyaaa!!” pekik Aeri kesakitan yang membuat Jongdae tertawa.

***

“Ke mana sih bocah itu? Katanya mau kembali ke Seoul secepatnya. Tapi, kapan?!”

Kyuhyun mengotak-atik ponselnya sembari duduk di sebuah sofa. Kini, lelaki sedang berada di sebuah toko bridal pakaian pernikahan—tempatnya dan Yeonjoo memesan jas dan gaun untuk pernikahan mereka. Yah, karena hari ini adalah hari proses fitting terakhir jas pernikahannya. Sedaritadi, Kyuhyun terus saja misuh-misuh sambil mengoperasikan ponselnya. Butuh waktu agak lama, hingga akhirnya Kyuhyun membuat sambungan telepon dengan seseorang.

“Yeoboseyo?”

“Song Aeri!” teriak Kyuhyun langsung ketika berhasil mendengar suara gadis yang ia rindukan sejak lama. “Sebenarnya kapan sih kau kembali ke Seoul?! Hari ini adalah proses fitting jas pernikahanku tahu, dan kau belum kembali juga?! Aku sudah menunggumu untuk melihat hasil fitting terakhirku, bahkan aku sampai rela mengundurkan tanggalnya demi dirimu tahu!”

Tok! Tok! Tok!

Seketika, Kyuhyun menoleh ke sumber suara dan mendapati seorang gadis dengan mantel merah jambunya sedang memandangnya sambil tersenyum setelah berhasil mengetuk pintu masuk toko tersebut. Tampak pula, sebuah ponsel masih menempel pada telinga gadis itu.

“Sebenarnya aku tak mau datang karena aku baru tahu tanggal pernikahan kalian begitu cepat. Jahat sekali kau, Oppa,” ucap gadis itu pada ponselnya karena dirasanya masih tersambung dengan seseorang.

“Song Aeri!!” teriak Kyuhyun dengan nada geram sekaligus senang karena tahu bahwa gadis itu adalah Aeri dan dia sudah kembali dari Melbourne. Segera, ia memutuskan sambungan teleponnya. Lalu, ia segera menghampiri gadis itu dan memeluknya. “Akhirnya, kau kembali!”

“Aku sebenarnya malas kembali ke Seoul karena kau sangat jahat,” kata Aeri setelah Kyuhyun melepaskan pelukannya.

“Aku? Jahat kenapa?” tanya Kyuhyun dengan nada bingung.

“Kau menikah lebih cepat dari tanggal yang kubayangkan tanpa persetujuanku!” seru Aeri sambil mengerucutkan bibirnya.

“Memangnya kau orangtuaku? Lalu, apa pentingnya persetujuanmu jika aku ingin menikah?” Kyuhyun balik bertanya dengan nada datar.

“Aaah, sudah lupakan. Mana Yeonjoo Eonni?” ucap Aeri mengalihkan pembicaraan.

“Oh, Joo juga sedang fitting gaunnya tapi tidak di sini. Ngomong-ngomong, mana Jongdae?” balas Kyuhyun.

“Dia pergi ke ruang fitting Yeonjoo Eonni. Kupikir ruangannya sama. Makanya, aku bertanya tadi,” ujar Aeri.

“Ah, begitu ternyata. Ya sudah, kau tunggu di sini. Aku akan melakukan proses fitting jas terakhirku sebelum menjelang pernikahan. Jangan ke mana-mana.”

Kyuhyun segera mengarahkan Aeri untuk duduk di sofa setelah ia diperintahkan oleh staff toko untuk melakukan proses fitting jas pernikahannya. Dan, Aeri juga tak sempat untuk mengelak. Makanya, ia langsung duduk dan menunggu. Sesekali, matanya menatap ke seluruh ruangan atau melirik ke arah etalase toko tersebut yang menampilkan banyak sekali sepasang pakaian pernikahan.

“Ri-ya, lihat ini.”

Aeri segera menoleh ke sumber suara dan mendapati sosok Cho Kyuhyun kini berbeda penampilannya dengan yang tadi. Matanya sesekali mengerjap memastikan bahwa yang ia lihat benar-benar Kyuhyun.

Kyuhyun memandang Aeri melalui pantulan cermin disela-sela ia merapihkan jasnya. Potongan jas hitam dan kemeja putih bersih melekat pada tubuh tinggi lelaki tersebut. Tak lupa juga dasi hitam tersemat di kerah kemejanya membuat Kyuhyun semakin tampan di hadapan Aeri. Tak salah sejujurnya bila Kyuhyun sempat mengatakan padanya bahwa jas pernikahannya keren.

“Bagaimana?” tanya Kyuhyun sambil memandang Aeri dari cermin dengan pandangan penasaran. Suara baritone milik lelaki itu membuat Aeri segera tersadar dari lamunannya.

Sontak, Aeri menata ekspresi wajahnya kembali ke wajah datar sebelum mengangguk—sebagai jawaban pertanyaan Kyuhyun.

“Jangan hanya mengangguk! Katakan sesuatu untukku!” pinta Kyuhyun. “Apaan sih kau ini? Lama tak bertemu, seharusnya kau bicara panjang denganku!”

Aeri terdiam sambil mengerjapkan kedua matanya berkali-kali pada Kyuhyun sejenak. Sudah diberi jawaban, masih saja menuntut. Dasar tidak berubah! Gerutu Aeri. Kemudian, ia berdeham pelan. “Baiklah. Ah, Kyuhyun Oppa tampan sekali seperti pangeran. Andaikan aku yang menjadi pengantin wanitanya,” gurau Aeri. “Puas?” lanjutnya dengan nada kesal.

“Hei, bukan itu maksudku,” sahut Kyuhyun yang giliran mulai kesal pada Aeri. “Lagipula, siapa yang menolakku untuk menjadi pacarku kemarin?”

“Oppa seharusnya intropeksi diri. Kan kau yang menolakku lebih dulu,” gerutu Aeri sambil menggelengkan kepalanya dan melipat kedua tangannya. “Ckck.”

Kyuhyun diam kemudian mengangguk pelan sembari tersenyum kecil. “Benar juga.” Setelah itu, Kyuhyun berjalan menghampiri gadis itu dan langsung mencubit kedua pipi Aeri dengan gemas. “Aigoo, kenapa adikku manis sekali. Nanti Oppa belikan balon dan es krim yang banyak untukmu.”

“Hah?” sahut Aeri dengan nada heran atas perkataan Kyuhyun. Ia sama sekali tak peduli dengan pipinya ynag masih dicubit oleh Kyuhyun. “Kau ternyata semakin aneh, Oppa.”

“Tidak masalah aku semakin aneh, yang penting hanya berada di hadapanmu saja, chagiya~” jawab Kyuhyun dengan nada gemas. “Aigoo, pantas saja si Jongdae amat mencintaimu. Habis, manis begini sih~”

“Oppaaaa~” pekik Aeri dengan nada merajuk karena jawaban-jawaban yang Kyuhyun lontarkan semakin aneh. Sementara, Kyuhyun hanya tertawa melihat sikap Aeri.

Di lain ruangan, Jongdae sedang berdiri membelakangi ruang ganti yang biasa dipakai untuk proses fitting gaun pernikahan. Hari ini ia sengaja datang untuk menemui Yeonjoo yang sekarang sedang melakukan proses fitting gaunnya terakhir mengingat upacara pernikahannya tinggal menghitung hari. Dan perlu diketahui bahwa Yeonjoo sama sekali belum tahu bahwa Jongdae telah kembali ke Seoul.

“Kim Jongdae!”

Suara itu, batin Jongdae. Dengan segera, lelaki tersebut berbalik dan terpukau melihat apa yang dilihatnya kini.

Shin Yeonjoo kali ini berdiri di hadapan Jongdae dengan penampilan yang amat berbeda. Gaun putih bersih yang sederhana, namun ketika dipakai oleh Yeonjoo terlihat cantik sekali. Gadis itu melongo melihat kehadiran sosok yang amat ia rindukan.

“Ya Tuhan, benarkah ini dirimu, Jongdae-ya?” ucap Yeonjoo dengan nada tak percaya sambil menatap Jongdae dengan lekat. Mulutnya yang terbuka berusaha ia tutup dengan kedua telapak tangannya. “A-aku pikir… kau… masih butuh beberapa hari lagi kembali. Ternyata, kau…”

Jongdae tersenyum melihat Yeonjoo yang telah kehabisan kata. “Aku ternyata pulang lebih cepat karena Aeri bilang bahwa Kyuhyun Hyung sudah menyuruhnya cepat-cepat kembali. Makanya, setelah menemui Aeri di Melbourne, kami segera pulang ke Seoul. Lagipula, kemarin Aeri baru mendapatkan surat jadwal pelaksanaan sidang tugas akhirnya. Jadi, setelah memenuhi undangan pernikahanmu dan Kyuhyung Hyung, dia akan segera kembali ke Melbourne.”

“Jinjjayo?” tanya Yeonjoo. “Lalu, bagaimana bisa kau tahu kalau aku ada di sini?”

“Aku dengar dari Aeri, kalau hari ini adalah fitting terakhir pakaian pernikahanmu dengan Kyuhyun Hyung,” jawab Jongdae.

“Astaga, hari ini kau membuat banyak kejutan untukku, Jongdae-ya,” ungkap Yeonjoo sambil tertawa renyah. Sesekali, tudungnya yang tipis dimainkan oleh gadis itu. “Ah, aku hampir lupa. Selamat ya, kau sudah lulus magister!”

“Noona terlambat mengucapkannya,” ucap Jongdae dengan nada merajuk.

“Mianhae, habisnya aku terlalu senang melihatmu kembali kalau kau ingin tahu,” balas Yeonjoo.

Selama Yeonjoo bicara, Jongdae tak pernah berhenti tersenyum. Ia cukup tak menyangka bahwa Yeonjoo yang ia lihat kini amat berbeda dengan yang dulu begitu pendiam, murung, dan tak pernah mengumbar senyum sesering ini. Ternyata, lelaki bernama Cho Kyuhyun berhasil mengubah seorang Shin Yeonjoo menjadi lebih baik.

Jongdae kagum pada Kyuhyun. Ia memang tak pernah menyesalkan menyerahkan Yeonjoo pada lelaki itu dan ia merasa Yeonjoo tak pernah salah mencintai lelaki bernama Kyuhyun tersebut.

“Oh ya, bagaimana penampilanku dengan gaun ini?”

Jongdae tersentak kaget dan suara lembut milik Yeonjoo berhasil membuyarkan lamunannya. Ditatapnya Yeonjoo yang sedang membenarkan ujung gaunnya. “Joo Noona, kau… cantik sekali.”

“Terima kasih banyak, Jongdae-ya,” balas Yeonjoo sambil tersenyum. “Sesungguhnya, aku sudah sangat tak sabar menantikan hari yang paling membahagiakan dalam hidupku nanti. Oh ya, bagaimana kabar Aeri? Lama tak bertemu dengannya, membuatku amat merindukannya.”

“Dia baik-baik saja, Noona,” jawab Jongdae. “Siapkan mentalmu, Noona. Tinggal menghitung hari lagi pernikahanmu.”

“Aku harap aku bisa,” sahut Yeonjoo sambil menghembuskan napasnya. “Sudah seminggu lalu perasaanku sudah amat gugup tak tertahankan.”

“Kau pasti bisa melakukannya, Noona,” ucap Jongdae meyakinkan. “Berbahagialah. Dan, jangan pernah menangis lagi. Kau sudah mencapai tujuan akhir.”

“Aku akan bahagia, Jongdae-ya. Aku janji,” balas Yeonjoo mantap. Kedua matanya mulai berkaca-kaca. “Aku akan memulai lembaran hidup yang baru dengan Kyu sebagai pasangan hidupku. Aku akan mulai menutup kenangan tentang Minwoo Oppa. Aku akan mulai menerima kenyataan bahwa Eomma dan Appa-ku sudah tak bisa bersatu, tapi setidaknya mereka masih bisa ada untukku. Aku janji untuk itu semua, Jongdae-ya.”

Jongdae memandang Yeonjoo sambil tersenyum dan mengangguk-angguk. “Sudahlah, Noona. Lupakan hal itu. Pernikahanmu kan tinggal menghitung hari.”

Yeonjo mencoba untuk tersenyum. “Jongdae-ya,” panggil Yeonjoo. “Aku berharap… di hari pernikahanku nanti, kau yang akan menerima karangan bungaku.”

“Mwo?” ucap Jongdae dengan nada kaget.

***

“Mau ke mana lagi kita?”

Aeri melirik ke arah Jongdae yang sedang menyetir. Dan, Jongdae balas meliriknya disela-sela matanya terfokus ke arah jalan besar. “Pulang saja,” jawab Aeri.

“Ke rumah?”

Seketika, Aeri menatap Jongdae dengan pandangan heran. “Memangnya ke mana lagi aku harus pulang?”

Tampak, Jongdae tertawa saat ia mulai menyetir mobilnya. “Seingatku, kau tak pernah pulang ke rumahmu yang ada di Itaewon. Biasanya kan kau pulang ke asrama.”

Asrama. Satu tempat yang membuat Aeri teringat sesuatu. Segera, ia merogoh saku dan mendapati ponselnya. Kemudian, matanya menjelajah ketika terbuka aplikasi LINE yang ada di ponselnya. Butuh waktu beberapa menit untuk Aeri kembali membuka suaranya.

“Jongdae-ya, lebih baik kita pergi ke Kangnam,” pinta Aeri.

Hal itu membuat Jongdae mengakat sebelah alisnya, heran. “Ada apa?”

“Teman-temanku sedang berkumpul di Ruby and Peach. Dan, mereka belum tahu kita kembali. Jadi…”

Aeri menggantungkan ucapannya ketika Jongdae segera melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi saat matanya melihat papan jalan bertuliskan Kangnam. Sesaat kemudian, lelaki itu menoleh ke arah Aeri. “Aku hampir melupakan mereka, Ri-ya. Terima kasih telah mengingatkanku.”

Aeri hanya membalas ucapan Jongdae dengan senyumnya.

Selama perjalanan, tak ada lagi yang memulai pembicaraan dianatar Aeri dan Jongdae. Hanya ada keheningan karena Jongdae sibuk dengan menyetirnya sementara Aeri sibuk dengan pandangan luar yang seringkali menarik perhatiannya.

Tak butuh waktu lama, mobil yang mereka kendarai telah sampai di depan bangunan coffee shop yang lama tak mereka jumpai. Tak banyak yang berubah, hanya warna catnya saja yang berubah dan situasi coffee shop yang semakin lama semakin ramai.

“Rasanya sudah lama sekali tak bertemu teman-temanku, terutama Luhan Hyung dan Joonmyun Hyung,” kata Jongdae mencoba mencari topik. Tangannya mulai meraih gagang pintu masuk dan mempersilahkan Aeri untuk lebih dulu masuk ke dalam.

“Memangnya kau tak pernah berhubungan dengan mereka melalui skype?” balas Aeri sambil mendelik ke arah Jongdae.

Dan, lelaki itu hanya menjawab dengan gelengan kepala. “Tidak terlalu sering. Aku terlalu sibuk dengan studiku sampai-sampai kadangkala tidak sempat menghubungi mereka.”

“Aigo, siapa ini yang datang kemari? Lama tak memberi kabar, terakhir 3 minggu lalu. Kim Jongdae!”

Jongdae langsung membalas sapaan Joonmyun begitu melihat temannya tersebut sedang sibuk dengan laporan keuangannya. Dan yang lainnya seperti Luhan, Minseok, Yixing, Jongin, dan satu lagi yang jarang terlihat karena sibuk dengan dunianya bernama Do Kyungsoo langsung mendelik ke sumber suara.

“Kim Jongdae!!”

Di sisi lain, mata Aeri sibuk mencari teman-temannya yang sedang berkumpul. Hingga seseorang memanggil namanya.

“Ri-ya!!”

Aeri menoleh dan kaget ketika melihat Hyoae, Hyena, Youngmi, Yoora, Rihwa, dan Sekyung memandangnya dengan kaget sekaligus senang. “Akhirnya, kau kembali!!”

Segera, Aeri berjalan menghampiri mereka dan duduk di salah satu sisi yang masih kosong. “Annyeong. Oraemanieyo!”

“Bagaimana kabarmu, Ri-ya?” balas Rihwa.

“Aku baik-baik saja.” Aeri menjawabnya sambil tersenyum.

“Sejak kapan kau kembali ke Seoul, Nona Song?” tanya Hyena dengan nada masih tak percaya. “Astaga, sekarang kau tak lagi mengumbar janji untuk kembali ke Seoul.”

“Apa kubilang. Aku pasti akan kembali ke Seoul secepatnya,” balas Aeri dengan nada bangga. “Oh iya, aku hampir lupa mengatakannya. Selamat ya untuk Hyena, Hyoae, dan Youngmi yang sudah lulus sarjana.”

“Aaah, gumawoyo,” sahut Hyoae. “Semangat juga untukmu yang masih proses.”

“Kapan kau akan maju sidang tugas akhirmu?” tanya Yoora dengan nada ingin tahu. “Aku terhitung 10 hari lagi.”

“Aku mendapatkan surat jadwalnya sekitar minggu depan. Ya Tuhan, aku gugup sekali rasanya,” ungkap Aeri dengan nada tak sabar. Sakit perut rasanya bila mengingat tanggal pelaksanaan sidang tugas akhirnya.

“Kau masih lebih baik ketimbang Sekyung dan Rihwa,” balas Youngmi. “Mereka masih menunggu turunnya surat jadwal pelaksanaan sidang.”

“Aaahh, semangat saja untuk kalian semua,” ujar Aeri dengan nada gemas karena rasa rindunya tak tertahankan melihat keberadaan sahabatnya—terlebih mendengar suaranya. “Oh ya, ada kabar apa yang belum pernah aku dengar sebelumnya selama di Melbourne?

Hening sejenak. Hal itu membuat Aeri agak heran.

“Ada apa memang―”

“Ini.”

Aeri terkejut ketika melihat sebuah surat yang tergeletak di hadapannya. Kemudian, matanya menatap tatapan polos para sahabatnya dengan pandangan curiga. “Apa ini?”

Perlahan, tangannya meraih salah satu surat tersebut dan membukanya. Kedua matanya membulat ketika ia menemukan sesuatu di sana. Lebih tepatnya, ia menemukan sebuah tulisan yang amat besar.

“Park Youngmi dan Park Chanyeol akan menikah?!” teriak Aeri dengan nada tak percaya.

“Sstt!!” Hyoae langsung mendekap mulut Aeri karena semua mata seolah tertuju ke arah kumpulan mereka. “Kau berisik sekali!”

“Kenapa tiba-tiba begini? Atau, jangan-jangan…” Aeri semakin menatap Youngmi tak percaya. Sementara, yang ditatap hanya memutar bola matanya dengan jengah.

“Ayolah, Ri-ya. Aku tidak hamil di luar nikah. Jadi, jangan berpikir macam-macam,” jawab Youngmi tegas dengan tatapan tajamnya. “Ayahku dan Ayahnya Chanyeol Oppa sudah sepakat untuk menikahkanku dengannya sejak lama. Makanya, terkesan agak cepat.”

“Kupikir, diantara kita yang akan menikah lebih dulu itu Hyoae dan Luhan Gege,” celetuk Aeri dengan polos yang membuat Hyoae menoleh ke arahnya dengan tatapan malu.

“Apaan sih kau ini!” seru Hyoae dengan suara kecil.

Aeri menatap Hyoae dengan polos. “Memang itu kok yang kupikirkan. Selanjutnya, baru Youngmi dan Chanyeol. Lalu, Rihwa dan Baekhyun. Setelah itu, Hyena dan Kris Wu. Selanjutnya siapa lagi ya?”

“Kau dan Jongdae,” celetuk Hyena yang membuat Aeri terdiam sejenak.

“Aamiin!!” serempak Sekyung, Yoora, dan Rihwa diikuti oleh Youngmi dan Hyoae.

Mendengarnya membuat wajah Aeri agak memerah. “Terserah kalian untuk yang itu.”

“Kalau setelah Hyena dan Kris Wu menikah, giliran Aeri dan Jongdae. Setelah itu, baru Yoora dan Jongin,” celetuk Rihwa yang membuat Yoora menoleh ke arah Rihwa dengan tatapan lasernya.

Dan, sementara yang lainnya menatap Yoora tak percaya—terlebih lagi Aeri. “Apa?! Yoora berpacaran dengan Jongin?!”

***

“Kau tak mau mampir dulu?”

Jongdae menoleh ke arah Aeri yang sedang menatapnya. Kemudian, matanya beralih ke arah langit yang semakin jingga. “Lain kali saja aku mampir. Lebih baik kau pulang dan istirahat. Jangan―”

“Imo! Samchon!”

Aeri dan Jongdae tersentak kaget karena mendengar seruan yang tiba-tiba. Segera, Jongdae membuka kaca mobilnya dan mendapati seorang anak lelaki bertubuh agak gempal—dapat ditaksir berumur 3 tahun yang sedang menatapnya dengan pandangan penasaran dari luar mobil.

“Hei, apa yang sedang kau lakukan di luar, Shiwoo-ya?” tanya Aeri dengan nada ingin tahu.

“Halmeoni sedang ada tamu dan aku disuruh bermain dulu dengan Yoonhwa Imo. Katanya mau bermain petak umpet, tapi saat aku bersembunyi Yoonhwa Imo tak dapat menemukanku,” jawab anak lelaki bernama Shiwoo dengan polos.

“Halmeoni? Eomma kapan pulang dari Kyoto? Tamu? Siapa?” ucap Aeri dengan nada ingin tahu. Ia mulai keluar dari mobil Jongdae dan berjalan masuk ke dalam gerbang rumah. Jongdae yang keluar dari mobilnya hanya menatap Aeri dengan pandangan penasaran.

“Aku pulang,” sapa Aeri sambil berjalan masuk menyusuri perkarangan rumah. Tampak, Nyonya Song—ibunya Aeri sedang mengobrol seru dengan seorang tamu. Kedua matanya membulat ketika melihat siapa tamu yang dimaksud oleh Shiwoo—keponakannya. “Kim Ajumeoni!”

“Mwo? Eomma?” sahut Jongdae dengan nada terkejut ketika mendengar apa yang diucapkan oleh Aeri dari luar gerbang. Mungkin saja ia salah dengar, makanya ia segera melesat masuk.

Sementara, tampak Nyonya Song kaget melihat kehadiran Aeri. Makanya dengan cepat, ia segera berseru pada anak bungsunya tersebut. “Aeri-ya, kemarilah nak. Eomma baru tahu kalau kau menjalin hubungan dengan Jongdae. Kupikir, hubungan kalian selamanya akan menjadi teman. Ternyata, lebih ya.”

“Yah, aku juga berpikir begitu, Nyonya Song. Aku pikir Jongdae dan Aeri tidak ada hubungan apa-apa. Nyatanya, sekarang aku malah nyaris tak tahu apa-apa kalau saja anak sulungku, Jongdeok tak memberitahuku,” balas Nyonya Kim. “Apa tadi Aeri sedang bersama Jongdae?”

Baru saja Aeri duduk di samping Nyonya Song, ia sudah disuguhi pertanyaan seperti itu. “Hmm, itu… Jongdae masih di luar dan―”

“Apa yang Eomma lakukan di sini?”

Segera semua mata tertuju pada Jongdae yang sekarang menatap ibunya dengan pandangan tak percaya. “Kenapa Eomma tak memberitahuku kalau Eomma ada di sini?”

“Jongdae-ya. Kemarilah,” pinta Nyonya Kim sambil menggeser tempat duduknya dan Jongdae menurut. “Kenapa kau tak memberitahu Eomma kalau kau dan Aeri sudah berpacaran sejak 4 tahun lalu? Eomma tak akan tahu hal itu, kalau saja Jongdeok tak memberitahu Eomma. Dasar anak nakal.”

“Sudahlah, Nyonya Kim. Yang penting sekarang kita sudah tahu hubungan mereka,” ucap Nyonya Song menenangkan. Kemudian, matanya beralih ke arah Aeri yang sedang memandang beliau. “Kudengar, tadi Yoonhwa sedang kedatangan tamu. Sepertinya, tamu itu mengenalimu. Kalau tidak salah, namanya Huang…”

“Huang Zitao,” terka Aeri yang membuat ibunya langsung mengangguk.

“Iya. Katanya, ia hendak menemuimu juga. Temui ia sekarang,” suruh Nyonya Song yang membuat Aeri tak bisa mengelak.

Lalu, Aeri bangkit dari duduknya dan membungkuk serta memberi salam pada Nyonya Kim sebelum meninggalkan tempat. Matanya melirik ke arah Jongdae sekilas. Kemudian, segera melesat masuk ke dalam rumahnya.

Sementara, Jongdae memandang ibunya dan Nyonya Song setelah kepergian Aeri. “Saya pamit pulang dulu, Song Ajumeoni. Eomma, aku pulang dulu ya. Nanti telepon aku saja bila ingin dijemput.”

“Kau mau ke mana?” tanya Nyonya Kim.

“Aku masih ada urusan di coffee shop, Eomma,” jawab Jongdae. “Annyeong hikaseyo.”

Di lain tempat, kedua mata Aeri kembali membulat untuk kesekian kalinya saat melihat kehadiran Tao yang sedang mengobrol dengan Yoonhwa di ruang tamu. “Tao Gege!”

“Bi!” panggil Tao. Kemudian, sekilas ia melirik ke arah Yoonhwa yang hendak bangkit dari duduknya. “Hwa-ya, tunggu sebentar ya.”

“Oh, tidak apa-apa, Oppa. Aku juga ingin menyiapkan secangkir teh untuk Aeri Eonni,” jawab Yoonhwa sambil tersenyum sebelum menghilang menuju dapur.

“Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Aeri dengan nada kaget.

“Bagaimana kabarmu? Kau tak merindukan aku yang dulu begitu mencintaimu ya?” balas Tao dengan nada jahi; yang membuat Aeri tertawa.

“Kabarku baik sekali. Aku merindukanmu. Sangat. Selama di sana, tak ada lagi yang menyuapiku atau memintaku untuk menemani makan ddubbeokki,” ucap Aeri dengan nada agak sedih. “Kau… sudah menjalin hubungan dengan Yoonhwa ya?”

Tampak, Tao tertawa renyah mendengarnya. “Aku sedang mampir kemari, karena kupikir aku akan bertemu denganmu mengingat kau sudah kembali ke Seoul. Kalau untuk urusan itu, doakan saja agar aku sukses.”

Aeri memandang Tao dengan pandangan menggoda. “Astaga, kau sungguh serius ternyata. Aku doakan saja supaya kau kuat menghadapi tingkah kekanakan Yoonhwa.”

“Kau belum tahu ternyata kalau Yoonhwa sudah tumbuh dewasa. Sekarang kan umurnya sudah menginjak 20 tahun,” bela Tao saat tanpa ia sadari, Yoonhwa sudah mengantarkan secangkir teh untuk Aeri dan duduk di sampingnya.

“Yoonhwa-ya, lihatlah sekarang. Ada yang membelamu,” kata Aeri pada Yoonhwa yang tak pernah berhenti tersenyum.

“Eonni tak boleh begitu pada Tao Oppa,” nasihat Yoonhwa. “Oh iya, mana Shiwoo?”

“Shiwoo masih bermain sepertinya,” jawab Aeri asal.

“Atau merecoki Joohwa Oppa,” kata Yoonhwa. “Belakangan anak itu merecoki Joohwa Oppa terus.”

“Nunah Eooni dan Donghae Oppa sangat sibuk ya?” tanya Aeri pada Yoonhwa.

“Iya. Mereka pulangnya paling cepat sore hari untuk mengambil Shiwoo.”

Aeri termenung sejenak. Banyak yang berubah selama 4 tahun belakangan ini. Ia yang sudah berpacaran dengan Jongdae, kedekatan Huang Zitao dengan sepupunya—Ahn Yoonhwa, orangtuanya yang kembali ke Seoul setelah sekian lama menetap di Kyoto, bahkan sampai pernikahan kakaknya—Song Nunah dengan atasannya di perusahaannya tempat ia bekerja dulu, Lee Donghae hingga memiliki anak bernama Lee Shiwoo.

“Tingkah Shiwoo sebagian mirip Nunah Eonni dan sebagiannya lagi mirip Donghae Oppa,” celetuk Yoonhwa. “Bagaimana menurutmu, Eonni?”

“Yah, bisa jadi.”

Benar. Mirip keduanya, pikir Aeri saat memandangi Shiwoo yang tiba-tiba muncul di depan matanya yang asyik sendiri dengan dunianya.

***

Hari berlalu begitu cepat. Yah, itulah yang dirasakan oleh semua orang—terutama bagi Kyuhyun dan Yeonjoo. Hari ini adalah pelaksanaan upacara pernikahannya. Dapat Aeri lihat, sepasang sejoli kini telah saling menyematkan cincinnya sambil tersenyum di depan altar.

“Ri-ya, kemari!”

Aeri menoleh dan mendapati kini Jongdae sedang menggamit tangannya—menariknya menuju ke arah kedua mempelai pengantin yang sedang tersenyum ke arah mereka.

“Aish, Ri-ya! Cepatlah sedikit!” teriak sang mempelai pengantin pria, Cho Kyuhyun. “Dasar tak berubah, masih saja jalanmu itu lamban!”

Kau juga tak berubah, masih saja suka berteriak padaku, gerutu Aeri seolah membalas ucapan Kyuhyun. Namun, ditahannya ketika ia sudah sampai berada di hadapan Kyuhyun dan Yeonjoo. “Oppa juga tak berubah, masih saja menyebalkan,” balas Aeri dongkol.

Ckrek! Tanpa Aeri sadari—dan yang lainnya, seorang fotografer telah memotret kebersamaan mereka melalui lensa kameranya. Tapi, nyata mereka tak peduli—terlebih Aeri.

“Jongdae-ya, sebenarnya kau mengajari bocah ini apa saja sih sampai tingkahnya begini?” tanya Kyuhyun dengan nada berapi-api pada Jongdae sambil menunjuk-nunjuk Aeri.

“Hyung juga sadar sedikit. Joo Noona berubah tingkahnya karena kau,” balas Jongdae tak mau kalah.

“Aku? Berubah kenapa?” tanya Yeonjoo dengan nada tak mengerti.

“Eonni, pokoknya kalau Kyuhyun Oppa mengajarimu yang tidak-tidak, ceraikan saja dia,” celetuk Aeri yang berhasil membuat Kyuhyun langsung menjitak kepala gadis itu hingga meringis kesakitan. “Akh!”

“Jangan mempengaruhi istriku, Ri-ya! Sembarangan kau bicara!” seru Kyuhyun kesal.

“Hyung juga jangan begitu pada pacarku!” sahut Jongdae tak terima pada Kyuhyun.

“Hei, kalian ini jadi tidak sih berfoto?” kata Yeonjoo yang membuat mereka semua tersadar.

Akhirnya, mereka berpose dengan kamera. Setelah itu, Aeri hendak berjalan meninggalkan altar. Namun, langkah kakinya terhenti ketika dirasanya seseorang memegang bahunya. “Aeri-ya.”

Aeri menoleh dan melihat Yeonjoo yang kini menyerahkan karangan bunganya pada gadis itu. Aeri hanay bisa memandangnya dengan pandangan heran. “Apa ini, Eonni?”

“Kelak, kau juga harus merasakan hari yang paling membahagiakan dalam hidup seperti yang kurasakan saat ini, Aeri-ya,” ucap Yeonjoo dengan nada amat bahagia. “Tentu saja dengan Jongdae.”

Tampak, Aeri melongo dan kehabisan kata. Wajahnya tak memerah dan sesekali matanya melirik ke arah Jongdae yang sibuk menahan senyum. “Ta-tapi kan, Eonni… harus melemparkan ini atau menyerahkan ini kepada orang yang tepat. Dan, aku―”

“Bagiku, kau orang yang tepat, Aeri-ya,” tukas Yeonjoo sambil tersenyum. “Terimalah. Apa kau tak mau?”

“Kalau kau tak mau, untukku saja,” celetuk Jongdae sambil hendak mengambil karangan bunga yang dipegang oleh Yeonjoo. Namun, segera dirampas oleh Aeri.

“Aku kan tak bilang tidak mau,” sahut Aeri sambil menarik napas panjang. Kedua matanya mulai memanas karena terllau terharu, namun berusaha ia tahan. “Gumawo, Eonni.”

“Semangat juga untuk sidang tugas akhirmu minggu depan, Aeri-ya.” Yeonjoo membalasnya sambil tersneyum penuh arti.

“Kyuhyun Hyung,” panggil Jongdae gentian menatap Kyuhyun. Dan, yang ditatap hanya membalasnya dengan santai. “Jagalah Joo Noona dengan baik dan jangan pernah membuatnya menangis.”

“Aku akan menjaga istriku dengan baik dan tak akan membuatnya menangis. Kau percaya padaku kan?” balas Kyuhyun dengan nada meyakinkan. “Kau juga jangan pernah membuatku menyesal karena aku putuskan untuk kutitipkan adik kesayanganku padamu, Jongdae-ya.”

“Kalau Aeri, sudah pasti akan kulakukan semuanya demi dirinya,” sahut Jongdae yakin.

***

Aeri merebahkan tubuhnya ke ranjang. Sudah seminggu berlalu dan rasanya cepat sekali. Ia sudah kembali berada di flatnya di Melbourne dan ia baru saja melewati sidang tugas akhirnya yang berakhir sukses. Sungguh ia merasa amat lega saat mengetahuinya.

Yang ia tunggu sekarang adalah kapan pelaksanaan wisuda gelar sarjananya dan berapa lama lagi dirinya berdiri di kota ternyaman di dunia ini. Aeri menghembuskan napas panjang kala mengingatnya.

Dering ponsel membuatnya sadar dari dunia pikirannya dan segera mencari di dalam tasnya. Matanya mengerjap tak percaya kala membaca ID si penelepon. Seulas senyum terukir di wajah gadis itu saat hendak mendengar suaranya. “Yeoboseyo?”

“Selamat atas selesainya sidang tugas akhirmu, Ri-ya,” ucap yang ternyata adalah Jongdae.

“Yah, terima kasih. Cukup membuatku seperti orang jantungan,” kata Aeri sambil bernapas lega.

“Kalau begitu, ayo pergi sebelum upacara wisudamu yang diadakan 4 hari lagi,” ajak Jongdae.

Hal itu mambuat Aeri mengerutkan keningnya, keheranan. “Kau tahu dari mana wisudaku 4 hari lagi, Jongdae-ya? Kau sedang berada di Seoul kan?”

“Cepat ganti pakaianmu. 15 menit lagi aku akan menjemputmu.” Jongdae berucap sebelum mematikan ponselnya. Hal itu membuat Aeri menggerutu kesal. Sesaat ia teringat sesuatu.

“Jangan bilang lelaki itu memang berada di Melbourne!” seru Aeri mulai panik dan bergegas masuk ke dalam kamar mandi.

Butuh waktu sekitar 10 menit yang Aeri habiskan untuk mempercantik dirinya. Sesekali ia berhenti untuk beprikir sejenak. “Ini kencan bukan?”

Namun, pikiran tersebut segera ditepiskan mengingat waktunya tinggal sedikit lagi. Dan benar saja, bel flatnya berbunyi. Segera, Aeri memakai jaket berwarna putih setelah memakai sweater biru muda. Udara musim semi yang telah menyapa kota Melbourne, membuat Aeri mengucapkan selamat tinggal pada sepatu boots dan mantelnya yang kini berganti memakai sepatu sneakers putih kesayangannya dan jaket.

“Kau lama sekali,” gerutu Jongdae saat Aeri membuka pintu flatnya. Sudah diduga, Jongdae memang berada di Melbourne. Dapat Aeri lihat, penampilan Jongdae terlihat amat tampan dengan sweater cokelat dibalut dengan jas non formal berwarna hitam.

“Untuk apa kau kembali ke sini?” tanya Aeri bingung saat melihat kekasihnya tersebut. “Harusnya kau tunggu saja aku kembali.”

“Habisnya, aku mati kebosanan di Seoul, Ri-ya,” jawab Jongdae dengan nada merajuk. “Makanya, aku ke sini saja. Lagipula, ada suatu hal yang ingin kukatakan padamu.”

“Apa?” tanya Aeri dengan nada ingin tahu.

“Jangan di sini. Ayo, kita pergi.” Jongdae mengajak Aeri sambil menggandeng tangannya.

Udara sejuk musim semi di siang hari menyapa kulit Aeri, ditambah hatinya terasa menghangat ketika datangnya kehadiran Jongdae. Tak bisa ia pungkiri bahwa ia terlalu senang bahwa Jongdae ada di Melbourne, sampai-sampai ia berusaha menyembunyikannya di depan Jongdae dengan kata-kata seolah tak mengharapkannya datang. Seringkali ia merasa menyesal berucap seperti itu. Namun, ketika melihat wajah Jongdae yang tak pernah marah padanya membuatnya merasa tenang dan lega.

Walaupun musim panas sama sekali belum menyapa, tapi Jongdae mengajaknya ke sebuah pariwisata yang paling ramai ketika musim panas tiba. Lelaki itu mengajaknya berkeliling di pusat kota yang ramai menggunakan Trem City Circles. Setelah itu, berjalan-jalan di gang-gang kecil yang terdapat di jantung kota Melbourne untuk menikmati suasana gotik nan klasik. Kemudian, mengunjungi berbagai macam galeri dan museum unik di pusat budaya Federation Square serta menjelajahi pertokoan di Melbourne General Post Office.

***

“Duduklah di sini.”

Aeri menuruti perkataan Jongdae dan duduk di sebelah Jongdae sambil meminum cup berisi jus jambunya. “Jongdae-ya, kita mau apa ke sini?” tanya Aeri dengan heran dan bingung.

“Kita menyaksikan pertunjukan yang menarik,” ungkap Jongdae sambil tersenyum pada Aeri.

Saat ini, mereka berdua sedang berada di Art Center di Sungai Yarra. Sebelumnya, mereka telah berpesiar menyusuri Sungai Yarra, berjalan melintasi Royal Botanic Gardens, melirik sejarah kalangan atas di Como House, sebuah rumah gedung era Victoria dengan taman yang terpangkas rapi, dan juga menyusuri pantai St. Kilda.

Jongdae tiba-tiba saja menggamit tangan Aeri. “Tanganmu mulai dingin. Kebiasaan burukmu.”

Lelaki itu kemudian menghangatkan tangan Aeri dengan genggaman tangannya yang hangat. Aeri hanya tersipu malu ketika melihat sikap Jongdae.

“Kumohon, jangan lakukan ini lagi,” pinta Aeri pelan. “Bisa-bisa ini akan menambah dosisnya.”

“Apa maksudmu, Ri-ya? Ini kulakukan agar dosis cintamu padaku semakin bertambah,” gurau Jongdae sambil mengedikan salah satu matanya dengan menggoda.

“Aku―”

“Diam,” tukas Jongdae sembari menahan Aeri bicara dengan jari telunjuknya. Kemudian, ia menatap Aeri dengan lekat. “Dosis cintaku padamu sudah penuh. Jadi, kali ini biarkan dosismu bertambah untukku. Sebelum penuh, jangan tinggalkan aku dan tetaplah di sisiku.”

“Bagaimana kalau sudah penuh?” tanya Aeri.

“Kalaupun kau berniat meninggalkanku dengan kondisi dosismu sudah penuh untukku, kau pasti kembali. Karena kau tak bisa melupakanku. Aku mencintaimu.”

Blush! Wajah Aeri semakin memerah. “Jongdae-ya…”

Jongdae kembali tersenyum yang mampu membuatnya jauh lebih tampan ketika dihadapan Aeri. “Ah, sudah dimulai.”

Hari mulai senja, namun rasa lelah tak pernah menyapa mereka berdua untuk hari ini. Sore ini pertunjukan di Art Center adalah pertunjukkan komedi yang mampu membuat mereka berdua tertawa lepas. Namun, tak lupa Jongdae tetap menggenggam erat jemari-jemari Aeri.

***

Perjalanan Jongdae dan Aeri berakhir menjelajahi kebun-kebun yang luas sambil memetik buah dan berpiknik sambil memandangi laut yang berada di Mornington Peninsula yang baru saja menghijau karena datangnya musim semi. Mereka sengaja memilih berpiknik di tempat yang strategis, di mana kebun yang hijau dan pemandangan lautnya bisa terlihat dengan jelas.

Langit memang sudah mulai senja. Namun, hal itu sama sekali tak mengurangi keindahan laut di sana.

“Ri-ya..”

Aeri menoleh saat ia tengah asyik menatap laut lepas yang indah di sore hari. Matanya mendapati Jongdae yang telah berdiri di belakangnya sambil tersenyum. “Ada apa?”

Jongdae terdiam sejenak. “Ada suatu hal yang harus kukatakan langsung padamu.”

“Apa itu?” tanya Aeri ingin tahu. Wajahnya mendongak untuk menatap Jongdae.

Detik selanjutnya yang Aeri lihat adalah, kini Jongdae menggenggam tangan Aeri dengan erat. Tangannya mulai merogoh sakunya dan mengeluarkan sebuah kotak berisi cincin sambil menatap Aeri penuh arti. “Maukah kau menikah denganku?”

Aeri menatap Jongdae. Matanya mengerjap tak percaya. Telinganya berusaha meyakinkan apakah Jongdae sungguh-sungguh mengatakannya. “Sungguh?”

“Masa aku bohong sih, aku sungguh serius tahu,” sahut Jongdae sambil menghelakan napasnya—berusaha sabar menghadapi gadisnya ini. “Aku tahu, aku bukan lelaki terbaik untukmu. Tapi, aku berjanji aku akan menjagamu, melindungimu, membahagiakanmu, dan tak akan membuatmu menangis apapun yang terjadi, Ri-ya. Kau percaya padaku kan?”

Mata Jongdae menatap Aeri dengan pandangan serius. Dapat ia lihat keserius dalam hati Jongdae, membuat kedua mata gadis itu berkaca-kaca. Ia menunduk sebentar dan butuh waktu berapa detik untuk Aeri kembali mendongak dan menatap mata Jongdae. “Ya.”

Jongdae tersenyum penuh arti saat mendengar jawaban Aeri. Tanpa aba-aba, lelaki itu mulai memasangkan cincin di jari manis Aeri. Lalu, tangannya kembali menggenggam tangannya erat. “Terima kasih, Ri-ya,” ucap Jongdae dengan nada lega. Dan, lengannya mulai merengkuh tubuh Aeri dengan erat. “Aku mencintaimu selalu.”

Wajah Aeri mulai memerah dan perlahan tangannya terulur untuk membalas pelukan Jongdae. “A-aku juga mencintaimu, Jongdae-ya..”

Saat Jongdae melepaskan pelukannya, ia agak tersentak kaget kala melihat wajah Aeri sudah sesunggukan penuh dengan linangan air mata. Dengan cepat, lelaki itu menghapusnya dengan sapu tangan yang biasa ia bawa. “Astaga, sampai seperti ini ya gadisku menangis. Jangan menangis, aku semakin merasa bersalah padamu tahu.”

“Habisnya..” Aeri masih saja menitikkan air mata dengan suara serak. “Kau penyebabnya.”

“Kau berani menyalahkanku?” balas Jongdae dengan nada jahil. “Kalau begitu, jangan salahkan aku kalau aku kembali melakukan suatu hal yang membuatmu menyesal.”

“Apa?”

Ketika Aeri mendongak setelah dihapuskan airmatanya oleh Jongdae, dapat ia lihat dengan jelas Jongdae kini sedang menatapnya dengan tajam. Perlahan, langkah kakinya melangkah maju mendekati Aeri. Detik selanjutnya adalah Jongdae mengecup kening Aeri agak lama dan dengan lembut sebelum kembali menciumnya di pipi gadis itu.

Jantung gadis semakin berpacu kencang ketika tangan Jongdae sudah menyentuh pipinya dan wajah lelaki perlahan mendekati wajahnya. Dan, Aeri mulai memejamkan kedua matanya kala deru napas Jongdae semakin terasa.

Akhirnya, tangannya mulai mencengkram jas yang Jongdae kenakan ketika lelaki itu berhasil mengunci bibir Aeri dan mencium bibirnya sekilas dengan lembut.

“Kim Jongdae..” ucap Aeri dengan susah payah ketika napasnya mulai tercekat dan setelah berhasil mendorong tubuh Jongdae yang terlalu dekat. “Berhenti melakukan hal ini.”

“Akan kupikirkan nanti,” ucap Jongdae di depan bibir Aeri sebelum kembali mencium bibir Aeri.

Dan, sangat disayangkan kali ini tenaga Aeri benar-benar menguap hingga tak bisa melawannya. Yang ada hanyalah wajah memerah layaknya tomat rebus.

Kim Jongdae, kau benar-benar! Pekik Aeri dalam hati.

― FIN ―

Iklan

5 thoughts on “Love Note : 17th Happiness [Last]

  1. Akhirnyaa selesai juga gw baca ini! Mansae!!! XD
    –“Park Youngmi dan Park Chanyeol akan menikah?!” /Sumpah ini apa-apaan?! ku terkejut XD/
    Jongdae perasaan cepet banget nyampe ke Melbournenya deh ._. tu orang diem-diem punya sayap ya -_-??
    Btw karena dosis cintanya Jongdae sama Aeri sudah semakin meluber, gw juga jadi ikut-ikutan overdosis baca Drama Romance ini, Ya Allah. wkwkw.
    Dan endingnya itu yaaa, sesuatu banget kok, iya, sesuatu banget ya Jongdaenya. hahaha ::::33 Keep Writing aja untuk sahabatku yang satu ini{{}}
    Duh jadi pengen deh dibikinin ff Chapter sama elu /ini kode keraazz secara langsung;_;/ampun khilaf/
    /PYEONG!/

    1. Anjir ber lu ngebut bacanya ya XD wakakakakak
      Bahahaha, terkejut ya bacanya Youngmi-Chanyeol nikah, ah dalem ati mah beneran kejadian dong dalem ff chapter wkwkwk
      Untuk urusan Jongdae cepet banget nyampenya, entar gue tanyain ya. Denger2 sih katanya naik elang :v wkwk
      Maaf mba anda overdosisnya kenapa mba dari ff drama-romance ini? :v wkwk kalo overdosis silahkan ke rumah sakit terdekat aja :v
      Oh ya, catatan ya jangan sampe jatuh ke dalam sikap Jongdae ea wakakakak takut dah gue mah Chanyeol ditinggal :v
      Thanks banget ber udah baca ini sampe akhir {{}} keep writing ugha buat lu ea moga proyek ff seriesnya lancaaaarrr. Aamiin
      Ga janji mau bikin ye gue mah buat elu ff chapter wkwk

      1. Emang udah niat mau baca ampe abis hari ini si ‘Love Note’ Ly… XD
        Overdosis, ini terlalu manis, ff lu manis-manis semua bikin gw diabet tauk, tanggung jawab lo :v wkwkw.
        Chanyeol gak gw tinggalin koek tenang aja, meski gw sering liat dia bareng cewek-cewek China yang cantik banget itu, /tapi youngmi tetep gak kalah cantik kok :p/ loh ini malah curcol?/btw ini curcol apa fangirl?/iuuh/
        -__-err makanya kadang suka sebel, mas Chanyeol kegantengannya suka gak bisa dikontrol sih. Seneng sih kalo liat si tiang itu deket sama cewek China yang cantik, tapi hati kadang suka gak ikhlas gitu, gimana dong? ;;(( /plak/iniapawoy!/
        Btw mas Jongdae juga gak kalah ganteng itu yang pas di ending XD ganteng banget malah *aww. Lope lope buat Mas Jongdae *eh gak* buat Airly aja deh ;;;33 ❤ ❤ ❤

        "Thanks banget ber udah baca ini sampe akhir {{}} keep writing ugha buat lu ea moga proyek ff seriesnya lancaaaarrr. Aamiin." –Sama2 ahh, makasih juga do'anya, aamiiin. ❤

        Yah kalo gitu lanjut yang Seokjin aja yak, kita berkolaborasi wkwkw XD

      2. Lah masa gue mesti tanggung jawab sih ber, salah elu lah ngapa nekat baca ff gue ampe kelar :v
        Anjayyy, curcol mbae ampe panjang banget bahas si chanyeol wkwkwk XD
        Ah big lope ugha buat lu berlyyyy, gapapa koek big lope buat mas jongdae ugha. Aku ikhlas/? :v wkwkwk

Mind to Review? ^ ^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s