DaeRi’s Daily : Morning Sunshine

IMG_20141208_205002

20141211 © AirlyAeri

Casts : Kim Jongdae (EXO’s Chen); Song Aeri (OC)

Genre : Marriage Life, Fluff, Romance ║ Rated : PG-17 ║ Length : Oneshot (1000+ words)

Backsound : Super Junior KRY – Loving You

(Maybe) This is the sequel of Love Note.

***

Udara pagi akhir musim dingin yang masih terasa membeku dan sinar matahari yang telah terbit dari ufuk timur kini mulai memasuki jendela kamarku. Membuatku dengan mudah terbangun dari tidur pulasku dan menatap sekeliling. Kulirik di samping tempatku berbaring. Gadis itu pasti sudah bangun lebih dulu.

Dengan segera, aku beringsut dari ranjang besar tersebut dan segera keluar dari kamarku. Sebelum itu, kupandangi sekilas sebuah figura foto yang teronggok manis berdiri di meja nakas. Sebuah foto berisi diriku dengan gadis itu yang tengah tersenyum dan memakai setelan pakaian pernikahan kami.

Baru saja langkah kakiku berhasil sampai di ruang dapur, tampak gadis itu sedang memasak untuk menyiapkan sarapan dan berdiri membelakangiku. Dengan senyum yang merekah, segera kulangkahkan kaki untuk mendekatinya dan tanpa perintahnya pula aku langsung memeluk tubuhnya dari belakang.

“Ya Tuhan!” seru gadis itu karena terkejut mendapatkan pelukan dariku secara tiba-tiba. “Kim Jongdae, beraninya kau mengagetkanku di pagi buta begini,” ungkap gadis itu sambil menggerutu yang membuatku tersenyum geli.

“Habisnya ini sebagai hukumanmu karena dua hal. Pertama, kau tidak membangunkanku. Kedua, kau tidak memberikan ciuman selamat pagi untukku. Bukankah kau sudah berjanji kalau kau akan selalu melakukan dua hal itu, Kim Aeri?” ocehku panjang lebar yang membuat gadis itu melirik ke arahku dengan dahi berkerut.

“Heh, memangnya sejak kapan margaku berubah? Namaku masih Song Aeri, hei!” balasnya cepat.

“Margamu sudah berubah menjadi Kim Aeri sejak kau menikah denganku tahu!” ucapku tak mau kalah. “Ayo, tepati janjimu atau kau akan kuberikan hukuman.”

Akhirnya, kulepaskan pelukannya saat gadis itu –Aeri berbalik dan menatapku. “Baiklah. Untuk kesalahan pertama, maafkan aku. Tapi, untuk yang kedua, aku tidak mau melakukannya saat ini.”

“Kenapa?” tanyaku dengan nada tak terima.

“Kau kan belum mandi,” jawabnya datar. “Aku akan melakukannya jika kau sudah mandi. Lagipula, sudah jam berapa ini? Memangnya kau tidak ada meeting dengan para bawahanmu? Lebih baik kau cepat sana mandi dan bersiap-siap berangkat ke kantor,” lanjutnya.

“Janji?” tanyaku dengan nada ragu.

“Janji.”

Akhirnya, dengan secepat kilat aku segera kembali ke kamarku dan mandi. Kemudian, bersiap-siap memakai kemeja putih dan jas hitamku. Tak lama, aku sadar bahwa ada satu hal yang tak bisa kulakukan namun sangat penting untuk penampilanku.

Memasang dasi.

“Kau sudah selesai, Jongdae?”

Aku menoleh dan mendapati Aeri yang baru saja masuk ke dalam kamar sambil memandangku. “Cepatlah ke bawah. Sarapan untukmu sudah siap.”

“Baiklah. Tapi…”

Kulihat, Aeri melirik ke arah kerah kemejaku yang masih menggantung dengan dasi yang belum terpasang dengan baik. Sesaat ia terperanjat dan segera berjalan menghampiriku. “Astaga, aku hampir lupa bahwa ini adalah kewajibanku sebagai istri. Maaf ya,” ucapnya sambil memandangku disela-sela tangannya yang lembut itu memasangkan dasi untukku.

Tanpa sadar, selama ia memasangkan dasi untukku kedua mataku tak lepas darinya. Sesekali seulas senyum menghiasi wajahku kala melihat wajahnya. Bagaimana bisa wajahnya mampu membuatku merasa tenang seolah semua baik-baik saja bila ia selalu berada di sisiku?

“Sudah selesai. Sempurna,” ucapnya tiba-tiba yang membuatku tersadar akan dunia nyata. Tampak, matanya mulai kembali memandangku. “Sekarang kau mulai terlihat sebagai Tuan Direktur Kim, pemilik perusahaan SH Corp.”

“Kalau begitu, sekarang penuhi kesalahanmu,” cetusku sambil tersenyum nakal yang membuat Aeri diam sejenak.

Aish, baiklah, baiklah. Kau memang banyak menuntut,” gerutu Aeri yang mampu membuatku tertawa geli. Sesaat kemudian, ia memandangku sekilas. “Memang harus ya?”

“Tadi kan kau sudah berjanji,” kataku. Hal itu membuat Aeri berpikir sejenak.

“Hanya sekali saja, ya?” pinta Aeri yang dibalas oleh anggukan kepalaku.

Dan tak butuh lama, kedua lengan gadis itu berhasil melingkar di tengkukku setelah sedikit berjingkat kecil karena tubuhku lebih tinggi darinya. Aeri mulai mendekati wajahku sambil memejamkan kedua matanya yang membuatku harus melakukan hal yang sama. Sentuhan hangat seketika menjalar ke seluruh tubuhku di tengah udara akhir musim dingin ini, kala Aeri mencium bibirku dengan lembut.

Segera ia melepaskannya kala dirasanya sudah selesai. “Sekarang, turunlah ke bawah. A-aku mau mengambil blazerku dulu. Hari ini aku harus ke kantor untuk mengambil data pekerjaanku,” ucap Aeri dengan kikuk yang sama sekali tak penah sedikitpun melirik ke arahku. Wajahnya tampak memerah karena malu. Astaga, manis sekali.

Ketika hendak sarapan pagi, di mejaku telah tersaji sundubu jjigae dengan asap yang mengepul. Memancarkan kehangatan disaat udara musim dingin yang tak kunjung berakhir, walaupun dilihat dengan penanggalan masehi saat ini telah memasuki akhir Februari.

“Makanlah, Jongdae. Sudah jam berapa ini? Kau mau terlambat ke kantor ya?”

Kulihat, Aeri yang telah memakai blazernya hendak duduk berhadapan denganku. Tangannya dengan gesit mengambil sendoknya hendak menyantap sup tahu pedas yang hangat tersebut. “Apa supnya tidak enak?” tanyanya dengan nada agak khawatir yang membuatku segera menyantap supnya.

Enak. Itulah yang kurasakan saat lidahku menyesap kuah sup tersebut. Namun, memakannya akan terasa lebih nikmat ketika sambil memandang dan ditemani oleh gadis yang kucintai itu.

“Hei, jangan tersenyum sambil memandangku seperti itu. Kau mau menyia-nyiakan waktu berhargamu rupanya,” ungkap Aeri yang membuatku tersadar dari lamunan.

“Berapa lama kau berada di kantor?” tanyaku mencoba mengalihkan pembicaraan.

“Hanya sebentar kok. Aku akan segera pulang begitu mengambil data pekerjaanku. Lagipula, aku juga harus menyelesaikan karangan novel terbaruku yang sudah mencapai akhir kisahnya sebelum deadline yang akan menghantuiku bulan ini,” tutur Aeri disela-sela makan.

Aku termenung. Sungguh, masih ada rasa tak percaya bahwa saat ini istriku adalah seorang novelis terkenal. Impiannya sejak semasa SMA kali ini telah terwujud berkat kerja kerasnya yang ia lakukan selama ini. Aku bahkan masih ingat dengan jelas tentang kebiasaan tidur hingga larut malam demi menulis.

“Lalu, bagaimana denganmu hari ini?” tanya Aeri yang membuat aku segera memandangnya.

“Aku akan pulang cepat,” jawabku. “Nanti sore kita akan pergi ke rumah orangtuamu. Sepertinya Ayah dan Ibu sangat merindukanmu.”

“Tak usah seperti itu,” ucap Aeri sambil tersenyum. “Lebih baik, sekarang kau fokus saja pada pekerjaanmu dan jaga kesehatanmu. Kemarin saja kau pulang larut malam.”

Aku hanya menjawab sahutan Aeri dengan anggukan, hingga tanpa sadar sup yang sedaritadi kumakan telah habis.

“Cepat berangkat sana ke kantor. Biar aku saja yang membereskan sisa-sisa mangkuk ini,” suruhnya sambil mengambil mangkuk-mangkuk kotor dan membereskan meja makan. Kemudian, ia menaruhnya di tempat pencucian.

“Aku akan menunggumu. Ayo, kita berangkat bersama,” balasku dengan singkat sembari mengancing jasku yang membuatnya menoleh ke arahku secepat kilat.

“Kau duluan saja, Jongdae. Aku bisa berangkat sendiri kok.”

“Tidak mau. Aku akan tetap menunggumu,” balasku dengan jawaban enggan dan bersikeras tetap menunggunya.

“Baiklah, tunggu sebentar,” pinta Aeri sambil menghelakan napas panjang disela-sela ia mencuci mangkuk. Sesekali, terdengar suara gerutuan kecil yang mampu membuatku kembali tertawa geli untuk yang kesekian kalinya. “Dia itu keras kepala sekali sih. Bagaimana bisa aku mencintainya?”

“Berhenti menggerutu. Aku mendengarnya, Nyonya Kim,” balasku dengan suara lantang.

Akhirnya, Aeri telah selesai dengan semua pekerjaannya dan berjalan menghampiriku. “Ayo, berangkat Tuan Kim,” ajak Aeri sambil mengaitkan lengannya dengan lenganku sambil tersenyum manis ke arahku.

Hal itu membuatku terdiam sejenak, kemudian mengecup pipinya sekilas dan berbisik tepat di telinganya. “Memang tak pernah salah aku mencintaimu. Ternyata, sungguh beruntung aku memiliki dirimu, Aeri.”

Dapat kulihat setelah aku melakukannya, wajah Aeri kembali memerah dan menyikut pinggangku. “Berhenti menggombal dan merayuku. Ini masih pagi.”

“Memang masih pagi. Tapi, memang mataharinya sudah bersinar terang. Lebih cerah lagi kalau aku melihatmu terus sambil tersenyum.”

Ish.”

Dan dalam hatiku, aku mencatat satu hal.

She’s the sunshine of my heart.
She’s my energy.
And, I love her no matter what.
Really, I’m so lucky to have her.

-fin.

Woohoo~ Akhirnya, kesampean juga bikin fanfict genre marriage life dengan castnya saya sama Jongdae lagi. Ugh~ kangennya. Kyaaa~ >_< Sebelum bikin ini, sumpah saya ngaku il-feel berat sama Jongdae karena ga sengaja kejebak ranjau. Yaitu, baca fanfict NC WITHOUT PASSWORD PROTECTED. Geblek parah karena saya dengan bodohnya main klik aja tanpa baca ratednya. Alhasil, sepanjang saya baca fanfict bacanya ga fokus dan mulut ngomong istigfar terus. Mau nyilang windownya, gak bisa karena tangan udah gemetar. Kebayang muka gue abstrak parah abis baca karena emang gak terlalu suka fanfict NC. :/

Ini mungkin sequelnya ‘Love Note’ (MUNGKIN). Soalnya, emang tidak direncanakan buat sequel. But, up to you. Anggep aja ini sequel kalau MISALKAN kalian nagih sequel ‘Love Note’. #maksa -_-

Makasih ya udah baca fanfict ini. Semoga terhibur dengan castnya yang membosankan tapi sudah terlanjur lekat di hati terdalam /lirikjongdae/ :3 wkwk. Ngomong-ngomong, update-an foto Jongdae dari fansite eonni kemaren cakep-cakep loh. >///< Oh iya, jangan lupa beri review ya kalau bisa, soalnya bermanfaat banget buat saya. 😀

Thank you

-AirlyAeri.

Iklan

10 thoughts on “DaeRi’s Daily : Morning Sunshine

    1. Hai, eonni! Ngomong-ngomong kayanya aku pernah baca ff chen punya eonni deh. Aaaa, akhirnya. Ga nyangka eonni bisa nyasar kemari >< terima kasih udah baca fanfict ini, aku juga biasnya chen 😀 hihi. Semoga juga dengan ff ini bikin eonni makin seneng. Kkk~

Mind to Review? ^ ^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s