Space

IMG_20150211_124513

20150325 © AirlyAeri

Casts : Kim Jongdae (EXO’s Chen); Song Aeri (OC)

Genre : Fluff, Friendship, Romance ║ Rated : PG-15 ║ Length : Oneshot (1160 words)

Backsound : EXO – My Lady

This is first series of Chick-lit world DaeRi’s Daily.

***

“Jadi, sebenarnya apa yang ingin kaubicarakan denganku?”

Aeri mengunyah stik pepero yang berlumur krim stroberi sambil melirik ke arah sampingnya—yang ternyata ada seorang lelaki berpakaian mantel cokelat susu melapisi sweater turtleneck berwarna senada dengan mantel dan juga jeans hitam legam. Dengan tangan yang terlipat di depan dadanya, iris hitam pekat milik lelaki itu ternyata juga sedang memperhatikannya.

“Bicaralah dan jangan diam saja, Jongdae!” teriak Aeri mulai kesal karena tak kunjung mendengar jawaban dari si lelaki—Jongdae. Dihembuskannya karbon dioksida dari paru-parunya sehingga menimbulkan uap di sekitar mulut dan hidung si gadis. Membuatnya teringat bila musim dingin belum sepenuhnya berakhir. Dengan segera, ia merapatkan mantel putih gadingnya yang membungkus sweater wol bermotif garing-garis.

Okay, ada hal yang ingin kutanyakan padamu,” ungkap Jongdae akhirnya setelah menghelakan napas panjang. “Tidakkah hubungan kita terasa aneh?”

“Aneh?” ulang Aeri dengan nada tak mengerti. “Apanya yang aneh? Dan, kenapa mesti aneh?”

Sesekali, iris cokelat pekat milik Aeri melirik jarak diantara dirinya dan Jongdae. Baiklah, sekitar berjarak satu meter darinya. Masih jauh. Tidak dekat-dekat amat, kan? Batinnya sembari kembali memasukkan stik peperonya ke dalam mulutnya. Lalu, manik mata gadis itu beredar memandang pemandangan kota melalui atap gedung kampus yang diwarnai dengan lampu warna-warni.

Sejak awal Jongdae mengajaknya bertemu di atap gedung kampus malam ini, sudah membuat Aeri curiga setengah mati. Bagaimana tidak, ia sangat ingat bila malam ini ada pertunjukan musik di kampusnya dan ia masih mengingat dengan jelas bila Jongdae sebenarnya punya rencana menonton acara tersebut dengan seorang gadis. Entah dengan siapa, pokoknya Aeri tak peduli.

Ada gerangan apa sih lelaki ini? batin Aeri penasaran. Padahal kan, beberapa waktu terakhir gadis itu sedang berusaha menghindari Jongdae. Semuanya sekarang berakhir sia-sia.

“Tidakkah kau merasa hal ini sudah terasa aneh sejak ada Hanjia?”

“Apa?”

Seketika Aeri menoleh dan berhenti mengunyah peperonya. Kemudian, mendapati Jongdae yang kini tiba-tiba jaraknya mendekat. Oke, sekarang ia semakin curiga dengan tingkah lelaki ini, batinnya berwaspada. “Memang apa hubungannya Hanjia dengan kau dan aku?” ungkap Aeri bingung karena pikirannya bercabang antara harus menyahuti ucapan Jongdae sambil menerka jarak antara dirinya dengan lelaki itu dan berusaha melangkah mundur karena tak ingin terlalu dekat.

“Kau menghindariku karena gadis itu kan?”

“Apa?”

Lagi. Jongdae melangkahkan kakinya mendekati Aeri dan sukses membuat Aeri kembali menghitung jaraknya sembari berpikir keras. Tak mengerti maksud lelaki yang ada di hadapannya. “Hanjia kan sudah berpacaran dengan Luhan Hyung kalau kau mau tahu.”

Baiklah, jarak mereka tinggal bersisa dua jengkal—menurut perhitungan asal Aeri karena Jongdae semakin melangkah mendekatinya. “Lalu?” tanya Aeri lagi. Okay, ia mengerti sekarang. Jongdae berkata padanya seolah sedang mengintrogasinya. Dan, lelaki itu berhasil menguaknya.

“Kau cemburu padaku ya?”

“Hah?”

Awalnya Aeri ingin berjalan mundur, namun ia baru sadar. Sebenarnya, sejak awal ia sudah terjebak dan bila ia mundur, maka ia akan bertemu dengan dinding pembatas balkon atap gedung kampusnya. Gadis itu mulai menelan salivanya kuat-kuat. Mendadak saja gadis itu menjadi tak nafsu untuk memakan pepero yang masih bertengger di mulutnya. Jantungnya mendadak berdebar dengan hebat. Apalagi, saat ia dapat merasakan dan mendengar hembusan napas milik Jongdae yang begitu dekat. Bagus sekali, kenapa bisa begini sih?

“Kudengar dari Yoora, katanya kau sebal padaku karena belakangan dekat dengan Hanjia. Makanya, aku merasa hubungan kita terasa aneh. Aku menganggap hubungan ini bukan lagi seperti sepasang sahabat yang selalu bertukar cerita,” cerita Jongdae sambil terus menatap Aeri yang kini berusaha mengalihkan iris cokelat pekatnya ke arah lain disertai seringai yang mampu membuat bulu kuduk Aeri berdiri.

Aeri terperanjat mendengar penjelasan Jongdae. Kedua bola matanya kali ini membesar hebat. “A-apa? Yoo-Yoora mengatakan…. Astaga, anak itu!” desisnya. Skak mat, ia kali ini ketahuan. Entah mengapa, lidahnya mendadak kelu untuk mengeluarkan berbagai macam kata. Ia berusaha setenang mungkin menarik napas panjang—sebelum bermaksud untuk kembali menatap Jongdae. “Jadi, apa maumu?”

“Aku ingin meminta penegasan darimu, Ae,” Jongdae memberikan jeda sejenak. “Bagaimana perasaanmu sebenarnya padaku?”

Jantung Aeri seperti berhenti berdetak sepersekian detik saat mendengar pertanyaan yang meluncur dari bibir lelaki itu. “Apa itu penting? Dan, haruskah aku menjawabnya?” balasnya dengan nada mulai bergetar karena gugup. Bahkan, seharusnya udara dingin yang melingkupi Aeri, kini malah hawa panas berada di sekitarnya yang membuat gadis itu tak betah.

“Apa perlu aku memaksamu dengan cara mengerikan?” desak Jongdae karena sebal Aeri tak kunjung menjawab pertanyaannya. Langkahnya semakin dekat, dan kedua tangannya berhasil membuat Aeri terjebak dalam situasi yang amat tak diinginkan. Membuat pikiran kotor dan kacau beserta hipotesa konyol tentang apa yang dipikirkan Jongdae langsung memenuhi otak gadis itu.

Seketika, nada Aeri langsung memekik. “Dasar mesum!”

“Kau saja yang berpikir dangkal. Cara mengerikan yang kumaksud kan, mungkin saja menyuruhmu untuk terjun dari atap ini kan?” ujar Jongdae lagi sambil menyeringai.

Lagi. Aeri menelan salivanya saat tak sengaja terhenyak mendengar jawaban mengejutkan Jongdae. Apa benar lelaki ini tega menyuruhnya begitu? Gedung ini kan sampai lantai empat dan saat ini ia berada di atapnya. Diam-diam Aeri melirik ke bawah dan ia tak dapat melihat permukaan dengan jelas. Hanya samar-samar lampu-lampu yang menerangi. Apa ketinggiannya sampai seribu kaki? Sakit tidak ya? Pikir Aeri ngeri.

Saking terlalu sering berpikir keras, membuat gadis itu baru sadar jika stik pepero yang ia makan sedaritadi panjangnya tinggal seperempatnya saja.

Kemudian, Aeri kembali menatap Jongdae yang kini sedang menatapnya menunggu kepastian. Jantungnya semakin berdebar tak karuan. Ia berusaha memberanikan diri untuk bisa melihat Jongdae. Baiklah, harus jujur mau tak mau. “Kalau perasaanku memintamu untuk tetap tinggal bersamaku, bagaimana?”

Hening.

Karena Jongdae mulai berusaha menahan senyum, namun sulit sekali. Hingga membuat Aeri menatapnya dengan alis yang bertautan—bingung.

“Kenapa?”

“Apa benar begitu? Lalu, kalau aku menerima permintaanmu bagaimana?”

“Alasannya?”

“Perlukah itu?”

“Aku tak bisa menerima kau yang hanya bisa menerima permintaanku tanpa―”

“―Kalau alasanku menerima permintaanmu karena aku mencintaimu, bagaimana Ae?”

Tubuh Aeri seperti layaknya patung saat mendengar jawaban Jongdae kali ini. Mendadak seluruh saraf motoriknya tak bisa bekerja dengan semestinya. Jantungnya semakin berdebar dengan hebat yang akhirnya menimbulkan efek samping berupa semu merah di kedua pipinya. Jongdae terkekeh melihatnya. “Kau puas kan?”

Jongdae kini mendekati wajah Aeri, namun Aeri dengan refleks langsung mundur. Membuat tangan lelaki itu segera menahan bahu si gadis yang ada di hadapannya. “Jangan menjauh. Nanti kau jatuh. Aku mendekati wajahmu itu karena ini…”

Kedua mata Aeri seketika membelalak saat melihat Jongdae malah memakan ujung stik pepero yang ada di mulutnya. Ini tak bagus, pikir Aeri. Mendadak saja ia teringat ada sebuah film yang melakukan adegan ini dan berakhir… oke, tak perlu dijelaskan secara detail.

“Dae, ini peperoku dan pepero ini akan semakin memendek,” desis Aeri dengan napas tertahan saat wajah Jongdae dan dia tinggal beberapa sentimeter. Masih sempatnya orang ini menghitung jarak disaat situasi tak bagus seperti ini.

“Aku tahu,” balas Jongdae sambil memandang Aeri lembut. Setelah itu, ia langsung mematahkan pepero yang ia makan dan beralih mengecup kening Aeri sehingga meninggalkan krim stroberi di kening gadis itu dari pepero tadi. “Aku mencintaimu, Ae. Bagaimana menurutmu?”

Ish, Jongdae! Krimnya menempel di keningku!”

Well, sepertinya Aeri sudah tak peduli dengan jarak antara ia dan lelaki di hadapannya mulai saat ini karena ia lebih mementingkan keningnya yang masih setia dengan noda krim stroberi pemberian Jongdae.

-fin.

Halo! Fanfict ini dibuat di tengah ujian sekolah dan terkena WBS, padahal otak lagi jenuh setengah idup karena berhadapan dengan berbagai macam rumus dan teori. Mau tenggelam ke dunia fanfict macem ini, malah bablas kena WBS. Ditambah, ternyata nonton VCR ‘My Turn to Cry’—yang baru saja saya temukan di youtube bikin saya makin WBS. =__=

Semoga feelnya kena ya dan suka dengan fanfict ini dengan kondisi tulisan yang aneh dan LAGI-LAGI jongdae yang jadi sasaran saya. Maklum, bias. Wuahaha XD Terima kasih sudah membaca. Tanggapan selalu dinanti. 🙂

Thank you.

-AirlyAeri.

Iklan

2 thoughts on “Space

  1. huwaaaa kim jongdae!!!!
    aku tau. aku tau fluffnya rada2 mainstream tapi
    tapi
    KIM JONGDAE!
    uh sudahlah. jadi sebenernya kan aku keundang ke sini gara2 covernya yg bikin gak santai itu oke salahkan pikiran kotor yg menguasaiku gara2 baru buka puasa *apadah *jgn ditiru ya
    pertama dari judul dulu ya menurutku itu cukup memancing rasa penasaran. kamu tau kan kadang2 ada fic yg judulnya ‘is this really love’, ‘this is love’ dsb itu lgsg bikin males baca… *kalo misal ada fic kamu yg kayak gitu aku mohon maaf T.T caramu nyeritain ini juga detil banget, tapi mungkin ada beberapa kata yg ga efektif, misalnya ‘seperti layaknya’ (‘seperti’ atau ‘layaknya’ aja udah cukup kok ^^ ga usah dipake dua2nya), ‘kudengar dari yoora, katanya kau sebal…’ (kalo ‘kudengar dari’ mestinya ga usah dilanjutin ‘katanya’, bisa diubah jadi ‘kudengar dari yoora, kau sebal…’ gitu aja cukup).
    dan momen yg terakhir itu bikin aku panas sendiri nyahaha kim jongdae mwoya… bukan hanya bagian itu sih, dari depan aja feelnya udah kerasa. huhu aku pingin menimbulkan feel seperti ini, akhir2 ini ficku feelless/? coba
    duh aku pingin bikin fluff jadinya tapi karena aku gak pernah bener2 fangirlingan waktu bikin fic romance jadilah feelnya kurang hu.
    but anyways, great! keep writing!

    1. Hai, kakak ^^
      Aku juga tau kok kak, fluffnya memang pasaran sekali >_< hihihi
      Lalu untuk cover, aku nemu di twitter jadi langsung pake tanpa mikir. Hehehehe 😀
      Untuk judul, aku memang cukup perhitungan kak gamau yang melulu tentang 'love' jadi yah, carilah yang mendeskripsikan isi fict. Hihihi. Omong2 kak yang diantara judul yg kakak sebutin 'this is love' itu cuman sub judul dari salah satu fict-chapter aku. Hehehe 😀
      Terima kasih kak buat semua koreksinya, memang banyak sekali kalimat tidak efektif yg mengakibatkan pemborosan kata pada fict ini (dan mungkin pada fict lainnya T.T) jadi akan segera kuperbaiki ^^
      Semoga nanti kalo kakak bikin fict fluff, akan kubaca deh. Hiehehehehe 😀
      Terima kasih ya kak atas semua koreksinya dan reviewnya. 🙂

Mind to Review? ^ ^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s