Starlight

9 (1)

20150326 © AirlyAeri

Casts : Byun Baekhyun (EXO’s Baekhyun); Lee Rihwa (OC-Riri)

Genre : Fluff, Friendship, Romance ║ Rated : General ║ Length : Ficlet (969 words)

Backsound : Apink – U You

This is sequel of Darkness Night and new series of BaekHwa’s Story

***

“Sudah sejak kapan kau selalu membawa senter?”

Rihwa mendelik ke arah Aeri yang kini tengah menilik tas ranselnya yang terbuka resletingnya. Dengan segera, kedua matanya tertuju ke arah yang dimaksud oleh Aeri. Di dalam tasnya, terdapat sebuah senter berwarna biru tua diantara banyak buku, alat tulis Rihwa, dan segala keperluan penunjang kuliahnya—termasuk laptop beserta earphone-nya.

“Baru hari ini,” ungkap gadis itu singkat, berniat untuk tak membahasnya karena pikirannya kembali mengingat kejadian tadi malam dan teringat siapa pemilik senter biru tua ini.

Byun Baekhyun.

Oke, mungkin presepsi yang Rihwa dengar salah pada waktu itu. Tapi, jika Baekhyun kemarin mengatakan kejujuran sebenarnya secara blak-blakan membuat gadis itu yakin sepenuhnya bila lelaki itu tulus padanya. Namun, tetap saja ia tak percaya mengingat Baekhyun tak terlalu dekat dengannya. Hanya sebatas sebagai tetangga sebelah rumahnya dan rekan kuliah di fakultas yang sama. Memang sih lelaki itu terkenal usil dan jahil sekali kepada siapa saja dan ia termasuk yang sering menjadi korbannya. Tapi, mana bisa sih perasaan kecil yang tulus itu datang untuknya.

Masih teringat dengan jelas apa yang Baekhyun katakan padanya tadi malam.

“Aku menyukaimu.”

“Tapi, ingatlah satu hal. Kegelapan itu seperti rasa sunyi dan sepi. Dan, teman ibarat secercah cahaya yang akan menerangi kegelapan layaknya bintang di langit. Jadi, kalau kau merasa kesepian, panggil saja aku. Aku akan selalu ada untukmu. Aku janji.”

“Kalau kau mau membalas perasaanku padamu, jangan kembalikan senter yang kuberikan tadi meskipun kau sudah tak membutuhkannya lagi karena cahaya lampu telah membantumu. Kau tahu, senter itu bagaikan bintang yang sudah kaugenggam. Dan, bintangnya itu adalah aku.”

Mendadak saja Rihwa bimbang dengan keputusannya. Sungguh, pagi tadi ia ingin sekali berniat untuk mengembalikan senter itu pada si pemiliknya. Lalu, mengatakan padanya bahwa lelaki itu harus meyakinkan perasaannya kembali. Tapi, kalau mengingat apa yang ia dengar mengenai pernyataan lelaki itu tadi malam…. Oke, ia bisa gila kalau begini.

“Memangnya di kampus akan mati lampu? Kenapa kau seperti bersiap sekali sih kalau melihat senter itu mentang-mentang kau begitu benci gelap?”

Seketika lamunan Rihwa buyar dan kini memandang Aeri yang masih menyedot jus jambunya dengan semangat. Segera gadis itu mengambilkan cup bubble tea miliknya dan menyesapnya. “Yeah, mungkin saja terjadi kalau saja kampus ini belum bayar tagihan listrik.”

“Apa kau pikir kampus ini begitu miskin sampai tidak bisa membayar tagihan listrik? Yang benar saja,” decih Aeri. “Oh ya, apa setelah ini jadwalmu masih ada?”

“Tidak, tapi aku punya urusan lain. Jangan ajak aku ke manapun. Okay?” ujar Rihwa dengan cepat.

“Siapa yang ingin mengajakmu? Aku hanya ingin bilang, hari ini aku harus pergi dengan Joeun. Jadi, jangan mencariku,” balas Aeri sambil menatap ponselnya sekilas. Kemudian, ia bangkit dari duduknya. “Okay, Joeun sudah menungguku. Aku harus pergi sekarang. Sampai jumpa, Riri.”

“Hati-hati, Ae,” ingat Rihwa sambil melambaikan tangannya, membuat Aeri membalas lambaian tangannya dan kembali berbalik menjauh.

Baiklah, sekarang adalah waktu yang tepat bagi Rihwa menelaah semuanya. Tentang kejadian tadi malam, pernyataan mengejutkan lelaki itu, dan menganalisis perasaan lelaki itu yang sebenarnya. Rihwa mencoba memikirkannya sambil terus menyedot bubble tea-nya.

“Bagaimana?”

Nyaris saja saat Rihwa mendongak, ia tidak terjungkal ataupun terjatuh dari bangkunya. Bola matanya yang hitam bening kini memandang sosok yang sedang ia pikirkan akhir-akhir ini. Siapa lagi kalau bukan Baekhyun.

Dan, detik selanjutnya jantung Riwa kini tidak berdetak dengan semestinya. Mendadak jantungnya seperti berpacu kencang yang membuatnya seperti kehilangan oksigen. Apalagi saat manik mata lelaki itu tengah memandangnya.

“A-apanya?” Rihwa bertanya seolah ia tak mengingat kejadian apapun—apalagi yang terjadi tadi malam. Ia berharap lelaki ini sudah lupa dengan hal itu.

“Kau lupa atau memang tak mau mengingatnya, Riri? Apa kau berniat akan menjauhiku setelah apa yang terjadi kemarin?”

Seketika Rihwa tertohok saat mendengar ucapan yang terlontar dari bibir lelaki itu. Membuat gadis itu segera mengurungkan niatnya untuk bersikap bahwa ia lupa. Tidak, jika malah jadinya melihat lelaki dihadapannya malah menarik kesimpulan bahwa Rihwa memang tidak menyukainya.

“Ah, senter itu.” Terlebih Rihwa sangat terkejut saat mendengar Baekhyun melihat sesuatu dari dalam tasnya. Membuat gadis itu mengarahkan arah pandang Baekhyun dan kembali memandang lelaki itu. Sorot mata lelaki itu jelas sekali memancarkan kekecewaan. “Jadi, kau berniat―”

“―Aku bukan berniat untuk menyerahkan senter ini padamu. Sungguh,” tukas Rihwa cepat, membuat sorot mata Baekhyun berubah dengan cepat menjadi sorot mata ingin tahu.

“Lalu?”

Rihwa menelan salivanya sejenak—sembari memastikan dirinya sendiri tentang keputusan sebenarnya. Membuat Baekhyun terus saja menatapnya lekat. Hal itu sempat membuat Rihwa risih dan gugup setengah mati. Sungguh, jika ditanya apakah ia menyukai Baekhyun….

Masih ia pikirkan.

“Sebelumnya, aku ingin bertanya padamu,” ungkap Rihwa akhirnya. “Apa kau yakin dengan pernyataan yang kau katakan tadi malam? Apa kau bersungguh-sungguh?”

“Tentu saja. Apa kau meragukanku?” sahut Baekhyun tanpa ragu. Sedetik kemudian, bahunya kembali turun sambil menghelakan napas panjang. “Tapi, kalau kau masih belum yakin dengan perasaanku, kau bisa menyerahkan―”

“―Tidak mau!” tukas Rihwa cepat-cepat sambil memasukkan senter yang menjadi objek penting diantara ia dan Baekhyun ke dalam tasnya. Gelengan tegas Rihwa mampu membuat Baekhyun menautkan alisnya—heran.

“Kenapa?”

“Jika kau yakin dan bersungguh-sungguh terhadap perasaanmu padaku, maka aku tak perlu menyerahkan senter ini padamu. Bukankah itu artinya senter ini seperti bintang yang sudah kugenggam? Bukankah kau juga bilang bahwa secercah cahaya saja bisa menerangi kegelapan layaknya bintang? Itu artinya, bukankah kau sudah berjanji akan terus bersamaku dan melindungiku layaknya sebuah bintang yang menerangi kegelapan langit malam? Jadi, mulai sekarang kumohon jangan pergi dan membuatku tersesat di tengah kegelapan hatiku,” jelas Rihwa panjang lebar.

Sedetik kemudian, Rihwa langsung memalingkan wajahnya dari Baekhyun dengan merah cherrynya. Membuat Baekhyun terkekeh kecil dan tak dapat menahan senyum yang terukir di bibirnya saat melihat hal itu. Ini merupakan kali pertamanya Rihwa berbicara panjang lebar di depannya sendiri selain mendengarkannya sedang berpresentasi mengenai tugas di depan kelas.

Kemudian, Baekhyun perlahan meraih jemari lucu Rihwa sambil terus memandang wajah gadis itu dengan lembut. “Aku janji tak akan meninggalkanmu di tengah kegelapan hatimu. Bukankah hatimu sekarang sudah ada cahayanya sejak awal?”

-fin.

Huaah!! Finally! Berhasil bikin fanfict byunbaek di tengah perjalanan terakhir ujian sekolah. Yehet!! >_< wkwk~ Sumpah, sebenernya saya pengat banget ditengah ujian sekolah setelah try out terakhir di minggu lalu. =_= berbagai macam soal membuat otak saya ga bisa analisis sesuatu. Wkwk! #baladaanakkelas3sma

Sebenernya, saya menemukan fanfict ini masih dalam keadaan menggantung parah. Mengingat ini adalah sequel dari Darkness Night dan pengen saya jadiin series karena sudah cukup pusing dengan si Riri yang terus merengek minta bikinin ff walaupun udah dibikinin juga /selain gue juga yang janjiin bakal ada sequel/. Yah, maklum makin ngelunjak soalnya dan gue juga ga sengaja ngumbar PHP -_- wkwk .

Terima kasih sudah baca fanfict ini dengan cast byun baekhyun yang makin lama makin manly, walaupun sisi cabenya masih keliatan. Wkwk! Semoga suka ya~ 🙂 Jangan lupa, tanggapan selalu dinanti. ^^

Thank you.

-AirlyAeri.

Iklan

Mind to Review? ^ ^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s