Warming

IMG_20150421_22055920150430 © AirlyAeri

Casts : Park Chanyeol [EXO’s Chanyeol]; Kim Daehee [OC-Dian]

Genre : Fluff, Romance ║ Rated : PG-17 ║ Length : Ficlet

***

Aku menimang-nimang ponselku disaat kepalaku bersandar pada bantal sofa. Tubuhku meringkuk di atas sofa dan sesekali menggigil karena udara malam. Keringat dingin semakin mengalir dan mulai membasahi pelipis dan kedua tanganku.

Tadi pagi Ibu datang dan mengatakan bahwa hari ini aku demam. Aku tahu itu, tentu saja. Sejak kemarin malam aku memang sudah memiliki firasat aneh saat aku merasa kepalaku pening sekali dan rasanya ingin tidur selama mungkin, kalau saja aku tidak ingat bahwa aku juga manusia yang butuh makan saat lapar.

Tapi, sore tadi Ibu bilang bahwa ia harus kembali ke Tokyo sebentar karena mendadak Ayah memanggilnya. Membuatku kembali sendirian di apartemen ini dan tak tahu harus berbuat apa meski perutku sudah marah-marah minta untuk diisikan sesuatu. Kepalaku terlalu pening untuk melakukan apapun—apalagi memasak bila situasinya seperti ini. Sebenarnya masih ada pilihan yang lain jika aku lapar meski demam; pergi ke supermarket untuk membeli roti dan susu agar perutku segera terisi tanpa proses yang lama, atau memesan makanan cepat saji dan aku bisa makan samapai kenyang.

Tapi, itu sama saja tak ada pilihan kalau saat seperti ini—karena aku masih merasa sakit dan bukan karena faktor malas.

Kulirik meja yang penuh dengan butiran tak jelas beserta air. Ibu tadi sudah menyerahkan obat paracetamol padaku, tapi tetap saja obat itu masih utuh tanpa ada satupun bungkus yang terbuka. Oke, aku benci obat dan aku tak mau minum obat kalau begini. Dan aku sempat sebal setengah mati karena Ibu datang di saat yang tidak tepat—karena aku sedang sakit. Praktis saja Ibu khawatir setengah mati dan membelikan aku banyak obat tanpa makanan.

Kutarik napas perlahan sambil menekan keyboard touchscreen ponsel. Baiklah, aku harus menghubunginya.

‘Brak!’

“Di, kau sakit?”

Kudongakkan kepalaku dan menatap pria jangkung yang sudah berdiri di depanku dengan kepala menunduk. Lelaki itu perlahan menekuk kedua lututnya dan menyentuh keningku. Aku hanya bisa bernapas lega saat melihatnya.

Panjang umur.

“Yeol, aku―”

“―kau demam. Aku tahu,” tukasnya tanpa ragu. “Ibumu memberitahuku tadi. Makanya aku langsung ke sini. Dan ya ampun, wajahmu pucat seperti orang mati. Sudah makan belum? Akan aku buatkan bubur untukmu.”

Tanpa menjawab pertanyaannya pun dia akan tetap melakukannya. Jadi, lebih baik aku diam dan memikirkan betapa sialannya sakit kepala menyerangku tanpa ampun.

“Di, kau bisa duduk tidak? Buburnya sudah siap.”

Aku membuka kedua mataku dan terkejut sebentar saat tahu lelaki itu sudah duduk di sofa dengan buburnya. Cepat sekali.

Perlahan aku mengubah posisiku menjadi duduk—walaupun dengan sangat susah payah bahkan Chanyeol membantuku. Kutatap buburnya sekilas kemudian menelan saliva yang masih teronggok di dalam mulutku. Pahit.

Mendadak aku tak nafsu makan.

“Aku―”

“―tidak nafsu makan? Tidak lucu, Nona Kim Daehee. Kau sudah membuatku repot telah memasak bubur ini dan kau tak memakannya. Ditambah wajah pucatmu yang begitu mengerikan, Di. Kau belum makan kan sejak tadi? Dan kau juga belum minum obat pemberian ibumu kan? Tidak boleh terjadi. Kau harus makan dan minum obat. Perlu kusuapi?”

Belum sempat berkata apa-apa, rentetan ucapan Chanyeol yang terdengar seperti kereta api membuatku semakin pusing. Oke, pria ini bisa lebih cerewet dari Ibu. Kesimpulannya, dia juga tak boleh tahu aku sakit seharusnya dan lain kali aku harus lebih teliti. Jangan sampai dia tahu lagi.

Aku menggeleng saat tangannya terangkat mengambil mangkuk berisi bubur dan mengayunkan sendok itu ke araku. “Yeol, ini tidak―”

“―ayo makan. Kau yang tidak lucu, Di.”

“Tapi, Yeol―”

“―hanya dua suap, Di. Setelah itu kau boleh tidur lagi dan tak perlu meminum obatnya. Oke?”

Aku menghelakan napas panjang. Lelaki ini pintar bernegosiasi denganku. Perlahan kubuka mulutku dan menelan bubur yang disuapkan oleh Chanyeol. Oke, perutku setidaknya sudah ada isinya mulai sekarang.

Saat suapan ketiga aku putuskan untuk menghindar karena dirasa sudah lebih baik. “Sudah―”

“―tidak. Habiskan semua agar kau cepat pulih.”

“Oh, ayolah, Yeol. Aku―”

“―setelah ini kau boleh tidur. Terakhir kalinya, sungguh.”

Kukembali menghelakan napas dengan kasar kali ini. Di saat seperti ini yang paling tidak enak adalah tidak bisa membalas ucapan Chanyeol dan mau tak mau harus tetap menurutinya. Jika tidak, maka rentetan kalimat seperti kereta api yang baru saja melewati stasiun akan keluar dari mulutnya.

Dengan susah payah kutelan semua buburnya sampai suapan terakhir dan membuat Chanyeol puas melihat hasilnya.

“Kau melakukannya dengan baik, Di. Kemari, kau mau tidur kan?” tanya Chanyeol sambil tersenyum setelah aku meneguk air putih sampai habis.

Aku mengangguk dan membiarkannya menarik tanganku agar aku bisa menyandarkan kepalaku di bahunya. Aura hangatnya terpancar begitu saja dan membuatku amat nyaman. Kueratkan segera kedua tanganku di lengannya.

“Kau merindukanku ya, Di? Sampai memeluk lenganku seperti itu.”

“Aku ingin tidur dan jangan ganggu aku, Yeol. Tapi jangan ke mana-mana.”

“Baiklah. Selamat malam, Di.”

Tubuhku membeku saat kurasakan bibir Chanyeol mengecup pipiku. Dan perlu kutelan udara karena saat ini mulutku sedang kering saliva. Entah mengapa, udara hangat semakin melingkupiku saat Chanyeol melakukan hal itu.

Sial. Hal manis malah terjadi saat aku sakit.

-fin.

Requestan Dian udah dibuat khusus Chanyeol. Untuk sementara, ngantri yah ceman-ceman. Saya sedang sakit kepala. Pusing pala yixing nih soalnya /what?-_-/ wkwk. Ditambah saya baru nemu inspirasi ide melalui sakit kepala ini. /edisisakitkepalamembawaberkah/ #TerimaKasihYaAllah 😀 Oke, saya minta reviewnya yah setelah saya nulis ini dengan rasa sakit kepala saya =_=v Terima kasih sudah membaca! XD

Note : untuk Berly dengan permintaan sequel ‘Apple Heart’nya, tunggu aja yah. Masih mikir alurnya. Wkwk

Thanks

-AirlyAeri.

Iklan

4 thoughts on “Warming

  1. Aaaaahh, so sweeeet. Thanks Ae-ya… Ditambah sama musik instrumen nya, tambah menghayati. Huaaaa, bikinin lagi yaw hehehehe…

    1. sama-sama, tapi =____= ga bisa janji bakal bisa bikinin lagi. jangan minta dulu karena lo udah 😛 wkwk makasih sudah komen Di! /ngikutincarapanggilyeol/ wakakakakaka XD

      1. oke oke siiip. Nanti bakal gue tagih kalau udah pada kelar buatin temen-temen elo. Hahaha Pacar gue tah ^^

Mind to Review? ^ ^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s