Hujan di Februari

rainbow umbrella

20150208 © AirlyAeri

***

“Apa kau baik-baik saja? Bagaimana kabarmu hari ini?”

Kuhelakan napas panjang kala rintik hujan masih mengguyur kota dengan deras. Kubiarkan kedua tanganku menggenggam segelas kopi hitam pekat yang sudah tak lagi mengepulkan asap panas akibat udara dingin hujan yang menusuk. Dan, tubuhku masih tetap setia duduk di sebuah halte bus yang amat sepi.

Hari ini sudah memasuki bulan Februari, bulan yang seharusnya dipenuhi oleh cinta.

Mataku terus saja menatap lurus ke arah tetes-tetes air hujan yang tak kunjung reda.

“Apa saat ini kau sedang bersembunyi di balik awan kelabu itu dan menangis?” ucapku bermonolog.

Mataku masih saja terfokus pada percikan-percikan air yang baru saja jatuh.

“Tadi malam kau secara kebetulan datang padaku dan memelukku,” ucapku pelan. “Lalu, mengatakan selamat tinggal.”

“Selalu seperti itu. Apa kau ingin melihat diriku menangis karena kau tak ada di sini?”

Kali ini pandanganku terarah ke atas langit yang dihiasi awan-awan kelabu dan kembali kukeluarkan pembicaraan monolog. Tetes demi tetes terus saja berjatuhan dari langit dan sesekali, terkadang tampak pula kilat dan suara petir yang menyambar-nyambar mampu memekikkan telinga.

“Kumohon, jangan lakukan hal ini padaku.”

Kusesap kopi hitam setelah sekian lama kubiarkan mendingin karena udara dingin yang semakin lama semakin menusuk, hingga kulitku yang tak terbalut oleh sweater wol milikku harus menggigil dan ikut terbalut oleh hawa udara dingin. Cairan hitam dan dingin seketika menyambut lidah dan kerongkonganku yang mengering.

Pahit.

Itulah yang kurasakan saat ini.

“Aku benar-benar mengkhawatirkanmu. Apa kau tahu itu?”

Hening.

Karena tak ada siapapun yang akan menyahuti ucapan monolog milikku.

Tanpa sadar, airmataku mengalir tanpa perintah. Kuhirup dalam-dalam seluruh oksigen ditengah udara dinginnya hujan sambil menyeka air mata yang datang tanpa permisi. Sungguh, tampak sekali kali ini aku benar-benar seperti orang bodoh.

Dingin.

“Kau tahu bagaimana aku tidak bisa dengan mudah melupakanmu hanya karena aku tak bisa melihatmu hari ini.”

Perlahan, rasa sedih kembali memenuhi ruang hatiku. Membuat kedua pelupuk mataku kembali menggenangkan cairan bening—yang sebenarnya tak kuinginkan. Siluet kumpulan memori tentang kebersamaan kami yang tak berarti apa-apa kembali berkelebat di otakku tanpa perintah. Dan pada akhirnya, perasaan yang selalu kusembunyikan kembali teringat.

“Semuanya terasa seperti kemarin. Kenapa aku masih merasa kau ada di sini?”

“Risa.”

Seketika, aku terdiam dan menoleh ke segala arah. Namun, tak ada siapapun. Hanya ada suara tetes-tetes air beserta percikannya dan hembusan angin kencang.

Sedetik kemudian, aku tersadar dan hanya bisa tersenyum kecil. Suara itu. Suara milikmu bahkan masih terdengar di telingaku.

“Dennis..” gumamku seraya memejamkan kedua mataku. “Sungguh, atas nama teman aku membenci situasi ini, Dennis. Kisah diantara kita hanya berupa tumpukan cerita yang memilukan akibat kesalahan terbesarku. Dan kesalahan terbesarku adalah terlambat untuk mengatakan perasaanku sebelum kau pergi.”

Terdengar kembali hembusan angin. Kupandangi langit yang masih ditemani oleh awan kelabu. Perlahan, senyum getir kembali terukir di bibirku.

“Meski cerita kita sudah berakhir sebelum semuanya dimulai, aku akan tetap selalu mencintaimu, Dennis. Meski kau tak pernah mendengar pernyataan konyol tentang perasaanku selama tiga tahun terakhir ini, aku akan tetap selalu mencintaimu…”

Bersamaan dengan selesainya ucapanku, perlahan tetes-tetes air sudah tak lagi jatuh sederas tadi ke bumi. Hembusan angin yang awalnya kencang juga perlahan memelan dan hanya menjadi angin sepaoi-sepoi yang sejuk sehabis hujan deras. Dan, awan kelabu yang tadinya masih menggumpal, perlahan bejalan dengan pelan namun pasti meninggalkan kota. Bagaikan sebuah awan hitam yang telah pergi membawa botol berisi surat lisan dariku untuknya yang di sana.

Semoga kau mendengarnya, Dennis.

-fin.

Merupakan karya tulis yang diikutsertakan dalam lomba yang diadakan oleh nulisbuku.com yang bertemakan ‘Kasih Tak Sampai’. Mengalami nasib yang sama seperti cerpen sebelumnya yang ikut berdebu di folder. -_-

Terima kasih sudah membaca dan tanggapan selalu dinanti. ^^

Iklan

3 thoughts on “Hujan di Februari

Mind to Review? ^ ^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s