Small Feeling

tumblr_m2z1di2q7Q1qbsd4uo1_500

20140720 © AirlyAeri

***

“Ra!”

Aku tersentak kaget. Segera, aku menoleh ke arah teman-temanku yang kini sedang memandangku dengan maklum, Junia, Hani, dan Sera. “Hah?”

“Kerjain laporan kimianya! Jangan lihat ke luar terus!” seru Hani dengan nada galak. “Mentang-mentang ada Arfi.”

Ah, kenapa Hani jadi sejahat ini sih? Kan gue ga salah, pikirku seraya memasang wajah bersungut-sungut dan kembali terpaku pada laporan kimia yang harus dikumpulkan esok hari. Jadi, sekarang adalah waktu yang tepat untuk menyelesaikan laporannya. Namun, tetap saja kedua mataku tak fokus dan tak bisa berhenti melirik ke luar jendela. Lebih tepatnya ke arah lapangan sekolah yang kini sedang dipakai oleh seorang cowok dengan pakaian olahraganya bermain bola basket.

Entah sudah berapa kali aku selalu melakukan ini. Memandang cowok itu dari jauh dan jantungku berdebar ketika tatapan matanya tertuju ke arahku―suatu perasaan aneh yang selalu muncul. Sudah sejak lama aku memendam perasaan aneh ini yang tak bisa dijelaskan secara detail pada cowok itu.

***

“Hai.”

Aku pandangi cowok yang kini sedang berjalan menghampiri mejaku dan duduk di sampingku. Aku hanya memberikan senyum simpul ketika melihatnya.“Hai juga.”

Hening sejenak.

“Ara, lu udah belajar belum?” tanya Arfi padaku.

Aku hanya mengangguk pelan. “Udah sih. Tapi..”

“Kenapa?”

“Gue masih belum yakin. Keluar gak yah materi yang gue baca kemaren?”

“Udah pede aja kali. Mungkin aja keluar.”

“Lu sendiri udah belajar?”

“Udah. Tapi, kayaknya belum masuk.”

“Oh, gitu.”

Aku kembali mengarahkan pandanganku ke arah buku yang masih kubaca. Hari ini merupakan hari pertama ujian tengah semester kelas sepuluh. Hal yang paling tak pernah kusangka adalah sistem bangku yang digunakan oleh sekolah ini adalah tetap satu kelas sesuai absen yang tercantum.

Nomor absenku nomor satu. Tapi, aku tak pernah menyangka jika ujian tengah semester pertama di sekolah menengah atas cowok ini yang akan duduk denganku.

“Arfi,” panggilku. “Nanti kalau gue gak bisa, gue nyontek ya?”

“Harusnya gue yang ngomong gitu, Ra. Ini aja belum masuk materinya.”

Aku menoleh sekilas ke arah cowok itu. Untuk pertama kalinya, aku mendengar dia memanggil nama panggilanku. Entah perasaan apa namanya yang muncul, tapi aku merasa senang sekali.

***

“Aaaaaa.”

“Sstt!”

Aku menoleh ke arah cowok itu dengan heran. Memandangnya yang kini sedang menulis jawabannya di lembar jawaban. Saat ini, adalah pelajaran fisika. Satu pelajaran yang menurutku paling menyebalkan, karena sejak dulu aku belum pernah bisa menaklukan pelajaran itu dengan baik.

“Arfi, lu inget cara nomer 18 gak? Kasih tau dong,” kataku pelan seraya melirik ke arah pengawas yang sedang berkeliling.

“Mending lu liat jawaban gue aja deh,” ucapnya tanpa menoleh ke arahku.

“Aiih, lama! Kasih tau aja caranya di kertas soal punya lu,” desakku. Kulihat, jam dinding kini sudah menunjukan pukul 08.16. 14 menit lagi! Teriakku panik dalam hati

Akhirnya, dia menyerahkan caranya padaku melalui soal miliknya. “Dihapus ya.”

Setelah aku mendapat jawabannya –tentu saja memakai cara yang diberikan oleh Arfi, kulihat ia melirik ke arahku. Ia mencocokan jawabannya denganku. “Jawaban nomer 18 C, kan?”

Aku menggeleng pelan. “Bukan. Itu nomer 18 jawabannya B.”

“Kenapa B?”

“Lu juga kenapa C?”

Aku menghelakan napas dengan kasar. Baiklah, sekarang bukan saatnya untuk berdebat masalah jawaban soal ujian. Tapi kan kalau sudah seperti ini, mau tak mau aku juga harus mengecek jawabannya dan meminta penjelasan darinya alasan kenapa ia memilih jawaban seperti itu menurutnya.

“Iyalah. Lu salah di sininya. Gue kayak gini nih.”

Aku mulai menunjukkan jawabanku secara menjelaskannya dengan suara pelan. Tak mungkin keras-keras juga jika aku masih ingin selamat dari teguran guru.

“Oh, gitu. Oke, makasih ya.” Arfi berucap yang langsung membuyarkan lamunanku.

Aku mengangguk pelan. Yah, mungkin juga karena sisa waktu yang semakin sedikit hingga waktu sudah habis. Dan, lagi-lagi sikap kekanak-kanakan kami kembali muncul saat mendengar jawaban dari soal milik kami berbeda.

“Jawaban gue A.”

“Jawaban gue D.”

“Emang lu tau darimana?”

“Kan udah gue kasih tau materinya. Gimana sih.”

“Woy, berisik banget sih yang paling depan!”

Aku langsung mendekap mulutku dan kembali ke posisi duduk semula. Mencoba bersikap normal agar tidak ketahuan oleh pengawas. Sementara, Arfi mencoba menahan tawanya. Tindakan kekanak-kanakan ini, entah kenapa aku menyukainya.

***

“Ra, sekarang giliran lu sama Arfi. Ayo, siap-siap!”

Sera mulai berteriak seraya menepuk tangannya dengan naskah ‘Bawang Merah dan Bawang Putih’ untuk drama bahasa inggris. Berkat tugas drama bahasa inggris itu, aku bisa kembali sekelompok dengan Arfi. Satu hal yang belum pernah kuduga sebelumnya.

“Oke, gue jadi peran yang mana nih?” tanyaku pada Sera.

“Ibunya bawang merah. Arfi jadi bapaknya bawang putih. Siap ya!”

Aku memandang Arfi yang kini sedang membaca naskahnya. Dan, aku juga mengikuti sikapnya. Namun, keningku langsung berkerut ketika tak menemukan dialog untuk peran ibunya bawang merah yang begitu jahat itu. Aku menghelakan napas kesal karena tak kunjung menemukannya.

“Sera, mana dialog―”

Kurasakan, kepalaku seperti diusap oleh seseorang. Saat kulihat, kini Arfi sedang tersenyum ke arahku seraya membaca dialognya di naskahnya. Dan, detik selanjutnya tubuhku berhenti bergerak dan terdiam kaku.

“Kayak gini kan contohnya?” tanyanya padaku. “Ini sesuai naskah.”

Dan, untuk pertama kalinya jantungku berdebar-debar tak karuan dan wajahku memerah ketika melihat wajahnya yang tersenyum manis itu. Aku merasa hatiku seperti sedang tersambar sesuatu dan terbuka begitu saja. Perasaan aneh tiba-tiba datang menghampiri hatiku begitu saja. Inikah… jatuh cinta?

***

Aku hanya bisa menghelakan napas panjang ketika mengingat potongan-potongan memori lama yang masih bisa kukenang itu. Berbagai macam potongan peristiwa yang terjadi sekitar setahun yang lalu membuatku merasa bila aku ini hanya temannya. Ditambah, sikapku tergolong pemalu membuatku tak mudah untuk kembali mengajaknya mengobrol layaknya teman lama setelah berpisah kelas. Ini semacam perasaan cinta terpendam yang cukup menyakitkan. Inti kata, aku tak pernah bisa mengungkapkannya. Kisah cinta yang gagal, menurutku. Sungguh menyedihkan.

“Jangan gitu, Ra. Itu sama aja lu ngebuang satu kebahagiaan lu sendiri. Gak bersyukur,” kata Sera tiba-tiba membuyarkan lamunanku.

“Dia tuh bukannya ngeluh, Se. Tapi, dia kangen sama yang di sana tuh,” celetuk Junia seraya menunjuk ke arah luar jendela dan memandangku dengan tatapan menggoda.

“Apaan sih?” gerutuku pelan.

“Panggilin aja, Jun. Biar si Ara semangat,” sahut Hani tiba-tiba sembari tersenyum memaklumi padaku.

“Biar gue aja yang panggilin! Biar gue aja!” pinta Sera dengan nada menggebu-gebu. “Gak seru kalau gak dipanggil langsung orangnya.”

Kulihat, Sera langsung berjalan menuju jendela dan membukanya lebar-lebar diikuti oleh Hani dan Junia. Sontak saja, aku langsung membulatkan kedua mataku. Ditambah, teman-teman Arfi yang menjadi teman bermain basket, kini mulai menjauh menuju kantin. Perasaanku semakin panik.

“Kalian serius?!” tanyaku. “Jangan ih! Malu-maluin!”

“Udahlah, Ra. Sekali-kali, gak apa-apa,” kata Hani sambil nyengir. “Biar lunya juga semangat ngerjain tugas laporan kimianya. Kita kan gak mau hasil laporan kimia kelompok kita jadi jelek, cuman gara-gara lu mikirin satu orang aja semacem Arfi.”

“Eh, itu tuh si Arfi!” teriak Junia tiba-tiba.

Aku langsung pura-pura tak dengar dan berusaha terfokus pada tugas laporan kimia yang ada. Aku berusaha tak peduli dengan keadaan sekarang. Tapi, aku juga tidak bisa tidak peduli. Aku yakin sekali, mereka pasti akan melakukan hal itu.

“Arfi!!”

Suara Sera kini benar-benar terngiang di kedua telingaku dan seketika tubuhku mulai membeku. Sera beneran manggil Arfi! Sera beneran manggil Arfi! Teriakku panik dalam hati. “Sera!!!” teriakku pada Sera yang oktafnya lebih tinggi daripada teriakan Sera tadi.

Kulihat, Sera sama sekali tak menoleh ke arahku dan aku terdiam sejenak―berpikir apa yang telah aku lakukan tadi. Bodoh! Kenapa gue harus teriak juga sih?! Kalau kayak gini kan, gue juga yang malu! Panikku lagi dalam hati setelah melakukan ‘suatu efek yang salah’. Segera, aku berlari ke arah mereka dan hendak menutup mulut Sera sebelum kembali berteriak.

“Apa?”

Terdengar, suara Arfi datar saat aku sampai di jendela. Seketika, seluruh teman-temanku terdiam dan memandangku sekilas. Kini, aku harus mengatakan kalau itu bukan apa-apa agar tak terjadi salah paham yang aneh.

“Bukan apa-apa!”

Entah apa yang membuat suaraku mendadak hilang, hingga berbicara seperti itu saja hampir tidak terdengar. Namun, aku bisa melihat reaksinya dengan jelas. Seharusnya yang dilakukan Arfi adalah hanya mengangguk seraya mengatakan ‘Oh’ dan kemudian, kembali melakukan aktivitasnya kembali. Tapi, ini jauh diluar dugaanku.

Arfi malah membalas lambaian tanganku seraya tertawa renyah padaku, kemudian kembali bermain bola basket. Detik-detik setelah itu, tubuhku malah membeku―seolah sulit sekali untuk digerakkan. Sementara, teman-temanku terdiam memandang Arfi dan menoleh ke arahku dengan pandangan terkejut.

“AAAA!!!” teriak mereka serempak.

“Apaan sih?!” teriakku kemudian setelah seluruh tubuhku berhasil terkendali dan mencoba menarik semua udara yang ada. Dadaku entah kenapa terasa sesak setelah kejadian tadi. Mungkin selama tubuhku kaku, aku sama sekali tidak bernapas.

Kulihat, mereka semua memandangku dengan tatapan menggoda. “Aah, gak usah munafik deh lu! Pasti lu sekarang seneng banget. Udah sana, kerjain laporan kimianya,” suruh mereka serempak.

Mereka tetaplah jahat, gue kembali disuruh rodi untuk mengerjakan tugas. Menyebalkan, keluhku dalam hati. “Mendingan laporan kimianya gue bawa pulang aja deh. Gue kerjain aja di rumah,” kataku.

Kulirik arlojiku yang kini menunjukkan pukul 15.47. Waktu sudah sore, terlihat sekali kini langit berwarna jingga.

“Oh ya, gue mesti pulang duluan nih,” kata Sera tiba-tiba. Diikuti oleh Hani dan Junia yang beralasan untuk pulang lebih dulu. Alasannya hampir sama persis dengan Sera.

“Yaudah sana, pulang duluan! Udah bikin gue malu, sekarang gue ditinggal. Sana!” usirku kesal.

Dan, mereka hanya memamerkan gigi mereka, kemudian berpamitan padaku sebelum meninggalkan kelas. Kini, tinggal aku sendirian di kelas. Ck, kulihat kertas HVS, pensil, pulpen, penghapus, dan penggaris tergeletak di mana-mana. Dengan malas, kurapihkan semua itu.

“Ara! Awas!”

Tiba-tiba, sebuah benda keras mengenai kepalaku dan memantul ke arah dinding kelas. Sebelum hendak berteriak keras, aku menoleh ke sumber benda keras―yang diketahui ternyata adalah sebuah bola basket. Terdapat sesosok cowok yang sedang berdiri di ambang pintu dan memandangku sejenak. Pandangan matanya mampu membuatku terdiam kaku. Arfi.

Kulihat, ia langsung berlari menghampiriku seraya memandangku dengan pandangan khawatir dan panik. Tangannya yang kokoh dengan cepat langsung menyentuh keningku. “Lu gak apa-apa? Sakit ga? Maaf ya.”

Hening sejenak.

“Biru gak?” tanyaku pelan seraya memandangnya.

Setelah saling terdiam, kami duduk di atas meja. Suasana canggung lebih menyeruak dari biasanya. Dan, aku bukanlah tipe yang suka akan suasana canggung. Ah! Aku teringat kejadian Sera yang meneriaki namanya. “Maaf ya, tadi temen-temen gue manggil elu. Mereka lagi gak jelas.”

“Gak apa-apa kok,” jawabnya singkat. “Lu gak pulang? Udah sore,” ucapnya tiba-tiba.

Aku memandangnya sejenak. Yah, gak mungkin juga gue ngaku, kalau gue belum pulang karena dia, pikirku. Mau ditaruh di mana wajahku kalau begitu. “Iya. Mau pulang kok,” ucapku pelan. Kemudian, aku mengambil tasku dan hendak meninggalkan kelas. Yah, yang penting gue udah minta maaf atas kejadian tadi. “Gue pulang dulu, ya.”

“Oh ya, lu kok jadi pendiem sih? Biasanya cerewet banget,” kata Arfi tiba-tiba.

Sontak saja, langkah kakiku terhenti dan mencoba mencerna pernyataannya. Ya Tuhan, aku harus menjawab apa? “Gue kan bertransformasi jadi manusia aneh.” Aku terdiam saat mendengar jawaban spontanitasku. Aah, gue pasti disangka manusia aneh beneran lagi! Pikirku.

“Lu aneh, tapi gue juga gak bisa berhenti buat suka sama lu.”

Oh? Sontak, aku menoleh ke arahnya dan kulihat ia sedang tersenyum manis. Aku memandangnya untuk memastikan bahwa pendengaranku tak salah atas apa yang ia ucapkan.

“Percaya gak?” tanyanya pelan. “Soalnya, gue belum pernah nembak cewek. Dan, gue takut lu nolak gue. Jadi, gue anggep itu gagal,” ungkapnya polos.

Aku berpikir sejenak. “Gue juga belum pernah ditembak cowok,” ungkapku juga dengan nada polos. “Eh? Kalau ‘ditembak’ mati dong?”

Kulihat, ia langsung tertawa lepas. Kemudian, ia berjalan menghampiriku dan mengusap keningku yang terkena bola basket seraya memandangku dengan tersenyum. Ini adalah jarak terdekat saat aku bisa melihatnya. “Emang itu penting ya? Yang penting, gue suka sama lu. Itu aja. Maaf ya, sakit gak keningnya?”

Aku terdiam sejenak memandangnya. Kemudian, membalas senyumnya seraya mengangguk. Tak kusangka, pikirannya semacam itu juga sempat terlintas dipikiranku. Tapi, ternyata akhirnya tidak gagal, perasaan kecil berharga itu membuktikannya. “Enggak kok. Soalnya, gue juga suka sama lu.”

“Beneran?” tanya Arfi memastikan―tentu saja dengan nada sedikit kaget. “Serius?”

“Serius,” ungkapku seraya tersenyum. “Udah ah, gue malu tahu gak buat ngaku kayak gini. Gue mau pulang!” Aku langsung berbalik dan berjalan cepat sembari menutupi wajahku dengan kedua tanganku sebelum resmi berubah warna seperti tomat rebus. Blush!

“Hei! Tunggu!”

Bahkan, saat aku sudah sampai gerbang sekolah teriakan Arfi masih dapat dijangkau oleh telingaku. Ya, Tuhan memang menciptakan semuanya dengan sempurna dan indah. Termasuk, perasaan kecil ini.

-fin.

Merupakan sebuah cerpen yang diikutsertakan untuk lomba menulis yang diadakan oleh nulisbuku.com yang bertemakan ‘Love Never Fails’. Daripada berdebu di folder pribadi, mending diposting aja. Oh iya, ada beberapa adegan yang diambil juga dari cerpen sebelumnya yang berjudul ‘Just…’

Terima kasih sudah membaca dan tanggapan selalu dinanti. ^^

Iklan

2 thoughts on “Small Feeling

Mind to Review? ^ ^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s