YiHwa’s Cut : Moonlight

20150624 © AirlyAeri

Casts : Zhang Yixing [EXO’s Lay]; Lee Rihwa [OC-Riri]

Genre : AU, Romance, Fluff ║ Rated : PG-17 ║ Length : Oneshot [1500+ words]

Backsound : Ailee – Love Note [Full House 2 OST.]

This is prequel of YiHwa’s Cut : Evening Story.

***

Di bawah rembulan malam dekat halte dan persimpangan bangunan kafe, aku melihatmu.

Kala itu, aku baru saja pulang dari kantor karena kondisiku sedang buruk. Membuat otakku tak bisa berpikir jernih dalam menyelesaikan komposisi musik yang harus kubuat sebelum waktunya. Aku hanya bisa menghelakan napas panjang saat mengingatnya.

Langkah kakiku baru saja menyusuri persimpangan jalan yang di sana terdapat bangunan kafe klasik dan sebuah halte yang tak berpenghuni. Tak ada hal yang menarik di sana, namun yang menarik perhatianku adalah seorang gadis yang kini sedang tertidur dengan posisi terduduk di bangku halte. Entah ada gerangan apa, langkah kakiku segera berjalan menghampirinya.

Gadis itu sudah terantuk berkali-kali, tapi tampaknya ia tak peduli dan tetap melanjutkan aktivitasnya. Membuatku tak ragu segera duduk di sampingnya dan dengan pelan kupindahkan kepalanya untuk bersandar di bahuku. Entah perasaan apa yang melingkupi hatiku kini, tapi aku merasa bahagia sekali.

Kulirik wajah gadis itu sekilas sebelum melirik ke arah tumpukan kertas berisi jurnal-jurnal berita dengan sebuah label yang tertera di sana.

Label itu bernama Lee Rihwa.

Kupandangi jalan raya yang kini tak lagi seramai tadi. Menunjukkan bahwa sebentar lagi waktu akan menyentuh tengah malam. Hingga akhirnya kurasakan bahuku terasa ringan dan membuatku segera menoleh ke sebelahku.

“Sudah berapa lama aku tertidur?” gumamnya tak jelas.

Kulirik arlojiku sebentar yang sudah menunjukkan pukul 23.14. “Sudah sekitar satu jam.”

Gadis itu mengerutkan kening, sebelum menoleh ke arahku. Wajahnya mendadak terkejut dan dengan cepat segera membungkuk meminta maaf. “Maafkan aku, maafkan aku, Tuan. Aku pasti sudah merepotkanmu.”

Aku menggeleng pelan seraya tersenyum. “Tidak sama sekali. Omong-omong, hari sudah semakin malam, Nona. Bus terakhir sudah lewat. Di mana rumahmu?” ungkapku ramah.

Gadis itu hanya tersenyum kikuk. “Tak jauh dari sini kalau berjalan kaki. Tuan sendiri di mana?”

“Sama denganmu. Bagaimana bila kita berjalan bersama? Seorang gadis tak baik bila berjalan sendirian malam-malam begini.”

Gadis itu tertawa renyah. Dan sungguh, tawa gadis itu mampu membuat jantungku berdebar-debar. “Ide bagus. Setidaknya aku tak merasa sendirian. Omong-omong, nama Tuan siapa?”

“Zhang Yixing. Kau?”

“Aku Lee Rihwa.”

Dan di bawah rembulan itu pula yang menjadi saksi pertemuan pertama kita.

***

“Tuan Zhang. Katanya ada seorang wartawan yang ingin melakukan wawancara dengan anda. Saat ini ia sedang berada di lobby.”

Kulirik arlojiku yang sudah menunjukkan pukul 18.12. Membuat keningku berkerut heran barang sejenak. Biasanya wartawan yang akan mewawancaraiku di waktu jam makan siang dan akan menanyai mengenai karir mapanku sebagai seorang komposer muda yang sukses menciptakan berbagai macam musik dan berhasil meraih berbagai macam penghargaan yang tak terhingga. Tapi, bila mewawancariku pada saat jam begini, membuatku sedikit takut.

Apa benar ini wawancara sungguhan?

“Aku akan segera datang ke sana,” ujarku kemudian setelah berpikir panjang.

Kuputuskan untuk segera membereskan seluruh pekerjaanku dan keluar dari ruanganku menuju elevator. Mendadak saja aku penasaran wartawan seperti apa yang rela datang di waktu begini.

Baru saja langkah kakiku keluar dari elevator ketika sampai di ruangan lobby, mataku mendapati seorang gadis yang sibuk menulis di kertas-kertas yang dijepit oleh papan. Seulas senyum seketika mengembang kala tahu siapa wartawan itu.

“Nona Lee Rihwa.”

Gadis itu mendongak dan lagi-lagi ia terkejut kala melihatku. Membuatnya dengan refleks bangkit dari duduknya dan membungkuk hormat padaku. “Apa kabar, Tuan Zhang. Apa yang anda lakukan di sini―eh, tunggu.” Gadis itu kembali mengecek kertasnya dan kedua matanya membesar hebat saat ia menyadari sesuatu. “Tuan Zhang Yixing… anda seorang komposer?”

Aku hanya bisa tertawa lucu kala melihat wajah polosnya. Ya ampun, lucu sekali gadis ini. “Bagaimana jika kita lakukan wawancaranya di tempat santai? Di kafe dekat halte tempat kau pulang mungkin?”

Akhirnya, kami saling duduk berhadapan dengan sajian dua cangkir kopi hangat. Tampak sekali gadis itu mendadak kikuk selama ia memberikan pertanyaan padaku. Setelah selesai, kami memutuskan keluar dari kafe tersebut. Kulihat gadis itu membungkuk padaku.

“Maaf sekali Tuan Zhang bila ini mengganggu waktumu―”

“―Riri.”

“Ya?”

Gadis itu mengerjapkan matanya sejenak kala aku memanggilnya dengan cara yang berbeda. “Kau…”

“Bukankah seharusnya kita sudah saling mengenal? Kenapa harus formal?” ucapku polos sambil bersedekap. “Dan lagipula, aku lebih tua darimu.”

Kini gadis itu mulai tertawa dan tawanya kini terdengar lebih ringan dari sebelumnya. Tawa yang sepertinya perlahan akan membekas di telinga dan otakku. “Baiklah, Yixing Gege. Terima kasih juga telah memanggilku dengan nama kecilku.”

Lagi. Kulirik sinar bulan yang masih bersinar terang. Menegaskan bahwa ia menjadi saksi bahwa gadis itu memang menarik dan aku siap memperhatikannya. Panggilan kakak darinya entah kenapa menjadi terasa lebih special bagiku.

***

Malam berikutnya, aku baru saja berjalan keluar kantor dan hendak duduk sebentar di halte kalau saja aku tidak tahu bahwa Rihwa juga sedang duduk di sana.

“Bagaimana? Sudah kaugarap hasil wawancara denganku?”

Rihwa mendongak ketika ia sedang asyik menyantap sebuah kudapan cupcake dengan whipped cream di atasnya dan sempat tersedak hingga aku memutuskan untuk duduk di sampingnya. Lalu, kukeluarkan sebotol air dari tasku.

“Minumlah dulu.”

Rihwa mengangguk sebelum meneguknya hingga terasa lega. Kemudian, ia memandangku heran. “Kau belum pulang, Yixing Ge? Ini sudah terlalu malam.”

“Ini belum terlalu malam,” ucapku mengelak karena aku masih ingat bahwa ketika aku keluar kantor waktu masih menunjukkan pukul 20.00. “Kau sendiri belum pulang, Riri?”

“Aku baru saja mau pulang, tadi aku harusnya kerja lembur,” ucapnya sambil tersenyum. “Oh ya, apa kau lapar? Astaga, karena tersedak tadi aku tak bisa menikmati cupcake yang baru saja kubeli. Aku tahu toko mana yang menjual cupcake yang enak. Gege mau?”

Tanpa ragu, aku segera menyetujui ucapannya. “Baiklah.”

Ketika kami berjalan beriringan, entah keberanian dari mana kugenggam erat tangannya. Membuatnya mendongak ke arahku bingung, namun seulas senyum manis seketika terukir di bibirnya dan membuatku semakin tenang dan bahagia.

Izinkan aku nanti merasakan bahagia seperti ini selamanya.

***

Entah sudah lebih dari semingggu, aku tak lagi bertemu dengannya.

Sempat menyesali diriku sendiri, meski sudah saling mengenal aku tak pernah meminta nomor ponselnya. Membuatku tak bisa menanyakan keadaannya dan hanya bisa menerka-nerka apa yang terjadi sebenarnya.

Rupanya tak mengetahui keberadaan Rihwa berdampak besar pada seluruh pekerjaanku yang perlahan mulai berantakan. Data-data komposisi gubahan lagu entah aku simpan di mana dan gubahan lagu yang sedang kugarap mendadak hilang dengan kondisi belum selesai sepenuhnya.

Maka, malam ini aku berjalan gontai sepanjang perjalanan pulang. Tak seperti biasanya yang terlalu bersemangat ketika waktu pulang tiba. Aku sudah tak peduli dengan jalan yang akan kulalui, meski akan melewati persimpangan jalan yang di sana terdapat halte dan bagungan kafe. Sebuah jalan di mana aku menemukan seseorang yang kini amat berarti dalam hidupku.

“Yixing Ge!”

Seketika langkahku terhenti saat kakiku baru saja mengayun hendak menyebrang dan refleks aku mendongak ketika tahu bahwa aku mengenali suara itu. Di sebrang jalan sana, tampak Rihwa yang sedang tersenyum sambil melambaikan tangannya. Membuatku segera melangkah mendekati seseorang yang sudah membuatku kacau selama seminggu terakhir ini saat lampu rambu lalu lintas berubah menjadi merah.

Baru saja Rihwa hendak menanyaiku, aku segera menyelanya. “Kau ke mana saja, Riri?”

Gadis itu tertawa kecil, tawa sudah lama tak kudengar. “Aku? Seminggu ini kerjaku selalu lembur, maaf bila kita tidak bisa bertemu seperti biasanya,” jawabnya dengan nada menyesal. “Makanya, sekarang aku menunggu di sini karena aku takut tak bisa bertemu denganmu lagi, Yixing Ge,” cicitnya kemudian.

Angin malam mulai menyapa dan langit malam semakin cerah dengan adanya rembulan. Rembulan yang sudah lama tak kulihat. Membuat seluas senyum kembali datang karena suntikan semangat berasal dari gadis di hadapanku ini.

“Ayo Ge, kita pulang,” ajak Rihwa sambil tersenyum. “Udara malam dingin sekali.”

Sebelum kami berjalan beriringan, kusempatkan untuk melepaskan jasku dan kupasangkan di bahu Rihwa. Membuat gadis itu mendongak ke arahku dengan perasaan tak enak. “Tidak usah, Ge. Nanti kalau Gege―”

“―Aku takut kau sakit, Riri.”

Gadis itu melongo sebelum semburat merah benar-benar terlihat di wajahnya yang lucu. Membuatnya semakin manis. “Terima kasih, Gege. Aku senang bisa berteman baik denganmu.”

“Kalau begitu, kau mau tidak menjadi temanku saat mengucapkan janji suci nanti?”

“Apa?”

Kini langkah gadis itu benar-benar berhenti karena ingin memandangku. Menyebabkan langkah kakiku ikut terhenti dan balik memandangnya penuh arti. Dari lubuk hatiku, aku benar-benar berdoa kepada Tuhan agar permintaanku dikabulkan. Mendapatkan kebahagiaan seutuhnya mulai malam ini.

“Kenapa harus aku, Ge? Aku kan hanya wartawan biasa dan kau―”

“―Kupikir, itu semua tak ada kaitannya dengan ini. Kalau alasan terakhirku memilihmu adalah karena aku mencintaimu, bagaimana Riri?”

Hening.

Kedua mata bening gadis itu mengerjap berkali-kali sebelum ia menunduk sebentar dan kembali memandangku dengan senyum tulusnya. Tak lupa pula dengan semburat merah yang kini menjalari wajahnya dan kedua matanya yang berkaca-kaca. “Kalau begitu, izinkan aku menemanimu nanti di sana, Yixing Ge.”

Mendengar jawaban seperti, membuatku segera merengkuh tubuhnya dan memeluknya erat dengan ukiran senyuman bahagia. Langit malam hari ini lebih cerah dari biasanya dan rembulan telah muncul dengan sinarnya yang menenangkan. Menegaskan bahwa ia telah menjadi saksi lamaranku untuknya.

Rembulan yang menegaskan bahwa ia menjadi saksi bahwa aku mencintai Riri tanpa diragukan lagi.

-fin.

Hai, dateng lagi dengan fanfict Yixing. Ini edisi prequel YiHwa’s Cut yang kejadiannya sebelum mereka nikah. Wuahahahah, harusnya lanjutin series kemaren kan, ini malah jadi alur mundur cantik gitu #plak. Maafkan airly yang labil dan rese ini yak -_-

Rencananya DaeRi’s Daily juga ada prequelnya, tapi rencana jadi series pulak :v kayanya mah judulnya jadi DaeRi’s Teen-lit atau apalah. Nanti dipikirin lagi XD wkwk

Terima kasih udah baca fanfict ini dengan cast yang fiks ditaksir abis Jongdae, namanya Yixing. Dan tanggapan selalu dinanti eaps sebagai hasil saya nulis gitu–dan sebagai koreksi juga karena ini bikinnya lumayan ngebut :-* wkwk

Thank you

-AirlyAeri.

Iklan

3 thoughts on “YiHwa’s Cut : Moonlight

  1. Kaaak aku penggemar berat fluff mu astaga ♥♥♥ nikah tanpa pacaran dan aneka tetek bengeknya itu impian banget. Yixing why you so rude to meee argh ! Keep writing kak !

Mind to Review? ^ ^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s