YiHwa’s Cut : Remember

20150702 © AirlyAeri

Casts : Zhang Yixing [EXO’s Lay]; Lee Rihwa [OC-Riri]

Genre : AU, Romance, Fluff ║ Rated : PG-17 ║ Length : Oneshot [1000+ words]

Backsound : M To M – Because of Her [Marry Me, Mary OST.]

***

Aku terdiam dengan jas yang telah kulepas dan sengaja kugantung di lengan ketika langkahku baru saja sampai di persimpangan jalan dekat halte dan kafe. Tempat di mana pertama kali aku bertemu dengan Rihwa. Ketika langkahku semakin mendekati bangunan kafe, siluet bayangan ingatanku semakin terlihat. Hal itu yang membuatku semakin lama senyumku akan semakin terulas jelas.

Matahari semakin meninggi dan terpantul jelas di kaca jendela lebar kafe. Menunjukkan bahwa waktu makan siang telah tiba dan orang-orang berjalan lalu lalang melewati persimpangan jalan dan menyebrangi jalan raya untuk pergi mengisi perutnya di restoran terdekat.

“Yixing Ge.”

Refleks aku menoleh dan mendapati Rihwa sedang memandangku dengan pandangan kaget. Terlihat tangan kirinya penuh sekali dengan tumpukan kertas dan kartu nama yang terkalung manis di lehernya. Dan jangan lupa pula dengan tas ransel yang tersampir di bahunya. “Riri?”

“Kau tidak bekerja?” tanya Rihwa bingung. “Kau kan harusnya berada di kantor.”

Secara otomatis aku mengerucutkan bibirku sejenak. “Aku bosan dan aku bingung harus ke mana di jam makan siang begini.”

Hening sejenak.

Karena mendadak wajah Rihwa mengukir senyum manis sekali. “Kalau begitu, ayo makan sekotak cupcake dan minum minuman bersama. Hari ini udara dingin sekali.”

Aku dapat merasakan kini tangan kanannya melingkar erat di lengan kiriku. Membuat seulas senyum kembali terukir di wajahku. “Kau sendiri bagaimana, Ri? Bagaimana dengan jurnal beritamu?”

“Jadi sekarang, kau mengkhawatirkanku, Ge?” tanya Rihwa sambil terkikik pelan. “Tidak apa-apa. Sebenarnya tadi aku mau pulang dan hendak membuatkan kotak bekal makan siang untukmu sebagai kejutan. Tapi, karena kau sudah di sini bersamaku….”

Dapat kulihat semburat memerah memenuhi pipinya. Membuatku kembali tak dapat menahan senyum.

“Kotak bekal makan siang untukku? Kau harus memberikanku lain kali, Ri,” pintaku tanpa ragu.

“Akan kulakukan kalau aku tidak sibuk mengurusi jurnal berita terbaru,” sahut Rihwa yang membuat tawa diantara kami pecah.

Tanpa sadar, langkah kami sampai di sebuah kedai cupcake yang cukup terkenal di daerah sini. Dan selama di sana, tampak Rihwa sibuk melihat-lihat cupcake berbagai macam hiasan yang ada di etalase rak. Membuatku sengaja mencuri kesempatan untuk memindahkan pegangan hangat tangannya dari lenganku beralih ke genggaman tanganku.

“Yixing Ge, menurutmu mana yang enak?” tanya Rihwa disela-sela memperhatikan hiasan-hiasan cupcake.

Kuputuskan untuk ikut memilih hiasan cupcake mana yang enak, hingga pandanganku terpaku pada cupcake dengan hiasan krim merah jambu dan chips warna-warni serta hiasan krim dasar warna soft yang ditumpuk dengan krim warna cerah yang dihias acak. Membuatku refleks menggoyangkan genggaman tangan kami. “Riri.”

“Apa, Ge?” respon Rihwa sambil mendongak ke arahku dengan pandangan ingin tahu.

Lalu aku menunjuk cupcake pilihanku dengan dagu. “Yang itu.”

Tampak Rihwa langsung mengangguk setuju saat melihatnya dan segera memesannya pada pelayan kedai. “Setengah lusin cupcake yang itu.”

Setelah selesai dikemas dan aku selesai mengurusi pembayarannya, pelayan itu tersenyum ketika pandangannya turun ke arah genggaman tangan kami. “Terima kasih. Selamat menikmati.”

Kemudian kami kembali meniti langkah keluar kedai cupcake dan beralih ke kedai kopi yang tak jauh dari tempat sebelumnya. Rihwa segera mendongak ke arahku ketika ia hendak memesan. “Gege mau minum apa? Green tea latte atau Americano?”

Green tea latte,” ujarku dan membuat Rihwa kembali fokus pada pelayan kedai kopi.

“Satu green tea latte dan satu iced tea.”

Kemudian, hening sejenak.

“Riri.”

“Hmm?”

“Lain kali jangan minum es lagi. Katamu udara sedang dingin.”

Terdengar kekehan pelan milik Rihwa yang amat pelan. “Hanya kali ini saja, Ge. Dan kau juga, lain kali jangan keluar kantor tanpa alasan. Apalagi udara sedang seperti ini.”

“Aku akan menurutinya,” ujarku akhirnya.

Setelah pesanan kami selesai, akhirnya kami berakhir dengan duduk di sebuah bangku kayu pinggir taman yang banyak sekali dipenuhi oleh anak-anak. Tampak anak-anak sedang bermain dan berlarian ke sana ke mari.

“Taruh jasmu di sini, Ge,” suruh Rihwa sambil menepuk ranselnya yang ia taruh di dekatku, membuat menuruti ucapannya dan beralih menyerap green tea latte yang baru saja dibeli.

Ketika aku baru saja meletakkan jas, kulirik Rihwa dan tampak gadis itu sudah melahap cupcake-nya sehingga sedikit meninggalkan noda krim di sekitar mulutnya. Membuatku terkekeh sebentar.

“Kenapa?” tanya Rihwa dengan dahi berkerut.

Akhirnya, tanganku dengan refleks membersihkan krim yang tersisa di sekitar bibirnya seraya tersenyum. “Makanlah dengan benar. Kau tampak seperti anak kecil.”

Gadis itu hanya bisa tertawa kecil ketika mengetahuinya. “Makanlah, Ge.”

Aku mengangguk tanpa suara, sehingga menciptakan keheningaan barang sejemang. “Riri.”

“Ya?”

“Tadi di persimpangan jalan dekat bangunan kafe dan halte, mendadak aku teringat waktu itu.”

“Waktu apa?”

Seketika tatapan tajamku mengarah ke arah Rihwa, sehingga menimbulkan tawa kecil darinya. “Aku ingat kok, Ge. Jangan seperti itu menatapku.”

“Padahal kan aku serius,” dengusku dengan nada sebal sembari mengunyah potongan cupcake.

Tampak Rihwa mengangguk-angguk mengerti seraya membereskan sisa sampah bungkus cupcake-nya ketika dirasa sudah kenyang. “Sudah sudah. Kau makanlah dulu, Ge. Setelah itu, segera kembalilah ke kantor.”

“Kau mengusirku?” tanyaku tak terima.

“Memang siapa yang bilang aku akan mengusirmu, Ge?” ucap Rihwa balik bertanya dengan datar namun dengan seulas senyum.

Aku kembali mengangguk patuh sambil menikmati sisa cupcake. Sesekali arah pandangku berubah dari pemandangan anak kecil yang berlarian ke arah Rihwa yang sibuk membaca jurnal berita miliknya. Sepertinya dia sibuk sekali. Maka dengan cepat segera kuselesaikan makan siangku—itupun kalau bisa dibilang makan siang.

Aku berdeham sebentar, sebelum akhirnya Rihwa menoleh ke arahku.

“Kau sudah selesai?” tanyanya sambil membereskan kotak bekas cupcake yang sudah kosong tadi dan dibuang ke tong sampah.

Aku mengangguk sambil meyesap green tea latte. “Setelah ini kau akan ke mana, Ri?”

“Pulang. Aku harus menyunting data jurnalku malam ini,” jelas Rihwa. Kemudian, tangan gadis itu meraih jasku yang ada di atas ranselnya dan memakaikan di tubuhku. “Sekarang, cepatlah kembali ke kantor, Tuan Komposer. Hasil karyamu sedang ditunggu oleh atasanmu.”

Aku sekali lagi tersenyum ketika jemarinya membenarkan letak dasiku dan merapihkannya. “Nanti aku akan merindukanmu,” ucapku pelan dan dapat dipastikan bila hanya Rihwa yang mendengarnya.

“Aku tahu,” ujar Rihwa sambil ikut tersenyum. “Berhenti mengatakan hal itu atau nanti kau tak kunjung kembali ke kantor.”

“Telepon aku bila kau sudah sampai di rumah, Ri,” pintaku ketika melihatnya sibuk mengusap keringat yang mengaliri keningku dengan tisu.

“Iya, Ge. Akan kulakukan,” jawab Rihwa dengan pasrah karena sepertinya ia sudah terlalu lelah melayani ucapanku. Membuatku terkekeh sebentar.

“Aku mencintaimu, Ri,” ucapku akhirnya seraya mengecup keningnya sebelum beranjak dari sana.

“Aku tahu,” sahut Rihwa.

“Tidak membalas?” tanyaku menuntut.

“Apa?”

“Zhang Rihwa.”

“Iya, aku juga mencintaimu, Ge. Kau puas?” respon Rihwa yang kutunggu-tunggu akhirnya keluar juga.

Hal itu membuat senyumku semakin melebar dan membuat langkahku perlahan menjauhinya seraya melambaikan tangan. “Sampai jumpa di apartemen nanti, Ri.”

“Sampai jumpa,” balas Rihwa sambil terkekeh geli.

-fin.

Hai, dateng lagi dengan fanfict YiHwa’s Cut T.T Maaf, maaf, maaf banget. Sekarang kok jadi kebanyakan nulis fanfict Yixing-Rihwa mulu dan nyaris ga bisa nulis DaeRi’s Daily. Huwee~ Maaf banget bagi yang nantiin series Jongdae-Aeri yang katanya mah mau ada series edisi teenlit, tapi kenapa tidak kunjung dibuat. Ini efek kebanyakan dicekokin Yixing terus, jadinya mau mantengin fansite Jongdae lupa terus -_-

Tapi tenang aja, hatiku tetap untuk Jongdae huahahah XD Ini karena efek kesemsem aja kok, beneran deh. Soalnya Yixing sudah jadi bias kedua jadi yah begitulah :v Oh iya, sepertinya series DaeRi’s Daily edisi teenlit akan dibatalkan dan hanya akan dijadikan flashback seperti YiHwa’s Cut kemarin TT.TT nah kan nah kan, gua ingkar janji. Da apa atuh gua mah 😥 Ini semua akibat write’s block syndrome sedang kumat melanda. Bikin fanfict ini aja udah Alhamdulillah sebenernya. Jadi, beneran deh maaf banget. Serius maaf yah.

Terus, bagi teman-temanku yang cantik-cantik muah banget, maaf juga kalo gue ga bisa nulisin fanfict dengan cast biasnya masing-masing. Ini beneran karena Yixing membuat gue ga bisa nulis siapa-siapa :’v Nanti InsyaAllah gue bikinin deh. Maafkan aku temans :3

Lalu, terima kasih sudah membaca fanfict ini dengan cast yah anda taulah siapa XD btw, kemaren gue mendadak kaya kena diabetes karena baca kumpulan ff gue yang genre fluff. Gue yang nulis kok jadi gue yang kena serangan kemanisan :v Bukan maksudnya muji yah, gue juga gatau kalo selama ini gue nulis ampe begini amat. Sepertinya efek jones jadi begini :” /kemudianairlybaper/ T.T

Sudah ah, ini kebanyakan omongan lama-lama bukannya fanfictnya sendiri ah :’v Jangan lupa yah, aku ini pecinta readers yang suka ngasih review buat hasil karya aku kalo bagus atau jelek. Hiehehehe 😀

Thank you.

-AirlyAeri.

Iklan

2 thoughts on “YiHwa’s Cut : Remember

  1. Penggemarmu disini kak *angkat ketek dengan semangat* sekali lagi Zhang Yixing membuat saya nyaris tergoda untuk berbuka *nahlho?*

    Fluff nya kakak memang keren aih, kebayang banget kalo jadi istrinya abang Yixing pasti tiap hari dihujani momen manis *nelen air liur*

    Keep writing! Jangan lupa DaeRi nya heheh

    1. Hai! ^^ hei, hei, hei, jangan angkat ketek tinggi2 yah. Hihihi~ Wah, kalo gitu nanti lain kali tambahin note biar dibaca setelah berbuka aja. Takut kenapa-napa. Wkwk
      Aaah, terima kasih juga buat pujiannya. Entah kenapa, baca komen kamu bikin aku ikutan nelen air liur. Hehehe ><
      Terima kasih ya udah baca dan memberikan review. Untuk DaeRi doakan saja agar segera selesai dan segera diterbitkan. 🙂

Mind to Review? ^ ^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s