YiHwa’s Cut : July 1st

20150620 © AirlyAeri

Casts : Zhang Yixing [EXO’s Lay]; Lee Rihwa [OC-Riri]

Genre : AU, Romance, Fluff ║ Rated : PG-17 ║ Length : Oneshot [1000+ words]

Backsound : VIXX – Thank You for My Love

Special gift for my bestie birthday on July 1st, Riri.

***

“Apa kau besok libur, Ri?”

“Tidak, Ge.”

“Bagaimana kalau kau cuti besok?”

“Data berita besok harus segera diserahkan ke kantor pagi-pagi sekali, Ge. Tidak mungkin cuti.”

“Izin siang?”

“Tidak bisa, Ge. Siang harinya aku harus mewawancarai orang penting. Tidak lucu kalau izin siang.”

“Kalau begitu, bisa tidak kau tak lembur nanti?”

“Harus lembur, Ge. Nanti malam harus menyunting jurnal baru lagi dan harus diserahkan secepatnya. Jadi kemungkinan aku pulang larut malam sekali.”

Aku mendengus kala mengingat percakapan kami semalam disela-sela sibuk mengomposisikan nada-nada baru melalui kertas not balokku. Membuatku melempar asal pensil yang kupegang sedaritadi dengan frustasi. Otakku masih mengingat dengan jelas ketika di pagi hari Rihwa sudah pergi pagi-pagi sekali dan meninggalkan sajian sarapan pagi berupa semangkuk hangat sup sundubu jjigae yang masih mengepulkan asap.

Dan kini aku melirik kotak bekal makan siang yang sudah kosong dan teronggok manis di pinggiran meja kerjaku. Menurut sekretarisku, kotak bekal itu sengaja dikirimkan Rihwa padaku. Bahkan dia masih bisa pulang untuk menyiapkan kotak bekal untukku. Hal itu membuatku kembali menghelakan napas panjang kala mengingatnya.

Tanpa sadar, kulirik kalender meja dan memandang sebuah tanggal yang diberi tanda lingkaran spidol biru langit. 1 juli.

Itu artinya hari ini.

Kuambil ponsel yang tergeletak di meja kerjaku dan mengetikkan sebuah pesan singkat untuk Rihwa.

To : Zhang Riri

Nanti malam aku akan menunggumu di persimpangan jalan dekat halte dan bangunan kafe.

***

Kulirik arlojiku yang kini telah menunjukkan pukul 23.18. Matahari telah terlelap dan berganti menjadi bulan yang bersinar terang. Langit malam begitu cerah sesaat dan perlahan mulai muncul samar-samar adanya awan hitam yang menggumpal. Dapat dipastikan bila rintik hujan akan mengguyur kota tak lama lagi.

Dan benar saja. Rintik hujan mulai mengguyur kota dengan deras. Membuatku dengan sabar segera berlindung di bawah atap teras bangun kafe yang seringkali kulewati kala pulang.

Satu detik.

Dua puluh lima detik.

Tiga menit.

Sepuluh menit.

Dua puluh menit.

Empat puluh lima menit.

Kuperhatikan sekeliling dan tak ada yang menunjukkan tanda-tanda kedatangan Rihwa. Hujan juga semakin lama semakin deras dan seingatku kebiasaan terburuk Rihwa adalah tidak pernah membawa payung. Membuat perasaan khawatir entah dari mana mulai menbuncah hatiku dan rasa gelisah ikut menyelimuti diriku.

“Yixing Ge!!”

Kedua mataku membesar sesaat kala melihat Rihwa berlari membelah hujan tanpa payung dengan napas terengah-engah. Tubuh dan pakaiannya basah dan tasnya sengaja ia dekap dengan erat. Ia memandangku dengan seulas senyum ketika gadis itu telah berdiri di hadapanku.

“Apa Gege menunggu lama?”

“Lebih baik kita segera masuk dan keringkan rambutmu sambil berteduh.”

Rihwa mengangguk dan aku merangkulnya dengan erat meski basah untuk menuntunnya masuk ke dalam kafe. Suasana dan suhunya seketika berubah kala langkah kami memasuki kafe dan seorang pelayan datang dengan dua buah handuk sambil membimbing kami untuk duduk di deretan meja yang dekat dengan sebuah panggung yang di sana terdapat sebuah grand piano, gitar, dan beberapa alat musik lainnya.

Saat ini pengunjung kafe tidak terlalu ramai dan juga tidak terlalu sepi. Awalnya mereka memandang ke arah kami sekilas sebelum kembali fokus pada urusannya masing-masing.

Kulihat Rihwa sepertinya menggigil kedinginan, namun berusaha ia tahan dengan susah payah. Maka dari itu, membuatku menyampirkan handuk yang awalnya kupakai untuk mengeringkan rambutku di bahunya dan dengan pelan kubantu untuk mengeringkan rambutnya.

Aku juga tersenyum berterima kasih kala tahu pelayan tadi kembali datang dengan dua cangkir cokelat hangat.

“Rambutmu belum sepenuhnya kering, Ge. Kemejamu juga ada bagian yang basah sekali,” ucapnya dengan suara parau.

“Tidak apa-apa, Ri. Itu tidak penting ketimbang kau yang benar-benar basah kuyup,” balasku sambil tersenyum ke arahnya. Kemudian, kudekatkan bibirku ke telinganya dan berbisik, “Omong-omong, selamat ulang tahun ya.”

Dapat kulihat ia terdiam sejenak sebelum membulatkan kedua matanya. “Aku? Sekarang tanggal berapa?”

“1 juli.”

Akhirnya Rihwa membulatkan bibirnya kala teringat sesuatu. “Ah, pantas saja tadi siang Ibu datang membawa sesuatu dan mengatakan harus berbagi denganmu, Ge.”

Aku hanya tersenyum geli melihatnya

“Lalu? Adakah hadiah untukku, Ge?”

Lagi, aku tersenyum melihatnya dan mengecup keningnya sebelum bangkit dari dudukku. “Tunggu sebentar.”

Rihwa mengerutkan keningnya kala melihatku mendekati seorang pelayan dan berbisik sebentar. Pelayan itu mengangguk–menyanggupi ucapanku sambil tersenyum geli. Kemudian, ia mempersilahkanku untuk naik ke atas panggung.

Dengan cepat, kuraih microphone yang ada ketika langkahku sampai di atas panggung seraya mengambil sebuah gitar.

“Halo semuanya. Aku Zhang Yixing. Malam ini, aku ingin mempersembahkan sebuah lagu sebagai hadiah ulang tahun untuk seseorang yang ada di sana, Zhang Rihwa,” Aku berdeham sebentar seraya tersenyum. “Semoga kau menyukainya dan selamat ulang tahun, Ri.”

Alunan petikan suara gitar mulai terdengar dan perlahan suaraku mengikutinya.

You probably hated me all day
You still don’t know me, stupid

Your birthday comes only once a year
How could I forget?

I’m sorry I couldn’t express my heart for all this time
I guess I was too shy to say I love you
Will you close your eyes?

Congratulations, happy birthday to my love
I won’t change, I’ll make your heart race every day
I promise you

Thank you so much, thank you for my love
For being born today, for coming to me
Meeting you was a great fortune in my life
Now blow out the candles, my love

The only thing I can do is
To love you even more

There might be times when I hurt you
But please know this one thing
Just like always, just like now

I love you, you’re my everything to me
Even after ten years, it’ll be like only one day has passed
I won’t change, I’ll make your heart race every day
I promise you, my love

It still feels like a dream
An angel is looking at me and smiling
Like this

Even if I yell I love you endlessly
It’s not enough
Lonely and hard days won’t be scary if we’re together
I’ll give you things that always overflow
Thank you so much, thank you for my love

For being born, for being by my side
I am born again because I met you
Now will you put this ring on? My love

VIXX – Thank You for My Love

Ketika suara petikan terakhir, terdengar riuh tepuk tangan yang meriah. Membuatku bangkit dari dudukku dan segera menghampiri Rihwa yang terdiam dan mulut yang terbuka. Dan ketika aku telah duduk di sampingnya, lantas ia mendadak seperti kehabisan dan malah memalingkan wajahnya. Hal itu membuat keningku mau tak mau berkerut.

“Kenapa, Ri? Kau tak suka?”

Kupandangi bahunya yang mulai naik turun, membuatku perlahan meraihnya dan membalikkan tubuhnya. Seketika kedua mataku membesar ketika melihat airmatanya yang sudah jatuh dan mengalir dengan deras.

“Bagaimana bisa aku tak suka sementara suaramu bagus sekali, Ge,” Tampak ia tersenyum. “Terima kasih atas hadiahnya, dan… aku juga mencintamu,” lanjutnya dan diakhiri dengan ia menangkup kedua pipi dengan semu merahnya sendiri yang sudah terlanjur kulihat. “Jangan lihat airmataku dan jangan perhatikan pipiku, Ge!”

Mau tak mau aku ikut tersenyum dan memeluknya dengan erat sebelum mengecup pipinya.

Aku berjanji, Riri.

-fin.

Iklan

4 thoughts on “YiHwa’s Cut : July 1st

  1. Penggemarmu disini kak ‘-‘) aku… nggak bisa ngomong apa apa lagi. This is too fabulous bagi seorang remaja tanggung yang membacanya di siang bolong hahahx’D
    Keep writing!

  2. mas yixing side featurenya bikin mati banget di foto posternya XD
    *salah fokus
    anyway. ini manis sekali dan ditulis dengan rapi. kalo emang ini semacam kado buat temen kamu aku yakin dia bakal seneng 🙂 yixing gentle banget argh iriiii sama ririiii
    tapi waktu di pembukaan yixing keliatan agak emosi ya? aku agak gak biasa sama karakter yixing yg begitu tapi gapapa kok, ini membuat dia lebih terlihat sayang banget sama riri ^^ terus ada beberapa kalimat yg agak ganjil, misalnya waktu scene basah kuyup itu ada kalimat. ‘Maka dari itu, membuatku…’ nah ini enakan kalo diganti ‘Itu membuatku…’ gak sih? terus ada satu paragraf penjelasan kafe yg satu kalimatnya panjaaaaang banget, ga ketemu2 titik selama satu paragraf itu, kalo kataku sih itu enakan dipecah jadi beberapa kalimat.
    oke gitu dulu. keep writing!

    1. Hai kakaakkk! ^^
      Iya kak, soalnya temen aku ini ulang tahun tgl 1 juli kemaren jadi ini semacam hadiahnya. Hehehe 😀
      Sebenernya kak, untuk penggambaran yixing di pembukaannya sama sekali ga niat begitu. Tapi, ternyata yang tergambar malah begitu jadi….. /speechless/ hehehe
      Ternyata dugaan aku bener, itu niatnya mau nambahin kata kak tapi malah jadi ganjil T.T Dan untuk paragraf penjelas akan segera kuperbaiki kak. ^^
      Terima kasih kak udah baca dan ngasih review berisi saran yang sangat membantu! 🙂

Mind to Review? ^ ^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s