Best Hero

 

kai-taeoh

Mungkin beliau adalah orang yang paling disegani diantara keluarga. Bertindak sebagai kepala keluarga merangkap tulang punggung keluarga demi mencari sesuap nasi. Atau bersusah payah mencari pundi-pundi uang demi membuat anak-anaknya tetap bersekolah sampai setinggi sarjana.

Ayah.

Mungkin beliau cekatan sekali dalam menangani apapun. Aku selalu mengagumi dengan apa yang Ayah lakukan. Membuat rak buku, tempat tidur bertingkat, lemari, merangkai kabel demi membetulkan alat elektronik, bahkan bisa membereskan tangki air yang bocor. Pernah sesekali kuamati Ayah yang sedang menggambar rangkaian bangunan. Membuatku berpikir Ayah cocok sekali menjadi sarjana teknik sipil, meski kenyataannya Ayah hanya diplomat teknik mesin.

Ayah.

Sosok yang paling keras dan menyebalkan. Sungguh, meski Ayah tidak pernah mengomeliku tetapi bila bicara tentang prinsip sudah tak bisa ditentang. Dan mau tak mau aku harus mengalah dan menurut.

Ayah.

Kadang menjadi sosok yang paling kubenci seumur hidupku ketika beliau menuduhku melakukan sesuatu yang tidak pernah kulakukan. Membuatku kadang harus menangis dalam diam karena tak bisa melawan.

Namun.

Ketika teriakan tak asing memasuki kedua telingaku dan terdengar suara benturan keras, membuatku langsung berlari terbirit-birit dan saat mendapati sosok Ayah telah terkapar dengan darah yang mengalir deras bersamaan dengan aroma anyir menyengat. Membuatku segera berteriak dan menolongnya yang sudah tak sadarkan diri.

“Ayah!”

Dan perasaan-perasaan negatifku mengenai Ayah segera terhapuskan dan berganti menjadi bayangan bahwa Ayah mungkin tidak bisa membuka kedua matanya lagi, membuatku menangis panik dan cepat-cepat menelpon rumah sakit.

Kutatap pintu kamar UGD dengan tatapan panic bercampur ketakutan yang tak berujung. Jantung berdebar tak karuan dan mau tak mau riak sungai menjalari pipiku.

Pikiran bahwa aku tak bisa bertemu dengan Ayah lagi membuatku semakin tenggelam dalam tangis.

***

Setelah sekian lama, akhirnya Ayah keluar dari ruang UGD dan sadarkan diri. Beliau tertawa setiap kali bercerita pada kakak-kakakku yang tak ada di tempat kejadian, bahwa aku panik sekali melihatnya bahkan sampai menangis.

“Dia syok banget lihat Ayah jatuh, Kak.”

Aku menggerutu setiap begitu, namun di sisi lain rasa syukur terus kupanjatkan kepada Tuhan bahwa setidaknya aku masih bisa melihat Ayah. Bahwa setidaknya aku masih memiliki waktu untuk bisa membahagiakan Ayah dan Ibu.

Kubulatkan tekatku dalam hati.

Aku harus sukses agar bisa melihat Ayah dan Ibu bahagia.

-fin.

Based on true story. Agak curcol sih yak wkwkwk

Sekian.

-Airly.

Iklan

Mind to Review? ^ ^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s