Dua Cangkir Kopi

2e5b7b6cae1e407185891891dcc7674a

20160122 © Airly

Casts: Do Kyungsoo [EXO’s D.O] & Chae [OC]

Genre : AU, Hurt/Comfort ║ Rated : General ║ Length : Ficlet (600+ words)

Backsound : Howl – Parrot

Previous : Staring at You

***

“Kopi—manis seperti cinta, gelap seperti malam, dan panas seperti neraka.”

.

Minggu akhir Januari masih saja menampakkan musim dingin dengan hujan salju yang turun deras tanpa mengenal lelah.

Kupandangi langit malam melalui sekat kaca jendela kedai kopi dengan hujan salju yang masih setia turun dari langit. Kendati begitu, orang-orang tetap saja berlalu lalang dengan riang tanpa peduli dengan kondisi cuaca hari ini.

“Sudah berapa lama kita tak bertemu? Rasanya seperti sudah lama sekali.”

Kualihkan atensiku segera kala telinga kembali menangkap suara yang amat kukenal. Sosok lelaki yang kini duduk di hadapanku tengah memandangku dengan senyum khasnya. Do Kyungsoo.

“Tidak lama—hanya tiga tahun. Berlebihan rasanya ketika mendengarmu berkata seolah seperti sudah belasan tahun tak bersua,” ungkapku.

Kuukir sebuah lengkungan senyum untuknya—sebuah senyum yang kini tak ada artinya, sebelum meraih cangkir kopi hitam yang sama sekali belum kusentuh. Kopi hitam tanpa butiran gula ataupun tetesan susu kental.

Pahit.

Layaknya kisah perpisahan kami tiga tahun lalu kala lelaki itu akan menikah dengan wanita lain keesokan harinya hingga menyebabkan kami sama-sama menjauh.

“Kau tak berubah, Chae.”

“Apa yang kauharapkan dariku setelah lama tak bertemu, Soo? Berharap bahwa aku sudah tak lagi suka memandangimu, begitu?”

Lelaki itu menggeleng seraya menyesap cairan kental yang sama denganku, kemudian tersenyum lagi. “Sungguh, bahkan aku tak ingin berharap kau begitu padaku, Chae.”

Aku memandangnya sekilas, kemudian berpaling seraya menghelakan napas panjang. “Lantas apa maumu? Meski begitu―”

“―rasanya aku merindukanmu seperti hari kemarin, Chae.”

Kupandangi Kyungsoo dengan tatapan terkejut sekaligus tak mengerti. Membuatnya kembali mengulas senyum dan kembali menyesap kopinya.

“Kopi. Manis seperti cinta, gelap seperti malam, dan panas seperti neraka,” sahutnya. “Bukankah itu pepatah Arab kuno, Chae?”

Aku mengangguk saat ingat bahwa itu memang pepatah Arab kuno yang tercantum dalam sebuah kumpulan cerita fiksi dan berkata, “Lalu apa yang mau kausampaikan sebenarnya?”

“Apakah sesulit itu rasanya ketika kau menghapus semua perasaanmu waktu dulu saat mendengar bahwa aku akan menikah dengan wanita lain?”

Hening.

Aku meneguk ludahku dengan susah payah setelah mengerti arah pertanyaannya. Kini sampah-sampah perasaanku mulai bermunculan dan berserakan kembali setelah sekian lama kubersihkan dengan susah payah. Gila, kenapa orang ini mau membahas masalah lama dengan cara begini sih?

“Maksudmu?”

Kyungsoo berpaling dan membiarkan atensinya terpaku pada keadaan luar. “Manis rasanya ketika mengingat kenangan yang pernah kita alami bersama, lalu gelap saat menyadari bahwa itu hanya sisa masa lalu yang telah selesai, dan panas layaknya neraka jika tahu bahwa meski hanya kenangan tetapi terus saja menghantui.”

Kupandangi Kyungsoo dengan tatapan nanar. Tak percaya bila manusia yang biasanya bersikap tenang kini di hadapanku berubah menjadi lelaki melankonis setelah sekian lama tak bertatap muka.

“Jika kutanya bagaimana perasaanmu padaku saat ini, apa yang akan kaujawab?”

Aku diam sebentar dan berkata, “Kau menginginkan jawaban yang mana? Aku punya dua.”

Secepat kilat, atensi lelaki itu kembali fokus padaku. “Tolong berikan alasan untuk kedua jawabanmu, Chae.”

Aku tarik napas panjang dan menghelakannya perlahan. “Jawaban pertama, tidak. Karena aku tahu kisah kita telah digariskan oleh Tuhan untuk selesai dan Dia memiliki rencana yang jauh lebih indah dari yang kubayangkan. Jadi, aku akan menunggu rencana indah selanjutnya dari Tuhan. Dan jawaban kedua, ya tetap sama. Andai jika aku bersusah payah menghilangkan sisa-sisa sampah perasaanku padamu namun Tuhan tidak berkehendak, aku juga bisa apa?”

“Layaknya roda terus berputar dan kehidupan terus belanjut, kisah yang terjadi diantara kita sejatinya sudah selesai sejak lama, Soo. Tidak baik jika terus dikenang dan hanya meninggalkan luka di hati. Aku sadar akan hal itu. Bahkan jalan yang kita lalui saat ini saja telah berbeda,  apa lagi yang ingin kuharapkan darimu―”

“―kau mungkin tidak tahu,” tukas Kyungsoo tiba-tiba. “Bahwa Tuhan memiliki rencana lain yang lebih indah namun di luar dugaanmu.”

Dahiku berkerut—tak mengerti dengan ucapan Kyungsoo untuk kedua kalinya. Membuatnya kembali bersuara dengan berkata,

“Aku akan bercerai, Chae.”

Dan kalimat yang keluar dari mulutnya sukses membuat jantungku nyaris berhenti berdetak dengan dua cangkir kopi sebagai saksinya.

-fin.

1ca6b90922658a08dcb1d5c7b93d3169
Do Kyungsoo

Kayanya saya lagi galau berkepanjangan di awal tahun ini. HAHA. Efek menjelang UAS dan sama sekali ga tenang karena materinya dirasa ga lengkap karena saya bolos seminggu. Tapi, tetep masih bisa nulis adalah suatu hal yang menakjubkan. BUAHAHA.

Gatau kenapa lagi seneng Dyo jadi cast. Habis untuk ukuran cowok kaya Dyo cocoknya setia tapi hati goyah gimana gitu kalo ketemu masa lalu. WUAHAHA. Maafkan aku mas, aku cinta kamu. /Ewh/

Semoga suka ya dengan fict yang hambar ini (kalo engga juga gapapa deh) hehe.

Thank you.

-Airly.

Iklan

2 thoughts on “Dua Cangkir Kopi

  1. Jadi Kyungsoo mau nge-duda nih? Aku mahh mau-mau aja kalii sekalipun bekas orng lain wkwkwkwk. Like this! Aku suka diksi yang kaka pilihhh,sesuai dengan genre dan tema fanfictnyaaa jadi engga anehh dan terkesan berat. (mau komen ato apa sih ni manusia?)

Mind to Review? ^ ^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s