Special DaeRi’s Daily : #1 Story Telling

82370c68aad1cf21a5ec7793b83fea8d

AirlyAeri © 20160309

Casts : Kim Jongdae [EXO’s Chen] x Song Aeri [OC]

Genre : fluff, friendship, romance | Rated : general | Length : chapter-first (2000+ words)

Backsound : EXO’s Chen x Punch – Every time

***

“Hai.”

Sosok gadis yang sedang memperhatikan guru Kang menoleh dengan sikap kikuk. Iris mata berwarna cokelatnya mendapati seorang lelaki yang kini sedang memandangnya. Tahun ajaran baru sekolah baru saja dimulai dan sudah pasti akan menerima para siswa baru. Kali ini, siswa baru sedang sibuk beradaptasi dengan tingkat awal memasuki masa SMA.

Tampak lelaki yang duduk di samping si gadis itu mengulurkan tangan ke arah si gadis seraya tersenyum. “Aku Kim Jongdae. Siapa namamu?”

Kentara sekali sorot mata gadis itu memancarkan rasa ragu, sebelum tangannya mulai membalas uluran tangan si lelaki sambil ikut tersenyum. “Song Aeri.”

.

“Ini salahmu!”

“Kenapa salahku?”

“Tadi kau mengajakku mengobrol! Jadinya kan, kita kena hukuman dari guru Heo!”

Jongdae terkikik mendengar gerutuan Aeri yang kini sedang mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Mereka berdua siang ini mendapat hukuman dari guru Heo, lantaran selama pelajaran berlangsung Jongdae memberitahu Aeri mengenai festival musik di Myeongdong. Membuat sang guru marah besar dan berakhir menyuruh mereka berdua keluar. Lalu, disuruh beliau duduk di depan pintu kelas seraya mengangkat tangan setinggi mungkin.

“Tapi, kau senang kan setidaknya tidak mendengar ocehan panjang tentang perkembangan dinasti Joseon?” ungkap Jongdae dengan senyum menggoda. Membuat senyum gadis itu merekah.

“Iya juga sih.”

.

“Pilih festival musik di Myeongdong atau di Hongdae?”

“Pilih toko buku bekas atau festival musik? Atau ke galeri seni lukis?”

Jongdae hanya mengerucutkan bibirnya sebal kala Aeri sibuk membaca artikel di internet sambil ikut menanyakan saran yang berbeda. “Jelas saja festival musik, Ae.”

“Tapi, aku ingin buku murah, Dae. Dibukanya juga hari Minggu,” pinta Aeri sambil memandangi Jongdae.

Akhirnya, mau tak mau lelaki itu harus memutar otaknya. Pokoknya, dua pendapat berbeda ini harus disatukan bagaimana pun caranya. Hingga beberapa saat kemudian, lelaki itu menjentikkan jarinya sambil tersenyum sumringah.

“Bagaimana jika acara hari Minggu ini kita jadwal? Jadi, nanti kau pergi ke toko buku bekas dan aku bisa menonton festival musik di Hongdae.”

.

“Hah! Kau belakangan sering tidur di kelas.”

“Kau tahu itu?”

Jongdae segera berdecak lidah mendengarnya. “Kau pikir jarak tempat duduk kita bagaikan dari meja guru sampai loker kelas, Ae? Bahkan aku masih ingat, kau nyaris diusir oleh guru Kimia kita yang paling galak di depan mataku.”

Aeri hanya membalas ucapan Jongdae dengan mengangguk-angguk. “Belakangan aku tertarik menulis karena membaca artikel mengenai tata cara menulis. Itu sebabnya aku jadi kurang tidur di waktu malam.”

Seketika mata Jongdae membesar hebat mendengar ucapan Aeri. Seingatnya, Aeri tak pernah suka menulis catatan. Sama sekali tak terbayang. “Menulis?”

“Ya.”

“Maksudmu mengarang?”

Lagi-lagi Aeri mengangguk, namun kali ini lebih pasti. “Iya.”

“Sejak kapan?”

“Dua minggu lalu.”

Jongdae semakin melongo dan Aeri membiarkannya.

.

“Ae, coba lihat aku dapat apa.”

Aeri mengerutkan keningnya kala ia sedang membeli sosis bakar sebelum berbalik. Matanya seketika membelalak saat melihat Jongdae datang dengan setumpuk scoop es krim yang masih beku.

“Waaahh..”

Tampak scoop eskrim tersebut bertumpuk-tumpuk dalam dua waffle kerucut yang menadahnya dan beraneka warna. Membuat Jongdae tersenyum merekah. “Coba perhatikan ini, Ae.”

“Apa?”

“Ada warna biru muda, merah, ungu, cokelat, putih vanilla, dan―”

“―aku ambil satu ya, Dae.”

Seketika Jongdae melongo mengamati Aeri dengan entengnya mengambil salah satu waffle berisikan beberapa macam rasa es krim. Lalu, ia menjilati salah satu rasanya sambil tersenyum ke arah Jongdae. “Tidak apa-apa kan?”

“Sudah terlanjur kau jilati, jadi ya sudah. Tapi…” Jongdae menggantungkan ucapannya membuat Aeri mendongak untuk mendengar lanjutannya.

“…apa?” tanya Aeri penasaran.

Perlahan tangan Jongdae terulur dan mengelap sisa es krim yang masih bertengger di sekitar bibir Aeri. “Kau bayar es krimnya sendiri.”

Kentara sekali tubuh Aeri sempat membeku sebelum ia terbatuk pelan. Lalu berkata, “Berdoa saja semoga uangku masih ada untuk membayar ini.”

.

“Kudengar kau dekat dengan Woohyun.”

Seketika Aeri menoleh ke sumber suara kala mulut sibuk mengunyah jajangmyeon yang baru saja dibelinya. Matanya mengerjap dan menatap Jongdae yang kini tersenyum kecut sambil mengaduk-aduk jajangmyeon miliknya.

“Apa?”

“Woohyun meminta nomor ponselmu kan?” kata Jongdae balik bertanya. “Aku tahu itu. Jelas tahu.”

“Memangnya kenapa?”

Seketika Jongdae memandang lekat Aeri dengan tatapan tak percaya. “Kau konyol ya? Untuk apa kau memberikannya pada si playboy sialan itu hah? Aku kan dari dulu sudah bilang, jangan dekat-dekat dengannya!”

“Lantas apa masalahnya denganmu?” ungkap Aeri. “Apa aku juga mempermasalahkan hubunganmu dengan Yeonsoo akhir-akhir ini? Kudengar alasanmu tak mengantarku pulang karena ingin berjalan-jalan dengan gadis menyebalkan itu.”

“Kenapa jadi mengungkit Yeonsoo, Ae? Kita kan sedang membicarakan Woohyun,” kata Jongdae tak terima. “Dengar, Ae. Aku itu sedang berusaha melindungimu tahu.”

“Melindungi?” ulang Aeri dengan aneh. “Kata-katamu lucu.”

“Apanya yang lucu? Jelas aku ingin melindungimu―”

“―memangnya kau melindungiku sebagai apa?”

Seketika Jongdae bungkam mendengar imbuhan ucapan Aeri yang kini memilih memakan sisa-sisa jajangmyeon miliknya. Bahkan tanpa kesepakatan, mereka tak saling adu pandang.

.

“Kim Jongdae.”

Jongdae dengan seragam SMA menoleh. Atensinya mendapati sosok Aeri dengan pakaian yang sama sedang berdiri di belakangnya. Membuat lelaki itu mengerutkan dahinya heran.

“Ada apa?” tanyanya.

Gadis itu segera bergerak maju mendekati Jongdae seraya memberikan satu pot tumbuhan bunga akasia seraya tersenyum. “Untukmu. Selamat ya kau menjadi lulusan terbaik di SMA.”

Dengan semangat, Jongdae menerima pot bunga tersebut. “Terima kasih. Selamat juga ya untukmu.”

“Karena apa?” tanya Aeri dengan nada bingung.

Jongdae terdiam sejenak, kemudian berkata, “Katanya… kau mau kuliah di Jepang.”

“Eh?” Tampak, kedua mata si gadis begitu membesar karena terkejut. “Tapi, katanya kau―”

“―Ae,” tukas Jongdae sambil menghelakan napas panjang. Kemudian, manik matanya memandang Aeri. “Sebaiknya, kita tidak perlu berteman lagi.”

***

Sosok gadis dengan rambut sepunggungnya mendadak terbangun dari tidurnya. Matanya membelalak kaget dan napasnya terengah-engah. Kemudian, kepalanya menoleh dan memandang jam wekernya yang masih menunjukkan pukul 04.50 pagi.

Ya ampun.

Song Aeri—gadis itu mengambil segelas air yang ada di meja nakas dan meneguknya sampai habis. Lalu, ia mencoba kembali tertidur tetapi tak bisa. Otaknya tiba-tiba terbesit memikirkan apa yang baru saja dialaminya dan membuatnya mendadak gelisah.

Ia kembali bermimpi. Mimpi mengenai potongan-potongan kisah lampau yang sudah terlewat tujuh tahun lamanya.

Kim Jongdae. Bagaimana kabarnya ya?

Apa ia baik-baik saja?

Apa pekerjaannya saat ini?

Apa alamat rumahnya masih sama?

Dan kalimat-kalimat itu terus saja terngiang di otaknya hingga mengabaikan masakan sarapan pagi buatan Ibunya dan mengabaikan pekerjaannya yang menumpuk di atas meja. Sorot matanya kadang terasa kosong meski terarah ke komputernya yang masih menyala atau jika sedang diajak berdiskusi. Itu semua karena otaknya sering tiba-tiba menayangkan adegan masa lalu.

Berhenti berteman katanya, pikir Aeri. Kenapa masih terasa perih ya kalau diingat-ingat?

“Aeri! Kau kenapa?”

Seketika Aeri menoleh dan mendapati Lee Jiha yang kini menatapnya khawatir. “Apa?”

“Kau sering melamun belakangan ini. Kau sakit?” tanya Jiha dengan nada agak cemas. Punggung tangannya secara refleks menempel di dahi Aeri. “Aku bisa memberitahu Kepala Editor Shin untuk memberimu izin pergi ke rumah sakit.”

Segera Aeri menepis tangan Jiha dengan enggan dan kembali berkutat pada komputer. “Aku tidak apa-apa kok, Jiha. Pekerjaanku masih banyak dan hari ini kotak masuk email sudah penuh tahu.”

Akhirnya, Jiha memilih mengangkat bahunya dan kembali berkutat dengan pekerjaannya.

.

“Dia sudah kembali dari Tokyo?”

Lelaki bertubuh jangkung dan memiliki bola mata besar memandang sosok lelaki bertubuh lebih kecil darinya. Lelaki bertubuh lebih kecil dari si jangkung rupanya sedang sibuk mengamati dua buku yang ada di genggamannya.

“Aeri sudah pulang dari Tokyo bertepatan dengan kepergianmu ke Bonn dua tahun lalu, Jongdae,” terang si jangkung seraya menyesap es kopinya.

“Dan dia sama sekali tak memberitahuku, Chanyeol,” balas Jongdae—si lelaki bertubuh lebih kecil dari si jangkung.

Chanyeol menghelakan napas panjang begitu mendengar ucapan Jongdae. “Apa kau sudah lupa bahwa pertemanan kalian langsung putus ketika Aeri pergi ke Tokyo untuk melanjutkan perkuliahannya?”

“Aku tahu,” ujar Jongdae dengan nada parau.

“Dan kau juga masih ingat kan siapa yang memutuskannya?”

“Aku.”

Nah, sudah tahu di mana letak kesalahannya, sekarang dia bersikap seolah yang terjadi sebelumnya tak pernah ada. Konyol sekali, pikir Chanyeol sambil memandangi Jongdae dengan gemas. “Jadi, apa rencanamu hah? Ingin menemui Aeri?”

“Apa kau punya informasi mengenai keadaan Aeri sekarang?” tanya Jongdae.

“Apa perlunya koneksi dariku sementara koneksimu juga sama baiknya denganku? Lebih baik suruh seseorang untuk mencari keberadaan Aeri. Kau kan sudah sukses,” gerutu Chanyeol sambil memalingkan wajahnya.

Jongdae tersenyum malu mendengar ucapan Chanyeol dan membalas, “Jangan begitu, aku masih bergantung pada perusahaan Ayahku.”

“Tapi, perusahaanmu juga sudah sukses. Jika Ayahmu pensiun, bersiap saja perusahaan Ayahmu dan milikmu akan bersatu menjadi perusahaan besar.”

“Jangan berandai-andai terlalu jauh, Yeol,” ujar Jongdae akhirnya sambil menghelakan napas panjang. Ditaruhnya dua buku yang sedaritadi Jongdae pegang ke atas meja. “Bahkan selama dua tahun terakhir dia sudah menerbitkan dua novel roman.”

“Kudengar dia hanya ingin menerbitkan karyanya setiap tahun. Katanya menulis itu sulit.”

“Aneh. Berarti sampai saat ini kan dia hanya tertarik dengan kegiatan itu, bukannya minat.”

Chanyeol mengerutkan keningnya saat melihat Jongdae yang tiba-tiba berkata sambil menghelakan napas panjang. Lucu, pikir Chanyeol. Kentara sekali Jongdae masih memiliki rasa pada si gadis yang ia cari saat ini, meski sudah sekian lama tak bertemu.

“Jadi, kau membutuhkan koneksiku?” tanya Chanyeol lagi.

“Ah, kita bicarakan itu lain kali,” jawab Jongdae singkat seraya melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangannya. “Hari ini aku sudah berjanji pada Ayahku untuk menemaninya pergi ke SongHa Group.”

“Apa?” tanya Chanyeol dengan nada seolah memastikan. “Perusahaan penerbitan itu?”

“Iya,” ungkap Jongdae sambil menatap Chanyeol disela ia menghirup sisa es kopi miliknya.

“Aku yakin kau akan menemukan sesuatu di sana,” sahut Chanyeol sambil tersenyum.

Jongdae sama sekali tak menanggapinya dan beranjak pergi meninggalkan Chanyeol. “Aku pergi dulu.”

“Sampai nanti.”

.

“Aeri, kau tidak makan siang?”

Aeri mengangguk mendengar pertanyaan Jiha yang kini hendak melenggang pergi menuju elevator. Matanya masih tetap fokus pada komputer, membuat Jiha berdecak sebal.

“Ya sudah, kau bawa saja tubuhmu pergi dan biarkan sepasang matamu memandang komputer terus. Kalau sakit mata baru tahu rasa,” ucap Jiha dengan sakartik.

Segera Aeri memandangi Jiha yang sudah menunggunya. Maka, dengan cepat diambil dompet dan ponselnya yang tergeletak di atas mejanya sembari bangkit dari duduknya. “Ayo.”

“Tapi, kau tunggu di bawah dulu ya, Aeri. Aku mau ke dapur kantor untuk minum air. Tenggorokanku sakit.”

“Oh ya? Minum saja obat yang ada di sana, seingatku ada permen herbal di lemari. Sekalian juga tolong ambilkan obat sakit kepala ya.”

“Lebih baik kau minta izin pada Kepala Editor Shin saja agar kau bisa pergi ke rumah sakit,” ucap Jiha dengan nada khawatir saat mereka berjalan menuju elevator. “Wajahmu juga agak pucat tahu.”

“Ini hanya lelah, tenang saja. Kepalaku sakit karena terlalu sering melihat layar. Sudah, tidak usah khawatir begitu,” sahut Aeri dengan nada tenang.

“Baiklah, tunggu aku di lobby ya, Aeri,” kata Jiha sambil berjalan lurus dan meninggalkan Aeri yang masuk ke dalam elevator. Gadis itu hanya membalas ucapan Jiha dengan mengangguk.

.

“Ayah.”

“Apa?”

“Kenapa kita harus lewat sini sih?”

Jongdae menggerutu terus sedaritadi. Sementara, Kim Junghun—Ayah Jongdae melirik ke arah anaknya sekilas sebelum kembali fokus. Mereka sedang menaiki tangga darurat untuk sampai ke lantai atas. Dan jujur saja Jongdae tak akan mau ikut kalau tahu begini.

“Untuk mengejutkan teman lama Ayah. Dia tidak tahu kalau Ayah datang,” jawab Pak Junghun sambil tersenyum nakal. Membuat Jongdae mengerutkan bibirnya.

“Kalau tahu begini, aku tak mau ikut dengan Ayah.”

“Jangan begitu, Jongdae. Kau kan tahu sekali kalau Ayah tidak bisa pergi sendirian bila ingin mengejutkan seseorang.”

Ah, Ayah suka begitu, pikir Jongdae. Ketika langkah kaki mereka telah sampai di penghujung lantai dua, Jongdae segera membuka pintu darurat. Hal itu membuat Pak Junghun agak kaget.

“Apa yang kau lakukan, Jongdae?”

“Ah sudahlah, aku kembali ke bawah saja ya, Yah. Aku tunggu di lobby. Kepalaku jadi pusing.”

“Lalu Ayah bagaimana?”

“Ini jam makan siang, Yah. Tenang saja, rencanamu pasti berhasil.”

“Oke, doakan Ayah ya.”

“Oke.”

Akhirnya, Jongdae berjalan keluar dari ruang tangga darurat menuju elevator terdekat. Napasnya masih terengah-engah dan kakinya terasa seperti ingin meleleh. Ya ampun, ini pasti karena sudah lama tidak pernah menaiki tangga sepanjang itu.

Ketika pintu elevator terbuka, rasanya dunia Jongdae berhenti. Jantung lelaki itu mendadak berdebar dengan hebat dan rasanya kedua kakinya ingin segera meleleh. Juga napasnya tanpa sengaja berhenti dan tatapan matanya terpaku pada seorang gadis yang kini membelalakan kedua matanya terkejut.

Nyatanya, pertemuan setelah tujuh tahun tak bersua tidak membuat rasa di dalam hati Jongdae padam. Dan, tidak membuat jantung Jongdae terasa tenang ketika melihat kembali orang yang Jongdae cari selama ini.

Jongdae bahkan sedang berusaha menelan ludahnya sendiri dan mencari keberadaan suara nyaring yang dulu ia sukai.

“Ae?”

-cut-

INI MAH HAMBAR BANGET AH DAN KLISE, AKU RAGU >_< BUTUH REVIEW DAN SEPERTINYA AKU BUTUH PIKNIK KELILING WORDPRESS DISELA AWAL SEMESTER. HUH. SEKIAN, MAAFKAN BILA INI DITULIS DENGAN HURUF KAPITAL. AMBYAR SUDAH DENGAN RASA TIDAK PUAS 😦

Sekian dan terima kasih

-Airly.

 

Iklan

7 thoughts on “Special DaeRi’s Daily : #1 Story Telling

  1. Ihh suka sama cara manggilnya mereka. Cocok banget gitu. Ae-Dae hehe. Mampir ke sini karena rekomendasi dari liana senpai, dan ternyata emang tulisan kakak bagus 🙂
    Tapi koreksi dikit yaa kak, memperhatikan harusnya memerhatikan, ‘kan? Terus, sakartik yang betul sarkastik. Selebihnya uda oke :3

    Salam kenal, ya, Niswa dari 99 liner 🙂

    1. Halo Niswa 😉 iihh aku juga suka banget sama tulisanmu tapi jarang komen soalnya bacanya sambil ngerjain sesuatu yang berhubungan dengan kehidupan, maaf ya 😦
      Untuk koreksimu, kuterima dengan baik dan akan kuperbaiki segera di tulisan selanjutnya. Makasih ya udah nyempetin baca dan memberikan review. 🙂

    1. Hehehe begitulah kalo romantis2 pas nikahnya, sebelum nikah rada pelik bikin nyesek gimana gitu :’) nextnya ditunggu aja ya hihihi 😀
      Anyway, makasih ya udah nyempetin baca dan memberikan review. 🙂

  2. huahaaaaaa
    bagiku ini masih lumayan memuaskan kok. aku suka gimana kamu menjelaskan cerita mereka sebelum menikah, dan ketertarikan serta sifat mereka di sini tergambar banget ^^ not only a plain romance
    tapi di bagian ‘kita tidak usah berteman lagi’ itu menurutku agak kecepetan sih.
    anyway, keep writing! seri ini termasuk seri yg paling kutunggu lho hehe

    1. Kak lianaa >< syukurlah kalo memuaskan soalnya bagiku ini hambar banget kak. Jadi malu hehehe 😀 dan bagian yang kakak maksud bener kecepetan. Huhuhu
      Makasih kak udah sempetin baca dan memberikan review 🙂

Mind to Review? ^ ^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s