Special DaeRi’s Daily : #2 After Seven Years

38c35bf315f2e600b64ea0a0a6318f52

AirlyAeri © 20160315

Casts : Kim Jongdae [EXO’s Chen] x Song Aeri [OC]

Genre : fluff, friendship, romance | Rated : PG-13 | Length : chapter-second (1800+ words)

Backsound : Super Junior’s Kyuhyun – The Time We Were Not In Love

***

Suasana di dalam elevator memang hanya sunyi senyap, tetapi entah mengapa Jongdae merasa perjalanan menuju lantai dasar mendadak terasa panjang. Diliriknya sosok gadis berambut panjang sepunggung yang kini memilih menundukkan kepalanya tanpa mengatakan apa-apa. Sungguh, rasanya jantung lelaki itu ingin segera lepas dari tempatnya kala memandangi orang yang sudah lama tak ia temui itu.

“Lama tak bertemu, Ae.” Kali ini Jongdae sedang berusaha memulai pembicaraan setelah berhasil mengendalikan detak jantungnya sendiri.

“Ya.”

Jongdae kini menoleh dan mendapati Aeri yang kini masih menunduk. Ekspresi datar yang terpancar jelas di wajah Aeri membuat lelaki itu heran juga.

“Kau tidak senang ya bertemu denganku?” tanya Jongdae.

“Bukankah sejak tujuh tahun yang lalu kita sudah berpisah secara baik-baik?”

Pemuda itu mendadak bungkam. Oh, ia tidak akan melupakan kesalahannya pada Aeri sewaktu kelulusan SMA itu. Dan, Jongdae harus meluruskan sebuah fakta yang terpendam dibalik pernyataannya saat itu.

“Aku tahu waktu itu aku keterlaluan, tapi maksudku tidak seperti itu, Ae,” sahut Jongdae dengan nada berusaha membela diri.

Segera Aeri menoleh ke arah Jongdae lengkap dengan mata memancarkan sorot kaku. Sorot iris mata cokelat jernih yang tak pernah berubah di mata Jongdae sejak pertama mengenalnya. “Keterlaluan? Kau baru sadar? Bahkan kata-katamu masih terasa perih meski ucapan itu sudah lewat bertahun-tahun yang lalu.”

Rasanya hati Jongdae seperti dilempari banyak pisau dan menimbulkan banyak luka kala mendengar ucapan Aeri. Astaga, sampai separah itukah?

Bersamaan dengan itu, pintu elevator terbuka dan dengan langkah besar-besar Aeri meninggalkan Jongdae yang masih membeku. Butuh beberapa detik untuk membuat pemuda itu tersadar dan mengikuti langkah gadis itu. “Tunggu, Ae!”

“Apa lagi?” tanya Aeri langsung seraya berbalik untuk menatap manik mata Jongdae.

“Kita harus bicara,” ujar Jongdae tegas.

Aeri mengerutkan keningnya lalu menghelakan napas panjang sambil melipat tangannya di depan dada. “Apa kau punya topik menarik untuk dijadikan bahan pembicaraan kita?”

“Kau tak berubah, Ae.”

Tampak tubuh Aeri terdiam kaku, matanya segera memandang Jongdae sebelum berpaling ke arah lain. “Aneh, bagaimana bisa kau menarik deduksi begitu? Perlu diingat bahwa kita―”

“―perlu kuingatkan padamu, Ae. Kita sudah berteman selama tiga tahun.”

Aeri kembali memandang Jongdae kesal dan berkata dengan bersikeras, “Dan, pertemanan tiga tahun seharusnya sudah karam untuk melawan waktu tujuh tahun lamanya tanpa adanya komunikasi.”

“Menurutku akan tetap bertahan bila memiliki rasa.”

Kali ini Aeri terdiam mendengar perkataan Jongdae. Ditatapnya mata hitam pekat milik si pemuda yang baru ia temui beberapa menit lalu dengan lekat. Dan detik selanjutnya, gadis itu menghelakan napas untuk kesekian kalinya sambil memandang ke arah lain.

“Aeri!”

Aeri dan Jongdae segera menoleh. Pandangan Aeri mendapati Jiha yang kini berlari kecil menghampirinya seraya berkata, “Ayo kita pergi, waktu makan siang kita semakin sedikit.”

“Kau duluan saja, Jiha. Nanti aku menyusul sebentar lagi,” ucap Aeri pada Jiha.

Jiha memandang Jongdae yang kini memilih memandang Aeri sebentar, kemudian mengangguk. “Aku tunggu di kedai ramyun Paman Choi ya,” ujar Jiha sambil berjalan meninggalkan Aeri dan Jongdae sendirian.

Aeri mengangguk pada Jiha sebentar sebelum kembali berfokus pada Jongdae. “Adakah lagi yang ingin dibicarakan?”

“Ayo kita beteman lagi.”

Tubuh Aeri kembali terdiam kaku dan tak merespon jawaban Jongdae. Membuat lelaki itu melanjutkan ucapannya. “Dan aku akan berusaha membuatmu mau berteman lagi denganku.”

Kali ini mata Aeri tampak membesar hebat. Telinganya tak percaya mendengar sahutan Jongdae kali ini. Membuat langkah kaki gadis itu segera berjalan menjauhi tubuh Jongdae kini masih memandanginya. Sebelum langkah kaki Aeri semakin menjauh, ia berbalik sebentar memandang Jongdae.

“Kau juga masih sama, Dae. Sama sekali tidak berubah.”

Aeri kembali melanjutkan derap langkahnya dan benar-benar meninggalkan Jongdae sendirian. Namun, seulas senyum berhasil terukir di wajah Jongdae saat mendengar perkataan Aeri tadi.

Dae. Aeri tadi memanggil nama panggilannya.

***

Keesokan harinya, Aeri sengaja datang pagi-pagi sekali ke kantor. Takut-takut ucapan Jongdae mengenai usaha untuk mengajaknya berteman kemarin akan benar-benar terjadi. Tetapi, melihat tadi pagi tidak terjadi apa-apa dan isi mejanya sejak pagi kosong membuat gadis itu merasa lega. Meski Aeri akui ada satu sisi hatinya yang merasa kecewa dan segera ditepiskan olehnya.

Kecewa? Karena Jongdae tidak menepati ucapannya? Masa bodoh. Aeri tidak akan peduli dengan semua usaha milik Kim Jongdae sekarang.

Diliriknya sekilas laci yang ada di ujung meja, membuat Aeri membukanya dan mengambil sebuah amplop jingga cerah. Di depan amplop sana tertera sebuah tulisan. Dear Future Husband.

Gadis itu memandang amplop yang ia pegang barang sejenak sebelum mendecih geli. Ia ingat, ia sengaja membuat amplop yang berisi surat diperuntukan untuk calon suaminya sebelum melamarnya. Namun, yang menjadi pertanyaan adalah siapa calon suami Aeri sekarang?

Tidak ada.

Pahit.

Lalu, teringat lagi Kim Jongdae.

Jadilah gadis itu melemparkan amplop jingga itu asal seraya mendengus kesal. Sial, mendadak seluruh ingatanku berubah menjadi Kim Jongdae dan segala kenangannya, pikir Aeri sebal. Lagipula, bagaimana bisa sih lelaki itu menemukan keberadaannya?

Maka dengan buru-buru, Aeri merogoh saku celananya dan mengambil ponsel. Dioperasikan ponselnya sebentar sebelum ditempelkan di telinga, perlu beberapa saat untuk mendengar sahutan dari jaringan seberang.

“Halo, Ae.”

“Riri, apa kau punya waktu? Aku ingin bicara. Bisakah kau datang ke kafe dekat kantorku? Kupikir ini pembicaraan penting.”

“Aku akan melesat ke sana segera, Ae.”

“Oke.”

Segera Aeri memutuskan sambungan teleponnya dan mengambil tas. Lalu ia menoleh ke arah Jiha yang kini kebingungan melihat Aeri yang hendak pergi. “Jiha, tolong katakan pada Kepala Editor Shin kalau aku izin pergi sebentar sampai sebelum jam makan siang selesai.”

.

Jongdae dengan jas hitam yang melapisi kaus putihnya tersenyum terus-menerus sembari melirik ke arah sebelahnya disela mengemudikan mobil Range Rover putihnya. Di sana ada sebuket bunga peony berwarna cerah yang terdiri atas merah, ungu, biru muda, merah jambu, dan jingga yang tertata cantik. Rupanya pembuktian usaha Jongdae untuk membujuk Aeri menjadi temannya lagi dimulai dari sekarang.

Benar kata Park Chanyeol, pikir Jongdae. Ia telah menemukan sesuatu kemarin yang membuatnya kini tersenyum berseri sekali.

Pemuda itu terus saja tersenyum sampai ia sudah memasuki gedung perusahaan penerbitan yang kini lalu lalang. Tak peduli ia dipandangi oleh orang-orang yang menatapnya penuh minat, terlebih karena tertarik melihat buket bunganya yang begitu cantik itu.

“Aeri sedang pergi keluar.”

Jongdae mengerutkan keningnya setelah mendengar ucapan seorang gadis yang duduk di sebelah meja kerja milik Aeri. Ia tadi sengaja minta diantarkan oleh resepsionis untuk menunjukkan di mana letak ruang kerja gadis itu. Belum juga sampai di depan meja kerja Aeri, Jongdae sudah mendapat suguhan jawaban mengejutkan milik si gadis tadi.

Jongdae memandang gadis itu sebentar, lalu teringat bahwa gadis itu adalah gadis yang sama dengan yang Aeri temui kemarin. Kalau tidak salah namanya Jiha.

“Ke mana dia?” tanya Jongdae.

Jiha menjengitkan bahunya. “Tidak tahu.”

Akhirnya, kini Jongdae berdiri tepat di depan meja kerja Aeri yang berantakan dan memandang dengan tatapan kosong. Ditaruhnya buket bunga yang ia bawa di sisi pinggir meja. Kemudian, ia menoleh lagi ke arah Jiha. “Tolong katakan padanya ada titipan dariku.”

Jiha mengangguk mendengar ucapan Jongdae. “Akan kusampaikan.”

“Terima kasih,” ujar Jongdae.

Baru saja tumit kaki lelaki itu hendak terangkat, jika matanya tanpa sengaja menemukan sesuatu yang menarik hatinya di antara barang berserakan di atas meja Aeri. Perlahan tangan Jongdae meraih sebuah kotak kecil berisi kartu nama. Tertera jelas nama Song Aeri di tengah kartu tersebut lengkap dengan jabatan dan nomor telepon.

Lagi. Sudut-sudut bibir Jongdae kembali terangkat sambil memasukkan benda tersebut ke dalam saku jasnya.

.

“Katamu dia akan menetap di Bonn, kenapa dia kembali?”

“Kau membicarakan Kim Jongdae?”

Rihwa menatap Aeri bingung. Teman satu SMAnya dulu ini tahu benar dengan semua sikap Aeri. Ketika Aeri menelepon Rihwa tiba-tiba dan memintanya untuk datang ke sebuah kafe kecil dekat kantor Aeri, sudah Rihwa tebak bahwa ada hal penting yang ingin dibicarakan.

Aeri segera mengerucutkan bibirnya kesal seraya memalingkan wajahnya ke arah lain. “Sudah jelas dia, Lee Rihwa.”

Tampak, kedua mata Rihwa membelalak barang sejenak. “Kau sudah bertemu dengannya?”

“Tanpa penjelasan pun kau juga sudah tahu itu,” sahut Aeri. “Atau jangan-jangan, kau sengaja menutupi kabar Jongdae kalau dia ingin kembali ke Seoul?”

“Heh, tahan tuduhanmu itu, Nona Song,” elak Rihwa sambil mendecih. “Aku tidak tahu apa-apa tentang keberadaan Jongdae selain terakhir kali kau bertanya ke mana Kim Jongdae waktu dulu. Lagipula, Yixing Ge juga tidak memberitahuku apa-apa mengenai orang itu.”

Lagi. Aeri kembali mengukir wajah masamnya di depan Rihwa. Membuat gadis bersurai lurus sebahu itu tergelitik untuk bertanya pada rekannya yang cemberut.

“Memang kapan kau bertemu dengannya?”

“Kemarin. Dan katanya ingin mengajakku berteman lagi.”

Nah, sekarang Rihwa mengerti mengapa wajah Aeri kusut terus sejak awal kedatangannya. “Kau tidak bertanya apa alasannya mengajakmu berteman lagi?”

“Mana aku tahu! Kau pasti lebih tahu dariku!”

Lama-lama, Rihwa jadi naik darah juga akibat teriakan tak berdasar dari Aeri. “Chanyeol dan Youngmi saja tidak mengabarkanku tentang orang itu, lalu Yixing Ge juga tidak mengetahuinya. Kalau begitu, apa yang aku tahu sekarang?!”

Aish, benar-benar! Kenapa sih dengan orang itu? Meski dia dulu tidak di sini saja sudah menganggu hidupku, apalagi sekarang!” gerutu Aeri kesal.

“Hidupmu itu sama sekali tidak terganggu, tetapi hatimu saja yang selalu terguncang mendengar namanya,” sahut Rihwa.

Akhirnya Aeri terdiam dan Rihwa segera mengukirkan senyum kemenangan. “Lagipula, bukankah aku sudah memberikanmu nomor ponsel Jongdae untuk menanyakan kabarnya?”

“Aku tidak mau melakukannya!”

“Kalau tidak mau, ya sudah!”

Lagi. Wajah Aeri kembali terpasang ekspresi masamnya dan Rihwa memutuskan untuk tidak memahami isi hati rekannya yang cenderung gengsi.

Padahal, Rihwa tahu sekali perasaan Aeri sebenarnya.

.

“Tadi kenapa kau membawa buket bunga?”

“Kau penasaran?”

Jongdae tersenyum jahil pada Chanyeol yang kini mengernyitkan dahinya heran. Mereka sengaja bertemu kembali lantaran pembicaraan kemarin belum selesai. Namun, begitu Chanyeol melihat Jongdae datang tanpa berkata sepatah katapun dan senyum terus terpantri di wajah membuat rekannya heran juga.

Terlebih lagi, saat Chanyeol menyadari bahwa di genggaman Jongdae terdapat sekuntum bunga peony berwarna merah jambu.

“Ada yang tidak beres di sini, Bung,” ungkap Chanyeol seraya melayangkan tatapan menyelidik. “Adakah sebuah kabar baik?”

“Aku sudah menemukan Song Aeri,” terang Jongdae tanpa ragu. “Dan aku sedang memulai rencanaku untuk membuatnya mau berteman lagi denganku.”

“Kau bercanda?”

“Aku serius.”

“Hei, mana ada yang mau berteman lagi setelah sekian lama terputus hubungannya? Kau konyol ya?”

“Kau pikir hubunganku dengannya itu apa?”

Seketika Chanyeol bungkam, lalu ia menghelakan napasnya dengan kasar. Sungguh, drama macam apa lagi ini, batin Chanyeol. Ingin rasanya Chanyeol membeberkan tentang kelakukan Jongdae dan Aeri ke semua orang selama ini, sudah muak rasanya melihat sendiri adegan kehidupan dua orang yang saling mementingkan sebuah harga diri.

“Memang tidak ada. Tetapi, dari dalam hatimu pasti ada kan?”

Kali ini, Jongdae berdecak kesal mendengar ucapan Chanyeol yang seperti belati menusuk ulu hatinya dan Chanyeol sukses tertawa dibuatnya.

.

“Dari siapa ini?”

Jiha mendongak kala ia baru saja menghempaskan tubuhnya ke kursi. Matanya mendapati Aeri yang kini sedang menatap bingung ke arah mejanya. Di sana terdapat sebuket bunga peony besar yang memenuhi ruang meja kerja Aeri.

“Orang yang kemarin kau ajak bicara,” jelas Jiha.

“Kim Jongdae maksudmu?”

Jiha mengangguk tak peduli. Tanpa disebutkan namanya oleh Aeri juga Jiha tetap tidak tahu apa itu benar namanya atau bukan.

Sementara, Aeri berusaha mencari sesuatu diantara bunga tersebut dan menemukan secarik kertas.

Bunga peony yang sedang bermekaran cantik di musim semi. Mirip denganmu, Ae.

“Cih, dasar gombal.” Aeri memasukkan kembali kertas itu ke dalam buket bunga dengan asal.

Lalu, Aeri memandangi bunga-bunga peony di sana dan mengamatinya. Ketika ia mencoba mengambil sekuntum bunga peony berwarna merah dan menghirup aromanya, mendadak jantung Aeri memompa berlebihan hingga rasanya ia dapat mendengar detak jantungnya sendiri.

Astaga, apa ia mulai luluh dengan sikap orang itu?

-cut-

Sebenernya mau namatin sampe akhir, tapi yah akunya lagi sakit kepala. Bilang aja kalo kurang puas, aku ikhlas XD hahahaha

Selamat baca dan semoga menikmati. Kritik dan saran amat dinanti. Huhuhu :”

Sekian dan terima kasih.

-Airly.

Iklan

7 thoughts on “Special DaeRi’s Daily : #2 After Seven Years

  1. Woohoo, kak airly akhirnyaaa ~~
    mian ya kak baru tinggal jejak hihii.
    anu/? maaf baru kasih komen hari ini. sinyal kemarin susah bet yamvon /g
    Weheeee akhirnyaa, terus terus nanti pas chap 3 nya dilamar gitu atau gimana wkwkkw.
    keep writing kakk ~~

    1. Haloo, alicellion buat nextnya doain aja ya biar cepet. Lagi digarap dan sedang galau nih /lah curhat/plak/
      Anw, makasih banyak udah nyempetin baca dan review yaaaa huhu terharu duh :”) wkwkwk

  2. mungkin alasan lain aku suka series daeri itu krn love buildingnya yang saaaaangat lambat dan mas jongdaenya yg saaaabar bgt ngadepin aeri yg gaaaalak banget hahaha
    aaanya dibanyakin sekalian
    tapi kesel juga lama2 gara2 aeri suka ga nyadar dan oon gitu ih, bahkan setelah nikah ia suka g nangkep maksudnya jongdae apaan -.-
    anyway, keep writing, moga sakit kepalanya ilang hehe ^^

Mind to Review? ^ ^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s