Special DaeRi’s Daily : #3 Statement

1f5039c4d57d6126e6d475e20272cb48

AirlyAeri © 20160325

Casts : Kim Jongdae [EXO’s Chen] x Song Aeri [OC]

Genre : fluff, friendship, romance | Rated : PG-13 | Length : chapter-third (1900+ words)

Backsound : Girls’ Generation’s YoonA feat. 10 cm – Deoksugung Stonewall Walkaway

***

“Halo?”

“….”

“Siapa ini?”

“….”

Aeri seketika melepaskan ponsel dari telinganya dan membaca nama kontaknya. Tetapi, tidak tertera nama di sana membuat gadis itu memutarkan bola matanya jengah dan mematikan sambungannya.

Ini sudah hari kedua sejak Aeri mendapat telepon misterius dari seseorang yang tak ia tahu. Sejatinya Aeri tak ingin peduli, namun bila diganggu terus dengan menghubunginya sampai larut malam membuat gadis itu kesal juga.

Sedikit bersyukur juga Jongdae sudah tidak menganggunya setelah dua hari yang lalu dikirimi bunga peony, meski hari ini Aeri juga kembali dikirimi sesuatu—kali ini sebotol penuh jus jambu kesukaan Aeri. Lengkap dengan kertas kecil berisi pesan singkat.

Minum jus buah baik untuk kesehatan. Jangan sampai sakit, Ae.

Tetapi, yang paling mengganggu sekarang adalah gangguan telepon. Siapa sih yang kurang kerjaan untuk meneleponnya?

“Aeri, kau dicari oleh Direktur Song.”

“Oke.”

Dengan lunglai, langkah gadis itu berjalan menuju elevator sambil menggerutu sedikit. Ruangan milik Ayahnya ada di paling atas dan dengan berat gadis itu menekan tombol elevator. Meski begitu, otak Aeri masih berputar-putar mengenai nomor telepon masuk yang amat misterius itu.

.

“Kau serius, Nak?”

Jongdae mengangguk pasti pada Song Seungho yang kini menaruh cangkir kopinya dengan tergesa-gesa. Lelaki paruh baya yang seumuran dengan Ayah Jongdae itu, menatapnya sangsi sebentar sebelum seulas senyum terukir di wajahnya.

“Kau yakin? Tidak akan menyesal? Kau tahu betul bagaimana anakku, Jongdae.”

“Kalau saya tahu bahwa saya akan menyesal, pasti saat ini saya tidak akan duduk di hadapan Anda, Tuan,” ujar Jongdae pasti.

“Lantas, apa kau sudah mengatakan hal ini pada anakku sehingga kau sudah berani menemuiku?” tanya Pak Seungho lagi.

Kali ini, Jongdae menggeleng tanpa kata membuat Pak Seungho mengangkat alisnya heran.

“Mengapa?”

“Kalau saya sudah memberitahu Aeri mengenai hal ini dan ternyata keputusan akhir Anda tidak menyetujuinya, bukankah akhirnya semua yang saya lakukan sia-sia?” terang Jongdae. “Saya tidak ingin mengecewakan siapapun di sini, Tuan. Maka dari itu, hal pertama yang saya lakukan adalah menemui Anda. Jika keputusan Anda setuju, saya bisa mengatakan hal ini pada Aeri selanjutnya. Jika tidak, maka saya akan bersiap untuk mundur.”

Seluas senyum lebar kini berhasil terukir di wajah Pak Seungho. Membuat Jongdae ikut tersenyum lega.

“Kau tahu, keputusanku bergantung pada anakku.”

Jongdae segera mengangguk mengerti mendengar jawaban milik Pak Seungho dan senyum dari lelaki paruh baya itu tampak belum pudar juga.

“Berjuanglah, Nak. Aku akan mendukungmu.”

.

“Pak Min, kau tahu tidak kenapa Ayah memanggilku?”

Min Sanghyun—sekretaris Pak Seungho yang saat itu sedang fokus dengan pekerjaannya, harus menoleh ke arah Aeri yang kini asyik mengetuk meja dengan kuku jarinya.

“Maaf sekali, Nona Song. Pak Presdir tidak memberitahu apa-apa mengenai hal itu.” Tampak, Sekretaris Min menggeleng dengan menyesal.

Aeri segera mengerucutkan bibirnya mendengar jawaban itu. “Pekerjaanku masih banyak. Pak Min, tolong beritahu―”

“―tunggu, Nona Song. Ada telepon masuk,” sela Sekretaris Min seraya mengangkat gagang teleponnya. “Ya, Pak? Oh, Nona Aeri sudah di sini. Ya, akan saya sampaikan. Terima kasih.”

“Apa, apa, apa? Apa kata Ayah?” tanya Aeri begitu Sekretaris Min selesai menerima telepon.

“Pak Presdir sudah menunggumu di dalam,” jelas Sekretaris Min. Membuat gadis itu segera melesat menuju ruangan sang Ayah.

Baru saja tangan Aeri terulur untuk memegang gagang pintu, tiba-tiba saja pintunya terbuka. Sontak Aeri tersentak kaget saat tahu siapa yang hendak keluar dari ruangan Presiden Direktur.

“Dae?”

Segera senyum manis terulas di bibir Jongdae. “Hai, Ae.”

“Sedang apa kau di sini?”

“Mengantarkan hadiah dari Ayahku. Memangnya tidak boleh?”

Kontan Aeri tak dapat berkata-kata dan terus menatap Jongdae curiga. “Oh,” ujar Aeri singkat. Lalu, segera ia masuk ke dalam ruangan tanpa menghiraukan Jongdae yang kini terkikik geli.

***

“Ayah.”

“Apa?”

“Aduh, Ayah daritadi memanggilku ke ruangan Ayah, tapi Ayah tak kunjung memberitahu apa yang ingin dibicarakan denganku.”

Akhirnya, Pak Seungho mendelik dari monitor laptopnya ke arah Aeri yang kini memilih berguling-guling di atas sofa dengan malas. Tampak gelas air putih yang terletak di meja kopi sudah kosong. Pasti anak gadisnya sudah meneguk isinya demi menguras kebosanan, namun hasilnya tetap sia-sia.

“Coba Ayah tanya, umurmu sudah berapa?”

“26 tahun.”

“Kakakmu sudah berumur berapa?”

“Kak Mari sudah 30 tahun.”

“Sudah menikah?”

“Sudah, tentu saja. Ayah kan juga tahu kalau Hanbyul sudah besar.”

“Berarti apa?”

Aeri segera mendongak ke arah Ayahnya sambil menautkan kedua alisnya. “Apa?”

Nah, sekarang malah anaknya yang balik bertanya. Membuat Pak Seungho menghelakan napasnya perlahan sambil tersenyum maklum. Kalau begini, bagaimana calon suaminya kelak menghadapi anaknya yang kurang peka ini?

“Kau kapan?”

“Kapan apa?”

“Kapan mengenalkan calon suamimu pada Ayah, sayang?”

Oh.

Kali ini Aeri melongo sebentar sebelum mengangguk mengerti seraya bangkit dari tidurannya. “Tunggu seseorang membaca surat buatanku, Yah.”

“Bagaimana bisa seseorang membacanya kalau Ayah saja tidak diizinkan untuk membacanya?”

Tampak Aeri berpikir sebentar dan menjawab, “Kalau Ayah yang membacanya, nanti Ayah yang akan jadi calon suamiku.”

Mendadak Pak Seungho tidak ingin bertanya lagi pada Aeri untuk beberapa saat.

.

“Jadi, kapan rencanamu untuk melamar Lee Rihwa?”

Buru-buru lelaki yang ditegur Jongdae itu melepaskan sedotan pada iced tea miliknya dan mengelap bibirnya sendiri. Lalu, matanya yang sayu mendadak menajam pada Jongdae. Membuat Jongdae langsung tergelak.

“Pertanyaanku telak untukmu ya, Zhang Yixing?”

“Jangan konyol! Itu pertanyaan serius tahu!”

Lagi. Jongdae tergelak kali ini lebih keras membuat Zhang Yixing—lelaki yang menjadi objek tertawaan Jongdae menatapnya dongkol. Ingin rasanya Yixing melempari Jongdae dengan es batu pada iced teanya jika ia tidak ingat dengan udara musim semi yang begitu menusuk.

“Kalau aku tahu bahwa kau mengenali Riri, aku sungguh tak akan mau menceritakan hal ini padamu!” seru Yixing dengan nada setengah kesal.

“Menyesal mengenali Rihwa sekarang ya, Xing?”

“Lebih menyesal lagi saat aku mengenalimu sekarang,” balas Yixing sakarstik.

Jongdae tergelak lagi. Lalu ia berbisik pada Yixing, “Hati-hati, Xing. Lebih cepat lebih baik, Xing. Takut-takut Lee Rihwa sudah direbut lebih dulu oleh Byun Baekhyun.”

“Riri sudah bilang padaku bahwa Byun Baekhyun hanyalah sisa masa lalu.”

“Oh ya?”

Jongdae takjub mendengar penjelasan Yixing yang terkesan memberitahu bahwa Yixing sudah diberikan lampu hijau oleh teman SMAnya dulu. Sementara, Yixing mengangguk sambil menyesap minumannya dengan santai.

“Wah, bisa-bisa kartu undangan milik Tuan Komposer Zhang akan sampai ke tanganku sebentar lagi!” ungkap Jongdae langsung dengan nada sumringah.

“Lebih baik bercermin dulu, Jongdae. Sudahkah kau mengejar kisahmu yang belum tuntas?” sahut Yixing dengan nada sinis. Membuat Jongdae terkekeh mendengarnya.

“Sudah. Tinggal langkah terakhir.”

Segera obsidian Yixing beralih untuk terfokus pada Jongdae seluruhnya. “Benarkah?”

Jongdae mengangguk. “Doakan aku, Xing. Semoga usahaku berhasil untuk mencuri sisa hati Aeri yang masih tertinggal.”

“Cih, puitis sekali.”

“Kan aku tertular darimu selaku komposer terbaik di Korea-China.”

“Kim Jongdae!”

“Hahaha~”

.

Sore harinya, Aeri berjalan menyusuri kota Hongdae sendirian setelah ia pulang dari bekerjanya. Matanya memandang sekeliling seraya menyesap iced chocolate miliknya. Pikirannya mendadak penat setelah seharian ia ditahan oleh sang Ayah dengan pertanyaan yang menurutnya cukup sulit.

Kapan ia menikah?

Benar juga. Kapan ya?

Perlahan, langkahnya berhenti ketika iris cokelat pekatnya melihat sebuah toko bridal pernikahan. Di sana diperlihatkan etalase gaun pernikahan yang begitu megah dengan bantuan manekin. Warnanya yang putih bersih seolah memancarkan bahwa gaun itu memang pantas dipakai saat upacara paling sakral tersebut. Membuat manik mata milik Aeri berpendar-pendar takjub.

Dengan ragu, tangan Aeri sedikit terangkat membayangkan bahwa ia bisa menyentuh lembutnya kain pada gaun tersebut.

Kira-kira kapan ya ia memakai gaun secantik itu di waktu pernikahannya?

Ah, mendadak ia teringat ucapan terakhir Ayahnya sebelum menyuruhnya pulang.

“Kau tahu sayang, tugas terakhir Ayah dan Ibu saat ini padamu adalah menunggumu menikah dengan seseorang yang selalu mencintaimu dengan tulus.”

Seseorang ya. Calon masa depan? Siapa?

Tiba-tiba, nama Kim Jongdae terlintas di benak Aeri yang membuatnya segera memasang wajah masam.

Sial.

Mendadak dering ponsel milik Aeri terdengar, membuat gadis itu mengambil ponselnya dengan tergesa-gesa. Otaknya segera menebak bahwa yang meneleponnya kini adalah orang tidak jelas yang sudah beberapa hari terakhir meneleponnya tanpa sebab.

“Siapa ini?!” seru Aeri tanpa aba-aba dengan nada setengah kesal.

“Hei, Ae.”

Hening.

Dahi Aeri mendadak berkerut mendengar sapaan di seberang sana. Nada bicaranya terdengar amat familier di telinga gadis itu. Membuatnya tak berani untuk berhipotesis lebih cepat namun harus segera dipastikan.

“Dae?”

Terdengar kekehan suara yang membuat Aeri yakin betul bahwa itu adalah suara milik Kim Jongdae. “Wah, kau bisa menebakku hanya dengan dua kata, Ae? Kau memang mengenali suaraku sejak awal bertemu atau selama tujuh tahun terakhir ini kau selalu berusaha mengingat suaraku? Atau jangan-jangan kau menyimpan nomor ponselku?”

Mendengar ocehan panjang milik Jongdae membuat Aeri berpikir sebentar sebelum mendelik layar ponselnya. Dipandangnya layar yang menampilkan nama Kim Jongdae membuat gadis itu terperanjat juga.

Dengan susah payah, ditelannya ludah Aeri dalam-dalam. Hebat, orang ini cenayang atau apa. Semua tebakan milik Kim Jongdae nyaris betul.

“Ae?”

“Apa?” tanya Aeri kesal. Satu kata yang dikeluarkan Jongdae sukses membuyarkan semua lamunan gadis itu.

“Kau tahu, aku merindukanmu.”

Tubuh Aeri mendadak membeku tanpa sebab mendengar ucapan Jongdae. Seingatnya, udara musim semi sudah tidak sedingin biasanya. Membuatnya langsung berdeham demi mengendalikan dirinya. “O-oh ya? Lucu sekali.”

“Aku serius, Ae.”

“Aku tutup teleponnya sekarang. Sampai jumpa!”

Dengan kasar, Aeri memutuskan sambungan teleponnya dan memasukkan ponselnya ke dalam tas dengan asal. Pikirannya mulai berputar-putar. Dimulai dari kisah mimpinya tujuh tahun lalu bersama Jongdae, pertemuan pertamanya dengan Jongdae setelah tujuh tahun tak bersua, pernyataan Jongdae yang mengajaknya berteman lagi—dan itu cukup mengejutkan, buket bunga peony warna-warni yang ditinggalkan Jongdae di meja kerjanya, jus jambu yang diberikan Jongdae lengkap dengan semua pesannya, dan yang terakhir telepon misterius yang ternyata merupakan dari Kim Jongdae.

Semuanya berputar pada Kim Jongdae seorang.

Ya ampun.

Jantung Aeri mulai berpacu kencang membayangkan sosok Jongdae.

***

Di Minggu pagi, Kim Jongdae memarkirkan mobil Range Rover putihnya di depan pintu gerbang kediaman keluarga Song. Membuat langkah kakinya tanpa ragu berjalan memasuki gerbang kayu besar tersebut dan melewati rerumputan hijau khas musim semi. Tangannya tak lupa juga menggenggam secarik surat berwarna jingga cerah.

Surat yang diselipkan Aeri diantara binder di meja kerjanya.

Senyum Jongdae terus saja terpantri di wajahnya kala ia menekan bel pintu rumah tersebut.

“Selamat datang, Nak. Masuklah.”

Begitu terbuka, Jongdae sudah disambut oleh kehangatan akan sambutan Lee Yooshin—Ibunya Aeri yang ramah. Tangan beliau tampak sedang menggenggam sebuah spatula. Membuat lelaki itu tidak merasa tegang.

“Suamiku sudah memberitahuku mengenai niatanmu, Jongdae. Astaga, kau sudah besar dan dewasa ya,” ceriwis Bu Yooshin sambil mempersilahkan Jongdae duduk. Membuat lelaki itu merasa malu sebentar. “Waktu dulu saja kau sering sekali menjemput Aeri agar bisa pergi ke sekolah bersama dengan sepedamu.”

“Apa Aeri masih belum bisa naik sepeda, Nyonya?” tanya Jongdae ingin tahu.

“Belum. Anak itu masih terlalu malas untuk belajar. Fokusnya saat ini hanya bekerja saja, tidak ingat umur sama sekali meski kakaknya sering kali ke rumah bersama keponakannya,” jelas Bu Yooshin membuat Jongdae terkekeh sebentar. “Cobalah bujuk ia, kebetulan anak itu baru saja selesai mandi dan berganti pakaian.”

“Saya akan menemuinya, Nyonya. Permisi.”

Akhirnya, Jongdae meninggalkan Bu Yooshin dan berjalan menyusuri tangga. Mendadak ingatannya terlempar pada saat ia masih menginjak waktu SMA. Di mana ia suka sekali mengetuk-ngetuk pintu kamar Aeri yang lama sekali karena sibuk mencari barangnya yang kadang hilang, atau ketika Jongdae tanpa permisi melesat masuk ke kamar Aeri saat gadis itu sedang asyik dengan komik dan ensiklopedia kesukaannya.

“Apa yang kau lakukan di sini, Dae?!”

Jongdae segera mengulas senyum kala melihat Aeri yang melongo menatapnya. Gadis itu rupanya sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk dan berdiri terpaku di depan pintu kamar saat melihat keberadaan Jongdae.

“Aku ingin bicara denganmu, Ae.”

“Tidak bisa ya via telepon? Kau kan sudah punya nomorku, pakai acara menerorku segala pula.”

Aeri mendecakkan lidahnya kala mengingat apa yang dilakukan Jongdae selama ini disela-sela sibuk mengeringkan rambutnya.

“Ae.”

Aeri segera memalingkan wajahnya seolah tak melihat Jongdae. “Apa?”

“Lihat mataku.”

“Apa sih?!”

Dengan kesal, Aeri memandang Jongdae dengan rambut basah yang menutupi wajahnya. Membuat lelaki itu mengulurkan tangannya untuk menyingkirkan helaian rambut milik si gadis sambil tersenyum. Lalu berkatalah Jongdae dengan nada yakin pada Aeri.

“Ayo kita menikah, Ae.”

-cut-

Finally! Yang ketiga sudah selesai kusenang sekali kawan. Hahaha XD

Harusnya sih ngerjain makalah sama tugas hitungan, tapi menulis ff lebih menggoda meski webenya susah dilawan. Tetapi, kali ini sudah berhasil! Yay! Senang senang senaaangg!! >_< Maafkan bila kecepetan, abis beneran saya ga sabar kapan sih mereka jadiannya /lah/padahal gue sendiri yang nulis/lempar ke rawa/ 

Yaudah, maybe next chapternya udah terakhir jadi nantiin aja ya. Hahahah. Selamat membaca dan semoga suka. Kritik dan saran amat dinanti. Sekian dan terima kasih. ^^

-Airly.

Iklan

8 thoughts on “Special DaeRi’s Daily : #3 Statement

  1. MELTING SAMA MAS JONGDAE :’V
    DILAMAR AH ~~~
    ANDAI ITU AKU WKS :’) AKU IYAIN DAH, AYO KAPAN KE PELAMINAN WKWK.
    Ahh ada yixing juga, next chapt kakkk .
    kira kira jongdae yang nemu suratnya atau aeri yang bacain suratnya ke jongdae ya ? ah penasaran setengah hati /?
    Next kakk next ~~~

    1. Aku juga mau dong kalo gitu smaa mas dae hahahah XD /dilempar/ anw, memang ada spesial yixing jadi cameo wkwkek XD
      Buat semua pertanyaanmu, ditahan dulu ya karena jawabannya ada di next chapter. Makasih loh ya sudah baca dan ninggalin review 😀

  2. IYA KAMU TUH YA LAMA BANGET SIH NIKAHIN MEREKA DEUH
    MANA AE ITU KAYAK MASIH SOK OBLIVIOUS GITU
    aaaaaah tapi akhirnya akhirnya mas dae ngajak nikah, ayo dah cus cepetan!
    sarannya sih ya…. apa tadi aku lupa. oh ya, ada nih bbrp tanda baca yg kayak kurang gereget gitu dipasangnya, misal:
    “Kim Jongdae.”

    “Hahaha.”
    kenapa dititik doang, mestinya pake tanda seru ga sih, aku bayanginnya mas yixing itu kesel digodain terus dan jongdaenya bahagia dgn muka jailnya, jadi kalau kamu pasang titik buat nutup ini rasanya kurang gimana gitu kan.
    dan kenapa
    SELALU YA MAS JONGDAE KATA-KATAMU YG NUTUP CERITA PADAHAL AKU KAN PINGIN TAHU REAKSI AERIIIIIII
    iya lho, kyk misalnya yg pillow talk dulu (iya ga sih) mas jongdae main matiin lampu aja, trs reaksi aerinya kyk kurang passionate gitu aish.
    keep writing anyway! XD
    PS tugas tuh dikerjain :p

    1. Iya kak ya kok lama sih ya nikahinnya /sambil ngaca/dilempar/
      Saran akan segera diterapkan. Emang salah aku kak itu mah karena pengen buru2 kelar nulisnya /malu weh malu/dilempar/
      Kalo ending ceritanya ini kenapa mas jongdae yang ngomong, soalnya reaksinya aeri ketinggalan di next kak. Wkwkwk 😀 kalo yang pillow talk aku kok lupa sih ya. /brb nyebur/
      Yaudah kak, makasih ya sudah baca dan meninggalkan review kyakyaa ><
      Ps. Tugas siap dikerjakan kak wkwk XD

Mind to Review? ^ ^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s