Special DaeRi’s Daily : #4 Open The Door

9c6f1dea75323f20633d4e185175d04c

AirlyAeri © 20160328

Casts : Kim Jongdae [EXO’s Chen] x Song Aeri [OC]

Genre : fluff, friendship, romance | Rated : PG-13 | Length : chapter-fourth (1900+ words)

Backsound : Super Junior’s Yesung – Grey Paper

***

“Apa?”

Aeri ternganga begitu mendengar pernyataan milik Kim Jongdae. Tangannya mendadak terasa lemas hingga rasanya untuk memegang handuk saja sudah tak bisa. Kedua mata gadis itu bahkan nyaris tak bisa lepas dari lelaki di hadapannya dan terus menatap penuh lekat.

Sementara, si penutur pernyataan malah mengulas senyum manis sekali. Membuat jantung si gadis nyaris berdentum tak beraturan kala melihatnya.

“Kau serius?” tanya Aeri lagi.

“Ya.”

“Menikah?”

“Ya.”

“Aku?”

“Ya.”

“Denganmu?”

“Iya.”

Aeri terdiam sebentar dan malah bersedekap di depan Jongdae. “Kenapa?”

“Bukankah kau sendiri yang bilang kalau jodohmu harus cepat-cepat datang?” Jongdae membalas ucapan Aeri sambil tersenyum santai.

Namun, kalimat yang dibalaskan Jongdae untuknya malah membuatnya kaget bukan main. “Apa?”

Tanpa disuruh, tangan Jongdae menyusup ke saku dibalik jasnya dan mengeluarkan secarik amplop jingga cerah. Amplop yang amat dikenali Aeri dengan judul dikhususkan untuk sang calon suami jika ia sudah menemukannya.

“Baca ini.”

“Kau dapat surat ini dari mana?” Aeri malah balik bertanya.

“Binder di meja kerjamu.”

“Aku yakin sekali bila aku menyembunyikannya dengan baik sampai orang lain tak tahu keberadaannya.”

“Pengecualian untuk Kim Jongdae, karena aku tahu betul bagaimana cara kau menyembunyikan sesuatu dariku.”

Aeri akhirnya kehabisan kata dan matanya sedaritadi tak lepas dari Jongdae yang masih mengulas senyumnya. Senyum yang entah mengapa bisa saja membuat gadis itu meleleh. Membuat tangan gadis itu cepat-cepat meraih amplop jingga cerah tersebut dan membuka isinya. Lengkap dengan wajah masam.

Gadis yang mendadak menjadi terdakwa itu, bahkan harus menelan ludahnya dengan susah payah saat melihat rentetan kata yang dulu ia ukir sendiri.

“Bagian mana yang harus kubaca?” tanya Aeri dengan nada sama sekali tak tulus.

“Baris yang menyatakan kapan jodohmu datang,” ujar Jongdae santai sambil tersenyum jahil. Rasanya sudah lama sekali tak melihat Aeri yang dijahili begini.

Mendengar kalimat ‘kapan jodohmu datang’ yang dilontarkan Jongdae, membuat pipi Aeri berubah menjadi merah  padam. Ya Tuhan, bersiaplah aku dipermalukan oleh lelaki menyebalkan ini, pikir Aeri sambil melebarkan kedua matanya demi kelancaran membacanya.

Kalau melihat isi surat konyolnya, mendadak gadis itu berubah menjadi buta huruf saking malunya.

Kepada suami masa depanku.

Kapan kau datang? Aku sudah bosan mendengar ocehan orang lain tentangku ‘kapan kau menikah?’, ‘siapa calon suamimu kini?’, dan sebagainya. Jika kau berjanji akan datang dalam waktu dekat, aku siap menunggumu.

Aeri melirik Jongdae yang kini mengamatinya dengan pandangan bertanya. Namun, manik mata hitam lelaki itu menyuruhnya melanjutkan bacanya. Membuat gadis itu rasanya ingin mengutuk dirinya sendiri yang memilih menuruti suruhan orang ini.

Kepada suami masa depanku.

Jika nanti kita bertemu, kumohon alihkan segera pandanganku kepadamu dan jangan membiarkanku tenggelam dalam kisah masa lalu mengenai Kim Jongdae—sahabatku kala SMA yang dulu begitu kusukai. Aku akan lebih suka bila kedua mata ini hanya terfokus padamu, karena aku akan bersiap menjadi istri yang setia mendampingimu.

“Nah.”

Aeri segera mendongak lengkap dengan wajah memerahnya. “Apa?”

Akhirnya, Jongdae berdiri tegak di depan Aeri dan memandang gadis itu dalam. Hingga rasanya Aeri merinding melihatnya.

“Lihat aku sekarang. Aku sudah datang sebagai calon suami masa depanmu dan di surat itu pula, kau mengatakan bahwa aku harus mengalihkan pandanganmu dari Kim Jongdae—itu aku jelas saja,” tutur Jongdae. “Tetapi, pengecualian. Aku pinta kau jangan pernah mengalihkan pandanganmu dari Kim Jongdae, karena Kim Jongdae yang akan melamarmu hari ini.”

Hening.

Aeri terdiam sebentar sebelum ia berbalik masuk ke dalam kamarnya dan membanting pintunya keras. Sudah cukup rasanya ia dibuat malu oleh lelaki itu.

Di sisi lain, Jongdae mengerutkan keningnya dan nyaris terlonjak kaget melihat sikap si gadis. “Ae?”

“Pikirkan dulu pernyataanmu tadi dengan mengingat apa yang terjadi sebelumnya! Enak saja main mengajakku menikah begitu!” Terdengar dari dalam kamar Aeri berteriak keras.

Gadis itu bersandar pada pintu kamarnya seraya memegang dadanya yang berdetak keras sekali. Hingga rasanya Aeri dapat merasakan jantungnya terasa ingin lepas dari tempatnya, membuat gadis itu menelan ludahnya dalam-dalam demi menenangkannya. Napasnya juga terengah-engah karena habis berteriak tadi.

Dari luar, telinga gadis itu dapat mendengar langkah Jongdae mendekati pintu kamarnya.

Tuk!

Terdengar ketukan lembut dari pintu Aeri, menandakan Jongdae yang melakukannya. Aeri ingat, dulu juga Jongdae sering melakukannya di depan pintu kamar Aeri ketika gadis itu sedang marah karenanya. Atau, ketika sedih yang berkepanjangan karena koleksi bukunya sering menghilang tanpa sebab.

“Ae.”

Tuk!

“Sudah lama aku tidak menghadapi dirimu yang seperti ini. Aku selalu ingat kalau kau suka sekali marah besar sampai memilih berdiam diri di kamar. Dan, aku selalu kebingungan untuk membujukmu agar mau pergi keluar bersamaku dan membuang rasa sedihmu.”

Padahal, Aeri merasa sudah lama juga ia tidak seperti ini. Hanya pada Jongdae ia begini untuk kali pertamanya setelah bertahun-tahun.

Tuk!

“Perlu kau ingat, Ae. Ucapanku untuk memutuskan pertemanan denganmu waktu itu bukan karena aku membencimu, sungguh. Kau harus tahu, ketika kau menganggap ucapanku sungguhan, rasanya aku ingin berlari mengejarmu yang tetap memilih pergi dan tidak meminta penjelasan lebih dariku.”

Benarkah? Pikir Aeri dengan mata yang sedikit melebar karena kaget.

Tuk!

“Dan aku serius saat aku mengajakmu menikah denganku, Ae. Aku selalu menunggu waktu yang tepat untuk ini.”

Mendadak Aeri seperti tak mendengar detak jantungnya sendiri akibat perkataan Jongdae dari sebrang. Membuat gadis itu cepat-cepat mencarinya.

Tuk!

“Batas waktu untuk menjawab pernyataanku tidak ada. Jadi, aku akan selalu menunggumu, Ae.”

Tuk!

“Izinkan aku membuatmu mencintaiku sekali lagi, Ae. Tolong jangan hilangkan sisa perasaanmu untukku sewaktu dulu, karena aku akan menumbuhkannya kembali untukmu.”

Hening.

Kali ini sudah tidak ada lagi ketukan pintu kamar Aeri. Membuat airmata gadis itu perlahan turun tanpa diminta. Saat ini hati Aeri bercampur antara sedih dan haru. Keperihan egois miliknya dan di satu sisi ingin rasanya memeluk Kim Jongdae yang kini sudah rela menurunkan harga dirinya membuat gadis itu sedih. Bolehkah ia mencintai sosok orang itu kembali? Bahkan rasanya ia terlalu malu untuk mengakui bahwa ia memang selalu menunggu.

Menunggu Kim Jongdae datang.

***

Esoknya begitu Aeri sampai di meja kerja miliknya, matanya sudah mendapati sekuntum bunga tulip yang tergeletak di sana. Membuat gadis bersurai sepunggung yang diikat rendah itu segera duduk dan mengambil bunga tulip tersebut. Matanya langsung membelalak hebat saat ia tanpa sengaja menarik satu sisi tangkai dan memperlihatkan kertas tipis berwarna senada dengan si tangkai bunga.

Manik cokelat pekat milik Aeri mencoba meneliti kertas tipis tersebut, yang ternyata memperlihat sebuah goresan kata dengan tinta hitam.

Kumohon izinkan aku untuk membuatmu mencintaiku sekali lagi. Karena sejak awal kita berteman, aku sudah mencintaimu dan rasa itu tak pernah hilang meski kita sudah lama tak bertemu.

Buru-buru Aeri melipat kertasnya begitu selesai dibaca. Matanya mendadak terasa memanas, namun dengan cepat ia mendongakkan wajahnya agar dapat menahan riak airmata yang hendak turun.

Sial.

Ia bukannya bimbang, hanya saja ia masih belum bisa yakin akan sikap Jongdae yang terkesan mendadak ini. Terlebih ada sisi egois di mana ia masih belum bisa memaafkan atas apa yang terjadi beberapa tahun silam. Dan ini membuatnya semakin sedih.

Mendadak otak Aeri mengingat percakapan antara ia dan Jongdae saat mereka bertemu untuk pertama kalinya.

“Pertemanan tiga tahun seharusnya sudah karam untuk melawan waktu tujuh tahun lamanya tanpa adanya komunikasi.”

“Menurutku akan tetap bertahan bila memiliki rasa.”

.

“Bagaimana kisah penaklukan seorang Song Aeri?”

“Tidak tahu. Jangan tanya tentangnya.”

Chanyeol mengernyitkan keningnya mendengar penuturan Jongdae. Hari ini Chanyeol sengaja datang ke kantor Jongdae untuk mendengar kisah yang belum ia dengar mengenai Aeri. Namun, begitu mendengar jawaban Jongdae disela-sela sibuk dengan laptopnya membuat Chanyeol kaget juga.

“Kenapa?”

Hah, Jongdae sudah menduga bahwa pertanyaan itu yang akan keluar dari mulut Park Chanyeol Si Kuping Besar—begitulah julukannya dari kekasih Chanyeol sendiri. Membuatnya dengan terpaksa mengalihkan arah pandang pada lelaki jangkung yang kini sedang berkacak pinggang.

“Kau menyerah?” Belum juga Jongdae merespon pertanyaan Chanyeol, namun lelaki itu sudah memilih untuk menyudutkannya.

“Tidak, tentu saja. Apa gunanya aku selalu pergi ke Tokyo setiap liburan semester jika bukan ini,” ungkap Jongdae jengah. “Aeri hanya terlalu takut untuk jatuh cinta lagi padaku.”

“Oh, tampaknya Tuan muda Kim yakin sekali dengan deduksi buatannya,” cibir Chanyeol dengan nada sebal. “Jangan main menyimpulkan tanpa bukti!”

“Itu nyata,” tekan Jongdae. “Aku berkata begitu karena kemarin dia sendiri yang mengakuinya.”

“Apa?” respon Chanyeol dengan nada tertahan karena kaget. “Sungguh? Dia benar-benar mengaku di hadapanmu?”

“Begitulah,” ujar Jongdae sambil menghelakan napas panjang. Menandakan lelaki itu sudah tak mau menjelaskannya lagi.

Kemudian, disandarkanlah tubuh Jongdae ke kursi putarnya. Pikirannya menerawang ke arah yang tak tentu, namun satu nama yang benar-benar mendominasi pikiran dan hatinya.

Song Aeri.

.

“Apa?! Jongdae melamarmu dan kau menolaknya?!”

Aeri memijat pelipisnya begitu terdengar teriakan membahana milik Youngmi—kekasih Park Chanyeol dan teman SMAnya pula. Padahal, Aeri baru saja pulang dari bekerja dan sengaja menemui Youngmi demi menurunkan tingkat stressnya. Namun, kala mendengar teriakan Youngmi yang terkesan membesar-besarkan sepertinya tidak akan ada efek penurunan stress dalam diri Aeri.

“Jangan berteriak. Aku tidak tuli,” ucap Aeri dengan nada lirih.

Sementara, Youngmi sama sekali tak mau diajak kompromi dan malah menatap Aeri tajam. “Kau sudah gila ya, Aeri? Hah? Tidak ingat kalau selama kau di Tokyo, kotak masuk email-ku penuh oleh siapa?”

“Aku.”

“Dan isinya apa?”

“Menanyakan kabar Kim Jongdae.”

“NAH ITU KAU TAHU!”

Aeri kembali memasang wajah cemberut dan berpaling ke arah lain untuk menghindari Youngmi. Teriakan Youngmi semakin membahana ternyata, membuatnya merasa salah untuk mengambil keputusan bersama si gadis berambut cokelat itu setelah pulang bekerja tadi.

“Heran juga aku, bagaimana bisa tipe Kim Jongdae itu orang sepertimu? Ck,” desis Youngmi tak habis pikir. “Hentikan drama lika-liku kehidupanmu ini, Aeri! Jangan bertingkah egois untuk hal seperti ini.”

“Apa sih?!” seru Aeri akhirnya mulai kesal. “Youngmi, aku bertemu denganmu bukan untuk mendengar omelanmu hari ini. Jadi tolong tenanglah.”

“Aku tidak bisa tenang kalau saat ini kau malah mengedepankan sikap egoismu. Sementara kau tahu betul bagaimana perasaanmu pada Jongdae,” terang Youngmi dengan nada rendah. “Apa kau tidak ingat, siapa yang menasehatiku untuk lebih jujur pada diriku sendiri mengenai Park Chanyeol, hah?”

“Aku tahu,” ujar Aeri. “Dan, tolong jangan membuatku semakin pusing.”

***

Di hari berikutnya, Aeri kembali mendapati meja kerjanya tidak kosong. Namun, ia dapat melihat kali ini yang tergeletak adalah satu pot bunga akasia yang dibungkus rapi menggunakan plastik tembus pandang. Gadis itu meneliti pot itu sejenak dan membuka plastiknya dengan cepat. Matanya langsung berbinar takjub saat mendapati bunga tersebut bermekaran cantik dengan kuning cerahnya.

Namun, dahi Aeri langsung berkerut saat tangannya mendapati secarik kertas kecil. Dibacanya kertas yang sudah dibubuhi tinta itu.

Kau tahu, itu adalah bunga akasia yang tujuh tahun lalu kau berikan padaku. Bagaimana menurutmu? Cantik kan? ―JD.

Seketika, mata Aeri membelalak dan beralih memandang bunga akasianya. Benarkah? Dari Jongdae?

Lalu, Aeri kembali membaca ulang pesan singkat itu dan baru menyadari adanya catatan.

p.s. di dalam pot ada berbagai kertas yang bisa kau baca dan akan memberitahumu berbagai macam fakta.

Segera Aeri bergegas duduk dikursinya dan mulai menelisik pot dari bunga akasia tersebut. Ada berbagai macam warna kertas dimulai dari biru, ungu, jingga, merah jambu, cokelat, hijau, dan lain-lain. Pertama Aeri mencoba mengambil kertas berwarna biru.

Kau tahu kenapa buku kesayangmu sewaktu dulu sering hilang tanpa sebab? Itu aku pelakunya. Mau tahu alasannya? Coba kau cari kertas hijau nomor 5.

Sial, Aeri dikerjai oleh Jongdae kini. Berkat rasa penasarannya, Aeri harus bersiap menghabiskan waktunya untuk mencari teka-teki buatan Kim Jongdae. Lagipula Aeri juga kaget saat tahu jawabannya mengapa buku ensiklopedianya selalu hilang.

Senyum Aeri langsung mengembang saat menemukan gulungan kertas hijau bernomor 5 dan cepat-cepat membukanya.

Aku kesal setiap kali aku datang ke rumahmu. Saat kakiku sudah sampai di kamarmu, aku akan mendapatimu sedang fokus membaca buku ensiklopedia edisi terbaru. Membuatku dengan iseng membawa koleksimu pulang ke rumahku. Tapi, aku juga pusing saat tahu bagaimana sedihnya dirimu yang kehilangan barangmu itu.

Jadi, aku pernah berjanji membelikanmu buku ensiklopediamu yang hilang itu. Padahal, aku hanya mengembalikannya padamu setelah diberi catatan kecil.

Jadi begitu rupanya, pikir Aeri sebal. Sial, sial, sial, umpat Aeri disela-sela ia kembali menelisik pot tersebut.

Kala tangannya mendapati gulungan kertas berwarna biru, buru-buru Aeri membukanya. Dan ketika membaca rentetan kata di dalamnya, napas Aeri terasa berhenti dan jantungnya kembali berdebar-debar tak karuan.

Izinkan aku untuk membuatmu mencintaiku sekali lagi, Ae. Karena aku benar-benar mencintaimu dan selalu setia menunggu pintumu terbuka untukku.

Perlahan, airmata Aeri mengalir tanpa diminta karena kedua matanya mendadak memanas.

Dan bahkan, Aeri sudah tak memiliki tenaga untuk menghapus riak airmatanya.

-cut-

AKHIRNYA YANG INI KELAR. MASIH ADA SATU LAGI BERARTI YA. YAUDAH DEH MOGA SUKA YA. INI APAAN DEH BAYANGINNYA WKWKWKWK XD

SELAMAT BACA DAN SEMOGA SUKA. REVIEW DINANTI. SEKIAN DAN TERIMA KASIIIHHHH.

-Airly.

Iklan

8 thoughts on “Special DaeRi’s Daily : #4 Open The Door

  1. DAN CHAPTER 4 PUN KELUAR DUMB DUMB DUMB..
    Yeay Jongdae ketemu suratnya aeri yeeaayyy.. tapi kok belum nikah :’3
    Aku kira chap 4 mereka nikah dan udah first night /apa/
    Wkwkw ku tunggu selanjutnya kakkk
    Keep write ^^

  2. ASTAGA MASIH BELUM NIKAH JUGAAAA?!
    for some reason dramanya manis sekaligus bikin capek ya. mas jongdae terlalu lembut! aerinya ga siap2, uh T.T ya udah ditunggu chap berikutnya aja ya…. *gegulingan nungguin mereka beneran nikah.

    1. Sabar ya kak, karena semuanya akan indah pada waktunya. Wkwkw XD
      Tenang kak tenang, next udah penentuan kok wkwkwkwkw
      Makasih ya kak udah baca dan ninggalin review 😀

Mind to Review? ^ ^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s