Special DaeRi’s Daily : #5 Be With You [Last]

c0db3f9dba3415d997199367cf3a7590

AirlyAeri © 20160331

Casts : Kim Jongdae [EXO’s Chen] x Song Aeri [OC]

Genre : fluff, friendship, romance | Rated : PG-13 | Length : chapter-fifth (2300+ words)

Backsound :

Davichi – This Love [Descendants of The Sun OST.]

EXO – Lucky

K.Will – Marry Me?

***

Sedari pagi—sejak membaca gulungan kertas dari pot bunga akasia, membuat Aeri terus diam bagaikan tubuh tanpa roh. Pikirannya mendadak buyar entah ke mana dan meski ia mencoba mengaturnya, semuanya terasa sia-sia.

Ketika ia memilih pulang ke rumah dan bersiap untuk menghempaskan tubuh ke ranjang kesayangan, tiba-tiba terinterupsi lantaran melihat sang Ibu di ruang keluarga.

“Ibu sedang apa?”

Bu Yooshin mendongak sebentar ke arah Aeri dan kembali fokus. Tangannya tampak membolak-balik lembaran buku yang dirasa Aeri kenal. “Kau sudah pulang? Ibu menemukan ini di bawah ranjangmu. Ensiklopedia keluaran zaman kapan ini?”

Ensiklopedia. Hah, sekarang Aeri baru ingat bentuknya. “Sudah lama sekali. Ibu kan sering membelikanku sewaktu SMA. Ibu hanya menemukan satu?”

“Tidak. Ada banyak di bawah tempat tidurmu, coba saja cari kalau mau dibaca lagi. Sudah lama juga Ibu tidak melihatmu membaca ini,” jelas Bu Yooshin. “Kau tumben pulang di waktu yang bahkan belum menyentuh jam makan siang ini. Ada masalah?”

Mendengar pertanyaan sang Ibu, membuat pikiran Aeri kembali bertebaran entah ke mana. “Tidak,” ungkapnya singkat.

“Apa itu?”

Aeri mengikuti arah pandang Bu Yooshin yang kini sedang terfokus pada tangan kanannya. Didapati sebungkus plastik berisi bunga akasia lengkap dengan potnya. “Bunga akasia.”

“Dari siapa?”

“Seseorang,” ujar Aeri singkat. “Aku mau istirahat dulu ya, Bu. Kepalaku sakit.”

Lalu, Aeri segera menaiki tangga dan membuka pintu kamarnya. Dihempaskannya tubuh Aeri ke ranjang seraya menghelakan napas panjang.

“Ya Tuhan,” gumam Aeri.

Tiba-tiba, Aeri bangkit dari tempat tidurnya dan melirik tumpukan buku yang berserakan di bawahnya. Ensiklopedia, begitulah judul yang terbaca di mata Aeri. Membuat gadis itu segera bergerak turun dan meraih salah satu bukunya.

Ketika ia membuka lembar demi lembar buku tersebut, Aeri seringkali tertawa sumbang. Mendadak ia merasa begitu menyedihkan dengan kondisinya sekarang. Membuatnya langsung merasa kesal sendiri. Sial, kenapa hidupnya begini sekali sih?

Begitu tiba di lembar terakhir, mata Aeri mendapati sebuah tulisan kecil dengan tinta hitam yang ada di sudut lembar. Membuat gadis itu tanpa sadar menelitinya.

i. t. a. l. y.

Tunggu, pikir Aeri. Sepertinya gadis itu pernah melihat untaian akronim ini. Tapi, di mana ya?

Aeri menyipitkan matanya sebentar. Lalu, tersadar sebentar.

Ya ampun.

Buru-buru Aeri beringsut dari ranjangnya dan meraih plastik bening berisi pot bunga akasia. Dibukanya plastik itu dengan paksa dan dengan sengaja ia menghamburkan seluruh isi gulungan kertas tersebut. Kertas cokelat nomor 143, pikirnya seraya mencari.

Saat menemukannya, segera Aeri membukanya dan membacanya.

i. t. a. l. y. – I trust and love you

Tidak salah lagi, Aeri membatin. Itu catatan kecil dari Jongdae waktu dulu.

Mendadak semua waktu berhenti dan Aeri merasa menjadi orang paling bodoh sedunia.

.

Jongdae terus saja bekerja meski waktu makan siang semakin dekat. Pikirannya juga diam-diam buyar, meski lelaki itu juga mencoba mengabaikannya. Namun, kala ia melihat amplop jingga lengkap dengan tulisan kecil itu membuatnya langsung membeku.

Surat milik Aeri.

Lalu, tiba-tiba satu pertanyaan keluar tanpa diminta.

Apa Aeri benar-benar sudah tak bisa mencintainya lagi?

Lelaki itu hanya bisa menghelakan napas panjang dan bersandar pada kursi putarnya. Mencoba menenangkan pikirannya sendiri.

“Tuan Kim.”

Lelaki itu mendelik dan mendapati Jang Jaewoo—sekretaris kepercayaan Jongdae. Lelaki yang usianya diatas Jongdae itu memandang atasnya dengan khawatir.

“Anda sebaiknya istirahat dulu. Lebih baik Anda segera bergegas pergi makan siang,” saran Sekretaris Jang. “Kalau begini, bagaimana bisa Anda memiliki tenaga untuk menemui kekasih Anda?”

“Aku tidak tahu perasaan Aeri sebenarnya,” sahut Jongdae dengan nada sumbang. “Aku mendadak ragu.”

“Apa yang Anda ragukan? Belum cukupkah dengan semua bukti yang Anda pinta?” tanya Sekretaris Jang dengan nada penasaran.

“Tidak, tidak,” ujar Jongdae. “Lebih baik tolong buatkan aku kopi. Kepalaku mendadak pening.”

Sang sekretaris mau tak mau harus menuruti ucapannya. “Baik, Tuan Kim.”

***

Sepanjang perjalanan di bus, airmata Aeri terus saja mengalir tanpa henti. Punggungnya terus naik turun tanpa henti, meski ia mencoba menenangkan hatinya tapi nyatanya sia-sia. Tangisnya yang sendu-sendat membuatnya tak lagi peduli dengan tatapan heran orang-orang di sekitarnya.

“Dae…”

“Dae…”

Aeri terus saja menggumam tanpa henti. Mendadak gadis itu sadar bahwa ia adalah orang yang paling tidak beruntung, karena menolak lelaki seperti Jongdae.

Kenapa ia tidak tahu? Kenapa ia tidak tahu bahwa Jongdae sejak awal sudah memberi isyarat? Kenapa ia hanya terlalu memikirkan dirinya sendiri tanpa menoleh ke sisi lain, di mana ada sesosok lain yang selalu mengamatinya? Kenapa ia baru sadar sekarang? Kenapa ini semua membuatnya merasa menjadi sosok yang paling menyedihkan? Kenapa?

Kala busnya berhenti tepat di dekat kantor Jongdae, buru-buru gadis itu turun seraya menghapus sisa airmatanya dengan kasar. Kakinya yang berbalut sepatu sneakers biru langit melangkah cepat—bahkan berlari demi mencapai pintu masuk kantor besar tersebut.

“Ah…, Nona, ada yang bisa saya bantu?”

Seorang resepsionis wanita menatap Aeri bingung saat melihat kedatangan gadis bersurai sepunggung itu yang masih menangis tersendu-sendu. Bahkan si resepsionis dengan sukarela memberikan setumpuk tisu pada Aeri. Membuat gadis itu mencoba menghapus airmatanya barang sebentar dengan tisu tersebut.

“Saya ingin bertemu dengan Kim Jongdae,” ungkap Aeri dengan suara parau.

“Oh, Tuan Kim? Apa Anda memiliki janji?” tanya wanita resepsionis itu.

“Tidak, tidak.” Aeri menggeleng. “Saya memilik urusan penting sekali dengannya. Bisakah Anda menghubunginya?”

“Nona Song Aeri?”

Aeri terdiam sebentar dan menoleh. Dahinya seketika mengernyit saat mendapati seorang lelaki—yang bisa ditaksir berusia sekitar 32 tahunan—sedang berdiri di belakang tak jauh darinya. Lelaki itu memandang Aeri sebentar sebelum ulasan senyum menghias di wajahnya.

“Ternyata benar Anda.”

“Anda siapa?”

Lelaki itu tersenyum. “Saya bisa menceritakan apa yang ingin Anda ketahui mengenai Tuan Kim Jongdae.”

Akhirnya, Aeri kini berdiri di dalam elevator ditemani lelaki itu.

“Saya Jang Jaewoo. Sekretaris kepercayaan Tuan Kim,” ungkapnya dengan nada menjelaskan. Membuat Aeri mengangguk mengerti.

“Saya selalu mendengar kisah Tuan Kim, terutama Anda,” lanjutnya. “Tuan Kim belakangan sering murung dan berbicara sendiri. Mungkin menyangkut Anda.”

“Benarkah?” Aeri akhirnya angkat suara dengan nada terkejut.

Sekretaris Jang mengangguk menanggapi Aeri. “Cobalah temui dia, Nona Aeri. Saya tahu sekali bila Anda bisa menyembuhkannya sekarang.”

Ketika pintu elevator terbuka, Sekretaris Jang tampak sengaja berjalan lebih lambat dari Aeri. Dengan senyumnya, ia lalu berkata, “Semoga berhasil, Nona Song.”

Di depan pintu ruangan Jongdae, diam-diam Aeri menelan ludahnya sendiri. Ternyata bisa segugup ini demi menemui Kim Jongdae, pikir Aeri.

Baru saja tangan Aeri terangkat hendak mengetuk pintu, tiba-tiba terdengar suara nyaring yang membuat gadis itu tersentak kaget.

PRANG!

.

PRANG!

“Sial!”

Jongdae menggeram kesal. Rasanya seluruh darahnya tersumbat pada otaknya dan kepalanya ingin meledak. Lelaki itu sudah terlanjur lelah dengan semua masalah yang ia pikirkan. Ia melirik ke arah kopi hitamnya yang kini tumpah, lengkap dengan serpihan cangkir yang pecah.  Membuat Jongdae menghelakan napas panjang dan bergerak turun untuk mengambil serpihan-serpihan tersebut.

“Akh!”

Jongdae mengerang saat tangannya tanpa sengaja tergores salah satu serpihan tersebut hingga membuat jemarinya berdarah.

“Apa yang kau lakukan, Dae?!”

Jongdae segera mendongak dan kedua matanya langsung membesar hebat saat melihat siapa yang bersuara tadi. Napasnya diam-diam tercekat sampai tak bisa mengeluarkan suara.

“Ae?”

“Tu-tunggu sebentar! Aku cari kotak P3K dulu! Paman Jang! Paman Jang!”

Lelaki itu memandang Aeri yang kini berlari keluar dengan nada panik. Butuh beberapa menit Jongdae mengerjapkan kedua matanya berkali-kali, sebelum seulas senyum mengembang. Tiba-tiba saja, lelaki itu merasa seluruh masalahnya hilang tanpa jejak.

Hebat, hanya karena keberadaan Song Aeri membuat hati Jongdae seketika terasa ringan.

Akhirnya, Jongdae kini duduk di sofa dengan luka di jari yang telah dibersihkan menggunakan antiseptik. Di hadapannya, Aeri sedang membuka sebuah kassa gulung dan hendak melilitkannya di jemari Jongdae. Lelaki itu terus saja tersenyum sambil mengamati gadis itu.

Dapat lelaki itu lihat, kedua mata Aeri tampak sembab.

“Kau habis menangis ya, Ae?”

“Kau tahu itu?”

Aeri mendongak dan menatap Jongdae yang kini sedang memandanginya. Membuat gadis itu tersadar bahwa ini pertama kalinya ia menatap lelaki itu dengan jarak dekat.

“Kelihatan dari mata sembabmu,” cetus Jongdae seraya tersenyum.

Aeri segera mengalihkan arah pandangnya karena malu. “Oke, lupakan itu.”

“Jadi, apa yang ingin kau bicarakan denganku sampai rela ke mari?”

Tubuh Aeri langsung terdiam kaku. Kemudian ia kembali memandangi Jongdae. “Hah, apa kau cenayang atau punya sesuatu sehingga pintar menebak aku?”

“Aku punya sihir dari Song Aeri,” ujar Jongdae sambil tersenyum. Membuat semu merah mulai menghiasi wajah Aeri. “Agar sihir milikku bisa bekerja secara maksimal, boleh aku memberitahu sesuatu?”

“Apa?”

“Aku harus menyakinkan cintamu padaku, Ae,” ungkap Jongdae. “Bagaimana?”

Hening sejenak.

“Tolong.”

Jongdae segera menatap Aeri lekat. “Apa?”

“Tolong buat aku mencintaimu sekali lagi, Dae,” jawab Aeri dengan nada pelan. “Ketika aku tahu mengenai fakta dari gulungan kertas pemberianmu, membuatku merasa menjadi orang paling bodoh sedunia. Jadi, tolong buat aku mencintaimu sekali lagi.”

Seulas senyum kembali ditunjukkan oleh Jongdae seraya menangkup wajah Aeri yang kini membelalakan kedua matanya karena terkejut. Lalu ditempelkanlah kening Aeri dengan keningnya seraya menatap lekat Aeri. Ucapan Jongdae yang akan keluar ini sukses membuat pipi Aeri semakin memanas.

“Ayo kita saling jatuh cinta lagi, Ae.”

***

Tepat satu minggu.

Aeri sama sekali tak mendengar kabar apapun dari Jongdae setelah kejadian itu. Namun, begitu mendengar kabar mengenai Kim Jongdae melalui Sekretaris Jang membuatnya uring-uringan sendiri.

“Nona Song.”

“Ya?”

“Tuan Kim menghilang.”

“Apa?”

Jantung Aeri rasanya seperti nyaris berdetak kala mendengar kabar gila itu. Tunggu, bagaimana bisa Jongdae menghilang sih? Dia kan presiden direktur perusahaan interior, pikir Aeri sambil mengacak-acak rambutnya. Surai hitamnya kini sengajaia potong menjadi lebih pendek sebawah bahu, membuat gadis itu tampak lebih segar dengan tampilan barunya.

Di Minggu pagi yang cerah ini, membuat Aeri harus melangkahkan kakinya keluar seraya mengoperasikan ponselnya. Berkali-kali ponsel itu ditempelkan ke telinga, namun terus tak tersambung. Dan Aeri kesal dibuatnya. Ia tidak memiliki petunjuk kecuali kertas kecil yang ia dapatkan di ponselnya.

Myeongdong. Cepat segera ke sana!

“Dae, kau di mana sih?!” gumam Aeri dengan nada gemas bercampur kesal. “Hilang ke mana orang itu, aish!”

Saat busnya sampai di kawasan Myeongdong, Aeri bergegas turun dan menyusuri tiap sudutnya. Namun, hasilnya nihil. Akhirnya, gadis itu berjongkok di bawah kanopi sambil menenggelamkan wajahnya. Sesekali ia melirik dan memerhatikan orang-orang yang berlalu-lalang tanpa mengenal lelah. Pantas saja, ini kan hari Minggu, pikir Aeri.

“Wah, apa yang sedang Nona lakukan di sini?”

Buru-buru Aeri bangkit dari posisinya dan menoleh penuh waspada. Di hadapannya seorang pelayan toko dengan seragam hitam-putihnya memandangnya ramah sambil tersenyum.

“Ah, saya mencari seseorang,” terang Aeri sungkan.

“Kalau begitu, bagaimana jika Anda mencoba sebuah gaun pengantin keluaran terbaru? Designer kami baru saja meluncurkan model gaun pengantin terbaru, namun kami belum menemukan seorang model yang tepat untuk memakainya. Maukah Anda mencobanya?”

Seketika Aeri ternganga sebentar. Lalu, ia mulai memandangi toko yang sedaritadi menjadi tempat berteduhnya. Sebuah toko bridal pernikahan.

“Apa… tidak apa-apa?” Mendadak Aeri berkata dengan nada bingung.

“Tentu saja tidak apa-apa. Mari masuk!”

Begitu melihat sang pelayan mempersilahkannya masuk, Aeri jadi gugup sendiri. Padahal secara langsung, Jongdae belum melamarnya secara resmi di depan orangtuanya. Kalau langsung pakai gaun pengantin dan kedua orangtuanya melihat tampangnya, apa yang akan mereka katakan?

Selama Aeri berkutat dengan pikirannya, tanpa sadar pelayan itu mengagetkannya dengan menunjukkan sebuah manekin besar yang dipakaikan sebuah gaun yang cantik dengan bagian atas diberi bahan berenda tembus pandang tanpa lengan, pinggang yang dibuat ramping, dan ujung gaun yang agak menjuntai. Membuat gadis itu ternganga barang sejenak.

“Ini gaunnya?” tanya Aeri kaget. Matanya bahkan harus mengerjap berkali-kali.

“Ya.” Pelayan wanita itu mengangguk pasti. “Cantik bukan?”

Aeri hanya mengangguk sambil memandang takjub. Bahkan ia berpikir bahwa gaun itu adalah gaun tercantik yang pernah ia lihat.

“Nah, silahkan Anda pakai.”

“Serius?”

“Tentu saja.”

Akhirnya, di sinilah Aeri. Ia telah selesai memakaikan gaun pengantin itu setelah berusaha untuk tak merusaknya—tentu saja karena itu bukan miliknya. Kini ia sedang duduk di depan cermin besar dan tampak pelayan wanita itu datang dengan dua wanita di belakangnya.

“Nah, Nona Aeri. Mereka yang akan meriasmu,” jelas si pelayan wanita.

“Harus dirias juga?”

“Oh, tentu saja. Ini untuk pemotretan, Nona.”

Aeri hanya mengangguk dan pasrah. Jantungnya mendadak berdebar-debar seperti ingin menikah hari ini juga. Butuh beberapa puluh menit untuk merias wajah gadis itu dan mengatur rambutnya menjadi sedikit bergelombang lengkap dengan flower crown putih. Dan terakhir, diberi tudung pengantin dan buket bunga mawar putih.

Ketika melihat penampilannya sendiri, Aeri langsung tercengang bukan main.

“Ini aku?”

Aeri bertanya pada si pelayan wanita yang sedaritadi menemani dengan wajah yang amat berseri.

“Iya. Dan, Anda cantik sekali,” puji si pelayan wanita. “Nah, saya akan buka tirainya ya.”

Diam-diam, Aeri mengatur napasnya. Masa bodoh dengan Jongdae, salah sendiri bisa memilih menghilang begitu, pikir Aeri seraya menelan ludahnya dalam-dalam. Entah kenapa, rasa gugup dalam diri Aeri malah semakin menjadi-jadi.

Ketika tirai dibuka, kepala Aeri mulai mendongak dan matanya seketika membelalak.

Jongdae berdiri di depan Aeri dengan setelan tuksedo hitamnya dan gaya rambutnya yang diangkat sehingga menampak dahinya. Matanya juga memandang Aeri kagum sebelum tersenyum menawan pada gadis itu. Senyum yang bisa saja membuat kaki Aeri yang diberi heels itu siap meleleh dan ambruk.

“Ini rencanamu, Dae?”

“Ya. Bagaimana menurutmu? Aku hebat kan?”

Lelaki itu kemudian mengulurkan tangannya pada Aeri. “Ayo kita ke taman belakang katedral, Ae. Mereka semua sudah menunggumu.”

“Apa? Menunggu apa?”

“Mau tahu tidak? Makanya, ayo ikut denganku.”

Dengan senyum bahagianya, Aeri menerima uluran tangan Jongdae dan mengikuti langkah Jongdae dengan gaunnya. Mereka keluar dari toko bridal tersebut dan berjalan pelan menuju tempat yang Jongdae maksudkan.

Aeri lagi-lagi langsung dibuat tercengang, kala melihat sebuah upacara pernikahan yang diadakan di taman belakang katedral. Di sana, kursi-kursi sudah tertata rapih lengkap dengan para tamunya yang kini memandang ke arah Aeri dan Jongdae.

Bahkan gadis itu dapat melihat Pak Seungho—Ayahnya yang kini sedang menunggu di depan pintu masuk sambil tersenyum ke arahnya. Matanya mendadak memanas saat melihat kejadian ini karena terharu.

“Dae,” gumam Aeri dengan napas yang tercekat.

“Jadi, maukah kau menikah denganku?”

Aeri mendongak ke arah Jongdae yang saat ini masih tersenyum lembut. Membuat gadis itu mengangguk tanpa ragu. “Tentu saja.”

Jongdae semakin tersenyum lebar dan mengeratkan genggaman tangan Aeri sebelum diberikan pada Pak Seungho. Dan diam-diam Jongdae berbisik di telinga Aeri. “Aku akan menunggumu di altar, Ae.”

“Sayang, kau sudah siap?”

Aeri memandang Ayahnya sebentar, lalu mengangguk pasti.

Ketika Aeri berjalan menuju altar, terdengar lagu latar pengantar pernikahannya yang klasik dan tenang. Membuat suasananya semakin syahdu.

Tangan Jongdae kembali terulur pada Aeri kala gadis itu sampai di depan altar. Kemudian, ia kembali berbisik di hadapan Aeri. “Kau tahu, ketika aku memegang tanganmu, kita akan terikat mulai hari ini sampai setelah keabadian. Aku mencintaimu, Ae.”

Mata Aeri kembali memanas mendengarnya dan membalas pelan, “Terima kasih sudah mau menungguku, Dae. Aku juga mencintaimu.”

When I hold your left hand and leave that door

We will be bound with a promise in front of all these days

After today and after eternity

Today will be remembered as another birthday

K.Will – Marry Me?

-fin.

dceafae986e30075a4863eb8b9a9096f

Akhirnya udahan, akhirnya udahan, akhirnya udahan /lafalkan ini tiga kali/plak/

AKHIRNYA UDAHAN JUGAAAA. Sengaja cepet, soalnya gamau punya beban dan gamau bikin kakak-kakak dan adik-adik /punya adik?/plak/ lelah menunggu dan gregetan kapan mereka nikah. Nih udahan. Udahan. Udahan. Tapi, yang ngarep first night ga ada. Udah ada kan di pillow talk? /dor/plak/ wkwkw XD

Terima kasih buat kak Liana, dedek/? Alicelllion, chentanyachen, Alkindi, kak Berly, bebebaek_, Park Ryeon Ji, dsb dst dll udah meninggalkan review dengan gregetannya ya /plak/dilempar ke laut/ yang ternyata bikin semangat aku meluap-luap tak terkira selama garap ini. Hahaha 😀

Nantikan terus ya series-fict DaeRi’s Daily ini! Meski yang ini udah ending, tapi kalo seriesnya tetep jalan dan rencananya akan lanjutin yang sebelumnya. Coba inget sampe mana seriesnya /ngesok airly kumat/jeder/

Yaudah deh, selamat baca dan semoga suka. Maaf ya kalo endingnya ga sesuai ekspektasi atau gimana. huhu. Review amat dinanti. Sekian dan terima kasih! 🙂

-Airly.

Iklan

11 thoughts on “Special DaeRi’s Daily : #5 Be With You [Last]

  1. Waaaaaaaaaaahhhh aku baru baca dan wow ini ddaebaaaaakkklkk gabisangmong apa2 krna gada yg bisa d koreksi waahhh terlalu jjang

  2. halo kak aerii, aku baru komen hari ini hiks :’D
    kehabisan data /?
    dan wowwww, I.T.A.L.Y wkwkwk lucu banget pas ini bikin haru ah ~~
    nikahnya ngebet banget si jongdae ya wkwk ..
    keren kak 😀
    lanjut DaeRi’s Daily nya kak hihi
    Keep Write kak ^^

  3. Gilak!!!! Gak tau apa-apa, gak ada angin gak ada hujan cuma gerimis doang *ini apasih ngomong gak jelas/abaikan. Tau-tau nikah aja ada upacara pernikahan dan nikah. Oh my!!!! Bisa kh gue kayak gitu *curcol. Wkwkwkkk

    Aduuuh laki bgt dahh ssangnamja sejati.

    Btw terharu ^^ nama bebeb di sebutin padahal baru nemu n jd new reader. Sama-sama dan terima kasih juga.

    Di tunggu karya selanjutnya^^

    1. Aku juga pengen, kapan ya aku kaya gitu /plak/kuliah yang bener dulu/ wkwkw XD
      Huhuhu iya jongdaenya gentle banget ya aku jadi mau /dor/
      Hehehe, gapapa kok, selama sudah ngikutin sampe ending dan meninggalkan jejak aku hargai sekali kok. ^^
      Sekali lagi makasih ya sudah baca sampe ending dan ninggalin review ini 😀

  4. Kenapa ini, disaat final chap pict di ffnya gabisa dibuka,hiks
    Jaringan internet sungguh tega ama aq

    Dan akhirnya dan sekali lagi jongdae langsung tancap gas
    Pas dapat lampu hijau dari aeri buat saling mencintai lagi malah langsung dibawa kawin si aeri ama jongdaenya

    Jongdae emang ga mau buang buang kesempatan dh,hahahahahaha

    Jadi selama ini jongdae ngekode tp ga di notice ya, pas dibeberin sekarang aeri baru sadar

    Jongdae, harusnya dari dulu mah gausah ngekode, udah tau juga aerinya ga peka baver 7 tahun kan jdnya *plak

    Sama2 juga,makasih banyak juga itu udah kesebut2 akunya,hehehehehe
    Padahal reader baru

    Ditunggu series daily selanjutnya ^^

    1. Kadang jaringan internet suka tak berbelas kasihan /plak/dilempar ke laut/
      Memang mas dae langsung maksa anak orang nikah, soalnya udah ga kuat ngekode 7 tahun ga sampe2. Giliran udah nyampe, langsung dah tancep gas narik anak orang nikah wkwkwk XD
      Hehehe, iya sama2 ya. Ga mandang kok yang mana readers baru sama yang lama, kalo sudah baca dan ninggalin review mah apa yang engga. Apalagi demenannya juga jongdae. Ya ga? Hihihi ><
      Sekali lagi makasih ya udah ngikutin sampe ending dan ninggalin review hihihi 😀

  5. nikah paksa ini mah namanya mas dae haha, ada cewek kebingungan tiba2 disuruh masuk suruh cobain baju penganten xixixixi
    krn aku udah lega komenku kyknya ga bakal panjang hahaha, terus juga masih kena after effectnya mas dae yg–WHAT ITU APA FOTO TERAKHIR GA USAH DIPASANG PLIS *ngos2an cuman krn liat mas dae *dosa bgt emang member EXO satu ini
    nukilan adegannya uda so sweet, gereget bgt, dan yg italy itu lho, kok ya kepikiran….
    oh ya, masukin dikit sama kata2nya ibu aeri yg ‘ensiklopedia keluaran terbaru zaman kapan ini?’ itu kontradiktif ga sih. keluaran terbaru ya berarti terbaru, bukan dari jaman dulu kan.
    terus ada juga yg adegan aeri masuk kamar, itu kata2nya ‘dihempaskannya tubuh Aeri…’ seakan2 yg menghempaskan aeri itu org lain padahal kan aeri nggelebak/? sendiri.
    lastly DAERI DAILYNYA MASIH DITUNGGU XD

    1. Kak Liana komennya tetep panjang ya. Wkwkw 😀
      Emang ini mas daenya kaya sejenis maksa anak orang nikah, mentang2 udah direstuin sama bapaknya wkwkk XD
      Untuk foto yang ada di ending sengaja dipasang biar kebayang gimana mas daenya 😀 /padahal yang nulis juga udah teriak2 ga kuat/ Khusus italy, aku iseng kak masukin doang bahahahaah XD
      Oke kak, semua masukan siap diterapkan. Efek ngerjainnya sambil merem kak. Wks
      Makasih ya kak udah baca sampe ending dan ninggalin review 😀

Mind to Review? ^ ^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s