DaeRi’s Daily : Winter Night #1

c1l1nlxusaaalvo

Kim Jongdae amat mengerti Song Aeri, lantas apa lagi yang Aeri inginkan dalam hidup ini?

.

“Sekarang aku tahu mengapa kau bertanya padaku apakah aku sanggup berjalan saat di rumah.”

Jongdae menoleh ke arah Aeri yang kini sibuk melukiskan senyum ramah di wajahnya ke semua orang yang menyapanya. Langkah kaki mereka memasuki ke ruangan megah yang didekorasi secantik mungkin dengan nuansa putih. Tangan wanita itu menggenggam lengan jas hitam yang dikenakan Jongdae, membuat lelaki itu menurunkan jemari Aeri dan beralih menggenggam tangannya erat.

“Maaf ya, sayang, ini benar-benar mendadak. Hari ini sudah memasuki pertengahan Desember dan kesehatanku sudah membaik ketimbang beberapa minggu sebelumnya, jadi Sekretaris Jang baru memberitahuku ada undangan pernikahan dari klien kami yang seharusnya sudah dikirimkan dua minggu sebelumnya,” bisik Jongdae sambil menyibakan rambut terurai Aeri ke belakang telinga.

“Yeah, tidak apa-apa sih kau sudah membaik. Tetapi yang membuatku malas, mengapa acaranya diadakan waktu musim dingin begini—malam-malam pula! Apakah para calon mempelai sudah tidak percaya lagi dengan mitos keberkatan pernikahan dari Juno?” gerutu Aeri pelan. Tangannya mengusap rok gaun peach-nya yang menjuntai sampai bawah lutut.

“Di zaman modern ini orang-orang cenderung lebih percaya pada logika, Ae. Bahkan mungkin yang percaya mitos mengenai Juno hanya kau,” ungkap Jongdae sambil mendengus geli.

Mata Jongdae beredar mencari posisi kursi yang paling enak di antara deretan kursi yang menghadap ke depan para calon pengantin. Lalu, ia menggamit tangan Aeri dan membimbingnya menuju tempat duduk yang sudah dirasa cocok oleh lelaki itu.

“Baiklah, katakan sajalah kalau aku ini kuno. Masa bodoh. Yang penting, kapan acara ini selesai, Dae? Rasa-rasanya aku mau pulang aja.”

“Hei, kita baru saja datang, Ae.” Jongdae menoleh ke arah Aeri dengan dahi berkerut ketika mereka mulai duduk. Membuat Aeri memutuskan untuk bungkam. “Lagi pula, calon bayi kita juga butuh jalan-jalan.”

“Heh, dia baru berusia tiga bulan dalam perutku!” seru Aeri mengoreksi, gagal sudah rencana untuk diam sebentar. Lagi pula, mana ada jabang bayi usia tiga bulan yang sudah bisa merasakan kebosanan dalam perut ibunya. Kalaupun ada, pasti jabang bayi itu keluar lebih dulu.

“Lantas apa yang salah? Aku tadi tidak menyebutkan umur calon bayiku,” balas Jongdae dengan nada bingung.

Kenapa suamiku ini sama sekali tidak mengerti?! Aeri memutar bola matanya jengah. “Jongdae!” ucapnya geram. “Ah sudahlah!”

“Ya ampun, Kim Aeri. Berhentilah marah-marah, bisa-bisa bayiku  lahir di sini. Baiklah, aku minta maaf ya, Ae.”

Aeri memalingkan muka. Belakangan perasaannya begitu sensitif sampai wanita itu juga pusing sendiri, dan sekarang Kim Jongdae juga kena getahnya. Membuat Aeri juga merasa bersalah.

“Ae, hadap sini.”

Aeri membalikan tubuhnya ke arah Jongdae dengan enggan. Ketika mata mereka bersirobok, Jongdae mengulas senyum. Mengamati sorot kelelahan dan perasaan bersalah dalam manik mata cokelat gelap si gadisnya.

“Tenanglah, ini hanya sebentar. Setelah ini aku akan mengajakmu berjalan-jalan malam, makanya tadi aku bertanya apakah kau sanggup berjalan atau tidak. Musim gugur kemarin kita tidak bisa pergi ‘kan lantaran tubuhmu belum stabil?”

Aeri mengangguk pelan mengerti. Diam-diam ia mengamati penampilan Jongdae sekarang, jas hitam yang membalut kemeja putih tanpa dasi. Membuat jemarinya terangkat untuk membenarkan kerah kemeja suaminya.

Kim Jongdae amat mengerti Song Aeri, lantas apa lagi yang Aeri inginkan dalam hidup ini?

“Maaf ya, Dae.”

Kali ini, Jongdae tertawa geli mengamati wajah lesu Aeri. Membuatnya refleks menarik tubuh Aeri dan memeluknya dengan erat, membiarkan wajah Aeri tenggelam dalam rengkuhan tubuh lelaki itu. Tidak peduli ia dengan tempat umum, toh para tamu belum datang begitu ramai.

“Akh—Jongdae!” teriak Aeri yang terbungkam dalam dada bidang Jongdae dan nyaris kehabisan napas. “Riasanku—astaga!”

Jongdae yang mendengarnya hanya terkikik geli. “Habisnya malam ini kau nakal sekali, Ae.”[]

-fin.

Katakanlah airly nakal banget, malah sibuk bikin ginian ketimbang tugas pengganti absen dan para projek akhir yang udah merengek minta buru-buru dibelai biar buruan kelar. Abis ini deh airly langsung meluncur sama tugas, ampun airly tuh gamau sampe ketauan kanjeng mami dan dikutuk jadi mesin cuci 😦

Yaudah kak gitu aja dulu yha, ini bakalan ada lanjutannya sih kayanya /plak/. Entah dilanjutin waktu dekat atau bulan depan. ((TERUS AIRLY LUPA PUNYA TANGGUNGAN SERIES YIHWA’S CUT, AMPUN KAK MASHAALLAH KETINGGALAN BANGET DEH SAMA SERIES DAERI’S DAILY INI HEU MAAPIN. BAKAL SEGERAKAN DILANJUTIN KALO SEMUA PROJEK AKHIR UDAH KELAR. JANJI!!!))

Yaudah kak, pamit yha keburu dibalang. Ehe. Review dinanti, sekian dan terima kasih!

-Airly.

p.s. : tidak ada identitas fict lantaran ngetiknya di laptop baru ((alhamdulillah akhirnya ye)), jadi folder khusus ffnya belum ada ;-;

 

Iklan

2 thoughts on “DaeRi’s Daily : Winter Night #1

  1. Cieee yg udh semester tua smgt yaa
    Btw damn aku kangen Daeri bangt ternyata ;-; terima kasih sdh membawakan ini, aku perlu balik ke jongdae setelah berlama2 berkutat dgn nct blkgn.
    Iya saya juga malah bikin ff padahal saya ujian hari Rabu :p
    Keep writing!

    1. Waaahhh maapin kak li baru bales >< hehehehe sama sama soalnya aku juga kangen daeri ;-; huhuhuhu
      Asick ensiti sedang sibuk mencuri hati kak li wkwkwk makasih ya kak li udah mampir! ^^

Mind to Review? ^ ^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s