[Orifict] Si Peri Rumah; Ibu

5bf405007b7c6dc0247fbad1a44657ca

AirlyAeri © 20170314

***

Pun detik itu pula, perisai pertahanan yang samar seketika muncul rasanya di sekeliling tubuhku dan membuatku berpikir.

.

Hari libur telah tiba.

Yeah, liburan telah datang dan aku yang amat mencintai berdiam diri di bilik tidurku tentu saja memilih menghabiskan waktu di dalamnya. Oh, kuingatkan juga kalau selama liburan tidak ada yang bisa menggangguku dengan tawaran main yang menggiurkan, pengecualian jika aku bosan di rumah.

Tetapi, belakangan aku memang agak bosan di rumah dan harus mencari tawaran pergi dengan teman.

“Kau ini sudah dewasa, tidak bosan liburan terus di rumah, heh? Aku jadi curiga kau selama ini anak kuper.”

Nah kan, Ibu mulai lagi.

Ibuku kembali mengeluarkan pendapatnya ketika sepanjang hari selama seminggu aku diam di rumah. Beliau sungguh merasa risih dengan keberadaan putri bungsunya ini yang kerjaan selama liburan ini hanya berguling-guling, mematutkan diri dengan laptop usang, makan, minum, mendengarkan musik, bermain ponsel sambil tertawa sendiri, tidur, dan kembali ke awal. Ya tentu saja bagi Ibu siklus kegiatan tersebut jauh dari kata wajar.

Tapi sepasang bibir cantik beliau masih belum bosan mengocehkan hal tersebut sambil menambahkan kata-kata yang membuatku agak jengkel.

“Daripada tidak ada kerjaan begitu, lebih baik bantu Ibu mencuci pakaian atau membersihkan rumah atau apapun yang bisa kau lakukan. Kau pikir di rumah ini Ibu pembantunya, hah?”

Maafkan aku, Ibu. Anakmu ini memang durhaka, tapi sungguh aku sebal jika Ibu mengumpamakan dirimu sebagai pembantu padahal aku tidak bermaksud begitu.

Jadi, demi menenangkan telinga dan tidak ingin membuat suara Ibu berolahraga lagi dengan ocehannya, maka aku mengambil sapu, kemoceng, lap dapur, dan pel bergagang kayu beserta ember yang telah diisi air bercampur sabun. Bersiap membersihkan seluruh pekerjaan rumah agar Ibu tidak berkomentar panjang lagi.

Awalnya kupikir dengan begini Ibuku tidak akan mengatakan apa-apa, tetapi—

“Yang bersih cuci piringnya, kalau sudah selesai taruh piringnya di lemari piring.”

“Periksa itu bagian lemari atas, mengapa kau hanya membersihkan debu yang terlihat saja? Memangnya kegunaan kemoceng hanya sampai membersihkan bagian depan pintu lemari saja? Bersihkan yang benar!”

“Kalau sudah selesai semua, sekalian setrika pakaian juga ya.”

“Hei, itu di bawah meja masih kotor! Sapu yang benar! Kau mau punya suami yang berjenggot gara-gara menyapu saja tidak bersih, hah?!”

Aduh Ibu, gumamku sambil berkomat-kamit. Berusaha berdoa pada Tuhan agar ucapan Ibu yang terakhir tidak terkabul karena aku tidak suka dengan lelaki berjenggot.

Ketika aku sibuk mengepel lantai di depan pintu kamar mandi, Ibu keluar dari sana sambil berbalut handuk dan melangkahkan kakinya menuju kamar tidur beliau. Padahal bagian sana sudah dipel dan lantainya belum kering, kalau sudah begitu maka jejak kaki Ibu akan terpampang jelas dan aku harus mengepelnya lagi.

“Ibuuu!!”

“Aku hanya menginjaknya sedikit, pel saja lagi. Mengapa begitu repot?”

Padahal jejak yang ditinggalkan dari kamar mandi menuju kamarnya selebar satu ruangan.

Aku mau protes, tetapi mataku malah membulat ketika Ibuku mengejekku dengan menjulurkan lidahnya sambil tersenyum jahil. Membuatku sadar kalau Ibu sengaja melakukannya.

“Ibu!”

“Tak apa, agar tubuhmu segera langsing. Periksa sana pinggangmu di cermin, terlihat sekali lemak sedang asyik menikmati hidupnya di dalam sana.”

Karena tak percaya, aku berbalik ke arah cermin besar yang berada tepat di samping kamar mandi. Lalu mematut diriku dan memperhatikan badanku sendiri. Lurus sekali berbentuk persegi panjang ditambah dengan kedua pipiku yang tembam. Lemakku bertambah dan beratku juga.

“Benar ‘kan?”

Tiba-tiba, Ibu muncul di belakangku sambil memegangi salah satu sisi pinggangku yang bergelambir. Membuatku berseru, “Ibu!!”

“Diet makanya! Dasar pemalas!”

“Ibu juga gendut!”

“Kalau Ibu tidak apa-apa karena sudah ada Ayah. Kalau kau, ‘kan nanti laki-laki tidak ada yang mau denganmu, selain yang berjenggot.”

“Ah, Ibu!”

Aku mencubit lengannya yang gempal dengan gemas, membuat Ibu seketika meringis kesakitan. “Aduh sakit! Kurang ajar kau!”

Sebelum Ibu benar-benar membalasnya, aku sudah kabur lebih dulu sambil tertawa melewati lantai yang masih licin dan meninggalkan pel bergagang kayu di sana. Lalu sedetik kemudian, terdengar suara Ibu lagi.

“Jangan lari nanti kau terpeleset.”

Pun detik itu pula, perisai pertahanan yang samar seketika muncul rasanya di sekeliling tubuhku dan membuatku berpikir. Inikah kekuatan yang Ibu miliki? Apakah karena ini aku begitu betah di rumah? Karena Ibu? Si Peri Rumah yang menakjubkan seperti di cerita dongeng?

Lalu, jika aku suatu saat pergi dengan jodohku nanti, apakah aku masih bisa terlindungi dengan kekuatan Ibu seperti ini?

Ah, kalau begini, masa aku tidak mau cari jodoh demi berdiam diri di rumah bersama Ibu?[]

-fin.

(686 words.)


Airly sedang galau dengan semester baru dan berpikir mengenai nama pena yang semakin pasaran. sedih rasanya mengapa nama yang mengiringi nama belakang Airly pada nama penaku sekarang begitu banyak, padahal pelafalan nama Aeri begitu melekat dengan Airly. Sekian~!

Pst, Airly belum bisa update apapun selain ini. Maafkan~

-Airly.

Iklan

2 thoughts on “[Orifict] Si Peri Rumah; Ibu

  1. Uculllll Mak gue bangetttt
    Btw nama aeri pasaran Krn byk Exo l baru? Kan Baek klo manggil Exo l aeri, so yg sabar yaaa
    Manis, Keep writing!
    Ps cie yg comeback

    1. kak liiiii!! >_<
      iya kak T.T sebenernya ga risih sih, tapi belakangan ada yang kerajinan nyari penname aeri banyak wkwkwk XD jadi aku harus berpikir keras /ga.
      makasih ya kak udah mampir! ^^

Mind to Review? ^ ^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s