[Orifict] Keputusan Final

choi-rala2
cr. @ralachoi

Written by AirlyAeri © 20170319

***

“Kuharap keputusanku sekarang tidak salah.”

.

Aku mematut penampilanku pagi hari ini di depan cermin sebentar, sebelum Robert memanggilku dari ujung bilik rumah.

“Sue, tolong ambilkan vas bunga di dekat pintu kamarmu.”

“Ya.”

Kutatap vas bunga itu sejenak dan beberapa tangkai anggrek yang telah layu, sebelum kuambil dan berjalan menghampiri ujung bilik tidur Robert. Leherku berputar kala langkah telah sampai tujuan, melihat seorang lelaki berperawakan kurus dan rambutnya berkeriting liar. Ia terus saja mengeluarkan semua barang dari meja nakasnya dan dimasukkan ke dalam sebuah kardus besar, dengan tubuh yang memunggungiku.

“Rob,” panggilku pelan.

“Kau membawanya, Sue?” tanyanya sambil menoleh ke arahku sebentar dan menarik vas bunga tersebut. “Thanks.”

“Oh—ya.”

Lagi. Robert membelakangiku seraya menaruh vas bunga tersebut ke dalam kardusnya. Selain vas tersebut, ada banyak barang kesukaan saudara lelakiku yang ada di dalamnya; tongkat bisbol, kostum karate beserta sabuknya, CD band favoritnya, kemeja-kemeja kesukaannya, dan yang paling menarik perhatian adalah beberapa bingkai foto berisikan empat anggota keluarga dan foto berisikan seorang anak lelaki dan perempuan mengulas senyum ditemani sosok pria paruh baya yang merangkul erat mereka.

Kupandangi lagi Robert yang kini kembali merenung—berusaha berpikir, sebelum ia memilih duduk di pinggir ranjang sambil menatap isi kardus yang telah ia masukan semua. Membuatku tanpa sadar ikut duduk di pinggir ranjangnya sisi yang lain.

“Robby….”

“Kuharap keputusanku sekarang tidak salah.” Kulirik ia yang mulai menunduk seraya menghelakan napas panjang. “Ini memang terlalu cepat sampai membuat kita tidak bisa berpikir, Sue.”

Aku tak bisa mengatakan apapun selain, “Ya.”

Meski aku tak melihatnya lagi, aku tahu secuil rasa kesedihannya begitu terpancar jelas melalui nada suaranya yang begitu parau, meski berusaha ia tampik.

Tiba-tiba ranjangnya bergoyang, membuatku menoleh ke arah Robert yang kini mulai menepuk-nepuk sepasang pahanya kuat-kuat.

“Kupikir sepertinya aku harus segera mengemas kardus ini,” ungkapnya sambil mengulas senyum kecil. “Sue, di mana kau menaruh lakban―”

“―tunggulah dulu, Rob. Minimal setelah pemakaman Daddy selesai.”

Hening.

Aku tahu, Robert adalah lelaki kuat tahan banting. Ia bisa menahan rasa sakit ketika mendapat serangan lawan saat latihan karate, ia bisa menahan perih ketika matanya tak sengaja terkena bola bisbol, ia bisa menahan segalanya.

Namun, untuk hari ini ia tak bisa menahannya dan aku juga berniat membiarkannya begitu saja.

Lelaki itu kembali terduduk di tepi ranjang dan menunduk, berusaha menekan airmatanya tapi terasa begitu sia-sia. Bahkan bahunya ikut bergetar hebat. Kepedihan yang ia rasakan sekarang adalah hasil bertahannya sejak semalam, tepat setelah mendengar kabar dokter bahwa ayah kami tak dapat diselamatkan lantaran kecelakaan jatuh dari bangunan lantai lima saat bekerja.

Seluruh barang pemberian ayah dan segala kenangan bersama ayah kami telah dikemas rapi oleh Robert sedaritadi. Ini keputusan final dengan ayah.

“Izinkan aku tidak datang ke sana, Sue. Aku tak bisa melihat Daddy terkurung dalam peti kematian.”[]

-fin.

(453 words.)


belakangan Airly lagi kenapa sih ;-; eh iya, aku dapet tugas kuliah tapi sepanjang hidup aku ga pernah tahu cara penyelesaiannya dan butuh pencerahan. huhu~! sedih bener deh!

gitu aja deh, sekian!

-Airly.

Iklan

Mind to Review? ^ ^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s